Yasinta Rokhmal Fauzia
Nama
: Yasinta Rokhmal Fauzia
Nim
: B93218177
PENGARUH
DIMENSI SPIRITUAL KONSELING ISLAMI
TERHADAP
PERKEMBANGAN EKSISTENSI
DIRI
ANAK BROKEN HOME
BAB
I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Konseling islami pada hakikatnya adalah
proses konseling yang berorientasi pada
ketentraman hidup manusia dunia akhirat. Pencapaian rasa tentram/sakinah adalah melalui upaya
pendekatan diri kepada Allah Swt serta melalui upaya untuk memperoleh
perlindunganNya. Terapi sakinah itu akan menghantarkan individu untuk berupaya sendiri
dan mampu menyelesaikan masalah kehidupannya.
Secara
tegas dikatakan bahwa konseling islami mengandung dimensi spiritual, dimana bertujuan
membimbing manusia pada kehidupan rohaniah untuk menjadi beriman dan bertaqwa kepada Allah
Swt. Prinsip inilah yang dengan tegas membedakan konsep konseling islami dengan
konsep konseling hasil dari pengetahuan
dan empirik barat.
Proses konseling islami juga berorientasi
kepada tujuan pendidikan islam, dan bertujuan
membangun kehidupan sakinah, kehidupan tidak hanya sekedar mencapai kemakmuran, tetapi juga
ketentraman spiritual. Kehidupan sakinah ini
adalah sebagai ekspresi dan predikat dari annafs al muthama’innah (jiwa
yang tentram) ia memiliki ciri-ciri sakinah/tenang, ridha/rela, tawakkal/berserah
diri, ibsyar/gembira dan shabar.
Ciri-ciri tersebut akan senantiasa tercermin dalam setiap menghadapi cobaan
hidup. Dalam mencapai al kamalah al akhlaqiyah (kesempurnaan budi pekerti),
tidak mengenal rasa takut, gelisah dan goncangan jiwa, karena segala persoalan
dikembalikan kepada keputusan dan keridhaan Allah Swt semata.
Proses konseling islami yang tertinggi
adalah konseling spiritual, dalam arti pemecahan dan penyelesaian masalah
kehidupan manusia tidak hanya sekedar dilandaskan pada dimensi material/fisik,
tetapi lebih berpusat pada dimensi spiritual. Dimensi spiritual ini adalah
bagian sentral dari konseling islami. Semua penyakit mental manusia (rasa
takut, was-was, kebencian, kecemburuan, perasaan tidak tenang, perasaan
terancam dan lain-lain) adalah berpusat pada dimensi spiritual. Sedangkan
ketidak tenangan hati atau disharmoni, disentegrasi, disorganisasi,
disekuilibrium diri adalah sumber penyakit mental. Untuk mewujudkan kesehatan
mental manusia harus menemukan ketenangan hati.
Sumber
pokok ketenangan hati adalah kembali kepada Allah dengan mendekatkan diri
kepadaNya. Karena itu, penyembuhan penyakit mental adalah bersifat spiritual.
Islam mengajarkan untuk mengembalikan
setiap permasalahan hidup manusia kepada Allah yang memberikan kehidupan, memberi
jalan kemudahan, memberi kekuatan, memberi pertolongan, memberi kesembuhan,
tidak ada kekuatan yang paling besar kecuali kekuatan Allah Swt.
Sedangkan broken home adalah perpecahan
dalam keluarga, broken home dapat
juga diartikan
dengan kondisi keluarga yang tidak harmonis dan tidak berjalan layaknya
keluarga yang rukun, damai, dan sejahtera karena sering terjadi keributan serta perselisihan yang
menyebabkan pertengkaran dan berakhir pada perceraian.
Sebagian besar anak yang mengalami broken
home tidak akan mampu mengendalikan diri
sendiri, bisa jadi dikarenakan mengalami trauma yang mendalam karena kekecewaan
terhadap kedua orang tuanya, namun tidak sedikit juga anak broken home yang
mampu mengeksistensikan dirinya dan kembali bergaul dengan lingkungan
sekitarnya.
Konseling memberikan bantuan terhadap
mereka yang benar-benar belum mampu move on dari masalahnya serta masa lalunya,
dan sebagai konseling islami, tidak hanya berupaya untuk memajukan anak broken
home tersebut dibidang materialnya dan memberikan motivasi yang positif
terhadap hidupnya akan tetapi lebih memajukan spiritualnya, bahwa seorang anak
broken home harus memiliki kepercayaan yang kuat lebih dari rasa percaya kepada
siapapun yaitu percaya bahwa masih ada yang lebih mencintainya lebih dari pada
cinta orang tuanya, keluarga serta saudara dan lingkungannya yaitu cinta dari
penciptanya Allah SWT yang senantiasa mengasihi hambaNya yang percaya akan maha
besarNya serta maha pengampun dan maha penyayangNya.
Seperti masalah yang telah ditemukan di
dalam sekolah MTsN 3 Medan, bahwasanya keberadaan anak broken home dilingkungan
sekolah ini masih dinilai ganjil oleh teman-teman sekelasnya karena dianggap
tidak pantas untuk dijadikan teman sebab keadaan keluarga yang berantakan atau
orang tua bercerai, kita ambil contohnya masih ada teman sekitar yang berbicara
dan mengguncing keadaan sianak broken home yang mengakibatkan sianak semakin
down dan tidak percaya terhadap dirinya sendiri. Dengan ini peneliti
beranggapan akan cocok hadir dilingkungan mereka untuk membantu keadaan
anak-anak yang belum mampu mengeksistensikan diri dengan cara keluar dari
masalah dan menikmati kehidupan serta mampu mengembangkan potensi diri yang
dimiliki baik itu bakat yang terpendam ataupun minat yang tertutupi.
B. Objek Kajian
Dalam kasus seperti ini,objek yang
dikaji adalah seorang anak yang menjadi korban broke home tersebut yakni siswa
MtsN 3 Medan.Anak tersebut adalah korban dari boken home suatu
keluarga.Keberadaannya dilingkungan sekolah terlihat tidak begitu disukai oleh
teman-temannya.Dia dianggap tidak pantas dijadikan teman sebab keadaan
keluarganya yang berantaian atau bisa disebut dengan perceraian.Teman-temannya
menganggap bahwa dia tifak pantasuntuk dijadikan teman karna kondisinya.Hal ini
dapat menurunkan tingkat kepercayaan dirimya dengan lingkungannya. Sehingga
memungkinkan bahwa siswa tersebut menjadi terpuruk atau bisa juga menjadi
frustasi.
C. Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah dalam
penelitian ini adalah :
1. Bagaimanakah pengaruh dimensi
spiritual konseling islami terhadap perkembangan eksistensi diri anak
broken home?
2. Apakah sebelum memberikan dimensi
spiritual konseling islami eksistensi diri anak broken home lebih baik daripada
sesudah memberikan dimensi spiritual konseling islami?
3. Apakah sesudah memberikan dimensi
spiritual konseling islami eskistensi diri anak broken home lebih baik daripada
sebelum memberikan dimensi spiritual konseling islami?
D. Tujuan Penelitian
Adapun tujuan dari penelitian ini adalah :
1. Mengetahui pengaruh dimensi
spiritual konseling islami terhadap perkembangan eksistensi diri anak broken
home
2. Mengetahui eksistensi diri anak
broken home lebih baik sebelum memberikan dimensi spiritual konseling islami
daripada sesudah memberikan dimensi spiritual konseling islami
3. Mengetahui eksistensi diri anak
broken home lebih baik sesudah memberikan dimensi spiritual konseling islami
daripada sebelum memberikan dimensi spiritual konseling islami
E. Kegunaan dan Manfaat Penelitian
Hasil
penelitian ini diharapkan berguna sebagai :
1.
Secara Teoritis
a.
Secara teoritis penelitian ini menunjang pengetahuan bagi mahasiswa
agar
mengetahui ruang lingkup broken home, dan dengan pengetahuan
itu
seharusnya kita bisa mengambil hikmah dan pelajaran.
b. Di samping sebagai penunjang
pengetahuan, seharusnya juga bisa
menjadikannya sebagai bahan dalam
kajian dilingkup pendidikan
SMP, SMA, ataupun dilingkup
Perkuliahan.
2.
Secara Praktis
Adapun secara praktis penelitian ini
diharapkan berguna untuk :
a. Sebagai bahan informasi untuk diyakini
keadaan masalah tersebut sehingga berguna bagi pemerintah ataupun masyarakat
untukm menghindari terjadinya masalah broken home.
b. Sebagai bahan informasi bagi orang tua
lainnya untuk menghindari masalah broken
home karena di dalam penelitian ini telah dipaparkan efek yang diterima seorang
anak ketika mengalami broken home
c.
Sebagai bahan informasi bagi sekolah-sekolah untuk lebih peduli dan memahami
setiap keadaan murid-murid disekolahnya, karena dengan mengetahuinya para guru
ataupun murid-murid akan lebih peduli terhadap keadaan teman yang mengalami
broken home.
d.
Dan teruntuk anak yang mengalami broken home sendiri agar jangan terlalu takut
untuk mengahadapi kenyataan dan bisa berkonsultasi langsung dengan konselor
ataupun guru BK dilingkungannya.
F. Tesis
Statement
Broken
adalah suatu yang cukup familiar dikalangan masyarakat.Sebagian besar masyarakat
tau arti dari broken home sendiri seperti apa.Broken home adalah perpecahan
antara sepasang suami istri yang saling memutuskan hidup sendiri-sendiri dengan
meninggalkan korban yakni anaknya sendiri.Tentu,hal ini dapat mengganggu psikis
dan batin sang anak.Karena kasus ini tidak bisa dikatakan persoalan yang
ringan.Keluarga adalag rumah terbaik bagi manusia.Jika rumah sendiri tidak
jelas dirasakannya maka anak tersebut akan hancur hatinya.Broken mengibatkan
frustasi yang memdalam jika broken home terus dijalankan.Anak akan mengalami
ganggua psikis dan akan berpengaruh pada aktivitas yang dilakukan sehingga
otomatis mempengaruhi masa depannya.Lingkungan juga akan menjauh bahkan
bersikap tidak begitu enak dilihat meskipun terkadang masyarakat melihat dengan
simpatik.Oleh karna itu sebaiknya broken tidak terus dilakukan oleh keluarga
masyarakat di Indonesia karena akan sangat berpengaruh kepada anak-anak selaku
generasi penerus selanjutnya.
G. Paradigma
Pasca perceraian orang tua, anak mengalami perubahan
sikap. Perubahan yang diperlihatkan
ini
terjadi secara drastis. Perubahan yang terjadi diantaranya adalah perubahan
pribadi dari ceria menjadi pemurung, sensitif, pemarah dan labil. Selain itu
perubahan juga bisa
terjadi pada bidang akademis yang menurun.
Behaviorisme
(Teori bejavioristik)
menekankan studi ilmiah terhadap respons tingkah laku yang dapat diamati dan
determinan lingkungannya. Dalam behaviorisme,
pikiran
yang sadar atau tidak disadari, tidak diperlukan untuk menjelaskan tingkah
laku. Ahli behaviorisme percaya bahwa perkembangan dipelajari dan seringkali
tergantung dari pengalaman lingkungan, maka dengan mengatur kembali pengalaman
perubahan perkembangan dapat terjadi. Untuk ahli tingkah laku, tingkah laku
pemalu dapat berubah menjadi tingkah laku terbuka; tingkah laku agresif dapat
dibentuk menjadi tingkah laku penurut; tingkah laku tidak bersemangat dan
membosankan dapat dirubah menjadi tingkah laku entusiastik dan menarik. Dalam
masalah remaja broken home ini
tingkah laku dari seorang remaja tergantung dari pengalaman yang ada di
sekitarnya. Pengalaman yang dimaksudkan dalam penelitian ini adalah pengalaman
dari keluarga yang broken home.
Pengalaman ini lah yang membentuk perubahan sikap secara sadar atau tidak
sadar. Perubahan sikap ini juga mempengaruhi dalam bidang akademis.
Dalam
penelitian ini terdapat hal
yang dapat mengontrol perubahan sikap pasca orang tuanya bercerai, dan ada pula
yang tidak dapat mengontrol perubahan sikapnya dengan baik. Akan ada sikap yang
mampu mengontrol perubahan pada dirinya terutama mengontrol akademisnya, selain
karena peran pengasuhan ibu juga dipengaruhi oleh kemampuan kognitif yang
dimiliki setiap individu. Kemampuan kognitif sesuai dengan teori Belajar Sosial
(social learning theory) adalah
pandangan psikolog yang menekankan tingkah laku, lingkungan dan kognisi sebagai
faktor utama dalam perkembangan. Anak akan
mencerna dengan baik dengan kemampuan kognitifnya bagaimana perceraian itu bisa
terjadi pada keluarganya, sehingg anak
tidak melakukan tindakan-tindakan bodoh yang akan memperburuk suasana dan
merugikan dirinya sendiri.
Dalam
kondisi keluarga yang broken home,
seorang anak pasti merasa tertekan dengan masalah yang dialami oleh
keluarganya. Dengan keadaan yang tertekan kehadiran seseorang sebagai tumpuan
sangatlah diperlukan. Namun, dengan masalah yang begitu privacy dan sensitif ini informan mempunyai sikap yang selektif
dalam memilih teman untuk diajak berbagi. Konsep diri menyebabkan terpaan
selektif (selective exposure),
persepsi selektif (selective perception)
dan ingatan selektif (selective attention)). Broken home yang terjadi pada seorang
remaja membuat lebih selektif mana orang yang perlu diajak berkomunikasi dan
pesan yang perlu dikomunikasikan. Hal ini dilakukannya secara tidak sadar,
karena pengaruh keluarganya yang broken
home.
H.Tinjauan Pustaka
Istilah "Broken Home"
digunakan untuk menggambaran keluarga yang berantakan akibat orang tua yang
tidak lagi peduli dengan situasi dan keadaan keluarga dirumah.Hal ini merupakan
kekacauan yang menyangkut moral dan penyesuaian diri yang dramatis. Kekacauan
ini dapat diartikan sebagai pecahnya suatu unit keluarg atau retaknya struktur
peranan sosial jika ada satu atau beberapa anggota yang gagal menjalankan
kewajiban peran mereka secukupnya.
Rumah tangga yang
pecah karena pereraian dapat merusak anak. Pengaruh rumah tangga yang pecah
pada hubungan keluarga bergantung pada banyak fakta. Apabila kehancuran rumah
tangga disebabkan kematian mak anak akan bahwa orang tua tidak bisa kembali.
Sedangkan anak yang mengalami broken home dengan sebab perceraia, anak ini akan
mengalami tekanan jiwa, perilaku yang tidak baik, emosi tidak terkontrol dan
lebih suka menyendiri. Hal ini akan menyulitkan anak berosialisasi dengan teman
dalam lingungan masyarakat.
I. Sistematika Pembahasan
Dalam penelitian
yang berjudul "Pengaruh dimensi spiritual konseling islami terhadap
eksistensi diri anak broken home" terdapat pembahasan sebagai berikut:
Bab 1 : Pendahuluan yang meliputi (Latar belakang,
objek kajian, rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat dan kegunaan
penelitian, tesis statement, paradigma, tinjauan pustaka, sistematika
pembahasan)
Bab 2 : Kajian pustaka tentang Landasan teoritis yang
meliputi :
A.Kerangka Teori
1. Konsep dasar teori islami yakni,
Pengertian konseling islami, Landasan konseling islami, Prinsip konseling
islami, Tujuan konseling islami, Asas
-asas,pendekatan,metode konseling islami,
Teknik konseling islami, Langkah
- langkah konseling islami
2. Konsep dimensi spiritual
3. Hakikat eksistensi diri
4. Ruang lingkup keluarga
broken home, yakni pengertian anak broken home, penyebab anak broken home,
dampak anak broken home, upaya anak broken home, Peran ibu pada anak-anak dalam
keluarga.
B.Hasil Penelitian
yang Relevan
C. Kerangka
berpikir
D. Hipotesis penelitian
Bab 3 : Metodologi
penelitian meliputi ( Lokasi, metode, populasi dan sempel, prosedur, definisi
operasional, Uji coba instrumen, teknik pengumpulan data, teknik analisis data)
Bab 4 : Hasil
penelitian dan pembhasan dat meliputi :
A.Gabaran umum
penelitian ( Sejara berdir,visi misi sekolah, tujuan, struktur organisasi,
keadaan guru dan pegawai,keadaan sarana dan prasarana, keadaan siswa)
B.Deskripsi hasil
penelitian
C. Hasil analisis
data msliputi, ( Uji normalitas,uji hipoesis)
D. Pembahasn hasil
penelitian
Bab 5 : Kesimpulan
dan saran
Komentar
Posting Komentar