Teguh Wahyuni
Nama : Teguh Wahyuni
NIM : B93218169
Kelas/Semester
: B5/S.2
LANGKAH-LANGKAH MENINGKATKAN ASPEK SPIRITUAL PENGGUNA NARKOBA
MELALUI KONSELING LOGOTERAPI DI YAYASAN SINAR JATI KEMILING BANDAR LAMPUNG
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Berkembangnya zaman yang semakin modern ini menyebabkan semakin kompleksnya permasalahan yang
dihadapi manusia. Permasalahan ini terjadi pada setiap golongan, tidak hanya
dari orang tua tetapi remaja bahkan anak-anak baik laki-laki maupun perempuan.
Dalam menghadapi suatu masalah dan
mengalami stress, mereka cenderung
untuk lari pada obat-obatan, baik itu yang bersifat menyembuhkan sakit
kepala maupun yang bersifat anti depresi. Tidak menutup kemungkinan mereka juga
menggunakan obat-obatan psikotropika dan narkotika.
Penggunaan obat-obatan psikotropika dan narkotika berdampak buruk
pada tubuh dan psikis si pengguna. Dari sudut pandang Islam, obat-obatan
tersebut telah tertuang dalam Al Quran surah Al Maidah ayat 90-91. Dalam ayat ini menjelaskan bahwa khamar
berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah termasuk dalam
perbuatan syaitan. Khamar adalah semua minuman yang memabukkan yang dapat
meghalangi mengingat Allah dan sembayang. Oleh sebab itu dalam ayat tersebut
melarang agar berhenti untuk melakukan perbuatan yang dapat menjauhkannya dari
Allah.
Narkoba adalah zat atau obat yang berasal dari tanaman atau bukan
tanaman, baik yang sintetis maupun semisintetis yang dapat menyebabkan
penurunan atau penambahan kesadaran, hilangnya rasa, mengurangi hingga
menghilangkan rasa nyeri dan dapat menimbulkan ketergantungan. Berdasarkan UURI
No. 35 tahun 2009 tentang narkotika, ada tiga golongan berdasarkan tinggi
rendahnya potensi yang dapat menimbulkan ketergantungan, yaitu : a. Narkotika
golongan I yakni narkotika yang hanya dapat digunakan untuk tujuan pengembangan
ilmu pengetahuan, bukan untuk digunakan dalam terapi (Papaver Somniverum L,
Opium mentah, Opium masak, tanaman Koka, daun koka, kokain mentah, kokaina, dan
ganja), b. Narkotika golongan II yakni narkotika yang digunakan untuk
pengobatan, namun merupakan pilihan terakhir (Morfin, fentanil, ekgonina,
petidina, dan berikut garam-garamnya), c. Narkotika golongan III yakni
narkotita yang digunakan untuk pengobatan atau terapi dan berpotensi pada
ketergantungan (kodein, etil morfin, dihidrokodlin, dan termasuk
garam-garamnya).
Akhir-akhir ini penggunaan narkoba semakin meningkat, banyak kasus
narkoba yang menjerat berbagai golongan masyarakat. Penyalahgunaan narkoba
menempati ranking ke-20 dunia dalam daftar faktor penyebab terganggunya
kesehatan oleh United Nations Office on Drugs and Crime (UNODC). Bahkan
penyalahgunaan narkoba tersebut menempati posisi ke-10 di kelompok negara
berkembang. Laporan Tahunan UNODC 2013 menunjukkan bahwa pada tahun 2011
diperkirakan 167-315 juta orang atau sekitar 3,6% sampai dengan 6,9% dari
penduduk berusia 15-64 tahun menggunakan narkoba minimal sekali dalam setahun.
Di Indonesia diperkirakan jumlah penyalahgunaan narkoba ada
sebanyak 3,8 juta sampai 4,1 juta orang yang pernah pakai dalam setahun
terakhir(current users) pada kelompok usia 10-59 tahun di tahun 2014. Dalam
terminology internasional ada 2 jenis penyalahguna narkoba, yaitu pernah pakai
(ever used) dan setahun terakhir pakai (current users).
Dalam studi ini mengklasifikasi kategori pengguna narkoba menjadi 4
macam (coba pakai, teratur pakai, pecandu non suntik, dan pecandu suntik)
menurut frekuensi pemakaian atau cara pakai (hanya suntik) dari setiap kelompok
survei. Sebagian besar penyalahguna berada pada kelompok coba pakai terutama
pada kelompok pekerja. Faktor penyebabnya dalah tekanan pekerjaan yang berat,
kemampuan sosial ekonomi, dan tekanan lingkungan teman kerja.
Ganja, shabu dan ekstasi merupakan jenis narkoba yang paling banyak
disalahgunakan dikalangan pelajar atau mahasiswa, pekerja dan rumah tangga. Di
setiap kelompok ada perbedaan dalam pola pakai. Pada kelompok pelajar atau
mahasiswa yang cenderung masih dalam tahab pemula dan keterbatasan finansial
sehingga mereka banyak mengonsumsi pil koplo dan shabu. Sedangkan para pekerja,
mereka banyak mengkonsumsi shabu dan ekstasi dengan tujuan untuk meningkatkan
stamina agar tidak cepat lelah.
Dari tahun ke tahun penyalahgunaan narkoba semakin meningkat,
termasuk yang terjadi di kota Bandar Lampung. Menurut catatan pihak Satuan
Reserse Narkoba Polresta Kota Bandar Lampung, pada tahun 2012 lalu, ada
sebanyak 211 orang yang menyalahgunakan narkoba, baik sebagai pengguna,
pengedar maupun bandar. Kemudian meningkat menjadi 300 orang pada tahun 2013.
Dan sebanyak 83 orang pada triwulan pertama di tahun 2014.
Jumlah pemakai narkoba di kalangan pelajar di Lampung dari tahun ke
tahun jumlah semakin meningkat berdasarkan hasil riset yang dilakukan oleh
Badan Narkotika Nasional (BNN) Provinsi Lampung. Kepala bidang (Kabid)
Pencegahan dan Pembinaan Masyarakat Badan Narkotika Nasional (BNN) Provinsi
Lampung, Alamsyah mengungkapkan bahwa, dari hasil riset yang dilakukan mulai
dari tahun 2011 hingga saat ini jumplah pelajar yang terjerat kasus narkoba
jumlahnya meningkat 2 persen dari jumlah total tingkat penduduk di Lampung.
Hal itu di buktikan dengan hasil persentase pra penelitian di
Yayasan Sinar Jati Kemiling berikut ini :
Tabel 2
Data Pasien Penyalahguna Narkoba di Yayasan Sinar Jati Kemiling

Sumber Data :
Laporan Hasil Pra Penelitian di Yayasan Sinar Jati Kemiling
Dari 178 orang pasien yang ada di Yayasan Sinar Jati Kemiling,
terdapat 48 orang pasien yang menggunakan narkoba terdiri dari 1 orang pasien
SMP, 6 orang pasien SMA, dan 41 orang pasien kuliah dan pekerja. Narkoba jenis
shabu dan ekstasi yang banyak dikonsumsi oleh pasien pengguna narkoba tersebut.
Penyebabnya dari faktor individu, faktor lingkungan, dan faktor tersedianya
obat (narkoba). Dari hasil pra penelitian, penyalahgunaan narkoba banyak
dimulai pada masa remaja, sebab remaja banyak mengalami perubahan biologik,
psikologik maupun sosial yang pesat merupakan individu yang rentan untuk
menyalahgunakan narkotika. Faktor spiritual juga mempengaruhi remaja dalam
penyalahgunaan narkotika.
Ajaran spiritual merupakan ajaran yang berkaitan dengan jati
diri,etika dan moral. Suatu keadaan yang menyelaraskan diri dengan nilai dasar
dari semua ajaran mulia, dan membicarakan tentang eksistensi jati diri dan
eksistensi Tuhan. Ajaran-ajaran tersebut meliputi: kesatuan dengan eksistensi
alam semesta, unsur terpenting yang tersembunyi, perwujudan pikiran, daya untuk
mengubah kehidupan, dan kekuatan dalam kesadaran kolektif.
Terdapat beberapa langkah dalam penanganan penyalahgunaan narkotika.
Langkah pertama, detoksifikasi yaitu dalam upaya menolong seseorang pecandu
atau penyalahguna narkoba. Setelah detoksifikasi terdapat berbagai macam
penanganan yaitu, penanganan biologis dan psikologis.Penanganan psikologis pada
umumnya memiliki banyak ragam, seperti penggunaan konseling CBT, token
economy, logotherapy dan
sebagainya.
Logotherapy merupakan nama
ancangan terapi bersifat transpersonal oleh Viktor Frankl, menekankan pada
dinamika personal, hubungan-hubungan transcendental manusia dengan hal gaib
yang diyakininya dan penemuan makna hidup, melalui pemikiran yang mendalam,
termasuk memikirkan pemikiran (metakognisi), memikirkan perasaan sendiri,
memikirkan tingkah laku sendiri, dan merenungi keberadaan diri dalam kaitannya
dengan keberadaan alam semesta, khususnya makna keberadaan diri dalam kaitannya
dengan keberadaan yang lain. Konseling logoterapi merupakan konseling
individual untuk masalah ketidakjelasan makna dan tujuan hidup, yang sering
menimbulkan kehampaan dan hilangnya
kegairahan. Jadi bukan untuk problema eksistensial dan patologis
berat yang memerlukan bantuan psikoterapi. Selain itu, karakteristik konseling
logoterapi adalah jangka pendek (short termed), berorientasi masa depan
(future oriented), dan berorientasi pada makna hidup (meaning
oriented). Oleh karena itu diharapkan konseling logoterapi dapat membantu
dalam penanganan pengguna narkoba pada remaja atau peserta didik. Konseling
logoterapi berandalasan pada spiritual individu dan menitikberatkan kepada
makna dan tujuan hidup.
Berdasarkan latar belakang masalah yang telah dikemukakan diatas,
maka penulis tertarik untuk meneliti lebih lanjut dan menuangkannya dalam
sebuah karya ilmiah yang berjudul “ Meningkatkan Aspek Spiritual Pengguna
Narkoba Melalui Konseling Logoterapi di Yayasan Sinar Jati Kemiling Bandar
Lampung”.
B.
Objek Penelitian
` Objek penelitian
ini adalah konseling logoterapi mampu dalam meningkatkan aspek spiritual
peserta didik SMP dan SMA yang menjadi pasien rehabilitas di Yayasan Sinar Jati
Kemiling Bandar Lampung.
C.
Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang masalah dan indentifikasi masalah
dapat dibuat rumusan masalah sebagai berikut : “Apakah Konseling logoterapi
mampu dalam meningkatkan aspek spiritual pengguna narkoba di Yayasan Sinar Jati
Kemiling Bandar Lampung ? ”.
D.
Tujuan Penelitian
Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah : “Untuk
mengetahui apakah Konseling logoterapi mampu dalam meningkatkan aspek spiritual
pada pengguna narkoba di Yayasan Sinar Jati Kemiling Bandar Lampung”.
E.
Kontribusi Penelitian
1.
Teoritis
Penelitian ini diharapkan dapat menambah pengetahuan tentang
pengaruh konseling logoterapi dalam meningkatkan aspek spiritual peserta didik
penyalahguna narkoba.
2.
Praktis
a.
Bagi peserta didik
Manfaat bagi peserta didik agar
dapat meningkatkan aspek spiritualnya dengan optimal.
b.
Bagi guru BK atau konselor
Manfaat bagi guru BK agar mengetahui
pengaruh konseling logoterapi dalam meningkatkan aspek spiritual peserta didik
penyalahguna narkoba di Yayasan Sinar Jati Kemiling Bandar Lampung dan dapat
mempraktekannya di lapangan secara maksimal.
c.
Bagi peneliti
Manfaat bagi peneliti dapat menambah
ilmu pengetahuan serta pengalaman tentang pengaruh konseling logoterapi dalam
meningkatkan aspek spiritual peserta didik penyalahguna narkoba di Yayasan
Sinar Jati Kemiling Bandar Lampung.
d.
Bagi lembaga
Bagi peserta didik penyalahguna
narkoba diharapkan pembahasan ini memberikan masukan tentang layanan yang
digunakan dalam bimbingan dan konseling.
F.
Tesis Statement
Penelitian ini berfokus pada konseling logoterapi yang diharapkan dapat
membantu dalam penanganan pengguna narkoba pada remaja atau peserta didik.
Konseling logoterapi berlandasan pada spiritual individu dan menitikberatkan
kepada makna dan tujuan hidup.
G.
Paradigma Penelitian
Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah
penelitian kualitatif, yaitu metode penelitian yang berlandaskan pada filsafat
postpositivisme, digunakan untuk meneliti pada kondisi obyek yang alamiah,
dimana peneliti adalah sebagai instrumen kunci, teknik pengumpulan data
dilakukan secara triangulasi (gabungan), analisis data bersifat induktif atau
kualitatif, dan hasil penelitian kualitatif lebih menekankan makna dari pada
generalisasi. Penelitian kualitatif mendahulukan panggilan proses daripada
hasil, mengungkapkan makna dalam perspektif subjek yang diteliti, menjadikan
peneliti sebagai instrumen utama, mengedepankan penelitian lapangan si peneliti
berada dalam konteks penelitian. Metode yang digunakan dalam penelitian ini
adalah penelitian tindakan atau action research. Menurut pengertiannya
penelitian tindakan adalah penelitian tentang hal-hal yang terjadi dimasyarakat
atau kelompok sasaran, dan hasilnya langsung dapat dikenakan pada masyarakat
yang bersangkutan. Ciri atau karakteristik utama dalam penelitian tindakan
adalah adanya partisipasi dan kolaborasi antara peneliti dan anggota kelompok
sasaran. Penelitian tindakan adalah salah satu strategi pemecahan masalah yang
memanfaatkan tindakan nyata dalam bentuk proses pengembangan inovatif yang
“dicoba sambil jalan” dalam seteksi dan memecahkan masalah. Dalam prosesnya,
pihak-pihak yang terlibat dalam kegiatan tersebut dapat saling mendukung satu
sama lain.
H.
Analisis Teori
Victor Frankl seorang psikiater dari
Austria dengan teorinya yang disebut logoterapi. Menurut Frankl pada
dasarnya manusia selalu menginginkan hidupnya selalu bermakna. Hidup yang tidak
berarti membuat orang mengalami kehampaan eksistensial dan selanjutnya akan
menimbulkan frustasi eksistensial (frustasi karena tidak bisa memenuhi
keinginanya kepada makna). Konseling logoterapi merupakan konseling untuk
membantu individu mengatasi masalah ketidakjelasan makna dan tujuan hidup, yang
sering menimbulkan kehampaan dan hilangnya gairah hidup. Dalam logoterapi
masalah adalah ujian hidup yang menurut Frankl harus dihadapi dengan keberanian
dan kesabaran. Yakni keberanian untuk membiarkan masalah ini untuk sementara
waktu tak terpecahkan, dan kesabaran untuk tidak menyerah dan mengupayakan penyelesaian. Logoterapi dapat digambarkan
sebagai corak psikologi yang mengakui adanya dimensi kerohanian pada manusia di
samping dimensi ragawi dan kejiwaan, serta beranggapan bahwa makna hidup (the
meaning of life) dan hasrat untuk hidup bermakna ( the will of meaning )
merupakan motivasi utama manusiaguna meraih taraf kehidupan bermakna (the
meaningful life ) yang didambakannya. Hidup akan memiliki makna dalam setiap
situasi selama kita mampu mengambil hikmah, bahkan dalam penderitaan dan
kepedihan sekalipun. Makna adalah sesuatu yang dirasakan penting, benar,
berharga dan didambakan serta memberikan nilai khusus bagi seseorang dan layak
dijadikan tujuan hidup. Setiap manusia memiliki kemampuan untuk mengambil sikap
terhadap peristiwa tragis yang tidak dapat dielakkan lagi yang menimpa dirinya
sendiri dan lingkungan sekitar (penderitaan dan kepedihan). Makna hidup setiap
manusia dapat ditentukan sendiri olehnya, karena manusia memiliki kebebasan
yang hampir tidak terbatas. Dari kebebasannya manusia dapat
memilih makna atas setiap peristiwa yang terjadi dalam diri,apakah itu makna
positif atupun makna yang negatif. Dan makna positif ini lahyang dimaksud
dengan hidup bermakna.
I.
Sistematika Pembahasan
Sistematika pembahan dalam penelitian ini yaitu pada Bab 1 berisi
pendahuluan, terdiri dari latar belakang, rumusan masalah, objek penelitian,
tujuan penelitian, kontribusi penelitian, tesis statement, paradigma dan
analisis teori.
BAB II
KAJIAN PUSTAKA
A. Konseling Logoterapi
1. Tokoh Logoterapi
Tokohnya adalah Viktor Emile Frankl. Ia dilahirkan tanggal 26 Maret
1905 di Wina, Austria. Ia kuliah
dijurusan kedokteran. Setelah lulus menjadi dokter, Viktor Frankl mengambil
keahlian dalam bidang Neuro-psikiatri (ahli penyakit saraf dan jiwa) dan berhasil
meraih gelar Doktor dalam Ilmu Kedokteran (M.D.) dan kemudian Doktor dari dalam
Ilmu Filsafat (Ph.D.) dari almameternya, Universitas Wina. Pada tanggal 3
September 1997, Ia tutup usia dalam usia cukup lanjut yaitu 92 tahun, dengan
sebagian besar hidupnya diisi dengan berbagai kegiatan bermakna dan bermanfaat
bagi dirinya, keluarga, masyarakat, ilmu pengetahuan, dan kemanusian. Sekitar
30 buah buku karyanya yang telah diterjemahkan dalam berbagai bahasa yang
seakan-akan membuka wawasan dan memberikan pencerahan bagi para pakar dan
peminat ilmu-ilmu kemanusian. Logoterapi dengan julukan kehormatan The Third
Viennes School of Psychotherapy, sebagai aliran mapan setelah Psikoanalisis
(Sigmund Freud) dan Psikologi Individual ( Alferd Adlet).
2. Pengertian dan Asas-asas Logoterapi
Logoterapi berasal dari kata “logos” dalam bahasa yunani
berarti makna (meaning) dan juga rohani (spirituality), sedangkan
“terapi” adalah penyembuhan atau pengobatan. Logoterapi secara umum dapat
digambarkan sebagai corak atau psikiatri yang mengakui adanya dimensi
kerohanian pada manusia di samping dimensi ragawi dan kejiwaan. Serta
beranggapan bahwa makna hidup (the meaning of life) dan hasrat
untuk hidup bermakna (the will to meaning)
merupakan motivasi utama manusia guna meraih taraf kehidupan
bermakna (the meaningful life) yang didambakannya. Logoterapi
mengemukakan asas-asas yang telah teruji kebenarannya oleh
penemunya sendiri dalam “laboratorium-hidup” kamp konsentrasi. Ada
tiga asas utama logoterapi yakni :
a.
Hidup itu tetap memiliki makna (arti) dalam setiap situasi, bahkan
dalam penderitaan dan kepedihan sekalipun. Makna adalah suatu yang dirasakan
penting, benar, berharga dan didambakan serta memberikan nilai khusus bagi
seseorang dan layak dijadikan tujuan hidup. Setiap manusia selalu mendambakan
hidupnya bermakna, dan selalu berusaha mencari dan menemukannya. Makna hidup
apabila berhasil ditemukan dan dipenuhi akan menyebabkan kehidupan ini berarti
dan mereka yang berhasil menemukan dan mengembangkannya akan merasakan kebahagian
sebagai ganjarannya sekaligus terhindar dari keputusasaan.
b.
Setiap manusia memiliki kebebasan (yang hampir tak terbatas) untuk
menemukan sendiri makna hidupnya. Makna hidup dan sumbersumbernya dapat
ditemukan dalam kehidupan itu sendiri, khususnya pada pekerjaan dan karya-bakti
yang dilakukan, serta dalam keyakinan terhadap harapan dan kebenaran serta
penghayatan atas keindahan, iman, dan kasih. Selain itu, sikap tepat yang kita
ambil atas penderitaan yang tidak dapat diubah lagi merupakan sumber makna
hidup.
c.
Setiap manusia memiliki kemampuan untuk mengambil sikap terhadap
penderitaan dan peristiwa tragis yang tidak dapat dielakkan lagi yang menimpa
diri sendiri dan lingkungan sekitar, setelah upaya mengatasinya telah dilakukan
secara optimal tetap tak berhasil. Maksudnya, jika kita tidak mungkin mengubah
suatu keadaan (tragis), sebaiknya kita mengubah sikap atas keadaan itu agar
kita tidak terhanyut secara negatif oleh keadaan itu. Tentu saja dengan jalan
mengambil sikap tepat dan baik, yakni sikap yang menimbulkan kebijakan pada
diri sendiri dan orang lainn serta sesuai dengan nilai-nilai kemanusian dan
norma-norma lingkungan yang berlaku.
3. Landasan Filsafat Logoterapi
Setiap aliran dalam psikologi memiliki landasan filsafat
kemanusiaan yang mendasari seluruh ajaran, teori, dan penerapannya. Dalam hal
ini logoterapi pun memiliki filsafat manusia yang merangkum dan melandasi
asas-asas, ajaran, dan tujuan logoterapi, yaitu :
a.
The Freedom of Will (Kebebasan Berkehendak), kebebasan ini sifatnya
bukan tak-terbatas karena manusia adalah makhluk serba terbatas. Manusia
sekalipun dianggap makhluk yang memiliki berbagai potensi luar biasa, tetapi
sekaligus memiliki juga keterbatasan dalam aspek ragawi (tenaga, daya tahan,
stamina, usia), aspek kejiwaan (kemampuan, keterampilan, kemauan, ketekunan,
bakat, sifat, tanggung jawab pribadi), aspek sosial budaya (dukungan
lingkungan, kesempatan, tanggung jawab sosial, ketaatan pada norma), dan aspek
kerohanian (iman, ketaatan beribadah, cinta kasih). Kebebasan manusia pun bukan
merupakan kebebasan dari (freedom from) bawaan biologis, kondisi
psikososial, dan kesejarahannya, melainkan kebebasan untuk menentukan sikap (freedom
to take a stand) terhadap kondisi-kondisi tersebut, baik kondisi lingkungan
maupun kondisi diri sendiri.
b.
The Will to Meaning (Hasrat untuk Hidup Bermakna), setiap orang
menginginkan dirinya menjadi orang yang bermartabat dan berguna bagi dirinya,
keluarga, lingkungan kerja, masyarakat sekitar, dan berharga di mata Tuhan.
Keinginan untuk hidup bermakna memang benar-benar merupakan motivasi utama pada
manusia. Hasrat inilah yang mendorong setiap orang untuk melakukan berbagai
kegiatan agar hidupnya dirasakan berarti dan berharga. Hasrat untuk hidup
bermakna ini sama sekali bukan sesuatu yang khayali dan diada-adakan, melainkan
benar-benar suatu fenomena kejiwaan yang nyata dan dirasakan pentingnya dalam
kehidupan seseorang. Bila hasrat ini dapat dipenuhi, kehidupan akan dirasakan
berguna, berharga, dan berarti (meaningfull). Sebaliknya bila tidak
terpenuhi akan meneybabkan kehidupan dirasakan tak bermakna (meaningless).
c.
The Meaning of Life (Makna Hidup), makna hidup adalah hal-hal yang
dianggap sangat penting dan berharga serta memberikan nilai nkhusus bagi
seseorang, sehingga layak dijadikan tujuan dalam kehidupan (the purpose in
life). Bila hal itu berhasil dipenuhi akan menyebabkan seseorang merasakan
kehidupan yang berarti dan pada akhirnya akan menimbulkan perasaan bahagia (happiness).
Dan makna hidup ternyata ada dalam kehidupan itu sendiri, dan dapat ditemukan
dalam setiap keadaan yang menyenangkan dan tak menyenangkan, keadaan bahagia,
dan penderitaan. Ungkapan seperti “Makna dalam Derita” (Meaning in Suffering)
atau “Hikmah dalam Musibah” (Blessing in Disguise) menunjukan bahwa
dalam penderitaan sekalipun makna hidup tetap ditemukan.
4. Pengertian Konseling Logoterapi
Berbagai aliran, teori, dan pandangan psikologis sering memberi
corak khusus pada kegiatan konseling (dan psikoterapi). Artinya, konseling
banyak merujuk pada asas-asas, metode, pendekatan, teori, dan pandangan itu
dalam membantu mereka yang bermasalah.
5. Proses Konseling Logoterapi
Proses konseling pada umumnya mencakup tahap-tahap: perkenalan,
pengungkapan, dan penjajagan masalah, pembahasan bersama, evaluasi dan
penyimpulan, serta pengubah sikap dan perilaku. Biasanya setelah masa konseling
berakhir masih dilanjutkan dengan pemantuan atas upaya peerubahan perilaku dan
klien dapat melakukan konsultasi lanjutan apabila memerlukan. Di lain pihak
tentu saja corak dan proses konseling dapat berbeda-beda sesuai teori dan
metode yang dianut, serta permasalahan dan tujuan yang ingi dicapai. Dan dalam
kenyataannya, konseling logoterapi sangat luwes, dalam artian bisa direktif dan
bisa non-direktif serta tidak kaku dalam mengikuti tahapan-tahapan konseling.
6. Komponen-komponen dan Aplikasi Konseling Logoterapi
Komponen-komponen pribadi dalam konseling logoterapi adalah
kemampuan, potensi, dan kualitas insani dari diri klien yang dijajagi,
diungkap, dan difungsikan pada proses konseling dalam rangka meningkatkan
kesadaran terhadap makna dan tujuan hidupnya. Dalam konseling logoterapi
berusaha meningkatkan kesadaran atas kualitas dan kemampuan pribadi seperti
pemahaman diri, pengubahan sikap, pengarahan diri, tanggung jawab, komitmen,
keimanan, cinta kasih, hati nurani, penemuan makna hidup, merupakan hal-hal
penting yang mennetukan keberhasilan konseling. Selain itu, klien disadarkan
pula atas rasa tanggung jawab untuk mengubah sikap dan perilakunya menjadi
lebih baik dan lebih sehat serta bermanfaat bagi dirinya dan lingkungannya.
Konseling logoterapi sama seperti konseling pada umumnya, merupakan kegiatan
menolong (helping activity) di mana seorang konselor memberikan
bantuan psikologis kepada seorang klien yang membutuhkan bantuan untuk
pengembangna diri.
Dengan demikian tahapan-tahapan
pada konseling logoterapi :
a.
Tahap perkenalan dan pembinaan rapport diawali dengan menciptakan
suasana nyaman untuk konsultasi dengan membina rapport yang makin lama makin
membuka peluang sebuah encounter. Inti sebuah encounter adalah
penghargaan pada sesama manusia , ketulusan hati dan pelayanan.
b.
Pada tahap pembahasan bersama, konselor dan klien bersama-sama
membahas dan menyamakan persepsi atas masalah yang dihadapi. Tujuannya untuk
menemukan arti hidup seklaipun dalam penderitaan.
d.
Tahap evaluasi dan penyimpulan mencoba memberi interpretasi atas
informasi yang diperoleh sebagai bahan untuk tahap selanjutnya, yaitu perubahan
sikap dan perilaku klien. Pada tahap-tahap ini tercakup modifikasi sikap, orientasi
terhadap makna hidup, penemuan, dan pemenuhan makna, dan pengurangan simptom.
B. Aspek Spiritual
Salah satu pandangan orisinal Viktor Frankl adalah mengintegrasikan
fenomena spiritualitas dalam sistem psikofisik dan kepribadian manusia serta
memanfaatkannya dalam metode psikoterapi. Ia pun menunjukkan bahwa
spiritualitas adalah dimensi penting dalam eksistensi manusia di samping
ragawi, kejiwaan, dan sosio-budaya. Manusia seutuhnya dalam pandangan
logoterapi adalah unitas bio-psiko-sosiokultural-spiritual. Sebenarnya
istilah spirit, spirituality atau kerohanian bukan istilah baru,
melainkan sudah sejak lama ada dalam wawasan setiap agama dan budaya. Dalam
psikologi istilah ini dianggap sebagai konsep paling abstrak serta memiliki
bermacam-macam pengertian, konotasi, dan interpretasi sehingga benar-benar
sulit didefinisikan. Perlu dijelaskan bahwa sebutan “spirituality”
dalam pandangan logoterapi tidak mengandung konotasi keagamaan karena dimensi
ini dimiliki manusia tanpa memandang ras, ideolodi, agama, dan keyakinannya.
Pengertian spirit dan dimensi spiritual dalam logoterapi dengan demikian
bercorak antropologis dan bukan teologis. Viktor Frankl sendiri secara
eksplisit
menyatakan bahwa pandangannya mengenai spiritualitas ini bersifat
sekuler. Untuk itu Frankl kemudian menggunakan istilah neotic sebagai
padanan spirit atau spirituality, supaya tidak disalahpahami
sebagai konsep agama. Berbeda dari agama yang meninjau fenomena spiritual yang
penting di dunia dan akhirat, logoterapi meninjaunya dari segi medis. Artinya
dimensi spiritual adalah sumber kesehatan (the source of health) yang
tidak pernah terkena sakit sekalipun orangnya menderita sakit secara fisik dan
mental. Kalaupun dimensi neotik ini tidak berfungsi secara optimal biasanya
terjadi karena kita sendiri kurang memahami, menyadari, dan mengabaikannya atau
terhambat oleh berbagai gangguan emosi serta penyakit fisik dan psikis.
Dalam kenyataan sering disaksikan ungkapan kata-kata yang benar dan
perbuatan yang tepat dari seorang penderita penyakit jiwa. Sekalipun fisik dan
mental dalam kondisi sakit, cinta
kasih, dan rasa estetika yang bersumber dari dimensi spiritual
tetap berfungsi dan sama sekali tidak terganggu. Menurut kamus Webster kata ”spirit”
berasal dari kata benda bahasa latin ”spritus” yang berarti nap[as dan
kata kerja “spirare” yang berarti untuk bernapas. Melihat asal katanya,
untuk hidup adalah untuk bernapas, dan memiliki napas artinya memiliki spirit.
Menjadi spiritual berarti memiliki ikatan yang lebih kepada hal yang bersifat
kerohanian atau kejiwaan dibandingkan hal yang bersifat fisik atau material.
Spiritualitas merupakan kebangkitan atau pencerahan diri dalam mencapai tujuan
dan makna hidup. Spiritualitas merupakan bagian
esensial dari keseluruhan kesehatan dan kesejahteraan seseorang.
Spiritualitas dalam pengertian yang luas, merupakan hal yang berhubungan dengan
spirit. Sesuatu yang spiritual memiliki kebenaran abadi yang berhubungan dengan
tujuan hidup manusia, sering dibandingkan dengan
sesuatu yang bersifat duniawi dan sementara.
C. Narkoba
1. Pengertian Narkoba
Istilah narkoba bukanlah istilah kedokteran atau psikologis.
Istilah itu, walaupun sering digunakan institusi resmi (termasuk pemerintah ),
bahkan digunakan dalam undang-undang, hanya merupakan singkatan dari kata-kata “narkotika”
dan “obat-obat berbahaya”. Dalam ilmu kedokteran narkotika dan obat-obat
berbahaya justru sering digunakan untuk tujuan pengobatan, karena itu, yang
berbahaya bukan narkoba itu sendiri, melainkan penyalahgunaan narkoba untuk
tujuan-tujuan lain diluar tujuan kedokteran. Istilah “narkotika” berasal dari
bahasa yunani “narkosis” yang dikemukakan oleh Bapak Ilmu Kedokteran,
Hipokrates, untuk zat-zat yang menimbulkan mati rasa atau rasa lumpuh. Dalam
undang-undang AS, yang dimaksud narkotika adalah opium, variasi dari opium
(kodein, heroin atau awam menyebutnya “putau”), termasuk zat sintesis
(morphin), dan kokain (disebut juga “koka”). Marijuana (awam : ganja), walaupun
di Indonesia dilarang oleh undang-undang dan digolongkan sebagai narkotika,
sebetulnya bukan tergolong narkotika, baik dari sudut struktur kimia zat itu,
maupun dari dampak pemakiannya (hanya menimbulkan ketergantungan, tidak
mematikan). Belanda adalah salah satu negara yang melegalkan marijuana. LSD
(index, sabu-sabu, dan obat-obat psikedelik lain yang memberi efek euphoria (perasaan
senang, riang, nyaman yang semu) juga bukan termasuk jenis narkkotika, walaupun
damkpaknya lebih serius daripada ganja (bisa menimbulkan reaksi paranoid jika
berhenti menggunakannya). Di negara-negara Eropa dan Amerika Serikat dan
beberapa negara lain, minuman keras (alkohol) juga dikontrol ketat karena
dampaknya bisa sangat berbahaya jika digunakan secara berlebihan atau
dikonsumsi anak-anak dibawah umur. Narkoba adalah zat atau obat yang berasal
dari tanaman atau bukan tanaman, baik yang sintetis maupun semisintetis yang
dapat menyebabkan penurunan atau penambahan kesadaran, hilangnya rasa,
mengurangi hingga menghilangkan rasa nyeri dan dapat menimbulkan
ketergantungan.
2. Macam-macam Narkoba
Narkoba dibagi dalam 3 jenis, yaitu narkotika, psikotropika, dan
bahan adiktif lainnya. Tiap jenis dibagi-bagi kedalam beberapa kelompok :
a. Narkotika
Narkotika adalah zat atau obat yang berasal dari tanman atau bukan
tanaman, baik sintetis maupun bukan sintetis, yang dapat menyebabkan penurunan
atau perubahan kesadaran dan hilangnya rasa. Zat ini mengurangi sampai
menghilangkan rasa nyeri dan dapat menimbulkan ketergantungan. Berdasarkan
Undang-Undang No. 35 tahun 2009, jenis narkotika dibagi
kedalam tiga kelompok, yaitu narkotika golongan I, golongan II, dan
golongan III. Narkotika golongan I
adalah narkotika yang paling berbahaya, daya adiktifnya sangat tinggi. Golongan
ini tidak boleh digunakan untuk kepentingan apa pun, kecuali untuk penelitian
atau ilmu pengetahuan. Contohnya adalah ganja, heroin, kokain, morfin, opium,
dan lain-lain.
Narkotika golongan II adalah narkotika yang memiliki daya adiktif
kuat, tetapi bermanfaat untuk pengobatan dan penelitian. Contohnya adalah
petidin dan turunannya, benzetidin, betametadol, dan lain-lain. Narkotika
golongan III adalah narkotika yang memiliki daya adiktif ringan, tetapi
bermanfaat untuk pengobatan dan penelitian. Contohnya kodein dan turunnya.
b. Psikotropika
Psikotropika adalah zat atau obat bukan narkotika, baik alamiah
maupun sintetis, yang memiliki khasiat psikoaktif melalui pengaruh selektif
pada susunan saraf pusat yang menyebabkan perubahan khas pada aktivitas normal
dan perilaku. Psikotropika adalah obat yang digunakan opleh dokter untuk
mengobati gangguan jiwa (psyche). Berdasarkan Undang-Undang No. 5 tahun
1997, psikotropika dapat dikelompokkan menjadi 4 golongan. Golongan I adalah
psikotropika dengan daya adiktif yang sangat kuat, belum diketahui manfaatnya
untuk pengobatan, dan sedang diteliti khasiatnya. Contohnya adalah MDMA,
ekstasi, LSD dan STP. Golongan II adalah psikotropika dengan daya adiktif kuat
serta berguna untuk pengobatan dan
penelitian. Contohnya adalah amfetamin, metamfetamin, metakualon,
dan sebagainya. Golongan III adalah psikotropika dengan daya adiktif sedang
serta berguna untuk pengobatan dan penelitian. Contohnya adalah lumibal,
buprenorsina, fleenitrazepam, dan sebagainya. Golongan IV adalah psikotropika
yang memiliki daya adiktif ringan serta berguna untuk pengobatan dan
penelitian. Contohnya adalah nitrazepam (mogadon, dumolid), diazepam, dan
sebagainya.
c. Zat adiktif lainnya
Yang dimaksud disini adalah bahan atau zat yang berpengaruh
psikoaktif diluar yang disebut narkotika dan psikotropika, meliputi :
a.
Minuman beralkohol, mengandung etanol etil alkohol yang berpengaruh
menekan susunan syaraf pusat, dan sering menjadi bagian dari kehidupan manusia
sehari-hari dalam kebudayaan tertentu. Jika digunakan sebagai campuran dengan
narkotika atau psikotropika, memperkuat pengaruh obat atau zat itu dalam tubuh
manusia. Ada 3 golongan minuman beralkohol, yaitu Golongan A (kadar etanol 1-5%
seperti bir), Golongan B (kadar etanol 5-20% seperti berbagai jenis minuman
anggur), dan Golongan C(kadar etanol 20-45% seperti Whiskey, Vodka, TKW, Manson
House, Johny Walker, Kamput).
b.
Inhalansia (gas yang dihirup) dan solven (zat pelarut) mudah
menguap berupa senyawa organik, yang terdapat pada berbagai barang keperluan
rumah tangga, kantor dan sebagai pelumas mesin. Yang sering disalahgunakan
antara lain lem, thinner, penghapus cat kuku bensin.
c.
Tembakau: pemakaian tembakau yang mengandung nikotin sangat luas
dimasyarakat. Pada upaya penanggulangan narkoba di masyarakat, pemakaian rokok
dan alkohol terutama pada remaja, harus menjadi bagian dari upaya pencegahan,
karena rokok dan alkohol sering menjadi pintu masuk penyalahgunaan narkoba yang
lebih berbahaya.
3. Sifat Jahat Narkoba
Berbeda dengan obat atau zat lainnya, narkoba memiliki 3 sifat
jahat yang dapat membelenggu pemakainya yaitu :
a.
Habitual
Habitual adalah sifat pada narkoba yang membuat pemakainya akan
selalu teringat, terkenang dan terbayang sehingga cenderung untuk selalu
mencari dan rindu (seeking).
b.
Adiktif
Adiktif adalah sifat narkoba yang membuat pemakainya terpaksa
memakai terus dan tidak dapat menghentikannya. Penghentian atau pengurangan
pemakaian narkoba akan menimbulkan “efek putus zat” atau withdrawal effect,
yaitu perasaan sakit luar biasa, orang awam biasa menyebutnya Sakaw.
c.
Toleran
Toleran adalah sifat narkoba yang membuat tubuh pemakainnya semakin
lama semakin menyatu dengan narkoba dan menyesuaikan diri dengan narkoba itu
sehingga menuntut dosis pemakaian yang semakin tinggi. Bila dosisnya tidak dinaikkan,
narkoba itu tidak akan bereaksi, tetapi membuat pemakainya menjadi sakaw. Dan
untuk memperoleh efek yang sama dengan
efek di masa sebelumnya, dosis pemakaian harus dinaikkan. Bila lama
kelamaan kenaikan dosis itu telah melebihi kemampuan toleransi tubuh, maka
terjadilah efek sakit yang luar biasa dan mematikan. Kondisi seperti itu
disebut overdosis.
4. Tahap dan Tingkat Pemakai Narkoba
Tiap jenis narkoba mempunyai sifat yang berbeda-beda. Oleh karena
itu dampaknya terhadap pemakai juga berbeda-beda. Secara umum pengguna narkoba
terdiri dari 4 tahap, yaitu :
a.
Tahap Awal : coba-coba
Mulanya hanya coba-coba, kemudian karena terjerat oleh 3 sifat
jahat narkoba, ia menjadi mau lagi dan lagi. Sangat sulit untuk mengenali
gejala awal narkoba. Gejala awal ini hanya dapat diketahui oleh orang yang
sangat dekat dengan pemakai, gejala tersebut adalah sebagai berikut:
1.
Gejala Psikologis, terjadi perubahan pada sikap anak. Orang tua
yang peka dapat merasakan adanya sedikit perubahan perilaku pada anak, yaitu
timbulnya rasa takut dan malu yang disebabkan oleh perasan bersalah dan
berdosa.anak menjadi lebih sensitif. Jiwanya resah dan gelisah.
2.
Pada Fisik, perubahan tidak tampak pada tubuh anak. Tanda-tanda
perubahan pada tubuh sebagai dampak pemakaian narkoba belum terlihat.
b.
Tahap kedua : pemula.
Setelah tahap eksperimen atau
coba-coba, lalu meningkat menjadi terbiasa. Anak mulai memakai narkoba secara
insidentil. Ia memakai narkoba karena sudah merasakan kenikmatannya. Pada tahp
ini akan muncul gejala sebagai berikut :
1.
Gejala psikologis, sikap anak menjadi lebih tertutup, banyak hal
yang tadinya terbuka kini menjadi rahasia. Jiwanya resah, gelisah, kurang
tenang, dan lebih sensitif. Hubungan dengan keluarganya mulai renggang, tidak
lagi riang, cerah dan ceria.
2.
Pada fisik, tidak tampak perubahan yang nyata. Gejala pemakaian
berbeda-beda sesaui dengan jenis narkoba yang dipakai.
c.
Tahap ketiga adalah tahap berkala.
Setelah beberapa kali memakai
narkoba sebagai pemakai insidentil, pemakai narkoba terdorong untuk memakai
lebih sering lagi. Selain merasa nikmat, ia juga mulai merasakan sakaw kalau
terlambat atau berehenti mengonsumsi narkoba. ia memakai narkoba pada saat
tertentu secara rutin.
1.
Ciri mental, sulit bergaul dengan teman baru. Pribadinya menjadi
lebih tertutup, lebih sensitif, dan mudah tersnggung. Ia sering bangun siang,
agak malas, dan mulai gemar berbohong.
2.
Cirik fisik, terjadi gejala sebaliknya dari tahap 1 dan 2. Bila
sedang memakai ia tampak normal, tidak tampak tanda-tanda yang jelas. Bila sedang
tidak memakai tampak kurang sehat, kurang percaya diri, murung, gelisah, malas.
d.
Tahap keempat adalah tahap tetap (madat)
Setelah menjadi pemakai narkoba secara berkala, pemakai narkoba
akan dituntut oleh tubuhnya sendiri untuk semakin sering memakai narkoba denga
dosis yang semakin tinggi pula. Pada tahap ini pemakai tidak dapat lagi lepas
dari narkoba, ia harus selalu memakai narkoba. tanpa narkoba ia tidak dapat
berbuat apa-apa.
1. Tanda-tanda psikis, sulit bergaul dengan teman baru, eksklusif,
tertutup, sensitif, mudah tersinggung, egois, mau menang sendiri, malas, sering
bangun siang, menyukai hidup di malam hari. Ia pada berbohong, gemar menipu,
sering mencuri atau merampas demi memperoleh uang untuk narkoba., ia tidak
merasa bera untuk berbuat jahat bahkan untuk membunuh orang lain.
2. Tanda-tanda fisik, biasanya kurus dan lemah (loyo), mata sayu,
gigi menguning kecoklatan dan sering kali keropos. Biasanya kulit agak kotor,
tanda bekas sayatan dan jarum suntik. ( kenali narkoba dan musuhi penyalahgunanya)
5. Penyalahguna Narkoba
Penyalahgunaan narkoba adalah penggunaan salah satu atau beberapa
jenis narkoba secara perkala atau teratur diluar indikasi medis, sehingga
menimbulkan gangguan kesehatan fisik, psikis dan gangguan fungsi sosial. Ketergantungan
narkoba adalah keadaan dimana telah terjadi ketergantungan fisik dan psikis,
sehingga tubuh memerlukan jumlah narkoba yang makin bertambah (torelansi),
apabila pemakaiannya dikurangi atau diberhentikan akan timbul gejala putus zat
(withdrawal syamptom). Oleh karena itu ia selalu berusaha memperoleh
narkoba
yang dibutuhkannya dengan cara apapun, agar dapat melakukan
kegiatannya
sehari-hari secara normal. Penyebab penyalahgunaan narkoba sangat
kompleks akibat interaksi antar faktor yang terikat dengan individu, faktor
lingkungan dan faktor tersedianya zat.
Tidak adanya penyebab tunggal (single cause), faktor-faktor
yang mempengaruhi terjadinya penyalahgunaan narkkoba adalah sebagi berikut :
1. Faktor individu
Kebanyakan penyalahgunaan narkoba dimulai atau terdapat pada masa
remaja, sebab remaja yang sedang menagalami perubahan biologik, psikologik,
maupun sosial yang pusat merupakan individu yang rentan untuk menyalahgunakan
narkoba. anak atau remaja dengan ciri-ciri tertentu mempunyai resiko lebih
besar untuk menjadi penyalahguna narkoba. Ciri-ciri tersebut antara lain,
cenderung memberontak dan menolak otoritas, cenderung memiliki gangguan jiwa
lain (komorbiditas) seperti depresi, cemas, psikotik, kepribadian
dissosial, prilaku
menyimpang dari aturan atau norma yang berlaku, rasa kurang percaya
diri (low self-confidence), rendah diri dan memiliki citra diri negatif
(low self-esteem), sifat mudah kecewa, cenderung agresif dan
destruktif, mudah murung, pemalu, pendiam, mudah merasa bosan dan jenuh,
keingintahuan yang besar untuk mencoba atau penasaran, pinginan untuk
bersenangsenang
(just for fun). Keinginan untuk mengikuti mode, karena
karena dianggap sebagai lambang keperkasaan dan kehidupan modern, keinginan
diterima dalam pergaulan, identitas diri yang kabur, sehingga merasa diri
kurang “jantan”, tidak siap mental untuk
menghadapi tekanan pergaulan sehingga sulit mengambil keputusan untuk menolak
tawaran narkoba dengan tegas, kemampuan komunikasi rendah, melarikan diri dari
sesuatu (kebosanan, kegagalan, kekecewaan, ketidakmampuan, kesepian dan
kegetiran hidup, malu dan lain-lain), putus sekolah dan kurang mengahayati iman
kepercayaan.
2. Faktor lingkungan
Faktor lingkungan meliputi faktor keluarga dan lingkungan pergaulan
baik di sekitar rumah, sekolah, teman sebaya maupun masyarakat. Faktor
keluarga, terutama faktor orang tua yang ikut menjadi penyebab seorang anak
atau remaja menjadi penyalahguna narkoba antara lain adalah lingkungan dan
keluarga, komunikasi orang tua-anak kurang baik dan efektif, hubungan
dalam keluarga kurang harmonis atau disfungsi dalam keluarga, orang
tua bercerai, berselingkuh atau kawin lagi, orang tua terlalu sibuk atau tidak
acuh, orang tua otoriter atau serba melarang, orang tua yang serba membolehkan
(permisif). Di sisi lain, kurangnya orang yang dapat dijadikan model atau
teladan, orang tua kurang peduli dan tidak tahu dengan masalah narkoba, tata
tertib atau disiplin keluarga yang selau berubah (kurang konsisten), kurangnya
kehidupan beragama atau menjalankan ibadah dalam keluarga, orang tua atau
anggota keluarga yang menjadi penyalahguna narkoba.
D. Kerangka Berpikir
Kerangka berpikir merupakan sintetis tentang hubungan antara dua
variabel yang
disusun dari berbagai teori yang dideskripsikan. Dua variabel yang
dimaksud dalam
kerangka berpikir adalah adanya hubungan antara penggunaan model
yang diterapkan
dalam pembelajaran dengan hasil yang dicapai. Uma Sekaran
mengatakan bahwa
kerangka berpikir adalah suatu model konseptual tentang bagaimana
teori
berhubungan dengan berbagai faktor yang telah diidentifikasikan
sebagai masalah
yang penting.
BAB III
METODOLOGI
A.
Metode Penelitian
Metode berasal dari bahasa yunani methodos yang berarti cara
atau jalan. Jadi metode merupakan jalan yang berkaitan dengan cara kerja dalam
mencapai sasaran yang diperlukan bagi penggunanya, sehingga dapat memahami
objek sasaran yang dikehendaki dalam upaya mencapai sasaran atau tujuan
pemecahan permasalahannya.Penelitian adalah terjemahan dari bahasa inggris “research”.
Ada ahli yang mengindonesiakan research menjadi riset. Kata research berasal
dari kata re yang berarti kembali dan to seacrh yang berarti
mencari. Dengan demikian arti yang sebenarnya dari research adalah mencari
kembali. Metode penilitian pada dasarnya
merupakan cara ilmiah untuk mendapatkan data dengan tujuan dan
kegunaan tertentu.
B.
Jenis dan Desain Penelitian
1.
Jenis Penelitian
Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah
penelitian kualitatif, yaitu metode penelitian yang berlandaskan pada filsafat
postpositivisme, digunakan untuk meneliti pada kondisi obyek yang alamiah,
dimana peneliti adalah sebagai instrumen kunci, teknik pengumpulan data
dilakukan secara triangulasi (gabungan), analisis data bersifat induktif atau
kualitatif, dan hasil penelitian kualitatif lebih menekankan makna
dari pada generalisasi. Penelitian kualitatif mendahulukan panggilan proses
daripada hasil, mengungkapkan makna dalam perspektif subjek yang diteliti,
menjadikan peneliti sebagai instrumen utama, mengedepankan penelitian lapangan
si peneliti berada dalam konteks penelitian.
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian
tindakan atau action research. Menurut pengertiannya penelitian tindakan
adalah penelitian tentang hal-hal yang terjadi dimasyarakat atau kelompok
sasaran, dan hasilnya langsung dapat dikenakan pada masyarakat yang
bersangkutan. Ciri atau karakteristik utama dalam penelitian tindakan adalah
adanya partisipasi dan kolaborasi antara peneliti dan anggota kelompok sasaran.
Penelitian tindakan adalah salah satu strategi pemecahan masalah yang
memanfaatkan tindakan nyata
dalam bentuk proses pengembangan inovatif yang “dicoba sambil
jalan” dalam seteksi dan memecahkan masalah. Dalam prosesnya, pihak-pihak yang
terlibat dalam kegiatan tersebut dapat saling mendukung satu sama lain.
2. Desain Penelitian
Ada beberapa model yang dapat diterapkan dalam penelitian tindakan,
tetapi yang paling dikenal dan biasa digunakan adalah model yang dikemukakan
oleh Kemmis dan Mc Taggart. Model tersebut memiliki empat langkah yang
merupakan satu siklus atau putaran, artinya sesudah langkah ke empat, lalu
kembali ke langkah pertama dan seterusnya. Secara utuh, tindakan yang
diterapkan dalam penelitian tindakan melalui tahapan sebagai berikut :
a. Tahap 1 : Menyusun rancangan tindakan dan dikenal dengan
perencanaan (planning), yang menjelaskan tentang apa, mengapa, kapan,
dimana, oleh siapa, dan bagaimana tindakan tersebut dilakukan. Penelitian
tindakan yang ideal sebetulnya dilakukan secara berpasangan antara pihak yang
melakukan tindakan dan pihak yang mengamati proses jalannya tindakan. Cara ini
dikatakan ideal karena adanya upaya untuk mengurangi unsur subjektivitas
pengamat serta mutu kecermatan amatan yang dilakukan. Dalam tahap menyusun
rancangan, peneliti menentukan titik-titik atau fokus peristiwa yang perlu
mendapatkan perhatian khusus untuk diamati, kemudian membuat sebuah instrumen
pengamatan untuk membantu peneliti merekam fakta yang terjadi selama tindakan
berlangsung. Dalam hal ini peneliti menyiapkan Rencana Pelaksanaan Layanan atau
RPL serta membuat sebuahminstrumen pengamatan untuk membantu peneliti selama
tindakan berlangsung.
b. Tahap 2 : Pelaksanaan tindakan (action), yaitu
implementasi atau penerapan isi rancangan di dalam kancah, yaitu mengenakan
tindakan konseling logoterapi untuk meningkatkan aspek spiritual. Hal yang
perlu diingat adalah bahwa dalam tahap 2 ini pelaksana harus ingat dan taat
pada apa yang sudah dirumuskan dalam rancangan, tetapi harus pula
berlaku wajar. Tentu saja membuat modifikasi tetap diperbolehkan, selama tidak
mengubah prinsip.
c. Tahap 3 : Pengamatan (observasi), yaitu pelaksanaan
pengamatan oleh pengamat, yang mengamati konseling logoterapi dalam
meningkatkan aspek spiritual pengguna narkoba di Yayasan Sinar Jati Kemiling.
d. Tahap 4 : Refleksi, atau pantulan, yaitu kegiatan untuk
mengemukakan kembali apa yang sudah terjadi. Dalam hal ini peneliti menuliskan
laporan hasil dari pengamatan pada konseling logoterapi dalam meningkatkan
aspek spiritual pengguna narkoba.
Keempat tahap dalam penelitian tindakan tersebut merupakan satu
siklus, yaitu satu putaran kegiatan beruntun, dari tahap penyusunan rancangan
sampai dengan refleksi, yang tidak lain adalah evaluasi. Apabila dikaitkan
dengan contoh tindakan perbaikan catatan, maka yang dimaksud dengan bentuk
tindakan adalah pengumpulan catatan. Jadi bentuk penelitian tindakan tidak
pernah kegiatan tunggal tetapi rangkaian kegiatan yang akan kembali ke asal,
yaitu dalam bentuk siklus. Penelitian ini juga memiliki tiga siklus yaitu
siklus I, siklus II, dan siklus III dengan menggunakan tahap-tahap yang sudah
dijelaskan diatas.
C.
Tempat dan Waktu Penelitian
Tempat yang akan peneliti gunakan berkenaan dengan judul yang
diangkat adalah Yayasan Sinar Jati Kemiling Bandar Lampung. Penelitian ini
dilaksanakan mulai bulan Desember 2016 sampai Januari 2017.
D.
Metode Pengumpulan Data
1. Wawancara
Wawancara adalah merupakan pertemuan dua orang untuk bertukar
informasi dan ide melalui tanya jawab, sehingga dapat dikonstruksikan makna
dalam suatu topik tertentu. Wawancara digunakan sebagai teknik pengumpulan data
apabila peneliti ingin melakukan studi pendahuluan untuk menemukan permasalahan
yang harus diteliti, tetapi juga apabila peneliti ingin mengetahui hal-hal dari
responden lebih mendalam. Teknik pengumpulan data ini mendasarkan diri pada
laporan tentang diri sendiri atau self-report, atau setidak-tidaknya
pada pengetahuan dan atau keyakinan pribadi. Menurut Esterberg mengemukakan
beberapa macam wawancara yaitu:
a. Wawanca terstruktur
Wawancara terstuktur digunakan sebagai teknik pengumpulan data,
bila peneliti atau pengumpul data telah mengetahui dengan pasti tentang
informasi apa yang akan diperoleh. Oleh karena itu dalam melakukan wawancara,
pengumpul data telah menyiapkan instrumen penelitian berupa
pertanyaanpertanyaan tertulis yang alternatif jawabannya pun telah disiapkan.
Dengan
wawancara terstruktur ini setiap responden diberi pertanyaan yang
sama, dan pengumpul data mencatatnya.
b. Wawancara Semiterstruktur
Jenis wawancara ini sudah termasuk dalam kategori in-dept
interview, dimana dalam pelaksanaannya lebih bebas bila dibandingkan dengan
wawancara terstruktur. Tujuan dari wawancara jenis ini adalah untuk menemukan
permasalahan secara lebih terbuka, di mana pihak yang diajak wawancara diminta
pendapat dan ide-idenya. Dalam melakukan wawancara
peneliti perlu mendengarkan secara teliti dan mencatat apa yang
dikemukakan oleh informan.
c. Wawancara tak berstruktur
Wawancara tidak terstruktur, adalah wawancara yang bebas di mana
peneliti tidak menggunakan pedoman wawancara yang telah tersusun secara
sistematis dan lengkap untuk pengumpulan datanya. Pedoman wawancara yang
digunakan hanya berupa garis-garis besar permasalahan yang akan ditanyakan.
Wawancara tidak terstruktur atau terbuka, sering digunakan
dalam penelitian pendahuluan atau untuk penelitian yang lebih
mendalam tentang subyek yang diteliti. Dalam penelitian ini peneliti
menggunakan teknik wawancara tak berstruktur, karena peneliti belum mengetahui
secara pasti data apa yang akan diperoleh, sehingga peneliti lebih banyak
mendengarkan apa yang diceritakan responden. Berdasarkan analisis terhadap
setiap jawaban dari responden tersebut, maka peneliti dapat mengajukan berbagai
pertanyaan berikutnya yang lebih terarah pada suatu tujuan. Dalam melakukan
wawancara peneliti
menggunakan cara “berputar-putar lalu menukik” artinya pada awal
wawancara, yang dibicarakan adalah hal-hal yang tidak terkait dengan tujuan,
dan bila sudah terbuka kesempatan untuk menanyakan sesuatu yang menjadi tujuan,
maka segera ditanyakan.
2. Observasi
Pengamatan atau observasi adalah kegiatan pengamatan (pengambilan
data) untuk memotret seberapa jauh efek tindakan telah mencapai sasaran. Dalam
menggunakan metode observasi cara yang paling efektif adalah melengkapinya
dengan format dan blangko pengamatan sebagai instrumen. Jadi observasi adalah
suatu teknik pengumpulan data dengan
mengamati responden agar mengetahui tindakan yang diberikan telah
mencapai sasaran atau belum. Teknik pengumpulan data dengan observasi digunakan
bila, penelitian berkenaan dengan perilaku manusia, proses kerja, gejala-gejala
alam, dan bila responden yang diamati tidak terlalu besar. Dari segi proses
pelaksanaan pengumpulan data, observasi dapat dibedakan menjadi participant
observation (observasi berperan serta) dan non participant
observation, selanjutnya dari segi instrumen yang digunakan, maka observasi
dapat dibedakan menjadi observasi terstruktur dan tidak terstruktur.
1. Observasi berperan serta (participant observation)
Dalam observasi ini, peneliti terlibat dengan kegiatan sehari-hari
orang yang sedang diamati atau yang digunakan sebagai sumber data penelitian.
Sambil melakukan pengamatan, peneliti ikut melakukan apa yang dikerjakan oleh
sumber data, dan ikut merasakan suka dukanya. Dengan observasi partisipan ini,
maka data yang diperoleh akan lebih lengkap,
tajam, dan sampai mengetahui pada tingkat makna dari setiap prilaku
yang tampak.
2. Observasi nonpartisipan
Kalau dalam observasi partisipan peneliti terlibat langsung dengan
aktivitas orang-orang yang sedang diamati , maka dalam observasi nonpartisipan
peneliti tidak terlibat dan hanya sebagai pengamat independen. Pengumpulan data
dengan observasi nonparrtisipan ini tidak akan mendapatkan data yang mendalam
dan tidak sampai pada tingkat makna. Makna adalah nilai-nilai di balik perilaku
yang tampak, yang terucapkan dan yang tertulis.
a.
Observasi terstruktur
Observasi terstruktur adalah observasi yang telah dirancang secara
sistematis, tentang apa yang akan diamati, kapan dan di mana tempatnya. Jadi
observasi terstruktur dilakukan apabila peneliti telah tahu dengan pasti
variabel apa yang akan diamati. Dalam melakukan pengamatan peneliti menggunakan
instrumen penelitian yang telah diuji validitas dan realibilitasnya.
b.
Observasi tidak terstruktur
Observasi tidak terstruktur adalah observasi yang tidak
dipersiapkan secara sistematis tentang apa yang akan diobservasi. Halini
dilakukan karena peneliti tidak tahu secara pasti tentang apa yang diamati. Dalam
melakukan pengamatan peneliti tidak menggunakan instrumen yang telah baku,
tetapi hanya rambu-rambu pengamatan. Metode observasi yang digunakan dalam
penelitian ini adalah observasi berperan serta (participant observation)
dan observasi terstruktur, dalam pelaksanaannya peneliti melakukan tindakan dan
mengamati aktivitas pelaksanaan layanan konseling logoterapi. Adapun hal yang
akan di observasi adalah aspek spiritual pengguna narkoba setelah dilakukan
tindakan layanan konseling logoterapi. Observasi dilakukan untuk memperoleh
data tentang peningkatan aspek spiritual peserta didik pengguna narkoba.
3. Dokumentasi
Dokumen merupakan catatan peristiwa yang sudah berlalu. Dokumen
bisa berbentuk tulisan, gambar, atau karya-karya monumental dari seseorang. Dokumen
yang berbentuk tulisan misalnya catatan harian, sejarah kehidupan (life
histories), ceritera, biografi, peraturan, kebijakan. Dokumen yang
berbentuk gambar, misalnya foto, gambar hidup, sketsa dan lain-lain.
Dokumen yang berbentuk karya misalnya karya seni, yang dapat berupa
gambar, patung, film, dan lain-lain. Studi dokumen merupakan pelengkap dari
penggunaan metode observasi dan wawancara dalam penelitian kualitatif. Dalam
penelitian ini metode dokumentasi digunakan untuk mendapatkan data tentang kondisi
obyektif Yayasan Sinar Jati Kemiling seperti sejarah
berdirinya, visi dan misi, keadaan petugas, keadaan peserta
rehabilitas, dan keadaan sarana prasarana, serta dokumen yang berbentuk gambar
seperti foto, dan lain-lain.
E.
Metode Analisis Data
Dalam penelitian ini analisis data diwakali oleh momen refleksi
putaran penelitian tindakan. Dengan melakukan refleksi peneliti akan memiliki
wawasan autentik yang akan membantu dalam menafsirkan datanya. Melalui refleksi
penelitian inilah diperoleh data dan informasi sebanyak-banyaknya mengenai
konseling logoterapi dalam meningkatkan aspek spiritual pengguna narkoba di
Yayasan Sinar Jati Kemiling Bandar Lampung.
Analisis data kualitatif adalah bersifat induktif, yaitu suatu
analisis berdasarkan data yang diperoleh, selanjutnya dikembangkan pola
hubungan tertentu atau menjadi hipotesis. Aktivitas dalam analisis data
kualitatif dilakukan secara interaktif dan berlangsung secara terus menerus
sampai tuntas. Aktivitas dalam analisis data yaitu:
1. Data reduction (reduksi data) mereduksi data berarti
merangkup, memilih hal-hal pokok, memfokuskan pada hal-hal penting, dicari tema
dan polanya dan membuang yang tidak perlu.
2. Display (penyajian data) setelah data reduksi, maka langkah
selanjutnya adalah mendisplaykan data. Dalam penelitian kualitatif, penyajian
data biasa dilakukan dalam bentuk uraian singkat, hubungan antara katagori dan
sejenisnya. Yang paling sering digunakan untuk menyajikan data dalam penelitian
kualitatif adalah dengan teks yang bersifat naratif. Selanjutnya
selain melakukan display data selain dengan teks yang naratif, juga
dapat berupa grafik, manik, network (jejaring kerja) dan chart. Dengan
mendisplaykan data akan memudahkan untuk memahami apa yang terjadi,
merencanakan kerja selanjutnya, berdasarkan apa yang telah dipahami.
3. Penarikan kesimpulan langkah ketiga dalam analisi data
kualitatif menurut Miles dan Huberman adalah penarikan kesimpulan data
verivikasi. Kesimpulan awal yang ditemukan masih bersifat sementara, dan akan
berubah bila tidak ditemukan bukti-bukti yang kuat dan mendukung pada tahap
pengumpulan data berikutnya. Kesimpulan dalam kualitatif yang diharapkan adalah
temuan baru yang sebelumnya belum pernah ada. Temuan dapat berupa deskripsi
atau gambaran suatu obyek yang sebelumnya masih remangremang sehingga setelah
diteliti akan menjadi jelas, dapat berupa hubungan kausal atau interaktif,
hipotesis atau teori.
4. Target ketercapaian dalam penelitian ini adalah peserta didik
penyalahguna narkoba di Yayasan Sinar Jati Kemiling Bandar Lampung mampu dalam
meningkat aspek spiritual dalam dirinya melalui konseling logoterapi.
F.
Pengujian Kredibilitas Data
Uji keabsahan data dalam penelitian, sering hanya ditekankan pada
uji validitas dan reliabilitas. Dalam penelitian kuantitatif, kriteria utama
terhadap data hasil penelitian adalah, valid, reliabel dan obyektif. Validitas
merupakan derajad ketepatan antara data yang terjadi pada obyek penelitian
dengan daya yang dapat dilaporkan oleh peniliti. Dengan demikian data yang
valid adalah data “yang tidak berbeda” antar data yang dilaporkan oleh peneliti
dengan data yang sesungguhnya terjadi pada obyek penelitian.
Pada penelitian ini peneliti menggunakan uji kredibilitas data
yaitu dengan menggunakan triangulasi. Pengecekan dengan cara pemeriksaan ulang.
Pemeriksaan ulang bisa dan biasa dilakukan sebelum dan atau sesudah data
dianalisis. Pemeriksaan dengan cara triangulasi dilakukan untuk meningkatkan
derajat kepercayaan dan akurasi data. Triangulasi dalam pengujian kredibilitas
ini diartikan sebagai pengecekan data dari berbagai sumber dengan berbagai cara
dan berbagai waktu.
Dengan demikian ada beberapa macam triangulasi yaitu :
1. Triangulasi sumber, triangulasi sumber untuk menguji
kredibilitas data dilakukan dengan cara mengecek data yang telah diperoleh
melalui beberapa sumber.
2. Triangulasi teknik, triangulasi teknik untuk menguji
kredibilitas data dilakukan dengan cara mengecek data kepada sumber yang sama
dengan teknik yang berbeda.
3. Triangulasi waktu, waktu juga sering mempengaruhi kredibilitas
data. Untuk itu dalam rangka pengujian kredibilitas data dapat dilakukan dengan
cara melakukan pengecekan dengna wawancara, observasi atau teknik lain dalam
waktu atau situasi yang berbeda.
Dalam hal ini peneliti melakukan pengujian kredibilitas data
menggunakan triangulasi sumber, yaitu dengan cara mengecek data yang diperoleh
dari beberapa sumber (wawancara, observasi, dan dokumen.
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Hasil
Penelitian
1. Deskripsi
Daerah Penelitian
Yayasan Sinar Jati Kemiling Lampung merupakan wadah atau tempat
pelayanan dan rehabilitasi sosial penyandang masalah kesejahteraan sosial.
Yayasan Sinar Jati Kemiling Lampung telah dirintis sejak tahun 1992 yang
merupakan salah satu lembaga yang bergerak dibidang kesejahteraan sosial namun
belum berbadan hukum. Pada tahun 2000 mulai didaftarkan dan disahkan sebagai
lembaga yang berbadan hukum yang bernama “Yayasan Sinar Jati” dengan Akte
Notaris No.18 tanggal 3 Maret 2000 yang berlokasi di jalan Marga No.14/200
Kelurahan Sumberejo Kecamatan Kemiling Bandar Lampung.
Lembaga Kesejahteraan Sosial (LKS) yang ditangani di Yayasan Sinar
Jati adalah:
a.
Panti Bina Laras yaitu
menangani masalah penderitaan psikotik dan ek psikotik.
b.
Panti Pamardi Putra yaitu menangani masalah korban penyalahgunaan
Narkoba (Napza)
c.
Panti Welas Asih yaitu menangani masalah Lansia atau Jompo
terlantar.
d.
Panti Nur Qolbu yaitu menangani masalah Anak Jalanan dan Anak
Terlantar.
e.
Panti Gepeng Sinar Jati yaitu menangani masalah gelandangan dan
pengemis.
Lembaga Kesejahteraan Sosial (LKS) Pamardi Putra adalah Lembaga
Swadaya Masyarakat (LSM) yang bekerja sama dengan Dinas Sosial, Dinas Kesehatan
(RSU. Abdoel Moeloek) dan Pemerintah Daerah (PEMDA) Propinsi Lampung, yang bergerak
dibidang Pembinaan atau Pelayanan dan Rehabilitasi Korban Napza akibat dari
penyalahgunaan obat-obatan terlarang (NAPZA). Metode yang diterapkan melalui
pengobatan secara medis dan non medis yang meliputi: bimbingan fisik, mental,
batin, sosial kerohanian dan keterampilan. LKS Pamardi Putra Yayasan Sinar Jati
telah ditunjuk oleh Kementrian Sosial sebagai Institusi Penerima Wajib Lapor
(IPWL) bagi korban penyalahgunaan Napza dengan SK No.40/HUK/2015.
a. Tujuan
Tujuan LKS Pamardi Putra yaitu :
1)
Pemulihan, penyadaran dan kepercayaan diri agar dapat berperan
aktif akan fungsi diri dan rasa tanggung jawab terhadap diri sendiri, keluarga,
masyarakat dan negara.
2)
Meningkatkan gairah dan kenikmatan hidup yang dapat membangun
potensi diri dalam menghadapi segala bentuk persoalan yang selalu beriringan
dengan waktu.
b. Visi dan Misi
1)
Visi
a.
Membantu umat dengan hikmat
2)
Misi
a.
Menjadikan manusia yang manusiawi, mampu berfikir untuk memperbaiki
skala sikap diri.
b.
Menjadikan pribadi-pribadi yang mampu memimpin dirinya sendiri.
c.
Menjadikan manusia yang mampu bersosialisasi dan mampu menempatkan
diri.
d.
Menjadikan manusia yang mampu berkarya untuk memenuhi kebutuhan
hidupnya.
2. Hasil Penelitian Sebelum diberikan Tindakan
Sebelum memasuki siklus I dan II peneliti melakukan siklus sebelum
diberikan tindakan, siklus ini dilakukan untuk membandingkan klien sebelum dan
sesudah diberikan tindakan. Kondisi awal klien akan dijelaskan satu persatu
dibawah ini.
a.
Kondisi awal peserta didik
Rm
Peserta
didik Rm berusia 15 tahun, Rm pasien termuda yang ada di Yayasan Sinar Jati
Kemiling. Rm masuk ke panti rehabilitas pada bulan lalu ia didapati sedang
menggunakan ekstasi oleh gurunya dibelakang sekolah. Rm mengaku bahwa ia hanya
coba-coba dan ikut-ikutan teman. Kondisi awal spiritual Rm sebelum diberikan
konseling logoterapi menunjukan bahwa masih kurang ini terlihat dari lembar
observasi Rm dan hasil wawancara yang dilakukan. Dalam dimensi-dimensi aspek
spiritual Rm masih banyak yang belum berkembang ini terlihat dari kurangnya
pengetahuan Rm mengenai makna dan tujuan hidupannya, tidak memiliki misi hidup
dan sebagainya.
Dari
beberapa pertanyaan yang peneliti berikan dapat diambil kesimpulan bahwa masih
kurangnya aspek spiritual Rm, ini didukung juga oleh hasil observasi pra
tindakan yang dilakukan oleh petugas yang ada di Yayasan Sinar Jati Kemiling.
Oleh karena itu peserta didik harus diberikan tindakan kkonseling logoterapi
agar diharapkan dapat meningkatkan aspek spiritualnya.
b.
Kondisi awal peserta didik
Iz
Peserta
didik Iz berusia 17 tahun, Iz adalah pasien baru yang berada di Yayasan Sinar
Jati Kemiling. Iz telah menggunakan narkoba jenis ganja selama setahun, dan
baru dimasukkan kedalam panti rehabilitas baru ini. Kondisi awal peserta didik
Iz masih belum stabil dikarenakan masih adanya penyesuaian diri Iz terhadap
lingkungan panti. Oleh karena itu peneliti masih sulit untuk melakukan
wawancara terhadap peserta didik Iz. Namun dari hasil observasi yang dilakukan
petugas Yayasan Sinar Jati Kemiling, aspek spiritual peserta didik Iz masih
dalam kategori kurang ini terlihat dari jawaban pertanyaan observasi dan nilai
dari lembar observasi yang menunjukan bahwa peserta didik Iz masih dalam
kategori kurang.
c.
Kondisi awal pada peserta
didik Ang
Peserta
didik Ang adalah pasien rehabilitas yang terlama berada di Yayasan Sinar Jati
Kemiling, Ang masuk ke panti pada tahun lalu dkarenakan dia menggunakan narkoba
jenis shabu. Kondisi awal aspek spiritual peserta didik Ang sebelum dilakukan
tindakan konseling logoterapi menunjukkan cukup. Ini terlihat dari
hasilobservasi dan wawancara yang dilakukan terhadap peserta didik Ang. Dalam
hasil observasi peserta didik Ang menunjukkan bahwa aspek spiritual yang ada
pada dirinya dalam kategori cukup dilihat dari hasil observasi yang dilakukan
oleh petugas Yayasan Sinar Jati Kemiling. Ini diperkuat dengan hasil wawancara
yang dilakukan peneliti terhadap pseserta didik Ang, dalam hasil wawancara
terlihat bahwa dimensi-dimensi spiritual peserta didik Ang sudah mencukupi,
walaupun masih jauh dalam kata baik.
Dari
beberapa pertanyaan yang peneliti berikan dapat diambil kesimpulan bahwa aspek
spiritual Ang dalam keadaan cukup, ini didukun juga oleh hasil observasi pra
tindakan yang dilakukan oleh petugas yang ada di Yayasan Sinar Jati Kemiling.
Oleh karena itu peserta didik harus diberikan tindakan konseling logoterapi
agar diharapkan dapat meningkatkan aspek spiritualnya.
d.
Kondisi awal peserta didik
Ar
Peserta
didik Ar adalah salah satu pasien yang ada di Yayasan Sinar Jati Kemiling.
Peserta didik Ar sudah menjalani rehabilitas selama kurang lebih satu bulan.
Peserta didik Ar menggunakan narkoba jenis shabu, sudah hampir 1 tahun ia
menggunakannya. Pada awalnya pesera didik Ar hanya coba-coba dari dosis rendah,
namun semakin lama Ar semakin kencanduan dan menambah dosisnya. Ar mengaku
tidak bisa lepas dari obat tersebut walaupun Ar berusaha untuk tidak meminum
obat tesebut. Dari data observasi dan wawancara aspek spiritual peserta didik
Ar menunjukkan bahwa masih kurang. Ini terlihat dari hasil wawancara yang
didukung oleh hasil dari observasi. Dalam dimensi-dimensi spiritual yang
diberikan masih banyak yang belum terpenuhi oleh peserta didik Ar, dapat
dilihat dari masih bingungnya Ar menjelaskan maknadan tujuan hidupnya serta
kurangnya Ar melakukan ibadah dan lainnya.
Dari
beberapa pertanyaan yang peneliti berikan dapat diambil kesimpulan bahwa masih
kurangnya aspek spiritual Ar, ini didukung juga oleh hasil observasi pra
tindakan yang dilakukan oleh petugas yang ada di Yayasan Sinar Jati Kemiling.
Oleh karena itu peserta didik harus diberikan Tuhan, serta menghormati orang
lain dalam menjalankan ibadah sesuai dengan agamanya.
Kondisi
awal sebelum penelitian peserta didik yang mendapatkan nilai 3,20-4,00
berjumlah 0 peserta didik dengan rata-rata persentasi 0% yang termasuk kategori
sangat baik, peserta didik yang mendapatkan nilai 2,80-3,19 berjumlah 0 peserta
didik dengan rata-rata persentasi 0% yang termasuk kategori baik, peserta didik
yang mendapatkan nilai 2,40-2,79 berjumlah 2 peserta didik dengan rata-rata
persentasi 40% yang termasuk kategori cukup, dan peserta didik yang mendapatkan
nilai < 2,40 berjumlah 3 peserta didik dengan rata-rata 60% yang termasuk
dalam kategori kurang.
3. Hasil Penelitian Siklus I
Pelaksanaan tindakan siklus I dilaksanakan pada tanggal 18 Januari
sampai dengan 1 Februari 2017, tahapan dari siklus I dapat diuraikan sebagai
berikut :
a.
Siklus I terhadap peserta didik Rm
1.
Perencanaan
Rangkaian kegiatan yang dilakukan
pada tahap perencanaan sebagai berikut :
a.
Menyusun Rencana Pelaksanaan Layanan (RPL)
Sehari
sebelum melakukan pelaksanaan terlebih dahulu membuat Rencana Pelaksanaan
Layanan (RPL) dengan konseling logoterapi. Model konseling logoterapi umumnya menggunakan
langkah-langkah yang relatif sama dengan sesi konseling lainnya :
1)
Tahap perkenalan dan pembinaan rapport
Pada
tahap ini diawali dengan menciptakan suasana nyaman untuk konsultasi dengan
membina rapport yang semakin lama semakin membuka peluang untuk sebuah encounter.
Inti sebuah encounter adalah penghargaan pada sesama manusia, ketulusan hati,
dan pelayanan. Percakapan pada tahap ini tidak jarang memberikan efek terapi
bagi peserta didik.
2)
Tahap pengungkapan dan penjajagan masalah
Pada
tahap ini konselor mulai membuka dialog mengenai masalah yang dihadapi konseli.
Berbeda dengan konseling lain yang cenderung membeiarkan konseli “sepuasnya”
mengungkapkan masalahnya, dalam logoterapi konseli sejak awal diarahkan untuk menghadapi
masalah itu sebagai kenyataan.
3)
Tahap pembahasan bersama
Konselor
dan konseli bersama-sama membahas dan menyamakan persepsi atas masalah yang
dihadapi. Tujuannya untuk menemukan arti hidup sekalipun dalam penderitaan.
4)
Tahap evaluasi dan penyimpulan
Pada
tahap ini konselor mencoba untuk memberi interpretasi atas informasi yang
diperoleh sebagai bahan untuk tahap selanjutnya, yaitu perubahan sikap dan
perilaku konseli. Pada tahap-tahap ini tercakup modifikasi sikap, orientasi
terhadap makna hidup, penemuan dan pemenuhan makna, dan pengurangan symptom.
2.
Pelaksaan Tindakan
a.
Melakukan perkenalan dan
pembinaan rapport
Sebelum
memasuki tahap pengungkapan dan penjajagan masalah peneliti meperkenalkan diri
dan menciptakan suasana nyaman agar klien lebih rileks dan lebih terbuka.
Setelah itu peneliti akan memasuki encounter, yaitu membangun hubungan
antarpribadi yang ditandai oleh keakraban dan keterbukaan, serta sikap dan
kesediaan untuk saling menghargai, memahami, dan menerima sepenuhnya satu sama
lain. Efek terapi yang didapat pada tahap ini adalah membantu membuka pandangan
konseli terhadap berbagai nilai dan pengalaman hidup yang secara potensial
memungkinkan ditemukannya makna hidup, yakni bekerja dan berkarya; menghayati
cinta kasih, keindahan dan kebenaran; sikap yang tepat menghadapi musibah yang
tak terelakkan; serta memberikan harapan akan terjadinya perubahan yang lebih
baik di masa mendatang.
Pertama-tama
peneliti melakukan perkenalan dengan klien. Peneliti memperkenalkan diri,
tujuan wawancara, dan menanyakan kabar klien. Membuat suasana nyaman agar
terciptanya keterbukaan antara peneliti dan klien. Setelah itu peneliti
menanyakan alasan klien mengapa menggunakan narkoba, apa yang melatarbelakangi
klien untuk menggunakan narkoba dan bagaimana klien bisa sampai menggunakan
narkoba. Disini peneliti tidak memaksa klien untuk bercerita, disini peneliti
mengarahkan klien agar terbuka dan menceritakan semua dengan ikhlas tanpa ada
paksaan dari pihak manapun.
b.
Tahap pengungkapan dan
penjajagan masalah
Pada
tahap ini konselor mulai membuka dialog dan menanyakan kesulitan atau masalah
yang dihadapi oleh konseli serta mengarahkan konseli untuk menghadapi masalah
itu sebagai kenyataan yang harus diterima dan dapat dihadapi.
Dalam
tahap pengungkapan dan penjajagan masalah peneliti menanyakan apa yang melatarbelakangi
peserta didik dalam menggunakan narkoba. Rm mengatakan yang melatarbelakangi ia
menggunakan narkoba adalah paksaan atau ajakan dari teman-temannya. Jika ia
tidak memakai narkoba temantemannya akan mengejek dan merendahkannya oleh
karena itu ia menggunakan narkoba. Masalah yang didapat dalam tahap ini adalah
adanya paksaan terhadap Rm dan masih kurangnya Rm membentengi dan memahami
dirinya sendiri.
c.
Tahap pembahasan bersama
Dalam
tahapan pembahasan bersama, konselor dan klien saling menyatukan persepsi atas
masalah yang dihadapi, dan bersama-sama menemukan cara untuk menghadapi masalah
yang sedang menimpa konseli. Dalam tahap ini peneliti dan peserta didik Rm
bersama-sama mencari jawaban atas masalah yang Rm hadapi. Setelah menemukan jawaban
yang memungkinkan dapat menyelesaikan masalah Rm. Peneliti dan Rm menyatukan
persepsi dan menyetujui jawaban tersebut serta melaksanakannya. Lalu peneliti
mengarahkan Rm untuk mencari tujuan hidup dan nilai spiritual yang terdapat
dalam dirinya. Agar Rm tidak terjerumus kembali dalam hal-hal yang tidak baik.
d.
Pada tahap evaluasi dan
penyimpulan
Konselor
mencoba menginterprestasi atas informasi yang diperoleh sebagai bahan untuk
selanjutnya, yaitu perubahan sikap dan perilaku konseli. Setelah itu konselor
meminta konseli untuk menyimpulkan hasil yang didapat selama melakukan sesi
konseling. Dalam tahap ini peneliti mengajukan pertanyaan yang dapat
menginterpretasi Rm. Selanjutnya peneliti membiarkan Rm untuk menyimpulkan apa
yang didapat dalam sesi konseling dan melakukan token kontrak untuk melakukan
hasil yang didapat dalam sesi konseling. Setelah itu Rm mengucapkan terimakasih
kepada peniliti dan kembali keruang rehabilitas.
3.
Observasi
Setelah
pemberian tindakan peserta didik Rm diamati perkembangannya. Observasi
dilakukan dengan lembar observasi yang dilakukan oleh petugas yang berada di
yayasan Sinar Jati Kemiling. Dari hasil observasi peserta didik Rm mengalami
kemajuan dari hasil observasi sebelumnya, ini terlihat dari angka nilai yang
menunjukan kenaikan. Dan kategori Rm yang berubah dari kurang menjadi baik.
Perubahan-perubahan spiritual Rm terjadi tidak terlalu signifikan, masih
kurangnya Rm dalam memahami potensi yang ada pada dirinya.
4.
Refleksi
Setelah
melakukan tindakan dan observasi, peneliti masuk kedalam refleksi. Didalam
refleksi peneliti melakukan kegiatan untuk mengemukakan kembali apa yang sudah
terjadi. Dalam hal ini peneliti menuliskan laporan hasil dari pengamatan pada
konseling logoterapi dalam meningkatkan aspek spiritual pengguna narkoba. Dari
hasil observasi dapat disimpulkan bahwa peserta didik Rm masih kurang mengeri
mengenai apa itu aspek spiritual dan memaknai hidupnya. Oleh karena itu
peneliti akan memfokuskan hal tersebut pada siklus II agar terjadi peningkatan
yang lebih signifikan.
b. Siklus I terhadap peserta didik Iz
1. Perencanaan
Rangkaian kegiatan yang dilakukan pada tahap perencanaan sebagai
berikut :
a.
Menyusun Rencana Pelaksanaan Layanan (RPL)
Sehari sebelum
melakukan pelaksanaan terlebih dahulu membuat Rencana Pelaksanaan Layanan (RPL)
dengan konseling logoterapi. Model konseling logoterapi umumnya menggunakan
langkah-langkah yang relatif sama dengan sesi konseling lainnya :
1)
Tahap perkenalan dan pembinaan rapport
Pada
tahap ini diawali dengan menciptakan suasana nyaman untuk konsultasi dengan
membina rapport yang semakin lama semakin membuka peluang untuk sebuah encounter.
Inti sebuah encounter adalah penghargaan pada sesama manusia, ketulusan hati,
dan pelayanan. Percakapan pada tahap ini tidak jarang memberikan efek terapi
bagi peserta didik.
2)
Tahap pengungkapan dan
penjajagan masalah
Pada
tahap ini konselor mulai membuka dialog mengenai masalah yang dihadapi konseli.
Berbeda dengan konseling lain yang cenderung membeiarkan konseli “sepuasnya” mengungkapkan
masalahnya, dalam logoterapi konseli sejak awal diarahkan untuk menghadapi
masalah itu sebagai kenyataan.
3)
Tahap pembahasan bersama
Konselor
dan konseli bersama-sama membahas dan menyamakan persepsi atas masalah yang
dihadapi. Tujuannya untuk menemukan arti hidup sekalipun dalam penderitaan.
4)
Tahap evaluasi dan penyimpulan
Pada
tahap ini konselor mencoba untuk memberi interpretasi atas informasi yang
diperoleh sebagai bahan untuk tahap selanjutnya, yaitu perubahan sikap dan
perilaku konseli. Pada tahap-tahap ini tercakup modifikasi sikap, orientasi
terhadap makna hidup, penemuan dan pemenuhan makna, dan pengurangan symptom.
2.
Pelaksaan Tindakan
a.
Melakukan perkenalan dan pembinaan rapport
Sebelum
memasuki tahap pengungkapan dan penjajagan masalah peneliti meperkenalkan diri
dan menciptakan suasana nyaman agar klien lebih rileks dan lebih terbuka.
Setelah itu peneliti akan memasuki encounter, yaitu membangun hubungan
antarpribadi yang ditandai oleh keakraban dan keterbukaan, serta sikap dan
kesediaan untuk saling menghargai, memahami, dan menerima sepenuhnya satu sama
lain. Efek terapi yang didapat pada tahap ini adalah membantu membuka pandangan
konseli terhadap berbagai nilai dan pengalaman hidup yang secara potensial
memungkinkan ditemukannya makna hidup, yakni bekerja dan berkarya; menghayati
cinta kasih, keindahan dan kebenaran; sikap yang tepat menghadapi musibah yang
tak terelakkan; serta memberikan harapan akan terjadinya perubahan yang lebih
baik di masa mendatang.
Pertama-tama
peneliti melakukan perkenalan dengan klien. Peneliti memperkenalkan diri,
tujuan wawancara, dan menanyakan kabar klien. Membuat suasana nyaman agar
terciptanya keterbukaan antara peneliti dan klien. Setelah itu peneliti
menanyakan alasan klien mengapa menggunakan narkoba, apa yang melatarbelakangi
klien untuk menggunakan narkoba dan bagaimana klien bisa sampai menggunakan
narkoba. Disini peneiti tidak memaksa klien untuk bercerita, disini peneliti
mengarahkan klien agar terbuka dan menceritakan semua dengan ikhlas tanpa ada
paksaan dari pihak manapun.
b.
Tahap pengungkapan dan
penjajagan masalah
Pada
tahap ini konselor mulai membuka dialog dan menanyakan kesulitan atau masalah
yang dihadapi oleh konseli serta mengarahkan konseli untuk menghadapi masalah
itu sebagai kenyataan yang harus diterima dan dapat dihadapi. Dalam tahap
pengungkapan dan penjajagan masalah peneliti menanyakan apa yang
melatarbelakangi peserta didik dalam menggunakan narkoba. Ar mengatakan yang melatarbelakangi
ia menggunakan narkoba adalah karena adanya masalah keluarga lalu ia kabur dari
rumah dan teman-temannya merekomendasikannya narkoba untuk menyelesaikan
masalahnya. Dari masalah diatas dapat diambil kesimpulan masih kurangnya
pemahaman Ar tentang narkoba dan kurangnya kontrol diri yang mengakibatkan Ar
melampiaskan masalahnya dengan obat-obatan terlarang.
c.
Tahap pembahasan bersama
Dalam
tahapan pembahasan bersama, konselor dan klien saling menyatukan persepsi atas
masalah yang dihadapi, dan bersama-sama menemukan cara untuk menghadapi masalah
yang sedang menimpa konseli. Dalam tahap ini peneliti dan peserta didik Ar
bersama-sama mencari jawaban atas masalah yang Ar hadapi. Setelah menemukan
jawaban yang memungkinkan dapat menyelesaikan masalah Ar. Peneliti dan Ar
menyatukan persepsi dan menyetujui jawaban tersebut serta melaksanakannya. Lalu
peneliti mengarahkan Ar untuk mencari tujuan hidup dan nilai spiritual yang
terdapat dalam dirinya. Agar Ar tidak terjerumus kembali dalam hal-hal yang tidak
baik.
d.
Pada tahap evaluasi dan
penyimpulan
Konselor
mencoba menginterprestasi atas informasi yang diperoleh sebagai bahan untuk
selanjutnya, yaitu perubahan sikap dan perilaku konseli. Setelah itu konselor
meminta konseli untuk menyimpulkan hasil yang didapat selama melakukan sesi
konseling. Dalam tahap ini peneliti mengajukan pertanyaan yang dapat
menginterpretasi Ar. Selanjutnya peneliti membiarkan Ar untuk menyimpulkan apa
yang didapat dalam sesi konseling dan melakukan token kontrak untuk melakukan hasil
yang didapat dalam sesi konseling. Setelah itu Ar mengucapkan terimakasih
kepada peniliti dan kembali keruang rehabilitas.
3.
Observasi
Setelah
pemberian tindakan peserta didik Ar diamati perkembangannya. Observasi
dilakukan dengan lembar observasi yang dilakukan oleh petugas yang berada di
yayasan Sinar Jati Kemiling. Dari hasil observasi peserta didik Ar mengalami
kemajuan dari hasil observasi sebelumnya, ini terlihat dari angka nilai yang
menunjukan kenaikan. Dan kategori Ar yang berubah dari kurang menjadi baik.
Perubahan-perubahan spiritual Ar terjadi tidak terlalu signifikan, masih
kurangnya Rm dalam memahami potensi yang ada pada dirinya.
4.
Refleksi
Setelah
melakukan tindakan dan observasi, peneliti masuk kedalam refleksi. Didalam
refleksi peneliti melakukan kegiatan untuk mengemukakan kembali apa yang sudah
terjadi. Dalam hal ini peneliti menuliskan laporan hasil dari pengamatan pada
konseling logoterapi dalam meningkatkan aspek spiritual pengguna narkoba. Dari
hasil observasi dapat disimpulkan bahwa peserta didik Ar masih kurang mengeri
mengenai apa itu aspek spiritual dan memaknai hidupnya. Oleh karena itu
peneliti akan memfokuskan hal tersebut pada siklus II agar terjadi peningkatan
yang lebih signifikan.
e. Siklus I terhadap peserta didik An
1. Perencanaan
Rangkaian kegiatan yang dilakukan pada tahap perencanaan sebagai
berikut :
a.
Menyusun Rencana Pelaksanaan
Layanan (RPL)
Sehari
sebelum melakukan pelaksanaan terlebih dahulu membuat Rencana Pelaksanaan
Layanan (RPL) dengan konseling logoterapi. Model konseling logoterapi umumnya
menggunakan langkah-langkah yang relatif sama dengan sesi konseling lainnya :
1)
Tahap perkenalan dan pembinaan rapport
Pada
tahap ini diawali dengan menciptakan suasana nyaman untuk konsultasi dengan
membina rapport yang semakin lama semakin membuka peluang untuk sebuah encounter.
Inti sebuah encounter adalah penghargaan pada sesama manusia, ketulusan hati,
dan pelayanan. Percakapan pada tahap ini tidak jarang memberikan efek terapi
bagi peserta didik.
2)
Tahap pengungkapan dan penjajagan masalah
Pada
tahap ini konselor mulai membuka dialog mengenai masalah yang dihadapi konseli.
Berbeda dengan konseling lain yang cenderung membeiarkan konseli “sepuasnya”
mengungkapkan masalahnya, dalam logoterapi konseli sejak awal diarahkan untuk
menghadapi masalah itu sebagai kenyataan.
3)
Tahap pembahasan bersama
Konselor
dan konseli bersama-sama membahas dan menyamakan persepsi atas masalah yang
dihadapi. Tujuannya untuk menemukan arti hidup sekalipun dalam penderitaan.
4)
Tahap evaluasi dan penyimpulan
Pada tahap ini konselor mencoba untuk memberi interpretasi atas informasi
yang diperoleh sebagai bahan untuk tahap selanjutnya, yaitu perubahan sikap dan
perilaku konseli. Pada tahap-tahap ini tercakup modifikasi sikap, orientasi
terhadap makna hidup, penemuan dan pemenuhan makna, dan pengurangan symptom.
2. Pelaksaan Tindakan
a.
Melakukan perkenalan dan pembinaan rapport
Sebelum
memasuki tahap pengungkapan dan penjajagan masalah peneliti meperkenalkan diri
dan menciptakan suasana nyaman agar klien lebih rileks dan lebih terbuka.
Setelah itu peneliti akan memasuki encounter, yaitu membangun hubungan
antarpribadi yang ditandai oleh keakraban dan keterbukaan, serta sikap dan
kesediaan untuk saling menghargai, memahami, dan menerima sepenuhnya satu sama
lain. Efek terapi yang didapat pada tahap ini adalah membantu membuka pandangan
konseli terhadap berbagai nilai dan pengalaman hidup yang secara potensial
memungkinkan ditemukannya makna hidup, yakni bekerja dan berkarya; menghayati
cinta kasih, keindahan dan kebenaran; sikap yang tepat menghadapi musibah yang
tak terelakkan; serta memberikan harapan akan terjadinya perubahan yang lebih
baik di masa mendatang.
Pertama-tama
peneliti melakukan perkenalan dengan klien. Peneliti memperkenalkan diri, tujuan
wawancara, dan menanyakan kabar klien. Membuat suasana nyaman agar terciptanya
keterbukaan antara peneliti dan klien. Setelah itu peneliti menanyakan alasan
klien mengapa menggunakan narkoba, apa yang melatarbelakangi klien untuk
menggunakan narkoba dan bagaimana klien bisa sampai menggunakan narkoba. Disini
peneliti tidak memaksa klien untuk bercerita, disini peneliti mengarahkan klien
agar terbuka dan menceritakan semua dengan ikhlas tanpa ada paksaan dari pihak
manapun.
b.
Tahap pengungkapan dan penjajagan masalah
Pada
tahap ini konselor mulai membuka dialog dan menanyakan kesulitan atau masalah
yang dihadapi oleh konseli serta mengarahkan konseli untuk menghadapi masalah
itu sebagai kenyataan yang harus diterima dan dapatdihadapi. Dalam tahap
pengungkapan dan penjajagan masalah peneliti menanyakan apa yang
melatarbelakangi peserta didik dalam menggunakan narkoba. An mengatakan yang
melatarbelakangi ia menggunakan narkoba adalah rasa penasaran An terhadap
barang tersebut dan didukung oleh lingkungan sekitarnya yang mana
teman-temannya banyak menggunakan narkoba, dan akhirnya An mencoba sampai
menggunakan dalam dosis tinggi. Masalah yang dapat disimpulkan dalam tahap ini
adalah rasa ingi tahu An yang sangat tinggi namun An tidak memiliki filter atau
pembatas untuk menyaring bahwa itu baik atau buruk untuk dirinya.
c.
Tahap pembahasan bersama
Dalam tahapan pembahasan bersama, konselor dan klien saling menyatukan
persepsi atas masalah yang dihadapi, dan bersama-sama menemukan cara untuk
menghadapi masalah yang sedang menimpa konseli. Dalam tahap ini peneliti dan
peserta didik An bersama-sama mencari jawaban atas masalah yang An hadapi.
Setelah menemukan jawaban yang
memungkinkan dapat menyelesaikan masalah An. Peneliti dan An menyatukan
persepsi dan menyetujui jawaban tersebut serta melaksanakannya. Lalu peneliti
mengarahkan An untuk mencari tujuan hidup dan nilai spiritual yang terdapat
dalam dirinya. Agar An tidak terjerumus kembali dalam hal-hal yang tidak baik.
d.
Pada tahap evaluasi dan
penyimpulan
konselor mencoba menginterprestasi atas informasi yang diperoleh sebagai
bahan untuk selanjutnya, yaitu perubahan sikap dan perilaku konseli. Setelah
itu konselor meminta konseli untuk menyimpulkan hasil yang didapat selama
melakukan sesi konseling. Dalam tahap ini peneliti mengajukan pertanyaan yang
dapat menginterpretasi An. Selanjutnya peneliti membiarkan An untuk
menyimpulkan apa yang didapat dalam sesi konseling dan melakukan token kontrak
untuk melakukan hasil yang didapat dalam sesi konseling. Setelah itu An mengucapkan
terimakasih kepada peniliti dan kembali keruang rehabilitas.
3.
Observasi
Setelah pemberian tindakan peserta didik An diamati
perkembangannya. Observasi dilakukan dengan lembar observasi yang dilakukan
oleh petugas yang berada di yayasan Sinar Jati Kemiling. Dari hasil observasi
peserta didik An mengalami kemajuan dari hasil observasi sebelumnya, ini
terlihat dari angka nilai yang menunjukan kenaikan. Dan kategori An yang
berubah dari cukup menjadi baik. Perubahan-perubahan spiritual An terjadi
sangat signifikan.
4.
Refleksi
Setelah melakukan tindakan dan observasi, peneliti masuk kedalam refleksi.
Didalam refleksi peneliti melakukan kegiatan untuk mengemukakan kembali apa
yang sudah terjadi. Dalam hal ini peneliti menuliskan laporan hasil dari pengamatan
pada konseling logoterapi dalam meningkatkan aspek spiritual pengguna narkoba.
Dari hasil observasi dapat disimpulkan bahwa peserta didik An masih kurang
mengeri mengenai apa itu aspek spiritual dan memaknai hidupnya..
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
B. Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilaksanakan dan analisis
hasil pada bab sebelumnya, maka pada bab ini penulis dapat menarik simpulan
sebagai berikut : Bahwa melalui konseling logoterapi dapat meningkat aspek
spiritual pengguna narkoba di Yayasan Sinar Jati Kemiling Bandar Lampung. Hal
tersebut ditandai dari adanya peningkatan aspek spiritual. Pada kondisi awal
menunjukkan bahwa 60% aspek spiritual pada peserta didik masih kurang, hal ini
dapat diketahui dengan masih banyaknya peserta didik tidak memberi salam ketika
sebelum dan
sesudah memberikan pendapat, kurangnya menjaga kebersihan
lingkungan, kurangnya rasa tolong menolong terhadap teman yang sedang mengalami
kesulitan, dan mengungkapkan kekaguman secara lisan maupun tulisan terhadap
Tuhan saat melihat kebesaran Tuhan, serta menghormati orang lain dalam
menjalankan ibadah sesuai dengan agamanya. Pada siklus I sebesar 60% aspek
spiritual pada peserta didik menunjukan nilai sangat baik. Dan pada siklus II
diketahui 80% peserta didik mendapatkan nilai sangat baik. Dengan demikian
presentase tersebut telah mencapai target. Dalam grafik hasil penilaian aspek
spiritual dan hasil observasi dapat diketahui bahwa dengan menggunakan
konseling logoterapi dapat meningkat aspek spiritual
peserta didik pengguna narkoba di yayasan Sinar Jati Kemiling serta
mengalami peningkatan aspek spiritual yang sangat baik.
C. Saran-saran
1. Bagi konselor
a.
Sebagai konselor harus lebih berfokus pada semua konseli yang
bermasalah maupun sebaliknya.
b.
Berikan contoh yang baik kepada peserta didik, buatlah peserta
didik membutuhkan kita dan jadilah pendengar yang baik untuk pesertadidiknya.
2. Bagi peserta didik
a.
Bertemanlah dengan orang yang dapat memotivasi dan semangat tinggi
dalam perubahan diri menjadi baik.
b.
Jadilah orang yang mempunyai kepribadian yang baik yang mampu
mengembangkan potensi dalam diri.
c.
Tunjukan bahwa kita bisa berubah dan bahkan menjadi yang lebih baik
dari sebelumnya.
D. Penutup
Dengan mengucapkan syukur Alhamdulilah atas berkat do’a dan
dukungan dari segala pihak dan hidayah dari Allah SWT yang telah memberikan
petunjuknya sehingga skripsi ini dapat selesai walaupun ada kekurangan serta
kekeliruan dan oleh sebab itu kritik saran bersifat konstruksif sangat
diperlukan, saya sebagai penulis terimakasih sedalam-dalamnya.
Komentar
Posting Komentar