Tsaniyah Rohmatil Maulah
Perilaku
Menyimpang Pada Kalangan Remaja
(Studi kasus :(Upaya Pemulihan Psikis Akibat Menggunakan Narkotika
di Surabaya Menggunakan Konseling Islam)
Oleh
Tsaniyah Rohmatil Maulah
NIM. B03218046
PROGRAM STUDI BIMBINGAN KONSELING ISLAM
FAKULTAS DAKWAH DAN KOMUNIKASI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN AMPEL SURABAYA
2019
BAB I
Pendahuluan
a.
Latar Belakang
Akhir-akhir ini
banyak terjadi kasus-kasus yang penyimpangan sosial di antaranya penggunaan
narkoba . Penyimpangan sosial adalah sesuatu yang melanggar norma –norma hukum
yang ada dikalangan masyarakat. Perilaku
penyimpang ini perlu mendapat penanganan dengan segera, sebelum pelakunya
menyakiti diri sendiri atau menimbulkan masalah hukum.Sebab di berbagai Negara,
beberapa jenis perilaku menyimpang penggunaan narkoba dianggap tindakan
criminal dan dapat dijatuhi hukuman pidana.
Menurut
Undang-Undang RI Nomor 35 Tahun 2009 Tentang Narkotika padaBab I Pasal I,
narkotika adalah zat atau obat yang berasal dari tanaman atau bukan tanaman,
baik sintetis maupun semisintetis, yang dapat menyebabkan penurunan atau
perubahan kesadaran, hilangnya rasa nyeri dan dapat menimbulkan ketergantungan.
Narkotika adalah
zat atau obat baik yang bersifat alamiah, sintetis, maupun semi sintetis yang
menimbulkan efek penurunan kesadaran, halusinasi, serta daya rangsang.
Sementara menurut UU Narkotika pasal 1 ayat 1 menyatakan bahwa narkotika
merupakan zat buatan atau pun yang berasal dari tanaman yang memberikan efek
halusinasi, menurunnya kesadaran, serta menyebabkan kecanduan. Obat-obatan
tersebut dapat menimbulkan kecanduan jika pemakaiannya berlebihan.Pemanfaatan
dari zat-zat itu adalah sebagai obat penghilang nyeri serta memberikan
ketenangan.Penyalahgunaannya bisa terkena sanksi hukum.
Penyebab
terjadinya penyalahgunaan narkoba di kalangan remaja disebabkan karena beberapa
faktor yakni : faktor internal maupun faktor eksternal. Faktor internal,yakni
faktor yang berasal dari diri seseorang, dimana faktor internal itu sendiri
terdiri dari : Faktor Kepribadian, Faktor Keluarga serta Faktor Ekonomi.
Sedangkan Faktor Eksternal, yakni faktor yang berasal dari luarseseorang/
remaja yang mempengaruhi terjadinya penyalahgunaan narkoba. Faktor Eksternal
itu sendiri terdiri dari : Faktor Pergaulan Dan Faktor Sosial / Masyarakat.
Rehabilitasi
terhadap pecandu narkotika adalah suatu proses pengobatan untuk membebaskan
pecandu dari ketergantungan, dan masa menjalani rehabilitasi tersebut
diperhitungkan sebagi masa menjalani hukuman. Rehabilitasi terhadap pecandu
narkotika juga merupakan suatu bentuk perlindungan sosial yang mengintegrasikan
pecandu ke dalam tertib sosial agar tidak lagi melakukan penyalahgunaan
narkotika. Dan rehabilitasi merupakan langkah proses yang harus dijalani
sebagai pemulihan untuk dapat hidup normal kembali seperti semula. Penting nya
rehabilitasi bagi para pecandu narkoba dikarenakan orang yang sakit, dan
keadaanya tidak normal. Kecanduan narkoba itu dapat menyerang fungsi otak yang
bersifat kronis dan memiliki resiko kambuh yang tertinggi sehingga harus ditangani
dengan cara rehabilitasi.
Masalah Saat ini
peredaran narkotika semakin merajalela dikarenakan Indonesia bukan lagi tempat
transit, tetapi menjadi sasaran pemasaran, dan bahkan tempat produksi narkotika
oleh jaringan sindikat narkotika internasional. Bahaya narkotika yang sangat
mengerikan membuat pemerintah harus menyelamatkan para penyalahguna narkotika
agar tidak terjebak makin dalam, oleh karena itu langkah pemerintah adalah
menyelamatkan generasi muda yang telah terjerat narkotika dengan cara merehabilitasi
penyalahguna narkotika maupun pecandu narkotika sehingga penyalahguna dan
pecandu narkotika terbebas dari pengaruh narkotika. Rehabilitasi merupakan
salah satu upaya dari pemerintah untuk menanggulangi dampak dari penyalahgunaan
narkoba.
Rehabilitasi
sosial merupakan suatu proses kegiatan pemulihan secara terpadu , baik fisik ,
mental, maupun sosial agar bekas pecandu narkotika dapat kembali melaksanakan
fungsi sosial dalam kehidupan masyarakat yang tertuang dalam pasal 1 angka 17
Undang – Undang No. 35 Tahun 2009. Pasca rehabilitasi sangat penting karena
apabila penyalahguna narkotika telah terbebas dari jerat narkotika dan akan
terjun ke dalam masyarakat, tetapi untuk memperoleh lapangan pekerjaan
sangatlah sulit karena stigma negatif terlanjur tertanam di masyarakat. Peran
pemerintah untuk memberikan sosialisasi kepada masyarakat agar membantu
pemerintah dalam menerima mantan penyalahguna narkotika agar dapat kembali
menjalankan fungsinya dalam masyarakat.
b.
Objek Kajian
1.
Kajian material : Upaya pemulihan psikis Danu akibat menggunakan
Narkotika di Surabaya
2.
Kajian Formal : Dalam hal ini peran seorang konselor untuk menangani
kasus penyalahguna narkoba di Surabaya
Yaitu :
1.
Mengasi solusi kepada klien.
2.
Menyuru klien agar mendekat kepada allah.
3.
Orang tua harus saling mengawasi agar anak tidak bergaul dengan
bebas.
4.
Memberikan sosialisasi terhadap dampak buruk.
5.
Memberi kajian kepada klien.
c.
Rumusan Masalah
1.
Bagaimana peran masyarakat dalam meminimalisir kasus upaya
pemulihan psikis danu akibat menggunakan narkotika di Surabaya ?
2.
Apakah pemberian hak untuk
mendapatkan rehabilitasi bagi penyalahguna narkotika sudah dapat dilaksanakan
sesuai dengan ketentuan undang-undang?
d.
Tujuan
1.
Untuk mengetahui kasus upaya pemulihan psikis danu akibat
menggunakan narkotika di Surabaya.
2.
Agar mengetahui sudahkah rehabilitasi sudah sesuai menurut UUD di
Indonesia.
e.
Kontribusi
1.
Bagi Masyarakat Dari sisi masyarakat, dengan dorongan ketakwaan
yang tinggi akan menjadi lingkungan yang kondusif dalam mencegah perbuatan yang
dilarang agama termasuk mengkonsumsi narkoba. Negara juga memiliki peran
penting dalam mencegah masuk dan beredarnya narkoba di dalam negeri. Selain itu
upaya pencegahan dengan memberikan sanksi yang tegas kepada pengguna, pengedar
dan produsen narkoba. Dalam Islam pengguna, pengedar, dan produsen narkoba
adalah pelaku kriminal yang harus diberi sanksi sesuai dengan tingkat
kejahatannya.
2.
Bagi Orang tua
Bagi
Orang tua yang anaknya menjadi korban narkoba, perlu ada suatu kerjasama
ataupun pertemuan dengan oranglain yang memiliki pengalaman yang sama tentang
masalah narkoba. Pertemuan dan diskusi akan sangat membantu menyelesaikan
masalah. Orang perlu menjalani kerjasama dengan sesama orangtua lain agar bisa
saling berbagi informasi dan mencari penyelesaian untuk menanggulangi masalah
narkoba. Dengan adanya pertemuan dan diskusi dengan yang lainnya, akan membuat
masalah kita menjadi ringan dan kita mampu menerima bahwa anak kita terlibat
narkoba dan harus diselamatkan. Dan orangtua tidak merasa sendiri menghadapi
masalahnya dan akan merasa optimis dapat menyelesaikannya. Biasanya sesama
orangtua yang anggota keluarganya terlibat penyalahgunaan narkoba, ditanamkan
pemahaman bahwa menjadi pecandu merupakan penyakit.Karena itu pecandu harus
disembuhkan dari penyakit itu.
3.
Bagi peneliti
Hasil
penelitian ini digunakan oleh peniliti sebagai penambahan wawasan dan ilmu
pengetahuan tentang upaya pihak kepolisian dalam penggunaan narkotika yang
dilakukan oleh seseorang.Bagaimana menanggulangi permasalahan yang terjadi pada
remaja saat ini yang melakukan narkotika.
f.
Tesis
Penyembuhan bagi remaja yang
kecanduan narkotika merupakan sumbangan terhadap perkembangan Bimbingan dan
Konseling islam.
g.
Paradigma
1. Pengertian
Narkotika
Menurut UU
No.22 Tahun 1997, Narkotika merupakan zat atau obat yang berasal dari tumbuhan
atau bukan tumbuhan baik sintetis ataupun semi sintetis yang bisa menyebabkan
penurunan/perubahan kesadaran, hilangnya rasa, mengurangi sampai menghilangkan
rasa nyeri, dan bisa menimbulkan ketergantungan.
Istilah Narkoba
atau narkotika dan obat/bahan berbahaya. Selain istilah narkoba istilah lain
yang diperkenankan khususnya oleh Kementrian Kesehatan Republik Indonesia yaitu
Napza yaitu singkatan dari Narkotika, Psikotropika dan Zat Adiktif.
Dari beberapa
istilah diatas mengacu pada kelompok senyawa yang sering memiliki risiko
kecanduan untuk penggunanya. Di tahun 2015 ada 35 jenis narkoba yang dikonsumsi
oleh pengguna narkoba di Negara Indonesia dari yang paling murah sampai yang
paling mahal seperti LSD. Di dunia ada sekitar 354 jenis dari Narkoba.
Narkotika
dibagi menjadi tiga golongan, antara lain:
·
Narkotika Golongan I: Adalah narkotika yang paling berbahaya.
Karena daya adiktifnya paling tinggi. Golongan ini digunakan unutk penelitian
dan ilmu pengetahuan. Contohnya adalah Heroin, ganja, kokain, morfin, dan
opium.
·
Narkotika Golongan II: Adalah narkotika yang memiliki daya adiktif
kuat, tetapi bermanfaat untuk pengobatan dan penelitian. Contohnya adalah:
Benzetidin, petidin dan betametadol
·
Narkotika Golongan III: Adalah narkotika yang memiliki daya adiktif
yang ringan, tetapi bermanfaat untuk pengobatan dan penelitian. Contohnya
adalah kodein dan turunannya.
2.
Langkah-langkah Konseling Islam
adapun
langkah-langkah dalam Bimbingan dan Konseling Islam, diantaranya yaitu:
1.
Identifikasi
Proses Identifikasi Masalah atau menentukan masalah dalam
konseling dapat dilakukan terlebih dahulu melakukan identifikasi masalah
(identifikasi kasus-kasus) yang dialami oleh klien.Setelah semua masalah
teridentifikasi untuk menentukan masalah mana untuk dipecahkan harus
menggunakan prinsip skala prioritas.Penetapan skala prioritas ditentukan oleh
dasar akibat atau dampak yang lebih besar terjadi apabila masalah tersebut
tidak dipecahkan.Pada tahap ini konselor diharapkan aktif dalam mencegah
permasalahan klien. Konselor perlu lebih banyak memberikan pertanyaan terbuka
dan mendengar aktif terhadap apa
yang dikemukakan oleh klien. Mendengar aktif adalah suatu keterampilan menahan
diri untuk tidak berbicara, tidak mendengarkan secara seksama, mengingat-ingat
dan memahami perkataan klien, dan menganalisis secara seksama terhadap penjelasan
klien yang relevan dan yang tidak relevan.
2.
Diagnosis
Diagnosis
merupakan usaha konselor menetapkan latar belakang masalah atau faktor-faktor
penyebab timbulnya masalah pada klien.
3.
Prognosis
Setelah
diketahui faktor-faktor penyebab timbulnya masalah pada klien selanjutnya
konselor menetapkan langkah-langkah bantuan yang diambil.
4.
Terapi
Setelah
ditetapkan jenis atau langkah-langkah pemberian bantuan selanjutnya adalah
melaksanakan jenis bantuan yang telah ditetapkan.Dalam contoh diatas,
pembimbing atau konselor melaksanakan bantuan belajar atau bantuan sosial yang
ditetapkan untuk memecahkan masalah konseli.
5.
Evaluasi
dan Follow Up
Sebelum
mengakhiri hubungan konseling, konselor dapat mengevaluasi berdasarkanperformace klien
yang terpancar dari kata-kata, sikap, tindakan, dan bahasa tubuhnya.Jika
menunjukkan indicator keberhasilan, pengakhiran konseling dapat dibuat.Evaluasi
dilakukan untuk melihat apakah upaya bantuan yang telah diberikan memperoleh
hasil atau tidak. Apabila sudah memberikan hasil apa langkah-langkah
selanjutnya yang perlu diambil, begitu juga sebaliknya apabila belum berhasil
apa langkah-langkah yang harus diambil berikutnya. dalam langkah Follow Up atau tindak lanjut dilihat perkembangan selanjutnya dalam jangka
waktu yang lebih lama.
h.
Analisis
Teori
Analisis masalah dengan Teori dalam Konseling:
Dalam penelitian di Surabaya dengan judul
"Peran Bimbingan Konseling Islam dalam Upaya Pemulihan Psikis Akibat Menggunakan Narkotika” dapat juga
menggunakan Teori dalam Konseling yaitu Teori Behaviorisme.Behaviorisme adalah
aliran yang memandang manusia sebagai makhluk yang digerakkan oleh lingkungan (homo mechanicus).Mesin adalah suatu
benda yang bekerja tanpa ada motif dibelakangnya, mesin berjalan tidak karena
adanya dorongan alam bawah sadar tertentu, ia berjalan semata-mata karena
lingkungan sistemnya. Behaviorisme tidak mempersoalkan apakah manusia itu baik
atau, rasional atau emosiaonal. Behaviorisme hanya ingin mengetahui bagaimana
perilaku manusia oleh lingkungan .manusia dalam pandagan teori Behaviorisme
adalah makhluk elastic, yang perilaku nya sangat dipengaruhi oleh
lingkungannya.
Dalam
kasus ini beberapa siswa melakukan kenakakalan atau tindakan yang kurang baik,
banyak dipengaruhi oleh lingkungan, yaitu dapat dilihat dari lingkungan sbb:
1.
Lingkungan Keluarga
Keluarga sangat menentukan bentuk, karakter dan perkembangan
karakteristik kepribadian anak atau peserta didik. Pengaruh keluarga akan
membentuk sifat-sifat dan ciri yang khas pada jati diri seorang anak. Keluarga
merupakan kelompok masyarakat terkecil, akan tetapi merupakan lingkungan paling
kuat dalam membesarkan anak dan terutama bagi anak yang belum
sekolah.Pendidikan keluarga yang salah bisa menjadi penyebab terjadinya kenakalan remaja, seperti
terlalu memanjakan anak, kurangnya didikan agama atau penolakan terhadap
eksistensi anak.(Sudarsono, 2012 : 125). Dalam hal ini jika keluarga selalu
memanjakan anak dan selalu menuruti permintaan anak maka akan dipastikan anak
itu akan menjadi manja dan takut jika berbuat hal yang salah atau hal
negatif.
2.
Lingkungan Masyarakat
Masyarakat sebagai
lingkungan ketiga adalah lingkungan yang terluas bagi remaja dan sekaligus
paling banyak menawarkan pilihan, Maka dari itu keadaan masyarakat sekitarnya
langsung maupun tidak langsung akan memberikan pengaruh terhadap kehidupan
anak. Karenanya masyarakat dapat menjadi sumber akan terjadinya
perbuatan-perbuatan yang mengarah kepada kenakalan remaja.
i.
Sistematika Pembahasan
Untuk mempermudah dalam pembahasan
dan penyusunan skripsi ini , maka peneliti akan menyajikan pembahasan ke dalam
beberapa bab yang sistematika pembahasannya adalah sebagai berikut:
1.
Bab I : Dalam bab ini berisi Pendahuluan yang meliputi : Latar
Belakang, Rumusan Masalah, Tujuan Penelitian, Manfaat Penelitian, Kontribusi
Penelitian, Tesis Statement, Paradigma, Analisis Teori, Sistematika Pembahasan.
2.
Bab II : Dalam bab ini
membahas tentang Upaya Pemulihan Psikis Akibat Menggunakan Narkotika dalam
Bimbingan Konseling Islam.
a.
Penanganan Trauma Remaja.
b.
Kondisi Psikis Korban Penyalahguna Narkotika.
c.
Langkah trauma Bimbingan Konseling Islam.
d.
Indikator Pemulihan Psikis Traumatik.
3.
Bab III : Dalam bab ini
membahas tentang metode dalam penelitian yang menggunakan metode Kualitatif.
Menggunakan analisis kualitatif. Deduksi dan induksi yang akan menghasilkan traposisi.
4.
Bab IV : Deskripsi penelitian empiris tentang Remaja sebagai korban
Upaya Pemulihan Psikis akibat Menggunakan Narkotika di Surabaya.
a.
Biografi Remaja Upaya Pemulihan Psikis akibat menggunakan
Narkotika di Surabaya.
Langkah-langkah penanganan
1.
Metode Penanganan
b.
Materi Penanganan atau Pemulihan Psikis
c.
Langkah- langkah diagnose
d.
Resep Diagnosa
e.
Tanda-tanda pemulihan psikis
f.
Deduksi
g.
Induksi
h.
Sitesis antara Deduksi- Induksi
i.
Proposisi
BAB II
A. Penanganan Kenakalan
Remaja
Bentuk-bentuk Sanksi atau
bentuk penanganan dalam Mengatasi Kenakalan Remaja Akibat Menggunakan Narkotika
di Surabaya, salah satu cara untuk menanggulangi dan mencegah terjadinya
kenakalan menurut J.E. Sahetapy menyebut bahwa hukuman mati tidak efektif mencegah
berulangnya kejahatan serupa (Tempo,Edisi XXIV, Februari-2 maret 2003).
Kebijakan penanggulangan kejahatan atau yang biasa disebut dengan istilah
politik, criminal dapat meliputi ruang lingkup yang cukup luas. Menurut G.
Peter Hoefnagels upaya penanggulangan kejahatan dapat ditempuh dengan: tempo,
edisi XXIV, Februari-2 Maret 2003)
a.
penerapan hokum pidana
b.
pencegahan tanpa pidana
c.
mempengaruhi pandangan masyarakat mengenai kejahatan dan pemidanaan
mass media.
B. Kondisi Psikis
Kondisi psikis seorang
remaja yang melakukan tindakan negatif di Surabaya adalah sebagai berikut:
1.
Lamban kerja, ceroboh kerja.
2.
Sering tegang dan gelisa.
3.
Hilang kepercayaan diri, pengkhayal, penuh curiga.
4.
Menjadi ganas dan tingkah laku yang brutul.
5.
Sulit berkonsentrasi, perasaan kesal dan tertekan.
6.
Perasaan tidak aman.
7.
Gangguan mental, anti social dan asusila.
8.
Merepotkan dan menjadi beban keluarga.
9.
Pendidikan menjadi terganggu, masa depan suram.
10.
Adanya perubahan pada kehidupan mental emosional.
11.
Gangguan perilaku yang tidak wajar
12.
Gangguan kejiwaan.
13.
Gangguan persepsi,daya piker, kreasi dan emosi.
C. Langka penanganan Bimbingan dan Konsiling
Layanan bagi remaja pecandu
narkoba menggunakan konseling terpadu. Guru memberikan bantuan dengan
menggunakan beragam pendekatan konseling dan memberdayakan klien terhadap
lingkungan social agar klien segera menjadi anggota masyarakat yang normal dan
bermoral. Ragam pendekatan konseling yang diterapkan pada konseling terpadu
yaitu :
1. Konseling
Individu
Konseling individu ini
konselor membantu klien secara individual dengan mengutamakan hubungan
emosional, sehingga besar kepercayaan klien terhadap konselor.
2. Bimbingan
Kelompok
Pada layanan ini konselor member kesempatan
kepada klien untuk berpartisipasi dalam member ceramah dan diskusi dengan
berbagai masyarakat. Klien diharapkan mengalami peningkatan dalam hal
kepercayaan diri untuk hidup normal sehingga menjadi orang yang berguna.
3. konseling keluarga
Dukungan
dari keluarga terdekat sangat penting bagi pemulihan klien narkoba. Fasilitator
konseling keluarga adalah konselor, sedangkan pesertanya adalah klien,
orangtua, saudara,suami atau istri, dan sebagainya. Dengan nuansa emosional
yang akrab dan rasa keterbukaan akan memberikan dampak yang baik terhadap
pemulihan klien seperti tumbuh rasa aman, percaya diri dan rasa tanggung jawab.
D. Indikator Pemulihan Psikis
Pemulihan pecandu atau
penyalahguna narkoba membutuhkan waktu yang lama. Tidak ada kata sembuh pada pecandu
narkoba. Yang ada adalah kata. Pulih dalam kondisi normal pada fisik,
psikis,social dan spiritualnya. Pecandu yang sudah pulih, namun tidak akan
kambuh kembali. Perjuangan pecandu atau penyalahguna narkoba untuk pulih adalah
seumur hidup.
Pemulihan membutuhkan waktu
yang amat sangat panjang, upaya yang keras, disiplin, niat dan kerjasama antara
keluarga, orang-orang yang mencintainya dan pusat rehabilitasi. Semua itu,
merupakan kunci untuk tidak kembalinya mantan pecandu atau penyalahguna pada narkoba.
Pecandu tidak cukup hanya pulih, namun harus dapat menjalankan fungsi sosialnya
dan produktif kembali. Kecenderungan kambuh atau relapseslama proses pemulihan
merupakan satu hal penting untuk direspon dan ditangani dengan cepat dan tepat
sesuai dengan kebutuhan masing-masing kasus.
BAB III
A. Metodologi Penelitian
1. Jenis dan Penelitian
Penelitian ini menggunakan metode kualitatif,
yang mana penelitian dalam menggali suatu fenomena dalam suatu waktu dan
kegiatan, serta mengumpulkan informasi secara terinci dan mendalam dengan
menggunakan berbagai prosedur pengumpulan data dalam beberapa periode tertentu.
Proses analisa dimulai dengan
menelaah seluruh data yang tersedia dari berbagai sumber, seperti pengamatan
(observasi) dan wawancara. Setelah data-data yang diperlukan terkumpul,
penulisan berusaha mengumpulkan teori yang dipakai dengan fenomenasosial yang
ada, serta menelusuri fakta yang berhubungan dengan fakta penelitian.
Keterangan-keterangan lain yang mendukung untuk memperoleh kesimpulan dari
hasil penelitian yang dilakukan dengan mendapatkan gambaran yang sesuai dengan
keadaan yang sebenarnya.
2. lokasi penelitian
Lokasi dalam
penelitian ini dilakukan di surabaya. Karena terindikasi bahwa remaja yang jauh
dari pantauan orang tua sehingga mereka bebas untuk bergaul sesuka mereka. Tak
jrang pergaulan mereka terjerumus pada pecandu atau penyalahguna narkoba.
BAB IV
Deskripsi penelitian empiris tentang Kenakalan remaja di Surabaya :
1. Biografi
Remaja yang bernama Danu
di surabya
2. Materi pemulihan
psikis
Menggunakan teknik Bimbingan dan Konseling yaitu tindakan
preventif, preservative dan tindakan kuratif. Menstabilkan emosi, mengubah
perilaku, dan mengetahui kondisi psikologi siswa.
3. Diagnosa
Penyebab
kenakalan remaja dapat diagnose mengalami 4 gangguan pada kesehatannya antara
lain : fisik, emosi, perilaku dan psikologinya.
4. Resep Tanda-tanda Pemulihan Psikis
a. Remaja sudah mulai terbiasa dengan apa yang diajarkan orang tua di
rumah ataupu di sekolah
b. Remaja akan menjauh diri dari hal-hal yang buruk
c. Remaja sudah mau mengikuti peraturan yang di tetapkan, baik di
rumah maupun di luar.
5. Analisis
Pada teknik analisa data dilakukan
melalui tiga tahap (Bungin dalam wahyuningsi 2015) :
a. Reduksi data, yaitu proses
pemilihan, pemusatan perhatian pada penyederhanaan pengabstrakan dan
transformasi data mentah atau data kasar yang muncul dari catatan-catatan
tertulis di lapangan. Dengan kata lain proses reduksi data ini di lakukan oleh
peneliti secara terus menerus saat melakukan penelitian untuk menghasilkan data
sebanyak mungkin.penyajian
b. penyajian data, yaitu penyusunan
informasi yang kompleks ke dalam suatu bentuk yang sistematis, sehingga menjadi
lebih selekstif dan sederhana serta memberikan kemungkinan adanya penarikan
kesimpulan data dan pengambilan tindakan. Dengan proses penyajian data inin
penelitian telah siap dengan data yang telah di sederhanakan informasi yang
sistematis
BAB V
1. Kesimpulan
Berdasarkan
pembahasan dan analisa data penelitian bagian terdahulu dengan ini penulis
berkesimpulan bahwa :
Faktor-faktor yang
menyebabkan remaja menyalahgunankan narkoba sesuai dengan hasil dalam
penelitian ini yaitu ada beberapa faktor pendorong di antaranya faktor dari
dalam diri sendiri seperti kepribadian fisik,dan faktor dari luar seperti
faktor permasalahan keluarga, faktor social dengan lingkungan atau pergaulan
dan terakhir dengan sedikit penalaran penelitian yaitu faktor agama sebagai
penunjang seseorang melakukan tindakan sesuai dengan keyakinan. Dampak yang
dapat ditimbulkan oleh remaja yang penyalahgunakan narkoba yaitu berpengaruh
pada fisik dan psikis mereka, juga berdampak pada kehidupan social ekonomi
individu, keluarga, masyaraka, bahkan Negara. Gangguan funsi atau penyakit
padaorgan-organ tubuh, seperti otak, hati, jantung, paru-paru, ginjal,gangguan psikologis
meliputi cemas, sulit tidur dan depresi. Masalah yang jauh lebih besar dari
semua itu adalah hancurnya generasi mudah sebagai penerus perjuangan dan
pembangunan karena penyalahguna narkoba saat ini banyak dilakukan oleh remaja.
Komentar
Posting Komentar