NUR PUTRA ALIANTO
Bimbingan
Konseling Islam Dalam Menangani Trauma Remaja Korban Pelecehan Seksual di PSMP
Paramita Mataram

Oleh
:
Nur
Putra Aliyanto ( B73218107
)
Kelas
/ Semester :
B5
/ II
Dosen
Pembimbing :
Drs.
Masduqi Affandi, M. Pd. I
PROGRAM
STUDI BIMBINGAN DAN KONSELING ISLAM
FAKULTAS
DAKWAH DAN KOMUNIKASI
UNIVERSITAS
ISLAM NEGERI SUNAN AMPEL SURABAYA
BAB
I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Di era modern sekarang ini, banyak
terjadi kejahatan yang berkaitan dengan seksualitas, terutama yang dilakukan para
remaja laki-laki terhadap wanita, sehingga hampir di setiap kasus pelecehan
seksual,maka kaum wanitalah yang kebanyakan jadi korbanya. Ditambah lagi dengan
perkembangan teknologi imformasi yang begitu pesat yang dapat berpengaruh
terhadap perilaku pelecehan seksual kepada anak dan remaja sehingga anak atau
remaja tersebut mengalami trauma yang begitu berat yang bisa menganggu fisik
maupun psikologis anak tersebut.
Trauma terjadi manakala individu
menerima eksitasi yang jauh melampaui kepribadianya untuk mengatasinya,
sehingga sebagai akibatnya individu terlempar. Trauma akan semakin besar
dampaknya bilaman eksitasi yang besar di alami oleh pribadi yang masih rentan
misalnya anak-anak atau pribadi yang tidak matang dan terjadinya secara
memndadak contoh anak yang mendapatkan perilaku abusive dari orang tuanya
siksaan fisik yang di alami oleh anak itu semakin besar jauh melebihi kapasitas
psikisnya untuk bertahan.
Dari sebuah kejadian yang di alami
oleh salah satu korban yang di rehabilitas di PSMP Paramita Mataram yang telah
di perkosa oleh seorang bapak kadungnya yang tidak layak dilakukan oleh seorang
bapak kepada anaknya tetapi hal tersebut dilakukan oleh ayahnya selama 1,6
bulan dan ketika melakukan hal tersebut
si korban di ancam akan
dibunuh, dipukul, oleh ayahnya sendiri.
Pasal 285 KHUPtentang pemerkosaan di
hukum penjara selama-lamanya dua
belas tahun karena
memperkosa, dengan kekerasan
atau ancaman kekerasan memaksa
perempuan yang bukan
istrinya bersetubuh dengan
dia. Dalam pasal ini dijelaskan bahwa yang di ancam dengan pasal ini
ialah dengan kekersan atau ancaman
kekerasan memaksa perempuan
yang bukan istinya untuk bersetubuh dengan dia.
Perkosaan
adalah hubungan seksual yang dilakukan tanpa kehendak bersama dipaksakan oleh
satu pihak lainya.oleh sebab itu anak perlu dapat perlindungan dari dampak
negatefperkembangan pembangunan yang cepat, arus globalisasi di bidang
komunikasi dari imformasi, kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK).
Serta perubahan gaya dan cara hidup sebagian orang tua yang telah membawa
perubahan sosial yang mendasar dalam kehidupan masyarakat yang sangat
berpengaruh terhadap nilai dan perilaku anak. Penyimpangan tingkah laku atau
perubahan melanggar hokum-hukum yang dilakukan oleh anak,antara lain di
sebabkan oleh factor di luar diri anak serta anak yang berhadapan dengan hukum
dan Dirjen permasyarakatan menunjukkan tingkat kriminalitas serta pengaruh
negative.
Masa
remaja adalah merupakan
masa yang indah,
tetapi tidak setiap remaja
dapat menikmati masa
remajanya dengan baik
dan membahagiakan, sebab tidak
jarang beberapa permasalahanya dalam kehidupan dapat merenggut bahkan mengurangi kebahagianya. Salah satu
permasalahan yang membuat mereka bingung dan menderita serta tidak tahu secara
pasti apa yang seharusnya dilakukan, ialah permasalahan seks yang sedang muncul
dan melanda kehidupan.
Di
NTB Sendiri salah satu Panti Sosial yang menampung anak dengan kategori di atas
adalah Panti Sosal Marsudi Putra (PSMP) Paramita Mataram. Panti Sosial Marsudi
Putra (PSMP) Paramita Mataarm mempunyai tugas melaksanakan sebagian tugas
teknis Dinas Sosial Kependudukan dan Catatan Sipil Provinsi Nusa Tenggara Barat
dibidang pembinaan kesejahteraan sosial.
Anak
yang tinggal di panti sosial tentu membutuhkan bimbingan untuk mengembangkan
kesadaran beragama mereka.Dalam bimbingan dan konseling masuk dalam bimbingan
beragama yang tujuannya agar konseli memiliki pemahaman yang baik dan benar
tentang ajaran agamanya.
Salah satu
bentuk-bentuk permasalahan yang
ditangani di (PSMP) Paramita Mataram
adalah, anak nakal,
anak yang berhadapan
dengan hukum, dan anak
korban pelecehan seksual dimana anak
menjadi terlantar dan
tidak terurus dengan demikian anak bisa melakukan apa yang ia ingin kan
tanpa ada yang melarang seperti
melakukan pencabulan, hamil
diluar nikah, melakukan kekerasan dan lain-lain. Adapun
yang menjadi fokus dalam penelitian ini adalah anak yang terkategori bermasalah
akibat pelecehan seksual.
Berikut program dan kegiatan yang
dijalankan di PSMP Paramita Mataram:
1.
Program perlindungan sosial
2.
Program pelayanan dan rehabilitasi sosial
3.
Program pengembangan keterampilan kerja.
Berdasarkan paparan diatas, peneliti
tertarik untuk meneliti lebih dalam di Panti Sosial Marsudi Putra (PSMP)
Paramita Mataram untuk mengadakan penelitian dengan judul “Bimbingan Konseling
Islam Dalam Menangani Trauma Remaja Korban Pelecehan Seksual di PSMP Paramita
Mataram”
B.
Rumusan Masalah
Adapun
rumusan masalah dalam penelitian ini adalah:
a. Bagaimanakah pelaksanaan bimbingan
konseling Islam dalam menangani trauma remaja korban pelecehan seksual di Panti
Sosial Marsudi Putra Paramita Mataram ?
b. Apa tantangan dan hambatan dalam
menangani trauma remaja korban pelecehan
seksual di Panti Sosial
Marsudi Putra Paramita Mataram ?
C.
Tujuan Penelitian
Sesuai dengan
masalah tersebut, maka
tujuan penelitian ini
adalah sebagai berikut:
a.Untuk mengetahui
bagaimana strategi pelaksanaan
bimbingan konseling Islam dalam
menangani trauma remaja
korban pelecehan seksual
yang diterapkan di Panti Sosial Marsudi PutraParamita Mataram.
b.Untuk mengetahui apa tantangan dan
hambatan dalam menangani trauma remaja korban pelecehan seksual di Panti Sosial
Marsudi Putra Paramita Mataram.
D.
Manfaat Penelitian
a. Manfaat secara teoritis
Manfaat teoritis penelitian
ini adalah untuk
menambah khazanah keilmuan
dibidang yang berkaitan dengan bimbingan, pendampingan dan konseling.
b. Manfaat praktis
Dapat memberikan masukan
kepada pihak Panti
Sosial Marsudi Putra Paramita
Mataram untuk memberikan
pendampingan dan layanan sesuai dengan
kebutuhan anak tersebut
dan Paramita di
perlukan untuk memberikan
dukungan agar dapat memperhatikan bimbingan kasus anak berhadapan dengan
hukum (ABH) dan
memberi kasih sayang
kepada anak-anak, khususnya meningkatkan
pengetahuan terhadap ajaran-ajaran agama Islam dan membina moralitas
anak anak tersebut.
Dapat memberikan
masukan kepada pemerintah untuk membuat kebijakan yang berkaitandengan adanya
perlindungan terhadap anak anak yang berkasus hukum.
E.
Paradigma
Terjadinya masalah ini dikarenakan adanya gangguan
jiwa atau psikis dari si korban dalam arti dia lemah secara fisik, dan masalah
ini bisa terjadi dikarenakan kurangnya suatu perhatian dan kurangnya bimbingan
terhadap anak yang menjadi korban pelecehan seksual.
Tidak
hanya itu saja, tetapi kehidupan agama yang kurang ditanamkan dalam keluarga
terutama kepada seorang anak, jadi mereka bisa terjun ke lingkungan yang salah.
Seorang anak jatuh ke lingkungan yang salah bisa saja terpengaruh oleh media
massa atau dipengaruhi dengan adanya pergaulan bebas. Dengan adanya media massa
yang isinya bersifat negatif dan tidak
seharusnya di tonton oleh seorang anak, si anak tersebut jadi tergiur untuk
melakukan sesuatu yang seharusnya tidak dilakukan, karena seorang anak tersebut
masih belum begitu faham atau mengerti dengan media massa tersebut, karena pola
pikir mereka belum bisa menjangkau bahwa itu sesuatu hal yang negatif ataupun
positif, disinilah peran orang tua atau disekitarnya sangat berpengaruh untuk proses
berkembangnya seorang anak.
F.
Landasan Teori
Dalam hal
ini, peneliti akan
menggunakan teori pendekatan deskriftif kualitatif, metode
wawancara, observasi dan
dokumentasi. Sehingga
kemudian alasan peneliti
mengangkat judul ini karena ingin
mendapatkan imformasi yang lebih
mendalam terkait dengan
bimbingan konseling Islam di
PSMP Paramita Mataram dalam menangani trauma remaja korban pelecehan seksual
yang bertujuan untuk mengetahui perkembangan dan kesehatan mental anak. karena data
dan informasi yang
peneliti kumpulkan lebih
banyak bersifat
keterangan-keterangan atau penjelasan yang bukan berbentuk angka.
Penelitian kualitatif
adalah suatu pendekatan
dalam penelitian yang bersifat
alamiah, karena orientasinya
demikian maka sifatnya
naturalistic dan mendasar atau kealamiahan serta
tidak dapat dilakukan di laboratorium melainkan di lapangan. Penelitian
kualitatif adalah sebagai prosedur yang menghasilkan data deskriptif berupa
data lisan dari
orang-orang dan pelaku
yang dapat diamati. Selain itu
peneliti bermaksud memahami
situasi sosial secara mendalam.
BAB II
KAJIAN PUSTAKA
PENANGANAN TRAUMA
REMAJA KORBAN PERKOSAAAN DALAM BIMBINGAN KONSELING ISLAM
A.
Penanganan Trauma Remaja
Dalam kesempatan
ini peneliti mengadakan
wawancara dengan beberapa narasumber
yang telah memberikan
imformasi pada penulis berkenaan dengan
judul penelitian yang
diambil. Informan tersebut
adalah beberapa konsoler bimbingan
konseling yang berada
di PSMP Paramita Mataram.
Dalam pelaksanaan
program layanan bimbingan
konseling di PSMP Paramita
Mataram, konselor menrapakan
beberapa bentuk layanan
yang di adakan di
lembaga tersebut guna
pencapaian visi dan
misi bimbingan dan konseling bagi anak korban pelecehan
seksual berkaitan dengan hal ini
bentuk-bentuk layanan ini
antaralain mereka terapkan
sebagai wujud konstribusi layanan bimbingan dan konseling
terhadap tujuan lembaga ini. Mereka dengan penuh semangat
memberikan beberapa tenaga,
fikiran,waktu,serta tanggung
jawabnya sebagai konselor
untuk aktif dalam
memberikan layanan di bimbingan
konseling bagi anak
korban pelecehan seksual
adapun pemberian layanan
bimbingan konseling yang di lakukan di PSMP Mataram.
Pada dasarnya
bimbingan konseling Islam
adalah proses pemberian bantuan terhdap
orang yang yang
mempunyai kesulitan dalam
hidup supaya orang tersebut
mampu mengatasinya karna
timbul kesadaran atau
pemecahan diri terhadap kesadaran
atau pemecahan maslah
dirinya terhadap kekuasaan Allah SWT.
Dalam bimbigan
konseling Islam yang
dilakukan di PSMP
Paramita Mataram ini merupakan
salah satu komponen-komponen yang
penting dan mEmpunyai pengaruh
yang besar terhadap pembinaan keagamaan pada dasarnya sangat mempengaruhi
tingkat pemahaman nilai-nilai
pendidikan agama dan kehidupan sehari-hari. Sehingga anak-anak
penerimaan mamfaat tidak cepat di pengaruhi oleh
sesuatu yang bisa
merussak sikap dan
perilaku di dalam kegiatan sehari-hari.
Berdasarkan
hasil temuan peneliti terkait cara PSMP Paramita Mataram dalam pelaksanaan
bimbingan konseling Islam terhadap trauma remaja korban pelecehan seksual
adalah sebagai berikut:
1.
Bimbingan Agama
Bimbingan Agama
merupakan salah satu
metode yang digunakan untuk membimbing
anak-anak di PSMP
Paramita Mataram dengan menyelenggarakan kegiatan-kegiatan keagamaan. Bimbingan yang diselenggarakan oleh
guru dan pembimbing
di PSMP Paramita
Mataram melalui kegiatan keagamaan
tersebut mengarah dan
bertujuan untuk
meningkatkan keimanan dan
ketaqwaan anak-anak di
PSMP Paramita Mataram. Adapun
kegiatan kegiatan terebut adalah sebagai berikut:
a.
Mengadakan Pengajian di Lingkungan Panti
Pengajian yang
di maksud adalah
pembina memberikan siraman rohani atau
ceramah kepada anak
anak PSMP Paramita
Mataram yang bertema tentang
ahlak- ahlak terpuji, tentang pentingnya rukun iman dan islam, menjaga
diri sendiri, kebersihan lingkungan dan
menjaga hubungan antar sesama. Hal ini salah
suatu proses pembinaan terhadap anak agar dapat diamalkan dan
dapat mengambil mamfaat
melalui bimbingan agama Islam
yang disampaikan secara
langsung di hadapan anak-anak. Kegiatan keagamaan
ini dilakukan 2 kali dalam satu
minggu yakni pada hari rabu dan Jumat yang diselenggarakan di musholla. Seperti
yang dipaparkan oleh
Rinia Komalasari salah
satu pembina PSMP Paramita Mataram sebagai berikut:
“Melalui
kegiatan ini kami
selaku pembina memberikan
arahan ilmu agama dengan tujuan untuk membantu anak-anak menerima manfaat
dan dapat mengamalkanya dan pada intinya mereka bisa menjaga perilaku
mereka dalam pergaulan
sehari-hari dan agar mereka semakin mendekatkan diri mereka
kepada Alah SWT.”
Dari wawancara
di atas peneliti
menemukan salah satu cara sederhana tapi
perlu untuk selalu
di terapkan yaitu
kegiatan pengajian yang diterapkan
oleh PSMP Paramita
Mataram dalam membing mental
anak dan sedikit
tidak akan bisa
menyadarkan atau berpengaruh kepada
anak-anak menerima mamfaat.
Pembina yang menyampaikan materi
tersebut dapat membatasi
dan mengatur seberapa luas
materi materi ceramah
yang akan disampaikan
kepada anak-anak yang sesuai
dengan kebutuhan yang hendak dicapai.
b.
Bimbingan tuntunan Sholat
Dalam tuntutan
solat ini anak
anak penerimaa mamfaat
yang tinggal di PSMP
Paramita Mataram di
ajarkan terntang gerak-gerak dalam solat
serta bacaan-bacaan dalam
Sholat oleh Pembina. Mengajarakan mereka
dengan cara meragakan
langsung dan bagaimana gerakan-gerakan dalam
sholat di depan
anak-anak. kegiatan tuntunan dalam solat
juga merupakan kegiatan
untuk membimbing anak-anak tentang kewajiban
mereka untuk mengerjakan
sholat. Pada kegiatan
ini anak-anak di tuntun
dan dibimbing oleh
pembina untuk sholat
secara berjamaah di musholla.
Pembina panti
memberikan bimbingan solat
kepada anak-anak umtuk bisa
mengetahui dan memahami
bahwa siapapun yang
beragama Islam harus menjalankan
kewajibnya sebagai umat
Islam dan harus mendidirikan sholat
dengan baik dan benar supaya
anak tersebut bisa mengetahui bagaimana kewajibanya sebagai
umat Islam yang beragama.
Untuk
memperoleh imformasi lebih lanjut lagi
tentang hal tersebut peneliti kembali
mengadakan wawancara kepada Ibu Ria komalasari.
“Tujuan diterapkannya
tuntunan solat ini
karna kebanyakan anak-anak tidak pernah mengenal sedikitpun
dan tidak tau gerak gerak dalam
solat dan bacaan
tentang solat oleh
sebab itu pembina memberikan bimbingan secara perlahan
dan rutin bagi anak yang tidak tahu apa
itu solat dan mengajarkan cara bagimana solat dan bacaan bacan yang tepat.”
Melalui bimbingan
ini anak-anak lebih
tahu apa itu
sholat dan kewajiban untuk
mengerkerjakan bagi umat
yang bergama Islam
dan harus didirikan dikerjakan sesuai waktu yang sudah ditentukan.
2.
Bimbingan individu
Layanan bimbingan
konseling individu di
lakukan dengan tujuan agar
anak/korban lebih mudah
memahami dirinya dan
lebih cepat megembangkan sifat
dan perilaku yang
baik di lingkungan,
dan mamfu menyelesaikan masalahnya
sekaligus menerima diri
apa adanya. Adapun tahap
konseling individu yang
di lakukan oleh
pihak konselor di
PSMP Paramita Mataram sebagai berikut:
a.
Konseling tahap awal
b.
Konseling tahap pertengahan
c.
Konseling tahap akhir
“Adapun hasil
wawancara dengan ibu
dwi kumalasari mengatakan “kami melakukan proses konseling
individu berdasarkan
permasalahan yang di
hadapi oleh korban
saaat ini, serta
berusaha membangun hubungan yang
baik dengan merasakan
apa yang di alami
oleh korban merasa
ada orang yang
masih peduli kepadanya dan memberikan
penguatan sekaligus motivasi
kepada korban daklam proses
rehabilitasi mental psikologis
korban, apalagi kami sudah
mengetahaui semua permasalahanya yang
di hadapi oleh korban,
yaitu rata-rata dari
kasus korban kekerasan
seksual, maka kami selaku
konselor di PSMP
Paramita Mataram harus
bisa menghargai dan memberikan
dukungan dan motivasi
dan memberikan perhatian penuh
terhadapnya dan ketika
proses konseling sudah selesai
bukan berarti kami
tidak memperhatikan
perkembangamerekaakan tetapi setiaphari kami memantau perkembangan sehari-hari
melalui kegiatan-kegiatan bimbingan
yang lain.
3.
Bimbingan kelompok
Bimbingan kelompok
merupakan upaya mengelompokan anak binaan
atau anak penerima
mamfaat agar bisa
saling mengenal satu
sama lain untuk memperoleh
proses bimbingan psikologi
di bimbingan ketrampilan.
a.
Bimbingan Psikologis
Bimbingan
psikologis merupakan proses kagiatan belajar di kelas, dimana kegiatan
konselor atau pembimbing di PSMP Paramita Mataram memberikan ilmu
pengetahuan sekaligus memberikan pemahaman kepada korban
penerima manfaat tentang berbagai
macam gejala-gejala yang biasa terjadi di masa perkembangan remaja pada
umumnya.
“Hasil
wawancara peneliti Dengan Dwi Kurmalla selaku konselor di PSMP
Paramita Mataram, menuturkan:
“dengan adanya kegiatan belajar
di kelas, setidaknya
korban penerima manfaat mengetahui atau
memahami gejala-gejala apa
saja yang sering muncul terhadap dirinya di dalam
kehidupan sehari-hari”
Jadi, sangat
jelas apa yang
sudah disampaikan oleh
seorang konselor di atas tadi, bahwa ketika korban diberikan bimbingan
belajar di kelas dengan isi materi
psikologi yang sesuai dengan usia
mereka justru banyak diminati
oleh korban sehingga
akan mempercepat
proses rehabilitasi penyembuhan bagi para korban di PSMP Paramita
Mataram.
4.
Bimbingan fisik
Bimbingan fisik
adalah serangkai kegiatan
dalam rangka menjaga merawat dan meningkatkan kesehatan,
ketahanan dan kematangan fisik atau jasmani
penerima manfaat yang
dapat mendukuntg kemampuan
mereka dalam mengikuti pelayanan
pembinaan sosial. Berdasarkan
wawancara dengan ibu Via mengatakan bahwa: “Bimbingan fisik dilakukan
dengan cara berolah raga dan senam ibu hamil
supaya anak pemerima
mamfaat tetap sehat
fisiknya jasmaninya supaya mereka
bisa melakukan kegiatan
sehari-hari sebagaiman rutinitas yang sudah di tentukan oleh lembaga”.
Adapun proses
kegiatan-kegiatan bimbingan fisikini
dimaksudkan untuk
menumbuhkan dan memelihara
perkembangan fisik dan
kesehatan jasmani anak secara aktif yaitu diantaranya adalah melalui:
a.
Bimbingan fisik dan olah raga.
Bimbingan ini
bertujan untuk menjaga
fisik sehingga mampu mengikuti kegiatan di Panti.
b.
Bimbingan kesehatan pribadi dan lingkungan, kegiatan
ini bertujuan:
1)
Memahami
dan memperhatikan diri
sendiri dan kebersihan lingkungan.
2)
Memahami cara menjaga kesehatan pribadinya.
c.
Senam setiap hari dari hari senin sama Jum’at.
Kegiatan senam
ini dilakukan khusus
untuk anak penerima manfaat yang
diberikan oleh pembina
dengan cara senam
ringan dan senam ibu hamil.
5.
Bimbingan sosial
Bimbingan sosial adalah usaha
bimbingan sosial yang di maksudkan untuk
memberikan berbagai bentuk
kegiatan pelayanan yang
dilakukan untuk membantu penerima mamfaat baik secara individu maupun
kelompok dan meningkatkan kemampuanya untuk memenuhi kebutuhan, memecahkan
masalah serta menjalin
dan mengendalikan hubungan-hubungan sosial mereka dalam
lingkungan sosialnya. Membantu
anak mengatasi kesulitan dalam lingkungan
sosial.berdasarkan hasil wawancara
dengan bapak edy mengatakan bahwa :
“saya menjelaskan
secara kehidupan sosial
bagaimana berinteraksi
dengan masyarakat dengan
baik, saling menghormari
terlebih lebih tua darinya.
Menjadi perempuan yang
bisa menjaga dirinya
dan orang lain sampe kepada pada saat nantinya mereka menjadi seorang
istri yang berbakti
kepada suami dan
mertuanya hal ini
lah yang nanti kami harapkan agar
para anak penerima mamfaat bisa menjadi bagian
masyarakat yang bisa
bergaul dalam kehidupan
sosial bermasyarakat.
Berdasarkan hasil
wawancara di atas
dapat peneliti katakana bahwa bimbngan sosial
yang di lakukan
oleh para guru
dan Pembina yang
ada di PSMP Paramita
Mataram dilakukan dari
hal yang sederhana
hingga yang paling benar.Dari
hasil penelitian peneliti
jugga menemukan cara-cara
lain dalam bimbingan sosial yang dilakukan oleh para Pembina dan
pembimbing dengan menyelenggarakan beberapa
kegiatan seperti menonton
film agar anak dapat termotivasi
dan menghindarkan larangan larangan yang tidak boleh di lakukan. Berdasarkan hasil wawancara dengan
ibu vegaa mengatakan
bahwa yang kita bina
di sini psikososialnya belum
pasti juga dia mengatakan hal
itu karena tidak
mendalami sejauh mana
kondisi keluarganya.Yang kita bina disisini Cuma kondisi psikososialnya.
6.
Bimbingan Keterampilan
Bimbingan keterampilan
adalah kemampuan untuk
menggunakan akal, fikiran, ide
dan kreatifitas dalam
mengerjakan mengubah atau membuat
sesuatu jadi lebih
bermakna sehinga menghasilkan
sebuah nilai dari hasil pekerjaan
tersebut. Bimbingan keterampilan
yang di maksudkan
untuk memberikan pelayanan yang
ditunjukan untuk mengembangkan pengetahuan
dan kemampuan anak-anak penerima
mamfaat.Berdasarkan hasil wawncara dengan Ibu Eka mengatakan bahwa:
“Bimbingan keterampilan
yang kita berikan
kepada anak penerima mamfaat adalah membuat
bunga dari bekas
botolair mineral,menjahit,membuat tas dari rajut dan membuat telur asin.
Hal ini kita lakukan
sebagai bekal untuk
kehidupan di tengah-tengah masyarakat”.
Dengan bimbingan
ketrampilan ini maka
psikolog,peksos atau
pegawai yang ada
di PSMP Paramita
Mataram mengharapkan remaja-remaja
yang menjadi korban
bisa mengembangkan potensi
dan bakatnya dalam bimbingan
ktrampilan ini guna menjadi anak
yang lebih bermamfaat dan berguna
bagi dirinya maupun orang lain.
B.
Kondisi Psikis Korban Pemerkosaan
Dampak
psikologis yang dialami oleh seorang remaja akibat pemerkosaan adalah korban
pemerkosaan yang mengalami
atau melihat peristiwa
yang traumatik yaitu yang
mengancam kematian atau
luka serius bisa mempengaruhinya lama
setelah pengalamam berlalu.
Ketakutan hebat,
ketidakberdayaan, atau pengalaman
menakutkan selama peristiwa
traumatik bisa menghantui korban,
dalam hal ini
adalah pemerkosaan. Pada
kasus-kasus seperti ini maka gangguan
mungkin terjadi atau dialami korban akan semakin kompleks.
Para
peneliti menemukan bahwa di antara wanita yang lebih muda dari 45 tahun, Dilaporkan 17
persen memiliki sejarah post
traumatic stress disorder (PTSD), dan 25
persen memiliki sejarah
depresi
(www.news-medical.net). Korban
terkadang merasa bahwa
hidup mereka telah
berakhir dengan adanya
peristiwa pemerkosaan yang telah
dialaminya. Dalam kondisi
seperti ini perasaan
korban sangat labil dan
merasakan kesedihan yang berlarut-larut. Selain
itu ada kemungkinan bahwa mereka
menyalahkan diri mereka
sendiri atas terjadinya pemerkosaan yang telah mereka
alami.
Dampak yang
muncul dari pemerkosaan
kemungkinan adalah depresi, fobia, mimpi
buruk, curiga terhadap
orang lain dalam
waktu yang cukup
lama. Adapula yang merasa
terbatasi di dalam
berhubungan dengan orang
lain, berhubungan seksual dan
disertai dengan ketakutan
akan muculnya kehamilan akibat dari
pemerkosaan. Bagi korban
pemerkosaan yang mengalami
trauma psikologis yang sangat
hebat ada kemungkinan
akan merasakan dorongan
yang kuat untuk bunuh diri (Faturochman, 2002).
Taylor, dkk
(2009: 528) mengungkapkan
akibat yang ditimbulkan
atau konsekuensi negatif pada
fisik dan psikologis
yang bertahan lama,
sekitar sepertiga korban pemerkosaan terkena trauma fisik seperti luka,
penyakit menular, dan hamil. Lebih
dari satu tahun
setelah pemerkosaan, korban
masih merasakan ketakutan dan
kecemasan yang berkaitan
dengan pemerkosaan, ketidakpuasan seksual, depresi
dan problem keluarga.
Gejala-gejala stres pascatraumatis korban pemerkosaan mirip dengan gejala bekas
tentara perang yang jika bisa mengontrol diri bisa membantu mringankan tekanan.
Berdasarkan laporan
penelitian (Faturochman, 2002)
penelitian yang dilakukan oleh
majalah MS Magazine (dalam Warshaw,
1994) “Mengatakan bahwa 30%
dari perempuan yang
diindetifikasi mengalami pemerkosaan bermaksud untuk
bunuh diri, 31%
mencari psikoterapi, 22%
mengambil kursus bela diri,
dan 82% mengatakan
bahwa pengalaman tersebut
telah mengubah mereka secara permanen,
dalam arti tidak dapat dilupakan”.
Korban perkosaan
memiliki kemungkinan mengalami
stres paska perkosaan yang
dapat dibedakan menjadi
dua, yaitu stres
yang langsung terjadi dan
stres jangka panjang.
Stres yang langsung
terjadi merupakan reaksi
paska perkosaan seperti kesakitan secara fisik, rasa bersalah, takut,
cemas, malu, marah, dan tidak berdaya.
Stres jangka panjang
merupakan gejala psikologis
tertentu yang dirasakan korban sebagai suatu trauma yang menyebabkan
korban memiliki rasa percaya diri, konsep diri yang negatif, menutup diri dari pergaulan, dan juga reaksi somatik
seperti jantung berdebar
dan keringat berlebihan.
Apabila setelah terjadinya
peristiwa perkosaan tersebut tidak ada dukungan yang diberikan kepada
korban, maka korban
dapat mengalami post traumatic
stress disorder (PTSD),
yaitu gangguan secara
emosi yang berupa
mimpi buruk, sulit
tidur, kehilangan nafsu makan,
depresi, ketakutan dan
stress akibat peristiwa
yang dialami korban dan
telah terjadi selama
lebih dari 30
hari. Dukungan dari
semua pihak sangat diperlukan untuk
mencegah terjadinya PTSD.
Menurut Virginia A.
S. (dalam Wicaksono 2008:
91) “Hampir sebagian
besar wanita korban
perkosaan mengalami gangguan stres pasca trauma.
C.
Langkah Trauma Bimbingan dan Konseling Islam
Langkah
langkah yang dilakukan adalah sesuai dengan prosedur BKI dan memberikan
bimbingan lebih lanjut agar si korban tidak menjadi trauma yang begitu
berkelanjutan.
Lise menyatakan orang-orang
yang beresiko terkena
PTSD (Post-Traumatic Stress Disorder)
adalah:
1)
Orang yang mempunyai
pengalaman tempur tentera
atau orang awam yang telah
dirusak karena perang;
2)
Orang yang telah diperkosa, didera secara seksual,
atau didera secara fisik;
3)
Orang yang telah terlibat dalam atau yang telah
menyaksikan peristiwa yang mengancam nyawa;
4)
Orang-orang yang telah terlibat dalam bencana alam,
seperti puting beliung atau gempa bumi
Persistent Avoidance
(menghindar), adalah upaya
menghindar yang dilakukan oleh korban. Jarnawi menyatakan PTSD adalah
suatu gangguan emosional yang tidak wajar, yang berbeda dengan
gangguan lain seperti
depresi dan gangguan
panic. PTSD tidak
mudah untuk disimpulkan,
apabila hanya dari gejala-gejala yang ditimbulkan.
Charney menyatakan
faktor yang dapat
mengurangkan resiko PTSD
adalah: mencari dukungan
dari orang lain,
seperti rekan-rekan dan
keluarga, mencari dukungan
group setelah peristiwa
traumatik, perasaan yang
baik mengenai tindakan
sendiri dalam menghadapi
bahaya, mempunyai strategi
menghadapi, atau cara
mendapatkan melalui acara
yang buruk dan
belajar daripada ia,
sebagian mampu untuk bertindak
dan merespon setiap kasus walaupun perasaan takut.
D.
Indikator Pemulihan Psikis Traumatik
Proses
pemulihan psikis traumatik adalah tatalaksana peristiwa yang tengah berlangsung
dan memberi makna pada klien yang mengalami trauma dan memberi makna pula
kepada kaunselor yang membantu mengatasi kliennya. Cavanagh (1982) menyatakan
secara umum proses
kaunseling traumatik yang
dibagi ke dalam tiga tahapan, yaitu:
Pertama, tahap
awal kaunseling yang
terdiri dari introduction, invitation
and environmental support. Dalam
tahapan ini kaunselor
membangun hubungan dengan
klien yang disebut
dengan a working
realationship iaitu hubungan
yang berfungsi, bermakna
dan berguna sehingga
klien akan mampu
mempercayai, dan mengeluarkan semua
isi hati, perasaan
dan harapan sehubungan
dengan trauma yang
dialami. Memperjelas dan
mendefinisikan trauma kepada klien
dengan gejala-gejala yang
dialami, sehingga klien
faham betul apa yang sedang ia alami dan kaunselor
membatu sepenuhnya. Selain itu juga
kauselor dengan klien menyepakati masa untuk melakukan sesi kaunseling.
Kedua,
tahap pertengahan (tahap kerja): disini kaunselor menfokuskan kepada
penjelajahan trauma yang di alami klien, melalui pengamatan
kemudian diberi penilaian
sesuai dengan yang dijelajahi. Muhibbin Syah (2006)
menyatakan pengamatan adalah
proses menerima, menafsirkan
dan memberi arti
rangsangan yang masuk melalui
panca idera seperti mata dan telinga
kemudian dicerna secara
objektif sehingga mencapai
pengertian. Tahap ini
juga dikatakan tahap
action . Tujuan
tahap ini adalah untuk menjelajahi dan mengekplorasi trauma, serta kepedulian
klien atau tindakan
dan lingkungan dalam
mengatasi trauma tersebut.
Dalam tahap ini
kaunselor juga menjaga
hubungan yang berkesan
dengan menampilkan keramahan,
empati, kejujuran, keikhlasan
dalam membantu klien.
Ketiga,
tahap akhir kaunseling
atau tahap termination yang di
tandai dengan beberapa
aspek yaitu: menurunnya
kecemasan traumatik klien,
adanya perubahan perilaku
klien ke arah
yang lebih positif,
sehat dan dinamik,
adanya tujuan hidup
yang jelas dalam
masa yang akan
datang, dan terjadi
perubahan sikap yang
positif terhadap trauma
yang dihadapi, seperti pada masa trauma dia takut kepada
laut karena teringat akan tsunami, tetapi
setelah penangan mulai
datang dan melihat laut tersebut.
Tidak hanya pemulihan melalui konseling
traumatik umum , tetapi bisa juga melalui pemulihan melalui konseling islam. Bila melihat
dan memperhatikan rumusan-rumusan dari
berbagai definisi konseling
baik etimologis maupun
terminologis secara umum
dan traumatis di
atas, mungkin sangat
berbeda dengan konseling
Islam, karena aktifitasnya
begitu kental, luas dan lengkap, karena ajaran Islam itu sendiri datang ke
permukaan bumi ini
memiliki tujuan yang
sangat prinsip dan mendasar,
yaitu membimbing, mengarahkan, menganjurkan
kepada manusia agar
berada pada jalan
yang benar yaitu
jalan yang diridhai
oleh Allah, sehingga
ia dapat hidup
selamat, bahagia dan
sejahtera baik di
dunia maupun akhirat.
Hamdani Bakran
Adz Dzaky menyatakan
bahwa Islam adalah
nama dari agama
yang telah dianugerahkan
oleh Allah kepada
manusia sebagai falsafah
dan sandaran hidup.
Di dalamnya mengandung ajaran
yang membimbing dan mengiring fikiran, jiwa, qalbu, indrawi dan jasmani kepada
kefitrahan yang selalu cenderung untuk ketaatan dan ketauhidan kepada Yang
Maha Pencipta; yaitu
kecenderungan positif yang
tidak akan padam
eksistensinya di dalam
diri setiap manusia
yang ada dipermukaan
bumi ini, seperti
kalam–Nya. Oleh karena itu, bagi
siapa saja yang
tidak mengikuti fitrahnya
maka ia akan
mendapat kerugian yang
besar di bumi
dan dilangit, di
dunia hingga di
akhirat karena telah
terlepas dari bimbingan
dan petunjuk Allah SWT.
Sebaliknya bila
kecendrungan fitrah itu
telah berhasil memimpin dan membimbing manusia
dalam melakukan seluruh
aktifitas hidup dan
kehidupannya, maka akan
ada keselarasan, dan
etos kerja akan
terjalin secara integritas
pada upaya meraih
keberhasilan di dunia
dan di akhirat
atau dalam lingkungan
mahkluk dan Tuhannya.
Selain itu, Islam
mengajarkan kehidupan dinamis
dan progresif menghargai
akal pikiran melalui
pengembangan ilmu pengetahuan
dan teknologi, bersikap
seimbang dalam memenuhi
kebutuhan material dan
spiritual, senantiasa mengembangkan kepedulian sosial, menghagai
waktu, bersikap terbuka,
demokratis, berorientasi pada
kualitas, egaliter, kemitraan, anti feodalistik, mencintai kebersihan,
mengutamakan persaudaraan, berakhlak mulia dan bersikap positif dalam semua
kesempatan.
Berdasarkan pendapat
diatas, maka dapat
dikatakan bahwa konseling Islam
itu bertujuan untuk memulihkan klien agar
kembali sehat fisik
dan mental atau
sering juga disebut
dengan istilah sehat
jasmani dan rohani.
Menurut Achmad Mubarok
menyatakan bahwa dalam
bahasa Indonesia orang
mengenal dengan istilah sehat wal afiat. Kata afiat dalam Kamus Besar
Bahasa Indonesia dipersamakan dengan sehat dan kuat.Sehat itu sendiri diartikan
sebagai keadaan baik segenab badan serta
bagian-bagiannya yakni bebas
dari penyakit. Sementara
itu dalam ilmu
kesehatan dikenal
istilah kesehatan fisik, kesehatan mental dan kesehatan
masyarakat (public health).
Kesehatan fisik
itu dikaitkan dengan
kondisi daripada raga
manusia itu sendiri,
dan jiwa dikaitkan
dengan kondisi mental
yang merasakan susah,
senang, bahagia dan
sengsara.Achmad Mubarok menyatakan
kesehatan mental dalam
Islam berhubungan dengan
konsep kebahagian. Al-Qur’an
dan hadist menyebut
kebahagian dengan berbagai
term, seperti an
najat (keselamatan), fauz (kejayaan),
falah (kemakmuran), dan sa’adah (kebahagian).
Jadi bila dikatakan
sehat fisik dan
mental adalah sehat
secara ragawi dan
rohani atau manusia
merasa kebahagiaannya. Kondisisi
inilah yang selalu
diinginkan oleh setiap
manusia, sehingga dalam
setiap doa ia
akan meminta “Ya Allah berikanlah kami kesejateraan didunia dan di
akhirat dan jauhkanlah kami dari siksaan api neraka”.
Pasca konflik
dan tsunami di
dalam masyarakat Aceh
merasakan berbagai masalah
yang merupakan dampak
dari peristiwa tersebut,
yang sangat sulit
untuk dihapaus dari
ingatannya. Sebagai contoh
orang yang kehilangan
sanak saudara ketika
konflik akan menyimpan
dendam yang berkepanjangan kepada
pelaku, sedangkan pasca
tsunami orang akan merasa sedih.
Kondisi ini harus dipulihkan melalui konseling
Islam karena dalam
layanan konseling ini
manusia akan dikembalikan
kepada fitrahnya yaitu
harus disadarkan bahwa kehidupan dimuka bumi ini tidak
terlepas dari pantauan yang Maha Kuasa.
Dialah yang menentukan
pertemuan, rezki dan maut. Manusia tidak ada daya kecuali
kembali kepadanya. Kalau manusia ingin
senang, bahagia maka
ia akan berusaha
sekuat tenaga sesuai
perintah-Nya. Dan bila
ia merasa sakit maka
manusia itu sendiri
yang harus mencari
obat dan penyelesaian. Allah hanya memberi apa yang
manusia pinta.
Oleh karena
itu, bagi siapa
saja yang tidak
mengikuti kecenderungan dan
dorongan fitrah itu
di dalam dadanya,
maka ia akan
mendapatkan banyak kerugian
dan kesusahan baik dibumi dan dilangit, baik di dunia dan
akhirat. Sebaliknya jika
kecenderngan dan dorngan
fitrah tersebut berhasil
membimbing manusia dalam
kehidupan maka ia
akan mendapat kesenangan,
kesejahteraan dan kebahagian
di dunia dan akhirat. Dan itu
menurut Abuddin nata merupakan hidayah
Islam yang mengandung
petunjuk-petunjuk tentang berbagai kehidupan manusia melalui sumber
ajaran Al-Qur’an dan Hadist yang
amat ideal dan
agung, karena di
dalamnya mengajarkan kehidupan
yang dinamis, progresif,
menghargai akal pikiran,
melalui pengembangan ilmu
pengetahuan dan teknologi,
bersikap seimbang dalam
memenuhi kebutuhan material,
spiritual, serta mengembangkan
kepedulian soaial, menghargai
waktu, terbuka, demokratis,
berorientasi pada kualitas,
egaliter, kemitraan, anti
fiodalistik, mencintai kebersihan, mengutamakan persaudaraan, berakhlak
mulia serta sikap-sikap positif
lainnya.
Pemulihan melalui
konseling ini adalah
ideal dalam penyelesaian berbagai persoalan hidup dan
kehidupan manusia, karena ia merupakan aktifitas yang hidup dan diharapkan akan
lahir berbagai perubahan
dan perbaikan melalui
penerapan teknik-teknik konseling
yang efektif yaitu teknik yang bersifat lahir
dan teknik yang
bersifat bathin. Pertama,
teknik yang bersifat lahir ini menggunakan alat yang
dapat dilihat, didengar dan
dirasakan oleh klien
seperti menggunakan tangan
dan lisan. Sentuhan tangan
seperti pijatan pada
kepala, leher dan
pundak pada klien
akan mengendorkan otot-otot
yang stress dan
tegang. Teknik ini
disamping dapat meringankan
secara fisik juga
dapat memberikan sugesti
dan keyakinan awal
pada klien bahwa
tidak ada maslah
yangtidak dapat diselesaikan.
Selain
itu, juga dapat dilakukan secara lisan seperti pembacaan do’a oleh konselor sehingga
klien dapat mendengar
dengan jelas, dan
ini akan menenangkan
perasaannya. Kedua, teknik
yang bersifat bathin
yaitu teknik yang
dilakukan dalam hati
dan ini menurut
hadist Rasulullah adalah
selemah-selemah iman. Karena
sesungguhnya teknik ideal
konseling itu adalah
dilakukan dengan kekuatan,
keinginan, usaha sungguh-sungguh dan diwujudkan dengan nyata
dengar perbuatan baik dengan
menggunakan fungsi tangan,
lisan mahupun sikap-sikap lainnya.
BAB III
METODE PENELITIAN
1.
Pendekatan Penelitian
Dalam pendekatan
ini peneliti menggunakan
penelitian kualitatif,
karena data dan informasi yang
peneliti kumpulkan lebih
banyak bersifat
keterangan-keterangan atau penjelasan yang bukan berbentuk angka.
Penelitian kualitatif
adalah suatu pendekatan
dalam penelitian yang bersifat
alamiah, karena orientasinya
demikian maka sifatnya
naturalistic dan mendasar atau kealamiahan serta tidak dapat dilakukan
di laboratorium melainkan di lapangan. Penelitian kualitatif adalah sebagai
prosedur yang menghasilkan data deskriptif
berupa data lisan
dari orang-orang dan
pelaku yang dapat
di amati. Selain itu peneliti
bermaksud memahami situasi
sosial secara mendalam.
2.
Kehadiran Peneliti
Peneliti
sebagai orang yang melakukan observasi mengamati dengan cermat terhadap obyek
penelitian.Untuk memperoleh data tentang penelitian ini, maka peneliti terjun
langsung kelapangan atau tempat kejadian.Kehadiran Peneliti
dalam penelitian berperan
sebagai instrument kunci yang langsung melibatkan diri dalam kehidupan
subyek dalam waktu penelitian yang sudah
diterapkan peneliti untuk
memperoleh data sesuai dengan ciri penelitian kualitatif.
Sebelum
peneliti hadir di lapangan, peneliti memperoleh
izin terlebih dahulu
dari pihak-pihak atau
instansi-instansi terkait
yang bertanggung jawab
sesuai dengan prosedur
yang berlaku.Peneliti hadir sebagai
pewawancara atau pengumpul
data tanpa mempengaruhi kehidupan
subyek.
3.
Lokasi Penelitian
Lokasi penelitian
akan di laksanakan
di Panti Sosial
Marsudi Putra Mataram, yang berlokasi
jln. TGH Saleh
Hambali Bengkel Lombok
Barat. Peneliti memilih lokasi ini karena ingin mengetahui cara
penanganan trauma korban pelecehak seksual di PSMP Paramita Mataram.
Namun sebelum
melakukan penelitian, peneliti
terlebih dahulu memasukan surat izin penelitian. Hal
ini agar nantinya dalam melaksanakan penelitian, data-data
yang ingin dikumpulkan
bisa mendapat bantuan
dari staf-staf atau pengurus
panti, sehingga penelitian
ini diharapkan dapat berjalan dengan lancar.
4.
Sumber Data
Sumber
data dalam penelitian
ini adalah Kepala
panti, para Peksos, Stap panti dan anak-anak yang
mengalami masalah hukum dan lain-lain.
Berhubung
peneliti menggunakan penelitian
kualitatif maka peneliti diharuskan untuk melihat secara
langsung kejadian-kejadian yang
terjadi di lapangan guna mendapatkan
informasi dan data
yang valid. Disini
peneliti berhubungan/kontak
langsung dengan semua
obyek yang akan
di teliti di PSMP Paramita Mataram.
Dalam penelitian
kualitatif, agar penelitiannya
dapat betul-betul
berkualitas, data yang
dikumpulkan harus lengkap,
yaitu data primer
dan data sekunder.
a.
Data
primer adalah data
dalam bentuk verbal
atau kata-kata yang diucapkan secara
lisan, gerak-gerik atau
perilaku yang dilakukan
oleh subyek yang dapat dipercaya, adalah
subyek penelitian (informan)
yang berkenaan dengan variable yang diteliti.
b.
Data sekunder adalah data yang diperoleh dari
dokumen-dokumen grafis (table,
catatan, notulen, rapat,
SMS dan lain-lain),
foto-foto, film, rekaman video,
benda-benda dan lain-lain yang
dapat memperkaya data primer.
Sedangkan menurut
Moleong, sumber data
penelitian kualitatif adalah
tampilan yang berupa kata-kata lisan atau tertulis yang dicermati oleh peneliti, dan
benda-benda yang diamati
sampai detailnya agar
dapat ditangkap makna yang
tersirat dalam dokumen atau bendanya. Sumber data tersebut seharusnya
asli, namun apabila
yang asli susah
didapat, fotokopi atau tiruan
tidak terlalu menjadi
masalah, selama dapat
di peroleh bukti pengesahan yang kuat kedudukannya.
Sumber
data penelitian kualitatif yang sudah
disebutkan tersebut secara
garis besar dapat
dibedakan menjadi dua, yaitu
manusia atau orang dan
yang bukan manusia.
Siapa manusia dan
apa sumber data yang
bukan manusia dipilih
sesuai dengan kepentingan penelitian.
5.
Teknik Pengumpulan Data
Proses
pengumpulan data merupakan bagian terpenting dalam suatu penelitian. Begitu
pula dalam penelitian
ini, peneliti menggunakan
teknik relevan dengan jenis
penelitian kualitatif. Beberapa
teknik yang digunakan dalam penelitian ini yaitu:
a.
Teknik Observasi
Observasi merupakan
suatu proses yang
kompleks, suatu proses yang tersusun dari berbagai proses
biologis dan psikologis. Dua diantara yang
terpenting adalah proses pengamatan
dan ingatan. Dalam menggunakan metode
observasi cara yang
paling efektif adalah melengkapi dengan format atau blangko
pengamatan sebagai instrument. Format
yang disusun berisi item-item
tentang kejadian atau tingkah laku yang
digambarkan akan terjadi.
Secara
umum observasi dapat dilakukan dengan cara yaitu:
1)
Observasi Partisipan
Merupakan suatu
proses pengamatan yang
dilakukan oleh observer (peneliti)
yang secara langsung
ikut mengambil bagian dalam kehidupan orang-orang yang akan
diobservasi.
2)
Observasi Non Partisipan
Merupakan suatu
proses pengamatan observasi
tanpa ikut dalam kehidupan
orang yang diobservasi
dan secara terpisah berkedudukan sebagai pengamat.
b.
Teknik Wawancara
Wawancara adalah percakapan dengan
maksud tertentu. Percakapan ini dilakukan
oleh dua pihak,
yaitu pewawancara (interviewer)
yang mengajukan pertanyaan dan
terwawancara (interviewee)
yang memberikan jawaban
atas pertanyaan itu.
Maksud mengadakan wawancara, seperti
ditegaskan oleh Linchon
dan Gube, antara lain:
Mengkonstruksi mengenai orang,
kejadian, organisasi,
perasaan, motivasi, tuntutan,
kepedulian dan lain-lain
kebulatan; merekonstruksi kebulatan-kebulatan demikian sebagai yang
dialami masa lalu; memperoyeksikan kebulatan-kebulatan sebagai
yang diharapkan untuk dialami
pada masa yang
akan datang; memverifikasi, mengubah dan
memperluas informasi yang
diperoleh dari orang lain,
baik manusia maupun bukan
manusia (triangulasi) dan memverifikasi, mengubah
dan memperluas konstruksi yang
dikembangkan oleh peneliti
sebagai pengecekan anggota.
Wawancara umumnya dapat dibedakan
menjadi tiga macam yaitu wawancara
terstruktur, semi struktur
dan tidak terstruktur.Wawancara terstruktur maksudnya
dimana peneliti membawa
pedoman wawancara yang sudah
disiapkan sebelumnya secara
tertulis, wawancara semi struktur ini
bertujuan untuk menemukan
permasalahan secara tidak terbuka, dimana
pihak yang di
wawancarai dapat diminta
pendapatnya, sedangkan
wawancara tidak terstruktur
artinya dimana peneliti
tidak mempersiapkan pertanyan sebelumnya.
c.
Teknik Dokumentasi
Dokumentasi adalah peristiwa yang
sudah berlalu. Dokumen biasa berbentuk
tulisan, gambar atau
karya-karya monumental dari
seseorang. Dokumen yang berbentuk
tulisan misalnya catatan
harian, sejarah kehidupan,
cerita,biografi, peraturan kebijakan.
Jadi dokumentasi merupakan laporan tertulis dari
suatu peristiwa yang isinya terdiri
atas penjelasan dan
pikiran terhadap peristiwa
dan ditulis dengan sengaja
untuk menyimpan dan
meneruskan keterangan
mengenai peristiwa tersebut.Data yang
peneliti ambil dari
teknik dokumentasi ini adalah
gambaran umum tentang
Panti Sosial Marsudi Putra
Paramita Mataram dan
dokumentasi atau arsip
yang berkaitan dengan Panti Sosia
6.
Teknik Analisis Data
a.
Analisa Data
Analisa data
adalah proses mencari
dan menyusun secara sistematis data
yang diperoleh dari
hasil wawancara, catatan
lapangan dan dokumentasi dengan cara mengorganisasikan data ke dalam
kategori, menyusun kedalam pola,
memilih mana yang
penting dan yang
akan di pelajari, sehingga mudah
di pahami oleh diri sendiri dan orang lain.
Dalam hal
ini, penelitian yang
di lakukan memiliki
hubungan yang erat antara
teori bimbingan yang
dilakukan di lembaga
PSMP Paramita Mataram. Menurut
teori bimbingan bahwa
pada proses pembimbingan itu
memiliki konsep yang
sama dengan bimbingan
yang dilakukan oleh lembaga PSMP Paramita Mataram. Dalam beberapa teori
bahwa anak di
anggap sebagai manusia
dewasa dengan ukuran
kecil. Maka perlakuan yang di
berikan, harapan, tuntutan, serta sikap, terhadap anak sama
seperti orang dewasa,
hanya saja masih
dalam bentuk yang lebih
sederhana dan dalam
taraf pertumbuhan. Sedangkan
bimbingan yang ada di lembaga PSMP Paramita Mataram memberikan
pembibingan melalui pelatihan dan keterampilan.
Dengan demikian, konsep antara teori
dengan konsep yang ada di lembaga PSMP Paramita Mataram memiliki kesamaan
pandangan terkait dengan bimbingan anak
secara umum dan
khususnya sehingga dalam penelitian ini dapat di simpulkan bahwa
antara teori dan bimbingan yang ada di lembaga memiliki kesamaan dari segi
pembimbinganya.
b.
Verifikasi Data
Dari temuan-temuan di lapangan, setelah di lakukan reduksi data
atau pemilihan terhadap
masalah yang dianggap
penting, maka peneliti melakukan verifikasi
untuk memberikan kesimpulan
atau jawaban dari rumusan masalah
yang pernah diajukan
sebelumnya. Tujuannya adalah untuk memperjelas sasaran
tujuan penelitian, sehingga
peneliti merencanakan untuk merumuskan
jawaban dari hasil
pertanyaan yang telah diajukan
sebelumnya melalui verifikasi
data.Adapun tahapannya
adalah merumuskan data
yang di peroleh,
memilih data penting
sesuai dengan kebutuhan, dan
menganalisa data yang
diperoleh melalui wawancara,
observasi dan dokumentasi.
7.
Validasi Data
Keabsahan data
merupakan konsep penting
yang di perbaharui
dari konsep keaslian (validas). Dalam hal
ini, peneliti harus
konsisten mengiterpetasikan dengan berbagai
acara dalam kaitanya
dengan proses analisis yang
konstan.Dalam hal ini,
peneliti akan melakukan
tindakan berupa analisisa keaslian
data yang di
peroleh pada saat
penelitian berlangsung dan bersifat
relevan dari masalah
yang akan di
teliti. Oleh karena itu, peneliti
hendak melakukan pengamatan yang
berkesinambungan terhadap
factor-faktor yang menonjol
untuk memperoleh data
yang valid melalui wawancara
observasi dalam penelitian ini.sehingga dalam penelitian ini peneliti
membutuhkan dokumen-dokumen untuk
memperoleh data terkait dengan
judul penelitian.
DESKRIPSI PENELITIAN
SEORANG REMAJA PSMP SEBAGAI KORBAN
PEMERKOSAAN DI MATARAM
1.
Langkah – Langkah Penanganan
a.
Metode Penanganan
Anak
penerima mamfaat sebagai
seorang individu yang
berada dalam masa pemulihan
(rehabilitas) dan perkembangan kearah
kematangan atau kemandirian. untuk
mencapai kematangan tersebut
atau penerima manfaat memerlukan bimbingan
karena mereka masih
memiliki pemahaman atau wawasan tentang dirinya dan lingkungan.
Di samping itu terdapat keniscayaan, bahwa
proses perkembangan anak
asuh tidak berjalan
mulus atau bebas
dari masalah.
Perkembangan anak
penerima mamfaat tidak
terlepas dari pengaruh lingkungan baik
fisik,psikis maupun sosial.
Sifat yang melekat
pada lingkungan adalah perubahan-perubahan yang
terjadi dalam lingkungan
dapat memengaruhi gaya hidup (life style).
Peran para pengasuh PSMP Paramita
Mataram adalah sebagai pendidik yaitu
merencanakan yaitu strategi
dalam mendidik atau
membimbing anak penerima mamfaat.Para
pengasuh berperan dalam
mengarahkan anak asuh untuk
melakukan kegiatan sehari-harinya dengan
penuh antusias demi tercapainya tujuan pendidikan. Kegiatan bimbingan dan konseling Islam di sini
bertanggung jawab atas apapun yang berkaitan
dengan bimbingan konseling
islam. sebagai seorang pengasuh atau
pembimbing mempunyai hak
untuk mengambil kebijakan-kebijakan dalam memberikan
bimbingan konseling Islam dalam mengembangkan
perilaku beragama anak
penerima mamfaat di
PSMP Paramita Mataram.
Strategi bimbingan konseling islam
yang di terapkan di PSMP Paramita Mataram
adalah suatun proses
dimana seorang pengasuh
bimbingan memiliki peran aktif
dalam mengembangan perilaku
anak penerima mamfaat
di PSMP Paramita Mataram.
PSMP Paramita Mataram sebagai sebuah
panti sosial yang menampung anak
dengan katagori khusus. tentunya
mempunyai kewajiban untuk memberikan
bimbingan kepada anak penerima
manfaat. terutama bimbingan agama
sebagai pemegang utama tanggung
jawab dalam mengembangkan
perilaku beragama anak penerima mamfaat memiliki tugas yang sangat besar.
1.
Bimbingan Agama
Bimbingan agama yang ada di PSMP
Paramita Mataram adalah lebih menekankan
kepada pendidikan agama Islam, dimana
pendidikan agama Islam adalah
bertujuan untuk mengajarkan
ajaran-ajaran maupun nilai-nilai kebaikan yang
ada di dalam
Islam dan bagaimanapun
akan memberikan pengaruh pada
perubahan perilaku atau
sikap keagamaan anak
penerima manfaat. Karna bimbingan
agama memiliki peran yang paling central dalam hal membimbing
pribadi anak penerima
mamfaat. Dalam ajaran
agama Islam membimbing manusia
secara umumnya untuk
bagaimana hidup dengan baik
dan sesuai dengan apa
yang telah diperintahkan
oleh Allah SWT. Dengan demikian
pihak pengelola atau
Pembina dan pembiming
di PSMP Paramita Mataran sangat mekankan dalam hal bimbingan Agama.
Berikut adalah
langkah-langah yang dilakukan
PSMP Paramita Mataram dalam
bimbingan agama Islam anak penerima manfaat.
a.
Mengadakan Pengajian di Lingkungan Panti
Mengadakan pengajian
yang dimaksud adalah
suatu proses bimbingan terhadapa
anak penerima mamfaat
melalui pendekatan
pendidikan Agama Islam
yang disampaikan secara
langsung di hadapan anak
penerima mamfat. Serta
memberikan nasehat dan
petunjuk kepada mereka dengan
tujuan anak penerima mamfaat bisa mengendalikan sikap, tingkah laku serta
hal-hal yang bertentangan dengan ajaran Islam.
Pemberian bimbingan
pengajian atau ceramah
dilaksanakan 1 kali dalam
seminggu yakni hari
jumat atau setelah
Sholat magrib yang
di lakukan di Musholla.Yang bertema sbb:
1)
Bimbingan tata cara bersuci misalkan membersihkan dari
hadas.
2)
Bimbingan bagaimana berprilaku terpuji.
Bimbingan pengajian
ini yang diberikan
kepada anak penerima manfaat dapat
menyirami perasaan jiwa
anak kepada Allah
SWT sehinngga jiwa keaagamaan
mereka dapat tumbuh
dan berkembang. Sehingga ia
mampu mencapai tingkat
kejiwaan atau mental
yang sempurna yaitu yang
mampu mentaati segala
apa yang di
perintahkan dan menjauhi diri
dari apa yang
di larang oleh
allah SWT, serta
tabah dalam ujian dan cobaanya sehingga dengan kecerdasan ini akan
terhindar dari sikap menyekutukan Allah
SWT (syrik). Sikap menganggap remeh hukum-hukum-Nya atau
sikap untuk menunda
diri untuk melakukaan kebaikan dan
kebenaran (fisiq).Sikap melanggar
hukum Allah SWT (zhalim).
Pemberian bimbingan
pengajian tersebut memang
sangat penting untuk diterapakan
kepada anak penerima mamfaat, karena mereka berada dalam proses
rehabilitasi dan jauh
dari keluarganya dan
mudah timbul putus asa,
kepercayaan diri hilang, dan kurang
dapat menguasai perasaan dalam dirinya. Sehingga
dengan memberikan nasihat-nasihat dan bimbingan ceramah
kepada anak penerima
mamfaat diharapkan sedikit demi sedikit dapat menghilangkan
perasaan perasaan tersebut.
Hal ini
yang di lakukan
di PSMP Paramita
Mataram dalam bimbingan agama
anak penerima mamfaat
dan kegiatan ini
sangat perlu di terapkan
kepada anak penerima
mamfaat agar mereka
selalu mendekatkan diri kepada Allah SWT.
b.
Tuntunan Sholat
Berjamaah
Salah satu
hal penting dalam
Islam adalah shalat
karena shalat adalah tiang
agama yang harus dilaksanakan oleh
seorang muslim dalam keadaan apapun begitu
pula dengan anak
penerima mamfaat cara
di gunakan oleh pengasuh
adalah biasanya dengan
rutin mengabsen kegiatan solat
berjamaah pada setiap
waktunya dan di
ajarkan tata cara sebagai berikut :
1)
Tata cara berwudhu
2)
Bacaan-bacaan dalam solat
3)
Gerak-gerak dalam solat
Hasbi As-sieddiqy
sebagaimana yang dikutif
oleh Ahad Azhar hasil yang
dapat dari pelaksanaan
pendidikan ibadah ialah
di peroleh suatu kemaslahatan bagi
sesama manusia. Pemberian tentang
ibadah sangat di perlukan
oleh samua anak
penerim mamfaat karena
anak penerima mamfaat membutuhkan sentuhan
dari semua aspek keberagamaan terutama
yang paling dasar.
Bimbingan ibadah adalah segala
amal kebajikan yang
dikerjakan dengan ikhlas
semata-semata demi mencapai keridhoan Allah SWT.
Bimbingan tuntunan
Sholat berjamaah yang
di berikan di
PSMP Paramita Mataram biasanya di gabung
juga dengan bimbingan pengajian atau
ceramah karena pemberi
materi atau pengajianya
sangat erat kaitanya dengan
ibadah.karena ibadah adalah
bentuk hubungan yang
di lakukan manusia dengan peciptanya.
Dengan kata
lain supaya anak
asuh atau penerima
mamfaat menjadikan Sholat sebagai
mediator untuk mengatasi segala permasalahan manusia
sehari-sehari yang berhubungan
dengan psikis , karena
shalat merupakan kewajiban
pribadahan (formal) yang
paling penting dalam system keagamaan Islam.
Yang di
maksud bimbingan Sholat
yang diterapkan di
PSMP Paramita Mataram adalah
tidak hanya sekedar
membimbing anak penerima manfaat
Sholat berjamaah dan
menyuruh mereka kemusholla saja, tanpa
adanya penghayatan atau
berdampak sama sekali
dalam kehidupan mereka akan
tetapi anak-anak tetapi
anak-anak penerima mamfaat di
bina agar mengerjakan
shalat-shalat fardu yang
didirikan dengan khusus yakni
shalat yang nantinya
akan berimplikasi terhadap mereka yang melaksanakanya.
2.
Bimbingan Individu
Layanan bimbingan
konseling individu di
lakukan dengan tujuan agar
anak/korban lebih mudah
memahami dirinya dan
lebih cepat megembangkan sifat
dan perilaku yang
baik di lingkungan,
dan mamfu menyelesaikan masalahnya
sekaligus menerima diri
apa adanya. Adapun kegian
dalam konseling individu
yaitu tahap konseling
individu yang di lakukan oleh pihak konselor di PSMP
Paramita Mataram sebagai berikut:
a.
Konseling tahap awal
1)
Melakukan pendekatan terlebih dahulu
2)
Membangun hubungan yang baik terhadap klien
3)
Mengumpulkan
data dan imformasi
terkait dengan latar
belakang korban melalui proses wawancara konseling
4)
Membuat penjajakan bantuan alternatif dalam mengatasi masalah
5)
Indeftifikasi masalah korban
b.
Konseling tahap pertengahan Adapun tahap
pertengahan dalam proses
konseling individu sebagai
berikut
1)
Konselor berusaha
untuk memahami latar belakang,
harapan, dan motivasi korban
2)
Konselor
mulai membantu korban
mengeplorasi perasaan lebih mendalam terkait dengan perilaku yang
menganggunya.
3)
Menentukan konseling individu secara bersama
4)
Konselor dan korban mulai menyepakati tujuan dari
konseling individu secara bersama
sehingga ini akan mengarahkan pada problem solving dan kebutuhan korban.
c.
Konseling tahap akhir
Pada tahap
akhir konseling individu
yang telah di
lakukan oleh konselor kepada
korban di tandai dengan beberapa hal berikut.
1)
Adanya tujuan hidup yang lebih jelas di masa yang akan
datang
2)
Terjadinya
perubahan sikap yang
lebih fositif terhadap
masalah yang di hadapinya atau dapat
menialai dan mengoreksi diri sendiri
3)
Konselor
dan korban berjanji
untuk melakukan perubahan
terhadap diriya kea rah yang lebih baik
4)
Konselor mengakhiri sesi konseling individu dengan
korban.
Dengan demikian
dapat disimpulkan bahwa,
upaya yang dilakukan oleh
konselor ketika melakukan
konseling individu adalah untuk
memberikan rehabilitasi penyembuhan
psikologis/mental yang di alami oleh korban di masa lalunya agar
menjadi pribadi yang lebih baik yang
penuh dengan kecerian
seperti sedia kala.
Seperti yang dijelaskan oleh salah
satu konselor PSMP
Paramita Mataram adalah
Sebagai Seorang konselor kita
harus bisa memberikan
perlakuan yang sesuai dengan
permasalahan yang dialami
oleh korban, agar
korban merasa di bantu dengan
keberadaan kita sebagai
konselor ditengah permasalahan yang dialaminya.
3.
Bimbingan kelompok
a.
Bimbingan psikologi
Berdasarkan hasil
yang peneliti temukan
dilapangan, kenapa konselor yang
ada di Paramita
menggunakan bimbingan kelompok karena, ada
beberapa hal yang
harus di pelajari
oleh para korban
ketika mengikuti kegiatan bimbingan
kelompok, supaya konselor
mengetahui jugga keadaan psikisn
pada anak penerima
mamfaat seperti bimbingan belajar di
kelas. Upaya konselor
dalam memberikan bimbingan kelompok dapat di jelaskan di
bawah ini sebagai berikut:
1)
Bimbingan Belajar Di Kelas
Bimbingan belajar
di kelas ini
merupakan kegiatan konselor atau
pembimbing di PSMP
Paramita Mataram dalam
memberikan ilmu pengetahuan sekaligus
memberikan edukasi pemahaman
kepada korban penerima manfaat tentang berbagai macam gejala-gejala yang biasa
terjadi di masa
perkembangan remaja pada
umumnya. Kembali kepada teori,
upaya konselor dalam memberikan bimbingan belajar di kelas ini
biasanya tidak begitu
menarik bagi para
korban yang masih berada
di usia belasan
tahun, akan tetapi
kegiatan bimbingan belajar ini
akan menjadi menarik
ketika konselor mampu mengkemas materi yang
disampaikannya menjadi suatu
hal yang sangat
menarik bagi mereka.
Seperti yang
di jelaskan oleh
psikolog Paramita melalui
hasil wawancara peneliti Dengan
Dwi Kurmalla, bahwa
dengan adanya kegiatan belajar
di kelas, setidaknya
korban penerima manfaat mengetahui atau memahami
gejala-gejala apa saja yang sering muncul terhadap dirinya
dan itu sangat
mengganggu bagi kesehatan
mental dalam kehidupan sehari-hari. Dalam
proses belajar dikelas, pemberian materi psikologi yang sesuai dengan
usia mereka justru
banyak diminati oleh
korban sehingga akan mempercepat
proses rehabilitasi penyembuhan
bagi para korban di
PSMP Paramita Mataram.
Karena saking sering diberikan materi
tentang perkembangan remaja
yang sesuai dengan permasalahannya, lama-kelamaan
mereka akan terdoktrin
dan ingin menceritakan masalahnya
kepada konselor, sehingga
ini akan mempermudah konselor
dalam mengetahui kebutuhan
para korban dalam proses
penyembuhan atau rehabilitasi.
4.
Bimbingan Fisik
Bimbingan fisik adalah serangkaian
kegiatan dalam rangka menjaga, merawat
dan meningkatkan kesehatan,
ketahanan dan kemantangan
fisik atau jasmani .penerima
yang dapat mendukung
kemampuan mereka dalam mengikuti pelayanan pembinaan sosial.
Adapun proses kegiatan-kegiatan bimbingan
fisik ini dimaksudkan untuk menumbuhkan
dan memelihara perkembangan
fisik dan kesehatan jasmani anak secara aktif yaitu
diaantaranya adalah melalui:
a.
Bimbingan Fisik dan Olah Raga.
Bimbingan ini
bertujan untuk menjaga
fisik sehingga mampu mengikuti kegiatan di Panti.
b.
Bimbingan Kesehatan Pribadi dan Lingkungan, Kegiatan
Ini Bertujuan:
1)
Memahami
dan memperhatikan diri
sendiri dan
kebersihan lingkungan.
2)
Memahami cara menjaga kesehatan pribadinya.
c.
Senam Setiap Hari Senin dan Jum’at
Kegiatan senam
ini dilakukan khusus
untuk anak penerima manfaat yang
diberikan oleh pembina
dengan cara senam
ringan dan senam ibu hamil. Dalam
hal ini bimbingan
fisik di maksudkan
sebagai upaya memberikan pembinaan
fisik secara berkelanjutan
dan terarah. Hal
ini relevan dengan pendapat
dengan pendapat Tohirin mengatakan bahwa Bimbingan fisik di perlukan dalam rangka
mengembangkan kondisi fisik seseorang
yang di lakukan melalui kegiatan olahraga.
Dengan
bentuk bimbingan fisik ini
diharapkan semua anak
penerima manfaat dapat mendapatkan manfaat
berupa kesehatan dan
kebugaran sehingga dapat mengikuti segala proses pembimbingan
yang diberikan.
5.
Bimbingan sosial
Bimbingan sosial
adalah bimbingan yang
bertujuan untuk membantu
anak mengatasi kesulitanya dalam
bidang sosial bentuk
bimbingan informasi cara bergaul
agar di senangi
oleh teman-teman dan
sekolompok masyarakat. Dari hasil
penelitian di lapangan peneliti juga menemukan beberapa langkah dan
cara-cara dalam bimbingan
sosial yang dilakukan
oleh para pembina sebagai berikut
:
a.
Menonton film tentang
motivasi untuk proses bimbingan psikososial
Cara ini
dilakukan agar para
anak penerima manfaat
dapat mengambil pelajaran motivasi
dan lebih semangat
lagi dalam mejalani kehidupan di masyarakt dan bisa
berinteraksi dengan baik
Adapun mamfaat
dalam proses pemberian
bimbingan sosial melalui media
masa sebagai berikut:
1)
Agar anak terbuka
mata hatinya ketika
menonton orang yang
jauh di katakana sempurna dariya.
2)
Supaya anak juga bisa melihat maslah yang nimpanya
lebih ringan di bandingkan orang orang yang di tontonya supaya anak tersebut
sedikit demi sedikit melupakan kejadian yang pernah menimpa dirinya.
b.
Informasi cara bergaul dan beriteraksi di lingkungan
panti Bimbingan ini salah satu langkah
yang di gunakan oleh pembina yang
tujuan dan mamfaatnya sebagai berikut.
1)
Pembina
memberikan pengajaran dan
bimbingan bagaimana cara berinteraksi di lingkungan panti sesama
anak penerima manfaat.sehingga kemudian
Manfaat yang nantinya
dapat di peroleh untuk anak
penerima mamfaat adalah dan dapat
berinteraksi sesame anak penerima mamfaat di lingkungan panti.
2)
Untuk
menanamkan nilai nilai
sosial bermasyarakat seperti
sikap saling membantu sesama
terlebih lebih nantinya
bisa bermamfaat di dalam kehidupan sosial bermasyarakat.
Jadi bimbingan
sosial yang dimaksudkan
untuk memberikan sebagai bentuk
kegiatan pelayanan yang
dilakukan untuk membantu penerima mamfaat
baik indiviu maupun
kelompok dalam meningkatkan kemampuanya untuk
memenuhi kebutuhahan, memecahkan
masalah serta menjalin dan
mengendalikanhubungan-hubungan
sosial mereka dalam lingkungan
sosial mereka.
Selain itu
pekerja sosial membina
anak melalui psikososialnya yakni jiwa sosialnya bagaimana menghargai satu sama
lain, menjaga tali silaturahmi, dan hubungan baik antara sesame manusia.
6.
Bimbingan Keterampilan
Bimbingan keterampilan di
maksudkan untuk memberikan pelayanan yang
ditunjukan untuk mengembangkan pengetahuan
dan kemampuan penerima mamfaat
dan ketrampilan kerja
sebagai bekal kehidupan di masyarakat. Adapun
bentuk bentuk kegiatan
yang di berikan untuk anak penerima mamfaat sebagai
berikut:
1)
Bimbingan membuat rak sepatu
2)
Bimbingan menjahit
3)
Bimbingan membuat telur asin dan aneka cemilan
Dengan
diberikan bimbingan keterampilan maka psikolog, peksosnya dan pegawai yang ada di
PSMP Paramita Mataram
mengharapkan remaja-remaja yang
melakukan pelanggaran bisa
berubah menjai lebih baik, bermamfaat bagi dirinya maupun orang lain.
Sesuai dengan
pengertian bimbingan dan
konseling yakni sebagai upaya
membentuk perkembangan kepribadian
siswa secara optimal-secara umum,layanan bimbingan dan
konseling di sekolah harus dilakukan dengan pengembangan sumber
daya manusia. Upaya
bimbingan dan konsseling kemungkinan siswa
mengenal dan menerima
diri serta mengenal
dan menerima lingkungan secara
fositif serta dinamis
serta mampu mengambil keputusan, mengamalkan
dan mewujudkan diri
sendiri serta efektif
dan produktif sesuai dengan
peranan yang di
inginkan di masa
depan. Secara lebih khusus,
kawasan bimbingan dan
konseling yang mencakup
seluruh upaya tersebut meliputi
bimbingan pribadi, bimbingan
sosial, bimbingan belajar, bimbingan
karir, dan dalam
perkembangan juga dalam
bimbingan kehidupan beragama dan bekeluarga.
E.
Kondisi Psikis Korban Pemerkosaan
Bentuk
kekerasan terhadap perempuan bukan hanya kekerasan secara fisik, akan
tetapi dapat juga
meliputi kekerasan terhadap
perasaan atau psikologis,
kekerasan ekonomi, dan juga kekerasan seksual. Hal ini sesuai dengan
pendapat Hayati (2000) yang mengatakan
bahwa kekerasan pada
dasarnya adalah semua
bentuk perilaku, baik
verbal maupun non-verbal,
yang dilakukan oleh
seseorang atau sekelompok
orang, terhadap seseorang atau
sekelompok orang lainnya,
sehingga menyebabkan efek
negatif secara fisik, emosional, dan psikologis terhadap
orang yang menjadi sasarannya.
Pada kasus
perkosaan, setiap orang
dapat menjadi
pelaku perkosaan tanpa mengenal usia,
status, pangkat, pendidikan,
dan jabatan. Hal
ini senada dengan
hasil penelitian dari
Abar & Subardjono
(1998), yang mengatakan
bahwa berdasarkan data
usia pelaku tindak
kejahatan perkosaan, dapat
dikatakan bahwa pelaku
perkosaan sesungguhnya tidak mengenal
batas usia. Selama
individu masih mempunyai
daya seksual, dari anak-anak
hingga kakek-kakek masih sangat
mungkin untuk dapat melakukan tindak kejahatan perkosaan.
Demikian pula dengan korban. Setiap perempuan dapat menjadi korban dari kasus
perkosaan tanpa mengenal usia, kedudukan, pendidikan, dan status.
Pendapat tersebut
senada dengan pengamatan
dari Rita Serena
Kalibonso (Kompas, 1993), berdasarkan
data kasus yang
masuk ke kantor
LBH Jakarta, yang mengatakan bahwa
pelaku bukan hanya
tetangga korban melainkan
juga ayah tiri,
anak majikan, majikan,
teman dekat, dan
juga saudara. Sementara
korban ada yang
memiliki profesi sebagai
karyawan, ibu rumah
tangga, pembantu rumah
tangga, anak-anak di
bawah umur, bahkan
anak sekolah luar
biasa. memiliki profesi sebagai
karyawan, ibu rumah
tangga, pembantu rumah
tangga, anak-anak di
bawah umur, bahkan
anak sekolah luar
biasa.
Sama
seperti halnya kasus yang dialami oleh remaja ini yang ditampung di PSMP
Mataram , dia mendapatkan
Komentar
Posting Komentar