TSANIA NURRAFIDA
TSANIA
NURRAFIDA
B93218172
LANGKAH LANGKAH PENYEMBUHAN TRAUMA PASCA AKIBAT ERUPSI MERAPI
(Studi Kasus
Tiga Warga Dusun Jengglik, Desa Ngablak, Kecamatan Srumbung, Kabupaten
Magelang)
BAB 1 PENDAHULUAN
A.
LATAR BELAKANG
Indonesia
merupakan Negara kepulauan yang berada di antara dua samudera dan dilewati dua
sikrum gunung berapi. Kondisi tersebut menjadikan Indonesia menjadi negara yang
rawan terkena bencana alam. Bencana alam yang potensial terjadi di Indonesia
adalah gempa tektonik maupun vulkanik dari skala kecil sampai skala besar.
Sejak akhir tahun 2009 sampai saat ini negara Indonesia ditimpa berbagai macam
bencana alam dalam waktu yang berdekatan, seperti terjadinya banjir bandang di
Wasior, terjangan tsunami di Mentawai, dan meletusnya Gunung Merapi di
Yogyakarta-Magelang, serta banjir yang menimpa Ibu Kota Negara Indonesia.
Berbagai bencana alam lainnya juga setiap tahun terjadi di beberapa daerah,
seperti banjir dan tanah longsor.Kejadian bencana alam yang datang silih
berganti tentu menimbulkan kerugian material yang besar, seperti kehilangan
harta benda dan kerusakan infrastruktur. Selain itu, kerugian secara psikis
atau mental juga dirasakan oleh korban. Reaksi psikologis yang muncul dari
masyarakat sesaat setelah bencana terjadi umumnya shock yangkemudian berkembang
menjadi penghayatan psikologis yang berbeda-beda antara satu dengan yang
lainnya. Dalam undang-undang, bencana diartikan sebagaiperistiwa atau rangkaian
peristiwa yang mengancam dan mengganggu kehidupan dan penghidupan masyarakat
yang disebabkan baik oleh faktor alam dan faktor non alam maupun faktor
manusia, yang mengakibatkan timbulnya korban jiwa manusia, kerusakan
lingkungan, kerugian harta benda, dan dampak psikologis. [1]
Gunung Merapi
merupakan salah satu gunung teraktif yang terletak diantara Provinsi Jawa
Tengah dan provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Keberadaan Gunung Merapi
memberikan dampak positif maupun negatif bagi masyarakat sekitar. Contoh dari
dampak positif keberadaan Gunung Merapi adalah masyarakat sekitar dapat
memanfaatkan daerah atau lingkungan sebagai daerah tujuan wisata, dan suburnya tumbuhan
di sekitar Gunung Merapi, sedangkan beberapa dampak negatif dari keberadaan
Gunung Merapi adalah dampak psikologis (jiwa), dampak sosial, dampak
lingkungan, dampak kesehatan, dan dampak material. Sebagian besar masyarakat
sekitar merasakan dampak negatif Gunung Merapi saat terjadinya bencana alam
yaitu erupsi Merapi.
Letusan Gunung
Merapi yang terjadi pada tahun 2010 merupakan letusan Merapi terburuk sejak
letusan tahun 1870 atau yang terburuk dalam kurun waktu 100 tahun. Letusan
tersebut menimbulkan berbagai dampak bagi kehidupan masyarakat sekitar kawasan
Gunung Merapi di berbagai aspek, salah satunya kerusakan lingkungan. Selain
dampak tersebut, keadaan sosial masyarakat terutama pengungsi yang berada di
pengungsian yang sesak, dan dengan beban pikiran yang berat pasca letusan
Merapi memungkinkan mereka untuk terkena gangguan psikologis.
Pada setiap
peristiwa atau kejadian yang menimbulkan perasaan terancam secara fisik maupun
psikologis, baik ancaman itu nyata maupun hanya ada dalam pikiran, membuat
tidak aman dan tidak berdaya dan merasa tidak sanggup menanggungnya.[2]
Terlebih ketika adanya kerugian bahkan kehilangan salah satu atau semua yang
dimiliki oleh setiap individu, maka setiap individu pastinya akan merasakan
stres dan berlanjut pada keadaan trauma ketika dirinya tidak dapat
menyeimbangkan atau mengatur kehidupan setelah peristiwa yang dialami. Gangguan
tersebut juga tidak hanya dirasakan oleh anak-anak atau remaja, melainkan
dewasa sampai orang tua.
Dampak luar
biasa yang muncul pasca bencana, menjadi sebuah pertimbangan urgensi penanganan
trauma. Penanganan yang dilakukan non-intrussivetetapi harus lebih diarahkan
pada pemberian rasa aman dan penyediaan suasana yang ceria serta menyenangkan.
Berbagai persoalan di atas sudah cukup mengidentifikasikan bahwa bencana erupsi
Merapi yang terjadi pada tahun 2010 banyak meninggalkan kisah dan keluh kesah
yang cukup mendalam bagi rakyat Indonesia khususnya para warga dan korban yang
berdomisili di daerah sekitar Gunung Merapi. Namun hal itu juga yang mendorong
seseorang untuk mengevaluasi diri atau sebagai bahan untuk memotivasi diri
menjadi manusiayang lebih baik dalam bersabar menghadapi cobaan atau musibah,
sehingga menjadi pertimbangan yang penting untuk dilakukan tindakan pencegahan
dan penyembuhan supaya tidak berperilaku menyimpang dan berpengaruh terhadap
kehidupan di masa yang akan datang. Dalam proses dan hasilnya terkadang tidak
semua berjalan sesuai dengan mekanisme atau harapan, maka kondisi akhir tentu
berbeda.
Meletusnya
Gunung Merapi pada tanggal 26 Oktober 2010 banyak menyebabkan kerugian yang
dirasakan oleh warga sekitar Gunung Merapi, mulai dari Yogyakarta hingga
kota-kota disekitarnya. Dusun Jengglik yang berada di Desa Ngablak Kecamatan
Srumbung Magelang merupakan salah satu kawasan yang terkena dampak dari erupsi
Merapi selain daerah Sleman di Yogyakarta, serta Klaten dan Boyolali di Jawa
Tengah. Dusun Jengglik yang berada di Desa Ngablak merupakan jalur aliran lahar
dingin yang melewati Sungai Putih sehingga menyebabkan seluruh warga di desa
tersebut untuk diungsikan. Siti Saniyah, Mursono, dan Sulastri merupakan tiga
warga Dusun Jengglik korban erupsi Merapi. Ketiga warga Dusun Jengglik tersebut
memiliki karakteristik psikologis yang ebrbeda-beda. Dari karakteristik yang
berbeda tersebut tentunya cara penanganan dampak psikologis pasca trauma yang
dilakukan juga berbeda. Walaupun terkena bencana erupsi Merapi, ketiga warga
Dusun Jengglik tersebut mempunyai perilaku yang diteliti, yakni tentang sikap
yang tegar, optimis dan mampu untuk berjuang dari keterpurukan yang disebabkan
oleh bencana alam. Gangguan yang muncul pada korban bencana letusan Gunung
Merapi antara lain rasa takut terhadap gempa, takut melihat gunung, takut
terhadap suara gemuruh, dan hal lain yang dapat mengingatkan mereka pada
peristiwa letusan Gunung Merapi. Gangguan tersebut mengakibatkan adanya
gangguan psikologis yang dirasakan dari hasil penglihatan dan penilaian
peristiwa-peristiwa yang dialaminya. Peristiwaitudisebutsebagaidistres,
disebabkan oleh ketidakseimbangan antara tuntutan yang diterima dan menghadang
kekuatan yang dimiliki.[3]
Melihat permasalahan di atas, maka muncul pertanyaan dan rasa keingintahuan
tentang bagaimana dampak psikologis pasca trauma yang dirasakan oleh tiga warga
Dusun Jengglik akibat erupsi M
B.
OBJEK KAJIAN
Objek atau fokus penelitian kualitatif adalah gejala-gejala atau
keadaan yang bersifat holistik yang dapat diartikan menyeluruh, tidak dapat
dipisah-pisahkan, sehingga tidak hanya berdasarkan variabel penelitian tetapi
keseluruhan situasi sosial yang diteliti yang meliputi aspek tempat, pelaku dan
aktifitas yang berinteraksi secara sinergis.[4] Objek
dalam penelitian ini adalah dampak psikologis yang dirasakan dan cara
penanganan yang dilakukan warga Dusun Jengglik Desa Ngablak Kecamatan Srumbung
Magelang.
C.
RUMUSAN MASALAH
Penelitian
ini bertujuan sebagai berikut:
1.
Bagaimana dampak psikologis tiga warga Dusun Jengglik pasca trauma
akibat erupsi Merapi?
2.
Bagaimana upaya penanganan dampak psikologis pasca trauma yang
dilakukan terhadap tiga warga Dusun Jengglik akibat erupsi Merapi?
D.
TUJUAN PENELITIAN
Berdasarkan
rumusan masalah di atas, maka penelitian ini memiliki dua tujuan diantaranya
yaitu:
1.
Mengetahui dampak psikologis yang dirasakan oleh ketiga warga Dusun
Jengglik pasca trauma akibat erupsi Merapi atau setelah adanya penanganan.
2.
Mengetahui upaya atau penanganan yang dilakukan oleh warga Dusun
Jengglikuntuk bangkit dari dampak psikologis pasca trauma.
E.
KONTRIBUSI PENELITIAN
Kegunaan
penelitian ini dapat dirasakan secara teoritis dan secara praktis.
1.
Secara Teoritis Hasil penelitian ini diharapkan dapat menghasilkan teori
mengenai penanganan gangguan psikologis pasca trauma bagi korban bencana alam,
dan memberikan kontribusi berkaitan dengan bidang bimbingan dan konseling
Islam.
2.
Secara Praktis Penelitian ini diharapkan dapat memberikan
pengetahuan tentang penanganan gangguan psikologis pasca trauma korban bencana
alam, sehingga para relawan bencana, psikiatri, maupun masyarakat umum dapat
mengetahui cara penanganan korban yag mengalami gangguan psikologis.
F.
TESIS STATEMENT
Bencana alam yang terjadi pasti memberikan dampak bagi korban-korbannya.
Dampak yang muncul meliputi dampak non-psikologis maupun psikologis. Dampak
non-psikologis dapat dikatakan sperti hancurnya keseimbangan alam, kerusakan
lingkungan, jatuhnya korban jiwa, korban harta benda, dan rusaknya keteraturan
ekosistem. Bencana alam juga dapat mengakibatkan hilangnya suatu unsur budaya
dalam masyarakat, pergeseran norma-norma sosial, perubahan kebijakan politik,
dan perubahan pola interaksi antar individu. Dampak psikologi meliputi pengaruh
terhadap kesehatan mental atau psikologis. Kondisi psikologis dipengaruhi oleh
interaksi perubahan atau gangguan fisik, psikologi, situasi sosial dan
masalah-masalah yang bersifat material. Sebagian besar orang yang terkena
bencana akan terlihat panik walaupun sebagian kecil orang tampak terlihat
tenang dan berusaha bersikap secara rasional. Orang-orang yang tenang dan
rasional adalah mereka yang biasanya telah memperkirakan terjadinya bencana
tersebut dan cukup memiliki data dari proses learning-helplessness. Korban
bencana alam akan mengalami gangguan kurang tidur, mimpi buruk, kehilangan
keleluasaan beraktifitas, tercerabut dari hubungan sosialnya yang teratur
sehingga korban akan mengalami stressfull. Dukungan sosial akan memberikan
stress-buffering effectbagi korban.
G.
PARADIGMA
1.
Observasi
Secara luas observasi diartikan sebagai kegiatan untuk melakukan
pengukuran. Namun observasi pada penelitian diartikan secara sempit yaitu
pengamatan dengan menggunakan indera penglihatan yang berarti tidak mengajukan
pertanyaan-pertanyaan. Dengan kata lain observasi adalah suatu cara untuk
mengamati secara langsung bagaimana lembaga tersebut melaksanakan trauma
healing untuk anak korban bencana. Berdasarkan keterlibatan pengamatan pada
kegiatan informan, peneliti berlaku sebagai observer partisipan (participant
observation). Peneliti ikut serta dalam kegiatan-kegiatan orang yang diteliti.
Keberhasilan observasi partisipan terletak pada hubungan baik yang dibina
peneliti dengan objek pengamatan.Berdasarkan cara pengamatan yang dilakukan,
observasi ini termasuk ke dalam observasi tidak berstruktur. Peneliti tidak
membawa catatan tentang apa saja yang khusus akan diamati. Pengamatan dilakukan
secara terus-menerus peristiwa yang terjadi dan mencatatnya untuk kemudian dianalisis.
Pencatatan dilakukan pada saat peneliti sudah tidak lagi ikut aktif dalam
kegiatan subjek penelitian, sebab apabila pencatatan dilakukan pada saat masih
dalam kegiatan-kegiatan subjek penelitian, hal tersebut dapat mempengaruhi
tingkah laku subjek. Kegiatan yang diamati ketika observasi seperti mengamati
anak-anak trauma yang sedang bermain dengan teman-temannya dan kegiatan
anak-anak ketika belajar di dalam kelas.
2.
Wawancara
Wawancara
adalah proses memperoleh keterangan untuk tujuan penelitian dengan cara tanya
jawab sambil bertatap muka antara pewawancara dengan informan atau orang yang
diwawancarai, dengan atau tanpa menggunakan pedoman (guide) wawancara, dimana
pewawancara dan informan terlibat dalam kehidupan sosial yang relatif lama.
Wawancara ini dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu penyamaran dan terbuka.
Wawancara yang dilakukan pada penelitian ini bersifat terbuka dan tatap muka
secara langsung. Jadi orang yang diwawancarai tahu tujuan kedatangan
pewawancara. Dengan kata lain wawancara adalah menanyakan langsung kepada
pelaku utama. Wawancara dilakukan untuk mencari data dan mendapatkan informasi
tentang data yang berhubungan dengan masalah yang diteliti. Sebelum proses
wawancara berjalan, pewawancara harus mengetahui terlebih dahulu tujuan
melakukan wawancara serta menyiapkan interview guide, agar pertanyaan yang
diajukan tidak keluar dari jalur yang tidak diinginkan.
H.
ANALISIS TEORI
1.
Bencana
Menurut
United Nation Development Program (UNDP) bencana adalah suatu kejadian ekstrem
dalam lingkungan alam atau manusia yang berakibat merugikan dan mempengaruhi
kehidupan manusia, harta benda atau aktivitas sampai pada tingkat yang
menimbulkan bencana. Kejadian bencana adalah sebuah peristiwa yang bisa terjadi
di mana saja dan kapan saja. Bencana sama hal nya dengan masalah yaitu sesuatu
hal yang datangnya tidak diinginkan dan dapat menimbulkan kerugian bagi yang
tertimpanya. Namun ketika memaknai bencana sebagai teguran dari Tuhan, maka
manusia akan mengambil hikmah dari setiap kerugian yang menimpanya. Segala
bentuk kejadian yang tidak terkendali yang bersumber dari manusia atau alam,
berdampak pada hilangnya nyawa manusia atau harta dan merusak fasilitas serta
lingkungan disebut sebagai bencana. Pengertian dari kedua lembaga tersebut
tentang bencana memiliki kesamaan yaitu sebagai sebuah peristiwa yang
mengganggu kehidupan manusia yang disebabkan oleh alam atau non alam sehingga
mengakibatkan kerugian serta hilangnya nyawa dan harta benda. Bencana bisa
disebabkan karena faktor alam, perbuatan manusia, dan sosial. Teknologi kini
semakin canggih beberapa bencana yang disebabkan karena faktor alam dapat
diberikan peringatan secara dini sebelumnya, sehingga manusia dapat melakukan
tindakan preventif untuk menghindari dan meminimalisir kerugian yang terjadi.
Bencana semacam ini contohnya tsunami, gempa bumi, tanah longsor, angin topan,
wabah, dan gunung meletus. Bencana yang disebabkan karena ulah dari manusia
baik secara sengaja ataupun tidak bisa menjadi kasus yang serius ditindak
lanjuti ke ranah hukum. Bencana buatan manusia bisa berupa pencemaran
lingkungan, kecelakaan transportasi, ledakan bom, dan kegagalan teknologi.
Adapun bencana sosial biasanya terjadi karena kurangnya keharmonisan hubungan
sosial, sehingga menimbulkan konflik antar suku atau kelompok tertentu.
2.
Trauma Healing sebagai
Penanganan Bencana
Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya bahwa penelitian ini akan
konsen membahas trauma pada anak korban bencana. Oleh karena itu trauma menjadi
bagian masalah penting yang harus ditemukan solusinya, lewat trauma healing
masalah trauma akibat bencana dapat menjadi solusi yang tepat. Trauma healing
merupakan bagian dari manajemen bencana yang dapat mengatasi dampak bencana
secara psikologis.
Shaluf mendefinisikan manajemen bencana sebagai istilah kolektif yang
mencakup semua aspek perencanaan untuk merespon bencana, termasuk
kegiatan-kegiatan sebelum bencana dan setelah bencana yang mungkin juga merujuk
pada manajemen risiko dan konsekuensi bencana. Kegiatan manajemen bencana
meliputi rencana, struktur, serta pengaturan yang dibuat dengan melibatkan
usaha dari berbagai pihak dengan cara terkoordinasi dan komprehensif. Beberapa
ahli mengatakan manajemen bencana meliputi lima tahapan, yaitu:
a)
Prediksi
Tahapan
prediksi meliputi kegiatan mitigasi dan kesiapsiagaan. Langkah yang pertama
yaitu langkah-langkah nonstruktural, maksudnya memastikan respon yang efektif
terhadap dampak bahaya bencana. Kegiatan ini seperti melakukan evakuasi
sementara masyarakat dan properti dari lokasi yang terancam bencana.
Selanjutnya langkah struktural yaitu membatasi dampak buruk bencana alam,
degradasi lingkungan, dan bahaya bencana.
b)
Peringatan
Suatu
tahap memberikan informasi yang efektif dan tepat waktu melalui lembaga yang
teridentifikasi kepada masyarakat sekitar.
c)
Bantuan darurat
Memberikan
bantuan atau intervensi setelah dan selama bencana terjadi. Bantuan tersebut
bisa berupa bantuan keselamatan dan pemenuhan kebutuhan dasar seperti
obat-obatan, makanan, minuman, pakaian, dan tempat tinggal. Hal ini dapat
dilakukan dengan durasi yang singkat atau lama.
d)
Rehabilitasi
Tahap
keputusan dan tindakan yang diambil setelah terjadinya bencana dengan tujuan
untuk memulihkan kembali kondisi semula.
e)
Rekonstruksi
Tahap
pembangunan kembali kondisi kehidupan masyarakat yang telah hancur karena
bencana, memiliki tujuan jangka panjang dan berkelanjutan.
Trauma
healing diberikan pada tingkatan bantuan darurat yaitu pemenuhan keselamatan
diri dari stres yang dialami akibat bencana dahsyat yang menghampiri individu. Pemulihan
dari suatu trauma membutuhkan waktu lama atau tidaknya proses trauma healing
tergantung dari individu itu sendiri. Dalam buku Panduan Program Psikososial
Paska Bencana ada empat teknik yang bisa dilakukan untuk mengatasi trauma yang
dialami anak-anak diantaranya adalah:
a)
Teknik Relaksasi Untuk Anak
Teknik
ini dapat membantu anak-anak menjadi rileks dan nyaman dengan tubuh dan jiwa
mereka. Teknik ini bisa dilakukan dengan beberapa cara, yaitu:
·
Sensor tubuh
Suatu
upaya untuk mendorong mereka menyadari bagian dari tubuhnya dan memberikan
sugesti yang baik bahwa tubuh mereka itu sehat dan kuat. Hal ini membiasakan
anak-anak untuk dapat mengendalikan tubuhnya, sehingga mental mereka menjadi
kuat.
·
Menghirup bunga
Teknik
ini bertujuan menstimulasi anak untuk menghirup oksigen dan nitrogen monoksida
yang dibutuhan oleh tubuh, dapat menenangkan pikiran dan jiwa. Kegiatannya
berupa mengajak anak-anak untuk menyebutkan nama bunga yang harum kemudian
mengimajinasikan bentuk, warna, dan harumnya.
·
Penghakau singa
Teknik
ini memiliki tujuan untuk mengeluarkan emosi dan berteriak sekencang-kencangnya
atas perasaan mereka yang terpendam, melalui cerita singa yang mengganggu desa
mereka. Cerita singa ini bisa dibuat sendiri oleh relawan.
·
Mengeluarkan racun
Teknik
mengeluarkan racun bisa dilakukan dengan cara menghirup nafas dan mengeluarkan
nafas sambil membayangkan sebuah udara hitam yang harus mereka keluarkan dari
dalam tubuh mereka.
·
Doa dan sholawat
Mengajak
anaka-anak untuk berdoa dan bershalawat bersama sambil memegang dada-dada.
·
Menyanyikan lagu
Ajak anak-anak
untuk berbaring dan memejamkan mata lalu nyanyikan mereka lagu lembut sebagai
penghantar tidur.
·
Membentuk benda
Teknik
ini merupakan modifikasi dari progressive muscleuntuk menstimulasi batang otak,
agar kembali memiliki kontrol terhadap otot-otot tubuh. Dilakukan dengan cara
mengajak anak-anak bergerak kemudian berjalan pelan dan membayangkan menjadi
benda sesuai dengan sifat benda tersebut.
·
Tempat rahasia
Tempat
rahasia adalah teknik meminta anak-anak untuk menggambarkan sebuah tempat lewat
selembar kertas dan pensil, kemudian cobalah mengajak mereka untuk menceritakan
tempat tersebut. Setelah itu beri tahu mereka bahwa kita akan mengajak mereka
melalui sebuah imajinasi.
·
Gua bertingkat
Sama
seperti yang sebelumnya, coba ajak anak-anak untuk melakukan perjalanan ke
sebuah gua bertingkat tiga sambil meminta mereka untuk melakukan beberapa
gerakan sebelum sampai ke tempat tujuan. Gerakan tersebut bisa berupa melompat,
menghirup nafas, melirik, mengangkat batu, menginjak, dan lain sebagainya sampai
akhirnya mereka sampai di gua tingkat tiga.
·
Imajinasi dengan awan
Ajak
anak-anak untuk pergi ke ruangan terbuka sambil tiduran serta melihat awan di
langit. Setelah itu suruhlah mereka untuk menebak bentuk awan mana yang mirip
dengn kuda, boneka salju atau benda-benda lainnya.
b)
Teknik Mengekspresikan
Emosi untuk Anak
·
Melepas balon imajiner
Tanyakan
pada anak-anak mengenai emosi negatif yang mereka miliki, lalu mintalah
anak-anak untuk membayangkan sebuah balon kemudian meniupnya dan memasukan
emosi negatif tersebut ke dalam balon. Balonpun dengan ikhlas diterbangkan ke
langit bersama dengan emosi negatif yang selama ini terpendam.
·
Menyimpan emosi
Teknik
menyimpan emosi ini memerlukan sebuah kardus atau kaleng bekas, pensil, dan
kertas. Mintalah pada anak-anak untuk menuliskan emosi negatif yang mereka
rasakan kemudian buang bersama emosi negatif itu ke dalam kardus atau kaleng
yang sudah disediakan.
·
Mengatasi flashback
Jika
anak-anak mengalami flashback (misalnya tangan berkeringat, tiba-tiba sakit kepala,
mulut terasa kering, tempo nafas lebih cepat, panik) saat mendengar sesuatu
yang mengingatkan mereka akan kejadian yang traumatik, itu tandanya sedang
mengalami gejala stres selepas trauma (GSST). Anak kehilangan orientasi waktu,
yang perlu dilakukan adalah : gunakan kesadaran akan perbedaan waktu. Lakukan
dan katakan: Nama saya (sebutkan nama), saat ini saya sedang mengalami gejala
trauma. Injakkan kaki anda secara bergantian ke tanah (ini akan memberikan
perasaan anak masih memiliki kekuatan mengontrol badan). Sekarang tanggal
(sebutkan tanggal) saya ada di (sebutkan nama tempat), saya sedang melakukan
(sebutkan nama kegiatan). Tarik nafas dalam dan hembuskan perlahan-lahan
beberapa kali hingga pola nafas normal kembali.
c)
Teknik Rekreasional
Pada
dasarnya kegiatan rekreasional adalah segala aktivitas yang menyenangkan, dan
mampu mengembangkan aspek fisik, pikiran, sosial dan emosional anak sehingga
meningkatkan resiliensi mereka. Tidak semua kegiatan rekreasional dapat disebut
sebagai kegiatan dukungan psikososial. Hanya kegiatan yang memiliki tujuan
untuk memenuhi kebutuhan psikososial anak yang dapat disebut sebagai kegiatan
dukungan psikososial.
·
Kegiatan seni
Kegiatan
seni dapat menjadi alat komunikasi untuk mengekspresikan pikiran dan perasaan.
Kegiatan ini bisa berupa menggambar, bermain musik, melukis, dan bernyanyi.
·
Pertunjukan drama dan
boneka
Drama
sangat baik untuk melatih kerjasama, mengekspresikan perasaan, dan belajar dari
sebuah pengalaman. Drama cocok dilakukan untuk anak usia 5-18 tahun. Sedangkan
pertunjukan boneka cocok untuk anak usia di bawah 9 tahun.
·
Bermain dan permainan
Kegiatan
bermain bebas dapat meningkatkan kemampuan ekspresi diri anak. Permainan
berstruktur yaitu permainan yang memiliki tujuan, metode dan aturan yang dapat
mengajarkan nilai-nilai tertentu seperti berbagi dan kerja sama. Karena
bentuknya yang terstruktur, maka bisa dilakukan persiapan sehingga dalam
pelaksanaannya dapat lebih tertib dan teratur.
·
Menyampaikan, membaca,
mendengarkan, dan menuliskan cerita
Baik
mendengar atau menyampaikan cerita dapat melatih anak untuk belajar berempati,
mendengarkan dan menghargai orang lain. Isi cerita mengajarkan nilai-nilai
moral dan bagaimana menghadapi masalah.
·
Olahraga
Olahraga
memberikan kesegaran dan menyalurkan energi anak dengan cara yang positif.
Olahraga melatih kemampuan bergerak dan meningkatkan kekuatan otot.
d)
Teknik Ekspresif
·
Teknik Menulis
Menulis
memiliki kekuatan katartif (pelepasan emosi). Dengan tulisan, seseorang akan
dapat menenangkan pikirannya, melepaskan ketegangan, menguraikan kebingungan
dan membuka alur baru dalam hidupnya. Teknik menulis tepat untuk anak usia 10
tahun hingga remaja akhir (19 tahun) bahkan bisa juga untuk orang dewasa.
·
Teknik Menggambar
1)
Menggambar bebasMintalah
mereka untuk menggambar sesuatu hal yang ada di pikiran mereka, dengan begitu
konselor, relawan, atau psikolog dapat mengetahui apa yang anak tersebut sedang
pikirkan.
2)
Menggambar kejadian
traumatis Hal ini untuk mengidentifikasi hal-hal yang membuat mereka trauma,
seperti misalnya mobil ambulans.
3)
Menggambar hari depan
Menggambar masa depan akan menunjukan harapan dan cita-cita di kemudian hari,
sehingga orang terdekat yang berada dengan anak dapat mengetahui dan
mengarahkan harapan anak.
4)
Menggambar kata Menggambar
kata adalah meminta anak untuk menggambarkan kata yang paling mereka sukai ke
dalam wujud gambar.
5)
Memberi judul Setelah semua
gambar terbentuk mintalah anak untuk memberikan judul pada setiap gambar
tersebut.
6)
Menggambar perasaan Kegiatan
menggambarkan perasaan bertujuan untuk mengidentifikasikan, memberi nama dan
menyatakan emosi anak-anak, karena anak-anak terkadang sulit untuk menyebutkan
sebuah ekspresi perasaan yang dia rasakan.
I.
SISTEMATIKA PEMBAHASAN
1. Bab I. Pendahuluan, yang berisi tentang
latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan dan kegiatan penelitian,
tinjauan pustaka serta kerangka teori.
2. Bab. II. Kajian pustaka membahas tentang
gambaran umum konseling traumatik bagi anak-anak korban bencana alam dengan memahami peranan konseling sebagai
metode penyembuhan trauma.
a. Kondisi psikis korban bencana alam.
b. Penanganan trauma korban bencana alam.
c. Langkah-langkah penanganan trauma menurut
bimbingan konseling.
3. Bab III. Membahas tentang metode dalam penelitian
yang menggunakan metode kualitatif. Menggunakan analisis kualitatif,
deduksi-induksi bersifat menggabungkan antara deduksi dan induksi yang akan
menghasilkan trasposisi.
4. Deskripsi penelitian empiris tentang
korban bencana alam tanah longsor di desa Sampang, Kecamatan Karangkobar,
Kanjarnegara, Jawa Tengah.
a. Biografi desa Sampang, Kecamatan
Karangkobar, Banjarnegara, Jawa Tengah.
b. Metode penanganan.
c. Materi penanganan
d. Langkah-langkah diagnose
e. Resep diagnose
f.
Tanda-tanda
pemulihan psikis
g. Deduksi
h. Induksi
i.
Sintesis
antara deduksi dan induksi
j.
Proposal
5. Bab. IV. Penutup yang berisikan mengenai
kesimpulan, saran dan kalimat penutup.
BAB 2 KAJIAN DAN TEORI
A.
KAJIAN PUSTAKA
Penelitian
tentang dampak psikologis erupsi Merapi dan hal-hal yang berkaitan dengan
meletusnya Gunung Merapi pada dasarnya sudah cukup banyak, baik dalam bentuk
skripsi, jurnal, makalah, dan penelitian. Dari berbagai tulisan ini terdapat
berbagai macam-macam tema yang diangkat, seperti penelitian yang menghitung
kerugian-kerugian pasca erupsi Merapi di Dusun Jengglik, Desa Ngablak,
Srumbung, Magelang. Menurut sepengetahuan penulis, belum ada penelitian yang
meneliti cara penagnanan atau dampak psikologis erupsi Merapiyang dirasakan
oleh warga Dusun Jengglik, Desa Ngablak, Srumbung, Magelang.Literatur yang
telah didapat di antaranya adalah sebagai berikut:
1.
Penelitian yang
berjudul “Upaya Pemulihan Kondisi Psikologis Korban Bencana Alam Melalui
Pendekatan Spiritual”. Penelitian ini ditulis Dewi Eriyanti dkk., Fakultas Matematika
dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Institut Pertanian Bogor, tahun 2011.
Penelitian ini membahas tentang korban bencana alam biasanya mengalami gangguan
psikologis. Umumnya para korban cenderung berfikiran negatif terhadap bencana
yang menimpa mereka (pesimistis), sensitif, suka melamun dan kondisi ini
diperparah oleh tidak adanya rutinitas pekerjaan yang bisa dilakukan. Upaya
pemulihan kondisi psikologis yang sudah dilakukan oleh pemerintah maupun
relawan hanya difokuskan untuk anak-anak. Padahal akibat bencana alam juga
berdampak besar untuk kalangan dewasa, terlebih lagi karena disebabakan
ketidaksiapan menghadapi bencana terutaman kecemasan menghadapi masa depan
pasca bencana.[5]
2.
Penelitian yang
berjudul “Dampak Erupsi Merapi Pada Sektor Pertanian Masyarakat Kawasan Lereng
Merapi”. Ditulis oleh Uzaifah dan Mohhammad Agus Khoirul Wafa Fakultas Ilmu
Agama Islam Universitas Islam Indonesia Yogyakarta, tahun 2010. Membahas
tentang kerusakan yang terjadi akibat erupsi Merapi sedikitnya terdapat 2.271
rumah warga yang rusak, 239 insfrastruktur masyarakat seperti sekolah,
puskesmas dan pasar juga rusak. Beberapa sarana peribadatan seperti masjid
hancur juga tidak luput dari dampak erupsi Merapi. Upaya pemulihanya harus
merambah sektor-sektor tersebut agar paling tidak menghidupkan kembali aktivitas produksi sehari-hari warga lereng Merapi yang kebayakan
harta bendanya telah musnah akibat terjangan awan panas ataupun lahar dingin
akibat erupsi Merapi tersebut. Salah satu sektor UMKM utama dari penduduk
kawasan lereng Merapi adalah sektor pertanian. Hal ini disebabkan karena lahan
yang ada di kawasan Merapi merupakan lahan subur yang sarat hara sehingga
sektor pertanian menjadi sektor inti di kawasan lereng Merapi.[6]
3.
Skripsi yang berjudul “Optimalisasasi Peran Keluarga Sebagai Stress
Buffer Dalam Menghadapi Bencana”. Skripsi ini ditulis oleh Rumiani, mahasiswi
dari Program Studi Psikologi Universitas Islam Indonesia, tahun 2011. Membahas
tentang aspek kebencanaan dan pengembangan masyarakat pasca bencana dengan
memberikan dukungan sosial terhadap warga bencana erupsi Merapi di Dusun
Kaliadem Desa SariharjoMagelang.[7]
4.
Skripsi yang berjudul “Dampak Psikologis Bencana Alam Gunung
Merapi”. Skripsi ini ditulis oleh Muhammad Thoha, dari jurusan Bimbingan dan
Penyuluhan Islam, Fakultas Dakwah dan Komunikasi, Universitas Islam Negeri
Sunan Kalijaga Yogyakarta, tahun 2011. Skripsi ini meneliti tentang dampak
psikologis erupsi Merapi dan lebih menekankan pada pengalaman korban erupsi
Merapi dalam mengatasi gangguan kejiwaan.[8]
Penelitian tersebut berbeda dengan penelitian ini yang lebih cenderung menelaah
pada dampak psikologis yang dirasakan oleh korban bencana erupsi Merapi pasca
trauma atau dapat dikatakan dampak yang dirasakan korban setelah diberikan
penanganan pada trauma yang dirasakannya.
Dengan
melihat beberapa literatur berupa penelitian maupun skripsi di atas,
mengidentifikasikan adanya perbedaan baik dari judul, fokus penelitian maupun
tujuan dari penelitian. Penelitian-penelitian ilmiah di atas lebih banyak
mengacu terhadap dampak-dampak pertanian, perekonomian dan perkebunan atau
dapat dikatakan sebagai dampak fisik maupun kerugian yang dirasakan oleh warga
korban erupsi Merapi dan tempatnya juga secara umum serta lebih mengacu pada
dampak yang dirasakan setelah bencana itu terjadi. Sedangkan perbedaannya
dengan penelitian ini adalah lebih cenderung pada dampak psikologis yang
dirasakan oleh korban bencana erupsi Merapi pasca trauma atau dapat dikatakan
dampak yang dirasakan korban setelah diberikan penanganan pada trauma yang
dirasakannya. Apakah korban tersebut secara kondisi kejiwaan dapat menjadi
manusia yang normal kembali atau korban masih tetap mengalami trauma walaupun
telah diberikan penanganan, serta gangguan-gangguan apa saja yang muncul pasca
korban mengalami trauma.
B.
KERANGKA TEORI
1.
Dampak Psikologis
Dampak
berarti pengaruh yang kuat yang menimbulkan akibat baik positif maupun negatif.[9]
Sedangkan psikologis adalah kata sifat dari psikologi yang artinya kejiwaan,
merupakan sifat dari jiwa seseorang. Secara harfiyah psikologi umumnya
dimengerti sebagai “ilmu jiwa‟. Pengertian ini didasarkan pada terjemahan kata
dari bahasa Yunani: psyche dan logos. Psyche berarti “jiwa” atau nyawa” atau
“alat untuk berfikir”. Logos berarti “ilmu”. Dengan demikian, psikologi
diterjemahkan ilmu yang mempelajari jiwa.[10]
Ada beberapa pendapat yang mengemukakan arti psikologi, tetapi di sini penulis
hanya dapat menulis salah satu pendapat yang mengatakan bahwa psikologi adalah
ilmu pengetahuan yang mempelajari tingkah laku manusia dalam hubungan dengan
lingkungannya. Termasuk dalam tingkah laku di sini adalah perbuatan-perbuatan
terbuka dan tertutup. Tingkah laku terbuka adalah tingkah laku yang langsung
dapat dilihat oleh orang lain misalnya makan, minum, berbicara, memukul,
menangis dan sebagainya. Sedangkan tingkah laku tertutup adalah tingkah laku
yang hanya dapat diketahui secara tidak langsung melalui alat-alat atau
metode-metode khusus misalnya berfikir, sedih, berkhayal, bermimpi, takut dan
sebagainya. Dari dua istilah tersebut dapat disimpulkan bahwa dampak psikologis
dalam penelitian ini adalah dampak atau pengaruh yang kuat pada jiwa seseorang
dikarenakan terjadinya bencana erupsi Merapi pada tahun 2010.
Dampak
psikologis pada akhirnya berlanjut pada tahap yang lebih kompleks, yaitu
gangguan kejiwaan. Gangguan kejiwaan merupakan sebuah kelainan yang terjadi
bukan kelainan jasmani, anggota tubuh atau kerusakan pada sistem otak.
Kelainan-kelainan tersebut diantaranya adalah ketegangan jiwa, depresi, cemas,
stres, was-was, kompulasi yang tidak disengaja, conversion hysteria, merasa
tidak bersemangat dan tidak mampu mencapai tujuan, takut, pikiran gelap meliputi
individu dalam kesadaranya, sehingga pikiranbercabang-cabang dan dalam tidur
tidak lelap.[11]
Orang yang mentalnya kacau tidak dapat memperoleh ketenangan hidup. Jiwa mereka
sering terganggu sehingga menimbulkan stres dan konflik batin. Hal ini
menyebabkan timbulnya emosi negatif sehingga dirinya tidak mampu mencapai
kedewasaan psikis, mudah putus asa dan bahkan ingin bunuh diri.[12] Sehingga
dapat diartikan gangguan kejiwaan adalah suatu masalah yang ada pada diri
seseorang yang terletak pada batin atau jiwa atau mental seseorang, sehingga
seseorang tersebut tidak dapat mencapai kedewasaan psikis, mudah putus asa dan
bahkan ingin bunuh diri. Salah satu faktor penyebab gangguan kejiwaan adalah
faktor lingkungan seperti ekosistem yang rusak, iklim yang mempengaruhi kondisi
biologis, dan bencana alam.
2.
Tinjauan Tentang Dampak Psikologis Akibat Bencana
Dampak yang muncul akibat bencana
alam menyebabkan dampak non-psikologis maupun psikologis. Dampak non-psikologis
secara jelas dapat dikatakan yaitu hancurnya keseimbangan alam, kerusakan
lingkungan, jatuhnya korban jiwa, korban harta benda, dan rusaknya keteraturan
ekosistem. Bencana alam juga dapat mengakibatkan hilangnya suatu unsur budaya
dalam masyarakat, pergeseran norma-norma sosial, perubahan kebijakan politik,
dan perubahan pola interaksi antar individu. Terdapat pengaruh terhadap
kesehatan mental atau psikologis akibat bencana alam. Kondisi psikologis
dipengaruhi oleh interaksi perubahan atau gangguan fisik, psikologi, situasi
sosial dan masalah-masalah yang bersifat material. Sebagian besar orang yang
terkena bencana akan terlihat panik walaupun sebagian kecil orang tampak
terlihat tenang dan berusaha bersikap secara rasional. Orang-orang yang tenang
dan rasional adalah mereka yang biasanya telah memperkirakan terjadinya bencana
tersebut dan cukup memiliki „data‟ dari proses learning-helplessness. Korban
bencana alam akan mengalami gangguan kurang tidur, mimpi buruk, kehilangan
keleluasaan beraktifitas, tercerabut dari hubungan sosialnya yang teratur
sehingga korban akan mengalami stressfull. Dukungan sosial akan memberikan
stress-buffering effectbagi korban. Post-traumatic stress disorder yaitu
gangguan psikologis yang muncul setelah bencana terjadi dan lebih berbahaya
dibanding stress yang dialami pada saat bencana. Stres yang dialamai pada saat
bencana umumnya akan lebih mudah diberikan perlakuan dibandingkan
post-traumatic stress disorder. Post-traumatic stress disorder akan menyebabkan
korban mengalami gangguan stres yang berat, mengalami gangguan tidur, terlibat
social withdrawn dan kecemasan yang sangat tinggi. Post-traumatic stress
disorder mengakibatkan dampak perilaku yang ekstrim, melemahkan motivasi
korban dan sulit untuk diberikan terapi perlakuan. Dampak psikologis lain
ketika bencana alam terjadi menyebabkan hilangnya perasaan cinta pada orang
lain. Karena setiap orang ingin menyelamatkan diri sendiri, dan lupa untuk
menyelamatkan orang terdekat. Selain itu kematian orang terdekat atau yang
dicintai menyebabkan individu kehilangan rasa cinta kepada orang lain.
Terpisahnya anggota keluarga secara tiba-tiba dan dalam jumlah besar bahkan
individu yang masih dapat selamat berada dalam kondisi yang lelah baik fisik
maupun psikis. Tidak memiliki materi karena hilangnya harta kepemilikan dan
kehilangan keluarga menyebabkan tingginya kondisi ketidakberdayaan
(full-helplessness). Trauma pasca bencana tidak dapat diketahui secara cepat.
Pengamatan secara seksama dalam waktu yang lama dapat menentukan apakah
seseorang mengalami trauma atau tidak dan seberapa berat trauma yang diderita.
Seseorang secara fisik terlihat sehat, namun dalam kondisi tertentu yang
misalnya pada waktu tidur sering bermimpi buruk dapat mengakibatkan perilaku
tertentu yang dapat dijadikan indikasi penderita trauma.
Bencana
alam merupakan kosekuensi negatif yang ekstrim sebagai sebuah akibat sekaligus
menunjukkan dampak yang dihasilkan oleh interaksi antara kejadian alami dengan
sistem sosial. Disaster sebagai kekuatan alam yang bukan di bawah kontrol
manusia dan menyebabkan bencana yang menimbulkan kerusakan dan kematian. Selain
dampak dari dimensi psikologis antara lain kecemasan yang sangat tinggi,
melemahkan dan mengurangi motivasi diri, serta meningkatnya ketergantungan pada
pihak lain. Ketergantungan masyarakat korban bencana mencakup antara lain
ketergantungan pangan, keamanan, perbaikan sarana permukiman dan perbaikan
sarana sosial-ekonomi.
3.
Tinjauan Tentang Cara Penanganan
Dampak Psikologis Seperti yang sudah dijelaskan
di atas mengenai dampak psikologis yang baik maupun buruk pada korban pasca
erupsi Merapi yang dirasakan akibat bencana alam, bahwa masyarakat mengalami
hal-hal yang menyebabkan dirinya khawatir, ketakutan, tidak percaya diri
sehingga mengakibatkan adanya keputusan untuk mengakhiri nyawanya sendiri atau
bunuh diri. Oleh sebab itu diperlukan adanya metode atau cara untuk menangani
dampak-dampak psikologis pasca trauma bencana erupsi Merapi yang mengarah ke
tindakan negatif sebagai berikut:
a.
Pemulihan fisik, emosi dan kognitif.
1)
Fisik: menyamakan fisik dengan mengatur
pernapasan dan mencari posisi tubuh yang nyaman, penuhi kebutuhan fisik segera,
seperti makan tepat waktu, merasa lelah istirahat dan sebagainya. Melakukan
aktifitas fisik, seperti: jalan-jalan, senam, joging, dan olahraga lainnya.
2)
Emosi: mengespresikan perasaan, jangan
mengisolasi diri, ambil waktu untuk bersenang-senang, relaksasi, dan meditasi.
Pergi ke tempat baru dampak dipercaya sebagai metode untuk mengatur emosi. Achmanto
Mendatu, Pemulihan Trauma: Strategi Penyembuhan Trauma Untuk Diri Sendiri,
Anak, dan Orang Lain di Sekitar Anda, (Yogyakarta: Panduan, 2010), hlm. 65-76.
3)
Kognitif: terus menerus menggunakan otak,
sebisa mungkin tetap melakukan aktifitas rutin. Berfikir positif, selalu
memiliki harapan, dan mengambil tanggung jawab.
b.
TeknikTapas Acupressure Technique (TAT)
Tapas Acupressure Technique (TAT) adalah proses
yang mudah untuk mengakhiri stres, trauma, rasa takut (fobia), rasa menderita
dan untuk menciptakan rasa bahagia. TAT adalah teknik yang baru, sederhana, dan
efektif untuk menciptakan rasa damai, rileks, dan sehat dalam waktu yang
singkat. TAT merupakan salah satu bentuk terapi dalam kelompok ilmu energy
psycholo.
Teknik ini dilakukan dengan cara menyentuh
ringan beberapa titik akupuntur di kepala (posisi TAT), sambil mengarahkan
perhatian pada masalah yang ingin diatasi. Menyentuh titik-titik dengan ringan
akan memberikan efek pudarnya trauma sehingga pikiran dan perasaan hati yang
negatif pun berkurang, terutama setelah mengalami traumatif.
Adapun langkah-langkah TAT untuk peyembuhan
dampak bencana yaitu:
1)
Pertama, berdoa agar semua orang yang terkait
dengan masalah ini dapat mencapai penyembuhan yang terbaik.
2)
Kedua, berbicaralah dengan mereka yang sudah
meninggal dunia akibat bencana ini dalam hati, seolah-olah atau benar-benar
dapat melakukan percakapan dengan mereka pada saat ini.
3)
Ketiga, berbicaralah dengan Tuhan dalam hati,
seolah-olah dapat bercakap-cakap dengan Tuhan pada saat ini.
4)
Keempat, ini sudah terjadi, sudah berlalu, dan
saya selamat, dan sekarang saya boleh rileks.
5)
Kelima, semua tempat dalam hidup saya, pikiran saya,
hati saya, dan tubuh saya yang terkait dengan masalah ini sekarang disembuhkan.
6)
Keenam, saya maafkan semua yang saya salahkan
atas peristiwa ini, termasuk diri sendiri atau Tuhan.
7)
Ketujuh, bayangkan diri anda bersama-sama
mereka yang masih hidup bersama anda, menyatukan rasa dan hati, bersyukur atas
kehidupan.
Kedua cara penanganan dampak psikologis pasca
trauma yang diakibatkan bencana alam erupsi Merapi akan tercapai, berdasarkan
sejauh mana seseorang atau individu-individu yang terkena dampaknya
berkeinginan dan mampu untuk bangkit dari masalah yang dihadapi serta
dibutuhkan adanya peran serta dari orang lain untuk memberikan dorongan supaya
tetap optomis sehingga tidak terbius atau teromantisir dengan bencana yang
dialami (traumatis), mengakibatkan stres yang berdampak terhadap depresi.
BAB 3 METODE PENELITIAN
Metode
penelitian adalah cara atau strategi menyeluruh untuk menemukan atau memperoleh
data yang diperlukan.[13]
Dalam hal ini penelitian diartikan sebagai pemeriksaan atau pengusutan dengan
memeriksa dan meneliti, memeriksa serta mengusut tuntas atau menelaah dengan
sungguh-sungguh. Sehingga metode penelitian digunakan sebagai alat bagi ilmu
untuk dapat mengembangkan kelimuannya sehingga dapat menjelaskan gejala-gejala
termasuk gejala sosial. [14]
1.
Jenis Penelitian
Jenis
penelitian ini adalah penelitian kualitatif (qualitative research), yaitu
metode penelitian yang digunakan untuk meneliti pada kondisi objekyang alamiah.[15]
Artinya objek yang apa adanya, tidak dimanipulasi oleh peneliti sehingga
kondisi pada saat peneliti memasuki objek, setelah berada di objek dan setelah
keluar dari objek relatif tidak berubah. Selain itu juga penelitian data dari
kualitatif didapatkan dari wawancara, maupun observasi dan kemudian data-data
tersebut diuraikan dan disimpulkan tanpa dengan memberikan perlakuan terhadap
objek yang diteliti. Penelitian ini menggunakan studi kasus (case study), artinya
merupakan penelitian deksripsi intensif dan mendetail dengan analisis terhadap
satu kasus.[16]
Kasus dapat terbatas pada satu orang, lembaga, satu peristiwa, maupun satu
kelompok manusia.[17]
Hasil penelitian tentang dampak psikologis erupsi pasca trauma akibat erupsi
Merapi tidak digeneralisasikan, melainkan dengan menguraikan berdasarkan
karakteristik subjek penelitian, sehingga pemahaman yang dihasilkan terdapat
satu kasus yang dipelajari lebih mendalam. Penelitian ini dilakukan secara
langsung terhadap objek yang diteliti untuk mendapatkan data-data yang
berkaitan dengan permasalahan yang dibahas, dalam hal ini mengenai dampak
psikologis apa sajakah yang dialami oleh tiga korban erupsi Merapi dan
bagaimana korban berjuang dalam mengatasi dampak tersebut.
2.
Sifat Penelitian
Penelitian ini
bersifat kualitatif, yaitu penelitian yang menghasilkan data deskriptif yang
berupa ucapan, tulisan, dan perilaku yang dapat diamati dari subjek itu
sendiri.[18]
Penelitian deskriptif memandang objek sebagai sesuatu yang dinamis, hasil
konstruksi pemikiran dan utuh (holistic) karena setiap aspek mempunyai satu
kesatuan yang tidak dapat dipisahkan.[19] Sifat
penelitian berada pada latar alamiah manusia sebagai alat(instrument),
penggunaan metode kualitatif, analisis data secara induktif, teori-teori dasar,
penjelasan secara deskriptif, lebih mementingkan proses daripada hasil, adanya
batas yang ditentukan oleh fokus, adanya kriteria untuk keabsahan data, desain
yang bersifat sementara serta hasil penelitian dirundingkan dan disepakati
bersama.[20]
BAB 4
PERAN KONSELOR DALAM MNGUPAYAKAN
KONSELING KORBAN BENCANA
Upaya
konseling terhadap korban bencana selayaknya diberikan. Para korban memerlukan
bantuan mengatasi perasaan kehilangan orang yang dicintai. Mereka butuh menata
masa depan yang tak menentu akibat lingkungan baru. Banyak orang yang
kehilangan, dan hancur semangatnya ketika orang dekat mereka meninggal. Upaya
konseling singkat berfokus pada solusi menjadi alternative menolong orang-orang
yang cemas dan penuh rasa takut ditengah bencana. Bagaimana bentuk konseling
singkat berfokus solusi dilakukan?
1.
Pertama, konselor menanyakan keadaan korban tentang perasaan
mereka. Apa keluhan dan kesakitan yang tengah mereka hadapi. Bagaimana sedihnya
kehilangan keluarga dan harta benda yang mereka cintai. Konselor mesti
mengetahui persis kerisauan-kerisauan yang dihadapi oleh korban pasca gempa.
Ketakutan yang tengah menimpa jiwa mereka dan bersikap empatik atas penderitaan
yang tengah dihadapi.
2.
Kedua, setelah menanyakan tentang kerisauan dan ketakutan yang
dialami oleh Korban, selanjutnya konselor melangkah pada pertanyaan yang
berfokus solusi. Konselor segera mengalihkan pada upaya solusi yang akan
dilakukan oleh korban. Bagaimana korban menyikapi situasi krisisnya. Korban
diajak untuk berpikir rasional tentang langkah-langkah yang akan mereka lakukan
menghadapi situasi sulit. Misalnya, bagaimana korban akan terus eksis di saat
kehilangan orang tua mereka? Upaya apa yang akan di tempuh untuk meneruskan
pendidikan mereka? Dan langkah apa yang akan dilakukan saat ini mengatasi
kesedihannya? Dengan kolaborasi antara korban dan konselor, akan mempercepat upaya
bangkit dari kegelisahan.
3.
Ketiga, Konselor membantu korban menemukan kekuatan diri mereka
untuk melangkah maju. Misalnya, konselor menanamkan nilai berani mengambil
resiko untuk tinggal di tempat baru yang lebih aman dari sasaran weddus gembel
atau hujan debu. Dengan menemukan insight (pengetahuan) pada diri korban
bencana, akan meringankan beban mereka dari keputus asaan. Para korban akan tegak
berdiri menerima realitas mereka yang kehlangan sanak saudara dan rmah serta
pekerjaan. Para korban menemukan cara untuk melanjutkan hdup yang telah hancur
disambar gunung merapi. Membantu mengajak mereka untuk menyikapi hidup secara
tepat sesuai kenyataan.
BAB 5 PENUTUP
1.
KESIMPULAN
Langkah
ke tiga dalam analisis data kualitatif adalah penarikan simpulan. Penarikan
simpulan adalah kegiatan analisis yang lebih dikhususkan pada penafsiran data
yang telah disajikan, dari data yang diinterpretasikan dan diuraikan kemudian
ditarik kesimpulan sesuai dengan yang diharapkan berkaitan dengan dampak
psikologis pasca trauma akibat erupsi Merapi. Kesimpulan dalam penelitian
kualitatif merupakan temuan baru yang sebelumnya belum pernah ada berupa
deskripsi atau gambaran suatu objek yang sebelumnya masih belum jelas sehingga
setelah diteliti menjadi jelas, hubungan kausal atau interaktif, hipotesis atau
teori.
[2] Achmanto
Mendatu, Pemulihan Trauma Pemulihan Trauma: Strategi Penyembuhan Trauma Untuk
Diri Sendiri, Anak, dan Orang Lain di Sekitar Anda, (Yogyakarta: Panduan,
2010), hlm. 17.
[5] Dewi
Eriyanti, Upaya Pemulihan Kondisi Psikologis Korban Bencana Alam Melalui
Pendekatan Spiritual, penelitian ilmiah tidak diterbitkan,(Bogor: Institut Pertanian
Bogor, 2011).
[6] Uzaifah
dan Mohhammad Agus Khoirul Wafa, Dampak Erupsi Merapi Pada Sektor Pertnian
Masyarakat Kawasan Lereng Merapi, penelitian ilmiah tidak diterbitkan,
(Yogyakarta:Universitas Islam Indonesia, 2010).
[7] Rumiani,
Aspek Kebencanaan Dan Pengembangan Masyarakat Pasca Bencana, skripsi tidak
diterbitkan, (Yogyakarta: Universitas Islam Indonesia, 2011).
[8] Muhammad
Thoha, Dampak Psikologis Akibat Bencana Erupsi Merpai, skripsi tidak
diterbitkan (Yogyakarta: UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, 2011).
[11] Mustafa
Fahmi, Kesehatan Jiwa dalam Keluarga, Sekolah dan Masyarakat, jilid II terj
Zakiah Darajat (Jakarta: Bulan Bintang 1977), hlm. 58.
[16] Zechmeister,
Eugene B,.dkk., Metodologi Penelitian Psikologi, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar,
2007), hlm.348
[17] Winarno
Surachmad, Dasar dan Teknik Research Pengantar Metodologi Ilmiah, (Bandung: CV.
Tarsito, 1972), hlm.135.
[18] Arief
Furchan, Pengantar Metode Penelitian Kuaitatif: Suatu Pendekatan Fenomenologi
Terhadap Ilmu-Ilmu Sosial, (Surabaya: Usaha Nasional, 1992), hlm.22.
Komentar
Posting Komentar