UMI RAHMAWATI


Nama : Umi Rahmawati
NIM : B93218176
Kelas : B5/ Semester 2

“Bimbingan Konseling Islam Dengan Terapi Realitas Dalam Mengatasi Perasaan Bersalah (Studi Kasus Seorang Remaja Yang Membunuh Bayinya Di Banjarsugihan Tandes Surabaya)”

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Pembunuhan anak merupakan  kejahtan besar, penyimpangan norma dan bentuk dari  pelanggaran HAM. Mayoritas pembunuhan anak dilakukan oleh beberapa keluarga berdasarkan alasan ekonomi, atau bahkan gara-gara hamil diluar nikah. Peristiwa pembunuhan bayi di Tandes SBY, terlaj terungkap bahwa ibu kandung sang anak adalah seorang remaja yang masih duduk dibangku SMP tingkat akhir. 
Setelah kasus pembunuhan tersebut terungkap ternyata pelakunya masih muda dan masih dibawah umur, secara tidak langsung pelaku mengalami tekanan dan depersi yang luar biasa. Dari sinilah peran bimbingan dan konseling islam untuk membantu mengatasi perasaan bersalah dari si pelaku dengan terapi realitas. Tujuannya agar si pelaku tidak terlalu terjerumus kedalam rasa bersalahnya dan memiliki semangat untuk memulai aktifitasnya lagi seperti sediakala. 
B. Objek Kajian.
Objek kajiannya adalah seorang remaja berusia 15 tahun yang mengalami rasa bersalah karena telah membunuh bayinya. Dia merupakan korban dari ulah pacarnya yang meghamilinya tanpa tanggung jawab dan korban merupakan siswa disalah satu siswa kelas tiga di SMP. Lokasi kejadian di desa Banjarsugihan Tandes Surabaya. 
C. Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah dalam penelitian ini adalah : 
1.  Bagaimana dampak perasaan bersalah seorang remaja yang membunuh bayinya di Banjarsugihan Tandas Surabaya
2.  Bagaimana proses pelaksanaan Bimbingan Konseling Islam dengan terapi realitas .
3.  Bagaimana hasil pelaksanaan Bimbingan Konseling Islam dengan terapi realitas
D. Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah diatas maka diambil tujuan penelitiannya adalah: 
1.  Untuk mengetahui dampak perasaan bersalah seorang remaja yang membunuh bayinya di Banjarsugihan Tandes Surabaya. 
2.  Untuk mengetahui proses pelaksanaan Bimbingan Konseling Islam dengan terapi realitas dalam mengatasiperasaan bersalah seorang remaja yang membunuh bayinya di Banjarsugihan Tandes Surabaya. 
3.  Untuk mengetahui hasil pelaksanaan Bimbingan Konseling Islam dengan terapi realitas dalam mengatasi perasaan bersalah seorang remaja yang membunuh bayinya di Banjarsugihan Tandes Surabaya.
E. Kontribusi
1.  Secara teoritis 
a. Memberikan sumber informasi dalam rangka pengembangan ilmu dakwah melalui Bimbingan Konseling Islam. 
b. Memberikan pengetahuan serta wawasan bagi peneliti mengenai perasaan bersalah seseorang yang memiliki permasalahan sehingga berdampak pada kehidupannya. 
2.  Secara praktis 
a.  Sebagai bahan masukan, informasi dan acuan bagi penerapan konseling. 
b.  Sebagai sumbangan pemikiran bagi peningkatan kompetensi konselor 
untuk melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya dengan baik.
F. Tesis Statement
Pembunuhan bayi adalah pelanggaran atau kejahatan yang berat. Seseorang yang tertimpa kasus pembuhan bayi dapat terjerat huku, selain terjerat hukum pelaku juga akan mengalami bebrapa masalah dalam kehidupan bermasyarakat. Salah satu damak psikologis dari masalah ini adalah munculnya perasaan bersalah dan menyesal. Secara tidak langsung perasaan ini dapat membuat seseorang berada dalam keadaan yang sangat terpuruk dan tidak memiliki semangat hidup. Di padang dari sudut bimbingan dan konseling islam, persaan bersalah tersebut dapat diatasi dengan terapi relasasi. Dengan adanya terapi ini diharapkan pelaku dapat mengembalikan semangat hidupnya dan mengobati perasaan bersalahnya.
G. Paradigma.
dengan Bimbingan Konseling Islam dengan terapi realitas dalam mengatasi perasaan bersalah disini adalah proses pemberian bantuan yang diberikan oleh konselor kepada konseli dengan menggunakan pendekatan terapi realitas dalam upaya memberikan penyadaran terhadap konseli dalam mengadapi kenyataan agar konseli mampu bersikap dan perfikir secara realistis dan mampu bertanggung jawab, sehingga pada akhirnya konseli tidak selalu diselimuti perasaan bersalah.
H. Analisis Teori.
Terapi realitas adalah sebuah metode konseling dan psikoterapi perilaku-kognitif yang sangat berfokus dan interaktif, dan merupakan salah satu yang telah diterapkan dengan sukses dalam berbagai macam lingkup.Karena fokusnya pada problem kehidupan saat ini yang dirasakan konseli (realitas terbaru konseli) dan penggunaan teknik mengajukan pengajuan pertanyaan oleh terapis relitas, terapi relitas terbukti sangat efektif dalam jangka pendek, meskipun tidak terbatas pada itu saja.
Pendekatan realitas dikembangkan oleh William Glasser, seorang psikolog dari California. Glasser menggunakan istilah reality therapy pada April 1964 pada manuskrip yang berjudul reality therapy : A Realistic Approach to the Young Offender. Tulisan tersebut diterbitkan pada tahun 1965 dengan judul Reality Therapy. Pada tahun 1968 Glasser mendirikan  the Institute for Reality Therapy di Los Angeles.
Dalam pendekatan ini, konselor bertindak aktif, direktif, dan didaktik. Konselor berperan sebagai guru dan sebagai model bagi konseling.disamping itu konselor juga membuat kontrak dengan konseli untuk mengubah perilakunya. Ciri yang sangat khas dari pendekatan ini adalah tidak terpaku pada kejadian-kejadian di masa lalu, tetapi lebih mendorong konseli untuk menghadapi realitas. Pendekatan ini juga tidak memberi perhatian pada motif-motif bawah sadar sebagaimana pandangan kaum psikoanalis. Akan tetapi, lebih menekankan pada pengubahan tingkah laku yang lebih bertanggung jawab dengan merencanakan dan melakukan tindakan-tindakan tersebut.
I. Sistematika Pembahasan
Untuk mempermudah dalam pembahasan dan penyusunan skripsi ini,  maka peneliti akan menyajikan pembahasan ke dalam beberapa bab yang sistematika pembahasannya adalah sebagai berikut: 
1. Bab Pertama: Dalam bab ini berisi Pendahuluan yang meliputi : Latar Belakang, Rumusan Masalah, Tujuan Penelitian, Manfaat Penelitian, Kontribusi penelitian, Tesis Statement, Paradigma, Analisis Teori, Sistematika Pembahasan.
2. Bab Kedua: Dalam bab ini membahas tentang Upaya Penanganan Remaja menghirup lem fox dalam Bimbingan Konseling Islam. 
a. Penanganan Trauma Remaja
b. Kondisi Psikis Korban Penghirup Lem fox
c. Langkah trauma Bimbingan Konseling Islam
d. Indikator Pemulihan Psikis Traumatik
3. Bab Ketiga: Dalam bab ini membahas tentang metode dalam penelitian yang menggunakan metode Kualitatif. Menggunakan analisis kualitatif . deduksi – Induksi bersifat menggabungkan / mensistensikan antara deduksi dan induksi yang akan menghasilkan traposisi.
4. Bab Keempat: Deskripsi penelitian empiris tentang Remaja sebagai korban menghirup lem fox di Desa Bonde, Kabupaten Makassar.
1. Biografi Remaja menghirup lem fox di Desa Bonde Kabupaten Makassar
Langkah-langkah penanganan
a. Metode Penanganan
2. Materi Penanganan / Pemulihan Psikis
3. Langkah-langkah diagnosa
4. Resep Diagnosa
5. Tanda- tanda pemulihan psikis
6. Deduksi
7. Induksi
8. Sitesis antara Deduksi-Induksi
BAB II KAJIAN PUSTAKA

A. Kajian Konseptual Teoritis

1. Bimbingan Konseling Islam

a. Pengertian Bimbingan Konseling Islam

Bimbingan adalah proses pemberian bantuan terhadap individu agar ia mampu memahami dirinya dan dunianya, sehingga dengan demikian ia dapat memanfaatkan potensi-potensinya.19
Bimbingan islami adalah proses pemberian bantuan terhadap individu agar ia mampu hidup selaras dengan ketentuan dan petunjuk Allah, sehingga dapat mencapai kebahagian hidup didunia dan diakhirat.20
Konseling adalah upaya bantuan yang diberikan seorang pembimbing yang terlatih dan berpengalaman, terhadap individu- individu yang membutuhkannya, agar individu tersebut berkembang potensinya secara optimal, mampu mengatasi masalahnya, dan mampu menyesuaikan diri terhadap lingkungan yang selalu berubah.21
Sedang yang dimaksud konseling islami adalah merupakan suatu usaha membantu individu dalam menanggulangi penyimpangan perkembangan fitrah beragama yang dimilikinya, sehingga dia kembali menyadari peranannya sebagai kholifah dimuka bumi dan berfungsi



hal. 14

19 Sofyan S. Willis, Konseling Individual Teori dan Praktek (Bandung : Alfabeta, 2004),

20 Ainur Rahim Faqih, Bimbingan dan Konseling Dalam Islam. hal 4
21 Sofyan S. Willis, Konseling Individual Teori dan Praktek, hal. 18

untuk menyembah atau mengabdi kepada Allah SWT sehingga akhirnya tercipta kembali hubungan yang baik dengan Allah, dengan manusia dan alam semesta.22
Jadi yang dimaksud Bimbingan Konseling Islam adalah proses pemberian bantuan terhadap individu agar menyadari kembali akan eksistensinya sebagai makhluk Allah yang seharusnya hidup selaras dengan ketentuan dan petunjuk Allah SWT, sehingga individu tersebut berkembang potensinya secara optimal, mampu mengatasi masalahnya, dan mampu menyesuaikan diri terhadap lingkungan yang selalu berubah, serta dapat mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat.

b. Fungsi Dan Tujuan Bimbingan Konseling Islam

1) Fungsi Bimbingan Konseling Islam

Fungsi konseling menurut Ainur Rahim Faqih dalam bukunya “Bimbingan Dan Konseling Dalam Islam” adalah:
a) Fungsi Pencegahan (preventif)
Yaitu membantu individu menjaga atau mencegah timbulnya masalah bagi dirinya.
Bimbingan Konseling merupakan usaha pencegahan terhadap timbulnya masalah. Dalam hal ini diharapkan Bimbingan Konseling Islam dapat mencegah timbulnya berbagai masalah yang mungkin akan mengganggu, menghambat, atau


22 Hallen A. Bimbingan & Konseling. (Jakarta: Quantum Teaching . 2005)hal. 21

menimbulkan kesulitan, kerugian-kerugian tertentu dalam proses pengembangannya.
b) Fungsi Kuratif atau Korektif
Yaitu membantu individu dalam memecahkan masalah yang sedang atau dialaminya.
c) Fungsi Preservasif
Yaitu membantu individu menjaga agar situasi dan kondisi yang semula tidak baik menjadi baik.
d) Fungsi developmental atau pengembangan
Bimbingan Konseling merupakan usaha untuk memelihara dan memperkembangkan potensi individu agar potensi tersebut bisa berkembang secara baik. Untuk itu Bimbingan Konseling islam berfungsi untuk memelihara dan mengembangkan situasi dan kondisi yang telah baik agar tetap lebih baik atau menjadi lebih baik, sihingga tidak memungkinkan muncul masalah baru baginya.23
2) Tujuan Bimbingan Konseling Islam
Menurut Prof. Dr. Thohari Musnawar, tujuan Bimbingan Konseling ada 2 macam yaitu:24
a) Tujuan umum adalah membantu individu mewujudkan dirinya menjadi manusia seutuhnya agar mencapai kebahagian hidup di dunia.

23 Ainur Rahim Faqih, Bimbingan dan Konseling Dalam Islam. Hal 37
24 Thohari Musnawar, Dasar-Dasar Konseptual Bimbingan Konseling Islam (Yogyakarta: UII press,1992), hal. 54

b) Tujuan khusus adalah:

(1) Membantu agar tidak menghadapi masalah

(2) Membantu mengatasi masalah yang sedang dihadapi

(3) Memutuskan dan mengembangkan situasi dan kondisi yang baik agar tetap baik-baik bahkan menjadi lebih baik, sehingga tidak menjadi sumber masalah bagi dirinya dan orang lain.
Sedangkan tujuan Bimbingan Konseling Islam menurut Imam Sayuti Farid dalam bukunya yang berjudul “Bimbingan Penyuluhan Agama Sebagai Teknik Dakwah” adalah:
“Membantu individu dalam mewujudkan dirinya sebagai manusia seutuhnya agar dapat mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat”.25
Jadi dapat disimpulkan bahwa tujuan Bimbingan Konseling adalah membantu individu mengatasi masalah yang dihadapinya sehingga mampu mewujudkan dirinya untuk menjadi manusia seutuhnya agar mencapai kebahagian hidup dunia dan akhirat.

c. Landasan Bimbingan Konseling Islam

Landasan utama Bimbingan Konseling Islam adalah Al-quran dan Sunnah Rosul, karena keduanya merupakan sumber dari segala sumber pedoman kehidupan umat islam. Dari Al-qur’an dan sunnah rosul itulah gagasan, tujuan, konsep-konsep Bimbingan Konseling Islami itu bersumber. Seperti halnya yang telah disebutkan oleh Nabi

25 Imam Sayuti Farid, Pokok Bahasan Tentang Bimbingan dan Penyuluhan Agama Sebagai Tehnik Dakwah (Surabaya: IAIN Sunan Ampel, Fakultas Dakwah, 1988), hal. 98

Muhammad SAW dalam hadistnya yang artinnya yaitu “Aku tingalkan sesuatu bagi kalian semua yang jika kalian selalu berpegang teguh kepadanya niscaya selama-lamanya tidak akan pernah salah langkah tersesat jalan; sesuatu itu yakni Kitabullah dan Sunnah Rosul-Nya. (H.R. Ibnu Majah).

d. Asas-Asas Bimbingan Konseling Islam

Dalam melakukan proses Bimbingan dan Konseling terdapat asas-asas didalamnya yang harus diperhatikan diantaranya yaitu:
1) Asas Kerahasiaan

Asas kerahasiaan sangat penting sekali dalam melakukan proses Bimbingan Konseling Islam karena dengan adanya asas kerahasiaan seorang konseli tidak akan malu untuk datang ke konselor karena dijamin kerahasiaannya, dalam hal ini masih banyak sekali yang menganggap bahwa masalah merupakan aib yang ditidak perlu diketahui dengan orang banyak.
Asas kerahasiaan merupakan kunci dalam upaya Bimbingan dan Konseling, jika asas ini benar-benar dijalankan maka penyelenggaraan Bimbingan Konseling akan mendapat kepercayaan dari pada konseli.
Sebagaimana firman Allah dalam surat Al-Mu’minun 23:8
“Dan orang-orang yang memelihara amanat-amanat (yang dipikulnya) dan janjinya”. 26

2) Asas Kesukarelaan

Layanan Bimbingan Konseling bukan merupakan suatu paksaan, oleh karena itu dalam kegiatan Bimbingan Konseling diperlukan adanya kerja sama yang demokratis antara konselor dengan konselinya, dan kerja sama itu akan terjalin bilamana konseli dapat dengan suka rela menceritakan permasalahannya tanpa adanya suatu paksaan.
3) Asas Keterbukaan

Asas keterbukaan sangat penting sekali karena dengan konseli terbuka terhadap konselor maka konselor lebih muda untuk menyelesaikan permasalahan yang ada.
4) Asas Kekinian

Pada umumnya pelayanan Bimbingan Konseling bertitik tolak dari masalah yang di rasakan konseli saat sekarang atau kini, namun pada dasarnya pelayanan Bimbingan dan Konseling menjangkau dimensi waktu yang sangat luas yaitu masa lalu, sekarang dan masa yang akan datang.
Permasalahan yang dihadapi oleh konseli sering bersumber dari rasa penyesalan atau rasa bersalah pada apa yang telah dilakukannya dimasa lalu sehingga dia takut untuk menghadapi masa yang akan datang, oleh karena itu dalam hal ini diharapkan

26 Departemen Agama RI, Alquran Dan Terjemahannya. Hal. 343

konselor dapat mengarahkan konseli untuk memecahkan masalah yang sedang dihadapinya sekarang.
5) Asas Kemandirian

Dalam asas ini diharapkan konselor dapat menumbuhkan atau menghidupkan kemandirian dalam diri konseli agar tidak selalu bergantung pada konselor sehingga konseli dapat menyelesaikan permasalahan yang dihadapinya sendiri.
6) Asas Kegiatan

Layanan Bimbingan Konseling hendaknya menimbulkan suasana individu yang baik untuk dibimbing untuk mampu melakukan kegiatan yang telah ditentukan atau yang telah ditetapkan oleh konselor.
7) Asas Kedinamisan

Upaya layanan Bimbingan Konseling menghendaki terjadinya perubahan pada konseli yaitu perubahan untuk lebih maju. Seperti mana yang dijelaskan dalam firman Allah surat Ar- Ra’du 13:11

Artinya:
“sesungguhnya Allah tidak akan merubah keadaan suatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri” 27


27 Departemen Agama RI, Alquran Dan Terjemahannya. Hal. 251

8) Asas alih Tangan

Kemampuan seseorang pasti ada batasnya begitu pula para konselor, apabila konselor satu tidak mampu untuk menyelesaikan permasalahan konseli yang dihadapi maka perlu mengalih tanggankan dengan konselor lain yang lebih ahli.
9) Asas Tut Wuri Handayani

Bimbingan Konseling Islam merupakan kegiatan yang sistematis, sengaja, berencana, terus menerus dan terarah kepada suatu tujuan. Oleh karena itu kegiatan Bimbingan Konseling tidak hanya dirasakan pada saat konseli mengalami masalah dan menghadapkannya pada konseli. Bimbingan Konseling harus senantiasa diikuti secara terus menerus dan aktif sejauh mana konseli telah berhasil mencapai tujuan yang telah ditetapkan.29
e. Unsur-Unsur Bimbingan Konseling Islam
Unsur-unsur Bimbingan Konseling adalah:
1) Konselor
Konselor adalah orang yang mempunyai kemampuan atau keahlian dan mempunyai kewenangan dalam membimbing serta memberikan bantuan terhadap orang yang mempunyai masalah yang tidak dapat diselesaikannya sendiri.



29 Hallen A. Bimbingan dan Konseling. Hal 62-69

M. Arifin menjelaskan bahwa untuk menjadi konselor harus memilki syarat- syarat diantaranya yaitu:30
a) Memiliki pribadi yang menarik, serta berdedikasi yang tinggi dalam tugasnya.
b) Memiliki rasa commited dengan nilai- nilai kemanusian.
c) Bersikap terbuka artinya tidak suka menyembunyikan sesuatu maksud yang tidak baik.
d) Mempunyai kepribadian yang simpatik.

e) Memiliki perasaan peka terhadap kepentingan konseli.

f) Memiliki kematangan jiwa (kedewasaan) dalam segala perbuatan lahiriah dan batiniah.

2) Konseli

Konseli adalah individu yang mempunyai masalah tertentu baik pribadi atau sosial yang dapat menghambat ketenangan hidup sehingga berharap suatu bantuan untuk menyelesaikannya dari orang yang ahli atau profesional.
Dalam buku Bimbingan Konseling di Institute Pendidikan

W.S. Winkel menyebutkan beberapa syarat konseli ialah sebagai berikut:31




30 H.M. Arifin, Pedoman Pelaksanaan Bimbingan Dan Penyuluhan Agama (Jakarta: Golden Terahayu Press, 1982), hal. 76
31 W. S. Winkel, Bimbingan Dan Konseling di Instansi Pendidikan, (Jakarta: Grasindo, 1991), hal. 23

a) Keberanian untuk mengekspresikan diri, kemampuan untuk mengutarakan persoalan, untuk mengungkapkan perasaan, dan untuk memberikan informasi data-data yang diperlukan.
b) Motivasi yang mengandung keinsafan adanya suatu masalah, kesedian untuk membicarakan masalah itu dengan konselor dan keinginan untuk mencari penyelesaian.
c) Keinsafan atau tanggung jawab dan akan keharusan berusaha sendiri.
3) Masalah
Menurut W. S. Winkel, mendefinisikan masalah adalah sesuatu yang menghambat, merintangi, mempersulit dalam usaha mencapai sesuatu. Bentuk-bentuk kongkrit dari hambatan atau rintangan itu bermacam-macam, antara lain yaitu misalnya: godaan, ganggunan dari luar, tantangan yang ditimbulkan oleh situasi hidup.32
Schneiders dalam buku karangan Latipun yang berjudul “Psikologi Konseling” mengemukakan bahwa konseling diselengarakan untuk menangani problem-problem psikologis seperti ketidakmatangan, ketidakstabilan emosional, ketidak mampuan mengontrol diri dan perasaan ego yang negatif. Pandangan tersebut sejalan dengan pandangan Vance dan Volsky yang menjelaskan bahwa konseling menangani individu normal
32 W. S. Winkel, Bimbingan Penyuluhan di Sekolah Menegah , hal. 89



dengan masalah-masalah yang ringan yaitu masalah-masalah yang berhubungan dengan peran sehari-hari.33
Adapun menurut imam sayuti farid dalam bukunya “pokok- pokok bahasan tentang penyuluhan agama sebagai teknik dakwah” bahwa bidang garapan dalam Bimbingan Konseling islam adalah:
a) Pernikahan dan keluarga

b) Pendidikan

c) Sosial (kemasyarakatan)

d) Pekerjaan (jabatan)

e) keagamaan34

Jadi bidang garapan masalah yang ditangani Bimbingan Konseling Islam adalah masalah-masalah psikologis yang ringan yang berhubungan dengan kehidupan sehari-hari, baik itu masalah pernikaha, keluarga, pendidikan, karir, sosial ataupun agama.

f. Langkah-Langkah Bimbingan Konseling Islam

Didalam  melakukan proses   Bimbingan Konseling terdapat beberapa langkah atau tahap diantaranya yaitu:
1) Tahap Identifikasi masalah

Tahap identifikasi masalah ialah langkah awal yang digunakan untuk mengumpulkan data dari berbagai sumber yang


33 Latipun, Psikologi Konselin, hal. 14-15
34 Imam Sayuti Farid , Pokok-Pokok Bahasan Tentang Penyuluhan Agama Sebagai Teknik Dakwah (Fakultas Dakwah IAIN Sunan Ampel Surabaya, 1997), hal. 21

berfungsi untuk mengenal kasus beserta gejala-gejala yang nampak pada konseli.
2) Tahap Diagnosis

Tahap diagnosis ialah langkah untuk menetapkan masalah yang dihadapi oleh konseli beserta latar belakangnya.
3) Tahap Prognosis

Tahap ini adalah pengklasifikasi antara masalah dan altrnatif bantuan yang diberikan sesuai dengan kondisi konseli.
4) Tahap Treatment/ Terapi

Tahap ini merupakan tahap pemberian bantuan atau bimbingan pada konseli.
5) Evaluasi dan Follow up

Tahap ini ialah tahap untuk menilai atau mengetahui sampai sejauh mana terapi yang diberikan dalam mencapai hasilnya. 35
2. Terapi Realitas

a. Konsep Dasar

Terapi Realitas berlandaskan premis bahwa ada suatu kebutuhan psikologis tunggal yang hadir sepanjang hidup yaitu kebutuhan akan identitas yang mencakup suatu kebutuhan untuk merasakan keunikan, keterpisahan, dan ketersendirian. Kebutuhan akan identitas

35 Djumhur dan moh. Surya, Bimbingan Dan Penyuluhan Disekolah (Bandung: CV ilmu, 1975), hal. 104-106

menyebabkan akan dinamika-dinamika tingkah laku dipandang sebagai universal pada semua kebudayaan.36
Pandangan Terapi Realitas menyatakan bahwa, karena individu- individu bisa mengubah identitasnya, perubahan identitas bergantung pada perubahan tingkah laku. Maka jelaslah bahwa Terapi Realitas tidak berpijak pada filsafat deterministik tentang manusia, tetapi dibangun diatas asumsi bahwa manusia adalah agen yang menentukan dirinya sendiri. Prinsip ini menyiratkan bahwa masing-masing orang memikul tanggung jawab untuk menerima konsekuensi-konsekuensi dari tingkah lakunya sendiri.

b. Hakekat Manusia

Berdasarkan konsep perilaku manusia, prinsip kerja konseling berdasarkan Terapi Realitas ini adalah :
1) Perilaku manusia didorong oleh usaha untuk menemukan kebutuhan dasarnya baik fisiologis mauapun psikologis.
2) Jika individu frustasi karena gagal memperoleh kepuasan atau tidak terpenuhi kebutuhan-kebutuhannya dia akan mengembangkan identitas kegagalan, begitupun sebaliknya apabila berhasil memperoleh kepuasan dalam memenuhi kebutuhan maka akan mengembangkan identitas keberhasilan.
3) Individu pada dasarnya memiliki kemampuan untuk mengubah identitasnya dari identitas kegagalan keidentitas keberhasilan.
36Gerald corey, Teori dan Praktek Konseling & Psikoterapi (Bandung: PT Rafika Aditama, 2007), hal. 264

4) Orang yang berusaha memperoleh kepuasan mencapai Success Identity menunjukan perilaku yang bertanggung jawab.
5) Faktor penilaian individu tentang dirinya sangat penting untuk menentukan apakah dirinya termasuk memiliki identitas keberhasilan atau identitas kegagalan.37
c. Konsep Pribadi Sehat dan Tidak Sehat

Konsep pribadi sehat dan tidak sehat menurut Terapi Realitas adalah bahwa individu yang berperilaku sehat ialah individu yang dapat memenuhi kebutuhannya yaitu kebutuhan akan penghargaan, kebutuhan akan dicintai dan mencintai serta kebutuhan identitas.
Sedangkan konsep pribadi tidak sehat ialah ketidakmampuannya individu dalam memuaskan kebutuhannya, akibatnya kehilangan sentuhan dengan realitas obyektif, dia tidak dapat melihat sesuatu sesuai dengan realitasnya, tidak dapat melakukan atas dasar kebenaran, tanggung jawab dan realitas.

d. Fungsi dan Tujuan Terapi Realitas
Tugas dasar konselor ialah melibatkan diri dengan konseli dan membuatnya menghadapi kenyataan, serta mampu menilai tingkah lakunya sendiri secara realitas. Terapi Realitas berasumsi bahwa konseli bisa menciptakan kebahagiaanya sendiri dan bahwa kunci untuk menemukan kebahagiaan adalah menerima tanggung jawab. 38 Oleh

37 Latipun, Psikologi Konseling, hal. 154-155
38Gerald corey, Teori dan Praktek Konseling & Psikoterapi , hal. 271
 karena itu, seorang konselor tidak menerima pengelaan atau pengabaiaan kenyataan, dan tidak pula menerima tindakan konseli menyalahkan apapun atau siapapun diluar dirinya atas ketidak bahagiaannya pada saat sekarang. Tindakan yang demikian akan melibatkan konseli dalam Kenikmatan Psikiatrik yang segera akan hilang dan mengakibatkan penyesalan.

Sedangkan secara umum tujuan Terapi Realitas adalah individu mencapai kehidupan dengan Success Identity. Untuk itu dia harus bertanggung jawab, yaitu memiliki kemampuan untuk mencapai kepuasan terhadap kebutuhan personalnya.39
e. Hubungan Konselor dengan Konseli

Sebelum terjadi terapi yang efektif, keterlibatan antara konselor dan konseli harus berkembang. Para konseli perlu mengetahui bahwa orang yang membantu mereka yaitu konselor menaruh perhatian yang cukup kepada mereka, menerima dan membantu mereka dalam memenuhi kebutuhan-kebutuhan mereka didunia nyata, berikut ini merupakan konsep hubungan antara konselor dan konseli yang dikemukakan oleh Glasser dan zunin :
1) Seorang konselor harus memiliki kehangatan, pengertian, penerimaan, dan kepercayaan atas kesanggupan konseli untuk mengembangkan suatu identitas keberhasilan, harus mengkomunikasikan bahwa dia
39 Latipun, Psikologi Konseling , hal. 155
 menaruh perhatian. Melalui keterlibatan pribadi dengan konselor, konseli belajar bahwa lebih banyak hal dalam hidup ini dari pada hanya memusatkan perhatian pada kegagalan.
2) Kerja yang paling penting dalam proses konseling diantaranya yaitu dapat membantu konseli mampu mengenali cara-cara yang spesifik untuk mengubah tingkah laku keberhasilan.
3) Komitmen adalah kunci utama Terapi Realitas. Konselor membantu mereka dalam membuat suatu komitmen untuk melaksanakan rencana-rencana itu dalam kehidupan sehari-hari mereka.
4) Terapi Realitas tidak menerima dalih. Rencana-rencana itu bisa gagal, akan tetapi jika rencana itu gagal maka seorang konselor tidak menerima dalih, tidak ada alasan, penyalahan, dan keteragan konseli mengapa terjadi kegagalan.40
f. Prosedur Konseling

1) Berfokus pada personal

Prosedur utama adalah mengkomunikasikan perhatian konselor kepada konseli, perhatian itu ditandai dengan hubungan hangat yang mana ini merupakan kunci keberhasilan konseling.
2) Berfokus pada perilaku

Konseling Realitas berfokus pada perilaku tidak pada perasaan dan sikap. Hal ini menurut Glesser karena perilaku dapat diubah dan
40 Gerald corey, Teori dan Praktek Konseling & Psikoterpi, hal. 274-276
 dapat dengan mudah dikendalikan jika dibandingkan dengan perasaan atau sikap.
3) Berfokus pada saat ini
Terapi Realitas memandang tidak perlu melihat masa lalu konseli, yang perlu dilihat ialah masa yang akan datang.
4) Pertimbangan nilai
Terapi Realitas menganggap pentingnya melakukan pertimbangan nilai, konseli perlu menilai kualitas perilakunya sendiri apakah perilaku bertanggung jawab, rasional, realistik dan benar atau justru sebaliknya.
5) Pentingnya perencanaan
Kesadaran konseli tentang perilakunya yang tidak bertanggung jawab harus dilanjutkan dengan perencanaan untuk mengubahnya menjadi perilaku yang bertanggung jawab.
6) Komitmen
Konseli harus memiliki komitmen atau keterikatan untuk melaksanakan rencana itu.
7) Tidak menerima dalih
Konselor tidak boleh menerima alasan sekaligus tidak perlu menanyakan mengapa kegagalan itu terjadi, yang lebih penting bagi konselor ialah menanyakan apa rencana lebih lanjut dan kapan melaksanakan agar mencapai suatu kesuksesan.
 8) Menghilangkan hukuman
Hukuman harus ditiadakan, konseling Realitas tidak memperlakukan hukuman sebagai teknik pengubahan perilaku. Hukuman menurut Glesser tidak efektif dan justru memperburuk hubungan konseling.41
g. Teknik-Teknik Terapi Realitas
Terapi Realitas merupakan terapi yang aktif secara verbal, dalam membantu konseli untuk menciptakan identitas keberhasilan konselor menggunakan beberapa teknik diantaranya yaitu:
1) Terlibat dalam permainan peran dengan konseli
2) Mengunakan humor
3) Mengonfrontasikan konseli dan menolak dalih apapun
4) Membantu konseli   dalam   merumuskan rencana-rencana yang spesifik bagi tindakan
5) Bertidak sebagai model dan guru
6) Memasang batas-batas dan menyusun situasi terapi
7) Mengunakan terapi kejutan verbal
8) Melibatkan diri dengan konseli dalam upayanya mencari kehidupan yang lebih efektif.42

41 Latipun, Psikologi Konseling, hal. 156-159
42 Gerald corey, Teori dan Praktek Konseling & Psikoterpi. Hal. 277

3. Perasaan Bersalah

a. Pengertian Perasaan Bersalah

Perasaan merupakan gejala jiwa yang dimiiki oleh semua orang, hanya saja tingkatnya tidak sama antara orang yang satu dengan orang yang lain, yang dimaksud dengan perasaan ialah suatu keadaan rohaniah atau peristiwa kejiwaan yang kita alami dengan senang atau tidak senang dalam hubungan peristiwa mengenal dan bersifat subyektif.43
Menurut W. Wundt dalam bukunya Abu ahmadi yang berjudul “Psikologi Umum” bahwa perasaan seseorang tidak hanya dialami sebagai perasaan senang dan tidak senang, tetapi masih dapat dilihat dari dimensi lain yaitu bahwa perasaan itu dapat dialami sebagai suatu hal yang “Excited” atau sebagai “Innert Feeling” yaitu sesuatu perasaan yang dialami oleh individu itu dapat disertai tingkah laku perbuatan yang nampak, misalnya orang yang tersenyum-senyum serta menari- nari karena telah mendapatkan sesuatu yang diinginkan, tetapi ada pula sekalipun ia mendapatkan sesuatu yang dia inginkan dia bersikap biasa saja.44
Max Scheler berpendapat bahwa ada 4 macam tingkatan dalam perasaan, yaitu:
1) Perasaan tingkat sensoris
43 Agus Sujanto, Psikologi Umum (Jakarta: Bumi Aksara, 2004), hal. 75
44 Abu Ahmadi, Psikologi Umum (Jakarta: PT. Rineka Cipta, 1998), hal. 103
 Perasaan ini merupakan perasaan yang berdasarkan atas kesadaran yang berhubungan dengan stimulus pada kejasmanian, misalnya: rasa sakit, panas, dingin dan lain-lain.
2) Perasaan ini bergantung kepada keadaan jasmani seluruhnya misalnya: rasa tegar, lelah dan lain sebagainya.
3) Perasaan kejiwaan Perasaan ini merupakan perasaan seperti rasa gembira, susah, takut dan lain-lain.
4) Perasaan kepribadian

Perasaan ini merupakan perasaan yang berhubungan dengan keseluruhan pribadi, misalnya perasaan harga diri, perasaan putus asa, perasaan bersalah, perasaan puas dan lain-lain.45
Sedangkan menurut kamus bahasa indonesia, bersalah dapat diartikan berbuat sesuatu yang tidak seharusnya.46
Perasaan bersalah dapat diartikan sebagai sebuah konsep yang membentuk bagian sebuah matrik yang berkaitan dengan pembagian dan penyatuan moral : “pelangaran”, “kesalahan”, “tuduhan”, “menyalahkan”, “dalih”, “balas dendam”, “malu”, “sedih karena dosa”, “hukuman”, “balas dendam”, “pengampunan”, “perbaikan”, “rekonsiliasi”.47

45 Abu Ahmadi, Psikologi Umum, hal. 106
46 Muhammad Ali, Kamus Lengkap Bahasa Indonesia (Jakarta: Pustaka Amani, 1995), hal.
376
47 Kalu singh, Rasa Bersalah, hal. 6

Rasa bersalah juga didefinisikan sebagai ‘realisasi’ bahwa seseorang telah melanggar prinsip-prinsip etis, moral, dan agama, bersama dengan perasaan menyesal karena pengurangan harga diri.48 Dalam istilah yang umum, kita dapat berkata bahwa bila seorang individu merasa bersalah, individu itu percaya bahwa dia telah melakukan perbuatan tertentu yang melanggar moral pribadi atau peraturan-peraturan perilaku bahwa dia telah bertindak buruk dimata Tuhan serta melanggar sistem nilai sosial tertentu.
Jadi yang dimaksud dengan perasaan bersalah adalah perasaan yang timbul karena telah melakukan sesuatu yang melanggar baik norma agama ataupun norma sosial sehingga merasa telah menyakiti, mengecewakan, atau membuat duka orang yang berada disekitar kita.

b. Faktor Penyebab Perasaan Bersalah
Ada beberapa faktor penyebab perasaan bersalah yang dialami seseorang diantaranya yaitu:
1) Melanggar aturan Tuhan
2) Menyalahi aturan atau undang-undang baik tertulis maupun tidak tertulis
3) Membuat orang yang di sayangi merasa kecewa.49

48 Windy Dryden, Jack Gordon, berpikit positif untuk kebahagian hidup (Jakarta: Penerbit Arcan, 1993), hal. 75
49 Mang Ucup, Rasa bersalah, www.mangucup.net diakses tanggal 10 juni 2011

c. Dampak Perasaan Bersalah
Sebenarnya, rasa bersalah bukanlah merupakan gangguan jiwa, akan tetapi rasa bersalah adalah salah satu bahan yang menghasilkan gangguan jiwa. Dari rasa bersalah yang berlebihan muncullah masalah- masalah neurotik seperti gangguan obsesif-kompulsif, depresi, dan kecemasan50
Selain itu rasa bersalah juga akan menimbulkan bermacam- macam tingkah laku diantaranya yaitu:
1) Rasa malu
2) Hilang atau berkurangnya kesadaran akan penerimaan dan kasih Allah
3) Rasa terhakimi
4) Rasa benci terhadap diri sendiri tapi tak tahu bagaimana keluar dari situasi tersebut
5) Emosi berubah-ubah menurut temperamen dan situasinya
6) Depresi yang dalam akibat terus-menerus menyalahkan diri sendiri.
7) Rasa letih dan sakit kepala yang kronis, atau penyakit-penyakit lainnya.
8) Penyangkalan diri ekstrim sampai ke bentuk penghukuman diri.
9) Merasa terus-menerus diawasi dan dikritik orang lain
10) Terus mengritik dosa dan kekurangan orang lain.

50 Paul Gunadi, Rasa Bersalah, http://www.konselingkristen.org/index.php? option=com_ content&view=article&id=345:rasa-bersalah&catid=53:lain-lain&Itemid=77, diakses tanggal 10 juni 2011

B. Perasaan Bersalah Merupakan Masalah Bimbingan Konseling Islam
Rasa bersalah bukanlah merupakan gangguan jiwa akan tetapi rasa bersalah adalah salah satu bahan yang menghasilkan gangguan jiwa. Dari rasa bersalah yang berlebihan muncullah masalah-masalah neurotik seperti gangguan obsesif-kompulsif, depresi, kecemasan dan lain sebagainya, selain itu banyak sekali dampak masalah yang akan dimunculkan baik itu dari segi fisik maupun psikis.52
Bimbingan konseling merupakan proses pemberian bantuan terhadap individu yang memiliki masalah, yang mana masalah-masalah dalam bidang garapan Bimbingan Konseling adalah masalah psikologis yang ringan yang berhubungan dengan kehidupan sehari-hari, baik itu masalah pernikahan, keluarga, sosial, karir ataupun keagamaan.
Oleh karena itu perasaan bersalah merupakan masalah Bimbingan Konseling Islam karena seseorang yang mengalami perasaan bersalah akan muncul bermacam-macam masalah psikologis apalagi seorang tersebut menyikapinya dengan salah. Dengan adanya permasalahan tersebut peneliti berharap dapat membantu konseli dalam menghadapi kenyataan, serta dapat menilai tinggah lakunya sendiri sehingga mampu bertanggung jawab dan dapat mengilangkan rasa bersalahnya.
52 Paul Gunadi, Rasa Bersalah, http://www.konselingkristen.org/index.php? option=com_ content&view=article&id=345:rasa-bersalah&catid=53:lain-lain&Itemid=77, diakses tanggal 10 juni 2011

C. Bimbingan Konseling Islam dengan Terapi Realitas Dalam Mengatasi Perasaan Bersalah
Terapi Realitas adalah terapi yang bertujuan untuk individu mencapai kehidupan dengan Success Identity. Untuk itu dia harus bertanggung jawab, yaitu memiliki kemampuan untuk mencapai kepuasan terhadap kebutuhan personalnya.53
Sedangkan Tugas dasar dari konselor dalam Terapi Realitas ialah melibatkan diri dengan konseli dan membuatnya menghadapi kenyataan, serta mampu menilai tingkah lakunya sendiri secara realitas. Terapi Realitas berasumsi bahwa konseli bisa menciptakan kebahagiaanya sendiri dan bahwa kunci untuk menemukan kebahagiaan adalah menerima tanggung jawab. Oleh karena itu, seorang konselor tidak menerima pengelaan atau pengabaiaan kenyataan, dan tidak pula menerima tindakan konseli menyalahkan apapun atau siapapun diluar dirinya atas ketidak bahagiaannya pada saat sekarang.
Oleh karena itu Bimbingan Konseling Islam dengan Terapi Realitas diharapkan mampu memberikan penyadaran terhadap individu dalam menghadapi kenyataan, serta menilai tinggah lakunya sendiri secara realitas sehingga mampu bertanggung jawab dan dapat menghilangkan perasaan bersalah terhadap apa yang telah dilakukanya.

53 Latipun, Psikologi Konseling, hal. 155

                                                                    BAB III PENYAJIAN DATA

A. Deskripsi Umum Lokasi Penelitian
1. Deskripsi Letak Geografis Lokasi Penelitian
a. Potensi Sumber Daya Alam
1) Batas Wilayah

Tabel 3.1
Batas Wilayah Kelurahan Banjarsugihan Tandes Surabaya

Batas Kelurahan Kecamatan
Sebelah Utara Buntaran Tandes
Sebelah Selatan Kandangan Benowo
Sebelah Timur Manukan kulon Tandes
Sebelah Barat Kandangan Benowo

2) Orbitasi jarak desa

a) Kelurahan Banjarsugihan ke kecamatan dengan jarak 3 Km.
b) Kelurahan Banjarsugihan ke Pemerintahan Kota Surabaya dengan jarak 17 Km.54

b. Potensi Sumber Daya Manusia

Tabel 3.2
Jumlah Penduduk di Kelurahan Banjarsugihan Tandes Surabaya

Jenis Kelamin Jumlah
Laki-laki 6012 Orang
Perempuan 5809 Orang
Total 11821 Orang
Jumlah KK 2912 KK
54 Dokumentasi profil kelurahan Banjarsugihan Tandes Surabaya. Diambil tanggal 19 Mei
2011

2. Deskripsi Konseli
a. Identitas Konseli
Nama : Adi (Nama Samaran)
Jenis kelamin : Perempuan
Umur : 15 Tahun
Agama : Islam
Alamat : Surabaya
Status : Pelajar
Pendidikan : SMA

b. Identitas Orang Tua

1) Nama Ayah : Ahmad (Nama Samaran) Alamat : Surabaya
Agama : Islam

56 Hasil wawancara dengan teman kos, tanggal 7 juni 2011
57 Hasil wawancara dengan konseli tanggal 25 November 2011


2) Nama Ibu : Rima(Nama Samaran) Alamat : Surabaya
Agama : Islam58

c. Kepribadian konseli

Konseli termasuk anak yang pendiam serta tertutup (introfet), dia jarang bercerita-cerita dengan orang-orang disekitarnya apalagi dengan orang yang belum dia kenal.59
Disekolahnya konseli termasuk anak yang rajin serta pandai. Dia memiliki banyak prestasi-prestasi, selain itu nilai raportnya juga sangat bagus sekali terutama nilai matimatikanya, dia sangat menyukai mata pelajaran tersebut.60
d. Latar Belakang Keluarga Konseli

Adi (nama samaran) ialah anak pertama dari empat bersaudara ia terlahir dari pasangan bapak Ahmad (nama samaran) dan ibu Rima (nama samaran). Dia sekarang duduk dibangku sekolah kelas 1 SMA disalah satu sekolah Negeri di Surabaya, sedangkan adik pertamanya duduk di kelas 2 SMP, adik kedua terlahir dalam kondisi tidak normal atau mengalami keterbelakangan mental dan adik yang paling akhir duduk dibangku SD.
Awalnya ayah Adi bekerja sebagai tukang las disalah satu pelabuhan yang ada di Surabaya, akan tetapi di tempat kerjanya ada


58 Hasil wawancara dengan konseli tanggal 2 November 2010
59 Hasil wawancara dengan staff SCCC. Tanggal 2 November 2010
60 Hasil wawancara dengan ibu konseli. Tanggal 2 November 2010

suatu masalah sehingga ayahnya menjadi tersangka sebagai kasus pembakaran yang terjadi ditempat kerjanya tersebut, sampai akhirnya dia mendekam didalam penjara selama tiga bulan. Dan sampai sekarang ayahnya masih di rumah belum mendapatkan pekerjaan. sedangkan ibunya hanya seorang ibu rumah tangga biasa, tapi setelah ayahnya mengalami masalah dalam pekerjaannya itu, untuk membiayai semua kebutuhan rumah tangga ibunya akhirnya bekerja menjual gorengan.
Menurut penuturan Adi, dalam hubungan keluarga interaksi antara ayah, ibu, dan adik-adik termasuk biasa. Mereka masih sering berkumpul bersama serta bercanda-canda, meskipun kadang ada sedikit kesenjangan antara ayah dan anak-anaknya, itu karena menurut anak-anaknya ayahnya ialah sosok ayah yang keras dalam mendidik. Dan dengan alasan itulah waktu itu yang membuat Adi tidak berani untuk berterus terang tentang masalahnya karena dia takut dengan kedua orang tuanya, terutama ayah.61
e. Latar Belakang Ekonomi Konseli

Keadaan ekonomi konseli tergolong sederhana, mereka menempati sebuah rumah kos-kosan yang tidak terlalu besar, mereka menyewa dua kamar dengan harga 400 ribu beserta listriknya. Adapun penghasilan yang didapatkan dari hasil jualan gorengan ibunya hanya sekitar kurang lebih 100 ribu perhari itu pun dibuat modal untuk

61 Hasil wawancara dengan konseli, tanggal 2 November 2010

jualan esok harinya. Oleh karena itu untuk membiayai tiga anaknya yang sekolah ibu Adi selalu berharap akan laku gorengannya dan mendapat pesanan nasi dari tetangga-tetangga sekitar, karena cuma itulah harapan mereka. Oleh karena itu Adi selalu berharap suatu saat nanti dia dapat membahagiakan keluarganya.62
3. Deskripsi Masalah

Masalah adalah sesuatu yang menghambat, merintangi, mempersulit, dalam usaha mencapai sesuatu. Dalam kasus ini masalah yang muncul adalah perasaan bersalah seorang remaja yang telah membunuh bayinya.
Permasalahan tersebut bermula dari peristiwa yang dialami konseli yaitu mendapat telepon misterius. Pada awal bulan Oktober 2009 Adi mendapat telpon dari orang yang tidak ia kenal, sehingga Adi tidak berani untuk mengangkatnya. Kemudian si penelpon mengirim SMS yang mana isinya memaksa Adi untuk mengangkat, akhirnya telpon itu diangkat oleh Adi dan ternyata penelpon itu meminta kenalan pada Adi. Selang beberapa hari si lelaki menelpon kembali kemudian mengajak ketemuan Adi akan tetapi Adi tidak mau karena Adi merasa belum lama mengenalnya, Adi takut akan terjadi apa-apa, akan tetapi Adi terus dipaksa dan akhirnya Adi menuruti permintaan si penelpon tapi dengan syarat Adi mengajak adiknya dan satu temanya lagi, dipertengahan bulan Oktober akhirnya mereka ketemuan disalah satu tempat.

62 Hasil wawancara dan observasi dengan ibu konseli, tanggal 23 April 2011

Setelah pertemuan itu selang beberapa hari si laki-laki mengajak ketemuan kembali akan tetapi Adi tetap tidak mau dan akhirnya si laki- laki mengancam akan menyebarkan foto bugil yang seolah-olah itu Adi di sekolah, pada saat itu posisi Adi sangat bingung sekali karena posisinya sekarang Adi akan menghadapi ujian akhir nasional dia takut akan dikeluarkan dari sekolahan. Akhinya Adi pun menemui laki-laki itu bersama adiknya Risa (nama samaran), saat pertemuan sempat aneh si laki-laki mengajak Adi pergi akan tetapi saat itu Adi tetap tidak dan si laki-laki tetap mengancam sesuai ancaman yang awal, dalam perjalanan Adi kehilangan adiknya karena menurut penuturan Adi si laki-laki itu memang sengaja untuk menghilangkan jejak, Adi saat itu semakin takut dan akhirnya sampai disuatu rumah dan ternyata rumah tersebut ialah rumah laki-laki itu.
Adi masuk dalam rumah tersebut, Adi semakin takut karena rumah itu terlihat sangat sepi sekali, awalnya Adi bersama laki-laki tersebut hanya ngobrol-ngobrol selang beberapa jam akhinya laki-laki itu mengajak Adi untuk naik kelantai dua rumah itu, Adi memberontak tidak mau akan tetapi ancaman itu terus diberikan sehingga Adi tidak tau harus berbuat apa, akhirnya dia hanya menurut saja. Dia naik kelantai dua rumah tersebut. Pada saat itu Adi disuruh meminum minuman yang menurutnya seperti minuman teh tetapi dirasakan tidak seperti teh biasa, setelah meminum minuman itu Adi sudah tidak sadarkan diri dan sadar- sadar ternyata sudah telanjang, pada saat itu juga Adi langsung memakai bajunya kemudian dia melihat celana dalamnya dan ternyata celana dalamnya ada bercak darah dan ternyata kemaluannya terasa sangat sakit. Pada saat itu Adi sempat bertanya kepada si lelaki tentang apa yang sebenarnya telah dilakukan laki-laki itu terhadapnya, akan tetapi laki-laki itu tidak menjawab, dan akhirnya Adi diantarkan laki-laki itu pulang karena saat itu sudah larut malam.
Selang beberapa hari Adi diajak ketemuan lagi dan diancam akan menyebarkan vidio porno yang seolah-olah pelakunya ialah Adi apabila Adi tidak mau diajaknya, maka pada akhirnya Adi menuruti apa yang diperintahkan laki-laki itu, dan kejadian hubungan layaknya suami istri itu terjadi kembali dan hal itu pun tidak hanya terjadi dua kali saja akan tetapi terjadi sampai tiga kali.
Hingga akhirnya pada akhir bulan Desember Adi merasa telat datang bulan sudah dua bulan dia tidak haid. Setelah dia mengetahui tidak haid dia langsung menelpon laki-laki itu akan tetapi laki-laki itu menyuruh agar Adi menggugurkan kandungannya dengan meminum sprite dan memakan nanas muda akan tetapi dia tidak mau.
Dari hari kehari bulan kebulan Adi selalu menunggu kabar laki-laki itu akan tetapi laki-laki itu sudah hilang seakan-akan ditelan bumi. Kehamilan Adi semakin membesar dia lewati seluruh permasalahannya sendiri. Ibu Adi sebenarnya pernah menanyakan akan kehamilan itu kepada Adi, akan tetapi Adi tidak berani jujur dia takut kalau ibunya tau maka akan diberi tahukan kepada ayahnya, dia takut akan dimarahi kedua orang tuanya dan akan dikeluarkan dari sekolahanya.
Sampai pada akhirnya Pada tanggal 21 juli 2010 jam 23.30 Adi melahirkan bayi laki-laki di dalam kamar mandi rumahnya pada saat itu keadaan rumah sepi semua penghuni rumah tidur. Selang beberapa menit kemudian ari-ari si bayi itu keluar dan Adi berusaha untuk memotongnya. Dia mengambil pisau dan memotongnya sendiri, dia kemudian membersihkan bayi tersebut, setelah itu dia pun membersihkan diri serta kamar mandi hingga bersih hingga tidak meninggalkan jejak sedikitpun. Setelah bersih-bersih Adi mengendong bayi itu kedalam kamar dan kemudian menguncinya, dia tidur bersama bayinya tersebut, pada waktu itu tangan si bayi juga sempat menggengam telunjuk Adi.
Pada hari kamis tanggal 22 juli 2010 Pukul 04.30 Adi bangun dan bersiap-siap untuk berangkat kesekolah. Bayi itu dibawah dan dimasukan kedalam tas plastik, kemudian dimasukkan kedalam tas sekolahnya akan tetapi tas itu masih diberikan sela untuk bernafas bayi itu. Saat itu Adi diantarkan oleh ayahnya, dan tingkah laku Adi tidak ada yang mencurigakan dia masih bersikap seperti biasanya seolah-olah tidak seperti orang yang habis melahirkan, Adi berusaha sebiasa mungkin agar orang tuanya tidak mengetahui dengan kejadian yang telah terjadi.
   Sesampainya disekolah Adi panik serta bingung akan ditaruh dimana bayi tersebut, setelah keliling sekolah akhirnya dia menemukan tempat yaitu gudang bekas kamar mandi sekolah. Dia meletakkan bayi itu, dan ketika bayi itu akan ditinggal ternyata bayi itu menangis, spontan Adi panik dan ketika melihat kulit kabel yang ada didepannya dia langsung mengambilnya kemudian sempat akan diikatkan keleher bayi tersebut, akan tetapi sebelum terjadi apa-apa Adi tersadarkan diri, dia khilaf dengan apa yang dilakukan, kemudian Adi memutuskan untuk menaruhnya dibelakang triplek. Adi kemudian meninggalkan bayi itu dan mengikuti pelajaran seperti biasa.
Berhari-hari Adi merasa menyesal karena telah meninggalkan bayinya, serta selalu memikirkan bagaimana keadaanya. Sebenarnya niat Adi hanya ingin meletakkan bukan membunuh bayi itu dia melakukan hal tersebut karena takut akan diketahui oleh kedua orang tuanya dan takut akan dikeluarkan dari sekolah.63
    Tepat pada tangal 26 Juli 2010 sekolah digemparkan dengan adanya penemuan mayat bayi digudang sekolah. Pada saat itu juga sekolahan langsung mengadakan pemeriksaan terhadap seluruh siswanya, sampai akhirnya Adi pun diketahui bahwa bayi itu ialah bayi Adi. Akhirnya Adi dibawa ke RS. Bunda untuk pemeriksaan kesehatannya karena ternyata kondisinya parah, dia mengalami infeksi pada vaginanya sehingga dilakukan jahitan sebanyak 11 kali.64 Kemudian Adi pun dibawa ke Porles Tabes Surabaya untuk diadakan pemeriksaan lebih lanjut, selanjutnya dibawa ke RS. Bhayangkara Porles Tabes Surabaya kemudian dibawa lagi ke Bapas dan sampai akhirnya dia dibawa Ke PPT
63 Hasil wawancara dengan konseli tanggal 2 November 2010
64 Hasil visum RS. Bunda tanggal 26 Juli 2010
 untuk mendapatkan perawatan, disana dia mendapatkan perawatan sampai beberapa hari dan akhirnya setelah kondisinya luamayan baik Adi di perbolehkan untuk pulang.
Sudah beberapa kali sidang telah dilakukan Adi dan dari sidang yang dilakukannya itu dia selalu menunggu hasil keputusan dari pengadilan. Dari pihak lembaga yang menangani kasus tersebut terus berusaha untuk meringankan kasus yang dihadapi Adi, tepat tanggal 31 Maret pengadilan memutuskan bahwa Adi dihukum 1 tahun penjara dan denda sebesar 1 juta. Tapi dari hasil keputusan pengadilan, pengacara yang menangani Adi atau pihak dari SCCC terus berusaha untuk meminta banding, dan hingga akhirnya tanggal 15 April 2011 Adi diputuskan untuk dibebaskan dari permasalahan hukum meskipun antara jaksa dan pengacara masih ada sedikit permasalahan karena jaksa tetap ngotot melayangkan kasasi ke Mahkama Agung.65
Hari-hari Adi selama itu selalu diselimuti perasaaan bersalah dengan apa yang telah dilakukannya, kadang Adi juga sempat berfikir bahwa semua yang terjadi sekarang adalah akibat dari ulah laki-laki bejat yang telah menghancurkan kehidupannya, Adi tidak tahu bagaimana cara menghilangkan perasaan itu, Adi hanya berharap pada akhirnya nanti dia dapat menghilangkan perasaannya sehingga dapat menatap kenyataan yang ada dan dia mampu hidup seperti awal sebelum dia mengalami permasalah.

65 Hasil wawancara dengan staff SCCC, Tanggal 23 April 2011

B. Deskripsi hasil penelitian

Disini peneliti akan mendeskripsikan data yang diperoleh dilapangan yang terkait dengan fokus penelitian yaitu bagaimana dampak perasaan bersalah seorang remaja yang membunuh bayinya, proses Bimbingan Konseling Islam dalam mengatasi perasaan bersalah seorang remaja yang membunuh bayinya, serta hasil akhir proses Bimbingan Konseling Islam dalam mengatasi perasaan bersalah seorang remaja yang membunuh bayinya.
1. Deskripsi Data Tentang Dampak Perasan Bersalah Seorang Remaja Yang Membunuh Bayinya di Banjarsugihan Tandes Surabaya.
Untuk mengetahui dampak perasaan bersalah yang dialami seorang remaja yang membunuh bayinya, peneliti melakukan observasi serta mencari informasi dengan melakukan wawancara dengan para informan diantaranya yaitu ibu konseli, adik konseli, tetangga konseli dan orang dari lembaga yang menangani kasus remaja tersebut (staff SCCC).
Adapun data informasi dari para informan yang didapatkan peneliti dilapangan adalah sebagai berikut:
1) Wawancara dengan ibu konseli
Konselor : Menurut ibu, adik Adi itu anaknya seperti apa? (ramah dan senyum).
Ibu konseli : Adi itu anaknya pendiam dan penurut sama orang tua mbak.
Konselor : Apakah ada perubahan pada diri Adi setelah adanya masalah tersebut?
 Ibu konseli : setelah ada masalah ini Adi banyak berubah.
Konselor   : terus perubahan apa saja yang muncul setelah masalah   itu dialami adik Adi?
Ibu konseli : Adi sekarang malah lebih banyak diam, dia kelihatannya masih selalu memikirkan apa yang telah dilakukannya itu mbak, dia kayaknya merasa bersalah, dia takut pada akhirnya akan dihukum sehingga dia lebih sering menyendiri dikamar.
Konselor : selain itu apa ada lagi bu?(serius)
Ibu konseli : selain itu dia juga sering gelisah, was-was, susah tidur dan nafsu makannya juga berkurang.
Konselor : apakah  ibu sudah pernah  menanyakan hal  itu sendiri  pada Adi?
Ibu konseli : saya tidak pernah menanyakannya, akan tetapi sebagai seorang ibu saya mengerti apa yang sekarang anak saya rasakan.
Konselor : saya mengerti dengan perasaan ibu sekarang (empati), setelah ibu mengetahui bahwa adi sedang mengalami kegelisahan, was-was, takut, diam dan sering menyendiri, apa yang selama ini ibu lakukan?
Ibu konseli : saya sering bilang biarlah kejadian itu berlalu, saya sering mengajak keluar rumah dia untuk jalan-jalan dll, harapan saya dengan mengalihkan ke yang lain dia bisa
 melupakan masa lalunya tapi tetap sama. saya tidak mau anak saya larut dalam masalahnya ini mbak.
Konselor : dengan adanya permasalahan itu keluarga menyikapinya bagaimana bu?
Ibu konseli : keluarga hanya berharap permasalahnya cepat selesai, terus Adi bisa sedikit demi sedikit melupakan permasalahan itu sehingga dia tidak lagi cemas memikirkan apa yang terjadi. Saya takut kehidupannya akan terganggu kalau dia masih sering memikirkan masalahnya itu mbak. (serius)
Konselor : lingkungan sekitar juga menyikapi bagaimana bu?
Ibu konseli : Tetangga menyikapi biasa mbak, akan tetapi tetangga banyak yang prihatin dengan masalah yang dialami Adi. Tetangga sekitar juga banyak yang ngasih support terhadapnya.
Konselor : terimah kasih banyak ya bu atas informasinya. (senyum dan sambil berjabat tangan)
Ibu konseli : sama-sama. ( balas senyum) 66
Dari hasil wawancara dengan ibu konseli diatas dapat disimpulkan bahwa konseli merasa bersalah, cemas, sering gelisah, was-was, , Takut akan hukuman, sering diam, sering menyendiri dikamar, susah tidur dan nafsu makannya berkurang.
66 Hasil wawancara dengan ibu konseli, tanggal 25 November 2010

2) Wawancara dengan adik konseli

Konselor : Mbak Adi itu anaknya seperti apa?

Adek konseli : mbak Adi itu anaknya pendiam mbak, tidak banyak omong, kalau sama aku juga jarang cerita- cerita.
Konselor : perilaku apa saja yang muncul setelah masalah yang dialami adik Adi?
Adek konseli : setelah ada masalah ini mbak Adi tambah banyak diamnya, susah tidur, dan sering menyendiri. Mungkin dia masih memikirkan permasalahnya, saya dan keluarga takut kalau terjadi apa-apa mbak.
Konselor : bagaimana adik menyikapi permasalah itu?

Adek konseli : saya kasihan mbak kalau ingat masalah yang dialami mbak Adi, Mudah-mudahan mbak adi bisa mengahadapi masalah ini.
Konselor : terimah kasih atas informasinya.(senyum) Adik konseli : sama-sama mbak. (senyum) 67
Dari hasil wawancara dengan adik konseli dapat disimpulkan bahwa konseli sering diam, susah tidur, dan sering menyendiri.

3) Wawancara dengan tetangga koseli

Konselor : Adi itu anaknya seperti apa bu?
67 Hasil wawancara dengan adik konseli, tanggal 25 November 2010

Tetangga konseli : Adi itu anaknya diam, dia juga jarang kemana- mana makanya pada waktu ada masalah itu tetangga sekitar sempat kaget.
Konselor : Apakah menurut ibu Adi mengalami perubahan? Tetangga koseli : iya mbak dia mengalami perubahan.
Konselor : perubahan apa yang ibu ketahui setelah Adi mengalami permasalah itu?
Tetangga konseli : sekarang anaknya tambah diam, kelihatannya murung setelah ada masalah itu, kepikiran terus paling mbak... kasihan anak itu.
Konselor : bagaimana ibu dan tetangga-tetangga sekitar menyikapi permasalah itu?
Tetangga konseli : kami Cuma bisa berharap mbak mudah-mudahan urusannya cepat selesai, Adi dan keluarga diberi kesabaran dan Adi juga dapat menghadapinya dengan baik.
Konselor : terima kasih atas informasinya (senyum) Tetangga konseli : sama-sama. (senyum) 68
Dari hasil wawancara dengan tetangga konseli dapat disimpulkan bahwa konseli sering diam dan murung.
68 Hasil wawancara dengan tetangga konseli, tanggal 25 November 2010

4) Wawancara dengan staff lembaga yang menangani kasus remaja tersebut (staff SCCC)
Konselor : menurut saudara adik Adi itu seperti apa?
Staff lembaga : Adi itu anak yang pendiam dan tipe anak yang tertutup (introfet) yang nggak mudah bercerita, apalagi dengan orang yang belum dia kenal.
Konselor : perilaku apa saja yang muncul setelah adanya masalah tersebut?
Staff lembaga : dia merasa cemas, ketakutan. Apalagi dengan keputusan yang akan dibacakan oleh pengadilan, sepertinya dia tidak mau mengecewakan kedua orang tuanya lagi, dia selalu berharap pada akhirnya nanti dia tidak mendapatkan hukuman, sehingga dia dapat mewujudkan semua cita-cita serta membanggakan kedua orang tuanya, oleh karena itu kami berusaha semaksimal mungkin untuk selalu mengupayakan akan meringankan hukuman yang akan diberikan kepada Adi.
Konselor : terimah kasih banyak atas informasinya. (senyum sambil berjabat tanggan)
Staff lembaga : sama-sama. 69 (senyum) 2010

69 Hasil wawancara dengan staff lembaga yang menangani kasus Adi, tanggal 2 November
 Dari hasil wawancara dengan staff SCCC dapat disimpulan bahwa konseli merasa cemas dan ketakutan.

Oleh karena itu berdasarkan data yang diperoleh dari hasil wawancara dengan para informan diatas dapat disimpulkan sementara bahwa dampak perasaan bersalah seorang remaja yang membunuh bayinya adalah:
1) Konseli mengalami kegelisahan, 
2) sering was-was,
 3) Merasa takut akan hukuman,
 4) Lebih banyak diam, 
5) sering menyendiri dikamar, 
4) susah tidur,
 5) kurang nafsu makan.

Berikut ini merupakan hasil observasi yang dilakukan peneliti untuk mengetahui dampak perasaan bersalah sebelum dilakukannya proses konseli:
Tabel 3.3
Hasil Observasi Dampak Perasaan Bersalah Sebelum Dilakukannya Proses Konseling


No Aspek Yang Di Observasi Sebelum Dilakukannya Proses Bimbingan Konseling Islam
A B C
1. Konseli mengalami
kegelisahan
2. Sering was-was
3. Merasa ketakutan akan
hukuman
4. Lebih banyak diam
5. Sering menyendiri
6. Susah tidur
7. kurang nafsu makan

Keterangan:
A : Tidak pernah
B : Kadang-kadang C : Masih dilakukan

2. Deskripsi data tentang Proses Bimbingan Konseling Islam dengan Terapi Realitas dalam mengatasi perasaan bersalah pada seorang remaja yang membunuh bayinya di Banjarsugihan Tandes Surabaya
Setelah melihat dampak dari perasaan bersalah seorang remaja yang membunuh bayinya maka langkah selanjutnya adalah mendiskripsikan Proses Bimbingan Konseling islam. Dan dalam proses Bimbingan Konseling ada beberapa langkah yang dapat digunakan oleh konselor dalam proses pemberian bantuan agar mendapatkan hasil yang maksimal, dan yang perlu dilakukan diantaranya yaitu:
a. Identifikasi masalah

Identifikasi masalah adalah langkah awal yang dipakai seorang konselor dalam proses konseling. Langkah ini digunakan untuk mengumpulkan data dari berbagai sumber yang berfungsi untuk mengenal kasus beserta gejala-gejala yang nampak pada konseli.
Dalam proses indentifikasi ini konselor mengambil kesimpulan dari hasil wawancara sebelumnya yang dilakukan peneliti dengan para informan diantaranya yaitu ibu konseli, adik konseli, tetangga konseli dan orang dari lembaga yang menangani kasus tersebut (staff SCCC) pada proses pencarian data mengenai dampak perasaan bersalah. Dan untuk mengetahui permasalahan lebih lanjut maka konselor juga melakukan proses konseling terhadap konseli.
Berikut ini merupakan tabel proses konseling untuk penggalian data masalah konseli:



Tabel 3.4
Sesi I (Dialog antara Konselor dengan Konseli)70

No. Ungkapan Verbal Ungkapan Nonverbal Teknik
1. Ko: “Assalamualaikum...” Senyum, ramah Attending (mengetuk pintu, menghampiri
konseli untuk berjabat tangan)
2. Kon’s:“Waalaikumsalam...si lakan masuk mbak...silakan duduk” Kaget, tersenyum kemudian
mempersilakan duduk -
3. Ko: “Gimana kabarnya dik
Adi?” Senyum Bertanya
terbuka
4. Kon’s: “Baik mbak...” Dijawab singkat karena kebetulan konseli sedang mengerjakan PR
pelajaran kimia -
5. Ko: “Kelihatannya adik lagi sibuk ya?” Menghampiri konseli
yang sedang mengerjakan tugas Bertanya terbuka
6. Kon’s: “Lagi ngerjakan PR” Jawab singkat -
7. Ko: “Bisa mengganggu waktunya sebentar dik?” Senyum, menatap wajah konseli Bertanya terbuka
8. Kon’s: “Iya mbak, silahkan...!” Senyum kecut -
9. Ko: “Sebelumnya kenalkan saya Emma dari IAIN, sekarang lagi PPL di SCCC dan kebetulan sekarang saya memengang kasus Adik, saya ditugaskan dari SCCC untuk kasih support atau
motivasi terhadap adik” Menatap wajah konseli sambil berjabat tangan, dan senyum Attending (berjabat tangan)
10. Kon’s: “Iya mbak...” Senyum -
11. Ko: “Perasaan adik Adi sekarang bagaimana?” Serius Bertanya terbuka,
eksplorasi perasaan
12. Kon’s: ...(diam) Mengelengkan kepala, bingung, sedikit senyum kecil -
13. Ko: “kelihatannya adik
sekarang bingung bagaimana mengungkapkannya” Senyum Attending
14. Kon’s: ...(diam agak ragu) Senyum, malu&takut karena berhadapan dengan orang yang belum terlalu dikenal -

70 Prose konseling tanggal 2 November 2011

15. Ko: “saya mengerti adik adi sekarang bingung bagaimana mengungkapkannya, Adik Adi anggap saja mbak Emma ini seperti mbak adik Adi sendiri. Adik Adi bisa bercerita dengan mbak sepuasnya, siapa tau ada yang pengen adik bicarakan setelah adanya masalah yang adik alami.
Mbak faham dan mengerti
apa yang adik Adi rasakan sekarang”. Serius, konselor agak condong menatap wajah konseli Empati, Attending
16. Kon’s:...“Saya merasa bersalah mbak” Diam lama, sambil meremas tangan tapi
kemudian menjawab -
17. Ko: “dapatkah adik Adi menjelaskan lebih jauh tentang perasaan bersalah
Adik?” Serius Bertanya terbuka, eksplorasi
perasaan
18. Kon’s: “Saya merasa bersalah dengan semua yang pernah saya lakukan mbak.” Sedih, suara bergetar -
19. Ko: “saya memahami bagaimana perasaan bersalah adik, apakah adik bisa mengungkapkan lebih
dalam?” Menatap wajah konseli Empati,bertanya terbuka, eksplorasi perasaan
20. Kon’s: “Saya menyesal mbak kenapa saya dulu sampai bisa meninggalkan bayi saya, dan mengapa saya juga waktu itu tidak bercerita dengan orang tua saya tentang semua masalah yang saya alami. Sayamalu dengan tuhan, orang-orang serta saya juga takut kalau pada akhirnya
saya dimasukan kedalam penjara.” Menunduk Sambil meremas-remas tangan -
21. Ko: “kalau boleh tau permasalahan awal kejadiannya itu gimana hingga akhirnya adik terjerat
masalah seperti ini? Serius Bertanya terbuka
22. Kon’s:...(menceritakan
semua seperti pada deskripsi masalah) Serius, sedih, suara bergetar dan sesekali
kebingungan -
23. Ko: “Saya memahami
dengan semua masalah yang adik Adi alami sekarang, Empati, Serius dan menatap wajah konseli Empati, refleksi
perasaan, penguatan
 adik Adi harus yakin Allah pasti akan memberikan jalan yang terbaik bagi ummatnya. Adik Adi dalam hal ini tidak sepenuhnya salah. Adik harus tetap yakin, jangan lupa selalu berdoa pada Allah.”
24. Kon’s: “Iya mbak semua itu
memang berawal dari laki- laki yang kurang ajar itu ...” Cemas, takut, dan mempersalahkan -
25. Ko: “adik tidak sa ngomong seperti itu” meyakinkan meyakinkan
26. Kon’s: “Kemarin saya ditanyai sama pihak rutan pas waktu saya lapor, kata penjaganya “Adi pengen sekolah atau tidak, kalau sudah tidak mau sekolah ya dimasukan saja kepenjara”.
pada waktu itu saya takut sekali mbak” konseli bercerita dengan polosnya. -
27. Ko: “Terus adik
nanggapinya gimana?” Senyum bertanya terbuka
28. Kon’s: “terus ya saya jawab masih ingin sekolah pak” Semangat -
29. Ko: “Bagus sekali, saya seneng mendengarnya, disekolahan temen dan guru adik Adi bagaimana setelah melihat permasalahan yang adik Adi alami itu” Menatap wajah konseli Bertanya terbulka, eksplorasi perasaan
30. Kon’s: : “sebagian si masih ada yang tidak suka terhadap
saya.” Serius -
31. Ko: “terus adik Adi menyikapinya gimana? Menatap serius dan tenang Bertanya terbuka, eksplorasi
perasaan
32. Kon’s: “saya ya biasa-biasa
saja, saya cuekin saja mbak. Lebih tenang -
33. Ko: “adik Adi bener, yang adik lakukan tadi merupakan tindakan yang bagus, selama adik Adi tidak menggangu mereka terus buktikan sama guru dan teman-teman adik Adi kalau sebenarnya adik Adi mampu mendapatkan prestasi dengan baik, terus
jangan lupa adik Adi harus tetap belajar” Serius dengan menatap wajah konseli Perilaku mempengaruhi
34. Kon’s: “iya kak saya akan Menganggukan kepala -selalu belajar.”
35. Ko: “mungkin pertemuan ini saya akhiri dulu kira-kira 2 minggu lagi saya akan kesini lagi, kalau ada apa-apa adek juga bisa hubungi no tlp
mbak” Seyum kemudian berjabat tangan untuk pamit pulang -
36. Kon’s: “iya mbak terima
kasih” Membalas senyuman -

Keterangan:
Ko : Konselor Kon’s: Konseli


Dari hasil proses identifikasi diatas dapat diketahui bahwa permasalahannya disini adalah konseli mengalami perasaan bersalah karena telah membunuh bayinya.
b. Diagnosa

Berdasarkan data dari hasil identifikasi masalah, maka konselor menetapkan masalah utama yang dihadapi konseli disini adalah perasaan bersalah karena disebabkan telah membunuh bayinya Sehingga berakibat konseli mengalami kegelisahan, was-was, takut akan hukuman, lebih banyak diam, sering menyendiri dikamar, susah tidur, serta kurang nafsu makan.
c. Prognosa

Berdasarkan data-data dan kesimpulan dari langkah diagnosa. Dalam hal ini konselor berusaha menetapkan sebuah alternatif tindakan atau bantuan pada konseli dengan mengunakan pendekatan Terapi Realitas karena dari kasus di atas dasar permasalahannya adalah perasaan bersalah dan itu disebabkan karena ketidakmampuan konseli dalam melihat sesuatu sesuai dengan realitasnya sehingga tidak mampu bertanggung jawab.
Adapun yang dilakukan konselor disini adalah:

1) Membantu konseli dalam menghadapi kenyataan, serta menilai tingkah lakunya sendiri secara realitas sehingga mampu bertanggung jawab.
2) Membantu konseli dalam merumuskan rencana-rencana yang spesifik bagi tindakan konseli selanjutnya.
d. Treatment atau Terapi

Terapi yaitu pelaksanaan pemberian bantuan atau bimbingan. Pada langkah ini konselor berusaha memberikan Bimbingan Konseling Islam dengan Terapi Realitas, yaitu berupa:
1) Membantu konseli dalam menghadapi kenyataan, serta menilai tingkah lakunya sendiri secara realitas sehingga mampu bertanggung jawab.
Dalam hal ini konselor berusaha meyakinkan konseli tentang kenyataan yang ada bahwa masalah yang berlalu tidak mungkin bisa terulang lagi, bayi yang telah dibuangnya hingga meninggal juga tidak akan bisa hidup dan kembali lagi, jadi diharapkan dengan konseli mendengar ungkapan yang diberikan konselor tersebut konseli bisa melihat apakah yang dilakukannya dengan menyesali dan meratapi itu semua ada gunanya atau tidak,

karena pada dasarnya konseli harus bisa berfikir secara realitas untuk melihat kenyataan yang ada.
Setelah konselor memberikan pemahaman tentang kenyakinan yang ada, selanjutnya diharapkan konseli mampu menilai tingkah lakunya secara realitas. Konselor disini berusaha mengemukakan bahwa tindakan yang dilakukan dengan selalu menyesali apa yang dilakukan merupakan tindakan yang kurang baik.
Berikut ini merupakan tabel verbatim yang dilakukan konselor dengan konseli:
Tabel 3.5
Sesi I I (Dialog antara Konselor dengan Konseli)71


No. Ungkapan Verbal Ungkapan
Nonverbal Teknik
1. Ko: “Bagaimana kabar adik Adi sekarang? Senyum, ramah, menatap wajah
konseli Attending, bertanya
terbuka,
2. Kon’s: “Alhamdulillah baik mbak...” Senyum -
3. Ko: “saya lihat adik Adi nampak murung, kata ibu dan adik rani akhir-akhir ini adik juga lebih sering diam dan mengurung diri di kamar,
apakah benar demikian?” Menatap wajah konseli Bertanya terbuka, eksplorasi perasaan
4. Kon’s: “iya mbak..” Murung, diam -
5. Ko: “Apakah adik bisa mengungkapkan kemurungan adik yang mengakibatkan sering diam dan menyendiri Cemas, bingung, menatap wajah konseli Bertanya terbuka, eksplorasi perasan
6. Kon’s: “perasaan bersalah saya kadang muncul mengganggu kehidupan saya, kalau ingat masalah itu saya nampak lebih gelisah, was-was sampai-
sampai saya susah tidur dan Sedih -

71 Proses konseling tanggal 25 November 2010
 tidak nafsu makan. Saya menyesal telah melakukan itu saya ingin melupakannya tapi
tidak bisa”
7. Ko: “Saya mengerti bagaimana perasaan adik, tapi apakah dengan cara diam dan menyendiri adik nampak
senang” Menatap wajah konseli Empati, perilaku mempengaruhi
8. Kon’s: “tidak juga, namun saya selalu berpikir terus” Menatap wajah konselor -
9. Ko: “mungkin yang menjadi pikiran adik adalah rasa bersalah mengapa telah melakukan semua itu, apa betul
demikian” Serius menatap wajah konseli Menangkap pesan utama, bertanya terbuka
10. Kon’s: “iya mbak” Sedih, cemas -
11. Ko: “berarti kalau begitu permasalah adik sekarang bagaimana menghilangkan
perasaan bersalah itu” Menekankan, suara lebih tegas Mendefinisika n masalah konseli
12. Kon’s: “iya mbak” Menganggukan kepala -
13. Ko: “bagus, adik sudah memahami masalah adik yaitu bagaimana menghilangkan perasaan bersalah adik sehingga tidak timbul gelisah, was-was dll”. Lalu apakah adik punya cara untuk menghilangkan
perasan bersalah itu? Serius menatap konseli Mengarahkan, memfokuskan, bertanya
14. Kon’s: “saya bingung” Mengelengkan
kepala -
15. Ko: “mengapa adik bisa bicara demikian, adik perlu tau kejadian yang telah berlalu tidak mungkin kembali lagi, bayi yang sudah meninggal tidak akan bisa hidup kembali jadi hadapi yang ada didepan jangan tengok kebelakang, jangan sampai adik larut dalam masalah ini terus menerus, masalah yang telah terjadi biarlah menjadi pelajaran untuk kedepannya agar adek bisa lebih bersikap dewasa, saya tau adik pasti bisa karena masa depan adek masih panjang”. Sekarang terserah adik bagaimana menyikapinya saya tau adik pasti bisa berfikir
lebih baik dan adek pasti mengetahuinya.” Serius menatap wajah konseli sesekali mengengam tangan konseli Ekplorasi perasaan, menekankan, mempengaruhi
16. Kon’s:...(diam dan berfikir) Semangat “Iya mbak, saya akan coba belajar untuk bisa menerima kenyataan dan menghilangkan
perasaan bersalah itu”
17. Ko: “alhamdulillah...mbak nyakin adik pasti bisa, sebelum kita tutup pertemuan hari ini mbak ingin adik memikirkan tindakan apa yang akan adik lalukan untuk menghilangkan perasaan itu, mbak harap adik bisa berfikir dengan baik dengan melihat realitas yang
ada” Senyum Bertanya terbuka
18. Kon’s: “iya mbak...” Wajah cerah -
19. Ko: “baiklah kalau gitu mbak
pamit pulang dulu, 1 minggu lagi mbak akan kesini” Berjabat tangan
20. Kon: “iya mbak...terima kasih” Senyum -

2) Membantu konseli dalam merumuskan rencana-rencana yang spesifik bagi tindakan.
Disini konselor setelah memberikan tugas kepada konseli untuk merumuskan rencana-rencana yang spesifik bagi tindakan konseli selanjutnya, konselor meminta agar konseli mengungkapkannya. Diharapkan dengan adanya pemberian tugas itu konseli bisa memikirkan secara realitas dan secara matang usaha atau rencana-rencana apa yang akan dilakukan untuk kehidupan yang akan datang agar dapat menghilangkan perasaan bersalah itu.
Konseli diharapkan dapat menghilangkan perasaan bersalah agar kegelisahan, was-was, takut akan hukuman, diam, dan menyendiri dapat diganti dengan tindakan yang lebih baik. Berikut ini merupakan verbatim yang dilakukan:
 Tabel 3.6
Sesi III (Dialog antara Konselor dengan Konseli) 72

No. Ungkapan verbal Ungkapan
Nonverbal Teknik
1. Ko: “Assalamualaikum...” Mengetok pintu Attending
2. Kon’s: “waalaikumsalam...saya
senang mbak sudah datang” Senyum -
3. Ko: “seperti yang saya janjikan kemarin bahwa saya akan menemui adik lagi untuk menindaklanjuti hal yang akan adik lakukan untuk
menghilangkan perasaan bersalah adik” Senyum, ramah Ekplorasi perasaan
4. Kon’s: “iya mbak” Senyum, wajah
cerah -
5. Ko: “apakah adik Adi sudah
memikirkannya” Tegas Bertanya
terbuka
6. Kon’s: “iya mbak ...sudah..” Menatap wajah konselor -
7. Ko: “baiklah apa kira-kira yang akan adik lakukan
sebagai pegangan untuk tindakan adik selanjutnya?” Menatap wajah konseli, sambil memegang tangan Bertanya terbuka
8. Kon’s: “mungkin saya akan mengisi hari-hari saya dengan kesibukan misalnya mengikuti kegiatan ekstra sekolah, membantu ibu membuat jualan dan lain sebagainya.” Nampak lebih lega, semangat -
9. Ko: “kalau boleh tau ekstra
sekolah apa yang akan adik ikuti” Menatap wajah konseli Bertanya terbuka
10. Kon’s: “mungkin saya akan mengikuti semacam pelatihan penulisan karya ilmiah atau
pelatihan-pelatihan lain” Menatap wajah konselor -
11. Ko: “bagus, apa adik sudah berpikir mengenai langkah itu? Menatap konseli Bertanya terbuka
12. Kon’s: iya mbak...mudah- mudahan dengan saya mencari kesibukan itu saya mampu sedikit demi sedikit bisa melupakan masalah tersebut. Lagian juga kasihan ibu tidak pernah ada yang bantu, rani juga biasanya cuma kadang-kadang saja bantunya terus saya juga
seperti itu soalnya sebelum- sebelumnya kalau saya dimintai Serius, sesekali menunduk -

72 Proses konseling, tanggal 15 Desember 2010
tolong saya malas buat membantunya, keseringan saya mengurung diri. Jadi ibu juga
tidak berani buat nyuruh”
13. Ko: “baiklah tindakan yang adik kemukakan merupan tindakan yang sangat bagus sekali, mudah-mudahan adik dapat berusaha untuk merubahnya yang lebih baik, selama adik nyakin Allah akan pasti akan memberikan jalan, seperti firman Allah dalam surat ar- ra’du ayat 11 yang artinya sesungguhnya Allah tidak akan merubah keadaan suatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri
mereka sendiri””. Menatap konseli, sesekali memegang tangan konseli untuk memberikan kenyakinan Ekplorasi pengalaman, memberikan kenyakinan
14. Kon’s: “Amin...mbak doain ya” Menatap konselo
dengan harapan -
15 Ko: “iya mbak pasti mendoakan, sebelum kita tutup pertemuan kali ini bagaimana
perasaan adik sekarang?” Memegang tangan konseli Menyakinkan
16. Kon’s: “ saya sekarang merasa
lega mbak” Senyum -
17. Ko: “Bagus kalau begitu” terima kasih untuk waktunya mudah-mudahan pertemuan kali ini ada manfaatnya, 2 minggu
lagi saya akan datang kemari” Senyum, senang -
18. Kon’s: “Iya mbak, saya senang kalau mbak bisa kesini lagi, saya tunggu kedanganya.” Senyum -
e. Follow Up

Setelah proses terapi dilakukan selanjutnya adalah langkah evaluasi atau Follow Up, disini konselor melihat sejauh mana perubahan yang terjadi pada diri konseli setelah proses Bimbingan Konseling yang telah dilakukan dengan terapi yang telah ditetapkan. Berikut ini verbatim yang dilakukan:



Tabel 3.7
Sesi IV (Dialog antara Konselor dengan Konseli)73

No. Ungkapan Verbal Ungkapan Nonverbal Teknik
1. Ko: “Assalamualaikum...” Ramah tama, senyum, berjabat
tangan Attending
2. Kon’s: “Wa’alaikumsalam...silakan masuk mbak...” Senyum, mempersilakan masuk sambil
berjabat tangan -
3. Ko: “Sepertinya Adik Adi lagi
sibuk ya...” Ramah, senyum,
menatap konseli Bertanya
terbuka
4. Kon’s: “Biasa mbak, dari pada libur sekolah terus nganggur ya
bantu-bantu ibu buat jualan gorengan.” Tenang, nyantai, dan senyum -
5. Ko: “Bagus kalau gitu, kabar adik
Adi gimana” Menatap konseli Bertanya
terbuka
6. Kon’s: “Alhamdulillah baik
mbak... Menatap wajah
konselor -
7. Ko: “Alhamdulillah, sepertinya adik sudah lebih baik apakah demikian” Santai Empati, bertanya terbuka, eksplorasi
perasaan
8. Kon’s: “Iya mbak, sekarang saya sudah lumayan bisa belajar sedikit demi sedikit untuk melupakan permasalahan yang saya alami.
Saya selalu mencari kesibukan biar saya bisa belajar melupakan masalah ini.
saya menyadari mbak bahwa tindakan yang saya lakukan kemarin itu kurang baik atau tidak benar, saya tidak boleh larut dengan masalah yang saya alami sekarang, masa depan saya masih panjang. Saya harus bisa menerima semua kenyataan yang ada dan saya harus bisa
bertanggung jawab. Serius, lebih tenang -
9. Ko: “Yang adik Adi kemukakan merupakan tindakan yang sangat bagus sekali, saya senang mendengarnya. Adik Adi harus
terus berusaha.” Senang, serius, dan senyum Perilaku mempengaruhi
10. Kon’s: “Iya mbak, saya harus
berusaha biar lebih baik Semangat, dan lebih
tenang -
11. Ko: “mudah-mudahan setiap pertemuan yang kita lakukan ada ramah -

73 Proses konseling tanggal 26 Desember 2010
manfaatnya. Dan terima kasih atas waktu yang adik sediakan untuk mbak, kalau selama ini mbak ada
salah kata mbak minta maaf “
12. Kon’s: iya mbak, sama-sama, saya malah yang harus berterima kasih karena mbak sudah membantu saya, saya senang
dengan mbak.” Senyum semangat -
13. Ko: “iya sama-sama, kalau gitu mbak pamit dulu, kapan-kapan
kalau ada waktu lagi saya kesini. Berjabat tangan attending
14. Kon’s: “ iya saya tunggu
kedatangan mbak” senyum -


3. Hasil akhir Bimbingan Konseling Islam dalam mengatasi perasaan bersalah pada remaja yang membunuh bayinya di Banjarsugihan Tandes Surabaya
Hasil akhir yang diperoleh dari proses Bimbingan Konseling Islam dengan Terapi Realitas dalam mengatasi perasaan bersalah adalah dapat dilihat menurut penuturan orang tua konseli yaitu ibu konseli seperti berikut:
Hasil Wawancara dengan ibu konseli
Konselor : Bagaimana dengan keadaan adik Adi sekarang bu?
Ibu konseli : Alhamdulillah baik mbak...anaknya sekarang lebih bisa menerima kenyataan, dia sudah belajar sedikit demi sedikit untuk melupakan masalah itu sehingga dia tidak larut dalam rasa bersalahnya.
Konselor  : Alhamdulillah, lalu bagaimana dengan dampak-dampak  yang lain?
 Ibu konselor : Alhamdulillah ada banyak perubahan dari mulai dia sering gelisah menjadi tidak gelisah, sudah tidak sering was-was. Rasa ketakutannya juga mulai berkurang. Sebelum pengadilan menyatakan kalau dia bebas juga dia sudah bisa menerima kenyataan bahwa dia harus mampu bertangung jawab dengan semua yang telah dilakukanya itu sehingga pada waktu itu dia mampu lebih tegar dan rasa ketakutannya pun berkurang.
Konselor : Alhamdulillah bu kalau gitu
Ibu konseli : iya mbak (senyum), terima kasih mbak ya buat motivasi yang mbak Emma berikan selama ini, mbak sudah banyak meluangkan waktunya untuk kami, sudah banyak membantu Adi, maaf kami sekeluarga tidak bisa balas apa- apa. 74
Konselor : sama-sama bu, ibu tidak usa ngomong seperti itu  saya  senang sekali bisa bantu adik Adi, saya senang adik adi bisa berubah lebih baik.

Itulah hasil wawancara yang dipaparkan oleh ibu konseli yang mana dapat dilihat bahwa dari hasil proses Bimbingan Konseling yang diberikan konselor, konseli mengalami perubahan.
Adapun untuk memperjelas hasil setelah dilakukannya proses konseling penulis membuat tabel sebagaimana berikut:
74 Hasil wawancara dengan ibu konseli, Tanggal 17 Mei 2011

Tabel 3.8
Hasil Observasi Dampak Perasaan Bersalah Sesudah Dilakukannya Proses Konseling


No Aspek Yang Di Observasi Sesudah Dilakukannya Proses Bimbingan Konseling Islam
A B C
1. Konseli mengalami
kegelisahan
2. sering was-was
3. Merasa ketakutan akan
hukuman
4. Lebih banyak diam
5. sering menyendiri
6. Susah tidur
Tidak nafsu makan

Keterangan:
A : Tidak pernah
B : Kadang-kadang C : Masih dilakukan

BAB IV ANALISIS DATA

   Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis deskriptif komperatif yaitu dengan membandingkan pelaksanaan Bimbingan Konseling Islam dilapangan dengan teori pada umumnya, serta membandingkan kondisi konseli sebelum dilakukannya proses konseling dan sesudah dilaksanakannya proses konseling. Berikut dibawah ini merupakan analisis data tentang dampak perasaan bersalah seorang remaja yang membunuh bayinya di Banjarsugihan Tandes Surabaya, analisis data tentang proses serta hasil Bimbingan Konseling Islam dengan terapi realitas dalam mengatasi perasaan bersalah seorang remaja yang membunuh bayinya di Banjarsugihan Tandes Surabaya.

A. Analisis Data Tentang Dampak Perasaan Bersalah Seorang Remaja yang Membunuh Bayinya di Banjarsugihan Tandes Surabaya.
Untuk mengetahui gambaran yang lebih jelas mengenai analisis data tentang dampak perasaan bersalah seorang remaja yang membunuh bayinya marilah kita membandingkan data yang ada di lapangan dengan teori, dapat dilihat dengan tabel berikut:
Tabel 4.1
Analisis data dampak perasaan bersalah seorang remaja yang membunuh
bayinya

No. Data teori Dampak perasaan bersalah Data empiris(lapangan) Dampak perasaan bersalah
1. 1) Secara fisik
a) Kelesuan
b) Sakit yang semu
c) Sakit yang nyata 1). Dampak yang sering nampak
a) konseli mengalami gelisah
b) was-was
c) takut hukuman
 d) Sakit kepala
e) Sakit perut
f) Kehabisan tenaga
g) Serta penyakit yang tidak jelas lainnya. d) diam
e) sering menyendiri
f) susah tidur
g) tidak nafsu makan
2) Secara emosi
a) Depresi
b) Marah
c) Mengasihi diri
d) Merasa tidak mampu
e) Menolak tanggung jawab 2) .Dampak yang sesekali nampak


a) marah
b) meraa jauh dari Allah
c) menyalahkan orang lain
d) membela diri scara berlebihan
3) Secara rohani
a) Perasaan jauh dari Allah
b) Tak ada suka cita
c) Sulit berkomunikasi dengan sesama
4) Secara relasi
a) Mudah marah
b) Kemarahan yang meledak- ledak
c) Menyalahkan orang lain
d) Menarik diri
e) Membela diri secara berlebihan
f) Ketidakmampuan untuk santai
g) Selalu ingin dibenarkan
h) Menolak untuk menerima pujian
       Dalam menganalisa dampak perasaan bersalah yang muncul pada diri konseli dapat dilihat dengan membandingkan antara dampak yang ada dilapangan dengan dampak perasaan bersalah menurut teori. Dan dampak yang ada dilapangan menunjukan ada kesamaan anatara lain adalah dampak yang sering nampak pada konseli diantaranya yaitu mengalami gelisah, was- was, takut akan hukuman, diam, sering menyendiri, susah tidur, tidak nafsu makan. Sedangkan selain itu ada juga dampak yang sesekali nampak yaitu marah, perasaan jauh dari Allah, menyalahkan orang lain, membela diri secara berlebihan dan itu semua menunjukan ada kesamaan.
 B. Analisis Data Tentang Proses Bimbingan Konseling Islam dengan Terapi Realitas Dalam Mengatasi Perasaan Bersalah Seorang Remaja yang Membunuh Bayinya di Banjarsugihan Tandes Surabaya
Dalam menganalisis proses pelaksanaan Bimbingan Konseling Islam dengan Terapi Realitas dalam mengatasi perasaan bersalah seorang remaja yang membunuh bayinya di Banjarsugihan Tandes Surabaya diperlukan analisis pembandingan antara data empiris dengan teori yang ada, oleh karena itu untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel dibawah ini:
Tabel 4.2
Perbandingan Proses Pelaksanaan Dilapangan Dengan Teori Bki No. Teori BKI Pelaksanaan BKI
1. Konselor:
Konselor adalah orang yang mempunyai kemampuan atau keahlian dan mempunyai kewenangan dalam membimbing serta memberikan bantuan terhadap orang yang mempunyai masalah yang tidak dapat diselesaikannya sendiri. Syarat-syarat minimal yang harus di miliki:
a. memiliki pribadi yang menarik 
b.memiliki rasa commited dengan nilai-nilai kemanusiaan
c. bersikap terbuka
d. perasaan peka terhadap konseli
e. berkepribaian smpatik
f. memiliki sikap dewasa Konselor:
Emma Juwita Sari, seorang Mahasiswa Jurusan Bimbingan Konseling Islam IAIN Sunan Ampel Surabaya yang akan menempuh S1.
Dia memiliki kepribadian murah senyum, baik, luwes, ramah tama serta memiliki sikap dewasa.
Sebelumya dia juga pernah melakukan proses konseling terhadap temannya, serta sudah pernah melakukan praktek pengalaman lapangan di SCCC (Surabaya Children Crisis Senter) dalam menangani kasus ini.
2. Konseli:
Konseli adalah individu yang mempunyai masalah lahir dan batin dalam hidupnya, dan tidak mampu mengatasi sendiri sehingga memerlukan bantuan konselor. Konseli:
Konseli seorang remaja yang berumur 15 tahun yang mengalami perasaan bersalah karena membunuh bayinya. Karena melihat kondisi psikis konseli yang mengalami masalah dan tidak dapat menyelesaikannya sendiri maka dalam hal
ini   konselor   memberikan   bantuan pada konseli agar dapat sedikit membantu meringankan beban masalahnya.
3. Masalah: Masalah:
Masalah adalah sesuatu yang Mengalami perasaan bersalah sehingga
menghambat, merintangi, menimbulkan dampak seperti: gelisah,
mempersulit dalam usaha mencapai was-was,   takut  akan  hukuman, diam,
sesuatu. menyendiri, susah tidur dan kurang nafsu
Masalah yang menjadi bidang maka .
garapan Bimbingan Konseling ialah Masalah ini merupakan bidang garapan
masalah-masalah psikologis seperti: BKI karena konseli mengalami perasaan
ketidak matangan, ketidak stabilan bersalah dan itu merupakan masalah
emosional, ketidak mampuan psikologis yang termasuk perasaan ego
mengontrol diri dan perasaan ego yang negatif.
yang negatif.
4. Teori BKI Proses pelaksanaan
Langkah-langkah:
a. Identifikasi masalah
Langkah yang digunakan untuk mengumpulkan data dari berbagai sumber yang berfungsi untuk mengenal kasus beserta gejala- gejala yang nampak pada konseli. Langkah-langkah:
a. Tahap pertama
Konselor mengumpulkan data yang diperoleh dari berbagai sumber data mulai dari konseli, ibu konseli, adik konseli, tetangga, serta orang lembaga yang menangani kasus koseli (staff SCCC). Dan dari hasil yang diperoleh dari proses wawancara dan observasi menunjukan bahwa konseli mengalami perasaan bersalah.
b. Diagnosis
Menetapkan masalah yang dihadapi konseli beserta latar belakangnya b. Tahap kedua
Melihat dari hasil identifikasi masalah maka dapat disimpulkan bahwa remaja tersebut pengalami perasaan bersalah yang disebabkan karena telah membunuh bayinya sehingga kemudian berdampak menjadi gelisah, was-was, takut akan hukuman, diam dan sering menyendiri, susah tidur, serta tidak nafsu makan.
c. Prognosis
Menentukan jenis bantuan atau terapi yang sesuai dengan permasalahan konseli.
Langkah ini ditetapkan berdasarkan kesimpulan dari diagnosis. c. Tahap ketiga


Menetapkan jenis bantuan berdasarkan diagnosa, yaitu berupa Bimbingan Konseling Islam dengan mengunakan pendekatan Terapi Realitas karena dari kasus di atas dasar permasalahannya adalah perasaan bersalah dan itu disebabkan karena ketidakmampuan konseli dalam melihat sesuatu sesuai dengan realitasnya sehingga tidak mampu bertanggung jawab.
d. Terapi
Proses pemberian bantuan terhadap konseli berdasarkan
prognosis. d. Tahap keempat


1) Membantu konseli dalam menghadapi kenyataan, serta
dapat   menilai   tingkah  lakunya
 e. Evaluasi
Mengetahui sejauh mana langkah terapi yang dilakukan dalam mencapai hasil. sendiri secara realitas sehingga mampu bertanggung jawab.
2) Membantu konseli dalam merumuskan rencana-rencana yang spesifik bagi tindakan konseli selanjutnya.
e. Tahap kelima
    Melihat perubahan pada konseli setelah dilakukannya proses Bimbingan dan Konseling Islam dengan terapi realitas. Adapun perbandingan proses pelaksanaan Bimbingan Konseling Islam dilapangan dengan teori Bimbingan Konseling Islam ada ketidaksamaan seperti syarat-syarat menjadi seorang konselor yaitu memiliki pribadi yang menarik serta berdedikasi yang tinggi, memiliki rasa commited dengan nilai- nilai kemanusiaan, bersikap terbuka, perasaan peka terhadap konseli, berkepribadian simpatik dll. dalam hal ini peneliti sendiri yang sekaligus sebagai konselor masih merasa banyak sekali kekurangan seperti yang disebutkan dalam teori yang ada.
Sedangkan dalam melakukan proses Bimbingan Konseling Islam dengan Terapi Realitas, ada kesamaan yaitu pada langkah-langkah melakukannya proses konseling. Langkah-langkah yang dilakukan diantaranya yaitu langkah identifikasi masalah, diagnosis, prognosis, terapi, serta follow up atau evaluasi.
     Identifikasi masalah dilakukan sebagai tahap awal konselor untuk mengetahui gejala yang nampak pada diri klien. Disini konselor melakukan proses konseling terhadap konseli untuk melihat masalah yang dialami, dan ternyata yang menjadi permasalahnya adalah perasaan bersalah yang
 disebabkan karena telah membunuh bayinya sehingga berdampak menjadi gelisah, was-was, takut akan hukuman, diam, sering menyendiri, susah tidur dan tidak nafsu makan.
Berdasarkan hasil identifikasi maka konselor melakukan diagnosa dengan menetapkan masalah yang dihadapi klien. Adapun masalahnya adalah perasaan bersalah karena disebabkan telah membunuh bayinya. Dalam hal ini Konseli masih terus merasa bersalah dengan apa yang telah diakukannya. Selanjutnya yaitu konselor menetapkan jenis bantuan atau prognosa dengan menggunakan terapi realitas Karena konselor menyimpulkan bahwa dasar dari permasalahan pada kasus di atas adalah perasaan bersalah yang disebabkan karena ketidakmampuan konseli dalam melihat sesuatu sesuai dengan realitasnya sehingga tidak mampu bertanggung jawab.
Adapun treatment atau terapi yang di sini adalah 
1) Membantu konseli dalam menghadapi kenyataan, serta menilai tingkah lakunya sendiri secara realitas sehingga mampu bertanggung jawab. 
2) Membantu konseli dalam merumuskan rencana-rencana yang spesifik bagi tindakan konseli selanjutnya.
c. Analisis Data Tentang Hasil Akhir Bimbingan Konseling Islam Dalam Mengatasi Perasaan         Bersalah Pada Remaja yang Membunuh Bayinya di Banjarsugihan Tandes Surabaya
Untuk melihat hasil akhir dari proses Bimbingan Konseling Islam dengan Terapi Realitas yang diberikan oleh konselor dalam mengatasi perasaan bersalah maka dalam analisis data dapat dilakukan dengan membuat skala perbadingan agar dapat terlihat berhasil atau tidaknya Bimbingan Konseling Islam yang dilakukan. Untuk memperjelas kita dapat melihat tabel skala dibawah ini:
Tabel 4.3
Gejala yang nampak pada diri konseli sebelum dan sesudah konseling
No. Gejala yang Nampak Sebelum
konseling Sesudah
konseling
A B C A B C
1. Konseli mengalami kegelisahan
2. sering was-was
3. Merasa ketakutan akan hukuman
4. Lebih banyak diam
5. sering menyendiri
6. Susah tidur
7. kurang nafsu makan
Skor 2 5 5 2

Keterangan:
A : Tidak pernah
B : Kadang-kadang C : Masih Dilakukan
      Sedangkan untuk melihat tingkat keberhasilan dan kegagalan bimbingan konseling peneliti mengacu pada prosentase kualitatif dengan standart uji sebagai berikut:
a. 75 % - 100 % (dikategorikan berhasil)
b. 60 % - 75 % (cukup berhasil)
c. < 60 % (kurang berhasil)

Perubahan sesudah Bimbingan Konseling sesuai tabel analisis diatas adalah:

a. Gejala yang tidak pernah = 5 5x 100 = = 71,4%
 b. Gejala kadang-kadang = 2 2 x 100 = = 28,6%
c. Gejala masih dilakukan = 0 0 x 100 = 0 %

       Berdasarkan hasil prosentase diatas dapat ketahui bahwa Bimbingan Konseling Islam dengan terapi realitas dalam mengatasi perasaan bersalah seorang remaja yang membunuh bayinya di Banjarsugihan Tandes Surabaya dilihat dari analisis data tentang hasil prosentasi tersebut adalah 71,4% dengan standart 60 % - 75 % yang dikategorikan cukup berhasil dan itu berarti Bimbingan Konseling Islam dengan Terapi Realitas berpengaruh dalam menghadapi Perasaan Bersalah.

BAB V PENUTUP

B. Kesimpulan
Berdasarkan dari hasil penelitian yang telah dilakukan. Maka dapat di ambil kesimpulan sebagai berikut:
1. Dampak perasaan bersalah seorang remaja yang membunuh bayinya di Banjarsugihan Tandes Surabaya adalah:
a. Konseli mengalami kegelisahan,
b. was-was
c. Ketakutan akan hukuman
d. Lebih banyak diam
e. Sering menyendiri atau mengurung diri dikamar.
f. Susah tidur
g. tidak nafsu makan.

2. Proses Pelaksanaan Bimbingan Konseling Islam Dengan Terapi Realitas Dalam Mengatasi Perasaan Bersalah Seorang Remaja Yang Membunuh Bayinya di Banjarsugihan Tandes Surabaya adalah Dalam pelaksanaan proses konselingnya menggunakan langkah konseling pada umumnya yaitu menggunakan langkah identifikasi masalah, diagnosis, prognosis, terapi (treatment), serta evaluasi (follow up). Adapun terapi yang digunakan adalah terapi realitas karena dari kasus di atas dasar permasalahannya adalah perasaan bersalah dan itu disebabkan karena ketidakmampuan konseli dalam melihat sesuatu sesuai dengan realitasnya

sehingga tidak mampu bertanggung jawab. Dan jenis bantuan yang akan diberikan yaitu berupa: 1) dengan cara konselor membantu konseli dalam menghadapi kenyataan, serta dapat menilai tingkah lakunya sendiri secara realitas sehingga mampu bertanggung jawab. 2) Membantu konseli dalam merumuskan rencana-rencana yang spesifik bagi tindakan konseli selanjutnya.
3. Hasil pelaksanaan Bimbingan Konseling Islam Dengan Terapi Realitas Dalam Mengatasi Perasaan Bersalah Seorang Remaja Yang Membunuh Bayinya adalah cukup berhasil itu semua dapat dari hasil prosentase sebanyak 71,4 %, yang dapat dilihat dari adanya perubahan pada sikap atau perilaku konseli yang mulanya mengalami kegelisahan menjadi tidak gelisa, was-was berkurang, takut akan hukuman menjadi tidak takut itu terlihat dari keberanian dan ketegaran konseli dalam menghadapi proses persidangan yang dilakukannya. Serta sudah tidak sering diam dan menyendiri.
C. Saran

Mengingat pentingnya Bimbingan Konseling Islam dalam kehidupan, maka peneliti akan memberikan saran-saran guna memberikan kesempurnaan pada penelitian selanjutnya, karena peneliti menyadari bahwa penelitian ini masih jauh dari kesempurnaan. Hal ini dikarenakan adanya keterbatasan peneliti baik dari segi pemahaman, referensi ataupun pemikiran. Untuk itu peneliti selanjutnya disarankan:

1. Penulis merasa bahwa penelitian dalam Bimbingan Konseling Islam Dalam Mengatasi Perasaan Bersalah Seorang Remaja Yang Membunuh Bayinya Di Banjarsugihan Tandes Surabaya masih membutuhkan penelaahan yang lebih dalam dari penelitian selanjutnya mengenai perasaan bersalah.

2. Bagi konseli supaya lebih membuka diri untuk bisa lebih baik agar kehidupannya tidak selalu diselimuti perasaan bersalah pada apa yang telah dilakukan.

3. Bagi orang tua agar lebih mengontrol kondisi anaknya agar terhindar dari masalah-masalah yang ditimbulkan dari dunia luar.




Komentar

Postingan populer dari blog ini

YASMIN HERINA

Tsaniyah Rohmatil Maulah

Yasinta Rokhmal Fauzia