NUR PUTRA ALIANTO


Bimbingan Konseling Islam Dalam Menangani Trauma Remaja Korban Pelecehan Seksual di PSMP Paramita Mataram

Oleh :
Nur Putra Aliyanto                ( B73218107 )
Kelas / Semester :
B5 / II
Dosen Pembimbing :
Drs. Masduqi Affandi, M. Pd. I

PROGRAM STUDI BIMBINGAN DAN KONSELING ISLAM
FAKULTAS DAKWAH DAN KOMUNIKASI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN AMPEL SURABAYA

BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
            Di era modern sekarang ini, banyak terjadi kejahatan yang berkaitan dengan seksualitas, terutama yang dilakukan para remaja laki-laki terhadap wanita, sehingga hampir di setiap kasus pelecehan seksual,maka kaum wanitalah yang kebanyakan jadi korbanya. Ditambah lagi dengan perkembangan teknologi imformasi yang begitu pesat yang dapat berpengaruh terhadap perilaku pelecehan seksual kepada anak dan remaja sehingga anak atau remaja tersebut mengalami trauma yang begitu berat yang bisa menganggu fisik maupun psikologis anak tersebut.
            Trauma terjadi manakala individu menerima eksitasi yang jauh melampaui kepribadianya untuk mengatasinya, sehingga sebagai akibatnya individu terlempar. Trauma akan semakin besar dampaknya bilaman eksitasi yang besar di alami oleh pribadi yang masih rentan misalnya anak-anak atau pribadi yang tidak matang dan terjadinya secara memndadak contoh anak yang mendapatkan perilaku abusive dari orang tuanya siksaan fisik yang di alami oleh anak itu semakin besar jauh melebihi kapasitas psikisnya untuk bertahan.
            Dari sebuah kejadian yang di alami oleh salah satu korban yang di rehabilitas di PSMP Paramita Mataram yang telah di perkosa oleh seorang bapak kadungnya yang tidak layak dilakukan oleh seorang bapak kepada anaknya tetapi hal tersebut dilakukan oleh ayahnya selama 1,6 bulan dan ketika melakukan  hal  tersebut  si  korban  di  ancam  akan  dibunuh,  dipukul,  oleh ayahnya sendiri.
            Pasal 285 KHUPtentang pemerkosaan di hukum penjara selama-lamanya dua   belas   tahun   karena   memperkosa,   dengan   kekerasan   atau   ancaman kekerasan  memaksa  perempuan  yang  bukan  istrinya  bersetubuh  dengan  dia. Dalam pasal ini dijelaskan bahwa yang di ancam dengan pasal ini ialah dengan kekersan  atau  ancaman  kekerasan  memaksa  perempuan  yang  bukan  istinya untuk bersetubuh dengan dia.
            Perkosaan adalah hubungan seksual yang dilakukan tanpa kehendak bersama dipaksakan oleh satu pihak lainya.oleh sebab itu anak perlu dapat perlindungan dari dampak negatefperkembangan pembangunan yang cepat, arus globalisasi di bidang komunikasi dari imformasi, kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK). Serta perubahan gaya dan cara hidup sebagian orang tua yang telah membawa perubahan sosial yang mendasar dalam kehidupan masyarakat yang sangat berpengaruh terhadap nilai dan perilaku anak. Penyimpangan tingkah laku atau perubahan melanggar hokum-hukum yang dilakukan oleh anak,antara lain di sebabkan oleh factor di luar diri anak serta anak yang berhadapan dengan hukum dan Dirjen permasyarakatan menunjukkan tingkat kriminalitas serta pengaruh negative.
            Masa  remaja  adalah  merupakan  masa  yang  indah,  tetapi  tidak  setiap remaja  dapat  menikmati  masa  remajanya  dengan  baik  dan  membahagiakan, sebab tidak jarang beberapa permasalahanya dalam kehidupan dapat merenggut bahkan mengurangi kebahagianya. Salah satu permasalahan yang membuat mereka bingung dan menderita serta tidak tahu secara pasti apa yang seharusnya dilakukan, ialah permasalahan seks yang sedang muncul dan melanda kehidupan.
            Di NTB Sendiri salah satu Panti Sosial yang menampung anak dengan kategori di atas adalah Panti Sosal Marsudi Putra (PSMP) Paramita Mataram. Panti Sosial Marsudi Putra (PSMP) Paramita Mataarm mempunyai tugas melaksanakan sebagian tugas teknis Dinas Sosial Kependudukan dan Catatan Sipil Provinsi Nusa Tenggara Barat dibidang pembinaan kesejahteraan sosial.
            Anak yang tinggal di panti sosial tentu membutuhkan bimbingan untuk mengembangkan kesadaran beragama mereka.Dalam bimbingan dan konseling masuk dalam bimbingan beragama yang tujuannya agar konseli memiliki pemahaman yang baik dan benar tentang ajaran agamanya.
            Salah   satu   bentuk-bentuk   permasalahan   yang   ditangani   di   (PSMP) Paramita  Mataram  adalah,  anak  nakal,  anak  yang  berhadapan  dengan  hukum, dan  anak  korban  pelecehan  seksual dimana  anak  menjadi  terlantar  dan  tidak terurus dengan demikian anak bisa melakukan apa yang ia ingin kan tanpa ada yang  melarang  seperti  melakukan  pencabulan,  hamil  diluar  nikah,  melakukan kekerasan dan lain-lain. Adapun yang menjadi fokus dalam penelitian ini adalah anak yang terkategori bermasalah akibat pelecehan seksual.
            Berikut program dan kegiatan yang dijalankan di PSMP Paramita Mataram:
1. Program perlindungan sosial
2. Program pelayanan dan rehabilitasi sosial
3. Program pengembangan keterampilan kerja.
           

            Berdasarkan paparan diatas, peneliti tertarik untuk meneliti lebih dalam di Panti Sosial Marsudi Putra (PSMP) Paramita Mataram untuk mengadakan penelitian dengan judul “Bimbingan Konseling Islam Dalam Menangani Trauma Remaja Korban Pelecehan Seksual di PSMP Paramita Mataram”

B.     Rumusan Masalah
            Adapun rumusan masalah dalam penelitian ini adalah:
a. Bagaimanakah pelaksanaan bimbingan konseling Islam dalam menangani trauma remaja korban pelecehan seksual di Panti Sosial Marsudi Putra Paramita Mataram ?
b. Apa tantangan dan hambatan dalam menangani trauma remaja korban pelecehan seksual di Panti Sosial Marsudi Putra Paramita Mataram ?

C.    Tujuan Penelitian
            Sesuai  dengan  masalah  tersebut,    maka  tujuan  penelitian  ini  adalah sebagai berikut:
a.Untuk  mengetahui  bagaimana  strategi  pelaksanaan  bimbingan  konseling Islam    dalam  menangani  trauma  remaja  korban  pelecehan  seksual  yang diterapkan di Panti Sosial Marsudi PutraParamita Mataram.
b.Untuk mengetahui apa tantangan dan hambatan dalam menangani trauma remaja korban pelecehan seksual di Panti Sosial Marsudi Putra Paramita Mataram.

D.    Manfaat Penelitian
a.       Manfaat secara teoritis
      Manfaat  teoritis  penelitian  ini  adalah  untuk  menambah  khazanah keilmuan dibidang yang berkaitan dengan bimbingan, pendampingan dan konseling.
b.      Manfaat praktis
      Dapat  memberikan  masukan  kepada  pihak  Panti  Sosial  Marsudi Putra  Paramita  Mataram  untuk  memberikan  pendampingan  dan  layanan sesuai  dengan  kebutuhan  anak  tersebut  dan  Paramita  di  perlukan  untuk memberikan dukungan agar dapat memperhatikan bimbingan kasus anak berhadapan  dengan  hukum  (ABH)  dan  memberi  kasih  sayang  kepada anak-anak,  khususnya  meningkatkan  pengetahuan terhadap ajaran-ajaran agama Islam dan membina moralitas anak anak tersebut.
      Dapat memberikan masukan kepada pemerintah untuk membuat kebijakan yang berkaitandengan adanya perlindungan terhadap anak anak yang berkasus hukum.

E.     Paradigma
            Terjadinya masalah ini dikarenakan adanya gangguan jiwa atau psikis dari si korban dalam arti dia lemah secara fisik, dan masalah ini bisa terjadi dikarenakan kurangnya suatu perhatian dan kurangnya bimbingan terhadap anak yang menjadi korban pelecehan seksual.
            Tidak hanya itu saja, tetapi kehidupan agama yang kurang ditanamkan dalam keluarga terutama kepada seorang anak, jadi mereka bisa terjun ke lingkungan yang salah. Seorang anak jatuh ke lingkungan yang salah bisa saja terpengaruh oleh media massa atau dipengaruhi dengan adanya pergaulan bebas. Dengan adanya media massa yang isinya bersifat negatif  dan tidak seharusnya di tonton oleh seorang anak, si anak tersebut jadi tergiur untuk melakukan sesuatu yang seharusnya tidak dilakukan, karena seorang anak tersebut masih belum begitu faham atau mengerti dengan media massa tersebut, karena pola pikir mereka belum bisa menjangkau bahwa itu sesuatu hal yang negatif ataupun positif, disinilah peran orang tua atau disekitarnya sangat berpengaruh untuk proses berkembangnya seorang anak.

F.     Landasan Teori
            Dalam  hal  ini,  peneliti  akan  menggunakan  teori pendekatan  deskriftif kualitatif,   metode   wawancara,   observasi   dan   dokumentasi.   Sehingga kemudian  alasan  peneliti  mengangkat  judul  ini  karena  ingin  mendapatkan imformasi  yang  lebih  mendalam  terkait  dengan  bimbingan  konseling  Islam di PSMP Paramita Mataram dalam menangani trauma remaja korban pelecehan seksual yang bertujuan untuk mengetahui perkembangan dan kesehatan mental anak. karena  data  dan  informasi  yang  peneliti  kumpulkan  lebih  banyak  bersifat keterangan-keterangan atau penjelasan yang bukan berbentuk angka.
            Penelitian  kualitatif  adalah  suatu  pendekatan  dalam  penelitian  yang bersifat  alamiah,  karena  orientasinya  demikian  maka  sifatnya  naturalistic dan mendasar atau kealamiahan serta tidak dapat dilakukan di laboratorium melainkan di lapangan. Penelitian kualitatif adalah sebagai prosedur yang menghasilkan data deskriptif  berupa  data  lisan  dari  orang-orang  dan  pelaku  yang  dapat  diamati. Selain   itu   peneliti   bermaksud   memahami   situasi   sosial   secara mendalam.
BAB II
KAJIAN PUSTAKA

PENANGANAN TRAUMA REMAJA KORBAN PERKOSAAAN DALAM BIMBINGAN KONSELING ISLAM
A.    Penanganan Trauma Remaja
      Dalam   kesempatan   ini   peneliti   mengadakan   wawancara   dengan beberapa   narasumber   yang   telah   memberikan   imformasi   pada   penulis berkenaan  dengan  judul  penelitian  yang  diambil.  Informan  tersebut  adalah beberapa   konsoler   bimbingan   konseling   yang   berada   di   PSMP   Paramita Mataram.
      Dalam  pelaksanaan  program  layanan  bimbingan  konseling  di  PSMP Paramita  Mataram,  konselor  menrapakan  beberapa  bentuk  layanan  yang  di adakan  di  lembaga  tersebut  guna  pencapaian  visi  dan  misi  bimbingan  dan konseling bagi anak korban pelecehan seksual berkaitan dengan hal  ini bentuk-bentuk    layanan  ini  antaralain  mereka  terapkan  sebagai  wujud  konstribusi layanan bimbingan dan konseling terhadap tujuan lembaga ini. Mereka dengan penuh  semangat  memberikan  beberapa  tenaga,  fikiran,waktu,serta  tanggung jawabnya   sebagai   konselor   untuk   aktif   dalam   memberikan   layanan   di bimbingan  konseling  bagi  anak  korban  pelecehan  seksual  adapun  pemberian layanan bimbingan konseling yang di lakukan di PSMP Mataram.
      Pada  dasarnya  bimbingan  konseling  Islam  adalah  proses  pemberian bantuan  terhdap  orang  yang  yang  mempunyai  kesulitan  dalam  hidup  supaya orang  tersebut  mampu  mengatasinya  karna  timbul  kesadaran  atau  pemecahan diri  terhadap  kesadaran  atau  pemecahan  maslah  dirinya  terhadap  kekuasaan Allah SWT.
      Dalam  bimbigan  konseling  Islam  yang  dilakukan  di  PSMP  Paramita Mataram  ini  merupakan  salah  satu  komponen-komponen  yang  penting  dan mEmpunyai pengaruh yang besar terhadap pembinaan keagamaan pada dasarnya sangat  mempengaruhi  tingkat  pemahaman  nilai-nilai  pendidikan  agama  dan kehidupan sehari-hari. Sehingga anak-anak penerimaan mamfaat tidak  cepat di pengaruhi  oleh  sesuatu  yang  bisa  merussak    sikap  dan  perilaku  di  dalam kegiatan sehari-hari.
      Berdasarkan hasil temuan peneliti terkait cara PSMP Paramita Mataram dalam pelaksanaan bimbingan konseling Islam terhadap trauma remaja korban pelecehan seksual adalah sebagai berikut:



1.      Bimbingan Agama
            Bimbingan  Agama  merupakan  salah  satu  metode  yang  digunakan untuk   membimbing   anak-anak   di   PSMP   Paramita   Mataram   dengan menyelenggarakan     kegiatan-kegiatan     keagamaan.     Bimbingan yang diselenggarakan  oleh  guru  dan  pembimbing  di  PSMP  Paramita  Mataram melalui   kegiatan   keagamaan   tersebut   mengarah   dan   bertujuan   untuk meningkatkan   keimanan   dan   ketaqwaan   anak-anak   di   PSMP   Paramita Mataram. Adapun kegiatan kegiatan terebut adalah sebagai berikut:
a.       Mengadakan Pengajian di Lingkungan Panti
      Pengajian  yang  di  maksud  adalah  pembina  memberikan  siraman rohani  atau  ceramah  kepada  anak  anak  PSMP  Paramita  Mataram  yang bertema tentang ahlak- ahlak terpuji, tentang pentingnya rukun iman dan islam, menjaga diri   sendiri, kebersihan lingkungan dan menjaga hubungan antar sesama. Hal ini salah   suatu proses pembinaan terhadap anak agar dapat diamalkan  dan  dapat  mengambil  mamfaat  melalui bimbingan  agama  Islam  yang  disampaikan  secara  langsung  di  hadapan anak-anak. Kegiatan  keagamaan  ini dilakukan 2  kali dalam satu minggu yakni pada hari rabu dan Jumat yang diselenggarakan di musholla. Seperti yang  dipaparkan  oleh  Rinia  Komalasari  salah  satu    pembina  PSMP Paramita Mataram sebagai berikut:
“Melalui  kegiatan  ini  kami  selaku  pembina  memberikan  arahan ilmu agama dengan tujuan untuk membantu anak-anak menerima manfaat dan dapat mengamalkanya dan pada intinya mereka bisa menjaga  perilaku  mereka  dalam  pergaulan  sehari-hari  dan  agar mereka semakin mendekatkan diri mereka kepada Alah SWT.”
      Dari    wawancara    di    atas    peneliti    menemukan    salah    satu cara sederhana   tapi   perlu   untuk   selalu   di   terapkan   yaitu   kegiatan pengajian   yang   diterapkan   oleh   PSMP   Paramita   Mataram   dalam membing  mental  anak  dan  sedikit  tidak  akan  bisa  menyadarkan  atau berpengaruh   kepada   anak-anak   menerima   mamfaat.   Pembina   yang menyampaikan  materi  tersebut  dapat  membatasi  dan  mengatur  seberapa luas  materi  materi  ceramah  yang  akan  disampaikan  kepada  anak-anak yang sesuai dengan kebutuhan yang hendak dicapai. 

b.      Bimbingan tuntunan Sholat
      Dalam  tuntutan  solat  ini  anak  anak  penerimaa  mamfaat  yang tinggal  di  PSMP  Paramita  Mataram  di  ajarkan  terntang  gerak-gerak dalam    solat    serta    bacaan-bacaan    dalam    Sholat    oleh    Pembina. Mengajarakan  mereka  dengan  cara  meragakan  langsung  dan  bagaimana gerakan-gerakan  dalam  sholat  di  depan  anak-anak.  kegiatan  tuntunan dalam  solat  juga  merupakan  kegiatan  untuk  membimbing  anak-anak tentang  kewajiban  mereka  untuk  mengerjakan  sholat.  Pada  kegiatan  ini anak-anak  di  tuntun  dan  dibimbing  oleh  pembina  untuk  sholat  secara berjamaah di musholla.
      Pembina  panti  memberikan  bimbingan  solat  kepada  anak-anak umtuk  bisa  mengetahui  dan  memahami  bahwa  siapapun  yang  beragama Islam  harus  menjalankan  kewajibnya  sebagai  umat  Islam  dan  harus mendidirikan  sholat  dengan  baik  dan  benar  supaya  anak  tersebut  bisa mengetahui bagaimana kewajibanya sebagai umat Islam yang beragama.
      Untuk memperoleh imformasi lebih  lanjut lagi tentang  hal tersebut peneliti   kembali  mengadakan wawancara kepada Ibu Ria komalasari.
      Tujuan  diterapkannya  tuntunan  solat  ini  karna  kebanyakan  anak-anak tidak pernah mengenal sedikitpun dan tidak tau gerak gerak dalam  solat  dan    bacaan  tentang  solat  oleh  sebab  itu  pembina memberikan bimbingan secara perlahan dan rutin bagi anak  yang tidak tahu apa itu solat dan mengajarkan cara bagimana solat dan bacaan bacan yang tepat.”
      Melalui  bimbingan  ini  anak-anak  lebih  tahu  apa  itu  sholat  dan kewajiban  untuk  mengerkerjakan  bagi  umat  yang    bergama  Islam  dan harus didirikan dikerjakan sesuai waktu yang sudah ditentukan.
2.      Bimbingan individu
            Layanan  bimbingan  konseling  individu  di  lakukan  dengan  tujuan agar   anak/korban   lebih   mudah   memahami   dirinya   dan   lebih   cepat megembangkan  sifat  dan  perilaku  yang  baik  di  lingkungan,  dan  mamfu menyelesaikan  masalahnya  sekaligus  menerima  diri  apa  adanya.  Adapun tahap  konseling  individu  yang  di  lakukan  oleh  pihak  konselor  di  PSMP Paramita Mataram sebagai berikut:
a.       Konseling tahap awal
b.      Konseling tahap pertengahan
c.       Konseling tahap akhir
            “Adapun  hasil  wawancara  dengan  ibu  dwi  kumalasari  mengatakan “kami melakukan proses konseling individu     berdasarkan permasalahan  yang  di  hadapi  oleh  korban  saaat  ini,  serta  berusaha membangun  hubungan  yang  baik  dengan  merasakan  apa  yang  di alami  oleh  korban  merasa  ada  orang  yang  masih  peduli  kepadanya dan   memberikan   penguatan   sekaligus   motivasi   kepada   korban daklam  proses  rehabilitasi  mental  psikologis  korban,  apalagi  kami sudah  mengetahaui  semua  permasalahanya   yang  di   hadapi  oleh korban,  yaitu  rata-rata  dari  kasus  korban  kekerasan  seksual,  maka kami   selaku   konselor   di   PSMP   Paramita   Mataram   harus   bisa menghargai    dan    memberikan    dukungan    dan    motivasi    dan memberikan   perhatian   penuh   terhadapnya   dan    ketika   proses konseling  sudah  selesai  bukan  berarti  kami  tidak  memperhatikan perkembangamerekaakan     tetapi     setiaphari kami memantau perkembangan   sehari-hari   melalui   kegiatan-kegiatan   bimbingan   yang lain.
3.      Bimbingan kelompok
            Bimbingan   kelompok   merupakan   upaya   mengelompokan   anak binaan  atau  anak  penerima  mamfaat  agar  bisa  saling  mengenal  satu  sama lain   untuk   memperoleh   proses   bimbingan   psikologi   di  bimbingan ketrampilan.
a.       Bimbingan Psikologis
      Bimbingan psikologis merupakan proses kagiatan belajar di kelas, dimana  kegiatan  konselor atau pembimbing di PSMP Paramita Mataram memberikan   ilmu   pengetahuan  sekaligus  memberikan pemahaman kepada  korban  penerima  manfaat tentang berbagai macam gejala-gejala yang biasa terjadi di masa perkembangan remaja pada umumnya.
      “Hasil wawancara peneliti Dengan Dwi Kurmalla selaku konselor di   PSMP   Paramita   Mataram,   menuturkan:   “dengan   adanya kegiatan  belajar  di  kelas,  setidaknya  korban  penerima  manfaat mengetahui  atau  memahami  gejala-gejala  apa  saja  yang  sering muncul terhadap dirinya di dalam kehidupan sehari-hari”
      Jadi,  sangat  jelas  apa  yang   sudah  disampaikan  oleh  seorang konselor di atas tadi, bahwa ketika korban diberikan bimbingan belajar di kelas dengan  isi materi psikologi  yang sesuai dengan usia mereka  justru banyak   diminati   oleh   korban   sehingga   akan   mempercepat   proses rehabilitasi penyembuhan bagi para korban di PSMP Paramita Mataram.


4.      Bimbingan fisik 
            Bimbingan  fisik  adalah  serangkai  kegiatan  dalam  rangka  menjaga merawat dan meningkatkan kesehatan, ketahanan dan kematangan fisik atau jasmani  penerima  manfaat  yang  dapat  mendukuntg  kemampuan  mereka dalam  mengikuti  pelayanan  pembinaan  sosial.  Berdasarkan  wawancara dengan ibu Via mengatakan bahwa: “Bimbingan fisik dilakukan dengan cara berolah raga dan senam ibu hamil   supaya   anak   pemerima   mamfaat   tetap    sehat   fisiknya jasmaninya  supaya  mereka  bisa    melakukan  kegiatan  sehari-hari sebagaiman rutinitas yang sudah di tentukan oleh lembaga”.
            Adapun  proses    kegiatan-kegiatan  bimbingan  fisikini  dimaksudkan untuk  menumbuhkan  dan  memelihara  perkembangan  fisik  dan  kesehatan jasmani anak secara aktif yaitu diantaranya adalah melalui:
a.       Bimbingan fisik dan olah raga.
      Bimbingan  ini  bertujan  untuk  menjaga  fisik  sehingga  mampu  mengikuti kegiatan di Panti.
b.      Bimbingan kesehatan pribadi dan lingkungan, kegiatan ini bertujuan:
1)      Memahami    dan    memperhatikan    diri    sendiri    dan    kebersihan lingkungan.
2)      Memahami cara menjaga kesehatan pribadinya.
c.       Senam setiap hari dari hari senin sama Jum’at.
      Kegiatan   senam   ini   dilakukan   khusus   untuk   anak   penerima manfaat  yang  diberikan  oleh  pembina  dengan  cara  senam  ringan  dan senam ibu hamil.
5.      Bimbingan sosial
            Bimbingan sosial adalah usaha bimbingan sosial yang di maksudkan untuk  memberikan  berbagai  bentuk  kegiatan  pelayanan  yang  dilakukan untuk membantu penerima mamfaat baik secara individu maupun kelompok dan meningkatkan kemampuanya untuk memenuhi kebutuhan, memecahkan masalah   serta   menjalin   dan   mengendalikan   hubungan-hubungan   sosial mereka  dalam  lingkungan  sosialnya.  Membantu  anak  mengatasi  kesulitan dalam  lingkungan  sosial.berdasarkan  hasil  wawancara  dengan  bapak  edy mengatakan bahwa :
“saya  menjelaskan  secara  kehidupan  sosial  bagaimana  berinteraksi dengan  masyarakat  dengan  baik,  saling  menghormari  terlebih  lebih tua  darinya.  Menjadi  perempuan  yang  bisa  menjaga  dirinya  dan orang lain sampe kepada pada saat nantinya mereka menjadi seorang istri  yang  berbakti  kepada  suami  dan  mertuanya  hal  ini  lah  yang nanti kami harapkan agar para anak penerima mamfaat bisa menjadi bagian   masyarakat   yang   bisa   bergaul   dalam   kehidupan   sosial bermasyarakat.
            Berdasarkan  hasil  wawancara  di  atas  dapat peneliti  katakana  bahwa bimbngan  sosial  yang  di  lakukan  oleh  para  guru  dan  Pembina  yang  ada  di PSMP  Paramita  Mataram  dilakukan  dari  hal  yang  sederhana  hingga  yang paling  benar.Dari  hasil  penelitian  peneliti  jugga  menemukan  cara-cara  lain dalam bimbingan sosial yang dilakukan oleh para Pembina dan pembimbing dengan  menyelenggarakan  beberapa  kegiatan  seperti  menonton  film  agar anak dapat termotivasi dan menghindarkan larangan larangan yang tidak boleh di lakukan.       Berdasarkan  hasil  wawancara  dengan  ibu  vegaa  mengatakan  bahwa yang   kita   bina   di   sini   psikososialnya   belum   pasti   juga   dia mengatakan  hal  itu  karena  tidak  mendalami  sejauh  mana  kondisi keluarganya.Yang kita bina disisini Cuma kondisi psikososialnya.
6.      Bimbingan Keterampilan
            Bimbingan  keterampilan  adalah  kemampuan  untuk  menggunakan akal,   fikiran,   ide   dan   kreatifitas   dalam   mengerjakan   mengubah   atau membuat  sesuatu  jadi  lebih  bermakna  sehinga  menghasilkan  sebuah  nilai dari hasil pekerjaan tersebut.     Bimbingan  keterampilan  yang  di  maksudkan  untuk  memberikan pelayanan   yang   ditunjukan   untuk   mengembangkan   pengetahuan   dan kemampuan   anak-anak   penerima   mamfaat.Berdasarkan   hasil   wawncara dengan Ibu Eka mengatakan bahwa:
            “Bimbingan  keterampilan  yang  kita  berikan  kepada  anak  penerima mamfaat        adalah    membuat    bunga    dari        bekas    botolair mineral,menjahit,membuat tas dari rajut dan membuat telur asin. Hal ini  kita  lakukan  sebagai  bekal  untuk  kehidupan  di  tengah-tengah masyarakat”.
            Dengan   bimbingan   ketrampilan   ini   maka   psikolog,peksos   atau pegawai  yang  ada  di  PSMP  Paramita  Mataram  mengharapkan  remaja-remaja  yang  menjadi  korban  bisa  mengembangkan  potensi  dan  bakatnya dalam bimbingan ktrampilan  ini guna  menjadi anak  yang  lebih bermamfaat dan berguna bagi dirinya maupun orang lain.

B.     Kondisi Psikis Korban Pemerkosaan
      Dampak psikologis yang dialami oleh seorang remaja akibat pemerkosaan adalah   korban   pemerkosaan   yang   mengalami   atau   melihat   peristiwa   yang traumatik     yaitu     yang     mengancam     kematian     atau     luka     serius     bisa mempengaruhinya    lama    setelah    pengalamam    berlalu.    Ketakutan    hebat, ketidakberdayaan,  atau  pengalaman  menakutkan  selama  peristiwa  traumatik  bisa menghantui  korban,  dalam  hal  ini  adalah  pemerkosaan.  Pada  kasus-kasus  seperti ini maka gangguan mungkin terjadi atau dialami korban akan semakin kompleks.
      Para peneliti menemukan bahwa di antara wanita yang lebih muda  dari 45 tahun, Dilaporkan  17  persen  memiliki  sejarah post  traumatic  stress  disorder (PTSD), dan   25   persen   memiliki   sejarah   depresi   (www.news-medical.net).   Korban terkadang  merasa  bahwa  hidup  mereka  telah  berakhir  dengan  adanya  peristiwa pemerkosaan  yang  telah  dialaminya.  Dalam  kondisi  seperti  ini  perasaan  korban sangat   labil   dan   merasakan   kesedihan yang  berlarut-larut.  Selain  itu ada kemungkinan  bahwa  mereka  menyalahkan  diri  mereka  sendiri  atas  terjadinya pemerkosaan yang telah mereka alami.
      Dampak  yang  muncul  dari  pemerkosaan  kemungkinan  adalah  depresi, fobia,  mimpi  buruk,  curiga  terhadap  orang  lain  dalam  waktu  yang  cukup  lama. Adapula   yang   merasa   terbatasi   di   dalam   berhubungan   dengan   orang   lain, berhubungan  seksual  dan  disertai  dengan  ketakutan  akan  muculnya  kehamilan akibat  dari  pemerkosaan.  Bagi  korban  pemerkosaan  yang  mengalami  trauma psikologis  yang  sangat  hebat  ada  kemungkinan  akan  merasakan  dorongan  yang kuat untuk bunuh diri (Faturochman, 2002).
      Taylor,  dkk  (2009:  528)  mengungkapkan  akibat  yang  ditimbulkan  atau konsekuensi   negatif   pada   fisik   dan   psikologis   yang   bertahan   lama,   sekitar sepertiga korban pemerkosaan terkena trauma fisik seperti luka, penyakit menular, dan  hamil.  Lebih  dari  satu  tahun  setelah  pemerkosaan,  korban  masih  merasakan ketakutan  dan  kecemasan  yang  berkaitan  dengan  pemerkosaan,  ketidakpuasan seksual,  depresi  dan  problem  keluarga.  Gejala-gejala  stres  pascatraumatis  korban pemerkosaan mirip dengan gejala bekas tentara perang yang jika bisa mengontrol diri bisa membantu mringankan tekanan.
      Berdasarkan   laporan   penelitian   (Faturochman,   2002)   penelitian   yang dilakukan  oleh  majalah MS  Magazine (dalam  Warshaw,  1994)  “Mengatakan bahwa   30%   dari   perempuan   yang   diindetifikasi   mengalami   pemerkosaan bermaksud  untuk  bunuh  diri,  31%  mencari  psikoterapi,  22%  mengambil  kursus bela  diri,  dan  82%  mengatakan  bahwa  pengalaman  tersebut  telah  mengubah mereka secara permanen, dalam arti tidak dapat dilupakan”.
      Korban    perkosaan    memiliki    kemungkinan    mengalami    stres    paska perkosaan  yang  dapat  dibedakan  menjadi  dua,  yaitu  stres  yang  langsung  terjadi dan  stres  jangka  panjang.  Stres  yang  langsung  terjadi  merupakan  reaksi  paska perkosaan seperti kesakitan secara fisik, rasa bersalah, takut, cemas, malu, marah, dan  tidak  berdaya.  Stres  jangka  panjang  merupakan  gejala  psikologis  tertentu yang dirasakan korban sebagai suatu trauma yang menyebabkan korban memiliki rasa percaya diri, konsep diri yang negatif, menutup diri  dari pergaulan, dan juga reaksi  somatik  seperti  jantung  berdebar  dan  keringat  berlebihan.  Apabila  setelah terjadinya peristiwa perkosaan tersebut tidak ada dukungan yang diberikan kepada korban,  maka  korban  dapat  mengalami post  traumatic  stress  disorder (PTSD), yaitu  gangguan  secara  emosi  yang  berupa  mimpi  buruk,  sulit  tidur,  kehilangan nafsu  makan,  depresi,  ketakutan  dan  stress  akibat  peristiwa  yang  dialami  korban dan  telah  terjadi  selama  lebih  dari  30  hari.  Dukungan  dari  semua  pihak  sangat diperlukan  untuk  mencegah  terjadinya  PTSD.  Menurut  Virginia  A.  S.  (dalam Wicaksono  2008:  91)  “Hampir  sebagian  besar  wanita  korban  perkosaan mengalami gangguan stres pasca trauma.
C.    Langkah Trauma Bimbingan dan Konseling Islam
      Langkah langkah yang dilakukan adalah sesuai dengan prosedur BKI dan memberikan bimbingan lebih lanjut agar si korban tidak menjadi trauma yang begitu berkelanjutan.
Lise menyatakan  orang-orang  yang  beresiko  terkena  PTSD (Post-Traumatic Stress Disorder)  adalah: 
1)      Orang  yang  mempunyai  pengalaman  tempur  tentera  atau  orang awam yang telah dirusak karena  perang;
2)      Orang yang telah diperkosa, didera secara seksual, atau didera secara fisik;
3)      Orang yang telah terlibat dalam atau yang telah menyaksikan peristiwa yang mengancam nyawa;
4)      Orang-orang yang telah terlibat dalam bencana alam, seperti puting beliung atau gempa bumi
      Persistent   Avoidance   (menghindar),   adalah   upaya   menghindar yang dilakukan oleh korban. Jarnawi menyatakan PTSD adalah suatu gangguan emosional yang tidak wajar, yang berbeda  dengan  gangguan  lain  seperti  depresi  dan  gangguan  panic.  PTSD  tidak  mudah  untuk  disimpulkan,  apabila  hanya  dari gejala-gejala yang ditimbulkan.
      Charney  menyatakan  faktor  yang  dapat  mengurangkan    resiko    PTSD    adalah:    mencari    dukungan    dari  orang  lain,  seperti  rekan-rekan  dan  keluarga,  mencari  dukungan  group  setelah  peristiwa  traumatik,  perasaan  yang  baik  mengenai  tindakan  sendiri  dalam  menghadapi  bahaya,  mempunyai   strategi   menghadapi,   atau   cara   mendapatkan   melalui  acara  yang  buruk  dan  belajar  daripada  ia,  sebagian    mampu untuk bertindak dan merespon setiap kasus walaupun perasaan takut.
D.    Indikator Pemulihan Psikis Traumatik
      Proses pemulihan psikis traumatik adalah tatalaksana peristiwa yang tengah berlangsung dan memberi makna pada klien yang mengalami trauma dan memberi makna pula kepada kaunselor yang membantu mengatasi kliennya. Cavanagh (1982)   menyatakan  secara  umum  proses  kaunseling  traumatik  yang  dibagi ke dalam tiga tahapan, yaitu:
      Pertama,   tahap   awal   kaunseling   yang   terdiri   dari   introduction,    invitation    and    environmental    support.    Dalam    tahapan  ini  kaunselor  membangun  hubungan  dengan  klien  yang  disebut  dengan  a  working  realationship  iaitu  hubungan  yang  berfungsi,  bermakna  dan  berguna  sehingga  klien  akan  mampu   mempercayai,   dan   mengeluarkan   semua   isi   hati,   perasaan   dan   harapan   sehubungan   dengan   trauma   yang   dialami.  Memperjelas dan mendefinisikan trauma kepada klien  dengan  gejala-gejala  yang  dialami,  sehingga  klien  faham  betul  apa yang sedang ia alami dan kaunselor membatu  sepenuhnya. Selain itu juga kauselor dengan klien menyepakati masa untuk melakukan sesi kaunseling.
      Kedua, tahap pertengahan (tahap kerja): disini kaunselor menfokuskan kepada penjelajahan trauma yang di alami klien, melalui  pengamatan  kemudian  diberi  penilaian  sesuai  dengan  yang dijelajahi. Muhibbin Syah (2006) menyatakan pengamatan adalah   proses   menerima,   menafsirkan   dan   memberi   arti   rangsangan  yang masuk melalui panca idera seperti mata dan telinga  kemudian  dicerna  secara  objektif  sehingga  mencapai  pengertian.  Tahap  ini  juga  dikatakan  tahap  action  .  Tujuan  tahap ini adalah untuk menjelajahi dan mengekplorasi trauma, serta  kepedulian  klien  atau  tindakan  dan  lingkungan  dalam  mengatasi  trauma  tersebut.  Dalam  tahap  ini  kaunselor  juga  menjaga   hubungan   yang   berkesan      dengan   menampilkan   keramahan,  empati,  kejujuran,  keikhlasan  dalam  membantu  klien.
      Ketiga,  tahap  akhir  kaunseling  atau  tahap  termination yang  di  tandai  dengan  beberapa  aspek  yaitu:  menurunnya  kecemasan  traumatik  klien,  adanya  perubahan  perilaku  klien  ke  arah  yang  lebih  positif,  sehat  dan  dinamik,  adanya  tujuan  hidup  yang  jelas  dalam  masa  yang  akan  datang,  dan  terjadi  perubahan  sikap  yang  positif  terhadap  trauma  yang  dihadapi,  seperti pada masa trauma dia takut kepada laut karena teringat akan   tsunami,   tetapi   setelah   penangan   mulai   datang   dan   melihat laut tersebut.
      Tidak hanya pemulihan melalui konseling traumatik umum , tetapi bisa juga melalui pemulihan melalui konseling islam. Bila   melihat   dan   memperhatikan   rumusan-rumusan   dari   berbagai   definisi   konseling   baik   etimologis   maupun   terminologis    secara  umum  dan  traumatis  di  atas,  mungkin  sangat  berbeda  dengan  konseling  Islam,  karena  aktifitasnya  begitu kental, luas dan lengkap, karena ajaran Islam itu sendiri datang  ke  permukaan  bumi  ini  memiliki  tujuan  yang  sangat  prinsip   dan   mendasar,   yaitu   membimbing,   mengarahkan,   menganjurkan  kepada  manusia  agar  berada  pada  jalan  yang  benar  yaitu  jalan  yang  diridhai  oleh  Allah,  sehingga  ia  dapat  hidup  selamat,  bahagia  dan  sejahtera  baik  di  dunia  maupun  akhirat.
      Hamdani  Bakran  Adz  Dzaky  menyatakan  bahwa  Islam  adalah  nama  dari  agama  yang  telah  dianugerahkan  oleh  Allah  kepada   manusia   sebagai   falsafah   dan   sandaran   hidup.   Di   dalamnya mengandung ajaran yang membimbing dan mengiring fikiran, jiwa, qalbu, indrawi dan jasmani kepada kefitrahan yang selalu cenderung untuk ketaatan dan ketauhidan kepada Yang Maha  Pencipta;  yaitu  kecenderungan  positif  yang  tidak  akan  padam  eksistensinya  di  dalam  diri  setiap  manusia  yang  ada  dipermukaan  bumi  ini,  seperti  kalam–Nya. Oleh karena itu, bagi  siapa  saja  yang  tidak  mengikuti  fitrahnya  maka  ia  akan  mendapat  kerugian  yang  besar  di  bumi  dan  dilangit,  di  dunia  hingga  di  akhirat  karena  telah  terlepas  dari  bimbingan  dan  petunjuk Allah SWT.
      Sebaliknya  bila  kecendrungan  fitrah  itu  telah  berhasil  memimpin dan      membimbing   manusia   dalam   melakukan   seluruh  aktifitas  hidup  dan  kehidupannya,  maka  akan  ada  keselarasan,   dan   etos   kerja   akan   terjalin   secara   integritas   pada  upaya  meraih  keberhasilan  di  dunia  dan  di  akhirat  atau  dalam  lingkungan  mahkluk  dan  Tuhannya.  Selain  itu,  Islam  mengajarkan  kehidupan  dinamis  dan  progresif  menghargai  akal  pikiran  melalui  pengembangan  ilmu  pengetahuan  dan  teknologi,   bersikap   seimbang   dalam   memenuhi   kebutuhan   material dan spiritual, senantiasa mengembangkan kepedulian sosial,    menghagai    waktu,    bersikap    terbuka,    demokratis,    berorientasi pada kualitas, egaliter, kemitraan, anti feodalistik, mencintai kebersihan, mengutamakan persaudaraan, berakhlak mulia dan bersikap positif dalam semua kesempatan.
      Berdasarkan  pendapat  diatas,  maka  dapat  dikatakan  bahwa konseling Islam itu bertujuan untuk memulihkan klien agar  kembali  sehat  fisik  dan  mental  atau  sering  juga  disebut  dengan  istilah  sehat  jasmani  dan  rohani.  Menurut  Achmad  Mubarok  menyatakan  bahwa  dalam  bahasa  Indonesia  orang  mengenal dengan istilah sehat wal afiat. Kata afiat dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia dipersamakan dengan sehat dan kuat.Sehat itu sendiri diartikan sebagai keadaan baik segenab badan serta  bagian-bagiannya  yakni  bebas  dari  penyakit.  Sementara  itu   dalam   ilmu   kesehatan   dikenal   istilah   kesehatan   fisik, kesehatan mental dan kesehatan masyarakat (public health).
      Kesehatan  fisik  itu  dikaitkan  dengan  kondisi  daripada  raga  manusia  itu  sendiri,  dan  jiwa  dikaitkan  dengan  kondisi  mental  yang  merasakan  susah,  senang,  bahagia  dan  sengsara.Achmad  Mubarok  menyatakan  kesehatan  mental  dalam  Islam  berhubungan   dengan   konsep   kebahagian.   Al-Qur’an   dan   hadist  menyebut  kebahagian  dengan  berbagai  term,  seperti  an  najat  (keselamatan),    fauz  (kejayaan),  falah  (kemakmuran),  dan sa’adah  (kebahagian).  Jadi  bila  dikatakan  sehat  fisik  dan   mental   adalah   sehat   secara   ragawi   dan   rohani   atau   manusia  merasa  kebahagiaannya.  Kondisisi  inilah  yang  selalu  diinginkan  oleh  setiap  manusia,  sehingga  dalam  setiap  doa  ia  akan meminta “Ya Allah berikanlah kami kesejateraan didunia dan di akhirat dan jauhkanlah kami dari siksaan api neraka”.
      Pasca  konflik  dan  tsunami  di  dalam  masyarakat  Aceh  merasakan  berbagai  masalah  yang  merupakan  dampak  dari  peristiwa   tersebut,   yang   sangat   sulit   untuk   dihapaus   dari   ingatannya.   Sebagai   contoh   orang   yang   kehilangan   sanak   saudara    ketika    konflik    akan    menyimpan    dendam    yang    berkepanjangan   kepada   pelaku,   sedangkan   pasca   tsunami   orang akan merasa sedih. Kondisi ini harus dipulihkan melalui konseling  Islam  karena  dalam  layanan  konseling  ini  manusia  akan  dikembalikan  kepada  fitrahnya  yaitu  harus  disadarkan  bahwa kehidupan dimuka bumi ini tidak terlepas dari pantauan yang  Maha  Kuasa.  Dialah  yang  menentukan  pertemuan,  rezki  dan maut. Manusia tidak ada daya kecuali kembali kepadanya. Kalau  manusia  ingin  senang,  bahagia  maka  ia  akan  berusaha  sekuat  tenaga  sesuai  perintah-Nya.  Dan  bila  ia  merasa  sakit maka   manusia   itu   sendiri   yang   harus   mencari   obat   dan   penyelesaian. Allah hanya memberi apa yang manusia pinta.
      Oleh  karena  itu,  bagi  siapa  saja  yang  tidak  mengikuti  kecenderungan  dan  dorongan  fitrah  itu  di  dalam  dadanya,  maka  ia  akan  mendapatkan  banyak  kerugian  dan  kesusahan  baik dibumi dan dilangit, baik di dunia dan akhirat. Sebaliknya jika   kecenderngan   dan   dorngan   fitrah   tersebut   berhasil   membimbing    manusia    dalam    kehidupan    maka    ia    akan    mendapat   kesenangan,   kesejahteraan   dan   kebahagian   di   dunia dan akhirat. Dan itu menurut Abuddin nata merupakan hidayah  Islam  yang  mengandung  petunjuk-petunjuk  tentang  berbagai kehidupan manusia melalui sumber ajaran Al-Qur’an dan  Hadist  yang  amat  ideal  dan  agung,  karena  di  dalamnya  mengajarkan  kehidupan  yang  dinamis,  progresif,  menghargai  akal  pikiran,  melalui  pengembangan  ilmu  pengetahuan  dan  teknologi,   bersikap   seimbang   dalam   memenuhi   kebutuhan   material,  spiritual,  serta  mengembangkan  kepedulian  soaial,  menghargai   waktu,   terbuka,   demokratis,   berorientasi   pada   kualitas,    egaliter,    kemitraan,    anti    fiodalistik,    mencintai    kebersihan,   mengutamakan   persaudaraan,   berakhlak   mulia   serta sikap-sikap positif lainnya.
      Pemulihan  melalui  konseling  ini  adalah  ideal  dalam  penyelesaian berbagai persoalan hidup dan kehidupan manusia, karena ia merupakan aktifitas yang hidup dan diharapkan akan lahir  berbagai  perubahan  dan  perbaikan  melalui  penerapan  teknik-teknik konseling yang efektif yaitu teknik yang bersifat lahir  dan  teknik  yang  bersifat  bathin.  Pertama,  teknik  yang  bersifat lahir ini menggunakan alat yang dapat dilihat, didengar dan  dirasakan  oleh  klien  seperti  menggunakan  tangan  dan lisan.  Sentuhan  tangan  seperti  pijatan  pada  kepala,  leher  dan  pundak  pada  klien  akan  mengendorkan  otot-otot  yang  stress    dan  tegang.  Teknik  ini  disamping  dapat  meringankan  secara  fisik  juga  dapat  memberikan  sugesti  dan  keyakinan  awal  pada  klien  bahwa  tidak  ada  maslah  yangtidak  dapat  diselesaikan. 
      Selain itu, juga dapat dilakukan secara lisan seperti pembacaan do’a oleh konselor  sehingga  klien  dapat  mendengar  dengan  jelas,  dan  ini  akan  menenangkan  perasaannya.  Kedua,  teknik  yang  bersifat  bathin  yaitu  teknik  yang  dilakukan  dalam  hati  dan  ini  menurut  hadist  Rasulullah  adalah  selemah-selemah  iman.  Karena  sesungguhnya  teknik  ideal  konseling  itu  adalah  dilakukan    dengan    kekuatan,    keinginan,    usaha    sungguh-sungguh dan diwujudkan dengan nyata dengar perbuatan baik dengan  menggunakan  fungsi  tangan,  lisan  mahupun  sikap-sikap lainnya.



BAB III
METODE PENELITIAN
1.      Pendekatan Penelitian
      Dalam  pendekatan  ini  peneliti  menggunakan  penelitian  kualitatif, karena  data  dan  informasi  yang  peneliti  kumpulkan  lebih  banyak  bersifat keterangan-keterangan atau penjelasan yang bukan berbentuk angka.
      Penelitian  kualitatif  adalah  suatu  pendekatan  dalam  penelitian  yang bersifat  alamiah,  karena  orientasinya  demikian  maka  sifatnya  naturalistic dan mendasar atau kealamiahan serta tidak dapat dilakukan di laboratorium melainkan di lapangan. Penelitian kualitatif adalah sebagai prosedur yang menghasilkan data deskriptif  berupa  data  lisan  dari  orang-orang  dan  pelaku  yang  dapat  di amati. Selain   itu   peneliti   bermaksud   memahami   situasi   sosial   secara mendalam.
2.      Kehadiran Peneliti
      Peneliti sebagai orang yang melakukan observasi mengamati dengan cermat terhadap obyek penelitian.Untuk memperoleh data tentang penelitian ini, maka peneliti terjun langsung kelapangan atau tempat kejadian.Kehadiran  Peneliti  dalam  penelitian  berperan  sebagai  instrument kunci  yang langsung melibatkan diri dalam kehidupan subyek dalam waktu penelitian  yang  sudah  diterapkan  peneliti  untuk  memperoleh  data  sesuai dengan ciri penelitian kualitatif.
      Sebelum peneliti hadir di lapangan, peneliti memperoleh  izin  terlebih  dahulu  dari  pihak-pihak  atau  instansi-instansi terkait     yang     bertanggung     jawab     sesuai     dengan     prosedur   yang berlaku.Peneliti  hadir  sebagai  pewawancara  atau  pengumpul  data  tanpa mempengaruhi kehidupan subyek.
3.      Lokasi Penelitian
      Lokasi  penelitian  akan  di  laksanakan  di  Panti  Sosial  Marsudi  Putra Mataram,  yang  berlokasi  jln.  TGH  Saleh  Hambali  Bengkel  Lombok  Barat. Peneliti memilih lokasi ini karena ingin mengetahui cara penanganan trauma korban pelecehak seksual di PSMP Paramita Mataram.
      Namun   sebelum   melakukan   penelitian,   peneliti   terlebih   dahulu memasukan surat izin penelitian. Hal ini agar nantinya dalam melaksanakan penelitian,  data-data  yang  ingin  dikumpulkan  bisa  mendapat  bantuan  dari staf-staf  atau  pengurus  panti,  sehingga  penelitian  ini  diharapkan  dapat berjalan dengan lancar.

4.      Sumber Data
      Sumber data  dalam  penelitian  ini  adalah  Kepala  panti,  para  Peksos, Stap panti dan anak-anak yang mengalami masalah hukum dan lain-lain.
      Berhubung peneliti menggunakan penelitian  kualitatif maka peneliti diharuskan untuk melihat  secara  langsung  kejadian-kejadian  yang  terjadi di lapangan  guna  mendapatkan  informasi  dan  data  yang  valid.  Disini  peneliti berhubungan/kontak  langsung  dengan  semua  obyek  yang  akan  di  teliti  di PSMP Paramita Mataram.
      Dalam  penelitian  kualitatif,  agar  penelitiannya  dapat  betul-betul berkualitas,  data  yang  dikumpulkan  harus  lengkap,  yaitu  data  primer  dan data sekunder.
a.       Data   primer   adalah   data   dalam   bentuk   verbal   atau   kata-kata   yang diucapkan  secara  lisan,  gerak-gerik  atau  perilaku  yang  dilakukan  oleh subyek  yang  dapat dipercaya,  adalah  subyek  penelitian  (informan)  yang berkenaan dengan variable yang diteliti.
b.      Data sekunder adalah data yang diperoleh dari dokumen-dokumen grafis (table,   catatan,   notulen,   rapat,   SMS   dan   lain-lain),   foto-foto,   film, rekaman  video,  benda-benda dan  lain-lain  yang  dapat  memperkaya  data primer.

      Sedangkan   menurut   Moleong,   sumber   data   penelitian   kualitatif adalah tampilan yang berupa kata-kata lisan atau tertulis yang dicermati oleh peneliti,   dan   benda-benda   yang   diamati   sampai   detailnya   agar   dapat ditangkap makna  yang tersirat dalam dokumen atau bendanya. Sumber data tersebut  seharusnya  asli,  namun  apabila  yang  asli  susah  didapat,  fotokopi atau  tiruan  tidak  terlalu  menjadi  masalah,  selama  dapat  di  peroleh  bukti pengesahan yang kuat kedudukannya.
      Sumber data penelitian kualitatif yang sudah  disebutkan  tersebut  secara  garis  besar  dapat  dibedakan  menjadi  dua, yaitu  manusia  atau orang  dan  yang  bukan  manusia.  Siapa  manusia  dan  apa sumber   data   yang   bukan   manusia   dipilih   sesuai   dengan   kepentingan penelitian.
5.      Teknik Pengumpulan Data
      Proses pengumpulan data merupakan bagian terpenting dalam  suatu penelitian.  Begitu  pula  dalam  penelitian  ini,  peneliti  menggunakan  teknik relevan  dengan  jenis  penelitian  kualitatif.  Beberapa  teknik  yang  digunakan dalam penelitian ini yaitu:



a.       Teknik Observasi
            Observasi  merupakan  suatu  proses  yang  kompleks,  suatu  proses yang tersusun dari berbagai proses biologis dan psikologis. Dua diantara yang   terpenting   adalah   proses   pengamatan   dan   ingatan.  Dalam menggunakan   metode   observasi   cara   yang   paling   efektif   adalah melengkapi dengan format atau blangko pengamatan sebagai instrument. Format  yang disusun berisi  item-item tentang  kejadian atau tingkah laku yang digambarkan akan terjadi.
Secara umum observasi dapat dilakukan dengan cara yaitu:
1)      Observasi Partisipan
      Merupakan  suatu  proses  pengamatan  yang  dilakukan  oleh observer  (peneliti)  yang  secara  langsung  ikut  mengambil  bagian dalam kehidupan orang-orang yang akan diobservasi.
2)      Observasi Non Partisipan
      Merupakan  suatu  proses  pengamatan  observasi  tanpa  ikut dalam   kehidupan   orang   yang   diobservasi   dan   secara   terpisah berkedudukan sebagai pengamat.
b.      Teknik Wawancara
            Wawancara adalah percakapan dengan maksud tertentu. Percakapan  ini  dilakukan  oleh  dua  pihak,  yaitu  pewawancara (interviewer) yang     mengajukan     pertanyaan     dan     terwawancara (interviewee)  yang  memberikan  jawaban  atas  pertanyaan  itu.  Maksud mengadakan  wawancara,  seperti  ditegaskan  oleh  Linchon  dan  Gube, antara   lain:   Mengkonstruksi   mengenai   orang,   kejadian,   organisasi, perasaan,   motivasi,    tuntutan,   kepedulian    dan    lain-lain    kebulatan; merekonstruksi kebulatan-kebulatan demikian sebagai yang dialami masa lalu;  memperoyeksikan  kebulatan-kebulatan  sebagai  yang  diharapkan untuk  dialami  pada  masa  yang  akan  datang;  memverifikasi,  mengubah dan  memperluas  informasi  yang  diperoleh dari  orang  lain,  baik  manusia maupun  bukan  manusia  (triangulasi)  dan  memverifikasi,  mengubah  dan memperluas   konstruksi   yang   dikembangkan   oleh   peneliti   sebagai pengecekan anggota.
            Wawancara umumnya dapat dibedakan menjadi tiga macam yaitu wawancara  terstruktur,  semi  struktur  dan  tidak  terstruktur.Wawancara terstruktur  maksudnya  dimana  peneliti  membawa  pedoman  wawancara yang   sudah   disiapkan   sebelumnya   secara   tertulis,   wawancara   semi struktur   ini   bertujuan   untuk   menemukan   permasalahan   secara   tidak terbuka,  dimana  pihak  yang  di  wawancarai  dapat  diminta  pendapatnya, sedangkan  wawancara  tidak  terstruktur  artinya  dimana  peneliti  tidak mempersiapkan pertanyan sebelumnya.
c.       Teknik Dokumentasi
            Dokumentasi adalah peristiwa yang sudah berlalu. Dokumen biasa berbentuk  tulisan,  gambar  atau  karya-karya  monumental  dari  seseorang. Dokumen   yang   berbentuk   tulisan   misalnya   catatan   harian,   sejarah kehidupan, cerita,biografi, peraturan kebijakan.
            Jadi dokumentasi merupakan  laporan tertulis  dari  suatu peristiwa yang  isinya  terdiri  atas  penjelasan  dan  pikiran  terhadap  peristiwa  dan ditulis  dengan  sengaja  untuk  menyimpan  dan  meneruskan  keterangan mengenai   peristiwa   tersebut.Data   yang   peneliti   ambil   dari   teknik dokumentasi  ini  adalah  gambaran  umum  tentang  Panti  Sosial  Marsudi Putra  Paramita  Mataram  dan  dokumentasi  atau  arsip  yang  berkaitan dengan Panti Sosia
6.      Teknik Analisis Data
a.       Analisa Data
            Analisa   data   adalah   proses   mencari   dan   menyusun   secara sistematis  data  yang  diperoleh  dari  hasil  wawancara,  catatan  lapangan dan dokumentasi dengan cara mengorganisasikan data ke dalam kategori, menyusun  kedalam  pola,  memilih  mana  yang  penting  dan  yang  akan  di pelajari, sehingga mudah di pahami oleh diri sendiri dan orang lain.
            Dalam  hal  ini,  penelitian  yang  di  lakukan  memiliki  hubungan yang  erat  antara  teori  bimbingan  yang  dilakukan  di  lembaga  PSMP Paramita   Mataram.   Menurut   teori   bimbingan   bahwa   pada   proses pembimbingan  itu  memiliki  konsep  yang  sama  dengan  bimbingan  yang dilakukan oleh lembaga PSMP Paramita Mataram. Dalam beberapa teori bahwa  anak  di  anggap  sebagai  manusia  dewasa  dengan  ukuran  kecil. Maka perlakuan  yang di berikan, harapan, tuntutan, serta sikap, terhadap anak  sama  seperti  orang  dewasa,  hanya  saja  masih  dalam  bentuk  yang lebih  sederhana  dan  dalam  taraf  pertumbuhan.  Sedangkan  bimbingan yang ada di lembaga PSMP Paramita Mataram memberikan pembibingan melalui pelatihan dan keterampilan.
            Dengan demikian, konsep antara teori dengan konsep yang ada di lembaga PSMP Paramita Mataram memiliki kesamaan pandangan terkait dengan  bimbingan  anak  secara  umum  dan  khususnya  sehingga  dalam penelitian ini dapat di simpulkan bahwa antara teori dan bimbingan yang ada di lembaga memiliki kesamaan dari segi pembimbinganya.
b.      Verifikasi Data
            Dari temuan-temuan di  lapangan, setelah di lakukan reduksi data atau  pemilihan  terhadap    masalah  yang  dianggap  penting,  maka  peneliti melakukan  verifikasi  untuk  memberikan  kesimpulan  atau  jawaban    dari rumusan  masalah  yang  pernah  diajukan  sebelumnya.  Tujuannya  adalah untuk    memperjelas    sasaran    tujuan    penelitian,    sehingga    peneliti merencanakan  untuk  merumuskan  jawaban  dari  hasil  pertanyaan  yang telah  diajukan  sebelumnya  melalui  verifikasi  data.Adapun  tahapannya adalah  merumuskan  data  yang  di  peroleh,  memilih  data  penting  sesuai dengan   kebutuhan,   dan   menganalisa   data   yang   diperoleh   melalui wawancara, observasi dan dokumentasi.
7.      Validasi Data
      Keabsahan  data  merupakan  konsep  penting  yang  di  perbaharui  dari konsep   keaslian   (validas). Dalam   hal   ini,   peneliti   harus   konsisten mengiterpetasikan  dengan  berbagai  acara  dalam  kaitanya  dengan  proses analisis  yang  konstan.Dalam  hal  ini,  peneliti  akan  melakukan  tindakan berupa   analisisa   keaslian   data   yang   di   peroleh   pada   saat   penelitian berlangsung  dan  bersifat  relevan  dari  masalah  yang  akan  di  teliti.  Oleh karena itu, peneliti hendak melakukan pengamatan  yang berkesinambungan terhadap  factor-faktor  yang  menonjol  untuk  memperoleh  data  yang  valid melalui wawancara observasi dalam penelitian ini.sehingga dalam penelitian ini   peneliti   membutuhkan   dokumen-dokumen   untuk   memperoleh   data terkait dengan judul penelitian.











DESKRIPSI PENELITIAN
 SEORANG REMAJA PSMP SEBAGAI KORBAN PEMERKOSAAN DI MATARAM
1.      Langkah – Langkah Penanganan
a.       Metode Penanganan
            Anak  penerima  mamfaat  sebagai  seorang  individu  yang  berada  dalam masa  pemulihan  (rehabilitas)  dan  perkembangan    kearah  kematangan  atau kemandirian.  untuk  mencapai  kematangan  tersebut  atau  penerima  manfaat memerlukan   bimbingan   karena   mereka   masih   memiliki   pemahaman   atau wawasan tentang dirinya dan lingkungan. Di samping itu terdapat keniscayaan, bahwa  proses  perkembangan  anak  asuh  tidak  berjalan  mulus  atau  bebas  dari masalah.
            Perkembangan  anak  penerima  mamfaat  tidak  terlepas  dari  pengaruh lingkungan         baik   fisik,psikis   maupun   sosial.   Sifat   yang   melekat   pada lingkungan  adalah  perubahan-perubahan  yang  terjadi  dalam  lingkungan  dapat memengaruhi gaya hidup (life style).
            Peran para pengasuh PSMP Paramita Mataram adalah sebagai pendidik yaitu  merencanakan  yaitu  strategi  dalam  mendidik  atau  membimbing  anak penerima  mamfaat.Para  pengasuh  berperan  dalam  mengarahkan  anak  asuh untuk   melakukan   kegiatan   sehari-harinya   dengan   penuh   antusias   demi tercapainya tujuan pendidikan. Kegiatan bimbingan dan konseling Islam di sini bertanggung jawab atas apapun  yang  berkaitan  dengan  bimbingan  konseling  islam.  sebagai  seorang pengasuh  atau  pembimbing  mempunyai  hak  untuk  mengambil  kebijakan-kebijakan dalam memberikan bimbingan konseling Islam dalam mengembangkan   perilaku   beragama   anak   penerima   mamfaat   di   PSMP Paramita Mataram.
            Strategi bimbingan konseling islam yang di terapkan di PSMP Paramita Mataram  adalah  suatun  proses  dimana  seorang  pengasuh  bimbingan  memiliki peran  aktif  dalam  mengembangan  perilaku  anak  penerima  mamfaat  di  PSMP Paramita Mataram.
            PSMP Paramita Mataram sebagai sebuah panti sosial  yang menampung anak dengan    katagori khusus. tentunya mempunyai  kewajiban untuk memberikan bimbingan kepada  anak  penerima  manfaat.  terutama bimbingan agama sebagai pemegang utama tanggung   jawab  dalam mengembangkan perilaku beragama anak penerima mamfaat memiliki tugas yang sangat besar.




1.      Bimbingan Agama
            Bimbingan agama yang ada di PSMP Paramita Mataram adalah lebih menekankan  kepada  pendidikan  agama  Islam,  dimana  pendidikan  agama Islam  adalah  bertujuan  untuk  mengajarkan  ajaran-ajaran  maupun  nilai-nilai kebaikan  yang  ada  di  dalam  Islam  dan  bagaimanapun  akan  memberikan pengaruh  pada  perubahan  perilaku  atau  sikap  keagamaan  anak  penerima manfaat. Karna  bimbingan agama memiliki peran  yang  paling central dalam hal  membimbing  pribadi  anak  penerima  mamfaat.  Dalam  ajaran  agama Islam   membimbing   manusia   secara   umumnya   untuk  bagaimana   hidup dengan  baik  dan  sesuai dengan  apa  yang  telah  diperintahkan  oleh  Allah SWT. Dengan  demikian    pihak  pengelola  atau  Pembina  dan  pembiming  di PSMP Paramita Mataran sangat mekankan dalam hal  bimbingan Agama.
            Berikut   adalah   langkah-langah   yang   dilakukan   PSMP   Paramita Mataram dalam bimbingan agama Islam anak penerima manfaat.
a.       Mengadakan Pengajian di Lingkungan Panti
      Mengadakan   pengajian    yang   dimaksud   adalah   suatu   proses bimbingan   terhadapa   anak   penerima   mamfaat   melalui   pendekatan pendidikan  Agama  Islam  yang  disampaikan  secara  langsung  di  hadapan anak  penerima  mamfat.  Serta  memberikan  nasehat  dan  petunjuk  kepada mereka dengan tujuan anak penerima mamfaat bisa mengendalikan sikap, tingkah laku serta hal-hal yang bertentangan dengan ajaran Islam.
      Pemberian  bimbingan  pengajian  atau  ceramah  dilaksanakan  1  kali dalam  seminggu  yakni  hari  jumat  atau  setelah  Sholat  magrib  yang  di lakukan di Musholla.Yang bertema sbb:
1)      Bimbingan tata cara bersuci misalkan membersihkan dari hadas.
2)      Bimbingan bagaimana berprilaku terpuji.
      Bimbingan  pengajian  ini  yang  diberikan  kepada  anak  penerima manfaat   dapat   menyirami   perasaan   jiwa   anak   kepada   Allah   SWT sehinngga  jiwa  keaagamaan  mereka  dapat  tumbuh  dan  berkembang. Sehingga   ia   mampu   mencapai   tingkat   kejiwaan   atau   mental   yang sempurna  yaitu  yang  mampu  mentaati  segala  apa  yang  di  perintahkan dan  menjauhi  diri  dari  apa  yang  di  larang  oleh  allah  SWT,  serta  tabah dalam ujian dan cobaanya sehingga dengan kecerdasan ini akan terhindar dari sikap menyekutukan Allah  SWT (syrik). Sikap menganggap remeh hukum-hukum-Nya  atau  sikap  untuk  menunda  diri  untuk  melakukaan kebaikan  dan  kebenaran  (fisiq).Sikap  melanggar  hukum  Allah  SWT (zhalim).
      Pemberian  bimbingan  pengajian  tersebut  memang  sangat  penting untuk diterapakan kepada anak penerima mamfaat, karena mereka berada dalam  proses  rehabilitasi  dan  jauh  dari  keluarganya  dan  mudah  timbul putus asa, kepercayaan diri hilang,  dan kurang dapat menguasai perasaan dalam   dirinya.   Sehingga   dengan   memberikan   nasihat-nasihat   dan bimbingan  ceramah  kepada  anak  penerima  mamfaat  diharapkan  sedikit demi sedikit dapat menghilangkan perasaan perasaan tersebut.
      Hal   ini   yang   di   lakukan   di   PSMP   Paramita   Mataram   dalam bimbingan  agama  anak  penerima  mamfaat  dan  kegiatan  ini  sangat  perlu di   terapkan   kepada   anak   penerima   mamfaat   agar   mereka   selalu mendekatkan diri kepada Allah SWT.
b.      Tuntunan  Sholat Berjamaah
      Salah  satu  hal  penting  dalam  Islam  adalah  shalat  karena  shalat adalah tiang agama  yang harus dilaksanakan oleh seorang muslim dalam keadaan  apapun  begitu  pula  dengan  anak  penerima  mamfaat  cara  di gunakan   oleh   pengasuh   adalah   biasanya   dengan   rutin   mengabsen kegiatan  solat  berjamaah  pada  setiap  waktunya  dan  di  ajarkan  tata  cara sebagai berikut :
1)      Tata cara berwudhu
2)      Bacaan-bacaan dalam solat
3)      Gerak-gerak dalam solat
            Hasbi  As-sieddiqy  sebagaimana  yang  dikutif  oleh  Ahad  Azhar hasil  yang  dapat  dari  pelaksanaan  pendidikan    ibadah  ialah  di  peroleh suatu  kemaslahatan    bagi  sesama  manusia. Pemberian  tentang  ibadah sangat  di  perlukan  oleh  samua  anak  penerim  mamfaat  karena  anak penerima    mamfaat    membutuhkan    sentuhan    dari    semua    aspek keberagamaan  terutama  yang  paling  dasar.  Bimbingan  ibadah  adalah segala  amal  kebajikan  yang  dikerjakan  dengan  ikhlas  semata-semata demi mencapai keridhoan Allah SWT.
            Bimbingan  tuntunan  Sholat  berjamaah  yang  di  berikan  di  PSMP Paramita Mataram biasanya di gabung  juga dengan bimbingan pengajian atau   ceramah   karena   pemberi   materi   atau   pengajianya   sangat   erat kaitanya  dengan  ibadah.karena  ibadah  adalah  bentuk  hubungan  yang  di lakukan manusia dengan peciptanya.
            Dengan   kata   lain  supaya  anak  asuh  atau  penerima  mamfaat menjadikan     Sholat     sebagai     mediator     untuk     mengatasi     segala permasalahan  manusia  sehari-sehari  yang  berhubungan  dengan  psikis  , karena  shalat  merupakan  kewajiban  pribadahan  (formal)  yang  paling penting dalam system keagamaan Islam.
            Yang  di  maksud  bimbingan  Sholat  yang  diterapkan  di  PSMP Paramita   Mataram   adalah   tidak   hanya   sekedar   membimbing   anak penerima  manfaat  Sholat  berjamaah  dan  menyuruh  mereka  kemusholla saja,  tanpa  adanya  penghayatan  atau  berdampak  sama  sekali  dalam kehidupan  mereka    akan  tetapi  anak-anak  tetapi  anak-anak  penerima mamfaat  di  bina  agar  mengerjakan  shalat-shalat  fardu  yang  didirikan dengan  khusus  yakni  shalat  yang  nantinya  akan  berimplikasi  terhadap mereka yang melaksanakanya.
2.      Bimbingan Individu
            Layanan  bimbingan  konseling  individu  di  lakukan  dengan  tujuan agar   anak/korban   lebih   mudah   memahami   dirinya   dan   lebih   cepat megembangkan  sifat  dan  perilaku  yang  baik  di  lingkungan,  dan  mamfu menyelesaikan  masalahnya  sekaligus  menerima  diri  apa  adanya.  Adapun kegian  dalam  konseling  individu  yaitu  tahap  konseling  individu  yang  di lakukan oleh pihak konselor di PSMP Paramita Mataram sebagai berikut:
a.       Konseling tahap awal
1)      Melakukan pendekatan terlebih dahulu
2)      Membangun hubungan yang baik terhadap klien
3)      Mengumpulkan  data  dan  imformasi  terkait  dengan  latar  belakang korban melalui proses wawancara konseling
4)      Membuat penjajakan bantuan  alternatif dalam mengatasi masalah
5)      Indeftifikasi masalah korban
b.      Konseling tahap pertengahan Adapun   tahap   pertengahan   dalam   proses   konseling   individu sebagai berikut
1)      Konselor  berusaha untuk  memahami latar  belakang,  harapan,  dan motivasi korban
2)      Konselor   mulai   membantu   korban   mengeplorasi   perasaan   lebih mendalam terkait dengan perilaku yang menganggunya.
3)      Menentukan konseling individu secara bersama
4)      Konselor dan korban mulai menyepakati tujuan dari konseling individu secara   bersama sehingga ini akan mengarahkan pada problem solving dan kebutuhan korban.
c.       Konseling tahap akhir
      Pada  tahap  akhir  konseling  individu  yang  telah  di  lakukan  oleh konselor kepada korban di tandai dengan beberapa hal berikut.
1)      Adanya tujuan hidup yang lebih jelas di masa yang akan datang
2)      Terjadinya  perubahan  sikap  yang  lebih  fositif  terhadap  masalah  yang di hadapinya atau dapat menialai dan mengoreksi diri sendiri
3)      Konselor  dan  korban  berjanji  untuk  melakukan  perubahan  terhadap diriya kea rah yang lebih baik 
4)      Konselor mengakhiri sesi konseling individu dengan korban.
            Dengan   demikian   dapat   disimpulkan   bahwa,   upaya  yang dilakukan  oleh  konselor  ketika  melakukan  konseling  individu  adalah untuk  memberikan  rehabilitasi  penyembuhan  psikologis/mental  yang  di alami oleh korban di masa lalunya agar menjadi pribadi yang lebih baik yang  penuh  dengan  kecerian  seperti  sedia  kala.  Seperti  yang  dijelaskan oleh   salah   satu   konselor  PSMP  Paramita  Mataram  adalah  Sebagai Seorang  konselor  kita  harus  bisa  memberikan  perlakuan  yang  sesuai dengan  permasalahan  yang  dialami  oleh  korban,  agar  korban  merasa di bantu  dengan  keberadaan  kita  sebagai  konselor  ditengah  permasalahan yang dialaminya.
3.      Bimbingan kelompok
a.       Bimbingan psikologi 
      Berdasarkan   hasil   yang   peneliti   temukan   dilapangan,   kenapa konselor   yang   ada   di   Paramita   menggunakan   bimbingan   kelompok karena,  ada  beberapa  hal  yang  harus  di  pelajari  oleh  para  korban  ketika mengikuti  kegiatan  bimbingan  kelompok,  supaya  konselor  mengetahui jugga  keadaan  psikisn  pada  anak  penerima  mamfaat  seperti  bimbingan belajar   di   kelas.   Upaya    konselor   dalam   memberikan   bimbingan kelompok dapat di jelaskan di bawah ini sebagai berikut: 

1)      Bimbingan Belajar Di Kelas
            Bimbingan  belajar  di  kelas  ini  merupakan  kegiatan  konselor atau  pembimbing  di  PSMP  Paramita  Mataram  dalam  memberikan ilmu  pengetahuan  sekaligus  memberikan  edukasi  pemahaman  kepada korban penerima manfaat tentang berbagai macam gejala-gejala  yang biasa  terjadi  di  masa  perkembangan  remaja  pada  umumnya.  Kembali kepada teori, upaya konselor dalam memberikan bimbingan belajar di kelas  ini  biasanya  tidak  begitu  menarik  bagi  para  korban  yang  masih berada  di  usia  belasan  tahun,  akan  tetapi  kegiatan  bimbingan  belajar ini  akan  menjadi  menarik  ketika  konselor  mampu mengkemas  materi yang  disampaikannya  menjadi  suatu  hal  yang  sangat  menarik  bagi mereka.
            Seperti  yang  di  jelaskan  oleh  psikolog  Paramita  melalui  hasil wawancara  peneliti  Dengan  Dwi  Kurmalla,  bahwa  dengan  adanya kegiatan   belajar   di   kelas,   setidaknya   korban   penerima   manfaat mengetahui atau memahami gejala-gejala apa saja yang sering muncul terhadap  dirinya  dan  itu  sangat  mengganggu  bagi  kesehatan  mental dalam kehidupan sehari-hari.      Dalam proses belajar dikelas, pemberian materi psikologi yang sesuai   dengan   usia   mereka   justru   banyak   diminati   oleh   korban sehingga  akan  mempercepat  proses  rehabilitasi  penyembuhan  bagi para   korban   di   PSMP   Paramita   Mataram.   Karena   saking   sering diberikan  materi  tentang  perkembangan  remaja  yang  sesuai  dengan permasalahannya,  lama-kelamaan  mereka  akan  terdoktrin  dan  ingin menceritakan   masalahnya   kepada   konselor,   sehingga   ini   akan mempermudah  konselor  dalam  mengetahui  kebutuhan  para  korban dalam proses penyembuhan atau rehabilitasi.
4.      Bimbingan Fisik
            Bimbingan fisik adalah serangkaian kegiatan dalam rangka menjaga, merawat  dan  meningkatkan  kesehatan,  ketahanan  dan  kemantangan  fisik atau  jasmani  .penerima  yang  dapat  mendukung  kemampuan  mereka  dalam mengikuti pelayanan pembinaan sosial. Adapun  proses    kegiatan-kegiatan  bimbingan  fisik  ini  dimaksudkan untuk  menumbuhkan  dan  memelihara  perkembangan  fisik  dan  kesehatan jasmani anak secara aktif yaitu diaantaranya adalah melalui: 



a.       Bimbingan Fisik dan Olah Raga.
      Bimbingan  ini  bertujan  untuk  menjaga  fisik  sehingga  mampu mengikuti kegiatan di Panti.
b.      Bimbingan Kesehatan Pribadi dan Lingkungan, Kegiatan Ini Bertujuan:
1)      Memahami    dan    memperhatikan    diri    sendiri    dan    kebersihan lingkungan.
2)      Memahami cara menjaga kesehatan pribadinya.
c.       Senam Setiap Hari Senin dan Jum’at
      Kegiatan   senam   ini   dilakukan   khusus   untuk   anak   penerima manfaat  yang  diberikan  oleh  pembina  dengan  cara  senam  ringan  dan senam ibu hamil.        Dalam   hal   ini   bimbingan   fisik   di   maksudkan   sebagai   upaya memberikan  pembinaan  fisik  secara  berkelanjutan  dan  terarah.  Hal  ini relevan dengan pendapat  dengan pendapat Tohirin mengatakan bahwa Bimbingan  fisik di perlukan dalam rangka mengembangkan  kondisi fisik seseorang yang di lakukan melalui kegiatan olahraga.
      Dengan bentuk bimbingan   fisik   ini   diharapkan   semua   anak   penerima   manfaat   dapat mendapatkan  manfaat  berupa  kesehatan  dan  kebugaran  sehingga  dapat mengikuti segala proses pembimbingan yang diberikan.
5.      Bimbingan sosial
            Bimbingan  sosial  adalah  bimbingan  yang  bertujuan  untuk  membantu  anak mengatasi  kesulitanya  dalam  bidang  sosial  bentuk  bimbingan informasi  cara  bergaul  agar  di  senangi  oleh  teman-teman  dan  sekolompok masyarakat. Dari  hasil penelitian di lapangan peneliti juga menemukan beberapa langkah  dan  cara-cara  dalam  bimbingan  sosial  yang  dilakukan  oleh  para pembina sebagai berikut :
a.       Menonton film tentang  motivasi untuk proses bimbingan psikososial
      Cara   ini   dilakukan   agar   para   anak   penerima   manfaat   dapat mengambil  pelajaran  motivasi  dan  lebih  semangat  lagi  dalam  mejalani kehidupan di masyarakt dan bisa berinteraksi dengan baik
      Adapun   mamfaat   dalam   proses   pemberian   bimbingan   sosial melalui media masa sebagai berikut:
1)      Agar  anak  terbuka  mata  hatinya  ketika  menonton  orang  yang  jauh  di katakana sempurna dariya.
2)      Supaya anak juga bisa melihat maslah yang nimpanya lebih ringan di bandingkan orang orang yang di tontonya supaya anak tersebut sedikit demi sedikit melupakan kejadian yang pernah menimpa dirinya.
b.      Informasi cara bergaul dan beriteraksi di lingkungan panti Bimbingan  ini salah  satu langkah  yang di  gunakan oleh pembina yang tujuan dan mamfaatnya sebagai berikut.
1)      Pembina  memberikan  pengajaran  dan  bimbingan  bagaimana   cara berinteraksi di lingkungan panti sesama anak penerima manfaat.sehingga   kemudian Manfaat   yang   nantinya   dapat  di peroleh untuk anak penerima mamfaat  adalah dan dapat berinteraksi sesame anak penerima mamfaat di lingkungan panti.
2)      Untuk  menanamkan  nilai  nilai  sosial  bermasyarakat  seperti  sikap saling  membantu  sesama  terlebih  lebih  nantinya  bisa  bermamfaat  di dalam kehidupan sosial bermasyarakat.
            Jadi   bimbingan   sosial   yang   dimaksudkan   untuk   memberikan sebagai  bentuk  kegiatan  pelayanan  yang  dilakukan  untuk  membantu penerima  mamfaat  baik  indiviu  maupun  kelompok  dalam  meningkatkan kemampuanya   untuk   memenuhi   kebutuhahan,   memecahkan   masalah serta   menjalin  dan  mengendalikanhubungan-hubungan  sosial  mereka dalam lingkungan sosial mereka.
            Selain  itu  pekerja  sosial  membina  anak  melalui  psikososialnya yakni  jiwa sosialnya bagaimana menghargai satu sama lain, menjaga tali silaturahmi, dan hubungan baik antara sesame manusia.
6.      Bimbingan Keterampilan 
            Bimbingan    keterampilan    di    maksudkan    untuk    memberikan pelayanan   yang   ditunjukan   untuk   mengembangkan   pengetahuan   dan kemampuan   penerima   mamfaat   dan   ketrampilan   kerja   sebagai   bekal kehidupan  di  masyarakat.  Adapun  bentuk  bentuk  kegiatan  yang  di  berikan untuk anak penerima mamfaat sebagai berikut:
1)      Bimbingan membuat rak sepatu
2)      Bimbingan menjahit
3)      Bimbingan membuat telur asin dan aneka cemilan
      Dengan diberikan bimbingan keterampilan maka psikolog, peksosnya dan    pegawai yang ada  di  PSMP  Paramita Mataram mengharapkan  remaja-remaja  yang  melakukan  pelanggaran  bisa  berubah menjai lebih baik, bermamfaat bagi dirinya maupun orang lain.
      Sesuai  dengan  pengertian  bimbingan  dan  konseling  yakni  sebagai upaya  membentuk  perkembangan  kepribadian  siswa  secara  optimal-secara umum,layanan bimbingan dan konseling di sekolah harus dilakukan dengan pengembangan  sumber  daya  manusia.  Upaya  bimbingan  dan  konsseling kemungkinan   siswa   mengenal   dan   menerima   diri   serta   mengenal   dan menerima  lingkungan  secara  fositif  serta  dinamis  serta  mampu  mengambil keputusan,  mengamalkan  dan  mewujudkan  diri  sendiri  serta  efektif  dan produktif  sesuai  dengan  peranan  yang  di  inginkan  di  masa  depan.  Secara lebih  khusus,  kawasan  bimbingan  dan  konseling  yang  mencakup  seluruh upaya  tersebut  meliputi  bimbingan  pribadi,  bimbingan  sosial,  bimbingan belajar,  bimbingan  karir,  dan  dalam  perkembangan  juga  dalam  bimbingan kehidupan beragama dan bekeluarga.
E.     Kondisi Psikis Korban Pemerkosaan
      Bentuk kekerasan terhadap perempuan bukan hanya kekerasan secara fisik, akan tetapi   dapat   juga   meliputi   kekerasan   terhadap   perasaan   atau   psikologis,  kekerasan ekonomi, dan juga kekerasan seksual. Hal ini sesuai dengan pendapat Hayati (2000) yang mengatakan  bahwa  kekerasan  pada  dasarnya  adalah  semua  bentuk  perilaku,  baik  verbal  maupun  non-verbal,  yang  dilakukan  oleh  seseorang  atau  sekelompok  orang,  terhadap seseorang  atau  sekelompok  orang  lainnya,  sehingga  menyebabkan  efek  negatif  secara  fisik, emosional, dan psikologis terhadap orang yang menjadi sasarannya.
      Pada   kasus   perkosaan,   setiap   orang   dapat   menjadi   pelaku   perkosaan   tanpa mengenal  usia,  status,  pangkat,  pendidikan,  dan  jabatan.  Hal  ini  senada  dengan  hasil  penelitian  dari  Abar  &  Subardjono  (1998),  yang  mengatakan  bahwa  berdasarkan  data  usia  pelaku  tindak  kejahatan  perkosaan,  dapat  dikatakan  bahwa  pelaku  perkosaan sesungguhnya  tidak  mengenal  batas  usia.  Selama  individu  masih  mempunyai  daya seksual,   dari   anak-anak   hingga kakek-kakek   masih   sangat   mungkin   untuk   dapat melakukan tindak kejahatan perkosaan. Demikian pula dengan korban. Setiap perempuan dapat menjadi korban dari kasus perkosaan tanpa mengenal usia, kedudukan, pendidikan, dan status.
      Pendapat   tersebut   senada   dengan   pengamatan   dari   Rita   Serena   Kalibonso (Kompas,  1993),  berdasarkan  data  kasus  yang  masuk  ke  kantor  LBH  Jakarta,  yang mengatakan  bahwa  pelaku  bukan  hanya  tetangga  korban  melainkan  juga  ayah  tiri,  anak  majikan,  majikan,  teman  dekat,  dan  juga  saudara.  Sementara  korban  ada  yang  memiliki  profesi  sebagai  karyawan,  ibu  rumah  tangga,  pembantu  rumah  tangga,  anak-anak  di  bawah  umur,  bahkan  anak  sekolah  luar  biasa. memiliki  profesi  sebagai  karyawan,  ibu  rumah  tangga,  pembantu  rumah  tangga,  anak-anak  di  bawah  umur,  bahkan  anak  sekolah  luar  biasa.
      Sama seperti halnya kasus yang dialami oleh remaja ini yang ditampung di PSMP Mataram , dia mendapatkan

Komentar

Postingan populer dari blog ini

YASMIN HERINA

Tsaniyah Rohmatil Maulah

Yasinta Rokhmal Fauzia