TRI LESTARI
PERAN
BIMBINGAN KONSELING ISLAM DALAM MENGATASI KENAKALAN SISWA (STUDENT DELINQUENCY) DI MA MIFTAHUL
HUDA TAYU-PATI
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Kejahatan dan
kenakalan remaja tidak lepas dari konteks kondisi sosial budaya zamannya. Sebab
setiap periode sifatnya khas, dan memberikan jenis tantangan khusus kepada
generasi muda, sehingga anak-anak muda ini mereaksi dengan yang khas pula
terhadap stimulasi sosial dan budaya yang ada ( Kartono, 2002 : 101).Jadi,
kebudayaan pada masyarakat seiring dengan perkembangan zaman banyak mengalami
perubahan hingga saat ini, baik perubahan yang bersifat positif maupun negatif,
sehingga secara langsung maupun tidak langsung memberikan dampak kepada
kehidupan sosial dalam masyarakat itu sendiri. Dampak atau pengaruh
perkembangan zaman yang sangat dikhawatirkan oleh masyarakat adalah yang
bersifat negatif, yaitu pengaruh yang berupa penyimpangan yang dapat merugikan diri
seseorang maupun orang lain disekitarnya dan tidak sesuai dengan norma-norma
agama, sosial atau perilaku yang keluar dari ketentuan-ketentuan yang telah ada
sebelumnya, khususnya adalah tingkah laku para remaja. Masa remaja merupakan
masa dimana remaja mencari jati diri dan berkembang.
Perkembangan
adalah proses perubahan yang berhubungan dengan proses hidup kejiwaan.
Perubahan-perubahan tersebut biasanya menimbulkan tingkah laku yang dapat
ditandai, meskipun tidak dapat diukur, sebagaimana yang terjadi pada
perubahan-perubahan jasmani seperti, tinggi badan, berat, besar dan lain
sebagainya.[1]
Pada masa ini
merupakan masa yang sangat penting karena akan menentukan karakter anak
tersebut saat beranjak dewasa.Pada masa remaja ini, kenakalan adalah suatu hal
yang sangat biasa karena memang para remaja memiliki rasa ingin tahu yang
sangat tinggi. Namun, bila tidak diawasi degan baik, tidak mustahil bagi mereka
untuk terjerumus kedalam kondisi yang sangat merusak bagi pribadi maupun
sosial. Masa remaja adalah masa yang penuh kegoncangan jiwa, masa berada dalam
peralihan atau di atas jembatan goyang, yang menghubungkan masa kanak-kanak
yang penuh ketergantungan, dengan masa dewasa yang matang dan berdiri sendiri.
Masa remaja adalah
masa peralihan antara masa anak-anak dan masa dewasa. Pada masa ini, anak atau
seseorang akan mengalami perubahan yang sangat signifikan, baik dari fisik
maupun perilaku. Di masa ini pula seseorang akan mencapai tingkat kebebasan.
Untuk itu harus ada control dari dalam diri seseorang itu agar tidak terjerumus
ke hal-hal yang bersifat negatif.
Apabila seorang
remaja telah merasa dapat bertanggung jawab untuk dirinya sendiri. Mampu
mempertanggung jawabkan setiap tindakannya dan dapat menerima filasafah hidup
yang terdapat dalam masyarakat dimana ia
hidup. Maka waktu itu dia telah dapat dikatakan dewasa. Kendatipun masa remaja
itu tidak ada batas umur yang tegas, yang dapat ditunjukkan, namun dapat
dikirakirakan dan perhitungkan sesuai dengan masyarakat lingkungan remaja itu
sendiri. Kendatipun besar atau kecil kegoncangan yang dialami oleh
remaja-remaja dari berbagai tingkat masyarakat. Namun dapat dipastikan bahwa
kegoncangan remaja itu ada terjadi.
Agama mempunyai
peran yang sangat penting menghadapi kegoncangan pada jiwa remaja. Di masa
remaja, keyakinan mereka mudah berubah-ubah dan cenderung tidak tetap atau
labil sesuai dengan perasaan dan keinginan yang mereka lalui.
Kenakalan remaja dalam arti luas meliputi
perbuatan-perbuatan anak remaja yang bertentangan dengan kaidah-kaidah hukum
tertulis, baik yang terdapat dalam KUHP (pidana umum) maupun perundang-undangan
di luar KUHP (pidana khusus) (Sudarsono, 2012:12). Suatu tindakan atau perilaku
yang dilakukan oleh remaja dapat menarik
perhatian masyarakat, biasanya perbuatan yang tidak bermoral dan buruk. Hal ini
dibuktikan dengan pemberian hukuman terhadap yang melanggar karena perbuatan
itu dianggap berlebihan dan berlawanan dengan adat masyarakat.
Jadi kenakalan
merupakan suatu ungkapan perasaan yang ditunjukkan dengan tindakan yang
dianggap telah melanggar norma masyarakat. Kenakalan merupakan gejala umum yang
dapat muncul pada siapa saja, kapan saja, dan dimana saja. Apabila perbuatan
tersebut tidak diusahakan sedini mungkin untuk penanggulangannya, maka dapat
berakibat fatal. Karena menanggulangi kenakalan tidak sama dengan mengobati
penyakit, hal ini disebabkan karena kenakalan adalah perilaku yang sangat
kompleks dan banyak ragam dan jenis penyebabnya.
Berdasarkan data
yang diperoleh dari hasil penelitian peneliti dari MA Miftahul Huda Tayu
Kecamatan Tayu Kabupaten Pati. Bahwa pelanggaran yang dilakukan siswa adalah tidak
mengikuti kegiatan exstrakurikuler Pramuka,rambut panjang,pakaian tidak rapi,
tidak membawa perlengkapan sekolah, sering membolos, sering terlambat masuk
kelas, Bed Ge tidak lengkap, dan menggunakan HP pada saat KMB berlangsung.
Karena semua perbuatan tersebut kalau tidak segera di tangani dengan serius
akan mengganggu dan menghambat kegiatan proses belajar mengajar di kelas yang
mengakibatkan kenakalan siswa akan menjadi meningkat jika tidak segera
ditangani dengan serius.
Di lingkungan sekolah, kenakalan siswa memang
harus ditangani secara serius dan berkelanjutan. Ini dikarenakan siswa sebagai
tulang punggung bangsa untuk membangun bangsa di masa depan. Berkaitan dengan
masalah kenakalan remaja atau siswa di sekolah, maka bimbingan dan konseling
mampu mengatasi berbagai problematika kenakalan siswa di sekolah. Dalam lembaga sekolah, tidak terlepas dari
adanya peran bimbingan dan konseling yang merupakan salah satu komponen dari
pendidikan, karena peranan bimbingan dan konseling dinilai sangatlah besar,
karena bimbingan dan konseling merupakan pembinaan perilaku siswa disekolah
atau di madrasah dalam kaitannya dengan meningkatkan dan memperbaiki sikap serta
tingkah laku siswa kearah yang lebih baik.
Siswa yang baik
harus dapat menjaga nama baik sekolah maupun nama baik keluarga, bukan
sebaliknya, yaitu melakukan tindakan yang dapat merugikan diri sendiri dan
orang lain, apalagi membuat kekacauan di
sekolah yang dapat mengganggu kegiatan proses belajar mengajar. Untuk
mengembalikan siswa berperilaku yang baik, maka dibutuhkan bimbingan dan
nasihat dari guru BP yang dapat menangani siswayang mempunyai permasalahan.
Bimbingan dan konseling Islam tidak hanya membantu mengatasi permasalahan
peserta didik yang berhubungan dengan belajarnya saja, tetapi juga menyentuh
aspek keagamaan peserta didik, bagaimanapun agama memiliki peran yang sangat
penting dalam kehidupan manusiauntuk mengatur dan pengendali kehidupan dari
perbuatan yang kurang baikmenjadi kehidupan yang bermanfaat, baik kehidupan
duniawi maupun kehidupan akhirat (Prayitno, 1999: 17).
Dalam kondisi
statis, gejala kenakalan siswa merupakan gejala sosial yang sebagian dapat
diamati serta diukur kuantitas dan kualitas penyimpangannya, namun sebagian lagi
tidak bisa diamati dan tetap tersembunyi dan hanya bisa dirasakan
ekses-eksesnya. Pada kondisi dinamis, gejala kenakalan siswa tersebut merupakan
gejala yang terus menerus berkembang, berlangsung secara progresif sejajar
dengan perkembangan teknologi, industrialisasi, dan urbanisasi(Kartono, 2002:
23). Data-data yang bersumber dari koran atau televisi adanya tawuran pelajar,
minum-minuman bahkan sampai melakukan penodongan jelas menggambarkan sudah
parahnya kehidupan para siswa yang menyimpang terutama di sekolah-sekolah yang
berada di perkotaan. Dan fakta menunjukkan bahwa tipe kenakalan siswa itu
semakin bertambah jumlahnya dengan semakin pesatnya perkembangan
industrialisasi dan urbanisasi.
Dengan fenomena di
atas, maka perlu adanya penanganan khusus untuk memecahkan persoalan kenakalan
peserta didik di sekolah. Dengan adanya perhatian dan penanganan yang lebih
serius, maka dapat meminimalisir kenakalan tersebut. Oleh sebab itu perlu
adanya bimbingan konseling islam yang berfungsi membantu siswa dalam mengatasi
masalah-masalah pribadi yang berhubungan dengan pendidikan dan pengajaran dapat
membantu siswa untuk berperilaku yang lebih baik. Bimbingan konseling Islam
termasuk dalam sarana terapi yang bertujuan untuk menumbuhkan kesadaran diri
(baik individu maupun masyarakat) tentang kebenaran nilai dan pandangan hidup
islami sehingga terjadi proses internalisasi nilai-nilai islam dalam kehidupan
sehari-hari dan terhindarkanya individu dari segala problem kehidupan sosial
yang dialaminya. (Arifin, 1979: 24).
Keberadaan bimbingan dan dan konseling di
lingkungan MA Miftahul Huda Tayu Kecamatan Tayu Kabupaten Pati merupakan salah
satu usaha madrasah dalam membantu
peserta didik mengatasi segala permasalahan, agar peserta didik dapat
berprestasi dan dapat meningkatkan motivasi belajarnya serta dapat berkembang
secara optimal, sehingga visi dan misi madrasah dapat terealisasi sesuai dengan
harapan madrasah. Adapun tugas MA Miftahul Huda Tayu Kecamatan Tayu Kabupaten
Pati ini sesuai dengan fungsi adanya bimbingan dan konseling di madrasah yaitu
membantu tenaga pendidik lainnya dalam melaksanakan proses belajar mengajar
agar berjalan lancar sesuai dengan tujuan pendidikan.
Berangkat dari latar belakang masalah tersebut
di atas, maka peneliti berencana melakukan maka peneliti berencana melakukan penelitian
di MA Miftahul Huda Tayu Pati dengan judul "Peran Bimbingan Konseling
Islam dalam Mengatasi Kenakalan Siswa (Student Delinquency) di MA Miftahul Huda
Tayu Pati”.
B.
Objek Kajian
1.
Kajian Material
Peran Bimbingan Konseling Islam Dalam Mengatasi
Kenakalan Siswa (Student Delinquency) Di MA MIFTAHUL HUDA TAYU-PATI.
2.
Kajian Formal
Peran Bimbingan Konseling Islam dalam Mengatasi
Kenakalan Siswa di MA Miftahul Huda Tayu Pati.
Layanan bimbingan dan konseling pada umumnya merupakan bagian yang
sangat penting dari keseluruhan proses pendidikan disekolah. Oleh karena itu,
pelaksanaan layanan ini menjadi tanggung jawab bersama antara seluruh personil
sekolahan, yaitu: kepala sekolah, guru BK, guru, wali kelas, dan petugas
lainya. Sema personil sekolah terkait dalam pelaksanaan program bimbingan,
karena bimbingan merupakan salah satu unsur
pendidikan dari sistem pendidikan. Kegiatan bimbingan mencakup berbagai
aspek yang satu sama lain saling berkaitan, sehingga hal itu tidak mungkin jika
pelayanan itu hanya dilakukan dan menjadi tanggung jawab konselor saja. Karena
masalah-masalah peserta didik saat ini cukup kompleks, sehingga membutuhkan
penanganan serta penanggulangan yang cukup serius.
Peran bimbingan konseling islam dalam mengatasi
kenakalan siswa tidak lepas dari empat fungsi bimbingan koseling itu sendiri,
yaitu: pencegahan (prefentif), pemahaman (kuratif), perbaikan (repserfatif),
pemeliharaan dan pengembangan (developmental). Akan tetapi, pelayanan Bimbingan
dan Konseling di MA Miftahul Huda Tayu Pati ini pada umumnya mengedepankan tiga
fungsi, yaitu: preventif, preserfatif, kuratif. (Hasil wawancara dengan Ibu
Heni Hidayatun N., Sos.I. M.Si, tanggal 10 Mei 2016).
a)
Tindakan preventif bimbingan dan konseling dalam
mengatasi kenakalan siswa.
Dalam hal ini Bimbingan dan Konseling
berfungsi memberikan pelayanan yang berguna untuk memahami keadaan siswa dan
lingkungannya, serta memberikan pemahaman siswa terhadap informasi yang mereka
perlukan. Adapun dalam usaha pecegahan (preventif) secara umum dibagi menjadi
tiga, antara lain: (1) usaha mengenal dan memahami ciri khas dan ciri umum
kenakalan siswa, (2) mengetahui kesulitan-kesulitan yang secara umum dialami
siswa, karena setiap siswa tidak selalu sempurna dan salah satu penyebab
kenakalannya adalah kekurangan atau kelemahan yang tidak diterima oleh siswa
tersebut sebagai individu. Dalam tindakan ini berusaha untuk mengetahui
kesulitan serta kelemahan yang menimbulkan kenakalan yang dilakukan pada siswa
tersebut, (3) usaha pembinaan siswa, usaha pembinaan pada siswa ini bertujuan
untuk memperkuat sikap mental siswa agar mampu menyelesaikan masalah yang
dihadapinya. Upaya preventif yang dapat dilakukan melalui program BK disekolah
diantaranya adalah: pemberian informasi, bimbingan kelompok, dan layanan
mediasi.
b)
Tindakan Preserfative Bimbingan dan Konseling dalam
mengatasi kenakalan siswa.
Tindakan Preserfative yakni
membantu individu menjaga agar situasi dan kondisi yang semula tidak baik
(mengundang masalah) menjadi baik (terpecahkan) dan kebaikan itu bertahan lama.
Upaya yang dilakukan oleh guru Bimbingan dan Konseling dalam tindakan preservative
ini adalah dengan meningkatkan kegiatan ekstrakurikuler yang bertujuan untuk
memberikan kegiatan kepada siswa sehingga siswa dapat menggunakan waktu yang
ada untuk melakukan kegiatan yang lebih positive.
c) Tindakan Kuratif Bimbingan dan Konseling dalam
mengatasi kenakalan siswa.
Tindakan kuratif merupakan tindakan yang
dilakukan oleh guru Bimbingan Konseling dalam rangka menyembuhkan atau
mengembalikan kondisi siswa yang pernah melakukan pelanggaran atau kenakalan
dengan harapan siswa tersebut tidak akan mengulangi perbuatanya lagi. Fungsi
bimbingan dan konseling yang bersifat kuratif ini berkaitan erat dengan upaya
pemberian bantuan kepada siswa yang telah mengalami masalah, baik menyangkut
aspek pribadi, sosial, belajar, maupun karir. Adapun upaya yang dilakukan
adalah dengan memberi pengarahan dan wawasan kepada siswa terutama untuk
meningkatkan keimanan, ketaqwaan, sehingga yang dilakukan oleh guru bimbingan
dan konseling dalam ham ini adalah komunikasi dari hati ke hati dengan tujuan
memperbaiki mental siswa. Selain memberi pengarahan dan wawasan upaya lain yang
dilakukan adalah dengan memantau terus perkembangan siswa yang sudah menjadi
catatan pihak BK.
Bentuk-bentuk Sanksi dalam Mengatasi Kenakalan
Siswa di MA Miftahul Huda Tayu Pati Salah satu cara untuk menanggulangi dan
mencegah terjadinya kenakalan adalah dengan diberlakukannya sanksi terhadap
siswa yang melakukan pelanggaran. Sehingga diharapkan tidak terjadi pelanggaran
dan menimbulkan efek jera terhadap siswa. Bentuk-bentuk sanksi yang
diberlakukan tidak mengarah pada hal yang negatif, tetapi mengarah pada
tindakan positif dari efek sanksi tersebut. Berdasarkan wawancara dengan Ibu
Heni Hidayatun N., S. Sos I., M. Si selaku guru Bimbingan Konseling di MA
Miftahul Huda sanksi tersebut diberlakukan
jika memang sudah terbukti secara jelas tindakan kenakalan yang dilakukan
siswa.
Ketika ada siswa yang melakukan kenakalan,
maka pihak konselor akan melakukan langkah-langkah bimbingan dan konseling dan
diberi peringatan. Jika memang siswa tersebut masih melakukan kenakalan lagi
akan diberi hukuman ringan sesuai dengan tingkat kenakalan yang mereka lakukan.
Hukuman selanjutnya jika siswa melaukan kenakalan lagi adalah dengan membuat
surat pernyataan untuk tidak melakukanya lagi. Jika siswa masih melakukan
kesalahan lagi maka guru bimbingan dan konseling akan memanggil orang tua untuk
datang kesekolah dan diberi peringatan tentang tingkah laku anaknya disekolah.
Selanjutnya diberi hukuman tidak boleh mengikuti pelajaran. Dan langkah
pemberian hukuman terakhir adalah dikeluarkan dari sekolahan. (Hasil
wawancara dengan Ibu Heni Hidayatun N.,
Sos.I. M.Si, tanggal 10 Mei 2016).
C. Rumusan Masalah
Bertitik tolak
dari uraian latar belakang di atas, maka yang menjadi pokok permasalahan adalah
:
1. Bagaimana pelaksanaan Bimbingan Konseling Islam di
MA Miftahul HudaTayuPati?
2. Bagaimana peran Bimbingan Konseling Islam dalam
mengatasi kenakalan siswa (student delinquency) di MA Miftahul Huda TayuPati?
D. Tujuan Penelitian
Sesuai dengan
latar belakang dan pokok permasalahan tersebut peneliti mengemukakan beberapa
tujuan yang dapat diharapkan dari penelitian skripsi ini. Adapun tujan
penulisan skripsi ini adalah :
1. Untuk mengetahui pelaksanaan Bimbingan Konseling
Islam di MA Miftahul Huda TayuPati.
2. Untuk
mengetahui peran Bimbingan Konseling Islam dalam mengatasi kenakalan siswa
(student delinquency) di MA Miftahul Huda TayuPati.
E. Contribusi Penelitian
1.
Manfaat teoritis
Penelitian ini diharapkan dapat berguna sebagai
masukan ilmu pengetahuan dengan memperkaya dan menambah teori-teori di dunia
pendidikan, khususnya dalam bidang bimbingan konseling serta dapat
mengetahui/menambah teori-teori baru tentang bimbingan dan konseling.
2.
Manfaat Praktis
Manfaat praktis penelitian ini dapat dijelaskan
sebagai berikut:
1) Sebagai
media penerapan keilmuan dari teori ke praktek yang selamaini diperoleh penulis
di institusi tempat penulis belajar, khususnyadalam teori Bimbingan dan
Konseling Islam.
2) Hasil penelitian ini dapat dijadikan sebagai salah
satu pedoman dalampraktek bimbingan dan konseling Islam khususnya dalam
bimbingandan konseling Islam dalam mengatasi kenakalan siswa.
F. Tesis Statement
Kenakalan dapat
diartikan tindak perbuatan sebagian para remaja yang dapat mengganggu ketenangan
diri sendiri dan orang lain. Dengan kata lain perbuatan tersebut melanggar
nilai sosial dan moral sehingga merugikan diri sendiri dan orang lain. Dalam
penelitian ini kenakalan yang dimaksud penulis adalah kenakalan yang melanggar
tata tertib di sekolahan. Adapun yang
termasuk kategori kenakalan Delinquency yaitu kenakalan yang dapat merugikan
diri sendiri maupun orang lain. Misalnya minum-minuman keras, mencuri,
berkelahi atau tawuran, mencuri, dan berani kepada orang tua.
Kenakalan siswa (student delinquency) merupakan produk
konstitusi mental serta emosi yang sangat labil dan defektif. Sebagai akibat
pengkondisian lingkungan buruk terhadap pribadi anak. Timbulnya kenakalan siswa
itu sendiri bukan karena murni dari dalam diri siswa tersebut, tetapi kenakalan
itu merupakan efek samping dari hal-hal yang tidak dapat ditanggulangi oleh
siswa itu dalam keluarganya.
Agar dapat
menjalin hubungan dengan baik antar sesama individu di dalam masyarakat maka
peran setia kawan, cinta mencintai, sesamanya sangat dibutuhkan.
Demikian pula
menurut bimbingan agama islam, Nabi Muhammad SAW bersabda:
المؤمه للمؤمه كا لبىيان يشذ بعضً بعضا(رواي بخري)
Artinya: Orang mu’min terhadap orang mu’min lainya tak ubahnya seperti suatu
bangunan yang saling menguatkan (H.R. Bukhari).
Faktor-faktor
terjadinya kenakalan siswa diantaranya berasal dari beberapa faktor, bisa
disebabkan dari remaja itu sendiri (internal) maupun faktor dari luar
(eksternal), yaitu:
1.
Faktor internal
a.
Kontrol diri yang lemah
Remaja/ siswa tidak bisa membedakan perilaku yang baik
dan perilaku yang tidak baik.
b.
Kurangnya dasar-dasar keimanan dalam diri anak
Siswa kurang memiliki iman yang kuat, sehingga mereka
tidak dapat membedakan mana yang baik dan mana yang tidak baik, karena
kurangnya pengetahuan tentang ajaran agama mengakibatkan mereka mudah terpengaruh
oleh hal-hal yang buruk.
2.
Faktor Eksternal
a.
Faktor lingkungan keluarga
Keluarga sangat menentukan bentuk, karakter dan
perkembangan karakteristik kepribadian anak atau peserta didik. Pengaruh
keluarga akan membentuk sifat-sifat dan ciri yang khas pada jati diri seorang
anak.
b.
Faktor lingkungan sekolah
Sekolah merupakan tempat pendidikan kedua setelah
rumah tangga. Karena itu ia cukup berperan dalam membina anak untuk menjadi orang
dewasa yang bertanggung jawab. Anak remaja yang sudah duduk dibangku SMP dan
SMA umumnya menghabiskan waktu sekitar 7 jam sehari di sekolahnya. Hal ini
menunjukkan bahwa sebagian waktu remaja di habiskan di sekolah. Tidak
mengherankan kalau pengaruh sekolah terhadap perkembangan jiwa remaja cukup
besar.
c.
Faktor keadaan masyarakat
Masyarakat sebagai lingkungan ketiga adalah lingkungan
yang terluas bagi remaja dan sekaligus paling banyak menawarkan pilihan, Maka
dari itu keadaan masyarakat sekitarnya langsung maupun tidak langsung akan
memberikan pengaruh terhadap kehidupan anak. Karenanya masyarakat dapat menjadi
sumber akan terjadinya perbuatan-perbuatan yang mengarah kepada kenakalan
remaja.
G. Paradigma
Dalam penelitian
di MA Miftahul Huda Tayu Pati dengan judul "Peran Bimbingan Konseling
Islam dalam Mengatasi Kenakalan Siswa (Student Delinquency) di MA Miftahul Huda
Tayu Pati” adalah termasuk ke dalam Paradigma Fenomenologi karena objek
penelitian punya kesadrandan peneliti pasif untuk mendeskripsikan fakta.
Fenomenologi
adalah sebuah studi dalam bidang filsafat yang mempelajari manusia sebagai
sebuah fenomena. Ilmu fenomenologi dalam filsafat biasa dihubungkan dengan ilmu
hermeneutic. Yaitu ilmu yang memepelajari arti daripada fenomena ini. Dalam
pendekatan sastra, fenomenologi memanfaatkan pengalaman intuitif atas fenomena,
sesuatu yang hadir dalam refleksi fenomenologis, sebagai titik awal dan usaha
untuk mendapatkan fitur-hakikat dari pengalaman dan hakikat dari apa yang kita
alami. Tradisi fenomenologi berkonsentrasi pada pengalaman pribadi termasuk
bagian dari individu-individu yang ada saling memeberikan pengalaman atau
informasi antar individu melalui dialog. Hubungan baik antar individu mendapat
kedudukan yang tinggi dlam tradisi ini. Dalam trdisi ini mengatakan bahwa
bahasa adalah mewakili suatu pemaknaan terhadap benda, jadi, sutu kata saja
sudah dapat memberikan pemaknaan terhadap suatu hal yang ingin dimaknai. Pada
dasarnya fenomenologi adalah suatu tradisi pengakajian yang digunakan untuk
mengeksplorasi pengalaman manusia. Fenomenologi menjelaskan fenomena perilaku
manuisa yang dialami dalam kesadaran. Fenomenogi mencari pemahaman seseorang
dalam membangun makna konsep yang bersifat intersubyektif. Oleh karena itu
penelitian fenomenologi harus berupaya untuk menjelaskan makna dan pengalaman
hidup sejumlah orang tentang suatu konsep atau gejala.[2]
Dalam penelitian
di MA Miftahul Huda Tayu Pati dengan judul "Peran Bimbingan Konseling
Islam dalam Mengatasi Kenakalan Siswa (Student Delinquency) di MA Miftahul Huda
Tayu Pati”, gejala yang diteliti adalah kenakalan siswa. Di dalam penelitian
ini dijelaskan faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya gejala kenakalan pada
siswa, selain itu penelitian ini menjelaskan dan memaparkan langkah-langkah
guru bimbingan konseling dalam menangani siswa nya yang berbuat kenakalan.
H. Landasan Teori
Analisis masalah
dengan Teori dalam Konseling:
Dalam penelitian
di MA Miftahul Huda Tayu Pati dengan judul "Peran Bimbingan Konseling
Islam dalam Mengatasi Kenakalan Siswa (Student Delinquency) di MA Miftahul Huda
Tayu Pati” dapat juga menggunakan Teori dalam Konseling yaitu Teori
Behaviorisme. Behaviorisme adalah aliran yang memandang manusia sebagai makhluk
yang digerakkan oleh lingkungan (homo
mechanicus). Mesin adalah suatu
benda yang bekerja tanpa ada motif dibelakangnya, mesin berjalan tidak karena
adanya dorongan alam bawah sadar tertentu, ia berjalan semata-mata karena
lingkungan sistemnya. Behaviorisme tidak mempersoalkan apakah manusia itu baik
atau, rasional atau emosiaonal. Behaviorisme hanya ingin mengetahui bagaimana
perilaku manusia oleh lingkungan . manusia dalam pandagan teori Behaviorisme
adalah makhluk elastic, yang perilaku nya sangat dipengaruhi oleh
lingkungannya.
Dalam kasus ini beberapa siswa melakukan
kenakakalan atau tindakan yang kurang baik, banyak dipengaruhi oleh lingkungan,
yaitu dapat dilihat dari lingkungan sbb:
1.
Lingkungan Keluarga
Keluarga
sangat menentukan bentuk, karakter dan perkembangan karakteristik kepribadian
anak atau peserta didik. Pengaruh keluarga akan membentuk sifat-sifat dan ciri
yang khas pada jati diri seorang anak. Keluarga merupakan kelompok masyarakat
terkecil, akan tetapi merupakan lingkungan paling kuat dalam membesarkan anak
dan terutama bagi anak yang belum sekolah.Pendidikan keluarga yang salah bisa
menjadi penyebab terjadinya kenakalan
remaja, seperti terlalu memanjakan anak, kurangnya didikan agama atau penolakan
terhadap eksistensi anak.(Sudarsono, 2012 : 125). Dalam hal ini jika keluarga
selalu memanjakan anak dan selalu menuruti permintaan anak maka akan dipastikan
anak itu akan menjadi manja dan takut jika berbuat hal yang salah atau hal
negatif.
2.
Lingkungan Sekolah
Sekolah
merupakan tempat pendidikan kedua setelah rumah tangga. Karena itu ia cukup
berperan dalam membina anak untuk menjadi orang dewasa yang bertanggung jawab.
Anak remaja yang sudah duduk dibangku SMP dan SMA umumnya menghabiskan waktu
sekitar 7 jam sehari di sekolahnya. Hal ini menunjukkan bahwa sebagian waktu
remaja di habiskan di sekolah. Tidak mengherankan kalau pengaruh sekolah
terhadap perkembangan jiwa remaja cukup besar.
3.
Lingkungan Masyarakat
Masyarakat
sebagai lingkungan ketiga adalah lingkungan yang terluas bagi remaja dan
sekaligus paling banyak menawarkan pilihan, Maka dari itu keadaan masyarakat sekitarnya
langsung maupun tidak langsung akan memberikan pengaruh terhadap kehidupan
anak. Karenanya masyarakat dapat menjadi sumber akan terjadinya
perbuatan-perbuatan yang mengarah kepada kenakalan remaja.
I. Sistematika Pembahasan
Dalam penelitian
yang berjudul "Peran Bimbingan Konseling Islam dalam Mengatasi Kenakalan
Siswa (Student Delinquency) di MA Miftahul Huda Tayu Pati” di dalamnya terdapat
pembahasan sebagai berikut:
1.
Bab 1: Pendahuluan yang berisi (latar belakang, objek
kajian, rumusan masalah, tujuan pemelitian, contribusi penelitian, tesis
statement, paradigma, dan landasan teori).
2.
Bab 2: Kajian Pustaka membahas tentang penanganan
kenakalan siswa dalam Bimbingan Konseling Islam.
A.
Penanganan kenakalan siswa
1)
Tindakan preventif bimbingan dan konseling dalam mengatasi
kenakalan siswa.
2)
Tindakan Preserfative Bimbingan dan Konseling dalam
mengatasi kenakalan siswa.
3)
Tindakan Kuratif Bimbingan dan KOnseling dalam
mengatasi kenakalan siswa
B.
Kondisi Psikis: membahas tentang keadaan jiwa atau
tingkat emosi siswa dalam mengahadapi suatu permasalahan.
C.
Langkah Penanganan Bimbingan dan Konseling Islam:
membahas tentang cara atau tindakan guru
Bimbingan Konseling dalam menangani kenakalan siswa.
D.
Indikator Pemulihan Psikis: membahas tentang
faktor-faktor yang dapat mendorong pemulihan psikis siswa.
1)
Pemulihan melalui Individu yaitu, kematangan otak dan tingkat
emosi (temperamen).
2)
Pemulihan melalui didikan keluarga/ orang tua
3)
Pemulihan melalui lingkungan yang ditempati
3.
Bab 3: membahas tentang metodologi dalam penelitian
yang menggunakan metode kualitatif, menggunakan analisis (deduksi-induksi) yang
bersifat menggabungkan atau mensitesiskan deduksi-induksi yang akan
menghasilkan proposisi.
4.
Bab 4: membahas tentang deskripsi penilitian empiris
tentang kenakalan siswa di MA Miftahul Huda Tayu Pati
1)
Biografi: menjelaskan tentang siapa pelaku dari
kenakalan di MA Miftahul Huda Tayu-Pati.
2)
Materi pemulihan Psikis: menjelaskan tentang teori
atau metode dalam menangani kondisi psikis siswa.
3)
Diagnosa: menjelaskan tentang pemeriksaan lebih lanjut
atau dugaan mengenai kondisi psikis siswa.
4)
Resep atau tanda-tanda pemulihan psikis: menjelaskan
tentang adanya tanda-tanda jika psikis siswa sudah mulai membaik. Keadaan
Psikis yang sudah mulai membaik ini adalah hasil dari tindakan atau langkah
guru Bimbingan Konseling dalam menangani kenakalan siswa nya.
5)
Analisis: menjelaskan tentang pemecahan suatu
permasalahan yang kompleks menjadi lebih kecil sehingga mudah dipahami.
Pemecahan masalah tersebut bisa menggunakan sebuah teori untuk membantu
menyelesaikannya.
6)
Deduksi: menjelaskan tentang proses pengambilan
kesimpulan sebagai akibat dari alasan-alasan yang diajukan berdasarkan hasil
analisis data.
7)
Induksi: menjelaskan tentang proses pengambilan kesimpulan yang bersifat hipotesis
atau dugaan sementara.
8)
Sintesis antara deduksi: menjelaskan tentang hasil
penyatuan dari berbagai pernyataan umum untuk dijadikan ke pernyataan yang
lebih sederhana.
9)
Proposisi: menjelaskan tentang pernyataan mengenai
hal-hal yang dapat dinilai benar atau salah.
BAB II
Penanganan Kenakalan Remaja
Bentuk-bentuk Sanksi atau bentuk penaganan dalam Mengatasi Kenakalan Siswa di MA Miftahul Huda Tayu Pati Salah satu cara untuk menanggulangi dan mencegah terjadinya kenakalan adalah dengan diberlakukannya sanksi terhadap siswa yang melakukan pelanggaran. Sehingga diharapkan tidak terjadi pelanggaran dan menimbulkan efek jera terhadap siswa. Bentuk-bentuk sanksi yang diberlakukan tidak mengarah pada hal yang negatif, tetapi mengarah pada tindakan positif dari efek sanksi tersebut.
Kondisi Psikis
Kondisi psikis seorang siswa yang melakukan kenakalan di sekolah adalah sebagai berikut:
Tidak bisa menngendalikan impuls
Stimulasi berlebihan
Tidak bisa mengendalikan emosi
Ekspresi dan perasaan berat yang dialami
Kesulitan beralih focus
Keinginan kuat untuk bermain-main
Respon terhadap aturan orangtua yang tidak konsisten
Langkah Penanganan Bimbingan Konseling Islam
Tindakan yang dapat dilakukan untuk mengatasi kenakalan siswa adalah sebagai berikut:
Tindakan preventif bimbingan dan konseling dalam mengatasi kenakalan siswa.
Dalam hal ini Bimbingan dan Konseling berfungsi memberikan pelayanan yang berguna untuk memahami keadaan siswa dan lingkungannya, serta memberikan pemahaman siswa terhadap informasi yang mereka perlukan. Adapun dalam usaha pecegahan (preventif) secara umum dibagi menjadi tiga, antara lain: (1) usaha mengenal dan memahami ciri khas dan ciri umum kenakalan siswa, (2) mengetahui kesulitan-kesulitan yang secara umum dialami siswa, karena setiap siswa tidak selalu sempurna dan salah satu penyebab kenakalannya adalah kekurangan atau kelemahan yang tidak diterima oleh siswa tersebut sebagai individu. Dalam tindakan ini berusaha untuk mengetahui kesulitan serta kelemahan yang menimbulkan kenakalan yang dilakukan pada siswa tersebut, (3) usaha pembinaan siswa, usaha pembinaan pada siswa ini bertujuan untuk memperkuat sikap mental siswa agar mampu menyelesaikan masalah yang dihadapinya. Upaya preventif yang dapat dilakukan melalui program BK disekolah diantaranya adalah: pemberian informasi, bimbingan kelompok, dan layanan mediasi.
Tindakan Preserfative Bimbingan dan Konseling dalam mengatasi kenakalan siswa.
Tindakan Preserfative yakni membantu individu menjaga agar situasi dan kondisi yang semula tidak baik (mengundang masalah) menjadi baik (terpecahkan) dan kebaikan itu bertahan lama. Upaya yang dilakukan oleh guru Bimbingan dan Konseling dalam tindakan preservative ini adalah dengan meningkatkan kegiatan ekstrakurikuler yang bertujuan untuk memberikan kegiatan kepada siswa sehingga siswa dapat menggunakan waktu yang ada untuk melakukan kegiatan yang lebih positive.
Tindakan Kuratif Bimbingan dan Konseling dalam mengatasi kenakalan siswa.
Tindakan kuratif merupakan tindakan yang dilakukan oleh guru Bimbingan Konseling dalam rangka menyembuhkan atau mengembalikan kondisi siswa yang pernah melakukan pelanggaran atau kenakalan dengan harapan siswa tersebut tidak akan mengulangi perbuatanya lagi. Fungsi bimbingan dan konseling yang bersifat kuratif ini berkaitan erat dengan upaya pemberian bantuan kepada siswa yang telah mengalami masalah, baik menyangkut aspek pribadi, sosial, belajar, maupun karir. Adapun upaya yang dilakukan adalah dengan memberi pengarahan dan wawasan kepada siswa terutama untuk meningkatkan keimanan, ketaqwaan, sehingga yang dilakukan oleh guru bimbingan dan konseling dalam ham ini adalah komunikasi dari hati ke hati dengan tujuan memperbaiki mental siswa. Selain memberi pengarahan dan wawasan upaya lain yang dilakukan adalah dengan memantau terus perkembangan siswa yang sudah menjadi catatan pihak BK.
Indikator Pemulihan Psikis
Pemulihan Psikis pada diri siswa yang melakukan kenakalan dapat dilihat dari indicator pemulihan psikis dapat dilihat dalam 4 tanda kesehatan berikut ini:
Emosi
Siswa yang mengalami tekanan mental biasanya merasa sedih atau berbeda. Rasa sedih itu muncul tiba-tibatanpa sebab yang jelas selama 2 minggu atau lebih, sudah bisa dikategorikan sebagai kecenderungan depresi. Siswa tersebutbjuga bisa menjadi moody dan mudah tersinggung. Siswa yang mengalami depresi biasanya cenderung melampiaskan emosi nya untuk melakukan kenakalan di sekolah. Disini tugas Guru Bk di sekolah adalah menstabilkan emosi siswa nya.
Fisik
Siswa yang melakukan kenakalan di sekolah, fisiknya akan cenderung terlihat tidak semangat, ini di akibatkan mungkin karena jika di malam hari sering begadang dan sering bermain.
Perilaku
Perubahan perilaku biasanya menjadi salah satu tanda gangguan mental yang paling udah dikenali dari seseorang. Perubahan seperti ini biasanya akan berdampak negative kemudian terjadi kenakalan remaja.
Psikologi
Siswa yang mengalami gangguan psikologi dapat ditandai diantaranyaada perasaan pesimis, sikap negative terhadap orang lain dan diri nya sendiri.
BAB III
Metodologi Penelitian
Jenis dan Pendekatan Penelitian
Penelitian ini adalah penelitian lapangan (field reseach) dengan pendekatan kualitatif, yaitu “penelitian yang prosedurnya menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata yang tertulis atau lisan dari orang-orang dan pelaku yang diamati” (Moleong, 1994 : 3) Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan bimbingan dan konseling Islam. Maksudnya adalah dalam melakukan analisa terhadap permasalahan yang menjadi objek penelitian didasarkan atau diperbandingkan dengan teori-teori maupun sudut pandang keilmuan bimbingan dan konseling Islam. Jenis penelitian ini juga dapat dinamakan penelitian deskriptif (descriptive research) dengan teknik studi kasus (case study) dan menggunakan pendekatan bimbingan konseling. Sebagaimana namanya, penelitian deskriptif bertujuan untuk menggambarkan secara sistematis dan runtut, faktual serta akurat mengenai fakta-fakta dan sifat-sifat populasi atau daerah tertentu. (Moleong, 2002:4).
Metode analisis data
Analisis data kualitatif menurut Biklen dalam bukunya Lexy J. Moleong adalah upaya yang dilakukan dengan jalan bekerja dengan data, mengorganisasikan data, memilah-milahnya menjadi satuan yang dapat dikelola, mensintesiskannya, mencari dan menemukan pola, menemukan apa yang penting dan apa yang dipelajari, dan memutuskan apa yang dapat diceritakan kepada orang lain (Moleong, 2006: 248). Menurut Bogdan dalam Sugiyono (Sugiyono, 2006:334) “Analisis data adalah proses mencari dan menyusun secara sistematis data yang diperoleh dari hasil wawancara, catatan lapangan, dan bahan-bahan lain, sehingga dapat mudah dipahami, dan temuannya dapat dikonfirmasikan kepada orang lain”.
Penelitian yang peneliti lakukan merupakan penelitian kualitatif yang dianalisa dengan menggunakan analisis deskriptif. Hal ini dilakukan karena data yang diwujudkan bukan dalam bentuk angka melainkan dalam bentuk laporan dan uraian deskriptif yang dilakukan dengan cara berfikir
induktif yaitu menarik suatu kesimpulan yang bersifat umum dari berbagai kasus yang bersifat individual.
Analisis yang digunakan peneliti adalah analisis model Miles dan Huberman. Aktifitas dalam data tersebut adalah data reduction (merangkum data yang telah terkumpul dan memilih hal-hal yang pokok kemudian mencari tema dan polanya), data display (dilakukan dalam bentuk uraian singkat), dan conclusion drawing (merangkum data) (Sugiono, 2006: 253) Dari data yang diperoleh mulai hasil observasi, wawancara, dan dokumentasi, maka dapat dianalisis dan memperoleh gambaran mengenai peran bimbingan konseling islami di MA Miftahul Huda.
BAB IV
Deskripsi penelitian empiris tentang Kenakalan Siswa di MA Miftahul Huda Tayu-Pati :
Biografi
Seluruh siswa yang melakukan kenakalan di MA Miftahul Huda Tayu-Pati.
Materi pemulihan psikis
Menggunakan teknik Bimbingan Konseling yaitu tindakan preventif, preservative dan tindakan kuratif, menstabiklan emosi, mengubah perilaku, dan mengetahui kondisi psikologi siswa.
Diagnosa
Penyebab kenakalan siswa dapat di diagnose mengalami 4 gangguan pada kesehatannya antara lain: emosi, fisik, perilaku dan psikologi nya.
Resep Tanda-tanda Pemulihan Psikis
Siswa sudah mulai terbiasa dengan apa yang diajarkan orang tua di rumah ataupun di sekolah
Siswa akan menjauhkan diri dari hal-hal yang buruk
Siswa sudah mau mengikuti peraturan yang di tetapkan, baik di rumah maupun di sekolah.
Analisis
Analisis pelaksanaan bimbingan konseling Islam dalam mengatasi kenakalan siswa MA Miftahul Huda Tayu Pati Bimbingan dan konseling Islam adalah pelayanan bantuan untuk siswa, baik secara perorangan maupun kelompok agar mandiri dan bisa berkembang secara optimal, dalam bimbingan pribadi, sosial, belajar maupun karier melalui berbagai jenis layanan dan kegiatan pendukung berdasarkan norma-norma yang berlaku. Dari hasil penelitian ini, Pelaksanaan bimbingan dan konseling di MA Miftahul Huda Tayu Pati didasarkan pada tingkatan perkembangan dan kebutuhan peserta didik, hal ini dilakukan agar kegiatan bimbingan dan konseling yang diberikan dapat sesuai dengan permasalahan yang dihadapi peserta didik. Pelaksanaan bimbingan dan konseling di MA Miftahul Huda Tayu Pati dilaksanakan secara terprogram, terarah, teratur, dan berkelanjutan.
Pelaksanaan bimbingan dan konseling di MA Miftahul Huda Tayu Pati meliputi program bimbingan dan konseling yaitu bimbingan kelompok, bimbingan individu, dan bimbingan klasikal. Keberhasilan pelaksanaan bimbingan dan konseling tidak terlepas dari peran aktif guru pembimbing. Oleh karena itu, guru bimbingan dan konseling dituntut untuk bisa berbuat dan melaksanakan program-program kerja, satuan kegiatan bimbingan dan konseling, dan kegiatan pendukung manajemen bimbingan dan konseling.
Dalam pelaksanaan bimbingan dan konseling di MA Miftahul Huda Tayu Pati, guru bimbingan dan konseling harus senantiasa menjalin kerjasama dengan semua pihak madrasah maupun orang tua peserta didik dan instansi lain yang berhubungan dengan pelaksanaan bimbingan dan konseling. Hal ini dimaksudkan agar guru bimbingan dan konseling mengalami kemudahan dalam melaksanakan tugas bimbingan dan konseling. Pelaksanaan bimbingan dan konseling di MA Miftahul Huda Tayu Pati sebenarnya bukan hanya untuk peserta didik yang bermasalah saja, lebih dari itu guru pembimbing harus selalu memberikan informasi kepada peserta didik tentang berbagai hal dalam upaya mengembangkan kemampuan atau potensi peserta didik.
Sebagai pelaksana bimbingan dan konseling, guru pembimbing harus mengetahui dan memahami tentang metode dan teknik dalam bimbingan dan konseling. Tanpa pengetahuan dan pemahaman mengenai berbagi metode dan teknik, guru pembimbing akan banyak mengalami kesulitan dalam pelaksanaan bimbingan dan konseling. Selain itu, metode dan teknik yang digunakan harus disesuaikan dengan kebutuhan dan permasalahan peserta didik di MA Miftahul Huda Tayu Pati.
Seperti yang peneliti paparkan tadi hendaknya dari masing-masing kegiatan yang akan dijalankan ada penanggung jawab dalam pelaksanaannya, sehingga dapat diketahui hasil dari pelaksanaannya dan menjadi bahan rujukan untuk kegiatan selanjutnya, dan adanya pelaksanaan bimbingan dan konseling dapat membantu peserta didik dalam mengatasi kenakalan siswa dan agar dapat belajar dengan efektif dan efisien, diperlukan pengawasan dari kepala sekolah, karena pada pelaksanaannya monitoring sangat penting untuk mengetahui sejauh mana pelaksanaan kegiatan yang dijalankan.
BAB V
KESIMPULAN
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan di atas, dengan judul Peran Bimbingan Konseling Islam dalam Mengatasi Kenakalan Siswa (Student Delinquency) di MA Miftahul Huda Tayu Pati. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa:
1. Pelaksanaan Bimbingan dan Konseling dalam Mengatasi kenakalan siswa di MA Miftahul Huda Tayu Pati Pelaksanaan bimbingan dan konseling di MA Miftahul Huda Tayu Pati meliputi program bimbingan dan konseling yaitu bimbingan kelompok, bimbingan individu, dan bimbingan klasikal. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) mengharuskan madrasah untuk mengalokasikan 2 (dua) jam pelajaran per minggu bagi pelajaran pengembangan diri. Hal ini berarti di setiap madrasah paling tidak harus mengalokasikan 2 jam pelajaran bagi guru bimbingan dan konseling untuk
mengadakan bimbingan secara klasikal. Pada tahun ajaran 2013/2014 belum mengalokasikan 2 (dua) jam pelajaran perminggu, dan pertemuan secara klasikal di dalam kelas selama dua jam perminggu belum diadakan, dan baru mulai diadakannya pada tahun ajaran 2015/2016 - sekarang. Dalam praktiknya MA Miftahul Huda Tayu Pati sudah mengalokasikan 2 (dua) jam pelajaran per minggu bagi pelajaran pengembangan diri, program pelaksanaan bimbingan klasikal sudah maksimal dilaksanakan, Guru pembimbing menerapkan bimbingan klasikal pada waktu pembelajaran di dalam kelas, serta untuk menyelesaikan berbagai permasalahan yang dihadapi guru pembimbing dalam menerapkan pelaksanaan program bimbingan dan konseling tersebut juga dilakukan melalui sebuah pengamatan, pengamatan di dalam kelas meliputi pengamatan bimbingan dan konseling itu sendiri, maupun pada mengatasi kenakalan peserta didik di MA Miftahul Huda Tayu Pati.
2. Peran bimbingan konseling islam dalam mengatasi kenakalan siswa (student delinqueny) di MA Miftahul Huda Tayu Pati Peran bimbingan konseling islam di MA Miftahul Huda dalam mengatasi kenakalan siswa mengedepankan tiga fungsi bimbingan konseling, yaitu fungsi preventif, Preserfatif, dan kuratif. Tindakan secara preventif adalah dengan mengadakan bimbingan secara klasikal didalam kelas selama dua jam pelajaran perminggu. Selain itu upaya lain yang dilakukan adalah dengan memberikan nasehat dan wawasan-wawasan yang bertujuan untuk mendidik siswa untuk memiliki kepribadian yang lebih baik. Tindakan secara preserfatif adalah dengan mengarahkan siswa untuk mengikuti kegiatan ekstrakurikuler, dengan mengarahkan siswa untuk mengikuti kegiatan ektrakurikuler diharapkan siswa dapat lebih menggunakan waktu luangnya untuk melakukan kegiatan yang lebih positive, dan tidak akan mengulangi kesalahan yang dilakukan siswa tersebut. Tindakan secara kuratif adalah dengan membantu menyelesaikan masalah yang dihadapi oleh siswa dan memberikan pengarahan yang intinya mendidik siswa untuk menambah keimanan, ketaqwaan dan kedisiplinan.
[1] Cholil & Sugeng Kurniawan, Psikologi Pendidikan (Surabaya: IAIN
Sunan Ampel Press, 2011), hal 87
Komentar
Posting Komentar