Tazkiyyatul fuadah
Nama : Tazkiyyatul Fuadah
Kelas : B5
Nim : B93218168
Memulihkan Mental dan Psikis Pemakai
Penyalahgunaan Obat-obatan Terlarang
BAB
I
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang
Berdasarkan data Badan Narkotika Nasional
(BNN), kasus pemakaian narkoba oleh pelaku dengan tingkat pendidikan SD hingga
tahun 2007 berjumlah 12.305. Data ini begitu mengkhawatirkan karena seiring
dengan meningkatnya kasus narkoba (khususnya di kalangan usia muda dan
anak-anak, penyebaran HIV/AIDS semakin meningkat dan mengancam. Penyebaran
narkoba menjadi makin mudah karena anak SD juga sudah mulai mencoba-coba
mengisap rokok. Tidak jarang para pengedar narkoba menyusup zat-zat adiktif
(zat yang menimbulkan efek kecanduan) ke dalam lintingan tembakaunya.
Hal ini menegaskan bahwa saat ini perlindungan
anak dari bahaya narkoba masih belum cukup efektif. Walaupun pemerintah dalam
UU Perlindungan Anak nomor 23 tahun 2002 dalam pasal 20 sudah menyatakan bahwa
Negara, pemerintah, masyarakat, keluarga, dan orang tua berkewajiban dan
bertanggung jawab terhadap penyelenggaraan perlindungan anak (lihat lebih
lengkap di UU Perlindungan Anak). Namun perlindungan anak dari narkoba masih
jauh dari harapan.
Berdasarkan data diatas penulis melihat hal
yang cukup kompleks dalam hal ini adalah Narkoba, sudah cukup meresahkan bagi
masyarakat awam pada umumnya, maka dari itu penulis berharap dengan makalah ini
dapat sedikit membantu bagi yang belum mengerti benar tentang bahaya penyalah
gunaan narkoba.
B.
Objek
Kajian
1.
Objek materil
Upaya pemulihan Psikis Akibat dari
penyalagunaan narkoba.
2.
Objek Formal
Pengetahuan tentang langkah-langkah
memulihkan psikis pecandu obat-obatan terlarang.
C.
Rumusan
Masalah
Berlatar belakang masalah diatas, maka rumusan masalah yang akan
penulis bahasa adalah sebagai berikut :
1.
Apa Definisi
Narkoba ?
2.
Apa Dampak
Negatif dari penyalahan Narkoba ?
3.
Kasus-Kasus
Narkoba !
4.
Bagaimana
Mengatasi penyalah gunaan Narkoba ?
D.
Tujuan
Penulisan
Adapun tujuan penulisan makalah ini adalah sebagai tambahan ilmu
pengetahuan tentang penyalah gunaan narkoba dan dampak negatif bagi tubuh.
E. Kontribusi
1. Masyarakat
Bagi masyarakat yang dapat di lakukan
agar tidak terjadi penyahgunaan narkotika adalah segera melaporkankan apabila
terjadi penyalahgunaan Narkotika kepada pihak yang berwajib, sehingga Bandar
dan pengguna Narkotika tidak sampai berkeliaran secara bebas.
2.
Praktisi
Dalam menghadapi permasalahan kasus
penyalahgunaan diatas, dapat dilakukan
dengan cara Rehabilitasi yaitu upaya pemulihan kesehatan jiwa dan raga yang
ditujukan kepada pemakai narkoba yang
sudah menjalani program kuratif. Tujuannya agar ia tidak memakai lagi dan bebas
dari penyakit ikutan yang disebabkan oleh bekas pemakaian narkoba.
3.
Akademisi
Perlunya dikenalkan dalam
pembelajaran tentang bagaimana negatifnya dan dampak akibat tindakan
Penyalahgunaan Narkotika. Agar para remaja lebih mengetahui tentang Narkotika
serta resiko akibat dari penyalahgunaan Narkotika . Karna mulai dari sinilah
seharusnya dibangun pribadi manusia atau remaja yang selalu ingat dan sadar
tentang dampak akibat penyalagunaan Narkotika
itu sendiri.
F.
Tesis Stetment
Penelitian ini
berfokus pada pemulihan dari kecan duan dan keadaan psikis paska penyalagunaan
narkoba. Sehingga tidak ada lagi orang-orang yang tertelantarkan karena telah
meminum narkoba. Seginggah mereka merasa diperhatikan dan mereka merasa
dihargai.
G.
Paradigma
Penelitian komparatif adalah jenispenelitian yang
membandingkan satugejala dengan gejala lainnya. Penelitian verifikatif adalah jenispenelitian yang bertujuan untukmengecek kebenaran hasil
penelitianyang telah terlebih dahulu dilakukan. Penelitian R & D adalah jenis penelitianyang bertujuan untuk
menemukan,menyempurnakan, dan memvalidasisuatu ilmu atau produk yakni narkoba
atau obat-obatan terlarang.
H. Sistematika
Pembahasan
Sistematika pembahasan dalam penelitian ini yaitu BAB
I yang berisi pendahuluan, yang terdiri dari latar belakang, rumusan masalah,
objek penelitian, tujuan penelitian, tesis stetment, dan paradigma.
BAB II
LANDASAN TEORETIS
A. Kerangka Teori
Teori Behavioral Behaviorisme adalah aliran dalam fsikologi yang didirikan oleh John B. Watson pada tahun 1913 dan digerakkan oleh Burrhus Frederic Skinner. Sama halnya dengan psikoalanisa. Behaviorisme memandang manusia ketika dilahirkan pada dasarnya tidak memiliki bakat apa-apa. Manusia akan berkembang berdasarkan stimulis yang diterima nya dari lingkungannya. Teori behavioral dikenal juga dengan modifikasi tingkah laku yang dapat diartikan sebagai tindakan yang bertujuan untuk mengubah prilaku. Tujuan behaviorisme adalah menciptakan kondisi-kondisi baru bagi proses belajar. Konsep dasarnya adalah segenap tingkah laku adalah dipelajari, secara umum tujuan behaviorisme adalah menciptakan kondisi baru pembelajar, menghapus tingkah laku non adiktif untuk digantikan menjadi prilaku yang adiktif, meningkatkan personality choic.
B. Kerangka Konsep
1. Pengertian Metode Bimbingan Agama
a. Pengertian Metode Kata metode berasal dari bahasa latin methodus yang berarti cara. Sedangkan dalam bahasa inggris method dijelaskan dengan atau cara. Kata metode telah menjadi bahasa indonesia yang berarti suatu cara yang bisa ditempuh atau cara yang ditentukan secara jelas untuk mencapai dan menyelesaikan suatu tujuan, rencana, sistem, dan tata pikir manusia. Metode juga disebut suatu cara yang sistematis dan umum terutama dalam mencari kebenaran ilmiah. Metode adalah suatu cara yang digunakan untuk mendekati suatu masalah. Sedangkan penerapan caranya disebut teknik. Jadi, metode adalah bagaimana cara seorang pembina memberikan arahan menyampaikan dan mempraktekkan materi itu kepada terbina. Dalam bimbingan dan konseling, metode bimbingan dikelompokkan menjadi dua yaitu:
b. Metode bimbingan kelompok Metode ini adalah komunikasi langsung oleh pembimbing dan klien dengan keadaan berkelompok atau dengan beberapa klien yang mempunyai permasalahan yang sama.
c. Metode bimbingan individual Metode bimbingan individual adalah pembimbing berkomunikasi langsung terhadap masalah yang dihadapi klien yang dibimbing. Metode dapat dilakukan dengan beberapa teknik, diantaranya:
d. Pendekatan langsung Pendekatan langsung merupakan suatu cara pembimbing dimana pembimbing secara langsung memberikan jawaban-jawaban terhadap masalah yang dihadapi klien selain itu pembimbing juga berusaha memberikan pengarahan yang sesuai dengan masalahnya.
e. Pendekatan tidak langsung Pada pendekatan ini pembimbing atau konselor beranggapan bahwa klien mempunyai suatu potensi dan kemampuan untuk berkembang dan mencari kemantapan sendiri. Seorang pembimbing hanya sebagai pendengar dan pemberi dorongan.
f. Pengertian Bimbingan Bimbingan adalah terjemahan dari kata guidance yang berati menunjukkan jalan, memimpin, memberi petunjuk, mengatur, mengarahkan, dan memberi nasehat. Bimbingan juga disebut sebagai pemberian bimbingan atau pemberian bantuan kepada orang lain yang memerlukan bantuan. Dalam arti lain bimbingan juga disebut sebagai suatu proses menolong individu untuk memahami diri mereka dan dunia mereka.
Alice crow mengatakan bimbingan adalah bantuan yang diberikan kepada seorang individu untuk menentukan tujuannya, baik jangka pendek maupun jangka panjang, merancang cara-cara bertindak, dan memperbaiki sikap serta tingkah laku dalam aspek-aspek yang dirasa perlu oleh individu itu.
Bimbingan berarti suatu proses pemberian bantuan atau pertolongan kepada individu dalam hal: memahami diri sendiri; menghubungkan pemahaman tentang dirinya sendiri dengan lingkungan; memilih, menentukan dan menyusun rencana sesuai dengan konsep dirinya sendiri dan tuntutan dari lingkungan. Bimbingan dapat diberikan untuk menghindari kesulitan-kesulitan maupun untuk mengatasi persoalanpersoalan yang dihadapi oleh individu di dalam kehidupannya. Ini berarti bimbingan dapat diberikan bukan hanya untuk mencegah agar kesulitan itu tidak ada atau jangan timbul, akan tetapi juga dapat diberikan untuk mengatasi kesulitan-kesulitan yang telah menimpa individu. Bimbingan lebih bersipat mencegah dari pada penyembuhan, bimbingan yang dimaksud supaya individu dapat mencapai kesejahteraan hidup.
g. Pengertian Agama Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, Agama adalah sistem yang mengatur tata keimanan (kepercayaan) dan peribadatan kepada Tuhan Yang Mahakuasa serta tata kaidah yang berhubungan dengan pergaulan manusia dan manusia serta lingkungannya. Kata "agama" berasal dari bahasa Sanskerta, āgama yang berarti "tradisi". Kata lain untuk menyatakan konsep ini adalah religi yang berasal dari bahasa Latin religio dan berakar pada kata kerja religare yang berarti "mengikat kembali".
Maksudnya dengan berreligi, seseorang mengikat dirinya kepada Tuhan. Maksud agama ialah untuk mempersatukan segala pemeluk-pemeluknya, dan mengikat mereka dalam suatu ikatan yang erat sehingga merupakan batu pembangunan, atau mengingat bahwa, hokum-hukum agama itu dibukukan atau didewankan. Ad-din berarti nasihat, seperti dalam hadis dari Tamim ad-Dari r.a. bahwa Nabi SAW bersabda: Ad-dinu nasihah. Para sahabat bertanya: “Ya Rasulullah, bagi siapa?” Beliau menjelaskan: “Bagi Allah dan kitab-Nya, bagi Rasul-Nya dan bagi para pemimpin muslimin dan bagi seluruh muslimin.” (HR. Muslim, Abu Dawud, Nasa‟i dan Ahmad).
Hadis tersebut memberikan pengertian bahwa ada lima unsur yang perlu mendapat perhatian bisa memperoleh gambaran tentang apa yang dimaksud dengan agam yang jelas serta utuh. Kelima unsure itu adalah: Allah, kitab, rasul, pemimpin dan umat, baik mengenai arti masing-masing maupun kedudukan serta hubungannya satu denagn lainnya.
Pengertian tersebut telah mencakup dalam makna nasihat. Imam Ragib dalam kita Al-Mufradaat fii Ghariibil Qur’an, dan Imam Nawawi dalam Syarh Arba’in menerangkan bahwa nasihat itu maknanya sama dengan menjahit (alkhayyaatu an-nasihuu) yaitu menempatkan serta menghubungkan bagian (unsur) yang satu dengan yang lainnya, sesuai dengan kedudukan masing-masing. Mukti Ali mengatakan, agama adalah percaya pada adanya Tuhan Yang Maha Esa dan hukum-hukum yang diwahyukan kepada utusanNya bagi kebahagiaan hidup manusia di dunia dan akhirat.
Mukti Ali membatasi pengertian agama pada kepercayaan dan hokum. Mehdi Ha‟iri Yazdi berpendapat, agama adalah kepercayaan kepada Yang Mutlak atau Kehendak Mutklak sebegai kepedulian tertinggi. Pengertian inimenjadikan Tuhan sebagai focus perhatian dan kepedulian tertinggi agama sehingga agama cenderung mengabaikan persoalan kemanusiaan. Agama akhirnya bersifat teosentris, tanpa perhatian yang cukup terhadap soal-soal kemiskinan dan keterbelakangan umat.
Metode bimbingan agama adalah suatu cara atau kegiatan-kegiatan yang terorganisir untuk memberikan bantuan secara sistematis kepada klien dalam membantu penyesuaian diri klien terhadap berbagai problema yang sedang dihadapinya sehingga mengetahui diri pribadinya sendiri dan hidup sebagai individu maupun sebagai anggota masyarakat.
C. Metode Bimbingan Agama Metode bimbingan agama menjadi salah satu pelayanan yang sangat diperlukan dalam membimbing seseorang kejalan yang lebih baik. Drs.H.Arifin M.ED mengemukakan metode bimbingan agama yang dapt menghampiri sasaran tugasnya antara lain sebagai berikut:
1. Metode interview (wawncara) Metode ini adalah cara untuk memperoleh fakta yang menyangkut masalah klien yang sangat diperlukan untuk pemberian pelayanan bimbingan. Dalam pelaksanaan wawancara ini diperlukan adanya saling percaya antara pembimbing dengan yang dibimbing.
2. Metode kelompok Pembimbing menggunakan metode ini agar dapat mengembangkan sikap sosial, sikap memahami peraturan siswa dalam lingkungannya. Dengan metode kelompok ini dapat timbul kemungkinan diberikannya penyembuhan gangguan jiwa melelui kelompok, dengan demikian dapat diwujudkan dengan penciptaan situasi kebersamaan baik secaran keterikatan antara satu sama lain maupun secara peresapan batin.
3. Clien center method (metode yang dipusatkan pada klien)
Dalam metode ini terdapat dasar pandangan bahwa manusia sebagai makhluk yang bulat dan memiliki kemampuan berkembang sendiri dan mempunya kemampuan sebagai pencari kemantapan diri sendiri. Pembimbing menggunakan metode ini maka ia harus berskap sabar mendengarkan segala keluhan ungkapan klien yang diutarakan kepadanya. Dengan demikian pembimbing seolah-olah pasif, tetapi sesungguhnya bersipat aktif menganalisa segala apa yang dirasakan klien sebagai bebannya.
4. Directive( penyembuhan penyakit atau psikoterapi)
Metode ini merupakan bentuk psikoterpi yang sangat sederhana, karena atas dasar ini pembimbing memberikan jawaban-jawaban terhadap masalah oleh klien disadari sebagai sumber kecemasan. Dengan mengetahui keadaan klien tersebut pembimbing dapat memberikan bantuan pencegahan masalah yang dihadapi. Situasi yang demikian klien diberikan kesempatan mencurahkan segala tekanan batin sehingga akhirnya mampu menyadari tentang kesulitan-kesulitan yang diderita.
Peranan pembimbing hanya merefleksikan kembali segala tekanan batin atau perasaan klien. Jadi pembimbing hanya bersikap menerima dan menaruh perhatian serta mendorong untuk mengembangkan kemampuan sendiri mengatasi masalah tanpa adanya paksaan mengikuti nasehat pembimbing.
5. Metode eductive
Metode ini menekankan pada usaha mengkorek sumber perasaan dirasakan menjadi sumber beban tekanan batin klien serta mengaktifkan kekuatan kejiwaan klien dengan melalui pengertian realitas klien yang dihadapinya. Dengan demikian metode ini memberikan pencerahan terhadap unsur-unsur kejiwaan yang menjadi sumber konflik klien, jadi disini peranan pembimbing ialah memberikan kesempatan seluas-luasnya kepada klien untuk mengekspresikan segala gangguan kejiwaan yang disasari menjadi masalah bagi klien.
D. Tujuan Bimbingan Agama
Adapun tujuan dari bimbingan ini adalah untuk membantu individu memiliki komitmen yang kuat dalam mengamalkan nilai-nilai keimanan dan ketaqwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa, baik dalam kehidupan pribadi, keluarga, pergaulan dengan teman sebaya, Sekolah/Madrasah, tempat kerja, maupun masyarakat pada umumnya. Memiliki sikap toleransi terhadap umat beragama lain dengan saling menghormati dan memelihara hak dan kewajibannya masing-masing dan memiliki pemahaman tentang irama kehidupan yang bersifat fluktuatif antara yang menyenangkan (anugrah) dan yang tidak menyenangkan (musibah), serta dan mampu meresponnya secara positif sesuai dengan ajaran agama yang dianut. Memiliki pemahaman dan penerimaan diri secara objektif dan konstruktif, baik yang terkait dengan keunggulan maupun kelemahan baik fisik maupun psikis. Memiliki sikap positif atau respek terhadap diri sendiri dan orang lain memiliki kemampuan untuk melakukan pilihan secara sehat bersikap respek terhadap orang lain, menghormati atau menghargai orang lain, tidak melecehkan martabat atau harga dirinya. Memiliki rasa tanggung jawab, yang diwujudkan dalam bentuk komitmen terhadap tugas atau kewajibannya.
Memiliki kemampuan berinteraksi sosial (human relationship), yang diwujudkan dalam bentuk hubungan persahabatan, persaudaraan, atau silaturahim dengan sesama manusia memiliki kemampuan dalam menyelesaikan konflik (masalah) baik bersifat internal (dalam diri sendiri) maupun dengan orang lain.
Bimbingan Islam dilakukan oleh, terhadap dan bagi kepentingan manusia. Oleh karena itu pandangan mengenai manusia atau pandangan mengenai hakikat manusia akan menjadi landasan operasional bimbingan agama Islam, sebab pandangan mengenai hakikat manusia akan mempengaruhi tindakan bimbingan tersebut. Tujuan yang ingin dicapai melalui bimbingan agama adalah tingkat perkembangan yang optimal bagi setiap individu sesuai dengan kemempuannya, agar dapat menyesuaikan dirinya terhadap lingkungan masyarakat sejalan dengan perkembangan zaman dan kemajuan teknologi, akan berkembang pula konsepsi bimbingan agama, sehingga tujuan dari bimbingan agama itu juga akan mengalami perubahan, dari cara-cara yang sederhana, manual menjadi lebih lomprehensif. Selain itu agama sangat berpengaruh terhadap kehidupan seseoarang.
Melihat uraian tentang tujuan bimbingan di atas sebenarnya mempunyai substansi yang sama dengan tujuan bimbingan keagamaan hanya saja dalam tujuan bimbingan keagamaan lebih menekankan pada nilai-nilai keagamaan. Secara umum tujuan bimbingan keagamaan adalah “Membantu individu mewujudkan dirinya sebagai manusia seutuhnya agar mencapai kebahagiaan hidup di dunia dan di akhirat”. Mewujudkan diri sebagai manusia seutuhnya berarti mewujudkan diri sesuai dengan hakikatnya sebagai manusia untuk menjadi manusia yang selaras perkembangan unsur dirinya dan pelaksanaan fungsi atau kedudukannya sebagai makhluk Allah (makhluk religius) makhluk individu, makhluk sosial dan sebagai makhluk berbudaya.
E. Fungsi Bimbingan Agama
Bimbinga dalam fungsi ini sifatnya memberi bantuan kepada individu klien memecahkan masalah yang sedang dihadapi. Dalam hal ini informasi perlu disebarkan kepada masyarakat luas bahwa konselor A atau bahwa lembaga Klinik Konsultasi Agama tertentu dapat memberikan pelayanan kepada masyarakat yang mem¬butuhkan untuk bimbingan agama. Diinformasikan bahwa bimbingan agama dapat membantu memecah¬kan masalah kejiwaan yang dihadapi orang. Informasi ini dapat disebar luaskan melalui media komunikasi, atau melalui masjid, majlis taklim dsb.
Bimbingan juga dalam fungsi ini adalah membantu klien yang sudah sembuh agar dapat mengembangkan potensi yang dimilikinya pada kegiatan yang lebih baik. Kegiatan konseling dalam fungsi ini dapat dilakukan dengan mendirikan semacam club, dengan penekanan pada program yang terarah, yang melibatkan anggauta, baik dalam perencanaan, pelaksanaan, maupun pengembangan. Klien yang sudah sehat dapat diajak untuk menjadi pengurus dari lembaga-lembaga yang melaksanakan kegiatan sosial, pendidikan dan keagamaan. Dengan aktif sebagai pengurus maka ia bukan hanya menyembuhkan diri sendiri tetapi bahkan menyembuhkan orang lain yang belum sembuh.
Dengan demikian fungsi bimbingan adalah sebagai berikut:
a) Fungsi pencegahan, fungsi ini membantu agar individu dapat berupaya aktif untuk melakukan pencegahan sebelum mengalami berbagai masalah kejiwaan karena kurangnya perhatian. Upaya pencegahan meliputi pengembangan berbagai strategi dan program yang dapat digunakan untuk mencoba mengantisipasi dan menghindari risiko-risiko hidup yang tidak perlu terjadi.
b) Fungsi penyesuaian, ialah fungsi bimbingan dalam rangka membantu individu dalam rangka menyesuaikan diri dengan lingkungan nya.
c) Fungsi perbaikan, ialah fungsi bimbingan dalam rangka membantu individu dalam rangka memperbaiki kondisi individu yang dipandang kurang memadai.
d) Fungsi pengembangan, fungsi ini berpokus pada masalah membantu membangkitkan keterampilan-keterampilan dalam kehidupannya, mengidentifikasi dan memecahkan masalah hidup, membantu meningkatkan kemampuan menghadapi transisi dalam kehidupannya.
F. Pengertian Pecandu dan Narkoba
1. Pengertian Pecandu
Menurut pasal 1 angka 13 UU Narkotika, dijelaskan definisi pecandu adalah orang yang menggunakan atau menyalahgunakan narkotika dan dalam keadaan ketergantungan pada narkotika baik secara fisik maupun psikis. adalah mereka yang tidak menyadari atau memiliki perilaku lain sehingga memudahkan dirinya menjadi korban.
Ciri-ciri pecandu/penderita napza dapat dikenali dengan mudah adalah pada saatsakaw. Yang dimaksud sakaw adalah putus obat,karena penderita ketergantungan napza,terutama narkotika (ganja,putauw dan sejenisnya).
Orang yang sudah parah mengonsumsi morfin dan heroin, jika pemakaiannya dihentikan akan timbul gejala sakaw, yaitu ketagihan dan ketergantungan. Berikut keadaan orang yang dalam kondisi sakaw : air mata dan cairan hidung keluar berlebihan, mata merah, keringat berlebihan, kedinginan/mengigil, mual, muntah, diare, jantung berdebar, tekanan darah naik, nyeri (otot, kepala, dan tulang), dan gampang marah. Kalau sakaw dapat diatasi pecandu akan menambah lagi takaran narkoba.
Apa pun akan dilakukan oleh orang sakaw ini, misalnya mencuri, membunuh, mengedarkan narkoba demi memenuhi sakawnya. Semakin besar takaran (dosis) morfin dan heroin dikonsumsi, biasanya kematian atau yang dikenal dengan overdosis (OD) menjadi ganjaran bagi pengguna narkoba jenis ini.
2. Pengertian Narkoba
Istilah narkoba sesuai dengan surat edaran BNN merupakan akronim dari narkotika, psikotropika, dan bahan adjektif lainnya. Narkoba yaitu zat-zat alami maupun limiawi yang jika dimasukan kedalam tubuh baik dengan cara dimakan, diminum, suntik, intravena, dan lain sebagainya, dapat merubah pikiran, suasana hati, perasaan, dan prilaku seseorang.
Narkoba merupakan singkatan dari narkotika, psikotropika dan bahan adiktif. Narkoba adalah obat, bhan, zat dan bukan tergolong makanan jika diminum, dihisap, ditelan, atau disuntikan dapat mennyebabkan ketergantungan dan berpengaruh terhadap kerja otak,demikian pula fungsi vital organ tubuh lain (jantung, peredaran darah,pernapasan dll).
Narkotika adalah zat atau obat yang berasal dari tanaman atau bukan tanaman ,baiksintetis maupun semisintetis yang menyebabkan penurunan atau perubahan kesadaran dan dan menghilangkan atau mengurangi rasa nyeri.
Psikotropika adalah zat atau obat, baik alamiah maupun sintetis bukan narkotika, yang berhasiat psikoaktif melalui pengaruh selektif dan susunan saraf pusat dan menyebabkan perubahan khas pada aktifitas mental dan perilaku.
G. Kajian Terdahulu
Salah satu penelitian terdahulu yang meneliti tentang metode bimbingan agama terhadap pecandu narkoba adalah penelitian milik hasbi dengan judul “metode pembinaan agama bagi mantan pecandu narkoba di pantirehabilitas pondok teritah djikir barbah sleman yokyakarta” pada tahun 2016 dengan hasil penelitian mengatakan bahwa subjek penelitian menggunakan metode bimbingan agama bagi mantan pecandu narkoba.
Berdasarkan penelitian milik hasbi dengan hasil tersebut, maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian yang barbeda dengan penelitian sebelumnya, dimana penelitian sebelumnya berfokus pada mantan pecandu narkoba, sedangkan yang saya teliti berpokus pada pecandu yang sedang direhabilitasi.
BAB III
METODE PENELITIAN
A. Pendekatan Penelitian
Penelitian ini adalah penelitian kualitatif yang bedasarkan riset lapangan (field research) dan pendekatan yang digunakan adalah pendekatan deskriptif berupa katakata yang tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang dapat diamati. Penelitian kualitatif adalah adanya upaya penggalian dan pemahaman pemaknaan terhadap apa yang terjadi pada berbagai individu atau kelompok yang berasal dari persoalan sosial atau kemanusiaan. Di dalam penelitian ini penulis akan menjelaskan hasil data dari lapangan dengan melibatkan informan, dokumen dan data lainnya yang berkaitan dengan metode bimbingan agama terhadap pecandu narkoba tersebut.
Dalam penelitian kualitatif ini penulis juga bermaksud untuk memahami fenomena tentang apa yang dialami oleh informan penelitian misalnya kecemasan seperti apa yang dialami informan dan tindakan apa yang diambil infirman untuk meneliti metode bimbingan agama terhadap pecandu narkoba.
Penelitian deskriktif menafsirkan dan menuturkan data yang bersangkutan dengan situasi yang sedang terjadi, sikap serta pandangan yang terjadi didalam masyarakat, pertentangn dua keadaan atau lebih, hubungan antar variable, perbedaan antara fakta. Tujuan dari penelitian deskriktip kualitatif adalah untuk mengungkapkan fakta, keadaan, fenomena, variable dan keadaan yang terjadi saat penelitian berjalan dan menyuguhkan apa adanya.
B. Lokasi penelitian
Penelitian ini dilakukan di panti rehabilitas di jl. Serdang,dusun x desa serdang kec. Beringin kab. Deli serdang. Alasan tempat ini dijadikan lokasi penelitian adalah dikarenakan didesa ini terdapat objek penelitian. Didesa ini terdapat tempat rehabilitas narkoba.
Panti rehabilitas rahmani kasih adalah suatu bidang lembaga sosial yang bergerak dibidang pemulihan bagi pecandu narkoba, pemulihan selain melalui rehabilitas, medis yang bekerja sama dengan dokter-dokter terkait juga dengan pendekatan bimbingan agama. Sampai hari ini panti rehabilitas ini telah melayani 45 pecandu.
C. Sumber data
Sumber data penelitian dibedakan kepada 2 yaitu:
1. Sumber data primer yaitu data pokok di peroleh dari informan yaitu 3 orang, diantara nya 2 pembimbing agama dan 1 kepala panti rehabilitas rahmani kasih desa baru kecamatan batang kuis.
2. Sumber data skunder yaitu data lengkap seperti pendukung penelitian yang diperoleh dari buku-buku literature yang terkait dalam penelitian.
D. Teknik pengumpulan data
Penelitian bersifat penelitian lapangan (field research) oleh karena itu data yang diperlukan dihimpun melalui instrument sebagai berikut:
Intervie adalah serangkai wawancara terhadap informan penelitian tentang masalah penelitian. Melalui teknik wawancara yang dijalankan dengan tanya jawab secara lisan dan bertatap muka langsung pembimbing yang diwawancarai, maka penelitian akan bisa mendapatkan data informasi secala langsung dari subjek penelitian, sehingga data yang di peroleh lebih berkualitan dan kongkrit dari hasil wawancara tersebut. Dalam penelitian ini peneliti melaksanakan serangkai tanya jawab dengan pembimbing yang melakukan bimbingan agama.
D. Analisis Data
Teknik analisis data dimulai dengan menelaah data yang tersedia baik yang bersifat primer maupun skunder yang diperoleh dari hasil wawancara secara bebas, observasi dilapangan serta mengkaji refrensi-refrensi yang berkaitan dengan penelitian data atau informasi yang diperoleh dari lokasi penelitian akan dianalisis setelah dibuat dicatatan lapangan. Setelah data dikumpulkan dari lokasi melalui wawancara peneliti akan melalukan analisis dan penarikan kesimpulan.
Analisis data Miles dan Huberman bahwa ada tiga alur kegiatan yaitu reduksi data, penyajian data, serta penarikan kesimpulan atau verifikasi:
1. Reduksi data diartikan sebagai proses pemilihan pemusatan perhatian pada penyederhanaan, pengabstrakan, dan transformasi data kasar yang muncul dari catatan lapangan. Reduksi dilakukan sejak pengumpulan data dimulai dengan membuat ringkasan, mengkode, menelusuri tema, menulis memo, dan lain sebagainya, dengan maksud menyisihkan data atau informasi yang tidak televan, kemudian data tersebut diverifikasi.
2. Penyajian data adalam pendeskripsian sekumpulan informasi rersusun yang memberikan kemungkinan adanya penarikan kesimpulan dan pengambilan tindakan. Penyajian data kualitatif disajikan dalam bentuk teks naratif, dengan tujuan dirancang guna menggabungkan informasi yang tersusun dalam bentuk mudah dipahami.
3. Penarikan kesimpulan verifikasi merupakan akhir dari penelitian kualitatif. Penelitian harus sampai pada kesimpulan dan melakukan verifikasi baik dari segi makna maupun kebenaran kesimpulan yang disepakati oleh tempat penelitian itu dilaksanakan. Makna yang dirumuskan peneitian dari data harus diuji kebenaran kecocokan kan kekokohannya. Penelitian harus menyadari bahwa dalam mencari makna, ia harus menggunakan pendekatan emik yaitu, dari kaca mata key information, dan bukan penafsiran makna menurut pandangan penelitian (pandangan etik).
E. Metode Keabsahan
Data Metode untuk pengolahan keabsahan data, penulis menggunakan metode triangulasi. Triangulasi yaitu informasi yang diperoleh dari beberapa sumber diperiksa silang dan antara data wawancara dengan data pengamatan dari dokumen. Triangulasi dengan sumber berarti membandingkan dan mengecek balik derajat kepercayaan suatu informasi yang diperoleh melalui waktu yang berbeda dalam metode kualitatif.
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Sejarah Panti Yayasan Rahmani Kasih
Penyalahgunaan dan Peredaran Gelap Narkotika Psykotropika Bahan Adiktif (NARKOBA) di Indonesia sepuluh tahun belakangan ini menunjukkan peningkatan sangat tajam dan significant. Penyebaran yang sangat cepat dan meluas keseluruh penjuru tanah air di Indonesia, merupakan suatu hal yang sangat menakutkan bagi kelangsungan hidup masyarakat berbangsa bernegara.
Melihat dari data kasus narkoba yang melanda Provinsi Sumatera Utara, berdasarkan statistik Badan Narkotika Nasional ( BNN )tahun 2013 jumlah pengguna narkoba saat ini mencapai 5. 300.431 orang dari jumlah penduduk Indonesia yang mencapai 238 juta jiwa ini menunjukkan 2% dari jumlah penduduk Indonesia pecandu narkoba. Yang paling memperhatikan dari jumlah ini dewasa penyumbang terbanyak. Narkoba juga masuk ke tingkat pelajar mulai dari anak SMP-SMA serta perempuan sedangkan di Sumatera Utara jumlah pengguna narkoba mencapai 351.234 orang (BNNP SUMUT). Apalagi pecandu narkoba tidak melihat agama ataupun ras semua bisa menjadi pecandu narkoba.
Panti yayasan rahmani kasih adalah lembaga yang bergerak dalam bidang narkoba sejak tahun 1995 Dalam rangka Pelaksanaan, Pencegahan, Pemberantasan, Penyalahgunaan, dan Peredaran Gelap Narkoba (P4GN). Dan sesuai amanat UU No. 35 Tahun 2009 tentang narkotika serta instruksi Presiden RI No. 12 Tahun 2011 tentang pelaksanaan dan “Indonesia Darurat Narkoba”.
Maka kami panti yayasan rahmani kasih yang terdiri dari masayarakat dan sudah lama bergerak dalam bidang narkoba, merasa bertanggung jawab, mendukung dan membantu kegiatan pemerintah tersebut untuk turut berperan serta dalam penanganan narkoba, khususnya saat ini dalam penanganan korban Napza untuk bidang rehabilitasi. Lokasi panti yayasan rahmani kasih ini di JL. Serdang, Dusun x Serdang, Kec. Beringin, Kab. Deli Serdang, luas lokasi Panti Rehabilitasi ini diatas seluas 1200 m2. Dengan ruangan untuk residen dan muat untuk 30 orang dan bangunan-bangunan lainnya yang ada di Panti Rehabilitasi.
Dari hasil wawancara dengan kapala panti yayasan rahmai kasih, Sejarah awal berdirinya panti rahmani kasih adalah kepedulian beliau terhadap seorang remaja yang lagi marah-marah dan meresahkan warga dikarenakan factor narkoba, dimana suatu ketika beliau pulang kekampung halamannya dan beliau melihat seorang remaja yang membuat kekacaun dimana remaja itu membawa sebilah parang dan mengejar orang-orang yang ada disekitarnya. Dari informasi yang didapat beliau mengalami gangguan jiwa selama 6 bulan belakangan dan dia sering membuat kekacauan dikampung tersebut.
Melihat kejadian itu, beliau memberanikan diri menghampiri remaja tersebut dan mengambil parang yang ada ditangan remaja tersebut, dan remaja itu dengan tenangnya menyerahkan parang itu tanpa ada perlawanan, baliau juga sempat heran kenapa remaja tersebut bisa tenang dengan kehadiran nya, tetapi beliau mengatakan bahwa ini anugrah tuhan untuk saya.
Setelah kejadian tersebut, beliau membawa remaja tersebut kerumahnya dan memberikan pembinaan dan masukan, dan hasilnya remaja tersebut bisa menerima dan mendengarkan apa yang sampaikan beliau dan remaja tersebut dapat berubah dan kembali menjadi orang yang sehat.
Dengan kejadian tersebut beliau merasa pirhatin dengan korban penyalahgunaan narkoba dan beliau kerja disebuah lembaga permasyarakatan yang bergerak dibidang rehabilitasi narkoba. Setelah beliau mendapatkan pengalaman dibidang rehab narkoba, beliau tertarik untuk mendirikan lembaga sendiri untuk para korban penyalahgunaan narkoba. Beliau mendirikan panti rehabilitasi narkoba dengan menggunakan dana sendiri tanpa ada bantuan dari dinas social, masalah pendanaan pecandu yang direhabilitasi sekarang ini dibantu oleh dinas social dan itu pun hanya sebagian pecandu yang dapat bantuan.
Setelah beliau mendapatkan pengalaman dibidang rehab narkoba, beliau tertarik untuk mendirikan lembaga sendiri untuk para korban penyalahgunaan narkoba. Beliau mendirikan panti rehabilitasi narkoba dengan menggunakan dana sendiri tanpa ada bantuan dari dinas social, masalah pendanaan pecandu yang direhabilitasi sekarang ini dibantu oleh dinas social dan itu pun hanya sebagian pecandu yang dapat bantuan.
Melihat begitu banyaknya peredaran narkoba dari masyarakat, sangat mengkuatirkan. Saat ini namyak sekali generasi muda yang menjadi korban penyalahgunaan. Situasi sekarang ini Panti Rehabilitasi yayasan rahmani kasih melihat negara dalam kondisi bahaya yang telah melanda generasi dan sudah masuk kedalam ranah hukum yang dapat menghancurkan moral bangsa ini.
Dalam kondisi ini rehabilitasi yayasan rahmani kasih telah lama menjalankan visi misinya walaupun situasi ini masih belum mendukung baik dari sarana dan prasarana yang telah terbatas maupun biaya operasional lembaga. Namun kami merasa terpanggil untuk peduli dengan para penyalahgunaan narkoba ini, bahu membahu mengumpulkan materi, memberikan waktu, perhatian dan kepedulian untuk menjalankan setiap program yang ada di rehabilitasi yayasan rahmani kasih.
B. Visi dan Misi Panti yayasan rahmani kasih
a. Visi
Membantu pemerintah dan masyarakat dalam penanganan penyalahgunaan narkoba dan mewujudkan Indonesia bebas narkoba.
b. Misi
1. penyuluhan, memberikan pelayanan rehabilitasi adiksi dan sosial, pendamping panjangkauan dan lain sebagainya kepada para korban narkoba.
2. Melaksanakan kampanye/ penyuluhan penerangan bahaya penyalahgunaan narkoba kepada seluruh lapisan masyarakat.
3. Melaksanakan Pendidikan, pelatihan keterampilan bagi pembentukan dan pengembangan bakat penyalahgunaan narkoba.
4. Penanganan pemulihan ketergantungan narkoba (Drug Abuse).
5. Manjalin kerja sama dengan berbagai pihak dibidang pelayanan dan Diklat TR ketergantungan narkoba.
6. Merekrut relawan anti narkoba sebanyak-banyaknya.
7. Menerbitkan buku-buku tentang bahaya penyalahgunaan narkoba, Majalah Informasi Narkotika.
8. Memproduksi VCD, kaset tentang dampak buruk narkoba.
C. Bentuk Bimbingan Yang Dilakukan Oleh Panti Rehabilitasi Yayasan Rahmani Kasih
Berdasarkan wawancara dengan konselor panti rahmani kasih, adapun bentuk bmbingan yang dilakukan oleh panti rehabilitasi adalah bimbingan individual atau perseorangan dan bimbingan kelompok. Bimbingan individual adalah suatu bimbingan yang dilakukan pembimbing untuk satu orang saja, dengan kata lain yang dilayani hanya satu orang saja, bimbingan individu ini dapat dilakukan pada saat bimbingan dilakukan untuk mebicarakan permasalahan yang sedang dialami klien.
Dari hasil wawancara dengan salah satu pembimbing, hal ini memudahkan untuk berkomunikasi dengan klien, klien lebih terbuka dengan permasalahannya dan lebih mudah untuk diarahkan. Dengan demikian seorang klien lebih merasa percaya diri dan lebih nyaman. Bimbingan individual ini biasanya diberikan kepada klien yang baru masuk rehabilitasi, mereka dibimbing untuk bisa menyesuaikan diri dengan lingkungan baru mereka. Karena menurut beliau, klien yang baru masuk rehabilitasi itu mengalami tekanan yang sangat tinggi, terutama karena jauh dari keluarga dan teman-teman nya. Dalam masa rehabilitasi awal, seorang klien juga butuh dukungan dari orang lain agar dia bisa menerimka keadaan selama dia direhabilitasi dipanti tersebut.
Dengan adanya bimbingan individual, diharapkan klien yang sedang direhabilitasi menerima masukan dari pembimbing dan menerapkan nya dalam kehidupan nya kedepannya. Sedangkan bentuk bimbingan selanjutnya adalah bimbingan kelompok, dimana bimbingan kelompok adalah bentuk bimbingan yang dilakukan pembimbing dengan cara melakukan bimbingan kepada klien lebih dari satu orang. Bimbingan kelompok diberikan kepada klien dengan cara mengumpulkan klien diaula, dan pembimbing memberikan bimbingan dan masukan kepada klien yang sedang direhabilitasi.
Para pecandu dalam menjalani proses rehabilitasi dipanti yayasan rahmani kasih biasanya mereka mengalami perasaan yang sangat sedih dan labil dikarenakan mereka merasa hidupnya terkekang dan jauh dari orang-orang terdekat mereka. Biasanya para pecandu sebelum menjalani proses rehabilitasi mereka merasakan hidup bebas, tanpa ada orang yang mengatur hidupnya dan mereka bebas mengkonsumsi narkoba sepuasnya bahkan mereka bebas untuk melakukan apa saja yang mereka mau.
Akan tetapi setelah mereka melakukan proses rehabilitasi, hidup mereka harus ada yang mengatur dan mengendalikannya. Dari beberapa klien yang ada dipanti itu mengungkapkan bahwa dia merasa bosan, ingin keluar kembali kerumah dan berkumpul dengan keluarga nya. Perasaan atau kondisi pecandu pada saat menjalani proses rehabilitasi ada yang merasa sedih karena tidak bisa melakukan semua kegiatannya dengan semau nya, karena selalu diawasi dan diatur.
Bahkan menurut salah satu pembimbing, ada klien yang ingin kabur dari panti rehabilitasi tersebut, akan tetapi niat kabur klien tersebut tertangkap dan dilakukan bimbingan, dengan adanya bimbinga kelompok tersebut dapat memberikan pemahaman kepada klien bahwa mereka tidak sendiri, mereka adalah keluarga, bahkan ada juga klien yang merasa senang dengan ada nya rehabilitasi tersebut, mereka menemukan keluarga dan lingkungan yang baru.
Hasil wawancara dengan konselor panti rahmani kasih, beliau mengatakan dengan adanya bimbingan kelompok ini, klien yang satu dengan yang lain lebih bisa mengenal dan berinteraksi. Dengan diadakannya bimbingan kelompok, pembimbing menjadi ketua kelompok dan menjadi contoh Untuk klien yang sedang direhabilitasi. Menurut beliau, dengan bentuk bimbingan kelompok ini lebih memudahkan melakukan bimbingan, karena langsung kesemua klien yang sedang direhabilitasi mendapatkan bimbingan langsung. Selain dari bentuk bimbingan diatas, pecandu Narkoba juga dibimbing untuk memegang keahlian mereka, seperti keahlian dan yang mereka miliki.
D. Metode Bimbingan Agama Panti Rehabilitasi Rahmani Kasih Terhadap Pecandu Narkoba
Berdasarkan hasil wawancara dengan saudara bapak ridho sitepu, dalam penyembuhan pecandu narkoba, banyak hal yang kami lakukan, salah satu nya adalah terapi, medis, dan lainnya. Selain dari itu, dalam penyembuhan pecandu narkoba, beliau juga menjelaskan bahwa agama juga sangat mempengaruhi perubahan seseorang. Dalam proses penyembuhan, pertama pecandu di periksa, untuk mengetahui apakah klien tersebut cocok untuk direhabiliasi atau klien tersebut sudah mengalami gangguan kejiawaan.
Kalau klien perempuan khususnya, sebelum direhabilitasi diperiksa terlebih dahulu khusus nya masalah kehamilan. Apabila klien yang dirujuk untuk rehabilitasi ternyata hamil, maka pihak panti tidak menerima klien yang hamil, karena danfaknya lebih besar, kalau tidak diadakan pemeriksaan seperti ini, dikhawatirkan akan terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Selanjutnya pecandu yang diterima dilakukan beberapa metode dalam penyembuhan mereka dari narkoba, terapi adalah hal yang sangat berpengaruh besar terhadap pecandu, terapi diberikan dengan cara oupkup, yaitu penguapan dengan menggunakan bahan-bahan alami untuk mengeluarkan racunracun dari tubuh mereka.
Selain dari metode diatas, ada metode yang khusus untuk pecandu narkoba yang diberikan untuk pecandu narkoba dalam membantu mereka keluar dari masalah mereka, yaitu bimbingan agama. Menurut saudara ridho sitepu, beliau mengatakan agama adalah kebutuhan bagi kehidupan manusia, dengan adanya bimbingan agama, agar para pecandu bisa kembali kejalan yang lurus dan dapat meneruskan kehidupannya dengan baik.
Selanjutnya beliau mengatakan Tanpa agama hidup kita tidak bisa berjalan dengan apa yang kita harapkan, dengan begitu dalam menyembuhkan pecandu narkoba yang direhabilitasi disini, peran agama tidak bisa dipisahkan dalam pengobatan pecandu narkoba tersebut, Metode bimbingan agama berfungsi sebagai penujang kelancaran program bimbingan yang pelaksanaannya berasarkan atas pendekatan individual atau kelompok. dalam proses pelaksanaan bimbingan agama, ada beberapa metode yang lazim digunakan dalam bimbingan agama dimana sasarannya adalah mereka yang berada dalam kesulitan mental-spritual.
Berdasarkan hasil wawancara dengan saudara winra henri purba, dengan adanya bimbingan agama, sangat membantu mereka sadar dan bisa menyesuaikan diri. Hal ini disebabkan oleh factor-faktor kejiwaan diri dalam dirinya sendiri, seperti tekanan batin, gangguan perasaan, tidak mampu mengadakan konsentrasi pikiran dan gangguan batin lainnya yang memerlukan pertolongan dan bimbingan untuk dapat sembuh dari kecanduan narkoba, diantaranya yaitu: bimbingan agama seperti metode ceramah, membaca alquran, metode dialog atau Tanya jawab, metode audio visual, dan metode sholat.
Berdasarkan wawancara dengan saudara ridho sitepu, dalam melakukan metode bimbingan agama, Pembimbing agama yang ada di panti rahmani kasih telah melakukan beberpa metode bimbingan agama, yaitu:
1. Metode ceramah
Berdasarkan hasil wawancara dengan salah satu pembimbing, metode ceramah merupakan teknik pembinaan dan bimbingan yang memberi urain atau penjelasan secara lisan yang banyak diwarnai karakteristik dan gaya bicara seorang pembimbing. Pada metode ini mereka hanya mendengarkan penjelasan-penjelasan materi yang sesuai dengan orang yang sedang dibarikan ceramah.
Metode ini akan diterapkan setiap harinya setelah mengerjakan sholat juhur, merekan hanya mendengarkan penjelasan-penjelasan materi yang sedang dijelaskan atau yang disampaikan pembimbing. Pada metode ini materi ceramah berlandaskan pada alquran dan hadist, karena keduanya merupakan pedoman yang harus dipegang oleh pembimbing, dan materi ceramah ini juga mengacu pada ilmu fiqih, metode ini dapat juga dikatakan sebagai bimbingan kelompok karena dilakukan secara berjamaah dan dilakukan didalam musholla yang ada dipanti tersebut.
Dalam pelaksanaannya, pembimbing membahas tentang yang berkaitan dengan larangan dan kewajiban sebagai hamba ALLAH, tentang hokum-hukum larang khamar dengan mengkiaskan nya kepada narkoba, serta akibat yang ditimbulkan. Selanjutnya pembimbing juga menyampaikan bagaimana menjadi manusia yang baik, dan menjelaskan dampak dari pada narkoba tersebut bagi dirinya sendiri maupun orang lain. Selain itu tidak jarang pembimbing agama membahas tentang akibat dari pada narkoba itu sepaerti seks bebas, maka dengan begitu diharapkan para pecandu narkoba yang direhabilitasi terbuka pemikirannya dan sadar atas apa yang dilakukan mereka selama ini dan bias kembali kejalan yang diridhoi ALLAH dan dapat kembali menjadi manusia yang sesuai dengan fitrah nya dan kembali kepada masyarakat sesuaI dengan fungsi nya masing-masing.
Berdasarkan wawancara dengan salah satu staf panti rahmani kasih, Denga metode ceramah yang dilakukan pembimbing diharapkan dapat membantu dalam proses penyembuhan para pecandu narkoba yang sedang direhabilitasi, sehingga mereka mampu menyesuaikan diri dengan lingkungan dan keadaan mereka sekarang ini dimana mereka jauh dari keluarga dan teman –temannya, dengan materi yang disampaikan diharapkan mampu diterima oleh pecandu narkoba yang sedang direhabilitasi sehingga mampu diterapkan oleh mereka dalam kehidupannya.
Berdasarkan wawancara dengan salah satu pembimbing, beliau mengatakan metode ceramah merupakan cara yang mudah untuk dilakukan sebagai upaya untuk dapat menyadarkan mereka tentang bahaya nya narkoba terhadap diri mereka, dan tidak lagi terjerumus ke dalam hal tersebut. Karena para pecandu narkoba hanya mendengarkan apabila materi ceramah dikaitkan dengan kehidupan mereka seperti seks bebas, kenakalan remaja, narkoba, semua itu agar menjadi bekal terhadap diri mereka untuk tidak lagi terjerumus kepada narkoba dan dapat mengawas diri dari halhal yang merugikan diri mereka nantinya serta menumbuhkan kesadaran mereka bahaya kecanduan narkoba.
Selanjutnya beliau menjelaskan, Pada materi ceramah tidak hanya membahas perihal yang berkaitan dengan narkoba saja, tetapi dihari yang lain materi ceramah juga membahas ibadah dan cara melakukannya seperti sholat dan mengaji. Maka dengan dilakukan nya hal ini diharapkan para pecandu yang direhabilitasi menjadi lebih mengetahui hal-hal lain dan menjadi bekal bagi mereka untuk kedepan nya setelah mereka sembuh karena perkara tersebut tidak terlepas dari kehidupan seharihari mereka.
Menurut salah satu pembimbing, Mendidik kepribadian seseorang melalui ceramah diharapkan dapat mengubah tingkah laku mereka, unutk itu bimbingan agama melalui ceramah sangat penting, karena pelaksanaan ceramah tersebut mengajarkan seseorang untuk taat kepada ALLAH dan menjalan kan segala perintahnya dan menjauhi yang dilarang dan senantiasa menghadapkan diri kepada ALLAH dalam bentuk penghambaan sccara penuh. Sementara pada kegiatan ceramah ini, pembimbing menjelaskan inti dari kegiatan ceramah itu adalah bertujuan untuk memperbaiki diri, pembimbing juga menyampaikan tentang ketauhidan, dan semua yang itu tidak terlepas dari kaitan nya dengan narkoba. Metode ceramah terhadap pecandu narkoba adalah siraman rohani terkait akidah, syariat dan akhlak kepada pecandu sehingga diharapkan dapat menambah keimanan kepada allah.
Dengan metode ceramah, pembimbing mengajak para pecandu untuk berpikir dan merenungkan tentang hakikat, makna dan tujuan hidup ini, sehingga membawa mereka kepada kesadaran untuk kembali kejalan yang benar yakni di jalan ALLAH. Metode ceramah terhadap pecandu narkoba tidaklah semudah ceramah kepada orang pada umumnya, karena dari sisi psikis mereka masih sakit yang menyebabkan daya tangkap dan emosi mereka tidak stabil sehingga pembimbing dalam ceramahnya harus mengerti.
2. Metode Mengaji
Berdasarkan hasil wawancara dengan salah satu pembimbing, metode ini merupakan kelanjutan metode sebelumnya, mengaji merupakan aktifitas membaca alquran atau membahas kitab-kitab alquran, aktifitas ini dalam agama islam termasuk ibadah dan orang yang melakukannya akan mendapat ganjaran dari ALLAH. Agama islam memerintahkan kepada umatnya untuk mempelajari alquran dan mengajarkannya, karena iu alquran adalah sumber dari segala aspek kehidupan manusia.
Selanjutnya beliau menjelaskan Salah satu sumber yang cukup mendasar adalah kondisi obyektif umat islam saat ini salah satunya adalah buta akan alquran dan jauh dari alquran, sehigga memicu kepada perbuatan kemungkaran. Mengaji alquran juga sangat membantu dalam penyembuhan pecandu narkoba yang direhabilitasi, disamping itu kita juga mendapat pahala juga kesehatan dengan membaca alquran karena didalam alquran juga disebutkan bahwa alquran adalah obat bagi manusia.
3. Metode Diskusi
Berdassarkan hasil wawancara dengan kepala panti, metode diskusi ini aktifitas antara pembimbing dan klien yang berbicara dan saling tukar informasi, memberikan pendapat tentang sebuah topik atau permasalahan, dimana setiap orang ingin mencari jawaban dari segala segi dan kemungkinan yang ada. Menurut salah satu pembimbing, metode ini merupakan metode yang sangat menarik, karena didalam diskusi ini semua klien dituntut untuk aktif dalam berdiskusi. Meskipun tidak semua klien dituntut untuk bertanya tentang permasalahan yang tidak penyelesaian nya, karena menurut pembimbing masih banyak klien yang tidak berani dalam mengungkapkan atau bertanya seperti klien yang baru masuk rehabilitasi.
Selanjutnya beliau mengatakan dengan metode ini diharapkan mampu anggota lain teratih keberaniannya dalam memberikan ide dan tidak hanya mendengarkan dan diam saja. Metode ini baik dilakukan, karena dengan berdiskusi merupakan tukar pikiran sehingga tidak diam dan menyimpan permasalahan yang ada. Menurut pembimbing setelah adanya diskusi, klien yang satu dengan yang lain lebih saling mengenal dan tidak menimbulkan permusuhan, kerna dalam masa rehabilitasi para pecandu merasa dirinya terasing dari keluarga dan orang lain. Dengan adanya diskusi diharapkan mampu menambah penyemangat bagi mereka, sehingga mereka tidak lagi merasa diasingkan dari orang lain. Dengan berdiskusi, memberikan kesempatan kepada klien untuk berpartisipasi dalam memberikan pendapatnya dan menerima masukan dari orang lain.
Dengan berdiskusi dengan beragam kelompok, diharapkan klien akan makin meningkat kepercayaan diri untuk hidup normal dan juga tumbuh sikap kepemimpinan diri, keluarga, dan masyarakat, sehingga setelah melakukan diskusi klien menjadi orang yang mampu untuk berpikir lebih mapan, sehingga mampu menyesuaikan diri nya dengan keadaan dan orang yang disekitar nya. Menurut salah satu pembimbing, Beliau mengatakan metode ini dilakukan secara terbuka, bahkan pembimbing tidak hanya menanyakan permasalahan klien,akan tetapi pembimbing menceritakan pengalaman pribadi, agar lebih member penguatan pada diri klien agar lebih sabar dan mau keluar dari permasalahan yang menyangkut pada diri nya.
Dilihat juga bahwa dengan metode ini keseriusan klien untuk mengikuti diskusi lebih menonjol, sebab materi yang didiskusikan tidak lari dari permasalahan yang sedang mereka alami, didalam diskusi mereka saling menceritakan pengalaman mereka kenapa sampai terjerus kedalam narkoba, dari mesing-masing orang setiap penrmasalahan nya berbeda-beda penyebab mereka sampai masuk kedalam narkoba, ada yang factor keluarga, ligkungan, teman dekat, permasalahan pribadi yang tidak bias diselesaikan, bahkan karena asmara.
Dengan berdiskusi pembimbing akan meluruskan dari setiap permasalahan yang mereka ungkapkan, pembimbing akan member masukan dari setiap masalah, bahkan pembimbing member kesempatan kepada yang lain untuk memberikan masukannya, dengan begitu mereka terlatih untuk berbicara dan member masukan kepada orang lain dan menyadarkan mereka bahwa yang mereka lakukan selama ini adalah perbuatan yang salah.
4. Metode Audio
Visual Berdasarkan hasil wawancara dengan salah satu pembimbing, Teknologo komunikasi dan informasi merupakan elemen penting dalam kehisupan, peran teknologi informasi pada aktifitas manusia pada saat ini memang begitu besar. Teknologi informasi telah menjadi fasilitas bagi kegiatan bimbingan agama. Teknologi informasi dalam layanan bimbingan agama masuk kepada dukungan system bimbingan agama sebagai suatu proses bantuan kepada individu.
Metode audio visual suatu cara menyajikan bahan pelajaran dengan menggunakan alat-alat media pengajaran yang dapat memperdengarkan, atau memperagakan bahan-bahan tersebut sehingga klien dapat menyaksikan secara langsung, mengamati secara cermat bahan-bahan peragaan itu. Metode audio visual dikenal dengan keharusan penggunaan audio visual material, sama-sama menekankan kepada pemberian pengalaman secara nyata kepada klien.
Menurut salah satu pembimbing, dengan metode ini, klien lebih senang dan lebih mudah untuk diarahkan, karena tidak hanya menyampaikan, akan tetapi mereka lebih memahami sendiri dari apa yang mereka dengarkan. Sedangkan materi yang digunakan dalam audio visual ini adalah tentang ceramah-ceramah ulama seperi M.Qurais Shihab, disamping itu tidak hanya ceramah-ceramah ulama saja, akan tetapi pembimbing juga memberikan materi lain seperti tentang narkoba dan bahaya nya bagi pemakai dan cara menghindari nya.
Menurut pembimbing, dengan metode ini lebih memudah kan untuk melakukan bimbingan kepada klien, karena terbantu oleh media yang digunakan, dan lebih mudah dipahami oleh klien seperti narkoba, didalam video yang diberikan digambarkan langsung dampak bagi sipemakai apa bila sampai kecanduan dan dampak nya seperti kerusakan anggota tubuh, menyusahkan orang tua, mengakibatkan kersahan bagi masyarakat, kriminakisasi, seks bebas, dan bahkan mengakibatkan kematian.Dengan melihat langsung, mendengar, merasakan tenteng hal-hal yang dipelajari, sehingga klien tidak bosan dengan bimbingan yang dilakukan, mereka bisa langsung melihat apa yang disampaikan oleh pembimbing dan memehaminya langsung.
Berdasarkan wawancara dengan staf panti rahmani kasih, dalam sebuah bimbingan agama, terdapat beberapa metode untuk melakukan bimbingsn tersebut. Waktu dilakukan nya metode bimbingan agama ini, setiap metode pasti berbeda waktu nya, diantaranya seperti metode:
a. Metode Ceramah
Metode ceramah dilakukan setiap hari selesai habis sholat juhur, dimana pembimbing melakukan sholat berjamaah yang diimami oleh pembimbing, dan seluruh klien duarahkan untuk ikut serta dalam sholat berjamaah ini, setelah selesai sholat klien diarahkan untuk duduk membuat lingkaran dan pembimbing menyampaikan ceramah nya. Dan ini dilakukan setiap hari kerja pembimbing, kecuali hari libur, apabila hari libur pembimbing tidak masuk, maka yang mengarahkan untuk sholat berjamaah diamanahkan pembimbing kepada klien yang sudah bisa atau yang sudah menjalani masa penyembuhan.
b. Metode Diskusi
Metode bimbingan diskusi dilakukan setiap hari sabtu pagi, dimana pembimbing berdiskusi dengan klien tentang permasalahan yang mereka rasakan, karena dalam masa rehabilitasi mereka merasakan banyak permasalahan pribadi, seperti bosan, dan ini dilakukan rutin setiap minggunya.
c. Metode Mengaji
Metode bimbingan mengaji dilakukan setiap hari juamt setelah selesai sholat jumat, dimana pembimbing mengarahkan mereka untuk ikut serta dalam kegiatan ini, dan diselingi dengan ceramah.
d. Metode Audio Visual
Metode ini dilakukan setiap hari minggu pagi, semua klien dikumpulkan disebuah aula, dan diarahkan untuk mendengarkan arahan dari pembimbing untuk ikut serta dalam menyaksikan materi yang ditampilkan.
F. Hambatan Pembimbing Dalam Melakukan Bimbingan Terhadap Pecandu Narkoba
Berdasarkan hasil wawancara dengan kepala panti rahmani kasih, hambatan dalam melaksanakan proses bimbingan dapat mempengaruhi kualitas hasil dari bimbingan itu diadakan. Hambatan yang dihadapi seorang pembimbing dalam melaksanakan bimbingan agama dapat dilihat dari factor internal pembimbing maupun factor eksternal. Kalau dari factor internal dapat dilihat dari pendidikan pembimbing dan kompetensi pembimbing, namun kalau factor eksternalnya dapat dilihat dari kelengkapan sarana dan prasarana serta minat pecandu tersebut untuk dilakukan bimbingan.
Berdasarkan hasil wawancara, beliau mengatakan dalam pengadaan bimbingan yang dilakukan sejauh ini ada beberapa yang menjadi factor hambatan bagi kita, yaitu:
1. Factor minat pecandu Lemah nya minat pecandu dalam mengikuti kegiatan bimbingan merupakan kendala bagi pembimbing untuk melakukan bimbingan, karena apa bila dilakukan nya bimbingan ada saja pecandu yang tidak ikut serta dalam bimbingan tersebut, seperti ketika ceramah, pecandu tersebut tidak ikut serta dalam kegiatan sholat berjamaah, sedangkan ceramah dilakukan setelah selesai sholat berjamaah.
Tapi hal itu jarang terjadi, apabila hal ini terjadi maka pembimbing mengarahkan yang lain untuk memenggil orang tersebut supaya ikut serta dalam kegiatan tersebut. Pada saat ini minat pecandu ada penurunan dalam mengikuti kegiatan bimbingan agama, dikarenakan pada saat ini mereka masih dalam proses penyesuain diri dengan tidak mengkonsumsi narkoba.
Dalam masa rehabilitasi, berbagai kemungkinan timbul berbagai masalah, seperti sakau, emosi masih belum stabil, tidak mau bergaul dengan yang lain. Sebagai seorang pembimbing agama herus sabar dalam membimbing klien yang dalam masa penyembuhan, namun usaha terus dilakukan dengan usaha yang maksimal untuk membantu para pecandu sembuh dari narkoba.
Menurut salah satu pembimbing usaha sosialisasi terus dilakukan terhadap pecandu untuk ikut serta dala setiap kegiatan yang ada, seperti member masukan, dengan begitu para pecandu merasa diperhatikan keadaan mereka dan didukung oleh kepala panti tersebut, kalau minat yang lemah seperti ini terjadi terus menerus dikhawatirkan tujuan dari bimbingan ini diadakan akan sulit untuk dicapai.
2. Kondisi psikologis belum normal
Menurut kepala panti rahmani kasih, hal yang paling menghambat dalam proses bimbingan agama ini adalah psikologis mereka yang belum normal, dengan begitu jangan izinkan mereka memegang kendali atas dirinya, tetapi keluarga yang harus memegang penuh komando dalam kerangka membentuk karakter dan kedisiplinan, proses pembentukan mental dan psikologis ini perlu dilakukan insentif hingga dipastikan alam pikirnya berfungsi sebagaimana orang normal pada umumnya.
Mereka harus diberikan pemahaman, kesadaran mengenal keagamaan, kehidupan sosial, pentingnya menghargai kehidupan bagi dirinya dan orang lain. Sehingga mereka menjadi manusia baru yang dapat memberikan manfaat bagi orang lain.
3. Factor sarana bimbingan
Menurut kepala panti menjelaskan selain minat mereka yang lemah, kurang nya sarana juga menjadi hambatan serius seperti papan tulis yang terlalu kecil, sehingga pembimbing tidak bisa menulis materi-materi nya secara panjang. Dan juga kita butuh proyektor karena terkadang kita ingin memutar film dan itu harus menggunakan proyektor dari luar.
Sarana ruangan untuk melakukan bimbingan juga mengalami hambatan, karena ruangan yang terlalu kecil seperti ruangan sholat, sehingga sempit untuk melakukan sholat berjamaah.
Hambatan yang dominan dihadapi pembimbing saat ini merupakan hambatan internal bagi pembimbing yaitu lemahnya minat pecandu untuk ikut serta dan factor sarana. Namun bagi pembimbing hal tersebut tidak menjadi menjadi kan mereka untuk mundur dalam membimbing pecandu narkoba tersebut, dengan semangat yang mereka miliki menjadi kan para pecandu berhasil dalam melakukan rehabilitasi tersebut.
4. Tidak ada nya pembimbing agama untuk wanita
Menurut kepala panti rahmani kasih, terkhusus untuk wanita itu pembimbing tidak ada, dan dalam bulan ini akan didatangkan oleh dinas social, karena ada baik nya ketika bimbingan dilakukan laki-laki dan perempuan itu dipisahkan. Agar bimbingan yang dilakukan lebih efektif dan berjalan dengan lancar agar hasil yang diharapkan sesuai dengan tujuan sebelumnya.
G. Hasil Yang Di Capai dalam Melakukan Bimbingan Agama Terhadap Pecandu Narkoba
Menurut kepala panti rahmani kasih, hasil bimbingan merupakan hal terpenting yang harus diperhatikan, hasil juga merupakan bagian dari pada evaluasi bimbingan namun untuk mengetahui hasil yang dicapai pembimbing maka tidak terlepas dari penilaian terhadap keefektifan program serta dampak perubahan program terhadap objek yang dihadapi.
Menurut salah satu klien yang direhab, beliau mengatakan dengan diadakannya bimbingan ini saya sendiri merasa lebih tenang, dan saya lebih bisa menerima keadaan saya saat ini bahwa saya lagi dalam proses penyembuhan, dan saya harus sembuh, dan lebih terarah dalam melakukan sesuatu, dan saya mengetahui yang halal haram, dan saya sadar bahwa narkoba itu bahaya dan haram untuk diri saya. Dengan adanya bimbingan ini, saya bisa beradaftasi dengan teman saya yang ada disini, dan saling menghargai.
Menurut kepala panti, beliau mengatakan dengan adanya bimbingan agama ini sangat membantu dalam proses penyembuhan para pecandu narkoba dan selain dari pengobatan medis bimbingan agama juga diperlukan dalam memulihkan cara berpikir dan memtuskan suatu masalah. Menurut beliau, dengan adanya bimbingan mereka lebih rajin beribadah dan lebih bersikap dewasa, saya sangat senang dengan adanya bimbingan ini, sangat membantu program kami dan saya harapkan akan berkelanjutan untuk kedepannya sehingga menghasilkan hasil rehabilitasi yang berhasil dan menjadikan mereka manusia yang sesuai fitrah nya.
Menurut beliau, hasil yang lebih menonjol dari hasil bimbingan agama ini adalah seperti seorang mantan pecandu yang setelah direhabilitasi, beliau mampu untuk berubah dan berhenti untuk menggunakan narkoba dan menjadi lebih berguna, sekarang beliau mampu untuk menjadi manusia sesuai pitrah nya, dan sekarang beliau bekerja sebagai pemabantu program dipanti ini dan menjadi salah satu tenaga social, menurut beliau ini adalah hasil yang sangat memuaskan terutama bagi beliau selaku kepala panti dan bagi keluarga yang mengerehabilitasi.
Selanjutnya beliau menjelaskan untuk hasil yang dicapai dalam kegiatan bimbingan agama ini adalah para pecandu lebih yakin dan rajin dalam melakukan ibadah sehari-hari dan ini dapat dilihat dari kegiatan mereka sehari-hari, mereka rutin untuk mlakukan ibadah sehari-hari, meskipun terkadang mereka tanpa dibimbing pembimbing mereka bisa menjalankan ibadah dengan sendirinya.
Lain dari pada itu, hasil bimbingan agama yang dicapai adalah program rehabilitasi yang ditargetkan sesuai dengan waktunya, misalnya 6 bulan dan ini sesuai dengan waktunya, dan setelah selesai rehabilitasi pecandu narkoba tidak lagi memakai narkoba, ini dilihat dari proses rehabilitasi tidak ada yang direhabilitasi dua kali.
Meskipun jumlah pecandu yang muslim dipanti ini sedikit, akan tetapi itu tidak menjadikan pembimbing patah semangat untuk melakukan bimbingan. Saat ini orang tua dari pecandu yang direhabilitasi bahkan merasa bimbingan agama ini sangatlah penting bagi anak mereka, karena setelah rehabilitasi.
Selain terlepas dari narkoba orang tua juga mengharapkan anak mereka menjadi manusia yang mengerti agama dan menjalankan nya dalam kehidupan sehari-hari mereka, dan menjadi bekal untuk mereka setelah keluar dari rehabilitasi untuk tidak lagi bergaul dengan pergaulan yang salah dan mampu untuk membentengi diri mereka dari pergaulan seperti saat ini yang sudah rusak dikarenakan narkoba.
Selanjutnya, menurut kepala panti gambaran dari keberhasilan yang dicapai dalam rehabilitasi pecandu narkoba disini adalah mereka mampu untuk mengembangkan bakat mereka melalui pembinaan dan bimbingan, dan ada yang selesai rehabilitasi dan pulih mereka dipekerjakan dipanti tersebut.
Menurut salah satu pembimbing, hasil yang dicapai dalam bimbingan ini adalah, para pecandu bisa menyesuaikan diri dengan lingkungan nya dan mampu menjalankan apa yang diarahkan kepada mereka, dengan adanya bimbingan ini, waktu kewaktu perubahan terhadap diri mereka itu Nampak lebih baik, dan bisa untuk dijadikan sebagai contoh untuk klien yang baru masuk rehabilitasi dan ada juga sebagian mereka yang bisa dijadikan pimipinan untuk yang lain apa bila pembimbing tidak hadir, seperti sholat berjamaah.
Para pecandu yang sembuh juga ada yang dipekerjakan dipanti tersebut, setelaqh mereka berhasil dari rehabilitasi tersebut, dan ini tidak terlepas dari bimbingan-bimbingan yang diberikan pembimbing khususnya bimbingan agama untuk menyadarkan mereka pentingnys agama bagi mereka dan menjadikan mereka manusia yang berguna bagi orang lain.
Selama ini Panti Rehabilitasi telah berbuat sedikit untuk bangsa ini dengan swadana dan swakarya. Sehingga Masih banyak hambatan dan program yang tersendat dalam melaksanakan kegiatan khususnya bagi unit Rehabilitasi Narkoba Letupan Indonesia. Untuk dapat menjalankan kegiatan dan kebutuhan para relawan dilapangan baik di dalam lembaga, maka sangat perlu dukungan biaya dan dukungan sumber daya manusia. Dan sangat kami harapkan agar instansi yang terkait dapat memberikan dukungan untuk membangun sumber daya manusia melalui pelatihan – pelatihan.
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian dapat ditarik kesimpulan bahwa metode bimbingan agama yang dilakukan panti rehabilitasi rahmani kasih terhadap pecandu narkoba dalam membantu klien dalam masa pemulihan atas ketergantungan terhadap narkoba adalah dengan merencanakan beberapa hal penting, yaitu menetapkan tujuan, penyusunan program dan jadwal bimbingan.
Adapun metode bimbingan agama yang ada di panti rahmani kasih, yaitu: metode ceramah, metode mengaji, metode diskusi, metode audio visual. Sedangkan hambatan dalam melakukan bimbingan adalah: factor minat pecandu, factor fsikologi belum normal, factor sarana yang kurang memadai, factor tidak adanya pembimbing untuk wanita.
Keberhasilan dengan adanya bimbingan ini pecandu merasa lebih tenang, lebih bisa menerima keadaan, dan lebih terarah dalam melakukan sesuatu, dansadar bahwa narkoba itu bahaya dan haram, mereka mampu untuk mengembangkan bakat mereka melalui pembinaan dan bimbingan, dan ada yang selesai rehabilitasi dan pulih mereka dipekerjakan dipanti tersebut dan mereka sembuh dari narkoba.
B. Saran
Dari hasil pembahasan, maka penulis memberi saran-saran antara lainnya yaitu :
1. Bagi pengelola panti rehabilitasi rahmani kasih diharapkan kepedulian dan kerjasamanya terhadap penyembuhan dan penyuluh dari segi agama dan sebagainya.
2. Bagi pemerintah, hendaklah memberikan perhatian dan bantuan baik dari segi sarana maupun prasarana terhadap panti rehabilitasi anakku sayang untuk dapat memberikan penyuluhan narkoba kepada orang banyak dan dapat membangun panti dengan lebih baik lagi agar bermanfaat bagi seluruh tingkat masyarakat.
3. Bagi para pimpinan panti, di harapkan suapaya dapat meningkatkan lagi kualitas dari segi ilmu pengetahua, program-program untuk residen, dan dapat lebih memahami karakter para residen.
4. Bagi para residen, di harapkan dapat menjaga nama baik panti rehabilitasi anakku sayang dan harus menjalani penyembuhan secara teratur sehingga benar-benar pulih dari ketergantungan obat-obatan agar masa depan kita tidak sia-sia.
5. Pada penelitian, di harapkan dapat memberikan masukan bagi para peniliti lainnya yang berminat untuk lebih jauh mengetahui mengenai program panti rehabilitasi rahmani kasih terhadap residen penyalahgunaan narkoba.
6. Bagi pengelola panti rahmani kasih diharapkan mengadakan pembimbing agama perempuan untuk membimbing klien perempuan yang direhabilitasi.
7. Kepada masyarakat khususnya hendaklah selalu memberikan bimbingan kepada anak-anaknya, agar terhindar dari yang namanya narkoba dan dapat bermamfaat untuk orang lain.
Komentar
Posting Komentar