SILFIYAH IMROATUN ROSYIDAH
NAMA : SILFIYAH IMROATUN ROSYIDAH
NIM/KELAS :
B93218164 / B5
BAB I
PENDAHULUAN
1. Latar
Belakang Penelitian
Perkembangan
media dan teknologi yang semakin pesat memungkinkan berbagai informasi dan
budaya-budaya baru masuk ke berbagai penjuru dunia. Secara terus-menerus,
keadaan ini kemudian memengaruhi standarisasi atau pada umumnya dan nilai-nilai
dalam berbagai bidang kehidupan di masyarakat, tidak terkecuali citra mengenai
bentuk tubuh ideal bagi kaum wanita maupun pria. Bagi sebagian besar negara di
dunia terutama negara maju dan berkembang termasuk Indonesia, standar bentuk
tubuh ideal adalah tubuh yang memiliki keserasian antara berat dan tinggi
badan. Tubuh ideal pada perempuan digambarkan dengan tubuh yang cenderung
kurus, berlekuk, kuat, dan sehat sedangkan tubuh lelaki yang ideal adalah tubuh
yang ramping, berotot, dan sehat. Persepsi ini semakin berkembang dan kuat di
kalangan masyarakat seiring dengan maraknya konfrontasi[1] melalui berbagai media yang memperlihatkan wanita maupun
pria dengan sosok dan bentuk tubuh idaman.
Karena menurut saya bahwa mempunyai bentuk
tubuh yang sesuai dengan yang terlah di paparkan diatas memang menjadi
keinginan semua orang tapi tidak mentup kemungkinan banyak juga orang di
Indoseia contohnya tidak semua orang memiliki bentuk tubuh yang diinginkan.
Maka dari pernyataan ini banyak yang masih melakukan body shaming terhadap
orang orang yang bentuk tubuhnya tidak seperti pada idelnya. Banyak di lingkungan
sekitar yang melakukan body shamming karena mereka merasa orang yang tidak
memiliki bentuk yang ideal adalah orang yang berbeda, atau bahkan mereka
menganggap orang tersebut aneh.
Polivy &
McFarlane serta Rice & Dolgin (Mukhlis, 2013 : 5-6) mengemukakan bahwa para
perempuan (khususnya remaja) dikonfrontasi dengan pesan yang bertubi-tubi dari
media massa bahwa kecantikan, keberhasilan, kebahagiaan, dan harga diri dapat
diraih apabila para perempuan memiliki bentuk tubuh yang kurus. Padahal bukan
semua perempuan yang kurus bisa dikatakan cantik, cantik menurut pendapat saya
adalah orang yang dapat merawat tubuhnya, berpakaian yang sopan dan bersih dan
yang paling penting adalah cantik dari dalam yaitu sebagai contoh memiliki
akhlak yang baik dan budi pekerti yang luhur dan taat terhadap Agama. Keadaan
ini mengembangkan stereotip-stereotip negatif terhadap kegemukan di kalangan
perempuan. Terlebih lagi, fenomena ketakutan dan kebencian terhadap kegemukan
ini tidak hanya berhenti pada diri sendiri, perempuan juga peduli untuk sekedar
mengingatkan atau bahkan sampai pada kritik terhadap perempuan lain
disekitarnya (significant person)
(Mukhlis, 2013 : 6).
Tidak hanya
pada perempuan, stereotip negatif terhadap kegemukan dan citra tubuh berkembang
dengan cepat di kalangan laki-laki. Hasil survei yang dilakukan oleh Pope
et.al. memperoleh kesimpulan bahwa selama tiga dekade terakhir ketidakpuasan
tubuh pada pria mulai mengalami peningkatan dan para
pria mulai sangat memperhatikan penampilan fisik mereka daripada
sebelumnya (Corson & Andersen, 2002 : 192). Hal ini memengaruhi
berkembangnya citra tubuh negatif dan tingkat gangguan
pola makan pada
pria. Seperti yang dijelaskan oleh Corson & Andersen
(2002 : 192) yaitu :
A heightening
awareness of male eating disorders is also occuring. Historically, shame and
fear of public humiliation drove men with body image dissatisfaction and eating
disorders ‘underground’
Nilai-nilai dan standarisasi yang berkembang di masyakat
mengenai citra
tubuh ideal secara tidak langsung memberikan sugesti yang kemudian
diinternalisasi oleh individu dalam kelompok masyarakat sebagai suatu
paradigma. Tidak jarang individu yang mendukung
standarisasi masyarakat
mengenai citra tubuh ideal menjadikan nilai-nilai tersebut sebagai suatu
tuntutan yang harus dipenuhi dengan tujuan untuk
memperoleh pengakuan dan
penghargaan dari lingkungan sekitar. Hal ini terjadi
tidak terkecuali pada masa
remaja.akan tetapi mereka melakuakan pengakuan biasanya
secara tidak sadar. Erikson (Yuliyana, 2008 : 1) menjelaskan bahwa masa remaja
adalah
masa pencarian identitas dimana seorang remaja harus
membentuk citra diri
yang positif bagi dirinya dan dapat diterima oleh orang
lain. Selain itu, Wright
(Santrock, 1983 : 8) mengungkapkan bahwa :
Suatu hal yang pasti tentang aspek-aspek psikologis dari
perubahan fisik pada masa remaja adalah bahwa remaja disibukkan dengan tubuh
mereka. Kesibukkan dengan citra tubuh seseorang sangat kuat selama masa remaja,
tetapi kesibukkan itu secara khusus meningkat selama masa pubertas, suatu masa
ketika remaja awal lebih tidak puas dengan tubuh mereka dari pada akhir masa
remaja.
Selain budaya yang berkembang dan standarisasi masyarakat
mengenai
bentuk tubuh ideal, media massa dan hubungan
interpersonal merupakan hal
yang paling dominan memengaruhi berkembangnya citra tubuh
pada remaja
(Smolak, 2002 :
69). Esther (Nugraha
2010 : 5) mengemukakan bahwa
penelitian yang dilakukan pada mahasiswa memperoleh hasil
bahwa 62 persen
subjek penelitian ingin menurunkan berat badan setelah menonton acara
peragaan busana dan penampilan para artis di televisi.
Itu terjadi karena mereka mendapatkan sugesti dari apa yang mereka lihat dan
mereka secara tidak sadar ter identifikasi oele apa yang mereka lihat. Selain
itu, Stice & Shaw
(Melliana,
206 : 96)
menyatakan bahwa perempuan
yang melihat gambar
model yang bertubuh kurus menjadi merasa bersalah,
depresi, stres, malu, tidak
aman, dan tidak puas terhadap sosok tubuhnya. Karena pada
dasarnya sifat manusia memang tidak lepas ketidakpuasan sehingga apa yang sudah
mereka dapat msih saja terlihat kurang, itu di karenakan mereka yang biasanya
tidak pandai untuk bersyukur.
Dalam proses
berkembangnya citra tubuh, hubungan interpersonal[2] memungkinkan individu untuk membandingkan keadaan
dirinya dengan orang lain. Hal ini memberikan timbal balik yang menyebabkan
terbentuknya konsep diri individu termasuk cara melihat penampilan dirinya
secara fisik. Seperti yang dikemukakan oleh Dunn dan Gokee (2002 : 108) bahwa
tiga proses utama dalam hubungan interpersonal yang paling memainkan peranan
penting yaitu penilaian terhadap refleksi diri, timbal balik pada penampilan
fisik, dan perbandingan sosial.
Berbeda dengan
anak-anak yang perkembangan citra tubuhnya masih berada di bawah pengaruh pola
asuh orang tua, citra tubuh remaja cenderung dipengaruhi oleh interaksi dengan
teman sebaya, teman kencan, dan orang-orang lain di sekitarnya (Dunn dan Gokee,
2002 : 108). Pengaruh teman sebaya menjadi sangat signifikan sepanjang masa
remaja. Penelitian menyebutkan bahwa ketika 1000 peserta didik berusia antara
13 – 17 tahun diminta menyebutkan pengaruh terbesar yang dihadapi oleh remaja
masa kini, tekanan dari teman sebaya menduduki tempat kedua di bawah narkoba
(Espeland, 2003
: 142). Seringkali secara langsung, teman
sebaya menjadikan penampilan fisik sebagai bahan ejekan terhadap individu di
dalam kelompoknya. Hal ini dapat memengaruhi citra tubuh remaja berdasarkan
penampilan dan keadaan fisiknya. Dunn & Gokee (2002 : 110) menjelaskan
bahwa :
According to a
study by Rieves and Cash on social development factors that contribute to
women’s body image, peers and friends are among the most frequent and ‘worst’
perpetrators of teasing, second only to brothers. Being teased by peers is
associated with greater concerns about physical appearance and more dieting
behaviors.
Bagi remaja,
penyesuaian diri dengan standar kelompok jauh lebih penting daripada
individualitas (Hurlock, 1997 : 208). Nilai-nilai dan standarisasi mengenai
citra tubuh pada remaja tentu memengaruhi pola pergaulan remaja. Tidak jarang,
remaja yang menganggap dirinya lebih menarik secara fisik hanya bergaul dengan
teman sebaya yang dianggapnya setara dengan keadaan fisiknya. Sebaliknya,
remaja yang merasa tidak puas terhadap tubuhnya seringkali lebih menarik diri
dari pergaulan dan lebih tertutup terhadap teman di lingkungannya. Hurlock
(1997 : 212) menjelaskan
bahwa kesadaran akan adanya reaksi sosial terhadap
berbagai bentuk tubuh menyebabkan remaja prihatin akan pertumbuhan tubuhnya
yang tidak sesuai dengan standar budaya yang berlaku. Hal ini disebabkan karena
adanya anggapan bahwa daya tarik fisik sangat penting bagi remaja dan akan
memengaruhi dukungan sosial, popularitas, dan teman yang didapatkan oleh remaja
(Cross & Cross dalam Hurlock, 2004). Seperti penelitian lintas budaya yang
dilakukan Thompson pada tahun 1996 (Corson & Andersen, 2002 : 193) terhadap
remaja putra berkulit putih dan hitam yang menunjukkan bahwa terdapat perbedaan
kriteria bentuk tubuh dalam memilih teman diantara kedua subjek penelitian.
Remaja berkulit hitam lebih memilih teman yang memiliki bentuk badan lebih
besar sebagai postur yang ideal serta lebih jarang melakukan diet, dan lebih
memilih perempuan dengan postur tubuh berlekuk serta lebih berisi sebagai teman
kencan, sedangkan remaja putra berkulit putih lebih memilih sebaliknya. Selain
itu, Corson & Andersen (2002 : 194 – 195) memaparkan bahwa konsep
penampilan ‘supermale’ di kalangan
generasi saat ini adalah lelaki yang melakukan latihan kebugaran (fitness), memiliki tubuh atletis, dan
berwajah tampan. Hal tersebut dipandang sebagai ikon dari pencapaian sebagai
sosok lelaki ideal.
Perubahan
fisik yang tidak sesuai dengan harapan dan standar di masyarakat serta lingkungan
tempat remaja bergaul memunculkan ketidakpuasan tubuh yang kemudian memengaruhi
keadaan remaja secara psikis maupun biologis. Moore dan Franko (Susi, 2012 :
18) menjelaskan bahwa citra tubuh adalah komponen yang penting dalam hidup
manusia karena adanya gangguan pada citra tubuh dapat mengakibatkan dampak
negatif secara psikologis, seperti perasaan minder dan tidak percaya diri,
gangguan pola makan, diet yang tidak
sehat, kecemasan, bahkan depresi.
Pernyataan ini sejalan dengan penelitian Tarigan pada tahun 2007 terhadap 191
remaja obesitas dan 182 tidak obesitas di Yogyakarta yang memberikan hasil
bahwa sebanyak 91% remaja obesitas mengalami gangguan citra tubuh dan
dinyatakan dengan perasaan tidak puas terhadap ukuran tubuhnya sehingga
menimbulkan rasa tidak percaya diri (Putri, 2012 : 3). Selain itu, Cash &
Fleming (2002 : 277) menjelaskan bahwa citra tubuh yang positif akan
memfasilitasi kepercayaan diri dan kenyamanan seseorang
dalam berinteraksi sosial, sedangkan citra tubuh yang negatif akan menyebabkan
seseorang mengalami kecemasan dan hambatan dalam bersosialisasi.
Berbagai
penelitian terdahulu mengenai citra tubuh memberikan hasil bahwa citra tubuh
berkorelasi dengan berbagai aspek psikologis. Semakin tinggi citra tubuh
positif individu maka akan semakin baik pula aspek psikologis lainnya,
sedangkan semakin buruk citra tubuh individu maka akan semakin negatif pula
aspek psikologis lainnya. Penelitian yang dilakukan oleh Sri Adiningsih pada
tahun 2008 di Surabaya memberikan hasil bahwa citra tubuh berkorelasi positif
terhadap perilaku makan remaja. Semakin negatif citra tubuh remaja, maka pola
makan remaja semakin buruk dan cenderung melakukan berbagai diet (Nurani, 2010
: 12).Penelitian lain, dilakukan oleh Lia Rohliyani pada tahun 2011 tentang
hubungan antara citra tubuh dan perilaku konsumtif remaja kelas XI di SMA
Negeri 1 Sukaresmi memberikan kesimpulan
bahwa remaja yang memiliki citra tubuh yang negatif akan semakin banyak
menghabiskan uang untuk perawatan demi memperoleh bentuk tubuh yang diinginkan
dan lebih banyak membeli barang-barang yang sebenarnya tidak begitu diperlukan
hanya untuk memperoleh pengakuan dari teman sebaya nya sebagai cara untuk
menutupi kekurangannya secara fisik. Studi deskriptif kualitatif yang dilakukan
oleh Aulia Karima pada tahun 2013 mengenai citra tubuh pada remaja cover dance di Kota Bandung memberikan
hasil bahwa remaja yang merasa dirinya tidak menarik secara fisik merasa tidak
percaya diri dan minder ketika menari daripada remaja cover dance yang merasa dirinya cukup menarik secara fisik.
Sedangkan penelitian yang dilakukan di luar negeri salah satunya oleh Levine
& Smolak (2002 : 74) yang menjelaskan bahwa 40-70% remaja putri di Amerika
berusia antara 12 – 17 tahun merasa tidak puas dengan dua anggota tubuh mereka
atau lebih, sedangkan di berbagai negara berkembang antara 50-80% remaja putri
mendambakan tubuh yang lebih kurus dan hampir 20-60% diantaranya melakukan
berbagai macam diet demi memperoleh bentuk tubuh yang mereka inginkan.
Selanjutnya, sebuah studi yang dilakukan terhadap 136 remaja putri berusia 11 –
16 tahun sebagai subjek di Inggris memperoleh hasil bahwa harga
diri dan kepuasan tubuh pada mereka yang melihat gambar
model dengan postur tubuh kurus di suatu majalah kecantikan menjadi lebih rendah
daripada sebelumnya (Clay, et.al., 2005 : 451).
Dari fenomena
yang telah dipaparkan, dapat dipahami bahwa citra tubuh pada dasarnya merupakan
hal yang perlu mendapatkan perhatian khusus sama seperti aspek psikologis
lainnya terutama pada remaja yang sedang berada dalam tahap pembentukan citra
diri yang positif. Sayangnya, tidak banyak pihak yang menyadari bahwa citra
tubuh merupakan komponen penting dalam perkembangan psikis yang sehat pada
remaja.
Berbagai pihak
perlu terlibat secara aktif dalam menciptakan kondisi lingkungan yang positif
guna membantu remaja dalam membentuk citra tubuh yang positif. Salah satu
lingkungan yang sangat dominan dalam keseharian remaja adalah lingkungan
sekolah, karena masa remaja merupakan periode ketika individu sedang berada di
jenjang pendidikan antara Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan Sekolah Menengah
Atas (SMA).
Sebagai bagian
dari pendidikan formal, sekolah memiliki peranan penting dalam perkembangan
peserta didik. Pendidikan tidak hanya bertanggung jawab dalam mengembangkan
kemampuan intelektual peserta didik, akan tetapi membantu peserta didik
mengembangkan potensi yang dimilikinya di bidang psikososiospiritual. Oleh
sebab itu, pendidikan yang bermutu adalah yang mengintegrasikan tiga bidang
kegiatan utamanya secara sinergi, yaitu bidang administatif dan kepemimpinan,
bidang instruksional dan kurikuler, serta bidang pembinaan terhadap peserta
didik dalam hal ini adalah bimbingan dan konseling (Yusuf & Nurihsan, 2010
: 4). Bimbingan dan konseling secara spesifik berkaitan dengan program
pemberian layanan kepada peserta didik dalam upaya mencapai perkembangan yang
optimal, melalui interaksi yang sehat dengan lingkungan (Yusuf & Nurihsan,
2010 : 5).
Berkembangnya
citra tubuh negatif pada remaja merupakan salah satu bentuk kegagalan remaja
dalam memenuhi tugas perkembangan yang berkaitan dengan aspek fisiknya. Padahal
salah satu tugas perkembangan pada masa remaja adalah menerima keadaan fisiknya
sendiri berikut keragaman kualitasnya (Kay dalam Yusuf, 2011 : 72). Selain itu,
Rusmana (2009 : 153)
menjelaskan bahwa salah satu standar kompetensi yang
harus dicapai pada masa remaja adalah menghargai diri sendiri dan orang lain.
Tidak
tercapainya tugas perkembangan pada setiap fase akan menimbulkan permasalahan
lain dan memengaruhi tugas perkembangan selanjutnya. Permasalahan yang muncul
lebih lanjut karena berkembangnya citra tubuh negatif pada remaja seperti
adanya ketidakpuasan terhadap bentuk tubuh, rendahnya harga diri, kurangnya
penerimaan diri, merasa tidak percaya diri, mengalami kecemasan sosial, lebih
menarik diri dari pergaulan, hingga depresi akan menghambat proses perkembangan
remaja dalam mencapai tugas perkembangannya.
Kondisi remaja
ini menjadi salah satu fenomena yang terdapat di SMA Negeri 1 Sukaresmi. Hal
ini sesuai dengan pernyataan dari guru bimbingan dan konseling yang tidak
memungkiri bahwa ketertarikan fisik merupakan salah satu faktor yang menentukan
banyaknya teman yang dimiliki oleh peserta didik terutama pada perempuan selain
dari kemampuan interaksi sosial dan watak peserta didik. Peserta didik yang
memiliki paras rupawan dan bentuk tubuh ideal seringkali lebih populer di
kalangan teman satu angkatan, adik tingkat, maupun kakak tingkat terutama lawan
jenis di sekolah. Selain itu, tidak jarang ditemukan make up yang dibawa oleh peserta didik terutama perempuan pada saat
pemeriksaan tas. Pendapat lain dikemukakan oleh beberapa peserta didik yang
berbeda kelas dalam wawancara memberikan kesimpulan bahwa peserta didik di SMA
Negeri 1 Sukaresmi lebih memilih-milih teman terutama pada perempuan. Biasanya
peserta didik yang merasa dirinya cantik akan membentuk peer group dengan peserta didik lain yang menurutnya sesuai dengan
keadaan fisiknya. Banyak peserta didik yang merasa khawatir dengan perubahan
berat badan terutama anggota organisasi salah satunya yaitu Paskibra yang
menuntut pentingnya memiliki bentuk tubuh ideal. Selain itu, diperoleh
informasi pula bahwa terdapat beberapa teman laki-laki dari narasumber yang
rutin melakukan fitness di tempat
kebugaran untuk memperoleh bentuk tubuh yang berotot dan tampak kekar karena
merasa dirinya gemuk sehingga tidak percaya diri.
Permasalahan
ini tentu perlu ditangani sedini mungkin dan mendapatkan perhatian khusus
sehingga tidak menghambat pencapaian tugas perkembangan peserta didik. Dalam
hal inilah bimbingan dan konseling berperan penting sebagai langkah untuk
menciptakan peserta didik yang tidak hanya unggul secara akademik tetapi
memiliki perkembangan sosiopsikospiritual yang baik sehingga menjadi individu
yang berkembang secara utuh sesuai dengan tujuan pendidikan nasional yang
tertuang dalam Undang-Undang No. 20 Tahun 2003 Pasal III menyebutkan bahwa :
Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan
membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka
mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta
didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha
Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi
warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.
Sesuai dengan
ragam permasalahan yang dihadapi, peserta didik dapat difasilitasi melalui
dilaksanakannya layanan bimbingan dan konseling pribadi sosial baik secara
preventif, kuratif, maupun bersifat pengembangan. Beberapa tujuan khusus
diselenggarakannya layanan bimbingan dan konseling pribadi sosial berkaitan
dengan permasalahan citra tubuh pada peserta didik diantaranya adalah agar
peserta didik mampu memiliki pemahaman dan penerimaan diri secara objektif dan
konstruktif, baik yang terkait dengan keunggulan maupun kelemahan, baik fisik
maupun psikis, serta memiliki sikap menghargai diri sendiri dan orang lain.
Melalui dilaksanakannya layanan bimbingan dan konseling pribadi sosial, peserta
didik diharapkan lebih mampu menerima keadaan diri secara realistis dan
konstruktif serta mampu menghargai diri sendiri sehingga peserta didik tidak
mengalami hambatan dalam pencapaian tugas perkembangannya.
Pelaksanaan
layanan bimbingan dan konseling di sekolah tentu perlu direncanakan secara
sistematis serta sesuai dengan kebutuhan peserta didik agar mampu mencapai
kompetensi dan tujuan yang diharapkan. Oleh sebab itu, sebelum dilaksanakannya
layanan bimbingan dan konseling terhadap peserta didik, penyusunan program
merupakan hal yang penting dan harus dilakukan
secara terencana. Hal ini akan mempengaruhi keberhasilan
dan pencapaian tujuan dari layanan yang akan dilaksanakan.
Dengan
disusunnya program bimbingan dan konseling pribadi sosial untuk meningkatkan
citra tubuh positif pada remaja diharapkan bahwa peserta didik tidak akan
mengalami hambatan dalam mencapai tugas perkembangannya secara optimal serta
membantu berbagai pihak terutama konselor sekolah untuk menyadari bahwa
pentingnya citra tubuh dalam perkembangan psikis yang sehat terutama pada
remaja
2. Identifikasi
Masalah Penelitian
Pada masa
remaja, tugas perkembangan yang harus dicapai dalam aspek pribadi sosial
diantaranya yaitu memiliki pemahaman dan penerimaan diri secara objektif dan
konstruktif, baik yang terkait dengan keunggulan maupun kelemahan secara fisik
maupun psikis, serta memiliki sikap positif atau respek terhadap diri sendiri
dan orang lain (Yusuf & Nurihsan dalam Silviana, 2012 : 22). Namun pada
kenyataannya, masih banyak peserta didik yang merasa tidak puas terhadap
berbagai bagian tubuhnya dan memandang bahwa dirinya tidak menarik secara fisik
sehingga memunculkan permasalahan lain seperti rendahnya harga diri, kurangnya
penerimaan diri, tidak percaya diri, menarik diri dari lingkungan pergaulan,
gangguan pola makan, kecemasan sosial, hingga depresi.
Citra tubuh akan
berkembang pada setiap individu baik perempuan maupun laki-laki terutama pada
masa remaja ketika terjadi perubahan fisik yang signifikan. Akan tetapi,
perempuan lebih cenderung memiliki citra tubuh negatif daripada laki-laki. Hal
ini berdasarkan dari berbagai penelitian yang telah dilakukan di berbagai
negara. Salah satunya yaitu penelitian yang dilakukan pada peserta didik di
Amerika Serikat, Israel, dan Australia oleh Rolland et.al. pada tahun 1997
(Corson & Andersen, 2002 : 193) bahwa 50% perempuan dan 33% laki-laki ingin
memiliki tubuh yang lebih kurus, serta 40% perempuan dan 24% laki-laki sedang
berusaha menurunkan berat badan.
Citra tubuh
negatif pada peserta didik yang dalam penelitian ini berfokus pada remaja
sekolah menengah atas memberikan gambaran bahwa perlunya
bimbingan dari konselor sekolah untuk mengembangkan citra
tubuh positif sebagai langkah preventif dan membantu menyelesaikan permasalahan
citra tubuh negatif pada peserta didik sebagai langkah kuratif. Hal ini
dipandang perlu karena apabila terus dibiarkan maka citra tubuh negatif akan
menimbulkan dampak psikologis maupun kesehatan yang dapat menghambat tugas
perkembangan pada peserta didik. Beberapa dampak yang muncul karena citra tubuh
negatif adalah perasaan minder dan tidak percaya diri, gangguan pola makan (eating disorder), diet yang tidak
sehat, anxiety, bahkan depresi (Moore
dan Franko dalam Susi, 2012 : 18).
Penelitian ini
diarahkan untuk mengungkapkan profil citra tubuh remaja sehingga dapat disusun
program layanan bimbingan dan konseling sebagai implikasi berdasarkan profil
citra tubuh peserta didik kelas XI di SMA Negeri 1 Sukaresmi. Berdasarkan latar
belakang tersebut, masalah utama penelitian ini yaitu :
2.1. Seperti
apa profil citra tubuh remaja secara umum pada peserta didik kelas XI SMA
Negeri 1 Sukaresmi Tahun Ajaran 2015 – 2016?
2.2. Bagaimana citra tubuh remaja berdasarkan kelompok
gendernya?
2.3. Bagaimana profil citra tubuh remaja berdasarkan
komponen citra tubuh?
2.4. Bagaimana
rumusan hipotetik program bimbingan dan konseling yang sesuai untuk
meningkatkan citra tubuh positif berdasarkan gambaran umum tingkat citra tubuh
pada peserta didik kelas XI SMA Negeri 1 Sukaresmi Tahun Ajaran 2015 – 2016
yang layak menurut pertimbangan pakar dan praktisi bimbingan dan konseling?
3. Tujuan
Penelitian
Tujuan umum
dari penelitian ini adalah untuk memperoleh data mengenai kecenderungan tingkat
citra tubuh pada peserta didik kelas XI SMA Negeri 1 Sukaresmi Tahun Ajaran
2015 – 2016. Adapun tujuan khusus dari penelitian ini adalah mendeskripsikan :
3.1. Profil
citra tubuh remaja secara umum pada kelas XI SMA Negeri 1 Sukaresmi Tahun
Ajaran 2015 – 2016.
3.2. Citra tubuh remaja berdasarkan kelompok gendernya.
3.3. Profil citra tubuh remaja berdasarkan komponen citra
tubuh.
3.4. Rancangan
layanan bimbingan dan konseling untuk meningkatkan citra tubuh positif
berdasarkan gambaran umum tingkat citra tubuh peserta didik kelas XI SMA Negeri
1 Sukaresmi Tahun Ajaran 2015 – 2016.
4. Manfaat
Penelitian
Secara teoretis,
hasil penelitian ini dapat memperkaya pengetahuan dan kelimuan dalam bidang
bimbingan dan konseling pribadi sosial di tingkat SMA membantu peserta didik
dalam mengembangkan citra tubuh positif terhadap kondisi fisik dirinya secara
realistis. Selain itu, manfaat praktis dari penelitian ini diantaranya sebagai
berikut :
4.1. Bagi Guru Bimbingan dan Konseling di SMA Negeri 1
Sukaresmi. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan rekomendasi kepada guru
bimbingan dan konseling untuk tidak mengabaikan perkembangan citra tubuh pada
peserta didik dan memfasilitasi peserta didik dalam melaksanakan layanan
pengembangan citra tubuh.
4.2. Bagi Jurusan Psikologi Pendidikan dan Bimbingan.
Data empiris dari profil citra tubuh peserta didik SMA
yang dihasilkan dapat menambah referensi mengenai program bimbingan dan
konseling pribadi sosial untuk meningkatkan citra tubuh positif pada peserta
didik di tingkat SMA.
4.3. Bagi peneliti selanjutnya
Hasil penelitian diharapkan dapat memberikan sumbangan pemikiran
untuk mengembangkan penelitian selanjutnya yang lebih komprehensif dan spesifik
mengenai citra tubuh pada remaja serta pengembangan program bimbingan dan
konseling yang lebih efektif secara spesifik dalam bidang pribadi dan sosial di
tingkat SMA.
5.
Struktur Organisasi Skripsi
Penulisan
skripsi terdiri dari 5 bab yaitu Bab I, memaparkan latar belakang penelitian,
identifikasi dan rumusan masalah penelitian, tujuan penelitian, manfaat
penelitian, dan struktur organisasi skripsi. Bab II menyajikan teori-
teori yang berhubungan dengan permasalahan yang di
teliti. Bab III menjabarkan metode penelitian secara garis besar. Dalam bab ini
akan dijelaskan mengenai prosedur dan tahapan penelitian di mulai dari
persiapan hingga akhir penelitian, serta instrumen yang digunakan dalam
penelitian. Bab IV akan membahas hasil dari penelitian yang telah dilakukan.
Bab V diuraikan kesimpulan serta implikasi dari hasil penelitian.
BAB II
PEMBAHASAN
Kajian pustaka tentang Landasan
teoritis yang meliputi :
A.
Shame
Sebelum
memasuki bahasan tentang body shame,
peneliti ingin menjelaskan bahwa malu merupakan emosi yang termasuk dalam self- conscious emotion. Adapun emosi
yang merupakan emosi kesadaran diri ini antara lain pride, hubriss, shame dan guilt.
Emosi ini merupakan emosi yang berperan dalam menentukan moral seseorang. Emosi
sadar diri (rasa bersalah, malu, iri hati, dan bangga) akan memainkan peran
penting ketika individu dihadapkan pada perilaku pencapaian dan moral. Emosi
ini akan berkembang dengan baik apabila orang dewasa memberikan arahan yang
tepat dalam mendampingi anak mengembangkan emosi sadar diri. Oleh karena itu,
emosi ini sangat beragam di antara budaya. Di negara barat yang individualistik,
kebanyakan anak akan diajari untuk merasa bangga atas pencapaian diri. Dalam
budaya kolektif seperti di Cina dan Jepang menunjukkan keberhasilan pribadi
dapat meningkatkan rasa malu dan
menutup diri (Berk, 2012). Pelanggaran terhadap standar budaya yang diberikan
orang lain dapat melahirkan rasa malu yang luar biasa maka dari itu anak di
usia dini harus membutuhkan pengawasan yang sangat agar anak selain terawasi
juga selalu merasa mendapatkan kasih sayang dari orang tua karena pada zaman
ini bukan hanya orang dewasa yang mengalami body shame, anak di bawah umur juga
rentan mendapatkan body shame dan efek daripada itu sebenarnya lebih besar lagi
untuk masa depan sang anak.
Menurut
Michael Lewis (2011) rasa malu adalah hasil aktivitas kognitif yang kompleks:
evaluasi tindakan individu mengenai standar, aturan, tujuan serta evaluasi
global dari diri mereka dan dari orang lain sedangkan rasa bersalah merupakan
emosi yang dihasilkan ketika individu mengevaluasi perilaku mereka gagal tetapi
berfokus pada perilaku spesifik diri atau tindakan diri yang mengarah pada
kegagalan. Noll dan Fredrickson (1998) mengatakan bahwa shame diartikan sebagai perasaan yang muncul ketika individu gagal
mencapai suatu target ideal. Sara Ahmed dalam Dolezal (2015) menyebutkan shame merupakan emosi yang terbentuk dari kebiasaan sosial
dan budaya, bentuk/wujud dari budaya politik yang dibentuk oleh dunia. Malu
merupakan bagian dari emosi kesadaran diri akan berpengaruh pada pembentukan
fenomena body shame dalam penelitian ini.
1. Jenis body shame
Body shame terdiri dari dua jenis yaitu acute body shame dan
chronic body shame yang dikemukakan oleh Dolezal :
a.
Acute Body shame
Acute Body shame lebih berhubungan dengan aspek perilaku dari
tubuh, seperti pergerakan atau tingkah laku. Istilah ini biasa dikenal dengan embarrassment, tipe body shame yang biasanya terjadi pada persiapan yang tak diduga
atau tidak direncanakan. Jenis body shame
ini terjadi pada kasus seperti kejadian yang terjadi dalam interaksi sosial
seperti sebuah presentasi diri yang mengalami kegagapan, gagal atau tidak
sesuai dengan tingkah laku yang diharapkan, muncul sebagai hasil dari
pelanggaran perilaku, penampilan atau pertunjukan, atau kehilangan kontrol
sementara dan tidak terduga atas suatu tubuh atau fungsi tubuh. Body shame acute ini merupakan rasa malu
yang wajar terjadi dalam interaksi sosial bahkan rasa malu ini dibutuhkan dalam
interaksi sosial.
b.
Chronic body shame
Jenis kedua
dari body shame muncul disebabkan
oleh bentuk permanen dan terus menerus dari sebuah penampilan atau tubuh,
seperti berat badan, tinggi dan warna kulit. Selain itu, body shame ini juga dapat muncul karena stigma atau cacat seperti
bekas luka atau kelumpuhan. Selain penampilan, chronic body shame berhubungan dengan fungsi tubuh dan kecemasan
yang biasa dialami seperti tentang jerawat, penyakit, hal buang air besar,
penuaan dan sebagainya. Tambahan, body
shame ini dapat muncul pada saat gagap ataupun canggung yang kronis. Apapun
yang menginduksinya, body shame jenis
ini akan muncul secara menahun dan berulang-ulang pada suatu kesadaran dan
membawa rasa sakit yang berulang dan mungkin konstan. Body shame kronis menekan dan menyakiti. Body shame ini dapat menuntun pengurangan pengalaman tubuh yang
konstan mempengaruhi harga diri dan
nilai diri (self-esteem dan self-worth).
Proses
terjadinya body shame bisa terbentuk
karena adanya interaksi dan pengaruh dari lingkungan kemudian pengaruh tersebut
memberikan dampak pada individu. Dampak tersebut antara lain:
-
Gangguan Makan
Asumsi budaya
tentang berat badan menyatakan bahwa ada kepercayaan bahwa individu dapat
mengontrol berat badan serta dapat memilih berat ideal yang mereka inginkan.
Diet (mengatur pola makan agar mencapai bentuk tubuh yang diharapkan untuk
kesehatan atau sesuai petunjuk ahli) menjanjikan bantuan mengurangi body shame yang muncul akibat
ketidakpuasan dengan bentuk tubuh untuk perempuan. Sebaliknya, latihan
mengurangi berat tubuh seperti mengurangi makan dapat meningkatkan body shame dibandingkan mengurangi
terjadinya body shame. Sebenarnya,
penurunan berat badan akan menyebabkan perempuan lebih memperhatikan berat
badan dan bentuk tubuh yang meningkatkan
frekuensi mereka sadar atas kegagalan mencapai tubuh ideal. Gagal mencapai
target menurunkan berat badan atau tidak mampu mempertahankan penurunan berat
badan juga dapat meningkatkan body shame.
Lingkaran setan kemudian mungkin akan muncul diakibatkan kegagalan mencapai
tubuh ideal. Kegagalan akan menuntun individu mengalami body shame serta usaha-usaha seperti menurunkan berat badan dapat
menjadi sekumpulan penyebab semakin tingginya terjadinya body shame (Noll & Fredrickson, 1998).
-
Depresi
Fredrickson dan Robert (1997) mengatakan hidup di budaya yang mengobyekkan
tubuh perempuan dapat mengacaukan alur kesadaran perempuan itu dengan
menggandakan persepsi mereka, membujuk perempuan untuk mengambil perspektif
pengamat (orang ketiga) tentang diri atau tubuh. Pada situasi yang ekstrem
perspektif pengamat terhadap diri mungkin sepenuhnya dapat menggantikan
perspektif sendiri perempuan tentang tubuhnya, kondisi ini memungkinkan
individu mengalami kondisi kehilangan diri (loss
of self). Ketika kondisi
loss of self terus berlanjut dapat
menyebabkan depresi karena akan semakin mengambil perspektif pengamat terhadap
diri.
-
Sexual dysfunction
Perempuan
lebih banyak melaporkan ketidakpuasan seksual dan gangguan dalam hubungan
heteroseksual dibandingkan laki- laki. Kecemasan dan rasa malu yang dimiliki
perempuan tentang tubuhnya tampaknya akan mempengaruhi kehidupan seks
perempuan. Kondisi ini dipengaruhi oleh budaya yang berkembang bahwa peran
perempuan lebih pada memberi daripada menerima.
Hal ini
menuntun perempuan untuk tidak mementingkan dirinya sendiri dan kurang fokus
pada keinginan sendiri serta sensasi fisik perempuan, tetapi lebih fokus pada
keinginan pasangan. Pertama, memberikan perhatian yang berlebihan pada gambar
visual diri sendiri menghabiskan banyak energi mental yang sebenarnya dapat
digunakan untuk aktivitas yang lebih bermanfaat dan memuaskan. Kedua, malu dan
cemas yang dimiliki
banyak
perempuan tentang tubuhnya dibawakan bersama pengalaman seks. Emosi negatif
rasa malu serta cemas akan tubuh yang dimiliki
perempuan ini akan memengaruhi pengalaman seks perempuan yang memungkinkan
sangat berkurangnya kesenangan seks. Ketiga, perhatian rutin perempuan terhadap
penampilan tubuh eksternal, bersama dengan kebiasaan mengendalikan makan dan diet,
dapat menuntun ketidakpekaan terhadap isyarat internal tubuh. Ketidakpekaan
akan sensasi tubuh akan menjadi hambatan kesenangan seksual bagi perempuan.
B. Perempuan
Perempuan dalam Konstruksi Budaya
Penelitian ini
akan dilaksanakan dengan informasi yang diperoleh dari partisipan perempuan. Matlin (2012) menyebutkan ketertarikan fisik
lebih diperhatikan oleh anak remaja perempuan dibandingkan anak laki- laki.
Anak gadis 11 tahun menghabiskan lebih banyak waktu untuk memikirkan penampilan
fisik mereka dibandingkan anak laki-laki. Penekanan penilaian ketertarikan
tubuh terhadap perempuan terjadi secara berlebihan selama masa remaja. Remaja
perempuan belajar melihat dirinya
sebagai objek yang dapat diperhatikan dan dinilai oleh orang lain. Selain itu,
remaja perempuan secara tetap mendapatkan pesan bahwa kecantikan fisik dan
terlihat baik merupakan ukuran yang penting bagi perempuan. Perempuan dituntut
untuk memiliki kulit yang putih bersih, gigi yang rapi dan berkilau, rambut
yang berkilau dan perempuan dituntut memiliki tubuh yang langsing. Perempuan
lebih banyak mendapatkan komentar agar mereka memiliki tubuh yang ramping.
Perempuan yang kelebihan berat badan akan menjadi target sejumlah komentar
negatif tentang tubuhnya (Matlin, 2012).
Beberapa
perempuan muda Amerika Utara berfokus untuk menjadi ramping yang menyebabkan
mereka mengalami ancaman gangguan makan (Matlin, 2012). Media mendorong
penekanan pada kecantikan dan kerampingan dan perempuan muda menyadari pesan
yang disampaikan. Selanjutnya, berbagai pendekatan penelitian mengatakan bahwa
perempuan akan
lebih kurang puas dengan tubuhnya apabila mereka melihat majalah fashion
dibandingkan melihat majalah yang menunjukkan ukuran normal perempuan (Matlin,
2012).
Body shame tidak terpengaruh terhadap usia. Penelitian
yang dilakukan oleh Tiggeman & Lynch (2001) yang menemukan bahwa
obyektifikasi diri akan menurun seiring dengan bertambahnya usia. Body shame dan munculnya kecemasan yang
merupakan konsekuensi dari objektifikasi diri diprediksi akan sama menurun
bersamaan dengan bertambahnya usia. Namun, hal ini tidak terkonfirmasi pada body shame, tidak ada hubungan yang
signifikan antara body shame dengan
usia. Hal ini berbeda dengan kecemasan yang memiliki korelasi negatif dengan
usia. dengan setiap partisipan. Kedua, pengumpulan data harus disesuaikan
dengan kondisi alamiah partisipan. Baik kondisi alamiah partisipan atau lokasi
penelitian. Misalnya apabila partisipan terlihat sedang tidak sehat pada waktu
yang dijanjikan untuk pengambilan data peneliti harus mengubah jadwal wawancara
sampai partisipan benar-benar siap dan sehat.
A.
Metode pengumpulan data
Penelitian ini
menggunakan metode pengumpulan data berupa wawancara. Menurut Stewart &
Cash (2008), wawancara merupakan sebuah proses tanya jawab yang bersifat
interaktif. Disebut interaktif karena adanya pertukaran atau membagikan peran,
tanggung jawab, perasaan, kepercayaan, motif serta informasi. Wawancara
bukanlah kegiatan yang bisa dilakukan oleh satu pihak saja karena dibutuhkan
pihak lain sebagai pihak yang memberikan jawaban (Herdiansyah, 2010). Wawancara
yang digunakan pada penelitian ini adalah wawancara semi terstruktur. Wawancara
dalam penelitian fenomenologis memiliki pertanyaan-pertanyaan yang dirumuskan
secara terbuka dan bebas sesuai pengalaman yang dialami partisipan tanpa
mengacu pada teori spesifik tertentu. Pertanyaan dibuat sesuai dengan
pengalaman dan konteks fenomena yang dialami partisipan (Moustakas, 1994 dalam
Supratiknya, 2015).
BAB III METODOLOGI PENELITIAN
B.
Jenis dan Desain Penelitian
Penelitian ini
nanti akan menampilkan bagaimana perempuan menyadari proses body shame yang dialami dan apa dampak
yang dihasilkan dari proses tersebut. Peneliti wajib mengusahakan agar fenomena
body shame dipahami berdasarkan sudut
pandang perempuan yang mengalami fenomena secara mendalam (Herdiansyah, 2015).
Penelitian ini bertujuan untuk memberikan dinamika psikologis perempuan
mengalami body shame dan dampak yang
dialami perempuan sebagai akibat dari pengalaman yang dialami.
Penelitian ini
menggunakan jenis penelitian kualitatif. Menurut Creswell (2009) penelitian
kualitatif adalah sebuah penelitian yang mengeksplorasi dan memahami makna yang
dialami individu atau grup yang berkaitan tentang masalah sosial dan manusia.
Penelitian ini bertujuan mengetahui, mengamati, dan mengeksplorasi proses body
shame yang dialami oleh perempuan. Hal apa saja yang menyebabkan
berkembangnya fenomena tersebut dan dampak yang ditimbulkan fenomena tersebut
dalam kehidupan yang mengalami.
C.
Batasan penelitian (Fokus penelitian)
Hal ini
diperlukan dalam penelitian kualitatif agar peneliti mengetahui batasan
fenomena penelitian yang ingin diteliti. Penelitian ini mencoba fokus untuk
mengetahui bagaimana proses perempuan mengalami body shame. Body shame yang
dialami terjadi disebabkan oleh apa saja sesuai dengan pengalaman perempuan.
Selanjutnya, apa dampak body shame pada
kehidupan perempuan yang mengalami. Body
shame yang dialami dapat terjadi disebabkan oleh hubungan individu dengan
lingkungan sosial dan pengalaman tersebut berdampak apa pada kehidupan perempuan yang mengalami. Proses
terjadinya body shame ini akan
dilihat berdasarkan pengalaman apa saja yang membentuk terjadinya fenomena body shame yang dialami perempuan dan
bagaimana perempuan mengatasi body shame yang dialami.
D. Kriteria Partisipan Penelitian
Peneliti
memilih partisipan perempuan remaja sampai dewasa yang mengalami body shame pada awalnya. Akan tetapi,
pada pelaksanaannya partisipan yang bersedia semuanya kategori usia dewasa
awal. Peneliti memilih infoman sesuai dengan kriteria agar partisipan yang
diperoleh mengalami pengalaman body shame.
Kriteria
partisipan penelitian adalah perempuan yang memiliki pengalaman merasa malu
dengan bagian tubuhnya dan pengalaman itu disebabkan oleh partisipan
menginternalisasi penilaian yang ada di
lingkungan. Peneliti memutuskan perempuan
sebagai partisipan karena perempuan lebih mudah menginternalisasi penilaian
orang lain.
Peneliti
mencari partisipan yang sesuai kriteria di Yogyakarta. Peneliti meminta saran
dari teman-teman yang memiliki kenalan sesuai kriteria body shame. Setelah itu peneliti mencoba menghubungi partisipan
yang bersangkutan untuk bertanya apakah bisa ditemui peneliti untuk melakukan
proses lebih lanjut berupa pengenalan dan selanjutnya akan dilakukan wawancara.
E. Prosedur Pengumpulan Data Penelitian
Menurut Herdiansyah (2010) menuliskan bahwa
proses pengumpulan data kualitatif antara lain:
1. Peneliti mengidentifkasi partisipan penelitian serta lokasi
penelitian
2.
Peneliti
mencari dan mendapatkan akses menuju partisipan atau lokasi penelitian.
3.
Peneliti menentukan jenis data yang akan diperoleh
4.
Peneliti menentukan metode pengumpulan data.
5.
Peneliti melakukan pengumpulan data.
Peneliti melakukan pengumpulan data sebanyak
beberapa kali. Langkah terakhir yang perlu dilakukan untuk mengumpulkan data
penelitian kualitatif, pertama, pengumpulan data yang berulang perlu dilakukan
karena hanya sedikit kemungkinan peneliti dapat memahami dan menganalisis inti
dari fenomena yang diteliti sesuai
BAB IV
ANALISIS DAN PEMBAHASAN
A.
Persiapan penelitian
Pada awal
perencanaan peneliti ingin menggali informasi kepada beberapa perempuan
diberbagai usia karena berdasarkan penelitian yang dilakukan Tiggeman dan Lynch
(2001) bahwa semua usia dapat mengalami body
shame. Peneliti ingin memiliki data dengan usia yang dapat mewakili setiap
tahap perkembangan mulai dari remaja, dewasa awal, dewasa tengah dan dewasa
akhir. Peneliti meminta bantuan teman untuk memberikan informasi jika memiliki
kenalan yang mengalami body shame. Akan
tetapi, pada pelaksanaannya peneliti hanya berhasil menemukan empat partisipan
bersedia dan semua partisipan berada tahap dewasa awal.
Peneliti
menemukan partisipan berdasarkan saran teman peneliti. Pada awalnya peneliti
mendapatkan rekomendasi sebanyak tujuh orang dari beberapa teman. Tetapi
setelah peneliti melakukan pendekatan dan mencoba menjelaskan tujuan penelitian
satu partisipan tidak sesuai dengan kriteria penelitian, dua orang tidak
bersedia dan empat orang partisipan yang sesuai dan bersedia sebagai partisipan.
Berhubung
karena keempat partisipan memang disarankan teman peneliti maka peneliti sudah
pernah melakukan pendekatan dengan partisipan sebelumnya. Pendekatan yang
dilakukan pada awalnya melalui pesan singkat sebelum akhirnya tatap muka.
B. Gambaran Partisipan
Partisipan
yang bersedia berpartisipasi dalam penelitan ini sampai selesai berjumlah empat
orang dengan rentang usia perkembangan masa dewasa awal. Partisipan ini
memiliki pengalaman body shame sebagai
bentuk penilaian diri sendiri dan lingkungan yang diinternalisasi ke dalam
dirinya. Berikut gambaran singkat mengenai partisipan:
1.
Partisipan
1
Partisipan
pertama berinisial TN. Partisipan merupakan mahasiswa di salah satu universitas
negeri di Yogyakarta. Pada saat wawancara tatap muka pertama kali partisipan
telah lulus sarjana dan menunggu wisuda. Berdasarkan data yang diperoleh
partisipan memiliki pengalaman dirisak oleh lingkungan sebaya. Awalnya
partisipan tidak mempermasalahkan tentang tubuhnya walaupun ada komentar- komentar dari lingkungan. Partisipan merasa tidak
percaya diri jika lingkungan mengetahui bahwa dirinya tidak sesuai dengan
penilaian lingkungan. Hal ini menyebabkan partisipan pernah berbohong ketika
ditanya ukuran baju agar lingkungan tidak mengetahui ukuran tubuhnya yang
sebenarnya. Partisipan memiliki pengalaman menghindar ketika akan bertemu
dengan orang lain. Tindakan partisipan ini terjadi karena partisipan berpikir
bahwa orang lain yang akan bertemu dengan dirinya akan menilai partisipan
macam-macam seperti orang lain akan menilai bahwa partisipan jelek atau gendut.
Partisipan melakukan tindakan untuk mengecilkan tubuh secara serius ketika ada
seorang teman KKN cowok yang disukai partisipan yang mengejek dia gendut dan
mengatakan “kalau masih muda aja sudah segendut ini gimana nanti kalau sudah
tua”. Perkataan laki-laki yang disukai partisipan ini membuat dirinya rutin
olahraga dua jam tiap hari dan mengatur pola makan setelah partisipan selesai
KKN. Setelah partisipan menerima komentar itu, partisipan semakin fokus untuk
memperhatikan tubuhnya (mengobservasi dirinya).
2.
Partisipan
2
Partisipan
kedua berinisial DW. Partisipan merupakan salah satu mahasiswa di salah satu
universitas swasta di Yogyakarta. Partisipan menceritakan bahwa dirinya merasa
tinggi badannya tidak sesuai dengan harapannya. Partisipan merasa tidak percaya
diri dengan tinggi badannya. Hal ini terjadi karena partisipan pada masa SD
sudah sempat dipuji
oleh keluarga dan teman ketika tubuhnya lebih tinggi dari teman sebayanya.
Lingkungan memprediksi bahwa tubuh partisipan akan semakin tinggi setelah masa
pubertas. Akan tetapi, ketika SMP tinggi badan partisipan tidak bertambah
tinggi ketika teman-teman partisipan masih bertambah tinggi. Sejak saat itu
partisipan tidak percaya diri dengan tubuhnya khususnya tinggi badannya. Partisipan
pernah mengaitkan reaksi orang lain terhadap dirinya karena menurut partisipan
dirinya tidak semenarik orang lain. Seperti dalam contoh pengalaman yang
disampaikan partisipan jika partisipan dekat dengan seorang cowok tetapi
tiba-tiba laki-laki itu tiba-tiba pergi mungkin karena aku kurang menarik
makanya dia menjauh. Partisipan menceritakan pengalaman tersebut. Partisipan
menilai ketidakpercayaan dirinya akan membuat orang lain menilainya demikian
juga. DW menilai bahwa pikiran atau penilaiannya pada tubuhnya sama dengan
penilaian orang lain.
3.
Partisipan
3
Partisipan
ketiga berinisial P. Partisipan merupakan salah satu mahasiswa di universitas
swasta di Yogyakarta. Menurut penuturan partisipan, dirinya merasa malu dengan
tubuhnya khususnya pantat atau pinggul serta payudaranya tidak proporsional
dengan tubuhnya. Partisipan merasa tubuhnya yang demikian membuat dirinya tidak
nyaman dan membuat dirinya menjadi pusat perhatian orang disekitarnya.
Ketidaknyamanan partisipan dimulai ketika partisipan
mulai dilihatin
oleh cowok-cowok di simpang rumah partisipan. Dan menurut partisipan cara
mereka melihat bukan melihat partisipan dengan biasa saja tetapi menurut
partisipan tatapan mesum. Sejak saat itu partisipan mulai merasa bahwa ada yang
tidak normal pada tubuhnya dengan usianya saat itu. Setelah itu, partisipan
menutupi tubuhnya dengan menggunakan baju yang longgar dengan harapan
mengalihkan pandangan orang lain dari pinggul dan payudara partisipan. Setelah
peneliti bertanya lebih jauh, ternyata partisipan memiliki pengalaman ditolak
ayahnya ketika lahir. Ketika Ibu partisipan sedang mengandung partisipan, ayah
partisipan mengharapkan anak yang lahir adalah laki-laki. Ketika melahirkan
ternyata ibu partisipan melahirkan anak perempuan. setelah kelahiran partisipanpartisipan
ayah partisipan memiliki sikap yang berbeda terhadap partisipan dan kakaknya.
Menurut partisipan, dia berperilaku tomboy karena ingin tampil sebagai anak
laki-laki seperti yang diinginkan ayahnya. Berdasarkan hasil wawancara
partisipan berpendapat bahwa rasa tidak nyaman partisipan akan fisiknya dapat
dipengaruhi oleh penerimaan ayahnya akan partisipan.
4.
Partisipan
4
Partisipan
keempat berinisial SP. Partisipan
merupakan mahasiswa di salah satu universitas negeri di Yogyakarta. Partisipan
merasa bahwa payudara dan matanya paling tidak dia sukai. Menurut partisipan
tubuhnya sering diejek gendut oleh lingkungannya. Di
lingkungan
partisipan, khususnya di kampung halamannya, ukuran tubuh partisipan termasuk
dalam kategori besar. Penilaian ini diberikan orang sekeliling partisipan dan
partisipan membandingkan dirinya dengan orang lain. pada waktu SD partisipan
pernah tampil disuatu lomba menyanyi dengan tidak menggunakan kostum lomba
karena kostum yang disediakan panitia lomba tidak cukup untuk ukuran tubuh
partisipan. Ketika SMA partisipan juga sempat mengalami masa tidak percaya diri
di bagian akademik juga. Selain penilaian diri partisipan terhadap tubuhnya,
saat SMA partisipan juga sempat mengalami ketidakpercayaan diri mengenai akademik.
Partisipan minder dan menutup diri ketika SMA. Pengalaman ini dialami
partisipan terjadi berulang sampai partisipan kuliah. Kondisi ini membuat
partisipan sempat merasa minder dan berusaha melakukan usaha untuk mengurangi
berat badan. Ketika kuliah, partisipan yang mengalami perbedaan perlakuan dari
lingkungan pernah mengalami masa gangguan makan, yang berdasarkan keterangan
partisipan, peneliti mengategorikan gejala yang muncul sebagai tahapan bulimia.
Partisipan merasa bersalah setelah makan banyak menurut penilaian partisipan
kemudian berusaha mengeluarkan kembali makanan yang dimakan. Partisipan sempat
menutup diri dari lingkungan agar partisipan tidak diajak keluar oleh temannya.
Proses itu berlangsung cukup lama sampai akhirnya partisipan berhasil tidak
terlalu mempermasalahkan tubuhnya dan lebih menerima tubuhnya.
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN
A.
Kesimpulan
Penelitian
memaparkan dinamika psikologis perempuan yang mengalami body shame dan dampak yang dialami. Keempat partisipan mengalami
penilaian dari lingkungan mengenai tubuhnya. Keempat partisipan
menginternalisasi penilaian lingkungan mengenai tubuhnya. Internalisasi yang
dilakukan menyebabkan partisipan memperhatikan tubuh menjadikan tubuh sebagai
obyek (self-objectification).
Meningkatnya self-objectification menyebabkan
individu semakin cemas dan merasa malu terhadap tubuhnya. Partisipan melakukan
usaha mengurangi rasa malu yang sebenarnya tidak mengurangi body shame, justru membuat partisipan
mengalami body shame.
Keempat partisipan pernah mengalami penolakan
dari lingkungan dan menyebabkan partisipan lebih sensitif terhadap penolakan
dan menghindari penolakan. Partisipan melakukan diet, menghindari orang lain,
menutupi bagian tubuh yan dianggap memalukan serta ada satu partisipan yang
mengalami bulimia. Berdasarkan penelitian body
shame disebabkan karena adanya kesalahan pikiran (distorsi kognitif) yang dimiliki
partisipan. Keempat partisipan mengalami distorsi kognitif yang menyebabkan
semakin meningkatnya body shame.
Distorsi kognitif yang muncul pada keempat partisipan yaitu distorsi kognitif
kesalahan peramal, distorsi kognitif membaca pikiran, serta distorsi kognitif
pembesaran atau menghilangkan hal yang positif. Body
shame yang dialami partisipan menyebabkan mereka mengalami kecemasan, tidak
percaya diri, dan ada yang mengalami bulimia.
B.
Saran
1. Usia partisipan penelitian kurang beragam
karena partisipan yang bersedia hanya perempuan dewasa awal. Hal ini
menyebabkan teori yang mengatakan bahwa body
shame bisa terjadi di semua usia tidak dapat dibuktikan dalam penelitian
ini. Peneliti selanjutnya diharapkan memperbanyak jumlah partisipan karena penelitian
saat ini dianggap belum jenuh.
2. Peneliti menemukan bahwa data mengenai body shame dapat digali lebih mendalam
untuk kepentingan penelitian berikutnya. Peneliti selanjutnya diharapkan dapat
menggunakan metode penelitian serta analisis data yang lebih kompleks agar
mendapatkan data yang lebih komprehensif mengenai body shame.
3.
Berdasarkan
hasil penelitian perlakuan orang di lingkungan partisipan sangat mempengaruhi
semakin tinggi atau rendah body shame yang
dialami partisipan. Oleh karena itu, masyarakat diharapkan memahami resiko yang
dapat ditimbulkan jika mengalami body
shame dan diharapkan dukungan masyarakat agar partisipan tidak meningkatkan
peluang terjadinya body shame.
Berdasarkan dampak yang dialami partisipan
dalam penelitian ini, perlu diadakan terapi bagi perempuan yang mengalami body shame
agar pengalaman body shame tidak semakin buruk dan
berakhir pada gangguan mental seperti depresi, BDD atau kemungkinan gangguan mental
lainnya.
[2] Interpersonal
adalah komunikasi yang terjadi antara dua orang atau lebih, yang biasanya tidak
secara formal.
Komentar
Posting Komentar