REZA MILENIA FENDI



NAMA           : REZA MILENIA FENDI
NIM                : B73218110
KELAS          : B5

PELAYANAN BIMBINGAN DAN KONSELING
ISLAM DALAM MENINGKATKAN KESEHATAN
MENTAL PASIEN HIV/AIDS DI KLINIK VCT
RUMAH SAKIT ISLAM SULTAN AGUNG
SEMARANG

BAB I
PENDAHULUAN
A.     Latar Belakang
Dewasa ini banyak terjadi fenomena yang semakin memprihatinkan di masyarakat. Masalah utama yang dihadapi oleh masyarakat Indonesia adalah ketidakpastian secara hukum, moral, nilai atau norma, dan etika kehidupan. Banyak orang yang kehilangan pegangan atau kendali, sebab dalam hidup mereka bertujuan untuk berlomba-lomba pada materi sebagai tujuan dekat belaka dengan mengambil jalan pintas. Akibatnya mereka tidak tahu lagi mana yang halal dan haram, dan mana yang haq ataupun yang bathil. Salah satu contoh masalah yang dihadapi masyarakat adalah hubungan seksual di luar nikah (perzinaan) sudah dianggap sebagai kebebasan seks (sex freedom) dan hak asasi manusia (human right), sepanjang hubungan seksual itu dilakukan oleh orang dewasa tanpa paksaan (bukan perkosaan dan bukan dengan anak di bawah umur.
Pada saat ini yang terjadi adalah prostitusi online. Dimana itu sangat melanggar hukum dan menurunkan harga diri orang tersebut. Dan perbuatan tersebut adalah sangat dibenci oleh Allah karena itu termasuk perbuatan zina. Akibat dari perbuatan ini adalah psikis atau mentalnya terganggu dan juga keluarganya yang menanggung malu.
Permasalahan di atas salah satunya diakibatkan oleh minimnya pengembangan ilmu pengetahuan yang memiliki nilai-nilai tauhid. Akhirnya apa yang dikhawatirkan akan tiba saatnya, dan orang-orang Islam secara membabi buta mengikuti cara hidup orang Barat. Kemajuan teknologi komunikasi, globalisasi, serta hegemoni negara maju terhadap negara berkembang, semakin mendukung pengaruh budaya Barat lebih dominan ketimbang negara sendiri. Pada gilirannya, kebiasaan melakukan tindakan penyimpangan seksual akan mempengaruhi budaya seks Muslim.
Pada masalah di atas bisa saja terjadi akibat kurangnya pengetahuan tentang agama islam dan kurangnya perhatian dari orang-orang sekitar. Masalah ini bisa mengakibatkan masa depan yang suram terutama pada anak remaja yang masih dibawah umur. Masa remaja adalah masa dimana mereka mencari jati diri merek. Dan pada masa ini, remaja sangat mudah untuk berimitasi dan sangat mudah untuk dipengaruhi karena mereka masih labil dan belum memiliki pendirian yang kuat.
Semakin banyaknya hubungan seksual di luar nikah (perzinaan) sudah dianggap sebagai kebebasan seks (sex freedom) dan hak asasi manusia maka penyimpangan mental, gangguan kesehatan masyarakat, serta penyakit sosial lainnya akan muncul dan berujung pada runtuhnya peradaban. Misalnya dengan maraknya kemunculan penyimpangan seksual seperti, homosexual maupun heterosexual, pada akhirnya mengakibatkan munculnya penyakit kelamin. Saat ini penyakit yang muncul dari faktor penyimpangan seksual dan paling membahayakan serta menakutkan banyak orang adalah Human Immunodeciency Virus (HIV)/Acquire Immune Deficiency Syndrome (AIDS). HIV/AIDS sampai sekarang belum juga ditemukan obatnya.
Kebiasaan budaya seks Barat kini semakin merajalela di Indonesia. Dan ini juga terjadi pada anak remaja. Mereka melakukan seks atau berhubungan layaknya suami istri sebelum menikah yang akibatnya dia hamil di luar nikah. Si anak laki-laki terkadang tidak mau bertanggung jawab atas perlakuannya, biasanya si perempuan ini menikah dengan orang lain yang nantinya juga akan melakukan suatu hubungan seks. Kejadian semacam inilah yang mengakibatkan penyakit HIV AIDS yang menyebabkan kematian. Penyakit ini sangat berbahaya dan menular. Tetapi bukan berarti orang yang terkena HIV AIDS ini harus dihindari, justru orang yang seperti ini harus kita dekati dengan tujuan memberikan ia motivasi dan dukungan.
HIV merupakan suatu penyakit menular yaitu penyakit yang dapat berpindah dari satu orang ke orang yang lain, baik secara langsung maupun tidak langsung. Penyakit menular ini ditandai dengan adanya agen atau penyebab penyakit yang hidup dan dapat berpindah. HIV merupakan virus yang menyebabkan tumbuh mencapai AIDS. HIV terdapat dalam larutan darah, cairan sperma dan cairan vagina, serta bisa menular pula melalui kontak darah atau cairan tersebut. Pada cairan tubuh lain konsentrasi HIV sangat rendah sehingga tidak bisa menjadi media atau saluran penularan. Penyebaran HIV pada seseorang dilatarbelakangi dengan beberapa cara yaitu sebagian besar melalui perzinaan (seks bebas dalam pelacuran), dan lainnya melalui transfusi darah, jarum suntik yang tercemar, serta bayi dalam kandungan melalui tali pusar ibunya yang sudah mengidap HIV.
Penyakit HIV ini bisa terjadi di segala usia. Tidak peduli itu bayi, anak kecil, tua, muda semua bisa saja terjadi. Untuk ibu yang terkena HIV dan sedang mengandung, maka nanti anak yang lahir akan terkena HIV yang tertular dari ibunya melalui ASI. Penyakit HIV tidak hanya terjadi akibat seks bebas, tetapi juga terjadi kepada para pengguna narkoba dan obat-obatan telarang Maka dari itu sebagai orang tua harus berhati-hati dalam pengawasan terhadap anaknya. Apalagi anak tersebut mengalami proses menuju remaja, proses dimana remaja tersebut menggali jati dirinya dan pada proses remaja ini anak mudah untuk dipengaruhi karena ia belum memiliki pendirian yang kuat. Penyakit HIV sampai saat ini belum ada yang bisa menemukan obatnya.
B.      Objek Kajian
1.      Objek Material : Pelayanan bimbingan dan konseling islam dalam meningkatkan kesehatan mental pasien HIV/AIDS di klinik vct Rumah Sakit Islam Sultan Agung Semarang.
2.      Objek Formal : Proses bimbingan konseling islam dalam peningkatan kesehatan mental pasien HIV/AIDS di klinik vct RS Islam Sultan Agung Semarang.


C.    Rumusan Masalah
Bagaimana anailis bimbingan konseling dalam meningkatkan kesehatan mental pasien HIV/AIDS di klinik vct RS Islam Sultan Agung ?
D.    Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk :
1.      Menjelaskan penyebab terjadinya penyakit HIV/AIDS secara umum.
2.      Mendeskripsikan penyakit HIV/AIDS
3.      Menganalisi bimbingan konseling islam dalam meningkatkan kesehatan mental pasien HIV/AIDS di klinik vct RS Islam Sultan Agung.
E.     Manfaat Penelitian
Manfaat prktis dalam penelitian ini adalah :
Diharapkan mampu menjadikan pedoman bagi ODHA agar dapat tetap kuat dengan penyakit yang dideritanya. Menggunakan sisa umurnya untuk melakukan hal yang terbaik, serta dapat mengambil sikap dan langkah-langkah pengembangan diri, sebagai makhluk beragama, berbangsa dan bernegara.
F.     Tesis Statement
Dari penelitian ini, penulis dapat menganalisa pasien HIV/AIDS dan dapat memberikan dukungan secara emosional maupun spiritual, dan dapat mengkonseling dan memberikan bimbingan agar bisa selalu berfikir positif dan bisa lebih menerima kenyataan.


BAB II
KAJIAN PUSTAKA TENTANG PELAYANAN BIMBINGAN DAN KONSELING
ISLAM DALAM MENINGKATKAN KESEHATAN
MENTAL PASIEN HIV/AIDS DI KLINIK VCT
RUMAH SAKIT ISLAM SULTAN AGUNG
SEMARANG
A. Kesehatan Mental
Istilah kesehatan mental mempunyai pengertian yang cukup banyak, karena mental itu sendiri bersifat abstrak sehingga dapat menimbulkan berbagai penafsiran dan definisi-definisi yang berbeda. Karena itu banyak pengertian dan definisi yang diberikan oleh para ahli. Kesehatan mental adalah keselamatan dan kebahagiaan yang berlaku di dunia dan menurut pandangan Islam kebahagiaan di dunia hanyalah jalan ke arah kebahagiaan akhirat, sedang kebahagiaan akhirat tidak dapat dicapai tanpa usaha di dunia.
Para ahli menjelaskan bahwa gangguan kesehatan mental dapat memengaruhi beberapa aspek, yaitu; perasaan, pikiran, kelakuan, dan kesehatan tubuh. Gangguan kesehatan yang mempengaruhi perasaan misalnya; cemas, takut, iri-dengki, sedih tidak berasalan, marah oleh hal-hal remeh, bimbang merasa diri rendah, sombong, tertekan (frustasi), pesimis, putus asa, apatis dan sebagainya. Pikiran misalnya; kemampuan berpikir berkurang, sukar memusatkan perhatian, mudah lupa, tidak dapat melanjutkan rencana yang telah dibuat. Kelakuan; nakal, pendusta, menganiaya diri atau orang lain, menyakiti badan orang atau hatinya dan berbagai kelakuan menyimpang lainnya. Kesehatan tubuh misalnya; penyakit jasmani yang tidak disebabkan oleh gangguan pada jasmani.
B. Ciri-ciri Kesehatan Mental
Sutar adipura (1986: 35-36) mengemukakan ciri-ciri mental yang sehat, yaitu: pertama, memiliki pertimbangan objektif, yaitu kemampuan untuk memandang segala macam kejadian secara jujur dan teliti seadanya tanpa menambah atau menguranginya. Kemampuan ini disebut juga rasionalitas atau pikiran sehat. Kedua, autonomy, yaitu kemampuan seseorang untuk memperlakukan kejadian sehari-hari atas pertimbangannya sendiri yang mandiri dan dewasa, seperti; inisiatif, self direction, emosional independence, dan sebagainya. Ciri-ciri kesehatan mental pada dasarnya dapat dilihat dari faktor-faktor atau komponen-komponen
yang mempengaruhi kesehatan mental secaar keseluruhan, yaitu perasaan, pikiran kelakuan dan kesehatan. Keempat faktor atau komponen tersebut apabila tidak ada gejala umum yang menunjukkan kurang sehat, berarti kesehatan mentalnya terjaga dan gangguan mental yang muncul berkisar dari empat faktor tersebut.
C. Kondisi Mental Pasien HIV/AIDS
Dampak dari HIV/AIDS tidak hanya pada segi fisik saja, tetapi juga pada respons adaptif psikologis atau yang disebut dengan penerimaan diri yang mengakibatkan munculnya berbagai reaksi dan perasaan yang muncul pada diri ODHA. Tahapan penerimaan diri ODHA yaitu: shock (kaget dan goncangan batin) seperti merasa bersalah, marah, dan tidak berdaya; mengucilkan diri seperti merasa cacat, tidak berguna, dan menutup diri; membuka setatus secara terbatas seperti ingin tahu reaksi orang lain, pengalihan stres, dan ingin dicintai; mencari orang lain yang HIV/AIDS positif seperti berbagi rasa, pengenalan, kepercayaan, penguatan, dan dukungan sosial; status khusus seperti perubahan keterasingan menjadi manfaat khusus, perbedaan menjadi hal yang istimewa, dan dibutuhkan orang yang lainnya; perilaku mementingkan orang lain seperti komitmen dan kesatuan kelompok, kepuasan memberi dan berbagi, dan perasaan sebagai kelompok; penerimaan seperti integrasi status positif HIV dengan identitas diri, keseimbangan antara kepentingan orang lain dengan diri sendiri, bisa menyebutkan kondisi seseorang.
D. Penanganan HIV/AIDS
Salah satu pencegahan dan penanggulangan HIV/AIDS adalah dengan layanan VCT. VCT adalah suatu pembinaan dua arah atau dialog yang berlangsung tidak terptus antara konselor dan klien dengan tujuan untuk mencegah penularan HIV, memberikan dukungan moral, informasi serta dukungan lainnya kepada ODHA, keluarga dan lingkungannya.








BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
A. Jenis dan Pendekatan Penelitian
Penelitian ini menggunakan metode penelitian deskriptif kualitatif berbasis studi kasus, yaitu penelitian yang dimaksud untuk memahami tentang apa yang dialami oleh subyek penelitian misalnya perilaku, persepsi, motivasi dan tindakan, dan dengan cara deskripsi dalam bentuk kata-kata dan bahasa pada suatu konteks khusu yang alamiah dan dengan memanfaatkan berbagai metode alamiah.1 Penyajian data dari penelitian ini menggunakan format deskriptif yaitu dengan tujuan untuk menggambarkan, meringkas berbagai kondisi, berbagai situasi atau berbagai fenomena yang timbul di masyarakat yang menjadi obyek penelitian itu, kemudian menarik ke permukaan sebagai suatu ciri atau gambaran tentang kondisi, situasi ataupun fenomena tertentu.
B. Penentuan Lokasi Penelitian
RSI Sultan Agung merupakan rumah sakit tipe B pendidikan. RSI Sultan Agung yang terakreditasi B sehingga ditunjuk oleh pemerintah kota Semarang untuk melayani pasien-pasien terkena HIV/AIDS, baik yang rawat inap maupun rawat jalan. Pihak rumah sakit dengan demikian harus melaporkan jumlah kunjungan serta diagnosis pasien yang memeriksakan diri untuk tes HIV/AIDS kepada pemerintah provinsi dan pemerintah kota Semarang. Seiring dengan pelayanan yang ada di rumah sakit dan ditemukannya pasien dengan HIV positif yang dirawat, pada akhirnya RSI Sultan Agung ditunjuk dan dipilih untuk memberikan pelayanan. RSI Sultan Agung dalam memberikan pelayanan masih memiliki banyak kekurangan. Antara lain masih rendahnya pengetahuan kesehatan mengenai pelayanan ODHA. Petugas rumah sakit diberikan pelatihan oleh Dinas Kesehatan Provinsi dan Dinas Kesehatan Kota, KPA Provinsi dan KPA Kota Semarang, serta Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM).
VCT merupakan suatu pembinaan dua arah atau dialog yang berlangsung tidak terputus antara konselor dan klien dengan tujuan untuk mencegah penularan HIV, memberikan dukungan moral, informasi, serta dukungan lainnya kepada ODHA, keluarga, dan lingkungan. Pelayanan VCT harus dilakukan oleh petugas yang terlatih dan berkualitas dalam melakukan konseling dan deteksi HIV. Hal ini penting mengingat terinfeksinya seseorang dengan HIV/AIDS akan berdampak pada kehidupan pada penderitanya dan orang-orang yang berinteraksi dengannya.
C. Sumber Data
Sumber data yang digunakan untuk mendapatkan informasi atau data penelitian ada dua macam, yaitu; sumber data primer dan sumber data sekunder. Sumber data primer meliputi konselor, petugas klinik VCT, tenaga medis, dan pasien klien VCT RSI Sultan Agung digunakan untuk mendapatkan data primer. Data primer adalah data yang diperoleh secara langsung dari subjek penelitian. Data yang didapat dimaksudkan untuk mengetahui kondisi kesehatan mental pasien HIV/AIDS, pelayanan bimbingan dan konseling Islam terhadap pasien HIV/AIDS, serta bagaimana bimbingan dan konseling Islam dalam meningkatkan kesehatan mental pasien HIV/AIDS. Sumber data sekunder diperoleh melalui buku, jurnal, modul, arsip-arsip atau dokumen yang berkaitan dengan Bimbingan dan konseling Islam, kesehatan mental, serta HIV/AIDS, digunakan untuk memperoleh data sekunder. Data sekunder adalah data yang diperoleh secara tidak langsung melalui bahan kepustakaan. Data sekunder itu diantaranya yaitu: laporan penderita HIV/AIDS tiap tahun, penjelasan tentang HIV/AIDS dan kesehatan mental.
D. Teknik Pengumpulan Data
Untuk menjawab masalah penelitian, diperlukan data yang akurat dari lapangan. Metode yang digunakan harus sesuai dengan obyek penelitan, yaitu; wawancara, observasi, dan dokumentasi. Wawancara merupakan suatu kegiatan tanya jawab dengan tatap muka (face to face) antara pewawancara (interviewer) dan yang diwawancarai (interviewee) tentang masalah yang diteliti. Pewawancara bermaksud memperoleh persepsi, sikap, dan pola pikir dari yang diwawancarai secara relevan dengan masalah yang diteliti (Gunawan, 2013: 162). Wawancara dilakukan kepada informan, yang meliputi konselor, petugas rumah sakit, dan pasien HIV/AIDS di klinik VCT RSI Sultan Agung. Bentuk wawancara yang digunakan dalam penelitian adalah wawancara semi terstruktur. Alasan menggunakan bentuk wawancara model ini adalah karena peneliti memiliki kebebasan dalam bertanya dan memiliki kebebasan dalam mengatur alur dan seting wawancara. Tidak ada pertanyaan yang sudah disusun sebelumnya. Peneliti hanya mengandalkan pedoman wawancara sebagai pedoman penggalian data (Herdiansyah, 2013: 66). Menggunakan bentuk wawancara semi terstruktur dimaksudkan untuk menggali informasi yang mendalam tentang bagaimana keadaan kondisi kesehatan mental ODHA, bagaimana pelayanan bimbingan dan konseling di klinik VCT RSI Sultan Agung Semarang, serta pelayanan bimbingan dan konseling Islam dalam meningkatkan kesehatan mental pasien HIV/AIDS.









BAB IV
DESKRIPSI PENELITIAN EMPIRIS

A. Langkah-langkah Penanganan
Di beberapa kota besar pencegahan dan pengobatan dalam penanggulangan HIV/AIDS pada umumnya masih jauh dari harapan penanggulangan HIV/AIDS, sehingga berdampak pada meningkatnya orang terinfeksi dari tahun ke tahun, hal ini dapat kita ambil contoh pada tahun 1990 jumlah kumulatif secara nasional kasus AIDS terjadi 17 kasus, dan meningkat sampai dengan bulan Juni 2011 secara kumulatif terjadi 26.483 kasus.
Proporsi kumulatif kasus AIDS tertinggi berada pada kelompok umur 20-29 (46,3%) diikuti dengan kelompok umur 30-39 tahun (31,4%) dan kelompok umur 40-49 tahun (9,7%). (laporan dari 300 kabupaten/kota dan 32 provinsi) http://spiritia.or.id/Stats/StatCurr.php?lang=id SUMBER : PP & PL KEMENKES RI. Sedangkan kasus HIV/AIDS di Indonesia sudah lebih dari dua dekade akan tetapi jumlah orang terinfeksinya terus meningkat. Kondisi tersebut disebabkan pencegahan dan perawatan di Indonesia belum terintegrasi dengan baik, sebagai contoh belum meratanya kapasitas lembaga-lembaga swadaya masyarakat dalam melakukan pencegahan dan belum terciptanya layanan yang kompherensif dan terintegrasi (IMS,VCT,CD4, ARV).
Melihat kondisi diatas dapat kita lihat beberapa hal yang harus ditanggulangi bersama
·         status kualitas pencegahan dan pengobatan,
·         status sistem penanggulangan HIV/AIDS,
·         status pengetahuan dan kesadaran masyarakat,
·         status penataan institusi dan peraturan yang berhubungan dengan penanggulangan HIV/AIDS.

B. Pencapaian Kesehatan Mental
     Berangkat dari penjelasan kesehatan mental yang berbeda-beda sesuai dengan bidang dan pandangan masing-masing, maka upaya pencapaiannya juga beragam. Berpendapat ada tiga prinsip pokok untuk mendapatkan kesehatan mental, yaitu: pertama, pemenuhan kebutuhan pokok. Setiap individu selalu memiliki dorongan-dorongan dan kebutuhan-kebutuhan pokok yang bersifat organis (fisik dan psikis) dan yang bersifat sosial. Kebutuhan-kebutuhan dan dorongan-dorongan itu menuntut pemuasan, timbul ketegangan-ketegangan dalam usaha pencapaiannya. Ketegangan cenderung menurun jika kebutuhan-kebutuhan terpenuhi dan cenderung naik/makin banyak, jika mengalami frustasi atau hambatan-hambatan.
         Kedua, kepuasan yaitu setiap orang menginginkan kepuasan, baik yang bersifat jasmaniah maupun yang bersifat psikis. Individu ingin merasa kenyang, aman terlindungi, ingin puas dalam hubungan seks, ingin mendapat simpati, dan diakui harkatnya. Pendeknya ingin puas disegala bidang, lalu timbullah sense of importancy dan sense of mastery(kesadaran nilai dirinya dan kesadaran penguasaan) yang memberi rasa senang, puas dan bahagia.
Ketiga, posisi dan status sosial yaitu setiap Individu selalu berusaha mencari posisi sosial dan status sosial dalam lingkungannya. Tiap manusia membutuhkan cinta kasih dan simpati, karena cinta, kasih, dan simpati menumbuhkan rasa diri.







BAB V
PENUTUP
A. Kesimpulan
     Setelah penulis menjelaskan dan menganalisis pelayanan bimbingan dan konseling Islam dalam meningkatkan kesehatan mental pasien HIV/AIDS di klinik VCT RSI Sultan Agung Semarang, maka penulis menarik kesimpulan sebagai berikut:
             Pertama, pasien HIV/AIDS di klinik VCT RSI Sultan Agung Semarang dalam menghadapi penyakit yang ada di dalam dirinya menemui beberapa problem yang mengakibatkan kesehatan mentalnya terganggu. Problem kesehatan mental tersebut diantarannya yaitu efisiensi mental yang terganggu, sulit mengendalikan diri, mengalami kejenuhan, perasaan negatif dan tanggapan negatif dari masyarakat, serta tidak menerima diri dan putus asa. Kedua, pelayanan bimbingan dan konseling Islam bagi penderita HIV/AIDS di klinik VCT RSI Sulatan Agung Semarang yaitu dibagi menjadi tiga bagian yang terdiri dari konseling pra tes bertujuan untuk memberikan pemahaman kegunaan tes dan mempersiapkan diri pasien untuk pemeriksaan serta memberikan dukungan, konseling pasca tes bertujuan untuk menyampaikan hasil tes dan membantu memahami hasil tes secara tepat, dan konseling berkelanjutan bertujuan untuk memberi dukungan pada pasien dalam menghadapi permasalahannya.
Ketiga, pelayanan bimbingan dan konseling Islam dalam meningkatkan kesehatan mental pasien HIV/AIDS ditekankan pada penerimaan diri. Pelayanan yang diberikan dalam rangka meningkatkan kesehatan mental pasien HIV/AIDS yaitu: pertama, membantu pasien menemukan makna dari penyakit; kedua, menguatkan harapan yang realistis kepada ODHA; ketiga, memberikan dukungan emosional dan spiritual yang dapat menumbuhkan motivasi; keempat, memberikan bimbingan agar pasien selalu berpikir positif; kelima, membantu ODHA dalam menanamkan rasa percaya diri dan membantu meningkatkan kualialitas hidup ODHA. Berdasarkan kesimpulan di atas peneliti menemui keterbatasan diantaranya jumlah responden yang sedikit dikarenakan izin penelitian hanya dua pasien saja yang bisa dijadikan sebagai sumber penelitian dari pihak pasien HIV/AIDS.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

YASMIN HERINA

Tsaniyah Rohmatil Maulah

Yasinta Rokhmal Fauzia