TSANIA NURRAFIDA



TSANIA NURRAFIDA
B93218172

LANGKAH LANGKAH PENYEMBUHAN TRAUMA PASCA AKIBAT ERUPSI MERAPI
(Studi Kasus Tiga Warga Dusun Jengglik, Desa Ngablak, Kecamatan Srumbung, Kabupaten Magelang)
BAB 1 PENDAHULUAN
A.    LATAR BELAKANG
Indonesia merupakan Negara kepulauan yang berada di antara dua samudera dan dilewati dua sikrum gunung berapi. Kondisi tersebut menjadikan Indonesia menjadi negara yang rawan terkena bencana alam. Bencana alam yang potensial terjadi di Indonesia adalah gempa tektonik maupun vulkanik dari skala kecil sampai skala besar. Sejak akhir tahun 2009 sampai saat ini negara Indonesia ditimpa berbagai macam bencana alam dalam waktu yang berdekatan, seperti terjadinya banjir bandang di Wasior, terjangan tsunami di Mentawai, dan meletusnya Gunung Merapi di Yogyakarta-Magelang, serta banjir yang menimpa Ibu Kota Negara Indonesia. Berbagai bencana alam lainnya juga setiap tahun terjadi di beberapa daerah, seperti banjir dan tanah longsor.Kejadian bencana alam yang datang silih berganti tentu menimbulkan kerugian material yang besar, seperti kehilangan harta benda dan kerusakan infrastruktur. Selain itu, kerugian secara psikis atau mental juga dirasakan oleh korban. Reaksi psikologis yang muncul dari masyarakat sesaat setelah bencana terjadi umumnya shock yangkemudian berkembang menjadi penghayatan psikologis yang berbeda-beda antara satu dengan yang lainnya. Dalam undang-undang, bencana diartikan sebagaiperistiwa atau rangkaian peristiwa yang mengancam dan mengganggu kehidupan dan penghidupan masyarakat yang disebabkan baik oleh faktor alam dan faktor non alam maupun faktor manusia, yang mengakibatkan timbulnya korban jiwa manusia, kerusakan lingkungan, kerugian harta benda, dan dampak psikologis. [1]
Gunung Merapi merupakan salah satu gunung teraktif yang terletak diantara Provinsi Jawa Tengah dan provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Keberadaan Gunung Merapi memberikan dampak positif maupun negatif bagi masyarakat sekitar. Contoh dari dampak positif keberadaan Gunung Merapi adalah masyarakat sekitar dapat memanfaatkan daerah atau lingkungan sebagai daerah tujuan wisata, dan suburnya tumbuhan di sekitar Gunung Merapi, sedangkan beberapa dampak negatif dari keberadaan Gunung Merapi adalah dampak psikologis (jiwa), dampak sosial, dampak lingkungan, dampak kesehatan, dan dampak material. Sebagian besar masyarakat sekitar merasakan dampak negatif Gunung Merapi saat terjadinya bencana alam yaitu erupsi Merapi.
Letusan Gunung Merapi yang terjadi pada tahun 2010 merupakan letusan Merapi terburuk sejak letusan tahun 1870 atau yang terburuk dalam kurun waktu 100 tahun. Letusan tersebut menimbulkan berbagai dampak bagi kehidupan masyarakat sekitar kawasan Gunung Merapi di berbagai aspek, salah satunya kerusakan lingkungan. Selain dampak tersebut, keadaan sosial masyarakat terutama pengungsi yang berada di pengungsian yang sesak, dan dengan beban pikiran yang berat pasca letusan Merapi memungkinkan mereka untuk terkena gangguan psikologis.
Pada setiap peristiwa atau kejadian yang menimbulkan perasaan terancam secara fisik maupun psikologis, baik ancaman itu nyata maupun hanya ada dalam pikiran, membuat tidak aman dan tidak berdaya dan merasa tidak sanggup menanggungnya.[2] Terlebih ketika adanya kerugian bahkan kehilangan salah satu atau semua yang dimiliki oleh setiap individu, maka setiap individu pastinya akan merasakan stres dan berlanjut pada keadaan trauma ketika dirinya tidak dapat menyeimbangkan atau mengatur kehidupan setelah peristiwa yang dialami. Gangguan tersebut juga tidak hanya dirasakan oleh anak-anak atau remaja, melainkan dewasa sampai orang tua.
Dampak luar biasa yang muncul pasca bencana, menjadi sebuah pertimbangan urgensi penanganan trauma. Penanganan yang dilakukan non-intrussivetetapi harus lebih diarahkan pada pemberian rasa aman dan penyediaan suasana yang ceria serta menyenangkan. Berbagai persoalan di atas sudah cukup mengidentifikasikan bahwa bencana erupsi Merapi yang terjadi pada tahun 2010 banyak meninggalkan kisah dan keluh kesah yang cukup mendalam bagi rakyat Indonesia khususnya para warga dan korban yang berdomisili di daerah sekitar Gunung Merapi. Namun hal itu juga yang mendorong seseorang untuk mengevaluasi diri atau sebagai bahan untuk memotivasi diri menjadi manusiayang lebih baik dalam bersabar menghadapi cobaan atau musibah, sehingga menjadi pertimbangan yang penting untuk dilakukan tindakan pencegahan dan penyembuhan supaya tidak berperilaku menyimpang dan berpengaruh terhadap kehidupan di masa yang akan datang. Dalam proses dan hasilnya terkadang tidak semua berjalan sesuai dengan mekanisme atau harapan, maka kondisi akhir tentu berbeda.
Meletusnya Gunung Merapi pada tanggal 26 Oktober 2010 banyak menyebabkan kerugian yang dirasakan oleh warga sekitar Gunung Merapi, mulai dari Yogyakarta hingga kota-kota disekitarnya. Dusun Jengglik yang berada di Desa Ngablak Kecamatan Srumbung Magelang merupakan salah satu kawasan yang terkena dampak dari erupsi Merapi selain daerah Sleman di Yogyakarta, serta Klaten dan Boyolali di Jawa Tengah. Dusun Jengglik yang berada di Desa Ngablak merupakan jalur aliran lahar dingin yang melewati Sungai Putih sehingga menyebabkan seluruh warga di desa tersebut untuk diungsikan. Siti Saniyah, Mursono, dan Sulastri merupakan tiga warga Dusun Jengglik korban erupsi Merapi. Ketiga warga Dusun Jengglik tersebut memiliki karakteristik psikologis yang ebrbeda-beda. Dari karakteristik yang berbeda tersebut tentunya cara penanganan dampak psikologis pasca trauma yang dilakukan juga berbeda. Walaupun terkena bencana erupsi Merapi, ketiga warga Dusun Jengglik tersebut mempunyai perilaku yang diteliti, yakni tentang sikap yang tegar, optimis dan mampu untuk berjuang dari keterpurukan yang disebabkan oleh bencana alam. Gangguan yang muncul pada korban bencana letusan Gunung Merapi antara lain rasa takut terhadap gempa, takut melihat gunung, takut terhadap suara gemuruh, dan hal lain yang dapat mengingatkan mereka pada peristiwa letusan Gunung Merapi. Gangguan tersebut mengakibatkan adanya gangguan psikologis yang dirasakan dari hasil penglihatan dan penilaian peristiwa-peristiwa yang dialaminya. Peristiwaitudisebutsebagaidistres, disebabkan oleh ketidakseimbangan antara tuntutan yang diterima dan menghadang kekuatan yang dimiliki.[3] Melihat permasalahan di atas, maka muncul pertanyaan dan rasa keingintahuan tentang bagaimana dampak psikologis pasca trauma yang dirasakan oleh tiga warga Dusun Jengglik akibat erupsi M

B.     OBJEK KAJIAN
Objek atau fokus penelitian kualitatif adalah gejala-gejala atau keadaan yang bersifat holistik yang dapat diartikan menyeluruh, tidak dapat dipisah-pisahkan, sehingga tidak hanya berdasarkan variabel penelitian tetapi keseluruhan situasi sosial yang diteliti yang meliputi aspek tempat, pelaku dan aktifitas yang berinteraksi secara sinergis.[4] Objek dalam penelitian ini adalah dampak psikologis yang dirasakan dan cara penanganan yang dilakukan warga Dusun Jengglik Desa Ngablak Kecamatan Srumbung Magelang.

C.    RUMUSAN MASALAH
Penelitian ini bertujuan sebagai berikut:
1.   Bagaimana dampak psikologis tiga warga Dusun Jengglik pasca trauma akibat erupsi Merapi?
2.   Bagaimana upaya penanganan dampak psikologis pasca trauma yang dilakukan terhadap tiga warga Dusun Jengglik akibat erupsi Merapi?

D.    TUJUAN PENELITIAN
Berdasarkan rumusan masalah di atas, maka penelitian ini memiliki dua tujuan diantaranya yaitu:
1.     Mengetahui dampak psikologis yang dirasakan oleh ketiga warga Dusun Jengglik pasca trauma akibat erupsi Merapi atau setelah adanya penanganan.
2.     Mengetahui upaya atau penanganan yang dilakukan oleh warga Dusun Jengglikuntuk bangkit dari dampak psikologis pasca trauma.

E.     KONTRIBUSI PENELITIAN
Kegunaan penelitian ini dapat dirasakan secara teoritis dan secara praktis.
1.     Secara Teoritis Hasil penelitian ini diharapkan dapat menghasilkan teori mengenai penanganan gangguan psikologis pasca trauma bagi korban bencana alam, dan memberikan kontribusi berkaitan dengan bidang bimbingan dan konseling Islam.
2.     Secara Praktis Penelitian ini diharapkan dapat memberikan pengetahuan tentang penanganan gangguan psikologis pasca trauma korban bencana alam, sehingga para relawan bencana, psikiatri, maupun masyarakat umum dapat mengetahui cara penanganan korban yag mengalami gangguan psikologis.

F.     TESIS STATEMENT
Bencana alam yang terjadi pasti memberikan dampak bagi korban-korbannya. Dampak yang muncul meliputi dampak non-psikologis maupun psikologis. Dampak non-psikologis dapat dikatakan sperti hancurnya keseimbangan alam, kerusakan lingkungan, jatuhnya korban jiwa, korban harta benda, dan rusaknya keteraturan ekosistem. Bencana alam juga dapat mengakibatkan hilangnya suatu unsur budaya dalam masyarakat, pergeseran norma-norma sosial, perubahan kebijakan politik, dan perubahan pola interaksi antar individu. Dampak psikologi meliputi pengaruh terhadap kesehatan mental atau psikologis. Kondisi psikologis dipengaruhi oleh interaksi perubahan atau gangguan fisik, psikologi, situasi sosial dan masalah-masalah yang bersifat material. Sebagian besar orang yang terkena bencana akan terlihat panik walaupun sebagian kecil orang tampak terlihat tenang dan berusaha bersikap secara rasional. Orang-orang yang tenang dan rasional adalah mereka yang biasanya telah memperkirakan terjadinya bencana tersebut dan cukup memiliki data dari proses learning-helplessness. Korban bencana alam akan mengalami gangguan kurang tidur, mimpi buruk, kehilangan keleluasaan beraktifitas, tercerabut dari hubungan sosialnya yang teratur sehingga korban akan mengalami stressfull. Dukungan sosial akan memberikan stress-buffering effectbagi korban.

G.    PARADIGMA
1.      Observasi
Secara luas observasi diartikan sebagai kegiatan untuk melakukan pengukuran. Namun observasi pada penelitian diartikan secara sempit yaitu pengamatan dengan menggunakan indera penglihatan yang berarti tidak mengajukan pertanyaan-pertanyaan. Dengan kata lain observasi adalah suatu cara untuk mengamati secara langsung bagaimana lembaga tersebut melaksanakan trauma healing untuk anak korban bencana. Berdasarkan keterlibatan pengamatan pada kegiatan informan, peneliti berlaku sebagai observer partisipan (participant observation). Peneliti ikut serta dalam kegiatan-kegiatan orang yang diteliti. Keberhasilan observasi partisipan terletak pada hubungan baik yang dibina peneliti dengan objek pengamatan.Berdasarkan cara pengamatan yang dilakukan, observasi ini termasuk ke dalam observasi tidak berstruktur. Peneliti tidak membawa catatan tentang apa saja yang khusus akan diamati. Pengamatan dilakukan secara terus-menerus peristiwa yang terjadi dan mencatatnya untuk kemudian dianalisis. Pencatatan dilakukan pada saat peneliti sudah tidak lagi ikut aktif dalam kegiatan subjek penelitian, sebab apabila pencatatan dilakukan pada saat masih dalam kegiatan-kegiatan subjek penelitian, hal tersebut dapat mempengaruhi tingkah laku subjek. Kegiatan yang diamati ketika observasi seperti mengamati anak-anak trauma yang sedang bermain dengan teman-temannya dan kegiatan anak-anak ketika belajar di dalam kelas.

2.      Wawancara
Wawancara adalah proses memperoleh keterangan untuk tujuan penelitian dengan cara tanya jawab sambil bertatap muka antara pewawancara dengan informan atau orang yang diwawancarai, dengan atau tanpa menggunakan pedoman (guide) wawancara, dimana pewawancara dan informan terlibat dalam kehidupan sosial yang relatif lama. Wawancara ini dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu penyamaran dan terbuka. Wawancara yang dilakukan pada penelitian ini bersifat terbuka dan tatap muka secara langsung. Jadi orang yang diwawancarai tahu tujuan kedatangan pewawancara. Dengan kata lain wawancara adalah menanyakan langsung kepada pelaku utama. Wawancara dilakukan untuk mencari data dan mendapatkan informasi tentang data yang berhubungan dengan masalah yang diteliti. Sebelum proses wawancara berjalan, pewawancara harus mengetahui terlebih dahulu tujuan melakukan wawancara serta menyiapkan interview guide, agar pertanyaan yang diajukan tidak keluar dari jalur yang tidak diinginkan.

H.    ANALISIS TEORI
1.      Bencana
Menurut United Nation Development Program (UNDP) bencana adalah suatu kejadian ekstrem dalam lingkungan alam atau manusia yang berakibat merugikan dan mempengaruhi kehidupan manusia, harta benda atau aktivitas sampai pada tingkat yang menimbulkan bencana. Kejadian bencana adalah sebuah peristiwa yang bisa terjadi di mana saja dan kapan saja. Bencana sama hal nya dengan masalah yaitu sesuatu hal yang datangnya tidak diinginkan dan dapat menimbulkan kerugian bagi yang tertimpanya. Namun ketika memaknai bencana sebagai teguran dari Tuhan, maka manusia akan mengambil hikmah dari setiap kerugian yang menimpanya. Segala bentuk kejadian yang tidak terkendali yang bersumber dari manusia atau alam, berdampak pada hilangnya nyawa manusia atau harta dan merusak fasilitas serta lingkungan disebut sebagai bencana. Pengertian dari kedua lembaga tersebut tentang bencana memiliki kesamaan yaitu sebagai sebuah peristiwa yang mengganggu kehidupan manusia yang disebabkan oleh alam atau non alam sehingga mengakibatkan kerugian serta hilangnya nyawa dan harta benda. Bencana bisa disebabkan karena faktor alam, perbuatan manusia, dan sosial. Teknologi kini semakin canggih beberapa bencana yang disebabkan karena faktor alam dapat diberikan peringatan secara dini sebelumnya, sehingga manusia dapat melakukan tindakan preventif untuk menghindari dan meminimalisir kerugian yang terjadi. Bencana semacam ini contohnya tsunami, gempa bumi, tanah longsor, angin topan, wabah, dan gunung meletus. Bencana yang disebabkan karena ulah dari manusia baik secara sengaja ataupun tidak bisa menjadi kasus yang serius ditindak lanjuti ke ranah hukum. Bencana buatan manusia bisa berupa pencemaran lingkungan, kecelakaan transportasi, ledakan bom, dan kegagalan teknologi. Adapun bencana sosial biasanya terjadi karena kurangnya keharmonisan hubungan sosial, sehingga menimbulkan konflik antar suku atau kelompok tertentu.

2.      Trauma Healing sebagai Penanganan Bencana
Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya bahwa penelitian ini akan konsen membahas trauma pada anak korban bencana. Oleh karena itu trauma menjadi bagian masalah penting yang harus ditemukan solusinya, lewat trauma healing masalah trauma akibat bencana dapat menjadi solusi yang tepat. Trauma healing merupakan bagian dari manajemen bencana yang dapat mengatasi dampak bencana secara psikologis.
Shaluf mendefinisikan manajemen bencana sebagai istilah kolektif yang mencakup semua aspek perencanaan untuk merespon bencana, termasuk kegiatan-kegiatan sebelum bencana dan setelah bencana yang mungkin juga merujuk pada manajemen risiko dan konsekuensi bencana. Kegiatan manajemen bencana meliputi rencana, struktur, serta pengaturan yang dibuat dengan melibatkan usaha dari berbagai pihak dengan cara terkoordinasi dan komprehensif. Beberapa ahli mengatakan manajemen bencana meliputi lima tahapan, yaitu:
a)      Prediksi
Tahapan prediksi meliputi kegiatan mitigasi dan kesiapsiagaan. Langkah yang pertama yaitu langkah-langkah nonstruktural, maksudnya memastikan respon yang efektif terhadap dampak bahaya bencana. Kegiatan ini seperti melakukan evakuasi sementara masyarakat dan properti dari lokasi yang terancam bencana. Selanjutnya langkah struktural yaitu membatasi dampak buruk bencana alam, degradasi lingkungan, dan bahaya bencana.
b)      Peringatan
Suatu tahap memberikan informasi yang efektif dan tepat waktu melalui lembaga yang teridentifikasi kepada masyarakat sekitar.
c)      Bantuan darurat
Memberikan bantuan atau intervensi setelah dan selama bencana terjadi. Bantuan tersebut bisa berupa bantuan keselamatan dan pemenuhan kebutuhan dasar seperti obat-obatan, makanan, minuman, pakaian, dan tempat tinggal. Hal ini dapat dilakukan dengan durasi yang singkat atau lama.
d)      Rehabilitasi
Tahap keputusan dan tindakan yang diambil setelah terjadinya bencana dengan tujuan untuk memulihkan kembali kondisi semula.
e)      Rekonstruksi
Tahap pembangunan kembali kondisi kehidupan masyarakat yang telah hancur karena bencana, memiliki tujuan jangka panjang dan berkelanjutan.

Trauma healing diberikan pada tingkatan bantuan darurat yaitu pemenuhan keselamatan diri dari stres yang dialami akibat bencana dahsyat yang menghampiri individu. Pemulihan dari suatu trauma membutuhkan waktu lama atau tidaknya proses trauma healing tergantung dari individu itu sendiri. Dalam buku Panduan Program Psikososial Paska Bencana ada empat teknik yang bisa dilakukan untuk mengatasi trauma yang dialami anak-anak diantaranya adalah:
a)      Teknik Relaksasi Untuk Anak
Teknik ini dapat membantu anak-anak menjadi rileks dan nyaman dengan tubuh dan jiwa mereka. Teknik ini bisa dilakukan dengan beberapa cara, yaitu:
·         Sensor tubuh
Suatu upaya untuk mendorong mereka menyadari bagian dari tubuhnya dan memberikan sugesti yang baik bahwa tubuh mereka itu sehat dan kuat. Hal ini membiasakan anak-anak untuk dapat mengendalikan tubuhnya, sehingga mental mereka menjadi kuat.
·         Menghirup bunga
Teknik ini bertujuan menstimulasi anak untuk menghirup oksigen dan nitrogen monoksida yang dibutuhan oleh tubuh, dapat menenangkan pikiran dan jiwa. Kegiatannya berupa mengajak anak-anak untuk menyebutkan nama bunga yang harum kemudian mengimajinasikan bentuk, warna, dan harumnya.
·         Penghakau singa
Teknik ini memiliki tujuan untuk mengeluarkan emosi dan berteriak sekencang-kencangnya atas perasaan mereka yang terpendam, melalui cerita singa yang mengganggu desa mereka. Cerita singa ini bisa dibuat sendiri oleh relawan.
·         Mengeluarkan racun
Teknik mengeluarkan racun bisa dilakukan dengan cara menghirup nafas dan mengeluarkan nafas sambil membayangkan sebuah udara hitam yang harus mereka keluarkan dari dalam tubuh mereka.
·         Doa dan sholawat
Mengajak anaka-anak untuk berdoa dan bershalawat bersama sambil memegang dada-dada.
·         Menyanyikan lagu
Ajak anak-anak untuk berbaring dan memejamkan mata lalu nyanyikan mereka lagu lembut sebagai penghantar tidur.
·         Membentuk benda
Teknik ini merupakan modifikasi dari progressive muscleuntuk menstimulasi batang otak, agar kembali memiliki kontrol terhadap otot-otot tubuh. Dilakukan dengan cara mengajak anak-anak bergerak kemudian berjalan pelan dan membayangkan menjadi benda sesuai dengan sifat benda tersebut.
·         Tempat rahasia
Tempat rahasia adalah teknik meminta anak-anak untuk menggambarkan sebuah tempat lewat selembar kertas dan pensil, kemudian cobalah mengajak mereka untuk menceritakan tempat tersebut. Setelah itu beri tahu mereka bahwa kita akan mengajak mereka melalui sebuah imajinasi.
·         Gua bertingkat
Sama seperti yang sebelumnya, coba ajak anak-anak untuk melakukan perjalanan ke sebuah gua bertingkat tiga sambil meminta mereka untuk melakukan beberapa gerakan sebelum sampai ke tempat tujuan. Gerakan tersebut bisa berupa melompat, menghirup nafas, melirik, mengangkat batu, menginjak, dan lain sebagainya sampai akhirnya mereka sampai di gua tingkat tiga.
·         Imajinasi dengan awan
Ajak anak-anak untuk pergi ke ruangan terbuka sambil tiduran serta melihat awan di langit. Setelah itu suruhlah mereka untuk menebak bentuk awan mana yang mirip dengn kuda, boneka salju atau benda-benda lainnya.

b)      Teknik Mengekspresikan Emosi untuk Anak
·         Melepas balon imajiner
Tanyakan pada anak-anak mengenai emosi negatif yang mereka miliki, lalu mintalah anak-anak untuk membayangkan sebuah balon kemudian meniupnya dan memasukan emosi negatif tersebut ke dalam balon. Balonpun dengan ikhlas diterbangkan ke langit bersama dengan emosi negatif yang selama ini terpendam.
·         Menyimpan emosi
Teknik menyimpan emosi ini memerlukan sebuah kardus atau kaleng bekas, pensil, dan kertas. Mintalah pada anak-anak untuk menuliskan emosi negatif yang mereka rasakan kemudian buang bersama emosi negatif itu ke dalam kardus atau kaleng yang sudah disediakan.
·         Mengatasi flashback
Jika anak-anak mengalami flashback (misalnya tangan berkeringat, tiba-tiba sakit kepala, mulut terasa kering, tempo nafas lebih cepat, panik) saat mendengar sesuatu yang mengingatkan mereka akan kejadian yang traumatik, itu tandanya sedang mengalami gejala stres selepas trauma (GSST). Anak kehilangan orientasi waktu, yang perlu dilakukan adalah : gunakan kesadaran akan perbedaan waktu. Lakukan dan katakan: Nama saya (sebutkan nama), saat ini saya sedang mengalami gejala trauma. Injakkan kaki anda secara bergantian ke tanah (ini akan memberikan perasaan anak masih memiliki kekuatan mengontrol badan). Sekarang tanggal (sebutkan tanggal) saya ada di (sebutkan nama tempat), saya sedang melakukan (sebutkan nama kegiatan). Tarik nafas dalam dan hembuskan perlahan-lahan beberapa kali hingga pola nafas normal kembali.

c)      Teknik Rekreasional
Pada dasarnya kegiatan rekreasional adalah segala aktivitas yang menyenangkan, dan mampu mengembangkan aspek fisik, pikiran, sosial dan emosional anak sehingga meningkatkan resiliensi mereka. Tidak semua kegiatan rekreasional dapat disebut sebagai kegiatan dukungan psikososial. Hanya kegiatan yang memiliki tujuan untuk memenuhi kebutuhan psikososial anak yang dapat disebut sebagai kegiatan dukungan psikososial.
·         Kegiatan seni
Kegiatan seni dapat menjadi alat komunikasi untuk mengekspresikan pikiran dan perasaan. Kegiatan ini bisa berupa menggambar, bermain musik, melukis, dan bernyanyi.
·         Pertunjukan drama dan boneka
Drama sangat baik untuk melatih kerjasama, mengekspresikan perasaan, dan belajar dari sebuah pengalaman. Drama cocok dilakukan untuk anak usia 5-18 tahun. Sedangkan pertunjukan boneka cocok untuk anak usia di bawah 9 tahun.
·         Bermain dan permainan
Kegiatan bermain bebas dapat meningkatkan kemampuan ekspresi diri anak. Permainan berstruktur yaitu permainan yang memiliki tujuan, metode dan aturan yang dapat mengajarkan nilai-nilai tertentu seperti berbagi dan kerja sama. Karena bentuknya yang terstruktur, maka bisa dilakukan persiapan sehingga dalam pelaksanaannya dapat lebih tertib dan teratur.
·         Menyampaikan, membaca, mendengarkan, dan menuliskan cerita
Baik mendengar atau menyampaikan cerita dapat melatih anak untuk belajar berempati, mendengarkan dan menghargai orang lain. Isi cerita mengajarkan nilai-nilai moral dan bagaimana menghadapi masalah.
·         Olahraga
Olahraga memberikan kesegaran dan menyalurkan energi anak dengan cara yang positif. Olahraga melatih kemampuan bergerak dan meningkatkan kekuatan otot.

d)      Teknik Ekspresif
·         Teknik Menulis
Menulis memiliki kekuatan katartif (pelepasan emosi). Dengan tulisan, seseorang akan dapat menenangkan pikirannya, melepaskan ketegangan, menguraikan kebingungan dan membuka alur baru dalam hidupnya. Teknik menulis tepat untuk anak usia 10 tahun hingga remaja akhir (19 tahun) bahkan bisa juga untuk orang dewasa.
·         Teknik Menggambar
1)      Menggambar bebasMintalah mereka untuk menggambar sesuatu hal yang ada di pikiran mereka, dengan begitu konselor, relawan, atau psikolog dapat mengetahui apa yang anak tersebut sedang pikirkan.
2)      Menggambar kejadian traumatis Hal ini untuk mengidentifikasi hal-hal yang membuat mereka trauma, seperti misalnya mobil ambulans.
3)      Menggambar hari depan Menggambar masa depan akan menunjukan harapan dan cita-cita di kemudian hari, sehingga orang terdekat yang berada dengan anak dapat mengetahui dan mengarahkan harapan anak.
4)      Menggambar kata Menggambar kata adalah meminta anak untuk menggambarkan kata yang paling mereka sukai ke dalam wujud gambar.
5)      Memberi judul Setelah semua gambar terbentuk mintalah anak untuk memberikan judul pada setiap gambar tersebut.
6)      Menggambar perasaan Kegiatan menggambarkan perasaan bertujuan untuk mengidentifikasikan, memberi nama dan menyatakan emosi anak-anak, karena anak-anak terkadang sulit untuk menyebutkan sebuah ekspresi perasaan yang dia rasakan.


I.       SISTEMATIKA PEMBAHASAN
1.      Bab I. Pendahuluan, yang berisi tentang latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan dan kegiatan penelitian, tinjauan pustaka serta kerangka teori.
2.      Bab. II. Kajian pustaka membahas tentang gambaran umum konseling traumatik bagi anak-anak korban bencana alam  dengan memahami peranan konseling sebagai metode  penyembuhan trauma.
a.       Kondisi psikis korban bencana alam.
b.      Penanganan trauma korban bencana alam.
c.       Langkah-langkah penanganan trauma menurut bimbingan konseling.
3.      Bab III. Membahas tentang metode dalam penelitian yang menggunakan metode kualitatif. Menggunakan analisis kualitatif, deduksi-induksi bersifat menggabungkan antara deduksi dan induksi yang akan menghasilkan trasposisi.
4.      Deskripsi penelitian empiris tentang korban bencana alam tanah longsor di desa Sampang, Kecamatan Karangkobar, Kanjarnegara, Jawa Tengah.
a.       Biografi desa Sampang, Kecamatan Karangkobar, Banjarnegara, Jawa Tengah.
b.      Metode penanganan.
c.       Materi penanganan
d.      Langkah-langkah diagnose
e.       Resep diagnose
f.        Tanda-tanda pemulihan psikis
g.      Deduksi
h.      Induksi
i.        Sintesis antara deduksi dan induksi
j.        Proposal
5.      Bab. IV. Penutup yang berisikan mengenai kesimpulan, saran dan kalimat penutup.



BAB 2 KAJIAN DAN TEORI
A.    KAJIAN PUSTAKA
Penelitian tentang dampak psikologis erupsi Merapi dan hal-hal yang berkaitan dengan meletusnya Gunung Merapi pada dasarnya sudah cukup banyak, baik dalam bentuk skripsi, jurnal, makalah, dan penelitian. Dari berbagai tulisan ini terdapat berbagai macam-macam tema yang diangkat, seperti penelitian yang menghitung kerugian-kerugian pasca erupsi Merapi di Dusun Jengglik, Desa Ngablak, Srumbung, Magelang. Menurut sepengetahuan penulis, belum ada penelitian yang meneliti cara penagnanan atau dampak psikologis erupsi Merapiyang dirasakan oleh warga Dusun Jengglik, Desa Ngablak, Srumbung, Magelang.Literatur yang telah didapat di antaranya adalah sebagai berikut:
1.      Penelitian yang berjudul “Upaya Pemulihan Kondisi Psikologis Korban Bencana Alam Melalui Pendekatan Spiritual”. Penelitian ini ditulis Dewi Eriyanti dkk., Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Institut Pertanian Bogor, tahun 2011. Penelitian ini membahas tentang korban bencana alam biasanya mengalami gangguan psikologis. Umumnya para korban cenderung berfikiran negatif terhadap bencana yang menimpa mereka (pesimistis), sensitif, suka melamun dan kondisi ini diperparah oleh tidak adanya rutinitas pekerjaan yang bisa dilakukan. Upaya pemulihan kondisi psikologis yang sudah dilakukan oleh pemerintah maupun relawan hanya difokuskan untuk anak-anak. Padahal akibat bencana alam juga berdampak besar untuk kalangan dewasa, terlebih lagi karena disebabakan ketidaksiapan menghadapi bencana terutaman kecemasan menghadapi masa depan pasca bencana.[5]
2.      Penelitian yang berjudul “Dampak Erupsi Merapi Pada Sektor Pertanian Masyarakat Kawasan Lereng Merapi”. Ditulis oleh Uzaifah dan Mohhammad Agus Khoirul Wafa Fakultas Ilmu Agama Islam Universitas Islam Indonesia Yogyakarta, tahun 2010. Membahas tentang kerusakan yang terjadi akibat erupsi Merapi sedikitnya terdapat 2.271 rumah warga yang rusak, 239 insfrastruktur masyarakat seperti sekolah, puskesmas dan pasar juga rusak. Beberapa sarana peribadatan seperti masjid hancur juga tidak luput dari dampak erupsi Merapi. Upaya pemulihanya harus merambah sektor-sektor tersebut agar paling tidak menghidupkan kembali aktivitas produksi sehari-hari warga lereng Merapi yang kebayakan harta bendanya telah musnah akibat terjangan awan panas ataupun lahar dingin akibat erupsi Merapi tersebut. Salah satu sektor UMKM utama dari penduduk kawasan lereng Merapi adalah sektor pertanian. Hal ini disebabkan karena lahan yang ada di kawasan Merapi merupakan lahan subur yang sarat hara sehingga sektor pertanian menjadi sektor inti di kawasan lereng Merapi.[6]
3.      Skripsi yang berjudul “Optimalisasasi Peran Keluarga Sebagai Stress Buffer Dalam Menghadapi Bencana”. Skripsi ini ditulis oleh Rumiani, mahasiswi dari Program Studi Psikologi Universitas Islam Indonesia, tahun 2011. Membahas tentang aspek kebencanaan dan pengembangan masyarakat pasca bencana dengan memberikan dukungan sosial terhadap warga bencana erupsi Merapi di Dusun Kaliadem Desa SariharjoMagelang.[7]
4.      Skripsi yang berjudul “Dampak Psikologis Bencana Alam Gunung Merapi”. Skripsi ini ditulis oleh Muhammad Thoha, dari jurusan Bimbingan dan Penyuluhan Islam, Fakultas Dakwah dan Komunikasi, Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta, tahun 2011. Skripsi ini meneliti tentang dampak psikologis erupsi Merapi dan lebih menekankan pada pengalaman korban erupsi Merapi dalam mengatasi gangguan kejiwaan.[8] Penelitian tersebut berbeda dengan penelitian ini yang lebih cenderung menelaah pada dampak psikologis yang dirasakan oleh korban bencana erupsi Merapi pasca trauma atau dapat dikatakan dampak yang dirasakan korban setelah diberikan penanganan pada trauma yang dirasakannya.

Dengan melihat beberapa literatur berupa penelitian maupun skripsi di atas, mengidentifikasikan adanya perbedaan baik dari judul, fokus penelitian maupun tujuan dari penelitian. Penelitian-penelitian ilmiah di atas lebih banyak mengacu terhadap dampak-dampak pertanian, perekonomian dan perkebunan atau dapat dikatakan sebagai dampak fisik maupun kerugian yang dirasakan oleh warga korban erupsi Merapi dan tempatnya juga secara umum serta lebih mengacu pada dampak yang dirasakan setelah bencana itu terjadi. Sedangkan perbedaannya dengan penelitian ini adalah lebih cenderung pada dampak psikologis yang dirasakan oleh korban bencana erupsi Merapi pasca trauma atau dapat dikatakan dampak yang dirasakan korban setelah diberikan penanganan pada trauma yang dirasakannya. Apakah korban tersebut secara kondisi kejiwaan dapat menjadi manusia yang normal kembali atau korban masih tetap mengalami trauma walaupun telah diberikan penanganan, serta gangguan-gangguan apa saja yang muncul pasca korban mengalami trauma.

B.     KERANGKA TEORI
1.      Dampak Psikologis
Dampak berarti pengaruh yang kuat yang menimbulkan akibat baik positif maupun negatif.[9] Sedangkan psikologis adalah kata sifat dari psikologi yang artinya kejiwaan, merupakan sifat dari jiwa seseorang. Secara harfiyah psikologi umumnya dimengerti sebagai “ilmu jiwa‟. Pengertian ini didasarkan pada terjemahan kata dari bahasa Yunani: psyche dan logos. Psyche berarti “jiwa” atau nyawa” atau “alat untuk berfikir”. Logos berarti “ilmu”. Dengan demikian, psikologi diterjemahkan ilmu yang mempelajari jiwa.[10] Ada beberapa pendapat yang mengemukakan arti psikologi, tetapi di sini penulis hanya dapat menulis salah satu pendapat yang mengatakan bahwa psikologi adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari tingkah laku manusia dalam hubungan dengan lingkungannya. Termasuk dalam tingkah laku di sini adalah perbuatan-perbuatan terbuka dan tertutup. Tingkah laku terbuka adalah tingkah laku yang langsung dapat dilihat oleh orang lain misalnya makan, minum, berbicara, memukul, menangis dan sebagainya. Sedangkan tingkah laku tertutup adalah tingkah laku yang hanya dapat diketahui secara tidak langsung melalui alat-alat atau metode-metode khusus misalnya berfikir, sedih, berkhayal, bermimpi, takut dan sebagainya. Dari dua istilah tersebut dapat disimpulkan bahwa dampak psikologis dalam penelitian ini adalah dampak atau pengaruh yang kuat pada jiwa seseorang dikarenakan terjadinya bencana erupsi Merapi pada tahun 2010.
Dampak psikologis pada akhirnya berlanjut pada tahap yang lebih kompleks, yaitu gangguan kejiwaan. Gangguan kejiwaan merupakan sebuah kelainan yang terjadi bukan kelainan jasmani, anggota tubuh atau kerusakan pada sistem otak. Kelainan-kelainan tersebut diantaranya adalah ketegangan jiwa, depresi, cemas, stres, was-was, kompulasi yang tidak disengaja, conversion hysteria, merasa tidak bersemangat dan tidak mampu mencapai tujuan, takut, pikiran gelap meliputi individu dalam kesadaranya, sehingga pikiranbercabang-cabang dan dalam tidur tidak lelap.[11] Orang yang mentalnya kacau tidak dapat memperoleh ketenangan hidup. Jiwa mereka sering terganggu sehingga menimbulkan stres dan konflik batin. Hal ini menyebabkan timbulnya emosi negatif sehingga dirinya tidak mampu mencapai kedewasaan psikis, mudah putus asa dan bahkan ingin bunuh diri.[12] Sehingga dapat diartikan gangguan kejiwaan adalah suatu masalah yang ada pada diri seseorang yang terletak pada batin atau jiwa atau mental seseorang, sehingga seseorang tersebut tidak dapat mencapai kedewasaan psikis, mudah putus asa dan bahkan ingin bunuh diri. Salah satu faktor penyebab gangguan kejiwaan adalah faktor lingkungan seperti ekosistem yang rusak, iklim yang mempengaruhi kondisi biologis, dan bencana alam.

2.     Tinjauan Tentang Dampak Psikologis Akibat Bencana
Dampak yang muncul akibat bencana alam menyebabkan dampak non-psikologis maupun psikologis. Dampak non-psikologis secara jelas dapat dikatakan yaitu hancurnya keseimbangan alam, kerusakan lingkungan, jatuhnya korban jiwa, korban harta benda, dan rusaknya keteraturan ekosistem. Bencana alam juga dapat mengakibatkan hilangnya suatu unsur budaya dalam masyarakat, pergeseran norma-norma sosial, perubahan kebijakan politik, dan perubahan pola interaksi antar individu. Terdapat pengaruh terhadap kesehatan mental atau psikologis akibat bencana alam. Kondisi psikologis dipengaruhi oleh interaksi perubahan atau gangguan fisik, psikologi, situasi sosial dan masalah-masalah yang bersifat material. Sebagian besar orang yang terkena bencana akan terlihat panik walaupun sebagian kecil orang tampak terlihat tenang dan berusaha bersikap secara rasional. Orang-orang yang tenang dan rasional adalah mereka yang biasanya telah memperkirakan terjadinya bencana tersebut dan cukup memiliki „data‟ dari proses learning-helplessness. Korban bencana alam akan mengalami gangguan kurang tidur, mimpi buruk, kehilangan keleluasaan beraktifitas, tercerabut dari hubungan sosialnya yang teratur sehingga korban akan mengalami stressfull. Dukungan sosial akan memberikan stress-buffering effectbagi korban. Post-traumatic stress disorder yaitu gangguan psikologis yang muncul setelah bencana terjadi dan lebih berbahaya dibanding stress yang dialami pada saat bencana. Stres yang dialamai pada saat bencana umumnya akan lebih mudah diberikan perlakuan dibandingkan post-traumatic stress disorder. Post-traumatic stress disorder akan menyebabkan korban mengalami gangguan stres yang berat, mengalami gangguan tidur, terlibat social withdrawn dan kecemasan yang sangat tinggi. Post-traumatic stress disorder mengakibatkan dampak perilaku yang ekstrim, melemahkan motivasi korban dan sulit untuk diberikan terapi perlakuan. Dampak psikologis lain ketika bencana alam terjadi menyebabkan hilangnya perasaan cinta pada orang lain. Karena setiap orang ingin menyelamatkan diri sendiri, dan lupa untuk menyelamatkan orang terdekat. Selain itu kematian orang terdekat atau yang dicintai menyebabkan individu kehilangan rasa cinta kepada orang lain. Terpisahnya anggota keluarga secara tiba-tiba dan dalam jumlah besar bahkan individu yang masih dapat selamat berada dalam kondisi yang lelah baik fisik maupun psikis. Tidak memiliki materi karena hilangnya harta kepemilikan dan kehilangan keluarga menyebabkan tingginya kondisi ketidakberdayaan (full-helplessness). Trauma pasca bencana tidak dapat diketahui secara cepat. Pengamatan secara seksama dalam waktu yang lama dapat menentukan apakah seseorang mengalami trauma atau tidak dan seberapa berat trauma yang diderita. Seseorang secara fisik terlihat sehat, namun dalam kondisi tertentu yang misalnya pada waktu tidur sering bermimpi buruk dapat mengakibatkan perilaku tertentu yang dapat dijadikan indikasi penderita trauma.
Bencana alam merupakan kosekuensi negatif yang ekstrim sebagai sebuah akibat sekaligus menunjukkan dampak yang dihasilkan oleh interaksi antara kejadian alami dengan sistem sosial. Disaster sebagai kekuatan alam yang bukan di bawah kontrol manusia dan menyebabkan bencana yang menimbulkan kerusakan dan kematian. Selain dampak dari dimensi psikologis antara lain kecemasan yang sangat tinggi, melemahkan dan mengurangi motivasi diri, serta meningkatnya ketergantungan pada pihak lain. Ketergantungan masyarakat korban bencana mencakup antara lain ketergantungan pangan, keamanan, perbaikan sarana permukiman dan perbaikan sarana sosial-ekonomi.
3.      Tinjauan Tentang Cara Penanganan
Dampak Psikologis Seperti yang sudah dijelaskan di atas mengenai dampak psikologis yang baik maupun buruk pada korban pasca erupsi Merapi yang dirasakan akibat bencana alam, bahwa masyarakat mengalami hal-hal yang menyebabkan dirinya khawatir, ketakutan, tidak percaya diri sehingga mengakibatkan adanya keputusan untuk mengakhiri nyawanya sendiri atau bunuh diri. Oleh sebab itu diperlukan adanya metode atau cara untuk menangani dampak-dampak psikologis pasca trauma bencana erupsi Merapi yang mengarah ke tindakan negatif sebagai berikut:
a.       Pemulihan fisik, emosi dan kognitif.
1)      Fisik: menyamakan fisik dengan mengatur pernapasan dan mencari posisi tubuh yang nyaman, penuhi kebutuhan fisik segera, seperti makan tepat waktu, merasa lelah istirahat dan sebagainya. Melakukan aktifitas fisik, seperti: jalan-jalan, senam, joging, dan olahraga lainnya.
2)      Emosi: mengespresikan perasaan, jangan mengisolasi diri, ambil waktu untuk bersenang-senang, relaksasi, dan meditasi. Pergi ke tempat baru dampak dipercaya sebagai metode untuk mengatur emosi. Achmanto Mendatu, Pemulihan Trauma: Strategi Penyembuhan Trauma Untuk Diri Sendiri, Anak, dan Orang Lain di Sekitar Anda, (Yogyakarta: Panduan, 2010), hlm. 65-76.
3)      Kognitif: terus menerus menggunakan otak, sebisa mungkin tetap melakukan aktifitas rutin. Berfikir positif, selalu memiliki harapan, dan mengambil tanggung jawab.
b.      TeknikTapas Acupressure Technique (TAT)
Tapas Acupressure Technique (TAT) adalah proses yang mudah untuk mengakhiri stres, trauma, rasa takut (fobia), rasa menderita dan untuk menciptakan rasa bahagia. TAT adalah teknik yang baru, sederhana, dan efektif untuk menciptakan rasa damai, rileks, dan sehat dalam waktu yang singkat. TAT merupakan salah satu bentuk terapi dalam kelompok ilmu energy psycholo.
Teknik ini dilakukan dengan cara menyentuh ringan beberapa titik akupuntur di kepala (posisi TAT), sambil mengarahkan perhatian pada masalah yang ingin diatasi. Menyentuh titik-titik dengan ringan akan memberikan efek pudarnya trauma sehingga pikiran dan perasaan hati yang negatif pun berkurang, terutama setelah mengalami traumatif.
Adapun langkah-langkah TAT untuk peyembuhan dampak bencana yaitu:
1)      Pertama, berdoa agar semua orang yang terkait dengan masalah ini dapat mencapai penyembuhan yang terbaik.
2)      Kedua, berbicaralah dengan mereka yang sudah meninggal dunia akibat bencana ini dalam hati, seolah-olah atau benar-benar dapat melakukan percakapan dengan mereka pada saat ini.
3)      Ketiga, berbicaralah dengan Tuhan dalam hati, seolah-olah dapat bercakap-cakap dengan Tuhan pada saat ini.
4)      Keempat, ini sudah terjadi, sudah berlalu, dan saya selamat, dan sekarang saya boleh rileks.
5)      Kelima, semua tempat dalam hidup saya, pikiran saya, hati saya, dan tubuh saya yang terkait dengan masalah ini sekarang disembuhkan.
6)      Keenam, saya maafkan semua yang saya salahkan atas peristiwa ini, termasuk diri sendiri atau Tuhan.
7)      Ketujuh, bayangkan diri anda bersama-sama mereka yang masih hidup bersama anda, menyatukan rasa dan hati, bersyukur atas kehidupan.
Kedua cara penanganan dampak psikologis pasca trauma yang diakibatkan bencana alam erupsi Merapi akan tercapai, berdasarkan sejauh mana seseorang atau individu-individu yang terkena dampaknya berkeinginan dan mampu untuk bangkit dari masalah yang dihadapi serta dibutuhkan adanya peran serta dari orang lain untuk memberikan dorongan supaya tetap optomis sehingga tidak terbius atau teromantisir dengan bencana yang dialami (traumatis), mengakibatkan stres yang berdampak terhadap depresi.




BAB 3 METODE PENELITIAN
Metode penelitian adalah cara atau strategi menyeluruh untuk menemukan atau memperoleh data yang diperlukan.[13] Dalam hal ini penelitian diartikan sebagai pemeriksaan atau pengusutan dengan memeriksa dan meneliti, memeriksa serta mengusut tuntas atau menelaah dengan sungguh-sungguh. Sehingga metode penelitian digunakan sebagai alat bagi ilmu untuk dapat mengembangkan kelimuannya sehingga dapat menjelaskan gejala-gejala termasuk gejala sosial. [14]
1.      Jenis Penelitian
Jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif (qualitative research), yaitu metode penelitian yang digunakan untuk meneliti pada kondisi objekyang alamiah.[15] Artinya objek yang apa adanya, tidak dimanipulasi oleh peneliti sehingga kondisi pada saat peneliti memasuki objek, setelah berada di objek dan setelah keluar dari objek relatif tidak berubah. Selain itu juga penelitian data dari kualitatif didapatkan dari wawancara, maupun observasi dan kemudian data-data tersebut diuraikan dan disimpulkan tanpa dengan memberikan perlakuan terhadap objek yang diteliti. Penelitian ini menggunakan studi kasus (case study), artinya merupakan penelitian deksripsi intensif dan mendetail dengan analisis terhadap satu kasus.[16] Kasus dapat terbatas pada satu orang, lembaga, satu peristiwa, maupun satu kelompok manusia.[17] Hasil penelitian tentang dampak psikologis erupsi pasca trauma akibat erupsi Merapi tidak digeneralisasikan, melainkan dengan menguraikan berdasarkan karakteristik subjek penelitian, sehingga pemahaman yang dihasilkan terdapat satu kasus yang dipelajari lebih mendalam. Penelitian ini dilakukan secara langsung terhadap objek yang diteliti untuk mendapatkan data-data yang berkaitan dengan permasalahan yang dibahas, dalam hal ini mengenai dampak psikologis apa sajakah yang dialami oleh tiga korban erupsi Merapi dan bagaimana korban berjuang dalam mengatasi dampak tersebut.

2.      Sifat Penelitian
Penelitian ini bersifat kualitatif, yaitu penelitian yang menghasilkan data deskriptif yang berupa ucapan, tulisan, dan perilaku yang dapat diamati dari subjek itu sendiri.[18] Penelitian deskriptif memandang objek sebagai sesuatu yang dinamis, hasil konstruksi pemikiran dan utuh (holistic) karena setiap aspek mempunyai satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan.[19] Sifat penelitian berada pada latar alamiah manusia sebagai alat(instrument), penggunaan metode kualitatif, analisis data secara induktif, teori-teori dasar, penjelasan secara deskriptif, lebih mementingkan proses daripada hasil, adanya batas yang ditentukan oleh fokus, adanya kriteria untuk keabsahan data, desain yang bersifat sementara serta hasil penelitian dirundingkan dan disepakati bersama.[20]


BAB 4
PERAN KONSELOR DALAM MNGUPAYAKAN KONSELING KORBAN BENCANA

Upaya konseling terhadap korban bencana selayaknya diberikan. Para korban memerlukan bantuan mengatasi perasaan kehilangan orang yang dicintai. Mereka butuh menata masa depan yang tak menentu akibat lingkungan baru. Banyak orang yang kehilangan, dan hancur semangatnya ketika orang dekat mereka meninggal. Upaya konseling singkat berfokus pada solusi menjadi alternative menolong orang-orang yang cemas dan penuh rasa takut ditengah bencana. Bagaimana bentuk konseling singkat berfokus solusi dilakukan?
1.     Pertama, konselor menanyakan keadaan korban tentang perasaan mereka. Apa keluhan dan kesakitan yang tengah mereka hadapi. Bagaimana sedihnya kehilangan keluarga dan harta benda yang mereka cintai. Konselor mesti mengetahui persis kerisauan-kerisauan yang dihadapi oleh korban pasca gempa. Ketakutan yang tengah menimpa jiwa mereka dan bersikap empatik atas penderitaan yang tengah dihadapi.
2.     Kedua, setelah menanyakan tentang kerisauan dan ketakutan yang dialami oleh Korban, selanjutnya konselor melangkah pada pertanyaan yang berfokus solusi. Konselor segera mengalihkan pada upaya solusi yang akan dilakukan oleh korban. Bagaimana korban menyikapi situasi krisisnya. Korban diajak untuk berpikir rasional tentang langkah-langkah yang akan mereka lakukan menghadapi situasi sulit. Misalnya, bagaimana korban akan terus eksis di saat kehilangan orang tua mereka? Upaya apa yang akan di tempuh untuk meneruskan pendidikan mereka? Dan langkah apa yang akan dilakukan saat ini mengatasi kesedihannya? Dengan kolaborasi antara korban dan konselor, akan mempercepat upaya bangkit dari kegelisahan.
3.     Ketiga, Konselor membantu korban menemukan kekuatan diri mereka untuk melangkah maju. Misalnya, konselor menanamkan nilai berani mengambil resiko untuk tinggal di tempat baru yang lebih aman dari sasaran weddus gembel atau hujan debu. Dengan menemukan insight (pengetahuan) pada diri korban bencana, akan meringankan beban mereka dari keputus asaan. Para korban akan tegak berdiri menerima realitas mereka yang kehlangan sanak saudara dan rmah serta pekerjaan. Para korban menemukan cara untuk melanjutkan hdup yang telah hancur disambar gunung merapi. Membantu mengajak mereka untuk menyikapi hidup secara tepat sesuai kenyataan.



BAB 5 PENUTUP

1.      KESIMPULAN
Langkah ke tiga dalam analisis data kualitatif adalah penarikan simpulan. Penarikan simpulan adalah kegiatan analisis yang lebih dikhususkan pada penafsiran data yang telah disajikan, dari data yang diinterpretasikan dan diuraikan kemudian ditarik kesimpulan sesuai dengan yang diharapkan berkaitan dengan dampak psikologis pasca trauma akibat erupsi Merapi. Kesimpulan dalam penelitian kualitatif merupakan temuan baru yang sebelumnya belum pernah ada berupa deskripsi atau gambaran suatu objek yang sebelumnya masih belum jelas sehingga setelah diteliti menjadi jelas, hubungan kausal atau interaktif, hipotesis atau teori.


[1] Undang-Undang No. 24 Tahun 2007 Tentang Penanggulangan Bencana Alam, Pasal 1 ayat
[2] Achmanto Mendatu, Pemulihan Trauma Pemulihan Trauma: Strategi Penyembuhan Trauma Untuk Diri Sendiri, Anak, dan Orang Lain di Sekitar Anda, (Yogyakarta: Panduan, 2010), hlm. 17.
[3] Terry dan Olga, Managing Stres, (Yogyakarta: Baca!, 2004), hlm. 48.
[4] Sugiyono, Memahami Penelitian Kualitatif, (Bandung:Alfabeta, 2010), hlm. 32.
[5] Dewi Eriyanti, Upaya Pemulihan Kondisi Psikologis Korban Bencana Alam Melalui Pendekatan Spiritual, penelitian ilmiah tidak diterbitkan,(Bogor: Institut Pertanian Bogor, 2011).
[6] Uzaifah dan Mohhammad Agus Khoirul Wafa, Dampak Erupsi Merapi Pada Sektor Pertnian Masyarakat Kawasan Lereng Merapi, penelitian ilmiah tidak diterbitkan, (Yogyakarta:Universitas Islam Indonesia, 2010).
[7] Rumiani, Aspek Kebencanaan Dan Pengembangan Masyarakat Pasca Bencana, skripsi tidak diterbitkan, (Yogyakarta: Universitas Islam Indonesia, 2011).
[8] Muhammad Thoha, Dampak Psikologis Akibat Bencana Erupsi Merpai, skripsi tidak diterbitkan (Yogyakarta: UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, 2011).
[9] Pius A Partanto, M Dahlan Al Barry, Kamus Ilmiah popular, (Surabaya: Arloka, 1994) hlm. 92.
[10] Irwanto, dkk., Psikologi Umum, (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 1997) hlm. 3.
[11] Mustafa Fahmi, Kesehatan Jiwa dalam Keluarga, Sekolah dan Masyarakat, jilid II terj Zakiah Darajat (Jakarta: Bulan Bintang 1977), hlm. 58.
[12] Ibid, hlm.17
[13] Irawan Soehartono, Metode Penelitian Sosial, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2008), hlm. 9.
[14] Ibid, hlm. 1.
[15] Sugiyono, Memahami Penelitian Kualitatif, (Bandung: Alfabeta, 2012), hlm. 1.
[16] Zechmeister, Eugene B,.dkk., Metodologi Penelitian Psikologi, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2007), hlm.348
[17] Winarno Surachmad, Dasar dan Teknik Research Pengantar Metodologi Ilmiah, (Bandung: CV. Tarsito, 1972), hlm.135.
[18] Arief Furchan, Pengantar Metode Penelitian Kuaitatif: Suatu Pendekatan Fenomenologi Terhadap Ilmu-Ilmu Sosial, (Surabaya: Usaha Nasional, 1992), hlm.22.
[19] Sugiyono, Memahami Penelitian Kualitatif, (Bandung: Alfabeta, 2012), hlm. 5.
[20] Moleong, L.J., Metode Penelitian Kualitatif, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 1993), hlm.4.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

YASMIN HERINA

Tsaniyah Rohmatil Maulah

Yasinta Rokhmal Fauzia