Teguh Wahyuni



Nama : Teguh Wahyuni
NIM  : B93218169
Kelas/Semester : B5/S.2

LANGKAH-LANGKAH MENINGKATKAN ASPEK SPIRITUAL PENGGUNA NARKOBA MELALUI KONSELING LOGOTERAPI DI YAYASAN SINAR JATI KEMILING BANDAR LAMPUNG

BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Berkembangnya zaman yang semakin modern ini menyebabkan  semakin kompleksnya permasalahan yang dihadapi manusia. Permasalahan ini terjadi pada setiap golongan, tidak hanya dari orang tua tetapi remaja bahkan anak-anak baik laki-laki maupun perempuan. Dalam menghadapi suatu masalah dan  mengalami stress, mereka cenderung  untuk lari pada obat-obatan, baik itu yang bersifat menyembuhkan sakit kepala maupun yang bersifat anti depresi. Tidak menutup kemungkinan mereka juga menggunakan obat-obatan psikotropika dan narkotika.
Penggunaan obat-obatan psikotropika dan narkotika berdampak buruk pada tubuh dan psikis si pengguna. Dari sudut pandang Islam, obat-obatan tersebut telah tertuang dalam Al Quran surah Al Maidah ayat 90-91.  Dalam ayat ini menjelaskan bahwa khamar berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah termasuk dalam perbuatan syaitan. Khamar adalah semua minuman yang memabukkan yang dapat meghalangi mengingat Allah dan sembayang. Oleh sebab itu dalam ayat tersebut melarang agar berhenti untuk melakukan perbuatan yang dapat menjauhkannya dari Allah.
Narkoba adalah zat atau obat yang berasal dari tanaman atau bukan tanaman, baik yang sintetis maupun semisintetis yang dapat menyebabkan penurunan atau penambahan kesadaran, hilangnya rasa, mengurangi hingga menghilangkan rasa nyeri dan dapat menimbulkan ketergantungan. Berdasarkan UURI No. 35 tahun 2009 tentang narkotika, ada tiga golongan berdasarkan tinggi rendahnya potensi yang dapat menimbulkan ketergantungan, yaitu : a. Narkotika golongan I yakni narkotika yang hanya dapat digunakan untuk tujuan pengembangan ilmu pengetahuan, bukan untuk digunakan dalam terapi (Papaver Somniverum L, Opium mentah, Opium masak, tanaman Koka, daun koka, kokain mentah, kokaina, dan ganja), b. Narkotika golongan II yakni narkotika yang digunakan untuk pengobatan, namun merupakan pilihan terakhir (Morfin, fentanil, ekgonina, petidina, dan berikut garam-garamnya), c. Narkotika golongan III yakni narkotita yang digunakan untuk pengobatan atau terapi dan berpotensi pada ketergantungan (kodein, etil morfin, dihidrokodlin, dan termasuk garam-garamnya).
Akhir-akhir ini penggunaan narkoba semakin meningkat, banyak kasus narkoba yang menjerat berbagai golongan masyarakat. Penyalahgunaan narkoba menempati ranking ke-20 dunia dalam daftar faktor penyebab terganggunya kesehatan oleh United Nations Office on Drugs and Crime (UNODC). Bahkan penyalahgunaan narkoba tersebut menempati posisi ke-10 di kelompok negara berkembang. Laporan Tahunan UNODC 2013 menunjukkan bahwa pada tahun 2011 diperkirakan 167-315 juta orang atau sekitar 3,6% sampai dengan 6,9% dari penduduk berusia 15-64 tahun menggunakan narkoba minimal sekali dalam setahun.
Di Indonesia diperkirakan jumlah penyalahgunaan narkoba ada sebanyak 3,8 juta sampai 4,1 juta orang yang pernah pakai dalam setahun terakhir(current users) pada kelompok usia 10-59 tahun di tahun 2014. Dalam terminology internasional ada 2 jenis penyalahguna narkoba, yaitu pernah pakai (ever used) dan setahun terakhir pakai (current users).
Dalam studi ini mengklasifikasi kategori pengguna narkoba menjadi 4 macam (coba pakai, teratur pakai, pecandu non suntik, dan pecandu suntik) menurut frekuensi pemakaian atau cara pakai (hanya suntik) dari setiap kelompok survei. Sebagian besar penyalahguna berada pada kelompok coba pakai terutama pada kelompok pekerja. Faktor penyebabnya dalah tekanan pekerjaan yang berat, kemampuan sosial ekonomi, dan tekanan lingkungan teman kerja.
Ganja, shabu dan ekstasi merupakan jenis narkoba yang paling banyak disalahgunakan dikalangan pelajar atau mahasiswa, pekerja dan rumah tangga. Di setiap kelompok ada perbedaan dalam pola pakai. Pada kelompok pelajar atau mahasiswa yang cenderung masih dalam tahab pemula dan keterbatasan finansial sehingga mereka banyak mengonsumsi pil koplo dan shabu. Sedangkan para pekerja, mereka banyak mengkonsumsi shabu dan ekstasi dengan tujuan untuk meningkatkan stamina agar tidak cepat lelah.
Dari tahun ke tahun penyalahgunaan narkoba semakin meningkat, termasuk yang terjadi di kota Bandar Lampung. Menurut catatan pihak Satuan Reserse Narkoba Polresta Kota Bandar Lampung, pada tahun 2012 lalu, ada sebanyak 211 orang yang menyalahgunakan narkoba, baik sebagai pengguna, pengedar maupun bandar. Kemudian meningkat menjadi 300 orang pada tahun 2013. Dan sebanyak 83 orang pada triwulan pertama di tahun 2014.
Jumlah pemakai narkoba di kalangan pelajar di Lampung dari tahun ke tahun jumlah semakin meningkat berdasarkan hasil riset yang dilakukan oleh Badan Narkotika Nasional (BNN) Provinsi Lampung. Kepala bidang (Kabid) Pencegahan dan Pembinaan Masyarakat Badan Narkotika Nasional (BNN) Provinsi Lampung, Alamsyah mengungkapkan bahwa, dari hasil riset yang dilakukan mulai dari tahun 2011 hingga saat ini jumplah pelajar yang terjerat kasus narkoba jumlahnya meningkat 2 persen dari jumlah total tingkat penduduk di Lampung.
Hal itu di buktikan dengan hasil persentase pra penelitian di Yayasan Sinar Jati Kemiling berikut ini :
Tabel 2
Data Pasien Penyalahguna Narkoba di Yayasan Sinar Jati Kemiling
Sumber Data : Laporan Hasil Pra Penelitian di Yayasan Sinar Jati Kemiling

Dari 178 orang pasien yang ada di Yayasan Sinar Jati Kemiling, terdapat 48 orang pasien yang menggunakan narkoba terdiri dari 1 orang pasien SMP, 6 orang pasien SMA, dan 41 orang pasien kuliah dan pekerja. Narkoba jenis shabu dan ekstasi yang banyak dikonsumsi oleh pasien pengguna narkoba tersebut. Penyebabnya dari faktor individu, faktor lingkungan, dan faktor tersedianya obat (narkoba). Dari hasil pra penelitian, penyalahgunaan narkoba banyak dimulai pada masa remaja, sebab remaja banyak mengalami perubahan biologik, psikologik maupun sosial yang pesat merupakan individu yang rentan untuk menyalahgunakan narkotika. Faktor spiritual juga mempengaruhi remaja dalam penyalahgunaan narkotika.
Ajaran spiritual merupakan ajaran yang berkaitan dengan jati diri,etika dan moral. Suatu keadaan yang menyelaraskan diri dengan nilai dasar dari semua ajaran mulia, dan membicarakan tentang eksistensi jati diri dan eksistensi Tuhan. Ajaran-ajaran tersebut meliputi: kesatuan dengan eksistensi alam semesta, unsur terpenting yang tersembunyi, perwujudan pikiran, daya untuk mengubah kehidupan, dan kekuatan dalam kesadaran kolektif.
Terdapat beberapa langkah dalam penanganan penyalahgunaan narkotika. Langkah pertama, detoksifikasi yaitu dalam upaya menolong seseorang pecandu atau penyalahguna narkoba. Setelah detoksifikasi terdapat berbagai macam penanganan yaitu, penanganan biologis dan psikologis.Penanganan psikologis pada umumnya memiliki banyak ragam, seperti penggunaan konseling CBT, token economy, logotherapy dan
sebagainya.
Logotherapy merupakan nama ancangan terapi bersifat transpersonal oleh Viktor Frankl, menekankan pada dinamika personal, hubungan-hubungan transcendental manusia dengan hal gaib yang diyakininya dan penemuan makna hidup, melalui pemikiran yang mendalam, termasuk memikirkan pemikiran (metakognisi), memikirkan perasaan sendiri, memikirkan tingkah laku sendiri, dan merenungi keberadaan diri dalam kaitannya dengan keberadaan alam semesta, khususnya makna keberadaan diri dalam kaitannya dengan keberadaan yang lain. Konseling logoterapi merupakan konseling individual untuk masalah ketidakjelasan makna dan tujuan hidup, yang sering menimbulkan kehampaan dan hilangnya
kegairahan. Jadi bukan untuk problema eksistensial dan patologis berat yang memerlukan bantuan psikoterapi. Selain itu, karakteristik konseling logoterapi adalah jangka pendek (short termed), berorientasi masa depan (future oriented), dan berorientasi pada makna hidup (meaning oriented). Oleh karena itu diharapkan konseling logoterapi dapat membantu dalam penanganan pengguna narkoba pada remaja atau peserta didik. Konseling logoterapi berandalasan pada spiritual individu dan menitikberatkan kepada makna dan tujuan hidup.

Berdasarkan latar belakang masalah yang telah dikemukakan diatas, maka penulis tertarik untuk meneliti lebih lanjut dan menuangkannya dalam sebuah karya ilmiah yang berjudul “ Meningkatkan Aspek Spiritual Pengguna Narkoba Melalui Konseling Logoterapi di Yayasan Sinar Jati Kemiling Bandar Lampung”.

B.     Objek Penelitian
`           Objek penelitian ini adalah konseling logoterapi mampu dalam meningkatkan aspek spiritual peserta didik SMP dan SMA yang menjadi pasien rehabilitas di Yayasan Sinar Jati Kemiling Bandar Lampung.

C.    Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang masalah dan indentifikasi masalah dapat dibuat rumusan masalah sebagai berikut : “Apakah Konseling logoterapi mampu dalam meningkatkan aspek spiritual pengguna narkoba di Yayasan Sinar Jati Kemiling Bandar Lampung ? ”.

D.    Tujuan Penelitian
Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah : “Untuk mengetahui apakah Konseling logoterapi mampu dalam meningkatkan aspek spiritual pada pengguna narkoba di Yayasan Sinar Jati Kemiling Bandar Lampung”.

E.     Kontribusi Penelitian
1.    Teoritis
Penelitian ini diharapkan dapat menambah pengetahuan tentang pengaruh konseling logoterapi dalam meningkatkan aspek spiritual peserta didik penyalahguna narkoba.
2.    Praktis
a.       Bagi peserta didik
Manfaat bagi peserta didik agar dapat meningkatkan aspek spiritualnya dengan optimal.
b.      Bagi guru BK atau konselor
Manfaat bagi guru BK agar mengetahui pengaruh konseling logoterapi dalam meningkatkan aspek spiritual peserta didik penyalahguna narkoba di Yayasan Sinar Jati Kemiling Bandar Lampung dan dapat mempraktekannya di lapangan secara maksimal.
c.       Bagi peneliti
Manfaat bagi peneliti dapat menambah ilmu pengetahuan serta pengalaman tentang pengaruh konseling logoterapi dalam meningkatkan aspek spiritual peserta didik penyalahguna narkoba di Yayasan Sinar Jati Kemiling Bandar Lampung.
d.      Bagi lembaga
Bagi peserta didik penyalahguna narkoba diharapkan pembahasan ini memberikan masukan tentang layanan yang digunakan dalam bimbingan dan konseling.

F.     Tesis Statement
Penelitian ini berfokus pada  konseling logoterapi yang diharapkan dapat membantu dalam penanganan pengguna narkoba pada remaja atau peserta didik. Konseling logoterapi berlandasan pada spiritual individu dan menitikberatkan kepada makna dan tujuan hidup.

G.    Paradigma Penelitian
Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian kualitatif, yaitu metode penelitian yang berlandaskan pada filsafat postpositivisme, digunakan untuk meneliti pada kondisi obyek yang alamiah, dimana peneliti adalah sebagai instrumen kunci, teknik pengumpulan data dilakukan secara triangulasi (gabungan), analisis data bersifat induktif atau kualitatif, dan hasil penelitian kualitatif lebih menekankan makna dari pada generalisasi. Penelitian kualitatif mendahulukan panggilan proses daripada hasil, mengungkapkan makna dalam perspektif subjek yang diteliti, menjadikan peneliti sebagai instrumen utama, mengedepankan penelitian lapangan si peneliti berada dalam konteks penelitian. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian tindakan atau action research. Menurut pengertiannya penelitian tindakan adalah penelitian tentang hal-hal yang terjadi dimasyarakat atau kelompok sasaran, dan hasilnya langsung dapat dikenakan pada masyarakat yang bersangkutan. Ciri atau karakteristik utama dalam penelitian tindakan adalah adanya partisipasi dan kolaborasi antara peneliti dan anggota kelompok sasaran. Penelitian tindakan adalah salah satu strategi pemecahan masalah yang memanfaatkan tindakan nyata dalam bentuk proses pengembangan inovatif yang “dicoba sambil jalan” dalam seteksi dan memecahkan masalah. Dalam prosesnya, pihak-pihak yang terlibat dalam kegiatan tersebut dapat saling mendukung satu sama lain.

H.    Analisis Teori
Victor Frankl seorang psikiater dari Austria dengan teorinya yang disebut logoterapi. Menurut Frankl pada dasarnya manusia selalu menginginkan hidupnya selalu bermakna. Hidup yang tidak berarti membuat orang mengalami kehampaan eksistensial dan selanjutnya akan menimbulkan frustasi eksistensial (frustasi karena tidak bisa memenuhi keinginanya kepada makna). Konseling logoterapi merupakan konseling untuk membantu individu mengatasi masalah ketidakjelasan makna dan tujuan hidup, yang sering menimbulkan kehampaan dan hilangnya gairah hidup. Dalam logoterapi masalah adalah ujian hidup yang menurut Frankl harus dihadapi dengan keberanian dan kesabaran. Yakni keberanian untuk membiarkan masalah ini untuk sementara waktu tak terpecahkan, dan kesabaran untuk tidak menyerah dan mengupayakan penyelesaian. Logoterapi dapat digambarkan sebagai corak psikologi yang mengakui adanya dimensi kerohanian pada manusia di samping dimensi ragawi dan kejiwaan, serta beranggapan bahwa makna hidup (the meaning of life) dan hasrat untuk hidup bermakna ( the will of meaning ) merupakan motivasi utama manusiaguna meraih taraf kehidupan bermakna (the meaningful life ) yang didambakannya. Hidup akan memiliki makna dalam setiap situasi selama kita mampu mengambil hikmah, bahkan dalam penderitaan dan kepedihan sekalipun. Makna adalah sesuatu yang dirasakan penting, benar, berharga dan didambakan serta memberikan nilai khusus bagi seseorang dan layak dijadikan tujuan hidup. Setiap manusia memiliki kemampuan untuk mengambil sikap terhadap peristiwa tragis yang tidak dapat dielakkan lagi yang menimpa dirinya sendiri dan lingkungan sekitar (penderitaan dan kepedihan). Makna hidup setiap manusia dapat ditentukan sendiri olehnya, karena manusia memiliki kebebasan yang hampir tidak terbatas. Dari kebebasannya manusia dapat memilih makna atas setiap peristiwa yang terjadi dalam diri,apakah itu makna positif atupun makna yang negatif. Dan makna positif ini lahyang dimaksud dengan hidup bermakna.
I.       Sistematika Pembahasan
Sistematika pembahan dalam penelitian ini yaitu pada Bab 1 berisi pendahuluan, terdiri dari latar belakang, rumusan masalah, objek penelitian, tujuan penelitian, kontribusi penelitian, tesis statement, paradigma dan analisis teori.




















BAB II
KAJIAN PUSTAKA
A. Konseling Logoterapi
1. Tokoh Logoterapi
Tokohnya adalah Viktor Emile Frankl. Ia dilahirkan tanggal 26 Maret 1905 di Wina, Austria.  Ia kuliah dijurusan kedokteran. Setelah lulus menjadi dokter, Viktor Frankl mengambil keahlian dalam bidang Neuro-psikiatri (ahli penyakit saraf dan jiwa) dan berhasil meraih gelar Doktor dalam Ilmu Kedokteran (M.D.) dan kemudian Doktor dari dalam Ilmu Filsafat (Ph.D.) dari almameternya, Universitas Wina. Pada tanggal 3 September 1997, Ia tutup usia dalam usia cukup lanjut yaitu 92 tahun, dengan sebagian besar hidupnya diisi dengan berbagai kegiatan bermakna dan bermanfaat bagi dirinya, keluarga, masyarakat, ilmu pengetahuan, dan kemanusian. Sekitar 30 buah buku karyanya yang telah diterjemahkan dalam berbagai bahasa yang seakan-akan membuka wawasan dan memberikan pencerahan bagi para pakar dan peminat ilmu-ilmu kemanusian. Logoterapi dengan julukan kehormatan The Third Viennes School of Psychotherapy, sebagai aliran mapan setelah Psikoanalisis (Sigmund Freud) dan Psikologi Individual ( Alferd Adlet).

2. Pengertian dan Asas-asas Logoterapi
Logoterapi berasal dari kata “logos” dalam bahasa yunani berarti makna (meaning) dan juga rohani (spirituality), sedangkan “terapi” adalah penyembuhan atau pengobatan. Logoterapi secara umum dapat digambarkan sebagai corak atau psikiatri yang mengakui adanya dimensi kerohanian pada manusia di samping dimensi ragawi dan kejiwaan. Serta beranggapan bahwa makna hidup (the meaning of life) dan hasrat untuk hidup bermakna (the will to meaning)
merupakan motivasi utama manusia guna meraih taraf kehidupan bermakna (the meaningful life) yang didambakannya. Logoterapi mengemukakan asas-asas yang telah teruji kebenarannya oleh
penemunya sendiri dalam “laboratorium-hidup” kamp konsentrasi. Ada tiga asas utama logoterapi yakni :
a.       Hidup itu tetap memiliki makna (arti) dalam setiap situasi, bahkan dalam penderitaan dan kepedihan sekalipun. Makna adalah suatu yang dirasakan penting, benar, berharga dan didambakan serta memberikan nilai khusus bagi seseorang dan layak dijadikan tujuan hidup. Setiap manusia selalu mendambakan hidupnya bermakna, dan selalu berusaha mencari dan menemukannya. Makna hidup apabila berhasil ditemukan dan dipenuhi akan menyebabkan kehidupan ini berarti dan mereka yang berhasil menemukan dan mengembangkannya akan merasakan kebahagian sebagai ganjarannya sekaligus terhindar dari keputusasaan.
b.      Setiap manusia memiliki kebebasan (yang hampir tak terbatas) untuk menemukan sendiri makna hidupnya. Makna hidup dan sumbersumbernya dapat ditemukan dalam kehidupan itu sendiri, khususnya pada pekerjaan dan karya-bakti yang dilakukan, serta dalam keyakinan terhadap harapan dan kebenaran serta penghayatan atas keindahan, iman, dan kasih. Selain itu, sikap tepat yang kita ambil atas penderitaan yang tidak dapat diubah lagi merupakan sumber makna hidup.
c.       Setiap manusia memiliki kemampuan untuk mengambil sikap terhadap penderitaan dan peristiwa tragis yang tidak dapat dielakkan lagi yang menimpa diri sendiri dan lingkungan sekitar, setelah upaya mengatasinya telah dilakukan secara optimal tetap tak berhasil. Maksudnya, jika kita tidak mungkin mengubah suatu keadaan (tragis), sebaiknya kita mengubah sikap atas keadaan itu agar kita tidak terhanyut secara negatif oleh keadaan itu. Tentu saja dengan jalan mengambil sikap tepat dan baik, yakni sikap yang menimbulkan kebijakan pada diri sendiri dan orang lainn serta sesuai dengan nilai-nilai kemanusian dan norma-norma lingkungan yang berlaku.
3. Landasan Filsafat Logoterapi
Setiap aliran dalam psikologi memiliki landasan filsafat kemanusiaan yang mendasari seluruh ajaran, teori, dan penerapannya. Dalam hal ini logoterapi pun memiliki filsafat manusia yang merangkum dan melandasi asas-asas, ajaran, dan tujuan logoterapi, yaitu :
a.       The Freedom of Will (Kebebasan Berkehendak), kebebasan ini sifatnya bukan tak-terbatas karena manusia adalah makhluk serba terbatas. Manusia sekalipun dianggap makhluk yang memiliki berbagai potensi luar biasa, tetapi sekaligus memiliki juga keterbatasan dalam aspek ragawi (tenaga, daya tahan, stamina, usia), aspek kejiwaan (kemampuan, keterampilan, kemauan, ketekunan, bakat, sifat, tanggung jawab pribadi), aspek sosial budaya (dukungan lingkungan, kesempatan, tanggung jawab sosial, ketaatan pada norma), dan aspek kerohanian (iman, ketaatan beribadah, cinta kasih). Kebebasan manusia pun bukan merupakan kebebasan dari (freedom from) bawaan biologis, kondisi psikososial, dan kesejarahannya, melainkan kebebasan untuk menentukan sikap (freedom to take a stand) terhadap kondisi-kondisi tersebut, baik kondisi lingkungan maupun kondisi diri sendiri.
b.      The Will to Meaning (Hasrat untuk Hidup Bermakna), setiap orang menginginkan dirinya menjadi orang yang bermartabat dan berguna bagi dirinya, keluarga, lingkungan kerja, masyarakat sekitar, dan berharga di mata Tuhan. Keinginan untuk hidup bermakna memang benar-benar merupakan motivasi utama pada manusia. Hasrat inilah yang mendorong setiap orang untuk melakukan berbagai kegiatan agar hidupnya dirasakan berarti dan berharga. Hasrat untuk hidup bermakna ini sama sekali bukan sesuatu yang khayali dan diada-adakan, melainkan benar-benar suatu fenomena kejiwaan yang nyata dan dirasakan pentingnya dalam kehidupan seseorang. Bila hasrat ini dapat dipenuhi, kehidupan akan dirasakan berguna, berharga, dan berarti (meaningfull). Sebaliknya bila tidak terpenuhi akan meneybabkan kehidupan dirasakan tak bermakna (meaningless).
c.       The Meaning of Life (Makna Hidup), makna hidup adalah hal-hal yang dianggap sangat penting dan berharga serta memberikan nilai nkhusus bagi seseorang, sehingga layak dijadikan tujuan dalam kehidupan (the purpose in life). Bila hal itu berhasil dipenuhi akan menyebabkan seseorang merasakan kehidupan yang berarti dan pada akhirnya akan menimbulkan perasaan bahagia (happiness). Dan makna hidup ternyata ada dalam kehidupan itu sendiri, dan dapat ditemukan dalam setiap keadaan yang menyenangkan dan tak menyenangkan, keadaan bahagia, dan penderitaan. Ungkapan seperti “Makna dalam Derita” (Meaning in Suffering) atau “Hikmah dalam Musibah” (Blessing in Disguise) menunjukan bahwa dalam penderitaan sekalipun makna hidup tetap ditemukan.

4. Pengertian Konseling Logoterapi
Berbagai aliran, teori, dan pandangan psikologis sering memberi corak khusus pada kegiatan konseling (dan psikoterapi). Artinya, konseling banyak merujuk pada asas-asas, metode, pendekatan, teori, dan pandangan itu dalam membantu mereka yang bermasalah.

5. Proses Konseling Logoterapi
Proses konseling pada umumnya mencakup tahap-tahap: perkenalan, pengungkapan, dan penjajagan masalah, pembahasan bersama, evaluasi dan penyimpulan, serta pengubah sikap dan perilaku. Biasanya setelah masa konseling berakhir masih dilanjutkan dengan pemantuan atas upaya peerubahan perilaku dan klien dapat melakukan konsultasi lanjutan apabila memerlukan. Di lain pihak tentu saja corak dan proses konseling dapat berbeda-beda sesuai teori dan metode yang dianut, serta permasalahan dan tujuan yang ingi dicapai. Dan dalam kenyataannya, konseling logoterapi sangat luwes, dalam artian bisa direktif dan bisa non-direktif serta tidak kaku dalam mengikuti tahapan-tahapan konseling.

6. Komponen-komponen dan Aplikasi Konseling Logoterapi
Komponen-komponen pribadi dalam konseling logoterapi adalah kemampuan, potensi, dan kualitas insani dari diri klien yang dijajagi, diungkap, dan difungsikan pada proses konseling dalam rangka meningkatkan kesadaran terhadap makna dan tujuan hidupnya. Dalam konseling logoterapi berusaha meningkatkan kesadaran atas kualitas dan kemampuan pribadi seperti pemahaman diri, pengubahan sikap, pengarahan diri, tanggung jawab, komitmen, keimanan, cinta kasih, hati nurani, penemuan makna hidup, merupakan hal-hal penting yang mennetukan keberhasilan konseling. Selain itu, klien disadarkan pula atas rasa tanggung jawab untuk mengubah sikap dan perilakunya menjadi lebih baik dan lebih sehat serta bermanfaat bagi dirinya dan lingkungannya. Konseling logoterapi sama seperti konseling pada umumnya, merupakan kegiatan menolong (helping activity) di mana seorang konselor memberikan
bantuan psikologis kepada seorang klien yang membutuhkan bantuan untuk pengembangna diri.
Dengan demikian tahapan-tahapan  pada konseling logoterapi :
a.       Tahap perkenalan dan pembinaan rapport diawali dengan menciptakan suasana nyaman untuk konsultasi dengan membina rapport yang makin lama makin membuka peluang sebuah encounter. Inti sebuah encounter adalah penghargaan pada sesama manusia , ketulusan hati dan pelayanan.
b.      Pada tahap pembahasan bersama, konselor dan klien bersama-sama membahas dan menyamakan persepsi atas masalah yang dihadapi. Tujuannya untuk menemukan arti hidup seklaipun dalam penderitaan.
d.      Tahap evaluasi dan penyimpulan mencoba memberi interpretasi atas informasi yang diperoleh sebagai bahan untuk tahap selanjutnya, yaitu perubahan sikap dan perilaku klien. Pada tahap-tahap ini tercakup modifikasi sikap, orientasi terhadap makna hidup, penemuan, dan pemenuhan makna, dan pengurangan simptom.

B. Aspek Spiritual
Salah satu pandangan orisinal Viktor Frankl adalah mengintegrasikan fenomena spiritualitas dalam sistem psikofisik dan kepribadian manusia serta memanfaatkannya dalam metode psikoterapi. Ia pun menunjukkan bahwa spiritualitas adalah dimensi penting dalam eksistensi manusia di samping ragawi, kejiwaan, dan sosio-budaya. Manusia seutuhnya dalam pandangan logoterapi adalah unitas bio-psiko-sosiokultural-spiritual. Sebenarnya istilah spirit, spirituality atau kerohanian bukan istilah baru, melainkan sudah sejak lama ada dalam wawasan setiap agama dan budaya. Dalam psikologi istilah ini dianggap sebagai konsep paling abstrak serta memiliki bermacam-macam pengertian, konotasi, dan interpretasi sehingga benar-benar
sulit didefinisikan. Perlu dijelaskan bahwa sebutan “spirituality” dalam pandangan logoterapi tidak mengandung konotasi keagamaan karena dimensi ini dimiliki manusia tanpa memandang ras, ideolodi, agama, dan keyakinannya. Pengertian spirit dan dimensi spiritual dalam logoterapi dengan demikian bercorak antropologis dan bukan teologis. Viktor Frankl sendiri secara eksplisit
menyatakan bahwa pandangannya mengenai spiritualitas ini bersifat sekuler. Untuk itu Frankl kemudian menggunakan istilah neotic sebagai padanan spirit atau spirituality, supaya tidak disalahpahami sebagai konsep agama. Berbeda dari agama yang meninjau fenomena spiritual yang penting di dunia dan akhirat, logoterapi meninjaunya dari segi medis. Artinya dimensi spiritual adalah sumber kesehatan (the source of health) yang tidak pernah terkena sakit sekalipun orangnya menderita sakit secara fisik dan mental. Kalaupun dimensi neotik ini tidak berfungsi secara optimal biasanya terjadi karena kita sendiri kurang memahami, menyadari, dan mengabaikannya atau terhambat oleh berbagai gangguan emosi serta penyakit fisik dan psikis.
Dalam kenyataan sering disaksikan ungkapan kata-kata yang benar dan perbuatan yang tepat dari seorang penderita penyakit jiwa. Sekalipun fisik dan mental dalam kondisi sakit, cinta
kasih, dan rasa estetika yang bersumber dari dimensi spiritual tetap berfungsi dan sama sekali tidak terganggu. Menurut kamus Webster kata ”spirit” berasal dari kata benda bahasa latin ”spritus” yang berarti nap[as dan kata kerja “spirare” yang berarti untuk bernapas. Melihat asal katanya, untuk hidup adalah untuk bernapas, dan memiliki napas artinya memiliki spirit. Menjadi spiritual berarti memiliki ikatan yang lebih kepada hal yang bersifat kerohanian atau kejiwaan dibandingkan hal yang bersifat fisik atau material. Spiritualitas merupakan kebangkitan atau pencerahan diri dalam mencapai tujuan dan makna hidup. Spiritualitas merupakan bagian
esensial dari keseluruhan kesehatan dan kesejahteraan seseorang. Spiritualitas dalam pengertian yang luas, merupakan hal yang berhubungan dengan spirit. Sesuatu yang spiritual memiliki kebenaran abadi yang berhubungan dengan tujuan hidup manusia, sering dibandingkan dengan
sesuatu yang bersifat duniawi dan sementara.

C. Narkoba
1. Pengertian Narkoba
Istilah narkoba bukanlah istilah kedokteran atau psikologis. Istilah itu, walaupun sering digunakan institusi resmi (termasuk pemerintah ), bahkan digunakan dalam undang-undang, hanya merupakan singkatan dari kata-kata “narkotika” dan “obat-obat berbahaya”. Dalam ilmu kedokteran narkotika dan obat-obat berbahaya justru sering digunakan untuk tujuan pengobatan, karena itu, yang berbahaya bukan narkoba itu sendiri, melainkan penyalahgunaan narkoba untuk tujuan-tujuan lain diluar tujuan kedokteran. Istilah “narkotika” berasal dari bahasa yunani “narkosis” yang dikemukakan oleh Bapak Ilmu Kedokteran, Hipokrates, untuk zat-zat yang menimbulkan mati rasa atau rasa lumpuh. Dalam undang-undang AS, yang dimaksud narkotika adalah opium, variasi dari opium (kodein, heroin atau awam menyebutnya “putau”), termasuk zat sintesis (morphin), dan kokain (disebut juga “koka”). Marijuana (awam : ganja), walaupun di Indonesia dilarang oleh undang-undang dan digolongkan sebagai narkotika, sebetulnya bukan tergolong narkotika, baik dari sudut struktur kimia zat itu, maupun dari dampak pemakiannya (hanya menimbulkan ketergantungan, tidak mematikan). Belanda adalah salah satu negara yang melegalkan marijuana. LSD (index, sabu-sabu, dan obat-obat psikedelik lain yang memberi efek euphoria (perasaan senang, riang, nyaman yang semu) juga bukan termasuk jenis narkkotika, walaupun damkpaknya lebih serius daripada ganja (bisa menimbulkan reaksi paranoid jika berhenti menggunakannya). Di negara-negara Eropa dan Amerika Serikat dan beberapa negara lain, minuman keras (alkohol) juga dikontrol ketat karena dampaknya bisa sangat berbahaya jika digunakan secara berlebihan atau dikonsumsi anak-anak dibawah umur. Narkoba adalah zat atau obat yang berasal dari tanaman atau bukan tanaman, baik yang sintetis maupun semisintetis yang dapat menyebabkan penurunan atau penambahan kesadaran, hilangnya rasa, mengurangi hingga menghilangkan rasa nyeri dan dapat menimbulkan ketergantungan.

2. Macam-macam Narkoba
Narkoba dibagi dalam 3 jenis, yaitu narkotika, psikotropika, dan bahan adiktif lainnya. Tiap jenis dibagi-bagi kedalam beberapa kelompok :

a. Narkotika
Narkotika adalah zat atau obat yang berasal dari tanman atau bukan tanaman, baik sintetis maupun bukan sintetis, yang dapat menyebabkan penurunan atau perubahan kesadaran dan hilangnya rasa. Zat ini mengurangi sampai menghilangkan rasa nyeri dan dapat menimbulkan ketergantungan. Berdasarkan Undang-Undang No. 35 tahun 2009, jenis narkotika dibagi
kedalam tiga kelompok, yaitu narkotika golongan I, golongan II, dan golongan III.  Narkotika golongan I adalah narkotika yang paling berbahaya, daya adiktifnya sangat tinggi. Golongan ini tidak boleh digunakan untuk kepentingan apa pun, kecuali untuk penelitian atau ilmu pengetahuan. Contohnya adalah ganja, heroin, kokain, morfin, opium, dan lain-lain.
Narkotika golongan II adalah narkotika yang memiliki daya adiktif kuat, tetapi bermanfaat untuk pengobatan dan penelitian. Contohnya adalah petidin dan turunannya, benzetidin, betametadol, dan lain-lain. Narkotika golongan III adalah narkotika yang memiliki daya adiktif ringan, tetapi bermanfaat untuk pengobatan dan penelitian. Contohnya kodein dan turunnya.

b. Psikotropika
Psikotropika adalah zat atau obat bukan narkotika, baik alamiah maupun sintetis, yang memiliki khasiat psikoaktif melalui pengaruh selektif pada susunan saraf pusat yang menyebabkan perubahan khas pada aktivitas normal dan perilaku. Psikotropika adalah obat yang digunakan opleh dokter untuk mengobati gangguan jiwa (psyche). Berdasarkan Undang-Undang No. 5 tahun 1997, psikotropika dapat dikelompokkan menjadi 4 golongan. Golongan I adalah psikotropika dengan daya adiktif yang sangat kuat, belum diketahui manfaatnya untuk pengobatan, dan sedang diteliti khasiatnya. Contohnya adalah MDMA, ekstasi, LSD dan STP. Golongan II adalah psikotropika dengan daya adiktif kuat serta berguna untuk pengobatan dan
penelitian. Contohnya adalah amfetamin, metamfetamin, metakualon, dan sebagainya. Golongan III adalah psikotropika dengan daya adiktif sedang serta berguna untuk pengobatan dan penelitian. Contohnya adalah lumibal, buprenorsina, fleenitrazepam, dan sebagainya. Golongan IV adalah psikotropika yang memiliki daya adiktif ringan serta berguna untuk pengobatan dan penelitian. Contohnya adalah nitrazepam (mogadon, dumolid), diazepam, dan sebagainya.

c. Zat adiktif lainnya
Yang dimaksud disini adalah bahan atau zat yang berpengaruh psikoaktif diluar yang disebut narkotika dan psikotropika, meliputi :
a.       Minuman beralkohol, mengandung etanol etil alkohol yang berpengaruh menekan susunan syaraf pusat, dan sering menjadi bagian dari kehidupan manusia sehari-hari dalam kebudayaan tertentu. Jika digunakan sebagai campuran dengan narkotika atau psikotropika, memperkuat pengaruh obat atau zat itu dalam tubuh manusia. Ada 3 golongan minuman beralkohol, yaitu Golongan A (kadar etanol 1-5% seperti bir), Golongan B (kadar etanol 5-20% seperti berbagai jenis minuman anggur), dan Golongan C(kadar etanol 20-45% seperti Whiskey, Vodka, TKW, Manson House, Johny Walker, Kamput).
b.      Inhalansia (gas yang dihirup) dan solven (zat pelarut) mudah menguap berupa senyawa organik, yang terdapat pada berbagai barang keperluan rumah tangga, kantor dan sebagai pelumas mesin. Yang sering disalahgunakan antara lain lem, thinner, penghapus cat kuku bensin.
c.       Tembakau: pemakaian tembakau yang mengandung nikotin sangat luas dimasyarakat. Pada upaya penanggulangan narkoba di masyarakat, pemakaian rokok dan alkohol terutama pada remaja, harus menjadi bagian dari upaya pencegahan, karena rokok dan alkohol sering menjadi pintu masuk penyalahgunaan narkoba yang lebih berbahaya.

3. Sifat Jahat Narkoba
Berbeda dengan obat atau zat lainnya, narkoba memiliki 3 sifat jahat yang dapat membelenggu pemakainya yaitu :
a.       Habitual
Habitual adalah sifat pada narkoba yang membuat pemakainya akan selalu teringat, terkenang dan terbayang sehingga cenderung untuk selalu mencari dan rindu (seeking).
b.      Adiktif
Adiktif adalah sifat narkoba yang membuat pemakainya terpaksa memakai terus dan tidak dapat menghentikannya. Penghentian atau pengurangan pemakaian narkoba akan menimbulkan “efek putus zat” atau withdrawal effect, yaitu perasaan sakit luar biasa, orang awam biasa menyebutnya Sakaw.
c.       Toleran
Toleran adalah sifat narkoba yang membuat tubuh pemakainnya semakin lama semakin menyatu dengan narkoba dan menyesuaikan diri dengan narkoba itu sehingga menuntut dosis pemakaian yang semakin tinggi. Bila dosisnya tidak dinaikkan, narkoba itu tidak akan bereaksi, tetapi membuat pemakainya menjadi sakaw. Dan untuk memperoleh efek yang sama dengan
efek di masa sebelumnya, dosis pemakaian harus dinaikkan. Bila lama kelamaan kenaikan dosis itu telah melebihi kemampuan toleransi tubuh, maka terjadilah efek sakit yang luar biasa dan mematikan. Kondisi seperti itu disebut overdosis.

4. Tahap dan Tingkat Pemakai Narkoba
Tiap jenis narkoba mempunyai sifat yang berbeda-beda. Oleh karena itu dampaknya terhadap pemakai juga berbeda-beda. Secara umum pengguna narkoba terdiri dari 4 tahap, yaitu :
a.       Tahap Awal : coba-coba
Mulanya hanya coba-coba, kemudian karena terjerat oleh 3 sifat jahat narkoba, ia menjadi mau lagi dan lagi. Sangat sulit untuk mengenali gejala awal narkoba. Gejala awal ini hanya dapat diketahui oleh orang yang sangat dekat dengan pemakai, gejala tersebut adalah sebagai berikut:
1.      Gejala Psikologis, terjadi perubahan pada sikap anak. Orang tua yang peka dapat merasakan adanya sedikit perubahan perilaku pada anak, yaitu timbulnya rasa takut dan malu yang disebabkan oleh perasan bersalah dan berdosa.anak menjadi lebih sensitif. Jiwanya resah dan gelisah.
2.      Pada Fisik, perubahan tidak tampak pada tubuh anak. Tanda-tanda perubahan pada tubuh sebagai dampak pemakaian narkoba belum terlihat.


b.      Tahap kedua : pemula.
Setelah tahap eksperimen atau coba-coba, lalu meningkat menjadi terbiasa. Anak mulai memakai narkoba secara insidentil. Ia memakai narkoba karena sudah merasakan kenikmatannya. Pada tahp ini akan muncul gejala sebagai berikut :
1.      Gejala psikologis, sikap anak menjadi lebih tertutup, banyak hal yang tadinya terbuka kini menjadi rahasia. Jiwanya resah, gelisah, kurang tenang, dan lebih sensitif. Hubungan dengan keluarganya mulai renggang, tidak lagi riang, cerah dan ceria.
2.      Pada fisik, tidak tampak perubahan yang nyata. Gejala pemakaian berbeda-beda sesaui dengan jenis narkoba yang dipakai.
c.       Tahap ketiga adalah tahap berkala.

Setelah beberapa kali memakai narkoba sebagai pemakai insidentil, pemakai narkoba terdorong untuk memakai lebih sering lagi. Selain merasa nikmat, ia juga mulai merasakan sakaw kalau terlambat atau berehenti mengonsumsi narkoba. ia memakai narkoba pada saat tertentu secara rutin.
1.      Ciri mental, sulit bergaul dengan teman baru. Pribadinya menjadi lebih tertutup, lebih sensitif, dan mudah tersnggung. Ia sering bangun siang, agak malas, dan mulai gemar berbohong.
2.      Cirik fisik, terjadi gejala sebaliknya dari tahap 1 dan 2. Bila sedang memakai ia tampak normal, tidak tampak tanda-tanda yang jelas. Bila sedang tidak memakai tampak kurang sehat, kurang percaya diri, murung, gelisah, malas.
d.      Tahap keempat adalah tahap tetap (madat)
Setelah menjadi pemakai narkoba secara berkala, pemakai narkoba akan dituntut oleh tubuhnya sendiri untuk semakin sering memakai narkoba denga dosis yang semakin tinggi pula. Pada tahap ini pemakai tidak dapat lagi lepas dari narkoba, ia harus selalu memakai narkoba. tanpa narkoba ia tidak dapat berbuat apa-apa.
1. Tanda-tanda psikis, sulit bergaul dengan teman baru, eksklusif, tertutup, sensitif, mudah tersinggung, egois, mau menang sendiri, malas, sering bangun siang, menyukai hidup di malam hari. Ia pada berbohong, gemar menipu, sering mencuri atau merampas demi memperoleh uang untuk narkoba., ia tidak merasa bera untuk berbuat jahat bahkan untuk membunuh orang lain.
2. Tanda-tanda fisik, biasanya kurus dan lemah (loyo), mata sayu, gigi menguning kecoklatan dan sering kali keropos. Biasanya kulit agak kotor, tanda bekas sayatan dan jarum suntik. ( kenali narkoba dan musuhi penyalahgunanya)

5. Penyalahguna Narkoba
Penyalahgunaan narkoba adalah penggunaan salah satu atau beberapa jenis narkoba secara perkala atau teratur diluar indikasi medis, sehingga menimbulkan gangguan kesehatan fisik, psikis dan gangguan fungsi sosial. Ketergantungan narkoba adalah keadaan dimana telah terjadi ketergantungan fisik dan psikis, sehingga tubuh memerlukan jumlah narkoba yang makin bertambah (torelansi), apabila pemakaiannya dikurangi atau diberhentikan akan timbul gejala putus zat (withdrawal syamptom). Oleh karena itu ia selalu berusaha memperoleh narkoba
yang dibutuhkannya dengan cara apapun, agar dapat melakukan kegiatannya
sehari-hari secara normal. Penyebab penyalahgunaan narkoba sangat kompleks akibat interaksi antar faktor yang terikat dengan individu, faktor lingkungan dan faktor tersedianya zat.
Tidak adanya penyebab tunggal (single cause), faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya penyalahgunaan narkkoba adalah sebagi berikut :
1. Faktor individu
Kebanyakan penyalahgunaan narkoba dimulai atau terdapat pada masa remaja, sebab remaja yang sedang menagalami perubahan biologik, psikologik, maupun sosial yang pusat merupakan individu yang rentan untuk menyalahgunakan narkoba. anak atau remaja dengan ciri-ciri tertentu mempunyai resiko lebih besar untuk menjadi penyalahguna narkoba. Ciri-ciri tersebut antara lain, cenderung memberontak dan menolak otoritas, cenderung memiliki gangguan jiwa lain (komorbiditas) seperti depresi, cemas, psikotik, kepribadian dissosial, prilaku
menyimpang dari aturan atau norma yang berlaku, rasa kurang percaya diri (low self-confidence), rendah diri dan memiliki citra diri negatif (low self-esteem), sifat mudah kecewa, cenderung agresif dan destruktif, mudah murung, pemalu, pendiam, mudah merasa bosan dan jenuh, keingintahuan yang besar untuk mencoba atau penasaran, pinginan untuk bersenangsenang
(just for fun). Keinginan untuk mengikuti mode, karena karena dianggap sebagai lambang keperkasaan dan kehidupan modern, keinginan diterima dalam pergaulan, identitas diri yang kabur, sehingga merasa diri kurang “jantan”,  tidak siap mental untuk menghadapi tekanan pergaulan sehingga sulit mengambil keputusan untuk menolak tawaran narkoba dengan tegas, kemampuan komunikasi rendah, melarikan diri dari sesuatu (kebosanan, kegagalan, kekecewaan, ketidakmampuan, kesepian dan kegetiran hidup, malu dan lain-lain), putus sekolah dan kurang mengahayati iman kepercayaan.
2. Faktor lingkungan
Faktor lingkungan meliputi faktor keluarga dan lingkungan pergaulan baik di sekitar rumah, sekolah, teman sebaya maupun masyarakat. Faktor keluarga, terutama faktor orang tua yang ikut menjadi penyebab seorang anak atau remaja menjadi penyalahguna narkoba antara lain adalah lingkungan dan keluarga, komunikasi orang tua-anak kurang baik dan efektif, hubungan
dalam keluarga kurang harmonis atau disfungsi dalam keluarga, orang tua bercerai, berselingkuh atau kawin lagi, orang tua terlalu sibuk atau tidak acuh, orang tua otoriter atau serba melarang, orang tua yang serba membolehkan (permisif). Di sisi lain, kurangnya orang yang dapat dijadikan model atau teladan, orang tua kurang peduli dan tidak tahu dengan masalah narkoba, tata tertib atau disiplin keluarga yang selau berubah (kurang konsisten), kurangnya kehidupan beragama atau menjalankan ibadah dalam keluarga, orang tua atau anggota keluarga yang menjadi penyalahguna narkoba.

D. Kerangka Berpikir
Kerangka berpikir merupakan sintetis tentang hubungan antara dua variabel yang
disusun dari berbagai teori yang dideskripsikan. Dua variabel yang dimaksud dalam
kerangka berpikir adalah adanya hubungan antara penggunaan model yang diterapkan
dalam pembelajaran dengan hasil yang dicapai. Uma Sekaran mengatakan bahwa
kerangka berpikir adalah suatu model konseptual tentang bagaimana teori
berhubungan dengan berbagai faktor yang telah diidentifikasikan sebagai masalah
yang penting.








BAB III
METODOLOGI

A.    Metode Penelitian
Metode berasal dari bahasa yunani methodos yang berarti cara atau jalan. Jadi metode merupakan jalan yang berkaitan dengan cara kerja dalam mencapai sasaran yang diperlukan bagi penggunanya, sehingga dapat memahami objek sasaran yang dikehendaki dalam upaya mencapai sasaran atau tujuan pemecahan permasalahannya.Penelitian adalah terjemahan dari bahasa inggris “research”. Ada ahli yang mengindonesiakan research menjadi riset. Kata research berasal dari kata re yang berarti kembali dan to seacrh yang berarti mencari. Dengan demikian arti yang sebenarnya dari research adalah mencari kembali. Metode penilitian pada dasarnya
merupakan cara ilmiah untuk mendapatkan data dengan tujuan dan kegunaan tertentu.

B.     Jenis dan Desain Penelitian
1.      Jenis Penelitian
Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian kualitatif, yaitu metode penelitian yang berlandaskan pada filsafat postpositivisme, digunakan untuk meneliti pada kondisi obyek yang alamiah, dimana peneliti adalah sebagai instrumen kunci, teknik pengumpulan data dilakukan secara triangulasi (gabungan), analisis data bersifat induktif atau
kualitatif, dan hasil penelitian kualitatif lebih menekankan makna dari pada generalisasi. Penelitian kualitatif mendahulukan panggilan proses daripada hasil, mengungkapkan makna dalam perspektif subjek yang diteliti, menjadikan peneliti sebagai instrumen utama, mengedepankan penelitian lapangan si peneliti berada dalam konteks penelitian.
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian tindakan atau action research. Menurut pengertiannya penelitian tindakan adalah penelitian tentang hal-hal yang terjadi dimasyarakat atau kelompok sasaran, dan hasilnya langsung dapat dikenakan pada masyarakat yang bersangkutan. Ciri atau karakteristik utama dalam penelitian tindakan adalah adanya partisipasi dan kolaborasi antara peneliti dan anggota kelompok sasaran. Penelitian tindakan adalah salah satu strategi pemecahan masalah yang memanfaatkan tindakan nyata
dalam bentuk proses pengembangan inovatif yang “dicoba sambil jalan” dalam seteksi dan memecahkan masalah. Dalam prosesnya, pihak-pihak yang terlibat dalam kegiatan tersebut dapat saling mendukung satu sama lain.

2. Desain Penelitian
Ada beberapa model yang dapat diterapkan dalam penelitian tindakan, tetapi yang paling dikenal dan biasa digunakan adalah model yang dikemukakan oleh Kemmis dan Mc Taggart. Model tersebut memiliki empat langkah yang merupakan satu siklus atau putaran, artinya sesudah langkah ke empat, lalu kembali ke langkah pertama dan seterusnya. Secara utuh, tindakan yang diterapkan dalam penelitian tindakan melalui tahapan sebagai berikut :
a. Tahap 1 : Menyusun rancangan tindakan dan dikenal dengan perencanaan (planning), yang menjelaskan tentang apa, mengapa, kapan, dimana, oleh siapa, dan bagaimana tindakan tersebut dilakukan. Penelitian tindakan yang ideal sebetulnya dilakukan secara berpasangan antara pihak yang melakukan tindakan dan pihak yang mengamati proses jalannya tindakan. Cara ini dikatakan ideal karena adanya upaya untuk mengurangi unsur subjektivitas pengamat serta mutu kecermatan amatan yang dilakukan. Dalam tahap menyusun rancangan, peneliti menentukan titik-titik atau fokus peristiwa yang perlu mendapatkan perhatian khusus untuk diamati, kemudian membuat sebuah instrumen pengamatan untuk membantu peneliti merekam fakta yang terjadi selama tindakan berlangsung. Dalam hal ini peneliti menyiapkan Rencana Pelaksanaan Layanan atau RPL serta membuat sebuahminstrumen pengamatan untuk membantu peneliti selama tindakan berlangsung.
b. Tahap 2 : Pelaksanaan tindakan (action), yaitu implementasi atau penerapan isi rancangan di dalam kancah, yaitu mengenakan tindakan konseling logoterapi untuk meningkatkan aspek spiritual. Hal yang perlu diingat adalah bahwa dalam tahap 2 ini pelaksana harus ingat dan taat
pada apa yang sudah dirumuskan dalam rancangan, tetapi harus pula berlaku wajar. Tentu saja membuat modifikasi tetap diperbolehkan, selama tidak mengubah prinsip.
c. Tahap 3 : Pengamatan (observasi), yaitu pelaksanaan pengamatan oleh pengamat, yang mengamati konseling logoterapi dalam meningkatkan aspek spiritual pengguna narkoba di Yayasan Sinar Jati Kemiling.
d. Tahap 4 : Refleksi, atau pantulan, yaitu kegiatan untuk mengemukakan kembali apa yang sudah terjadi. Dalam hal ini peneliti menuliskan laporan hasil dari pengamatan pada konseling logoterapi dalam meningkatkan aspek spiritual pengguna narkoba.
Keempat tahap dalam penelitian tindakan tersebut merupakan satu siklus, yaitu satu putaran kegiatan beruntun, dari tahap penyusunan rancangan sampai dengan refleksi, yang tidak lain adalah evaluasi. Apabila dikaitkan dengan contoh tindakan perbaikan catatan, maka yang dimaksud dengan bentuk tindakan adalah pengumpulan catatan. Jadi bentuk penelitian tindakan tidak pernah kegiatan tunggal tetapi rangkaian kegiatan yang akan kembali ke asal, yaitu dalam bentuk siklus. Penelitian ini juga memiliki tiga siklus yaitu siklus I, siklus II, dan siklus III dengan menggunakan tahap-tahap yang sudah dijelaskan diatas.

C.    Tempat dan Waktu Penelitian
Tempat yang akan peneliti gunakan berkenaan dengan judul yang diangkat adalah Yayasan Sinar Jati Kemiling Bandar Lampung. Penelitian ini dilaksanakan mulai bulan Desember 2016 sampai Januari 2017.

D.    Metode Pengumpulan Data
1. Wawancara
Wawancara adalah merupakan pertemuan dua orang untuk bertukar informasi dan ide melalui tanya jawab, sehingga dapat dikonstruksikan makna dalam suatu topik tertentu. Wawancara digunakan sebagai teknik pengumpulan data apabila peneliti ingin melakukan studi pendahuluan untuk menemukan permasalahan yang harus diteliti, tetapi juga apabila peneliti ingin mengetahui hal-hal dari responden lebih mendalam. Teknik pengumpulan data ini mendasarkan diri pada laporan tentang diri sendiri atau self-report, atau setidak-tidaknya pada pengetahuan dan atau keyakinan pribadi. Menurut Esterberg mengemukakan beberapa macam wawancara yaitu:
a. Wawanca terstruktur
Wawancara terstuktur digunakan sebagai teknik pengumpulan data, bila peneliti atau pengumpul data telah mengetahui dengan pasti tentang informasi apa yang akan diperoleh. Oleh karena itu dalam melakukan wawancara, pengumpul data telah menyiapkan instrumen penelitian berupa pertanyaanpertanyaan tertulis yang alternatif jawabannya pun telah disiapkan. Dengan
wawancara terstruktur ini setiap responden diberi pertanyaan yang sama, dan pengumpul data mencatatnya.
b. Wawancara Semiterstruktur
Jenis wawancara ini sudah termasuk dalam kategori in-dept interview, dimana dalam pelaksanaannya lebih bebas bila dibandingkan dengan wawancara terstruktur. Tujuan dari wawancara jenis ini adalah untuk menemukan permasalahan secara lebih terbuka, di mana pihak yang diajak wawancara diminta pendapat dan ide-idenya. Dalam melakukan wawancara
peneliti perlu mendengarkan secara teliti dan mencatat apa yang dikemukakan oleh informan.
c. Wawancara tak berstruktur
Wawancara tidak terstruktur, adalah wawancara yang bebas di mana peneliti tidak menggunakan pedoman wawancara yang telah tersusun secara sistematis dan lengkap untuk pengumpulan datanya. Pedoman wawancara yang digunakan hanya berupa garis-garis besar permasalahan yang akan ditanyakan. Wawancara tidak terstruktur atau terbuka, sering digunakan
dalam penelitian pendahuluan atau untuk penelitian yang lebih mendalam tentang subyek yang diteliti. Dalam penelitian ini peneliti menggunakan teknik wawancara tak berstruktur, karena peneliti belum mengetahui secara pasti data apa yang akan diperoleh, sehingga peneliti lebih banyak mendengarkan apa yang diceritakan responden. Berdasarkan analisis terhadap setiap jawaban dari responden tersebut, maka peneliti dapat mengajukan berbagai pertanyaan berikutnya yang lebih terarah pada suatu tujuan. Dalam melakukan wawancara peneliti
menggunakan cara “berputar-putar lalu menukik” artinya pada awal wawancara, yang dibicarakan adalah hal-hal yang tidak terkait dengan tujuan, dan bila sudah terbuka kesempatan untuk menanyakan sesuatu yang menjadi tujuan, maka segera ditanyakan.

2. Observasi
Pengamatan atau observasi adalah kegiatan pengamatan (pengambilan data) untuk memotret seberapa jauh efek tindakan telah mencapai sasaran. Dalam menggunakan metode observasi cara yang paling efektif adalah melengkapinya dengan format dan blangko pengamatan sebagai instrumen. Jadi observasi adalah suatu teknik pengumpulan data dengan
mengamati responden agar mengetahui tindakan yang diberikan telah mencapai sasaran atau belum. Teknik pengumpulan data dengan observasi digunakan bila, penelitian berkenaan dengan perilaku manusia, proses kerja, gejala-gejala alam, dan bila responden yang diamati tidak terlalu besar. Dari segi proses pelaksanaan pengumpulan data, observasi dapat dibedakan menjadi participant observation (observasi berperan serta) dan non participant observation, selanjutnya dari segi instrumen yang digunakan, maka observasi dapat dibedakan menjadi observasi terstruktur dan tidak terstruktur.
1. Observasi berperan serta (participant observation)
Dalam observasi ini, peneliti terlibat dengan kegiatan sehari-hari orang yang sedang diamati atau yang digunakan sebagai sumber data penelitian. Sambil melakukan pengamatan, peneliti ikut melakukan apa yang dikerjakan oleh sumber data, dan ikut merasakan suka dukanya. Dengan observasi partisipan ini, maka data yang diperoleh akan lebih lengkap,
tajam, dan sampai mengetahui pada tingkat makna dari setiap prilaku yang tampak.
2. Observasi nonpartisipan
Kalau dalam observasi partisipan peneliti terlibat langsung dengan aktivitas orang-orang yang sedang diamati , maka dalam observasi nonpartisipan peneliti tidak terlibat dan hanya sebagai pengamat independen. Pengumpulan data dengan observasi nonparrtisipan ini tidak akan mendapatkan data yang mendalam dan tidak sampai pada tingkat makna. Makna adalah nilai-nilai di balik perilaku yang tampak, yang terucapkan dan yang tertulis.
a.    Observasi terstruktur
Observasi terstruktur adalah observasi yang telah dirancang secara sistematis, tentang apa yang akan diamati, kapan dan di mana tempatnya. Jadi observasi terstruktur dilakukan apabila peneliti telah tahu dengan pasti variabel apa yang akan diamati. Dalam melakukan pengamatan peneliti menggunakan instrumen penelitian yang telah diuji validitas dan realibilitasnya.
b.    Observasi tidak terstruktur
Observasi tidak terstruktur adalah observasi yang tidak dipersiapkan secara sistematis tentang apa yang akan diobservasi. Halini dilakukan karena peneliti tidak tahu secara pasti tentang apa yang diamati. Dalam melakukan pengamatan peneliti tidak menggunakan instrumen yang telah baku, tetapi hanya rambu-rambu pengamatan. Metode observasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah observasi berperan serta (participant observation) dan observasi terstruktur, dalam pelaksanaannya peneliti melakukan tindakan dan mengamati aktivitas pelaksanaan layanan konseling logoterapi. Adapun hal yang akan di observasi adalah aspek spiritual pengguna narkoba setelah dilakukan tindakan layanan konseling logoterapi. Observasi dilakukan untuk memperoleh data tentang peningkatan aspek spiritual peserta didik pengguna narkoba.

3. Dokumentasi
Dokumen merupakan catatan peristiwa yang sudah berlalu. Dokumen bisa berbentuk tulisan, gambar, atau karya-karya monumental dari seseorang. Dokumen yang berbentuk tulisan misalnya catatan harian, sejarah kehidupan (life histories), ceritera, biografi, peraturan, kebijakan. Dokumen yang berbentuk gambar, misalnya foto, gambar hidup, sketsa dan lain-lain.
Dokumen yang berbentuk karya misalnya karya seni, yang dapat berupa gambar, patung, film, dan lain-lain. Studi dokumen merupakan pelengkap dari penggunaan metode observasi dan wawancara dalam penelitian kualitatif. Dalam penelitian ini metode dokumentasi digunakan untuk mendapatkan data tentang kondisi obyektif Yayasan Sinar Jati Kemiling seperti sejarah
berdirinya, visi dan misi, keadaan petugas, keadaan peserta rehabilitas, dan keadaan sarana prasarana, serta dokumen yang berbentuk gambar seperti foto, dan lain-lain.
E.     Metode Analisis Data
Dalam penelitian ini analisis data diwakali oleh momen refleksi putaran penelitian tindakan. Dengan melakukan refleksi peneliti akan memiliki wawasan autentik yang akan membantu dalam menafsirkan datanya. Melalui refleksi penelitian inilah diperoleh data dan informasi sebanyak-banyaknya mengenai konseling logoterapi dalam meningkatkan aspek spiritual pengguna narkoba di Yayasan Sinar Jati Kemiling Bandar Lampung.
Analisis data kualitatif adalah bersifat induktif, yaitu suatu analisis berdasarkan data yang diperoleh, selanjutnya dikembangkan pola hubungan tertentu atau menjadi hipotesis. Aktivitas dalam analisis data kualitatif dilakukan secara interaktif dan berlangsung secara terus menerus sampai tuntas. Aktivitas dalam analisis data yaitu:
1. Data reduction (reduksi data) mereduksi data berarti merangkup, memilih hal-hal pokok, memfokuskan pada hal-hal penting, dicari tema dan polanya dan membuang yang tidak perlu.
2. Display (penyajian data) setelah data reduksi, maka langkah selanjutnya adalah mendisplaykan data. Dalam penelitian kualitatif, penyajian data biasa dilakukan dalam bentuk uraian singkat, hubungan antara katagori dan sejenisnya. Yang paling sering digunakan untuk menyajikan data dalam penelitian kualitatif adalah dengan teks yang bersifat naratif. Selanjutnya
selain melakukan display data selain dengan teks yang naratif, juga dapat berupa grafik, manik, network (jejaring kerja) dan chart. Dengan mendisplaykan data akan memudahkan untuk memahami apa yang terjadi, merencanakan kerja selanjutnya, berdasarkan apa yang telah dipahami.
3. Penarikan kesimpulan langkah ketiga dalam analisi data kualitatif menurut Miles dan Huberman adalah penarikan kesimpulan data verivikasi. Kesimpulan awal yang ditemukan masih bersifat sementara, dan akan berubah bila tidak ditemukan bukti-bukti yang kuat dan mendukung pada tahap pengumpulan data berikutnya. Kesimpulan dalam kualitatif yang diharapkan adalah temuan baru yang sebelumnya belum pernah ada. Temuan dapat berupa deskripsi atau gambaran suatu obyek yang sebelumnya masih remangremang sehingga setelah diteliti akan menjadi jelas, dapat berupa hubungan kausal atau interaktif, hipotesis atau teori.
4. Target ketercapaian dalam penelitian ini adalah peserta didik penyalahguna narkoba di Yayasan Sinar Jati Kemiling Bandar Lampung mampu dalam meningkat aspek spiritual dalam dirinya melalui konseling logoterapi.

F.     Pengujian Kredibilitas Data
Uji keabsahan data dalam penelitian, sering hanya ditekankan pada uji validitas dan reliabilitas. Dalam penelitian kuantitatif, kriteria utama terhadap data hasil penelitian adalah, valid, reliabel dan obyektif. Validitas merupakan derajad ketepatan antara data yang terjadi pada obyek penelitian dengan daya yang dapat dilaporkan oleh peniliti. Dengan demikian data yang valid adalah data “yang tidak berbeda” antar data yang dilaporkan oleh peneliti dengan data yang sesungguhnya terjadi pada obyek penelitian.
Pada penelitian ini peneliti menggunakan uji kredibilitas data yaitu dengan menggunakan triangulasi. Pengecekan dengan cara pemeriksaan ulang. Pemeriksaan ulang bisa dan biasa dilakukan sebelum dan atau sesudah data dianalisis. Pemeriksaan dengan cara triangulasi dilakukan untuk meningkatkan derajat kepercayaan dan akurasi data. Triangulasi dalam pengujian kredibilitas ini diartikan sebagai pengecekan data dari berbagai sumber dengan berbagai cara dan berbagai waktu.
Dengan demikian ada beberapa macam triangulasi yaitu :
1. Triangulasi sumber, triangulasi sumber untuk menguji kredibilitas data dilakukan dengan cara mengecek data yang telah diperoleh melalui beberapa sumber.
2. Triangulasi teknik, triangulasi teknik untuk menguji kredibilitas data dilakukan dengan cara mengecek data kepada sumber yang sama dengan teknik yang berbeda.
3. Triangulasi waktu, waktu juga sering mempengaruhi kredibilitas data. Untuk itu dalam rangka pengujian kredibilitas data dapat dilakukan dengan cara melakukan pengecekan dengna wawancara, observasi atau teknik lain dalam waktu atau situasi yang berbeda.
Dalam hal ini peneliti melakukan pengujian kredibilitas data menggunakan triangulasi sumber, yaitu dengan cara mengecek data yang diperoleh dari beberapa sumber (wawancara, observasi, dan dokumen.
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Penelitian
1. Deskripsi Daerah Penelitian
Yayasan Sinar Jati Kemiling Lampung merupakan wadah atau tempat pelayanan dan rehabilitasi sosial penyandang masalah kesejahteraan sosial. Yayasan Sinar Jati Kemiling Lampung telah dirintis sejak tahun 1992 yang merupakan salah satu lembaga yang bergerak dibidang kesejahteraan sosial namun belum berbadan hukum. Pada tahun 2000 mulai didaftarkan dan disahkan sebagai lembaga yang berbadan hukum yang bernama “Yayasan Sinar Jati” dengan Akte Notaris No.18 tanggal 3 Maret 2000 yang berlokasi di jalan Marga No.14/200 Kelurahan Sumberejo Kecamatan Kemiling Bandar Lampung.
Lembaga Kesejahteraan Sosial (LKS) yang ditangani di Yayasan Sinar Jati adalah:
a.        Panti Bina Laras yaitu menangani masalah penderitaan psikotik dan ek psikotik.
b.      Panti Pamardi Putra yaitu menangani masalah korban penyalahgunaan Narkoba (Napza)
c.       Panti Welas Asih yaitu menangani masalah Lansia atau Jompo terlantar.
d.      Panti Nur Qolbu yaitu menangani masalah Anak Jalanan dan Anak Terlantar.
e.       Panti Gepeng Sinar Jati yaitu menangani masalah gelandangan dan pengemis.

Lembaga Kesejahteraan Sosial (LKS) Pamardi Putra adalah Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) yang bekerja sama dengan Dinas Sosial, Dinas Kesehatan (RSU. Abdoel Moeloek) dan Pemerintah Daerah (PEMDA) Propinsi Lampung, yang bergerak dibidang Pembinaan atau Pelayanan dan Rehabilitasi Korban Napza akibat dari penyalahgunaan obat-obatan terlarang (NAPZA). Metode yang diterapkan melalui pengobatan secara medis dan non medis yang meliputi: bimbingan fisik, mental, batin, sosial kerohanian dan keterampilan. LKS Pamardi Putra Yayasan Sinar Jati telah ditunjuk oleh Kementrian Sosial sebagai Institusi Penerima Wajib Lapor (IPWL) bagi korban penyalahgunaan Napza dengan SK No.40/HUK/2015.
a. Tujuan
Tujuan LKS Pamardi Putra yaitu :
            1)          Pemulihan, penyadaran dan kepercayaan diri agar dapat berperan aktif akan fungsi diri dan rasa tanggung jawab terhadap diri sendiri, keluarga, masyarakat dan negara.
            2)          Meningkatkan gairah dan kenikmatan hidup yang dapat membangun potensi diri dalam menghadapi segala bentuk persoalan yang selalu beriringan dengan waktu.

b. Visi dan Misi
      1)            Visi
a.       Membantu umat dengan hikmat

      2)            Misi
a.       Menjadikan manusia yang manusiawi, mampu berfikir untuk memperbaiki skala sikap diri.
b.      Menjadikan pribadi-pribadi yang mampu memimpin dirinya sendiri.
c.       Menjadikan manusia yang mampu bersosialisasi dan mampu menempatkan diri.
d.      Menjadikan manusia yang mampu berkarya untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.

2. Hasil Penelitian Sebelum diberikan Tindakan
Sebelum memasuki siklus I dan II peneliti melakukan siklus sebelum diberikan tindakan, siklus ini dilakukan untuk membandingkan klien sebelum dan sesudah diberikan tindakan. Kondisi awal klien akan dijelaskan satu persatu dibawah ini.
a.        Kondisi awal peserta didik Rm
Peserta didik Rm berusia 15 tahun, Rm pasien termuda yang ada di Yayasan Sinar Jati Kemiling. Rm masuk ke panti rehabilitas pada bulan lalu ia didapati sedang menggunakan ekstasi oleh gurunya dibelakang sekolah. Rm mengaku bahwa ia hanya coba-coba dan ikut-ikutan teman. Kondisi awal spiritual Rm sebelum diberikan konseling logoterapi menunjukan bahwa masih kurang ini terlihat dari lembar observasi Rm dan hasil wawancara yang dilakukan. Dalam dimensi-dimensi aspek spiritual Rm masih banyak yang belum berkembang ini terlihat dari kurangnya pengetahuan Rm mengenai makna dan tujuan hidupannya, tidak memiliki misi hidup dan sebagainya.
Dari beberapa pertanyaan yang peneliti berikan dapat diambil kesimpulan bahwa masih kurangnya aspek spiritual Rm, ini didukung juga oleh hasil observasi pra tindakan yang dilakukan oleh petugas yang ada di Yayasan Sinar Jati Kemiling. Oleh karena itu peserta didik harus diberikan tindakan kkonseling logoterapi agar diharapkan dapat meningkatkan aspek spiritualnya.


b.       Kondisi awal peserta didik Iz
Peserta didik Iz berusia 17 tahun, Iz adalah pasien baru yang berada di Yayasan Sinar Jati Kemiling. Iz telah menggunakan narkoba jenis ganja selama setahun, dan baru dimasukkan kedalam panti rehabilitas baru ini. Kondisi awal peserta didik Iz masih belum stabil dikarenakan masih adanya penyesuaian diri Iz terhadap lingkungan panti. Oleh karena itu peneliti masih sulit untuk melakukan wawancara terhadap peserta didik Iz. Namun dari hasil observasi yang dilakukan petugas Yayasan Sinar Jati Kemiling, aspek spiritual peserta didik Iz masih dalam kategori kurang ini terlihat dari jawaban pertanyaan observasi dan nilai dari lembar observasi yang menunjukan bahwa peserta didik Iz masih dalam kategori kurang.

c.        Kondisi awal pada peserta didik Ang
Peserta didik Ang adalah pasien rehabilitas yang terlama berada di Yayasan Sinar Jati Kemiling, Ang masuk ke panti pada tahun lalu dkarenakan dia menggunakan narkoba jenis shabu. Kondisi awal aspek spiritual peserta didik Ang sebelum dilakukan tindakan konseling logoterapi menunjukkan cukup. Ini terlihat dari hasilobservasi dan wawancara yang dilakukan terhadap peserta didik Ang. Dalam hasil observasi peserta didik Ang menunjukkan bahwa aspek spiritual yang ada pada dirinya dalam kategori cukup dilihat dari hasil observasi yang dilakukan oleh petugas Yayasan Sinar Jati Kemiling. Ini diperkuat dengan hasil wawancara yang dilakukan peneliti terhadap pseserta didik Ang, dalam hasil wawancara terlihat bahwa dimensi-dimensi spiritual peserta didik Ang sudah mencukupi, walaupun masih jauh dalam kata baik.
Dari beberapa pertanyaan yang peneliti berikan dapat diambil kesimpulan bahwa aspek spiritual Ang dalam keadaan cukup, ini didukun juga oleh hasil observasi pra tindakan yang dilakukan oleh petugas yang ada di Yayasan Sinar Jati Kemiling. Oleh karena itu peserta didik harus diberikan tindakan konseling logoterapi agar diharapkan dapat meningkatkan aspek spiritualnya.

d.       Kondisi awal peserta didik Ar
Peserta didik Ar adalah salah satu pasien yang ada di Yayasan Sinar Jati Kemiling. Peserta didik Ar sudah menjalani rehabilitas selama kurang lebih satu bulan. Peserta didik Ar menggunakan narkoba jenis shabu, sudah hampir 1 tahun ia menggunakannya. Pada awalnya pesera didik Ar hanya coba-coba dari dosis rendah, namun semakin lama Ar semakin kencanduan dan menambah dosisnya. Ar mengaku tidak bisa lepas dari obat tersebut walaupun Ar berusaha untuk tidak meminum obat tesebut. Dari data observasi dan wawancara aspek spiritual peserta didik Ar menunjukkan bahwa masih kurang. Ini terlihat dari hasil wawancara yang didukung oleh hasil dari observasi. Dalam dimensi-dimensi spiritual yang diberikan masih banyak yang belum terpenuhi oleh peserta didik Ar, dapat dilihat dari masih bingungnya Ar menjelaskan maknadan tujuan hidupnya serta kurangnya Ar melakukan ibadah dan lainnya.
Dari beberapa pertanyaan yang peneliti berikan dapat diambil kesimpulan bahwa masih kurangnya aspek spiritual Ar, ini didukung juga oleh hasil observasi pra tindakan yang dilakukan oleh petugas yang ada di Yayasan Sinar Jati Kemiling. Oleh karena itu peserta didik harus diberikan Tuhan, serta menghormati orang lain dalam menjalankan ibadah sesuai dengan agamanya.
Kondisi awal sebelum penelitian peserta didik yang mendapatkan nilai 3,20-4,00 berjumlah 0 peserta didik dengan rata-rata persentasi 0% yang termasuk kategori sangat baik, peserta didik yang mendapatkan nilai 2,80-3,19 berjumlah 0 peserta didik dengan rata-rata persentasi 0% yang termasuk kategori baik, peserta didik yang mendapatkan nilai 2,40-2,79 berjumlah 2 peserta didik dengan rata-rata persentasi 40% yang termasuk kategori cukup, dan peserta didik yang mendapatkan nilai < 2,40 berjumlah 3 peserta didik dengan rata-rata 60% yang termasuk dalam kategori kurang.

3. Hasil Penelitian Siklus I
Pelaksanaan tindakan siklus I dilaksanakan pada tanggal 18 Januari sampai dengan 1 Februari 2017, tahapan dari siklus I dapat diuraikan sebagai berikut :
a.    Siklus I terhadap peserta didik Rm
1.      Perencanaan
Rangkaian kegiatan yang dilakukan pada tahap perencanaan sebagai berikut :
a.       Menyusun Rencana Pelaksanaan Layanan (RPL)
Sehari sebelum melakukan pelaksanaan terlebih dahulu membuat Rencana Pelaksanaan Layanan (RPL) dengan konseling logoterapi. Model konseling logoterapi umumnya menggunakan langkah-langkah yang relatif sama dengan sesi konseling lainnya :
                           1)          Tahap perkenalan dan pembinaan rapport
Pada tahap ini diawali dengan menciptakan suasana nyaman untuk konsultasi dengan membina rapport yang semakin lama semakin membuka peluang untuk sebuah encounter. Inti sebuah encounter adalah penghargaan pada sesama manusia, ketulusan hati, dan pelayanan. Percakapan pada tahap ini tidak jarang memberikan efek terapi bagi peserta didik.
                           2)          Tahap pengungkapan dan penjajagan masalah
Pada tahap ini konselor mulai membuka dialog mengenai masalah yang dihadapi konseli. Berbeda dengan konseling lain yang cenderung membeiarkan konseli “sepuasnya” mengungkapkan masalahnya, dalam logoterapi konseli sejak awal diarahkan untuk menghadapi masalah itu sebagai kenyataan.
                           3)           Tahap pembahasan bersama
Konselor dan konseli bersama-sama membahas dan menyamakan persepsi atas masalah yang dihadapi. Tujuannya untuk menemukan arti hidup sekalipun dalam penderitaan.
                           4)          Tahap evaluasi dan penyimpulan
Pada tahap ini konselor mencoba untuk memberi interpretasi atas informasi yang diperoleh sebagai bahan untuk tahap selanjutnya, yaitu perubahan sikap dan perilaku konseli. Pada tahap-tahap ini tercakup modifikasi sikap, orientasi terhadap makna hidup, penemuan dan pemenuhan makna, dan pengurangan symptom.

2.      Pelaksaan Tindakan
a.        Melakukan perkenalan dan pembinaan rapport
Sebelum memasuki tahap pengungkapan dan penjajagan masalah peneliti meperkenalkan diri dan menciptakan suasana nyaman agar klien lebih rileks dan lebih terbuka. Setelah itu peneliti akan memasuki encounter, yaitu membangun hubungan antarpribadi yang ditandai oleh keakraban dan keterbukaan, serta sikap dan kesediaan untuk saling menghargai, memahami, dan menerima sepenuhnya satu sama lain. Efek terapi yang didapat pada tahap ini adalah membantu membuka pandangan konseli terhadap berbagai nilai dan pengalaman hidup yang secara potensial memungkinkan ditemukannya makna hidup, yakni bekerja dan berkarya; menghayati cinta kasih, keindahan dan kebenaran; sikap yang tepat menghadapi musibah yang tak terelakkan; serta memberikan harapan akan terjadinya perubahan yang lebih baik di masa mendatang.
Pertama-tama peneliti melakukan perkenalan dengan klien. Peneliti memperkenalkan diri, tujuan wawancara, dan menanyakan kabar klien. Membuat suasana nyaman agar terciptanya keterbukaan antara peneliti dan klien. Setelah itu peneliti menanyakan alasan klien mengapa menggunakan narkoba, apa yang melatarbelakangi klien untuk menggunakan narkoba dan bagaimana klien bisa sampai menggunakan narkoba. Disini peneliti tidak memaksa klien untuk bercerita, disini peneliti mengarahkan klien agar terbuka dan menceritakan semua dengan ikhlas tanpa ada paksaan dari pihak manapun.
b.       Tahap pengungkapan dan penjajagan masalah
Pada tahap ini konselor mulai membuka dialog dan menanyakan kesulitan atau masalah yang dihadapi oleh konseli serta mengarahkan konseli untuk menghadapi masalah itu sebagai kenyataan yang harus diterima dan dapat dihadapi.
Dalam tahap pengungkapan dan penjajagan masalah peneliti menanyakan apa yang melatarbelakangi peserta didik dalam menggunakan narkoba. Rm mengatakan yang melatarbelakangi ia menggunakan narkoba adalah paksaan atau ajakan dari teman-temannya. Jika ia tidak memakai narkoba temantemannya akan mengejek dan merendahkannya oleh karena itu ia menggunakan narkoba. Masalah yang didapat dalam tahap ini adalah adanya paksaan terhadap Rm dan masih kurangnya Rm membentengi dan memahami dirinya sendiri.
c.       Tahap pembahasan bersama
Dalam tahapan pembahasan bersama, konselor dan klien saling menyatukan persepsi atas masalah yang dihadapi, dan bersama-sama menemukan cara untuk menghadapi masalah yang sedang menimpa konseli. Dalam tahap ini peneliti dan peserta didik Rm bersama-sama mencari jawaban atas masalah yang Rm hadapi. Setelah menemukan jawaban yang memungkinkan dapat menyelesaikan masalah Rm. Peneliti dan Rm menyatukan persepsi dan menyetujui jawaban tersebut serta melaksanakannya. Lalu peneliti mengarahkan Rm untuk mencari tujuan hidup dan nilai spiritual yang terdapat dalam dirinya. Agar Rm tidak terjerumus kembali dalam hal-hal yang tidak baik.
d.       Pada tahap evaluasi dan penyimpulan
Konselor mencoba menginterprestasi atas informasi yang diperoleh sebagai bahan untuk selanjutnya, yaitu perubahan sikap dan perilaku konseli. Setelah itu konselor meminta konseli untuk menyimpulkan hasil yang didapat selama melakukan sesi konseling. Dalam tahap ini peneliti mengajukan pertanyaan yang dapat menginterpretasi Rm. Selanjutnya peneliti membiarkan Rm untuk menyimpulkan apa yang didapat dalam sesi konseling dan melakukan token kontrak untuk melakukan hasil yang didapat dalam sesi konseling. Setelah itu Rm mengucapkan terimakasih kepada peniliti dan kembali keruang rehabilitas.

3.      Observasi
Setelah pemberian tindakan peserta didik Rm diamati perkembangannya. Observasi dilakukan dengan lembar observasi yang dilakukan oleh petugas yang berada di yayasan Sinar Jati Kemiling. Dari hasil observasi peserta didik Rm mengalami kemajuan dari hasil observasi sebelumnya, ini terlihat dari angka nilai yang menunjukan kenaikan. Dan kategori Rm yang berubah dari kurang menjadi baik. Perubahan-perubahan spiritual Rm terjadi tidak terlalu signifikan, masih kurangnya Rm dalam memahami potensi yang ada pada dirinya.

4.       Refleksi
Setelah melakukan tindakan dan observasi, peneliti masuk kedalam refleksi. Didalam refleksi peneliti melakukan kegiatan untuk mengemukakan kembali apa yang sudah terjadi. Dalam hal ini peneliti menuliskan laporan hasil dari pengamatan pada konseling logoterapi dalam meningkatkan aspek spiritual pengguna narkoba. Dari hasil observasi dapat disimpulkan bahwa peserta didik Rm masih kurang mengeri mengenai apa itu aspek spiritual dan memaknai hidupnya. Oleh karena itu peneliti akan memfokuskan hal tersebut pada siklus II agar terjadi peningkatan yang lebih signifikan.

b. Siklus I terhadap peserta didik Iz
1.  Perencanaan
Rangkaian kegiatan yang dilakukan pada tahap perencanaan sebagai
berikut :
a.       Menyusun Rencana Pelaksanaan Layanan (RPL)
Sehari sebelum melakukan pelaksanaan terlebih dahulu membuat Rencana Pelaksanaan Layanan (RPL) dengan konseling logoterapi. Model konseling logoterapi umumnya menggunakan langkah-langkah yang relatif sama dengan sesi konseling lainnya :
                              1)            Tahap perkenalan dan pembinaan rapport
Pada tahap ini diawali dengan menciptakan suasana nyaman untuk konsultasi dengan membina rapport yang semakin lama semakin membuka peluang untuk sebuah encounter. Inti sebuah encounter adalah penghargaan pada sesama manusia, ketulusan hati, dan pelayanan. Percakapan pada tahap ini tidak jarang memberikan efek terapi bagi peserta didik.
                              2)             Tahap pengungkapan dan penjajagan masalah
Pada tahap ini konselor mulai membuka dialog mengenai masalah yang dihadapi konseli. Berbeda dengan konseling lain yang cenderung membeiarkan konseli “sepuasnya” mengungkapkan masalahnya, dalam logoterapi konseli sejak awal diarahkan untuk menghadapi masalah itu sebagai kenyataan.
                              3)             Tahap pembahasan bersama
Konselor dan konseli bersama-sama membahas dan menyamakan persepsi atas masalah yang dihadapi. Tujuannya untuk menemukan arti hidup sekalipun dalam penderitaan.
                              4)            Tahap evaluasi dan penyimpulan
Pada tahap ini konselor mencoba untuk memberi interpretasi atas informasi yang diperoleh sebagai bahan untuk tahap selanjutnya, yaitu perubahan sikap dan perilaku konseli. Pada tahap-tahap ini tercakup modifikasi sikap, orientasi terhadap makna hidup, penemuan dan pemenuhan makna, dan pengurangan symptom.

2.      Pelaksaan Tindakan
a.       Melakukan perkenalan dan pembinaan rapport
Sebelum memasuki tahap pengungkapan dan penjajagan masalah peneliti meperkenalkan diri dan menciptakan suasana nyaman agar klien lebih rileks dan lebih terbuka. Setelah itu peneliti akan memasuki encounter, yaitu membangun hubungan antarpribadi yang ditandai oleh keakraban dan keterbukaan, serta sikap dan kesediaan untuk saling menghargai, memahami, dan menerima sepenuhnya satu sama lain. Efek terapi yang didapat pada tahap ini adalah membantu membuka pandangan konseli terhadap berbagai nilai dan pengalaman hidup yang secara potensial memungkinkan ditemukannya makna hidup, yakni bekerja dan berkarya; menghayati cinta kasih, keindahan dan kebenaran; sikap yang tepat menghadapi musibah yang tak terelakkan; serta memberikan harapan akan terjadinya perubahan yang lebih baik di masa mendatang.
Pertama-tama peneliti melakukan perkenalan dengan klien. Peneliti memperkenalkan diri, tujuan wawancara, dan menanyakan kabar klien. Membuat suasana nyaman agar terciptanya keterbukaan antara peneliti dan klien. Setelah itu peneliti menanyakan alasan klien mengapa menggunakan narkoba, apa yang melatarbelakangi klien untuk menggunakan narkoba dan bagaimana klien bisa sampai menggunakan narkoba. Disini peneiti tidak memaksa klien untuk bercerita, disini peneliti mengarahkan klien agar terbuka dan menceritakan semua dengan ikhlas tanpa ada paksaan dari pihak manapun.
b.       Tahap pengungkapan dan penjajagan masalah
Pada tahap ini konselor mulai membuka dialog dan menanyakan kesulitan atau masalah yang dihadapi oleh konseli serta mengarahkan konseli untuk menghadapi masalah itu sebagai kenyataan yang harus diterima dan dapat dihadapi. Dalam tahap pengungkapan dan penjajagan masalah peneliti menanyakan apa yang melatarbelakangi peserta didik dalam menggunakan narkoba. Ar mengatakan yang melatarbelakangi ia menggunakan narkoba adalah karena adanya masalah keluarga lalu ia kabur dari rumah dan teman-temannya merekomendasikannya narkoba untuk menyelesaikan masalahnya. Dari masalah diatas dapat diambil kesimpulan masih kurangnya pemahaman Ar tentang narkoba dan kurangnya kontrol diri yang mengakibatkan Ar melampiaskan masalahnya dengan obat-obatan terlarang.
c.       Tahap pembahasan bersama
Dalam tahapan pembahasan bersama, konselor dan klien saling menyatukan persepsi atas masalah yang dihadapi, dan bersama-sama menemukan cara untuk menghadapi masalah yang sedang menimpa konseli. Dalam tahap ini peneliti dan peserta didik Ar bersama-sama mencari jawaban atas masalah yang Ar hadapi. Setelah menemukan jawaban yang memungkinkan dapat menyelesaikan masalah Ar. Peneliti dan Ar menyatukan persepsi dan menyetujui jawaban tersebut serta melaksanakannya. Lalu peneliti mengarahkan Ar untuk mencari tujuan hidup dan nilai spiritual yang terdapat dalam dirinya. Agar Ar tidak terjerumus kembali dalam hal-hal yang tidak baik.
d.       Pada tahap evaluasi dan penyimpulan
Konselor mencoba menginterprestasi atas informasi yang diperoleh sebagai bahan untuk selanjutnya, yaitu perubahan sikap dan perilaku konseli. Setelah itu konselor meminta konseli untuk menyimpulkan hasil yang didapat selama melakukan sesi konseling. Dalam tahap ini peneliti mengajukan pertanyaan yang dapat menginterpretasi Ar. Selanjutnya peneliti membiarkan Ar untuk menyimpulkan apa yang didapat dalam sesi konseling dan melakukan token kontrak untuk melakukan hasil yang didapat dalam sesi konseling. Setelah itu Ar mengucapkan terimakasih kepada peniliti dan kembali keruang rehabilitas.
3.       Observasi
Setelah pemberian tindakan peserta didik Ar diamati perkembangannya. Observasi dilakukan dengan lembar observasi yang dilakukan oleh petugas yang berada di yayasan Sinar Jati Kemiling. Dari hasil observasi peserta didik Ar mengalami kemajuan dari hasil observasi sebelumnya, ini terlihat dari angka nilai yang menunjukan kenaikan. Dan kategori Ar yang berubah dari kurang menjadi baik. Perubahan-perubahan spiritual Ar terjadi tidak terlalu signifikan, masih kurangnya Rm dalam memahami potensi yang ada pada dirinya.
4.       Refleksi
Setelah melakukan tindakan dan observasi, peneliti masuk kedalam refleksi. Didalam refleksi peneliti melakukan kegiatan untuk mengemukakan kembali apa yang sudah terjadi. Dalam hal ini peneliti menuliskan laporan hasil dari pengamatan pada konseling logoterapi dalam meningkatkan aspek spiritual pengguna narkoba. Dari hasil observasi dapat disimpulkan bahwa peserta didik Ar masih kurang mengeri mengenai apa itu aspek spiritual dan memaknai hidupnya. Oleh karena itu peneliti akan memfokuskan hal tersebut pada siklus II agar terjadi peningkatan yang lebih signifikan.

e. Siklus I terhadap peserta didik An
1. Perencanaan
Rangkaian kegiatan yang dilakukan pada tahap perencanaan sebagai
berikut :
a.        Menyusun Rencana Pelaksanaan Layanan (RPL)
Sehari sebelum melakukan pelaksanaan terlebih dahulu membuat Rencana Pelaksanaan Layanan (RPL) dengan konseling logoterapi. Model konseling logoterapi umumnya menggunakan langkah-langkah yang relatif sama dengan sesi konseling lainnya :
1)        Tahap perkenalan dan pembinaan rapport
Pada tahap ini diawali dengan menciptakan suasana nyaman untuk konsultasi dengan membina rapport yang semakin lama semakin membuka peluang untuk sebuah encounter. Inti sebuah encounter adalah penghargaan pada sesama manusia, ketulusan hati, dan pelayanan. Percakapan pada tahap ini tidak jarang memberikan efek terapi bagi peserta didik.
2)        Tahap pengungkapan dan penjajagan masalah
Pada tahap ini konselor mulai membuka dialog mengenai masalah yang dihadapi konseli. Berbeda dengan konseling lain yang cenderung membeiarkan konseli “sepuasnya” mengungkapkan masalahnya, dalam logoterapi konseli sejak awal diarahkan untuk menghadapi masalah itu sebagai kenyataan.
3)        Tahap pembahasan bersama
Konselor dan konseli bersama-sama membahas dan menyamakan persepsi atas masalah yang dihadapi. Tujuannya untuk menemukan arti hidup sekalipun dalam penderitaan.
4)         Tahap evaluasi dan penyimpulan
Pada tahap ini konselor mencoba untuk memberi interpretasi atas informasi yang diperoleh sebagai bahan untuk tahap selanjutnya, yaitu perubahan sikap dan perilaku konseli. Pada tahap-tahap ini tercakup modifikasi sikap, orientasi terhadap makna hidup, penemuan dan pemenuhan makna, dan pengurangan symptom.

2. Pelaksaan Tindakan
a.         Melakukan perkenalan dan pembinaan rapport
Sebelum memasuki tahap pengungkapan dan penjajagan masalah peneliti meperkenalkan diri dan menciptakan suasana nyaman agar klien lebih rileks dan lebih terbuka. Setelah itu peneliti akan memasuki encounter, yaitu membangun hubungan antarpribadi yang ditandai oleh keakraban dan keterbukaan, serta sikap dan kesediaan untuk saling menghargai, memahami, dan menerima sepenuhnya satu sama lain. Efek terapi yang didapat pada tahap ini adalah membantu membuka pandangan konseli terhadap berbagai nilai dan pengalaman hidup yang secara potensial memungkinkan ditemukannya makna hidup, yakni bekerja dan berkarya; menghayati cinta kasih, keindahan dan kebenaran; sikap yang tepat menghadapi musibah yang tak terelakkan; serta memberikan harapan akan terjadinya perubahan yang lebih baik di masa mendatang.
Pertama-tama peneliti melakukan perkenalan dengan klien. Peneliti memperkenalkan diri, tujuan wawancara, dan menanyakan kabar klien. Membuat suasana nyaman agar terciptanya keterbukaan antara peneliti dan klien. Setelah itu peneliti menanyakan alasan klien mengapa menggunakan narkoba, apa yang melatarbelakangi klien untuk menggunakan narkoba dan bagaimana klien bisa sampai menggunakan narkoba. Disini peneliti tidak memaksa klien untuk bercerita, disini peneliti mengarahkan klien agar terbuka dan menceritakan semua dengan ikhlas tanpa ada paksaan dari pihak manapun.
b.    Tahap pengungkapan dan penjajagan masalah
Pada tahap ini konselor mulai membuka dialog dan menanyakan kesulitan atau masalah yang dihadapi oleh konseli serta mengarahkan konseli untuk menghadapi masalah itu sebagai kenyataan yang harus diterima dan dapatdihadapi. Dalam tahap pengungkapan dan penjajagan masalah peneliti menanyakan apa yang melatarbelakangi peserta didik dalam menggunakan narkoba. An mengatakan yang melatarbelakangi ia menggunakan narkoba adalah rasa penasaran An terhadap barang tersebut dan didukung oleh lingkungan sekitarnya yang mana teman-temannya banyak menggunakan narkoba, dan akhirnya An mencoba sampai menggunakan dalam dosis tinggi. Masalah yang dapat disimpulkan dalam tahap ini adalah rasa ingi tahu An yang sangat tinggi namun An tidak memiliki filter atau pembatas untuk menyaring bahwa itu baik atau buruk untuk dirinya.
c.    Tahap pembahasan bersama
Dalam tahapan pembahasan bersama, konselor dan klien saling menyatukan persepsi atas masalah yang dihadapi, dan bersama-sama menemukan cara untuk menghadapi masalah yang sedang menimpa konseli. Dalam tahap ini peneliti dan peserta didik An bersama-sama mencari jawaban atas masalah yang An hadapi. Setelah menemukan jawaban yang
memungkinkan dapat menyelesaikan masalah An. Peneliti dan An menyatukan persepsi dan menyetujui jawaban tersebut serta melaksanakannya. Lalu peneliti mengarahkan An untuk mencari tujuan hidup dan nilai spiritual yang terdapat dalam dirinya. Agar An tidak terjerumus kembali dalam hal-hal yang tidak baik.
d.          Pada tahap evaluasi dan penyimpulan
konselor mencoba menginterprestasi atas informasi yang diperoleh sebagai bahan untuk selanjutnya, yaitu perubahan sikap dan perilaku konseli. Setelah itu konselor meminta konseli untuk menyimpulkan hasil yang didapat selama melakukan sesi konseling. Dalam tahap ini peneliti mengajukan pertanyaan yang dapat menginterpretasi An. Selanjutnya peneliti membiarkan An untuk menyimpulkan apa yang didapat dalam sesi konseling dan melakukan token kontrak untuk melakukan hasil yang didapat dalam sesi konseling. Setelah itu An mengucapkan terimakasih kepada peniliti dan kembali keruang rehabilitas.

3.       Observasi
Setelah pemberian tindakan peserta didik An diamati perkembangannya. Observasi dilakukan dengan lembar observasi yang dilakukan oleh petugas yang berada di yayasan Sinar Jati Kemiling. Dari hasil observasi peserta didik An mengalami kemajuan dari hasil observasi sebelumnya, ini terlihat dari angka nilai yang menunjukan kenaikan. Dan kategori An yang berubah dari cukup menjadi baik. Perubahan-perubahan spiritual An terjadi sangat signifikan.

4.       Refleksi
Setelah melakukan tindakan dan observasi, peneliti masuk kedalam refleksi. Didalam refleksi peneliti melakukan kegiatan untuk mengemukakan kembali apa yang sudah terjadi. Dalam hal ini peneliti menuliskan laporan hasil dari pengamatan pada konseling logoterapi dalam meningkatkan aspek spiritual pengguna narkoba. Dari hasil observasi dapat disimpulkan bahwa peserta didik An masih kurang mengeri mengenai apa itu aspek spiritual dan memaknai hidupnya..










BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

B. Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilaksanakan dan analisis hasil pada bab sebelumnya, maka pada bab ini penulis dapat menarik simpulan sebagai berikut : Bahwa melalui konseling logoterapi dapat meningkat aspek spiritual pengguna narkoba di Yayasan Sinar Jati Kemiling Bandar Lampung. Hal tersebut ditandai dari adanya peningkatan aspek spiritual. Pada kondisi awal menunjukkan bahwa 60% aspek spiritual pada peserta didik masih kurang, hal ini dapat diketahui dengan masih banyaknya peserta didik tidak memberi salam ketika sebelum dan
sesudah memberikan pendapat, kurangnya menjaga kebersihan lingkungan, kurangnya rasa tolong menolong terhadap teman yang sedang mengalami kesulitan, dan mengungkapkan kekaguman secara lisan maupun tulisan terhadap Tuhan saat melihat kebesaran Tuhan, serta menghormati orang lain dalam menjalankan ibadah sesuai dengan agamanya. Pada siklus I sebesar 60% aspek spiritual pada peserta didik menunjukan nilai sangat baik. Dan pada siklus II diketahui 80% peserta didik mendapatkan nilai sangat baik. Dengan demikian presentase tersebut telah mencapai target. Dalam grafik hasil penilaian aspek spiritual dan hasil observasi dapat diketahui bahwa dengan menggunakan konseling logoterapi dapat meningkat aspek spiritual
peserta didik pengguna narkoba di yayasan Sinar Jati Kemiling serta mengalami peningkatan aspek spiritual yang sangat baik.

C. Saran-saran
1. Bagi konselor
a.       Sebagai konselor harus lebih berfokus pada semua konseli yang bermasalah maupun sebaliknya.
b.      Berikan contoh yang baik kepada peserta didik, buatlah peserta didik membutuhkan kita dan jadilah pendengar yang baik untuk pesertadidiknya.
2. Bagi peserta didik
a.       Bertemanlah dengan orang yang dapat memotivasi dan semangat tinggi dalam perubahan diri menjadi baik.
b.      Jadilah orang yang mempunyai kepribadian yang baik yang mampu mengembangkan potensi dalam diri.
c.       Tunjukan bahwa kita bisa berubah dan bahkan menjadi yang lebih baik dari sebelumnya.

D. Penutup
Dengan mengucapkan syukur Alhamdulilah atas berkat do’a dan dukungan dari segala pihak dan hidayah dari Allah SWT yang telah memberikan petunjuknya sehingga skripsi ini dapat selesai walaupun ada kekurangan serta kekeliruan dan oleh sebab itu kritik saran bersifat konstruksif sangat diperlukan, saya sebagai penulis terimakasih sedalam-dalamnya.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

YASMIN HERINA

Tsaniyah Rohmatil Maulah

Yasinta Rokhmal Fauzia