RHENALDO DWI SATRIA

NAMA : RHENALDO DWI SATRIA
NIM      : B73218111

KEKERASAN DI DALAM SEKOLAH MENJADI MASALAH YANG BESAR DI INDONESIA
STUDI KASUS : UPAYA PENANGANAN KONSELING SECARA ISLAMI DALAM MENANGANI KEKERASAN DI DALAM SEKOLAH

BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar belakang
Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia serta ketrampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara ( UU Nomor 20 Tahun 2003).
Dengan adanya UU Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistim Pendidikan Nasional sebagai upaya untuk meningkatkan mutu kinerja sistem pendidikan yang dianggap belum sesuai dengan harapan nasional, bahkan cenderung menurun, apalagi memenuhi standard internasional. Salah satu indikator rendahnya mutu pendidikan nasional adalah dapat dilihat dari prestasi akademik, proses pembelajaran masih terlalu menekankan 2 Dosen Jurusan PPB FIP UNY aspek akademik atau intelektualnya saja, dan kualitas guru masih rendah. Sementara itu aspek-aspek non akademis, seperti nilai-nilai moral, nilai sosial-emosional belum diberdayakan secara optimal, dan hasilnya juga masih jauh seperti yang diharapkan. Penananaman nilai-nilai moral maupun emosional hanya diberikan melalui pelajaran tertentu saja seperti PPKn dan agama. Fenomena ini tentunya berkorelasi dengan meningkatnya kasus-kasus kekerasan yang terjadi dalam lembaga pendidikan di Indonesia.
Contoh kongkrit aksi kekerasan dalam lembaga pendidikan yang terjadi adalah seperti yang terjadi di Iniversitas Negeri Makasar (UNM) beberapa waktu yang lalu. Kejadian tersebut merupakan rentetan aksi kekerasan yang terjadi di lembaga pendidikan kita. Kasus di STPDN, aksi kekerasan di kampus pencetak birikrat ini justru menjadi polemik yang berujung pada tuntutan pembubaran lembaga pendidikan tersebut.
Maraknya tindakan kejahatan dan kekerasan di negeri kita sangatlah memprihatinkan, baik di masyarakat luar, di tengah-tengah keluarga, bahkan dalam dunia pendidikan, seperti kekerasan di dalam sekolah.
Kekerasan di sekolah dapat dilakukan oleh siapa saja, dari kepala sekolah, guru, Pembina sekolah, karyawan, ataupun antar siswa. Kekerasan antar siswa juga kerap terjadi yaitu berapa bullying yang merupakan perilaku agresif dan menekan dari seseorng yang lebih dominan terhadap orang yang lebih lemah, dimana seorang siswa atau lebih secara terus-menerus melakukan tindakan yang menyebabkan siswa lain menderita. Kekerasan yang terjadi dapat berupa kekerasan fisik seperti memukul, menendang, menjambak, dan lain-lain. Namun kasus ini malah sebaliknya, siswa yang melakukan penganiayaan terhadap gurunya yang tidak mau ditegur karena sedang merokok saat jam pelajaran sudah dimulai. Bukannya menaati perintah sang guru dan tata tertib sekolah, justru siswa ini berani menganiaya gurunya di hadapan teman-temannya.
Sebaliknya, kekerasan di kalangan siswa tidak dilakukan gurunya terhadap muridnya, ada juga siswa yang menganiaya kepada gurunya sendiri. Kekerasan siswa dengan gurunya di akhir-akhir ini rupanya sedang marak dilakukan di negeri kita, mungkin kurangnya bimbingan dari orang tua,kurangnya pengawasan dari orang tua ataupun kepribadian yang kesulitan mengendalikan emosinya menjadi penyebab terjadinya kekerasan siswa terhadap gurunya.
Alasan saya memilih kasus ini untuk menyadarkan para pelajar-pelajar yang kurang memberi rasa hormatnya terhadap gurunya sendiri. Bayangkan, seorang siswa seharusnya menaati tata tertib belajar di sekolah. Yang terjadi dalam kasus ini malah sebaliknya, siswa yang bersangkutan ini menganiaya gurunya saat ditegur merokok pada saat mata pelajaran sudah dimulai.
Kasus ini termasuk penyakit psikologi Borderline Personality Disorder, gangguan psikologis yang ditandai dengan kesulitan mengelola emosi dan kehendak pribadi, berkaitan dengan orang lain maupun diri sendiri.

B.     Objek Kajian
A). Kajian Material     : Upaya menangani kasus kekerasan di kalangan sekolah di Indonesia.
B). Kajian Formal       : Penanganan kasus kekerasan di kalangan sekolah sangat diperhatikan. Cara penanganan yang bisa dilakukan konselor kepada tersangka kasus kekerasan di kalangan sekolah yaitu dengan cara : pertama, mensosialisasikan apa bahaya atau atau efek jera jika sudah terjerat pelanggaran pasal yang ada di undang-undang. Kedua, peran keluarga sangat penting dalam menjaga keutuhan suatu keluarga agar tidak terkena dengtan segala kasus yang menyimpang. Ketiga, lebih mendekatkan diri dengan Allah swt dan lebih meningkatkan kualitas iman agar tidak tergoda atau tergiur dengan banyaknya nominal yang ada. Keempat, konselor memperbanyak melakukan acara keagamaan di sekolah-sekolah agar hal yang sudah terjadi tidak terulang kembali. Kelima, konselor menyarankan ke sekolah-sekolah agar diberikan pelajaran keagamaan lebih di perbanyak lagi.

C.    Rumusan masalah
1.      Apa penyebab terjadinya kasus ini ?
2.      Bagaimana cara mengatasi kekerasan di pendidikan ?

D.    Tujuan
1.      Untuk mengetahui factor penyebab kasus penganiayaan siswa terhadap gurunya.
2.      Untuk mengetahui upaya apa yang dilakukan oleh berbagai pihak untuk mencegah terjadinya penganiayaan atau kekerasan di dalam dunia pendidikan.

E.     Manfaat
a)      Bagi guru : menambahkan pendidikan pentingnya memberikan sosialisasi tentang kekerasan dan mengetahui hukum pidana yang telah melakukan kekerasan.
b)      Bagi wali murid : menjadi pembelajaran orang tua atau wali murid, agar selalu memantau perkembangan dan kegiatan anak-anaknya selama melakukan kegiatan belajar disekolah.
c)      Bagi murid : menyadarkan bahwa seorang pelajar harus menaati peraturan tata tertib sekolah dan harus lebih menghormati kepada gurunya.

F.     Kontribusi Penelitian
Hal pencegahan yang harus dilakukan sejak dini dengan cara memberikan modul pembelajaran yang baik dan bertujuan untuk memajukan para generasi muda yaitu menumbuhkan rasa menghormati dan menghargai terhadap gurunya sejak dini. Pelaku yang menganiaya gurunya tersebut disebabkan oleh beberapa hal yang utama yaitu para pelaku tersebut tidak memiliki rasa menghormati dan menghargai dalam melakukan belajar mengajar didalam lingkup sekolahan. Untuk mengatasi masalah tersebut maka perlu diberikan atau dilakukan tindakan yang tegas untuk siswa dengan cara terus menanamkan hormat kepada orang yang lebih tua.
Praktisi konseling dapat mengupayakan dimulai dari lingkungan sosial yang paling awal dan yang paling dekat yaitu keluarga, kerabat, hingga teman-teman satu sekolahnya untuk saling mengingatkan antara satu dengan yang lain. Perlu kesadaran bersama, bahwa kasus siswa menganiaya gurunya merupakan tindakan yang sangat luar biasa dan dapat memperlambat kemajuan pendidikan yang ada di Indonesia.
Dalam bidang pendidikan dan menanamkan pendidikan agama karena dengan mempelajari pendidikan agama maka tidak aka nada orang yang akan melakukan tindakan yang menyimpang.

G.    Tesis Statement
Seorang guru yang sudah tua pernah mengeluh, mengapa setiap terjadi kasus, seperti ; perkelahian, perploncoan yang berbuntut penganiayaan dalam kegiatan MOS, pencurian, gank sekolah, budaya nyabu, mabuk, sampai perilaku asusila, seperti kasus beredarnya gambar-gambar mesum lewat Hand Phone yang dilakukan siswa, dan lain sebagainya, selalu saja guru dan lembaga sekolah yang dipersalahkan dan dipermasalahkan. Mulai dari sekedar menyorot ketidakseriusan guru dalam mendidik dan krisis keteladanan guru yang tidak lagi patut ”digugu dan ditiru”, menghujat kurikulum, menghujat para pemimpin dalam institusi pendidikan, sampai dengan mempolemikkan perlu tidaknya pendidikan budi pekerti dihidupkan kembali atau menambah jumlah pelajaran agama di samping pelajaran moral pancasila dan PPKn yang semakin kehilangan orientasinya.

H.    Paradigma
Tindak kekerasan oleh pelajar (siswa dan mahasiswa) telah menimbulkan banyak kerugian yang besar. Bukan hanya materi yang hilang, tetapi nyawapun melayang. Fenomena menyimpang ini membuat kita resah sekaligus bertanya-tanya. Masalah apa yang membuat anak-anak bangsa yang mengaku agen perubahan menjadi ganas dan beringas ? Bukankah setiap saat mereka belajar nilai-nilai moral dan relejius ? Bukankah mereka juga yang menyebut dirinya generasi masa depan bangsa ?.
Fenomena kekerasan dalam lembaga pendidikan seolah memberikan gambaran bahwa kita sebagai bangsa sungguh lemah dalam mengendalikan emosi. Bangsa ini tumbuh tidak hanya menjadi bangsa yang miskin pengetahuan, tetapi juga mengalami kemerosotan nilai-nilai moral. Kita kehilangan kepekaan terhadap sesama, kasing sayang, penghargaan, dan budaya malu. Nilai-nilai kemanusiaan kita hilang, sebaliknya yang tumbuh adalah jiwa dan watak yang keras. Permusuhan tumbuh subur dan bahkan melembaga, seperti ; perkelahian antar sekolah, antar perguruan tinggi, bahkan antara TNI dan POLRI. Mereka mungkin lupa bahwa manusia hadir dengan berbagai perbedaan baik suku, agama, ras, dan kepribadian (individual differiences). Kekerasan dalam lembaga pendidikan tidak boleh dibiarkan berlarut-larut, dan akar masalah harus segera ditemukan untuk dijadikan brainstroming dalam rangka mencari pemecahan masalah.
I.       Analisis Teori
Teori Rational Emotive Behavior Therapy atau REBT merupakan teori belajar kognitif behavior yang lebih menekankan pada keterkaitan antar perasaan, tingkah laku dan juga pikiran. Teori ini dikembangkan oleh Albert Ellis lewat beberapa tahapan dan menggunakan pandangan dasar jika manusia merupakan individu yang mempunyai tendensi untuk berpikir irasional yang bisa didapat lewat belajar sosial. Selain itu, individu juga mempunyai kapasitas untuk belajar kembali untuk berpikir secara rasional.
Cara penanganan yang bisa dilakukan konselor kepada tersangka kasus kekerasan di kalangan sekolah yaitu dengan cara : pertama, mensosialisasikan apa bahaya atau atau efek jera jika sudah terjerat pelanggaran pasal yang ada di undang-undang. Kedua, peran keluarga sangat penting dalam menjaga keutuhan suatu keluarga agar tidak terkena dengtan segala kasus yang menyimpang. Ketiga, lebih mendekatkan diri dengan Allah swt dan lebih meningkatkan kualitas iman agar tidak tergoda atau tergiur dengan banyaknya nominal yang ada. Keempat, konselor memperbanyak melakukan acara keagamaan di sekolah-sekolah agar hal yang sudah terjadi tidak terulang kembali. Kelima, konselor menyarankan ke sekolah-sekolah agar diberikan pelajaran keagamaan lebih di perbanyak lagi.

J.      Sistematika Pembahasan

Bab 1 Pendahuluan
Pada bab ini secara ringkasan dijelaskan mengenai alasan pemilihan judul, perumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, tesis statement, paradigma, analisis teori dan sistematika pembahasan.
            Bab 2 Pembahasan
                        Pada bab ini menjelaskan :
1.      Hakekat sosial emosional
2.      Perilaku siswa
3.      Pentingnya pendidikan sosialisasi tentang kekerasan
4.      Factor-faktor yang mempengaruhi perkembangan emosi
5.      Keterkaitan keluarga sekolah dan masyarakat.
BAB II
PEMBAHASAN
1.      Hakekat Sosial-Emosional
Salah satu dimensi kepribadian manusia adalah dimensi emosional atau dimensi affektif. Dalam kehidupan sehari-hari, manusia selalu mempunyai problem dan berusaha untuk memecahkan problem yang dihadapinya tersebut. Terkadang dalam memecahkan masalahnya, mereka merasakan senang, kesulitan, kegirangan, marah, atau mungkin juga cemas tentang situasi dan perannya dalam memecahkan masalah tersebut. Dalam bertindakpun manusia mungkin merasakan bersemangat, enggan, atau khawatir. Apapun situasinya manusia memiliki perasaan terhadap apa yang mereka lihat, dengar, pikirkan, dan kerjakan. Karena itu proses emosional seseorang tidak terisolasi dari fenomena, tetapi merupakan komponen pengalaman-pengalaman pada umumnya yang secara konstan mempengaruhi atau dipengaruhi oleh proses-proses lain yang berlangsung pada waktu tertentu.
Emosi berasal dari akar kata bahasa Latin ”movement” yang mempunyai arti menggerakkan atau bergerak. Pengertian itu menyiratkan bahwa kecenderungan bergerak merupakan hal yang mutlak dalam emosi. Emosi mendorong manusia untuk bergerak atau melakukan tindakan. Tindakan tersebut adalah untuk menuju rasa aman dan pemenuhan kebutuhan, serta menghindari sesuatu yang merugikan dan menghambat pemenuhan kebutuhan (Surya, 2003).
Berbagai macam definisi yang diberikan oleh para ahli terhadap emosi, diantaranya adalah Glanz (1974), mendefinisikan emosi merupakan perasaan psikologi, kesadaran individu yang biasanya terjadi sebelum, bersamaan, atau setelah sebuah pengalaman terjadi. Emosi bukanlah bagian di luar diri seseorang, tetapi dari dalam diri seseorang yang berbeda dari dunia luar. Emosi berkaitan erat dengan tingkahlaku seseorang. Menurut Ali Nugroho & Yeni (2006) emosi merupakan perasaan yang ada dalam diri kita, dapat berupa perasaan senang atau tidak senang, perasaan baik atau buruk. Emosi ini diklasifikasikan menjadi emosi positif dan emosi negatif. Emosi positif, seperti ; senang, bahagia, suka, cinta, sedangkan emosi negatif, seperti ; benci, marah, dendam, takut, cemas dan lain sebagainya.
Ketika membahas tentang dimensi emosi yang dirasakan seseorang secara tidak langsung akan berkaitan dengan dimensi sosial. Seseorang yang sedang marah, rindu, cemas, dendam dan perasaan-perasaan emosi lainnya selalu ada obyeknya, yaitu individu 4 Dosen Jurusan PPB FIP UNY lain. Jadi dimensi emosi dan dimensi sosial ini akan selalu timbal bailk, artinya ketika membahas emosi akan terkait dengan dimensi sosial dan sebaliknya ketika membahas sosial akat terkait dimensi emosi. Keterkaitan antara dimensi sosial dan emosional akan terlihat dalam interaksi sosial. Interaksi sosial merupakan syarat utama terjadinya aktivitas-aktivitas sosial dalam kehidupan. Interaksi sosial juga merupakan suatu hubungan sosial yang dinamis, yang menyangkut hubungan antara orang perorangan, antara kelompok dengan kelompok maupun antara orang perorangan dengan kelompok sosial. Johnson (1993) menyatakan bahwa manusia selalu merindukan dan mencari jalinan hubungan dengan sesama, dan manusia juga mempunyai kebutuhan-kebutuhan pribadi yang hanya bisa dipuaskan melalui interaksi dengan sesama manusia.
2.      Perilaku Siswa
Perilaku Siswa Tanggung Jawab Siapa ? Seorang guru yang sudah tua pernah mengeluh, mengapa setiap terjadi kasus, seperti ; perkelahian, perploncoan yang berbuntut penganiayaan dalam kegiatan MOS, pencurian, gank sekolah, budaya nyabu, mabuk, sampai perilaku asusila, seperti kasus beredarnya gambar-gambar mesum lewat Hand Phone yang dilakukan siswa, dan lain sebagainya, selalu saja guru dan lembaga sekolah yang dipersalahkan dan dipermasalahkan. Mulai dari sekedar menyorot ketidakseriusan guru dalam mendidik dan krisis keteladanan guru yang tidak lagi patut ”digugu dan ditiru”, menghujat kurikulum, menghujat para pemimpin dalam institusi pendidikan, sampai dengan mempolemikkan perlu tidaknya pendidikan budi pekerti dihidupkan kembali atau menambah jumlah pelajaran agama di samping pelajaran moral pancasila dan PPKn yang semakin kehilangan orientasinya.
Jika kita lihat dari realitas yang ada, bahwa alokasi waktu bagi anak dalam naungan atap sekolah atau terlibat kegiatan proses belajar mengajar di sekolah tidak lebih dari 6 jam dalam 24 jam hidup dalam sehari. Waktu 6 jam itupun masih dipotong untuk waktu istirahat. Dapat dihitung berapa waktu yang mungkin dapat dimanfaatkan guru untuk mengontrol semua kegiatan siswa-siswa yang jumlahnya tidak sedikit. Dalam waktu yang sedikit tersebut seorang guru dituntut harus mencerdaskan, mendidik, membudayakan, mengadabkan, dan memindahkan serangkum pengetahuan wajib setebal buku induk 5 Dosen Jurusan PPB FIP UNY GBPP (Mujiran, 2002). Hal ini merupakan suatu pertanyaan besar yang cukup sulit untuk dijawab dan merupakan tantangan besar dalam proses pendidikan.
Apakah mungkin semua itu bisa tercapai ?. Sedangkan seorang guru jelas bukan tukang sulap yang mampu mengubah segala sesuatu dengan mantra ”sim salabim abrakadabra”, tetapi hanya orang biasa yang kadang terhimpit berbagai masalah hidup yang cukup menyesakkan dada dan membutuhkan alam pikir kreatif. Atau istilah trennya ”guru juga manusia”. Belum lagi jika dilihat dari masalah minimnya gaji yang dikantongi para guru setiap bulannya. Demikian pula ruangan kelas bukanlah mesin ”foto kopi” yang bisa mentransfer seluruh catatan buku skrip pada lembaran kertas kosong yang tak terbatas jumlahnya; dan para siswa pun bukan lembaran kertas kosong tetapi berupa potensi yang harus dikembangkan dengan berbagai kekompleksan problemnya.
Persoalannya pun tidak cukup berhenti sampai di sini. Seorang murid yang baru saja diberi pelajaran tentang sopan santun berbicara, ”kalau berbicara harus menghindari katakata kotor dan tidak pantas”, tetapi sampai di rumah orang tua siswa tersebut sudah terbiasa berperang mulut dengan mengobral ”nama-nama binantang”, bahkan perilaku keseharian orang tua siswa jauh dari norma sopan santun, seperti; berkata kotor, memukul, menendang, menampar, bertengkar dengan istri, temperamen, mudah marah, tanpa berfikir dan menyadari bahwa perilakunya akan dilihat anak bahkan bisa mempengaruhi perilaku anak untuk melakukan hal yang sama.
Apakah pelajaran moral yang baru didapat di ruang kelas tersebut bermanfaat dan membekas di dalam hati serta alam bawah sadarnya siswa ? Kalau sekedar mengingatnya dan kemudian menuliskannya di dalam buku atau lembar jawaban ketika ujian tiba, mungkin seluruh anak dapat melakukannya, tetapi untuk menjadikannya sebagai sebuah akhlak (kebiasaan) sehari-hari, tampaknya akan sulit terwujud.
Dari berbagai kasus di atas menunjukkan betapa pentingnya peran orang tua, dan guru selaku pendidik di sekolah untuk secara bersama-sama membimbing, mendidik, dan membina anak agar dapat berkembang secara optimal sesuai dengan potensi yang dimilikinya, dan terhindar dari segala bentuk pengaruh yang bisa menyesatkan siswa dalam perkembangannya.
Mujiran (2002) mengemukakan bahwa untuk mengatasi permasalahan diatas salah satu solusi instan yang bisa ditawarkan adalah dengan full day school atau boarding 6 Dosen Jurusan PPB FIP UNY school dengan harapan bisa mengisolasi anak dari pengaruh negatif masyarakat, yang secara teoritis tampak ampuh pada dataran empiriknya tetapi juga masih dipertanyakan ketika diparalelkan dengan kekomplekan problem hidup siswa yang juga butuh bersosialisasi atau bermasyarakat. Bagaimanapun juga solusi instan tersebut perlu kita hargai sebagai suatu inovasi, tetapi evaluasi produk solusi tersebut juga harus diperhatikan. Apakah hal ini merupakan suatu solusi atau suatu bentuk ketidakmampuan orang tua dalam memberikan kasih sayang atau perhatian pada anak karena kesibukan kedua orang tua dalam bekerja ? Fenomena hal tersebut sering ditemui dalam kehidupan sekarang ini, entah karena ujud dari emansipasi yang ”kebablasan” atau suatu akibat dari besarnya jumlah ibu yang bekerja saat ini cukup tinggi. Hal ini menyebabkan anak mengalami keterlantaran emosi (emotional deprivation) sehingga akan mempengaruhi perkembangannya baik fisik, mental, maupun sosial emosionalnya di kemudian hari.
3.      Pentignya Pendidikan Sosialisasi Tentang Kekerasan
Dinamika kehidupan, perkembangan zaman termasuk perkembangan, dan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) tidak seluruhnya membawa kehidupan ini menjadi lebih teratur, tenteram, damai dan bahagia. Kondisi tersebut justru menjadikan kehidupan semakin kompleks. Keadaan lingkungan kehidupan saat ini banyak berakibat buruk terhadap perkembangan dan kehidupan sosial emosional anak. Ternyata kehidupan yang kompleks ini, mengakibatkan timbulnya tekanan-tekanan pada sosial emosional anak sehingga berdampak pada anak-anak pada zaman sekarang ini, yaitu menjadi lebih mudah kesal dan marah terutama dalam menanggapi segala sesuatu mengenai dirinya.
Dari hasil survei terhadap para orang tua dan guru, bahwa generasi sekarang lebih banyak memiliki kesulitan emosi dan sosial dari pada generasi sebelumnya. Generasi sekarang lebih kesepian dan pemurung, lebih beringas, kurang memiliki etika, mudah cemas, gugup dan lebih impulsif ( Ali Nugraha & Yeni.P, 2006). Dari pernyataan tersebut secara kasat mata dapat dengan mudah kita tangkap dalam lingkungan kita, terutama bagi mereka yang hidup di kota-kota besar, seperti ; Jakarta, Surabaya, Bandung, dan lain sebagainya. Kondisi yang memprihatinkan adalah gejala-gejala dan dampaknya sudah mulai merembes ke daerah kota-kota kecil bahkan sampai ke pedesaan. 7 Dosen Jurusan PPB FIP UNY.
Melihat fenomena tersebut, menunjukan bahwa anak-anak sekarang cenderung mengalami keterlantaran emosi, yang pada akhirnya merupakan cikal bakal terjadinya perilaku-perilaku antisosial, seperti perkelahian antar pelajar, tawuran, narkoba, penganiayaan, asusila, tindakan-tindakan kekerasan. Kejadian-kejadian ini bisa terjadi dari level sekolah menengah sampai tingkat perguruan tinggi, seperti yang terjadi di STPDN, Universitas Negeri Makasar akhir-akhir ini.
4.       Faktor- Faktor Yang Memepengaruhi Perkembangan Emosi
Menurut Santrock (2003) terdapat sejumlah faktor-faktor yang dapat mempengaruhi perkembangan emosi seseorang. Baik dan tidaknya kualitas emosi seseorang ditentukan oleh faktor keadaan diri individu, faktor konflik-konflik dalam perkembangan, dan faktor lingkungan (keluarga, sekolah, masyarakat).
1.      Keadaan Individu Sendiri
Keadaan yang ada dalam diri individu, seperti usia, keadaan fisik, intelgensi, peran seks dapat mempengaruhi perkembangan emosi individu. Hal yang cukup menonjol terutama berupa cacat tubuh atau apapun yang dianggap oleh diri individu sebagai sesuatu kekurangan pada dirinya dan akan sangat mempengaruhi perkembangan emosinya. Kadang-kadang berdampak lebih jauh pada kepribadian individu. Dalam kondisi ini perilaku-perilaku umum yang biasanya muncul adalah mudah tersinggung, merasa rendah diri atau menarik diri dari lingkungannya, dan lain-lain. Dampak yang muncul pada individu akibat keadaan dirinya tersebut, pada tingkatan tertentu akan menjadi sangat membahayakan, terutama pada saat remaja mengidentifikasi diri dan menemukan bahwa hal tersebut merupakan faktor nyata yang dianggap dapat merendahkan dirinya dalam lingkungannya. Hal tersebut akan semakin semakin mempengaruhi jika lingkungan secara nyata menghindari dirinya dan memberikan reaksi penolakan.
Lebih jauh lagi, mungkin individu tersebut akan menjadi antisosial, bahkan ingin menghancurkan diri dan lingkungannya akibat frustasi yang kuat. Perlu ada tindakan preventif untuk menghindari dampak serius dari pengaruh emosi yang timbul dari dalam diri individu. Kita perlu mempersiapkan tindakan kuratif untuk menjaga kemungkinan dampak buruk yang datang secara tiba-tiba. Tindakan preventif yang utama adalah 8 Dosen Jurusan PPB FIP UNY membangun kesadaran bahwa kekurangan yang dimiliki individu tersebut adalah suatu kewajaran, dan semua orang pasti memiliki kekurangan, hanya yang berbeda adalah letak dan di bagian mana kekurangan itu berada. Jika kesadaran sudah dibangun, maka upaya selanjutnya adalah menurunkan reaksi-reaksi negatif yang sering muncul, dan jika mungkin menghilangkannya sama sekali. Jika tahap kedua berhasil, harus diikuti dengan membangkitkan semangat induvidu tersebut untuk berperan kembali di dalam lingkungannya, bahkan jika mungkin dapat meraih prestasi dan berkompetisi sesuai dengan kemampuannya.
2.      Konflik-konflik Dalam Proses Perkembangan
Di dalam menjalani fase-fase perkembangan, setiap induvidu harus melalui beberapa macam konflik yang pada umumnya dapat dilalui dengan lancar dan sukses, namun ada juga anak atau induvidu yang mengalami gangguan atau hambatan dalam menghadapi konflik-konflik ini. Individu yang tidak dapat mengatasi konflik-konflik tersebut biasanya mengalami gangguan –gangguan emosi.
3.      Lingkungan
Anak-anak hidup dalam 3 macam lingkungan yang mempengaruhi perkembangan emosi dan kepribadiannya. Apabila pengaruh dari lingkungan ini tidak baik, maka perkembangan kepribadiannya akan terpengaruh juga. Kondisi emosional remaja sangat erat kaitannya dengan kondisi lingkungan yang mempengaruhi sebelumnya. Ketiga faktor yang berpengaruh tersebut adalah sebagai berikut :
A.    Lingkungan keluarga
Keluarga merupakan lingkungan pertama dan utama bagi perkembangan emosi anakanak usia prasekolah. Di sanalah pengalaman-pengalaman pertama didapatkan oleh anak. Keluarga yang dimaksud disini adalah peran keberadaan kedua orang tua (Ayah dan Ibu). Keluarga sangat berfungsi dalam menanamkan dasar-dasar pengalaman emosi. Bahkan secara lebih khusus, keluarga dapat menjadi emotional security pada tahap awal perkembangan anak. Keluarga juga dapat mengantarkan kepada lingkungan yang lebih luas. Dasar-dasar pengelolaan emosi yang dimiliki anak akan 9 Dosen Jurusan PPB FIP UNY menjadi efektif digunakan dalam menampilkan ekspresinya, terutama untuk kepentingan dalam bersosialisasi dengan lingkungannya.
B.     Lingkungan sekolah
Sekolah mempunyai tugas membantu anak-anak dalam perkembangan emosi dan kepribadiannya dalam suatu kesatuan, tetapi sekolah sering juga menjadi penyebab timbulnya gangguan emosi pada anak. Kegagalan di sekolah sangatlah berpengaruh terhadap kehidupan emosi pada anak. Problema di sekolah sering ditimbulkan oleh program yang tidak memperhatikan aspek kemampuan dan perkembangan anak. Lingkungan sekolah yang dapat menimbulkan gangguan emosi yang menyebabkan terjadinya gangguan tingkahlaku pada anak, yaitu seperti : a. Hubungan yang kurang harmonis antara guru dengan siswa b. Hubungan yang kurang harmonis dengan teman-temannya / siswa lainnya c. Iklim pembelajaran yang tidak kondusif.
C.     Lingkungan sekitar/masyarakat
Kondisi lingkungan di sekitar anak akan sangat berpengaruh terhadap tingkahlaku serta perkembangan emosi dan pribadi anak. Berbagai stimulus yang bersumber dari lingkungan sekitarnya akan dapat memicu anak dalam berekspresi. Frekuensi dan intensitas ekspresi anak akan sangat ditentukan oleh kadar stimulus yang diterimanya.
5.      Keterkaitan Keluarga, Sekolah, Dan Masyarakat
Globalisasi membawa nilai-nilai baru yang perlu diterjemahkan oleh semua pihak agar nilai-nilai tersebut dapat mendorong terwujudnya dan tercapainya kehidupan manusia yang berkualitas dan bermakna.
Fenomena dalam kehidupan masyarakat masih sering dijumpai banyak permasalahan dalam kehidupan yang berkaitan dengan nilai-nilai moral, sosial-emosional khususnya pada generasi muda atau para pelajar. Pendidikan formal atau lembaga 10 Dosen Jurusan PPB FIP UNY pendidikan yang diharapkan mampu menjawab permasalahan-permasalahan ini ternyata masih belum bisa menyelesaikan secara tuntas.
Hal ini menjadi “pekerjaan rumah” yang harus segera diselesaikan oleh para praktisi pendidikan dari semua elemen pendidikan dari tingkat atas sampai bawah. Pendidikan formal atau sekolah telah dijadikan andalan untuk menjawab permasalahan tersebut dengan diberlakukannya seperangkat kurikulum dan kebijakan-kebijakannya. Akan tetapi jika dilihat dari produknya secara makro pendidikan di Indonesia belum mampu menjawab kebutuhan yang diharapkan bangsa sebagaimana yang tertuang dalam tujuan pendidikan nasional. Salah satu indikatornya dapat dilihat dari banyaknya kasus-kasus kekerasan dalam pendidikan, menunjukkan betapa terpuruknya sistim pendidikan kita.
Bila terjadi perilaku yang menyimpang pada siswa, maka yang sering terjadi adalah sikap masing-masing kutub yang saling menyalahkan. Misalnya, orang tua di rumah (keluarga) menyalahkan pihak sekolah (guru), atau menyalahkan masyarakat, demikian pula sebaliknya. Bila kita kaji dengan jujur, maka kesalahan itu terjadi pada masing-masing kutub, dan tidak ada faktor (kutub) yang berdiri sendiri, satu sama lain saling berkaitan.

BAB III
METODE PENELITIAN

1.      Pendekatan Penelitian
Dalam  pendekatan  ini  peneliti  menggunakan penelitian kualitatif, karena  data dan  informasi  yang  peneliti  kumpulkan  lebih  banyak  bersifat keterangan-keterangan atau penjelasan yang bukan berbentuk angka.
Penelitian  kualitatif  adalah  suatu  pendekatan  dalam  penelitian  yang bersifat alamiah,  karena  orientasinya  demikian  maka  sifatnya  naturalistic dan mendasar atau kealamiahan serta tidak dapat dilakukan di laboratorium melainkan di lapangan. Penelitian kualitatif adalah sebagai prosedur yang menghasilkan data deskriptif berupa  data  lisan  dari  orang-orang  dan  pelaku  yang  dapat  di amati. Selain itu  peneliti bermaksud memahami situasi sosial secara mendalam.
2.      Sumber Data
Dalam  penelitian  kualitatif,  agar  penelitiannya  dapat  betul-betul berkualitas, data  yang  dikumpulkan  harus  lengkap,  yaitu  data  primer  dan data sekunder.
a. Data   primer   adalah   data   dalam   bentuk   verbal   atau   kata-kata   yang diucapkan secara  lisan,  gerak-gerik  atau  perilaku  yang  dilakukan  oleh subyek  yang  dapat dipercaya,  adalah  subyek  penelitian  (informan)  yang berkenaan dengan variable yang diteliti.
b. Data sekunder adalah data yang diperoleh dari dokumen-dokumen grafis (table,  catatan,   notulen,   rapat,   SMS   dan   lain-lain),   foto-foto, film, rekaman  video, benda-benda dan  lain-lain  yang  dapat  memperkaya  data primer.
3.      Teknik analisis data
Teknik Analisis Data adalah suatu metode atau cara untuk mengolah sebuah data menjadi informasi sehingga karakteristik data tersebut menjadi mudah untuk dipahami dan juga bermanfaat untuk menemukan solusi permasalahan, yang tertutama adalah masalah yang tentang sebuah penelitian. Atau analisis data juga bisa diartikan sebagai kegiatan yang dilakukan untuk merubah data hasil dari sebuah penelitian menjadi informasi yang nantinya bisa dipergunakan untuk mengambil sebuah kesimpulan.
Tujuan dari analisis data adalah untuk mendeskripsikan sebuah data sehingga bisa di pahami, dan juga untuk membuat kesimpulan atau menarik kesimpulan mengenai karakteristik populasi yang berdasarkan data yang diperoleh dari sampel, yang biasanya ini dibuat dengan dasar pendugaan dan pengujian hipotesis.
Dalam suatu penelitian ilmiah terdapat dua macam penelitian, yakni penelitian kualitatif dan penelitian kuantitatif. Nah kali ini penulis akan mencoba untuk menjelaskan tentang teknik analisis data yang sesuai dengan jenis penelitian, yakni teknik analisis data kualitatif dan teknik analisis data kuantitatif.
a.       Teknik Analisis Data Kuantitatif
Di dalam metode penelitian kuantitatif yang menggunakan teknik analisis data kuantitatif merupakan suatu kegiatan sesudah data dari seluruh responden atau sumber data-data lain semua terkumpul. Teknik analisis data kuantitatif di dalam penelitian kuantitatif yaitu menggunakan statistik. Statistik inferensial meliputi statistik parametris dan juga statistik non parametris.
Menurut Sugiyono, teknik penelitian kuantitatif juga dapat diartikan sebagai suatu metode penelitian dengan landaskan pada filsafat positivisme, digunakan untuk meneliti populasi atau sampel.
Umumnya teknik pengambilan sampel dilakukan dengan cara acak, teknik pengumpulan data menggunakan instrumen metode penelitian kuantitatif, analisa data yang bersifat kuantitatif atau statistik bertujuan untuk menguji hipotesis yang t ditetapkan (Sugiyono, 2012: 7).
Metode kuantitatif ini sering juga disebut dengan metode tradisional, positivistik, ilmiah/scientific dan juga metode discovery. Metode penelitian kuantitatif ini dinamakan metode tradisional, sebab metode ini sudah cukup lama dipakai sehingga sudah dianggap sebagai metode tradisi untuk sebuah penelitian.
Teknik ini juga disebut sebagai metode positivistik sebab juga berlandaskan kepada filsafat positivisme. Metode atau teknik ini disebut sebagai metode ilmiah/scientific, disebkan metode ini memilili kaidah-kaidah ilmiah yang terpenuhi yaitu konkrit, empiris, obyektif, terukur, rasional dan sistematis.
Cara ini biasa disebut juga dengan metode discovery karena metode penelitian kuantitatif bisa ditemukan dan dikembangkan di dalam berbagai iptek terbaru. Metode penelitian ini memiliki sebutan metode kuantitatif karena data penelitian yang berbentuk angka-angka dan analisa data yang menggunakan statistik.

b.      Teknik Analisis Data Kualitatif

Dalam melakukan teknik analisis data kualitatif penelitian yang didapatkan dari berbagai sumber dan menggunakan teknik pengumpulan data yang bermacam-macam (triangulasi), dan juga dilakukan secara terus menerus,
Maka, akan mengakibatakan variasi data yang sangat tinggi. Data yang didapatkan pada dasarnya adalah data kualitatif sehingga teknik analisis data yang dipakai belum mempunyai pola yang jelas. Maka dari itu sering mengalami kesulitan di dalam melakukan suatu analisa.
Menurut Sugiyono metode penelitian kualitatif adalah suatu metode penelitian yang berlandaskan pada filsafat positivisme, yang digunakan untuk meneliti pada kondisi objek yang alamiah, (sebagai lawannya adalah eksperimen) yang dimana peneliti merupakan sebagai instrumen kunci, dari pengambilan sampel sumber data yang dilakukan dengan cara purposive dan snowbaal, teknik pengumpulan trianggulasi, analisa data yang bersifat induktif atau kualitatif, dan hasil penelitian kualitatif lebih menekan pada makna dari generalisasi.
c.       Teknik analisa data deskriptif
Teknik analisis data deskriptif merupakan suatu cara dalam meneliti status sekelompok manusia, suatu objek, kondisi, sistem pemikiran atau juga peristiwa masa sekarang. Jenis metode penelitian kualitatif ini berusaha menjelaskan fenomena sosial pada saat tertentu. Metode penelitian kualitatif dibedakan menjadi beberapa jenis, yaitu berdasarkan kriteria pembedaan diantara lain fungsi akhir dan pendekatannya.
Langkah-langkah Analisa Data Secara Umum
1.      Pengolahan Data
Data yang sudah terkumpul di dalam tahap pengumpulan data, kemudian perlu diolah kembali. Pengolahan data tersebut memiliki tujuan agar data lebih sederhana, sehingga semua data yang telah terkumpul dan menyajikannya sudah tersusun dengan baik dan rapi kemudian baru dianalisis.
2.      Penganalisisan Data
Apabila proses pengolahan data telah selesai, maka proses selanjutnya yaitu analisis data. kemudian Tujuan analisis data adalah untuk menyederhanakan dan juga memudahkan data untuk ditafsirkan. Setelah datanya sudah terkumpul, maka diklasifikasikan menjadi dua kelompok, yakni data kuantitatif dengan bentuk angka-angka dan data kualitatif yang lebih dinyatakan dalam bentuk kata-kata atau simbol.
3.      Penafsiran Hasil Analisis
Kemudian bila data sudah selesai dianalisis, kegiatan yang harus dilakukan yaitu menafsirkan hasil analisa data tersebut. Tujuan penafsiran analisis ini adalah untuk menarik kesimpulan dari penelitian kualitatif yang telah dilakukan.
Penarikan kesimpulan ini dilakukan dengan cara membandingkan hipotesis yang sudah dirumuskan dengan hasil analisa data yang sudah diperoleh. Akhirnya, peneliti bisa manarik kesimpulan apakah menerima atau menolak hipotesis yang sudah dirumuskan.
4.      Teknik pengumpulan data
Data adalah sesuatu yang belum mempunyai arti bagi penerimanya dan masih memerlukan adanya suatu pengolahan. Data bisa berujut suatu keadaan, gambar, suara, huruf, angka, matematika, bahasa ataupun simbol-simbol lainnya yang bisa kita gunakan sebagai bahan untuk melihat lingkungan, obyek, kejadian ataupunsuatu konsep.
Informasi merupakan hasil pengolahan dari sebuah model, formasi, organisasi, ataupun suatu perubahan bentuk dari data yang memiliki nilai tertentu, dan bisa digunakan untuk menambah pengetahuan bagi yang menerimanya. Dalam hal ini, data bisa dianggap sebagai obyek dan informasi adalah suatu subyek yang bermanfaat bagi penerimanya. Informasi juga bisa disebut sebagai hasil pengolahan ataupun pemrosesan data.
Dalam penelitian, teknik pengumpulan data merupakan faktor penting demi keberhasilan penelitian. Hal ini berkaitan dengan bagaimana cara mengumpulkan data, siapa sumbernya, dan apa alat yang digunakan. Jenis sumber data adalah mengenai dari mana data diperoleh. Apakah data diperoleh dari sumber langsung (data primer) atau data diperoleh dari sumber tidak langsung (data sekunder).
Metode Pengumpulan Data merupakan teknik atau cara yang dilakukan untuk mengumpulkan data. Metode menunjuk suatu cara sehingga dapat diperlihatkan penggunaannya melalui angket, wawancara, pengamatan, tes, dkoumentasi dan sebagainya.
Sedangkan Instrumen Pengumpul Data merupakan alat yang digunakan untuk mengumpulkan data.  Karena berupa alat, maka instrumen dapat berupa lembar cek list, kuesioner (angket terbuka / tertutup), pedoman wawancara, camera photo dan lainnya.
5.      Teknik observasi
Teknik observasi adalah teknik pengumpulan data dengan cara peneliti melakukan pengamatan secara langsung di lapangan. Pengamatat disebut observer yang diamati disebut observer.
Metode observasi merupakan metode pengumpul data yang dilakukan dengan cara mengamati dan mencatat secara sistematik gejala-gejala yang diselidiki (Supardi, 2006 : 88). Observasi dilakukan menurut prosedur dan aturan tertentu sehingga dapat diulangi kembali oleh peneliti dan hasil observasi memberikan kemungkinan untuk ditafsirkan secara ilmiah.
Pengamatan dalam istilah sederhana adalah proses peneliti dalam melihat situasi penelitian. Teknik ini sangat relevan digunakan dalam penelitian kelas yang meliputi pengamatan kondisi interaksi pembelajaran, tingkah laku anak dan interaksi anak dan kelompoknya. Pengamatan dapat dilakukan secara bebas dan terstruktur. Alat yang bisa digunakan dalam pengamatan adalah lembar pengamatan, ceklist, catatan kejadian dan lain-lain.
Beberapa informasi yang diperoleh dari hasil observasi adalah ruang (tempat), pelaku, kegiatan, objek, perbuatan, kejadian atau peristiwa, waktu, perasan. Alasan peneliti melakukan observasi adalah untuk menyajikan gambaran realistik perilaku atau kejadian, untuk menjawab pertanyaan, untuk membantu mengerti perilaku manusia, dan untuk evaluasi yaitu melakukan pengukuran terhadap aspek tertentu melakukan umpan balik terhadap pengukuran tersebut.

BAB IV
DESKRIPSI PENEI LTIAN
Langkah-langkah penanganan
Bimbingan keagamaan
Remaja dengan berbagai persoalan yang dihadapinya, mulai dari cara berfikir remaja yang cenderung lebih mengutamakan kelompoknya sebagai bentuk kekompakkan dan solidaritas, cara berperilaku remaja yaitu adanya kekerasan yang salah satunya diakibatkan oleh tayangan televisi, tawuran antar pelajar, penganiayaan yang dilakukan oleh senior terhadap junior yang berupa kontak fisik, teguran keras dan teror lewat SMS, adapun cara berpakaian remaja yang tidak sesuai dengan peraturan sekolah, selain dari pada itu cara bergaul remaja terutama dengan lawan jenis yang berlebihan sehingga menimbulkan pergaulan bebas. Oleh karena itu remaja perlu diberikan pengarahan dan bimbingan keagamaan untuk menumbuhkan kesadaran akan pentingnya pengendalian diri dan tanggung jawab serta pembentukkan remaja yang bermoral dan berakhlakul karimah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui proses bimbingan keagamaan dalam upaya mengatasi perilaku menyimpang pada remaja yang dilakukan oleh guru BP/BK, baik dari segi metode, materi, konselor dan kondisi klien di sekolah. Penelitian didasarkan pada pemikiran bahwa bimbingan keagamaan berfungsi mencegah timbulnya masalah pada seseorang, memecahkan atau menanggulangi masalah yang sedang dihadapi seseorang, memelihara agar keadaan yang tidak baik menjadi baik dan yang baik menjadi lebih baik, bimbingan keagamaan yang dilakukan oleh guru BP/BK yang bekerjasama dengan guru PAI, bagian kesiswaan dan berbagai personil sekolah serta orang tua siswa secara intensif merupakan upaya agar mengurangi perilaku menyimpang pada siswa di sekolah. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif yaitu metode untuk mengungkap dan memecahkan masalah dengan cara memaparkan atau menggambarkan proses bimbingan keagamaan yang dilakukan oleh guru BP/BK dalam upaya mengatasi perilaku menyimpang pada remaja di sekolah. Adapun teknik pengumpulan datanya melalui proses observasi, wawancara mendalam dengan guru BP/BK, guru PAI, bagian kesiswaan, wali kelas dan siswa kelas XI yang termasuk ke dalam kategori menyimpang. Berdasarkan analisis terhadap data ditemukan dalam proses bimbingan keagaman dalam upaya mengatasi perilaku menyimpang pada remaja yang dilakukan oleh guru BP/BK baik, yang ditandai dengan berkurangnya perilaku menyimpang yang dilakukan remaja di sekolah dengan berfungsinya kegiatan bimbingan dan penyuluhan serta ditunjang oleh kegiatan ekstrakulikuler telah menunjukkan hasil secara positif, sekalipun masih terdapat beberapa permasalahan yang perlu diselesaikan disebabkan oleh beberapa faktor penghambat diantaranya kurangnya tenaga ahli dan keadaan lingkungan sekolah.
Respon korban pasca kejadian kekerasan dalam sekolah.
Setelah beberapa waktu terjadi tindak kekerasan tersebut, korban hanya menganggap hal itu sebagai hal yang telah lalu dan dibiarkan saja seiring berjalannya waktu. Korban mengungkapkan dirinya percaya keadaan akan membaik setelah peristiwa tindak kekerasan tersebut. Persamaan respon yang dilakukan dan dikatakan oleh korban saat tindak kekerasan fisik itu terjadi dan pasca kekerasan fisik menguatkan pendapat mengenai adanya konsep rukun yang ada dalam hubungan antara siswa dalam satu sekolah. Dalam sebuah tulisan diungkapkan mengenai rukun yang mengacu pada cara bertindak untuk menghilangkan tanda-tanda ketegangan dalam masyarakat atau pribadi sehingga hubungan sosial tetap kelihatan selaras dan baik, unsur-unsur yang menimbulkan perselisihan dan keresahan, diupayakan untuk disingkirkan (Magnis, 1984: 39 dalam Poerwanto, 2010: 222). Siswa yang berespon diam dan memendam emosinya sendiri merupakan cara mereka untuk menciptakan kerukunan dalam kehidupan sosial di sekolah. Siswa menjadi terbiasa dan mampu beradaptasi dengan tindak kekerasan fisik yang terjadi di sekolah selama ini karena tindak kekerasan fisik tersebut telah terjadi berulang-ulang dalam interaksi sesama siswa.
Sikap menerima tindak kekerasan fisik itu di sisi lain sebenarnya mengganggu siswakarena siswa harus menahan emosi yang ada dalam dirinya untuk menciptakan kerukunan dalam hubungan sosial pertemanan atau persahabatan di kalangan siswa itu sendiri. Secara tidak langsung mereka ingin mengatakan bahwa hubungan pertemanan di sekolah itu bernilai tinggi dan karenanya jangan sampai terganggu karena masalah kecil yang sifatnya sementara. Namun perlu diketahui bahwa ketenangan dalam konsep kerukunan ini sifatnya semu, suatu saat siswa tidak akan mampu lagi menahan emosi dalam dirinya sehingga menciptakan konflik yang tidak diinginkan oleh banyak pihak. Siswa tidak mengetahui keharmonisan yang dijaga selama ini dapat menurunkan mutu kehidupan sosial.Bukti turunnya mutu kehidupan sosial itu ada pada perubahan yang terjadi pada pengertian tindak kekerasan fisik di kalangan siswa.Dan melebarkan tindak kekerasan fisik itu sendiri menjadi sesuatu yang baru yang sangat dikhawatirkan dalam perkembangannya dengan penanaman nilai moral dan tanggungjawab seorang siswa terhadap perbuatan atau tindakan yang dilakukan.
Respon sekolah
Tanggapan sekolah pun mengenai tindak kekerasan fisik yang dilakukan kalangan siswa di sekolah sebenarnya sebagian besar hampir sama, yaitu dengan menerapkan peraturan yang berlaku di dalam sekolah tersebut sesuai dengan tingkat tindak kekerasan fisik yang dilakukan oleh para siswa. Guru BK di sekolah menjadi perantara siswa untuk menyampaikan segala keluh kesah dan permasalahan yang sedang dihadapi di sekolah, sedangkan untuk permasalahan mengenai penegakan peraturan dan tindak kekerasan yang terjadi di sekolah akan ditangani oleh bagian kesiswaan. Respon sekolah yang dinyatakan di atas merupakan salah satu bentuk pengakuan adanya pengawasan refleksif yang dilakukan sekolah kepada siswa sebagai pelaku tindak kekerasan fisik.Siswa yang mengatakan bahwa tindak kekerasan mungkin berhenti saat menggunakan CCTV sebagai pengawasan atas tindakan mereka secara keseluruhan dalam kegiatan di sekolah sebenarnya hanya memberikan bukti kesalnya mereka atas ketatnya pengawasan yang dilakukan sekolah kepada siswa.
BAB V
PENUTUP

Dari penelitian yang telah dilakukan mengenai tindak kekerasan fisik kalangan siswa SMA yang ada di Indonesia didapatkan fakta mengenai keterlibatan antara teori strukturasi tentang dualitas struktur dengan tindak kekerasan fisik yang terjadi selama ini.Adanya tindak kekerasan fisik ringan sebagai aksi yang tidak dikehendaki menjadi permasalahan yang cukup mencemaskan hingga saat ini.Hal tersebut dapat terjadi karena perubahan struktur yang menyebabkan sistem ikut bereproduksi, perubahan struktur itu tidak lepas dari peran pelaku dalam interaksi sosial. Adanya peraturan di sekolah membentuk ulang pengertian tindak kekerasan fisik di kalangan siswa SMA Kota Surakarta sehingga terciptalah pengklasifikasian tindak kekerasan fisik berat dan tindak kekerasan fisik ringan serta melanggengkan tindak kekerasan fisik yang dilakukan oleh para pelaku.Walaupun tindak kekerasan fisik banyak dilaporkan, tetapi tindak kekerasan fisik yang dilaporkan itu sebenarnya hanya sebagian kecil dari tindak kekerasan fisik yang sudah dianggap perlu ditangani oleh pihak tertentu.Hal itu yang terus melanggengkan tindak kekerasan fisik ringan yang memang diabaikan oleh siswa. Dan hal tersebut pula yang akan mempengaruhi pertanggungjawaban moral siswa yang melihat, mendengar dan mengalami tindak kekerasan fisik sehingga tindakan itu dibenarkan oleh siswa SMA pada zaman sekarang.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

YASMIN HERINA

Tsaniyah Rohmatil Maulah

Yasinta Rokhmal Fauzia