ULIN NURIYAH


NAMA            : ULIN NURIYAH
KELAS           : B5 / SMT 2
NIM                : B93218173
PENGARUH LAYANAN BIMBINGAN KELOMPOK TERHADAP PENINKATAN PEMAHAMAN SELF-CONTROL SISWA KELAS IX DI SMPN 1 WANASARI KABUPATEN BREBES
BAB I
PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang
Setiap manusia pasti memiliki kemampuan dalam dirinya, baik itu kemampuan yang menyangkut fisik maupun psikis. Salah satu kemampuan yang dimiliki oleh setiap orang adalah kemampuan untuk mengendalikan dirinya (Self-control). Pengendalian diri merupakan salah satu kemampuan yang harus ada pada setiap orang, karena bayangkan saja apabila seseorang tidak memilliki kemampuan untuk mengendalikan dirinya mungkin saja dia tidak dapat bersikap seperti orang normal lainnya. Karena pada dasarnya manusia memiliki dorongan-dorongan yang kuat dalam dirinya untuk melakukan atau memenuhi sesuatu yang ia inginkan, dan apabila manusia tidak memiliki kemampuan untuk mengendalikan dorongan-dorongan tersebut maka kehidupannya tidak dapat berjalan dengan seimbang. Seorang individu dengan pengendalian diri yang baik dapat memahami setiap konsekuensi dari tindakan yang dilakukannya. Pengendalian diri menggambarkan keputusan individu melalui pertimbangan kognitifnya untuk menyatakan perilaku yang telah disusun untuk meningkatkan hasil dan tujuan tertentu seperti apa yang dikehendaki. Kemampuan Self-control sangat erat kaitannya dengan kondisi kognitif individu, boleh jadi dikatakan bahwa semakin baik kondisi kognitif individu maka semakin baik pula kemampuan self-controlnya. Menurut Piaget (dalam Santrock, 2003:108) Remaja pada umur sekitar 11 sampai 15 tahun mengalami tahap pemikiran operasional formal, dimana remaja tidak lagi terbatas pada pengalaman nyata dan 2 konkret sebagai landasan berpikir tetapi mereka mampu membayangkan situasi rekaan, kejadian yang semata-mata berupa kemungkinan hipotesis atau proporsi abstrak, dan mencoba mengolahnya dengan pemikiran logis. Dengan pemikiran operasional formal ini, remaja sudah bisa membayangkan kemungkinankemungkinan yang akan terjadi apabila ia melakukan suatu tindakan, dengan demikian seharusnya remaja sudah bisa melakukan pengendalian terhadap dirinya dan mempunyai pemahaman self-control yang baik. Fenomena yang peneliti temukan melalui wawancara dengan guru bimbingan dan konseling di SMP N 1 Wanasari yaitu ibu Dian Utami Dewi, S.Pd diketahui bahwa siswa kelas IX SMP N 1 Wanasari kurang memiliki pemahaman Self-control. Kurangnya pemahaman Self-control tersebut dibuktikan dengan adanya gejala perilaku negatif yang dialami siswa, antara lain yaitu dalam hal behavior control, perilaku negatif yang ditunjukkan siswa yaitu kurangnya sikap sopan santun kepada guru, sikap dalam bergaul dengan teman-temannya yang salah atau kurang memiliki etika seperti penggunaan kata-kata kotor dan kasar, tidak menghargai teman dan personil sekolah lainnya seperti guru, kepala sekolah, penjaga kantin dan penjaga sekolah serta kurangnya kemampuan siswa dalam mengelola emosinya. Dalam hal cognitive control, perilaku negatif yang yang ditunjukkan siswa yaitu kurang dapat memahami keadaan orang lain, kurangnya pemikiran yang matang sebelum melakukan suatu tindakan, mereka selalu bersikap tergesa-gesa dalam melakukan kegiatan, dan tidak dapat bersikap sabar. Dalam hal decision control, perilaku negatif yang ditunjukkan siswa antara lain yaitu seringkali tidak dapat mengikuti keinginan 3 sendiri atau perilakunya sangat terpengaruh oleh keadaan lingkungan sekitarnya, tidak bisa menolak semua ajakan teman baik itu positif atau negatif untuknya, ratarata siswa belum memiliki pandangan tentang masa depannya kelak atau belum memiliki cita-cita. Pendapat tersebut diperkuat dengan adanya hasil pengambilan data awal oleh peneliti dengan menggunakan angket diperoleh data bahwa sebanyak 59% siswa kelas IX memiliki pemahaman self-control yang rendah dengan rata-rata memiliki tingkat pemahaman self-control sebanyak 49%. Penjelasan diatas menggugah peneliti untuk membantu siswa kelas IX dalam meningkatkan pemahaman self-control yaitu dengan memanfaatkan layanan bimbingan dan konseling. Salah satu layanan yang dapat digunakan adalah layanan bimbingan kelompok. Menurut romlah (2006:3) bahwa bimbingan kelompok adalah proses pemberia bantuan yang diberikan pada individu dalam situasi kelompok. Gazda (dalam Prayitno dan Amti, 2004:309) juga mengemukakan bahwa bimbingan kelompok di sekolah merupakan kegiatan pemberian informasi pada sekelompok siswa untuk membantu mereka menyusun rencana dan keputusan yang tepat. Bimbingan kelompok merupakan layanan bimbingan dan konseling yang memungkinkan siswa secara bersama-sama melalui dinamika kelompok memperoleh berbagai bahan dari narasumber tertentu (terutama guru pembimbing) dan membahas secara bersama-sama pokok bahasan (topik) tertentu yang berguna untuk menunjang pemahaman dalam kehidupan sehari-hari dan untuk perkembangan dirinya baik sebagai individu maupun sebagai pelajar, dan untuk pertimbangan dalam pengambilan keputusan atau tindakan tertentu. Keunggulan yang diberikan oleh 4 layanan kelompok bukan hanya menyangkut aspek efisiensi. Dinamika perubahan yang terjadi ketika layanan itu berlangsung juga amat menarik perhatian. Dalam layanan kelompok, interaksi antar individu anggota kelompok merupakan suatu yang khas, yang tidak mungkin terjadi pada layanan perorangan. Dengan interaksi sosial yang intensif dan dinamis selama layanan tersebut berlangsung, diharapkan tujuantujuan layanan dapat tercapai secara lebih mantap (Prayitno, 2004:307). Pelaksanaan dalam kegiatan bimbingan kelompok akan dibahas topik-topik yang berkaitan dengan aspek-aspek yang termasuk dalam self-control. Dengan demikian selama beberapa kali diberikan layanan bimbingan kelompok diharapkan dapat membantu meningkatkan pemahaman self-control siswa. Sehingga apabila pemahaman self-control siswa sudah meningkat maka tidak ada lagi masalah-masalah yang muncul di sekolah yang berkaitan dengan kurangnya pemahaman self-control siswa. Dari uraian diatas, peneliti menilai bahwa layanan bimbingan kelompok cocok untuk digunakan sebagai treatment dalam rangka peningkatan pemahaman Selfcontrol siswa kelas IX, oleh karena itu peneliti tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul “Pengaruh Layanan Bimbingan Kelompok Terhadap Peningkatan Pemahaman Self-Control Siswa Kelas IX di SMP N 1 Wanasari Kabupaten Brebes.




1.2  Rumusan Masalah
 Berdasarkan latar belakang diatas, maka rumusan masalah yang dapat diambil adalah:
1.2.1 Bagaimana tingkat pemahaman Self-control yang dimiliki siswa kelas IX sebelum diberikan layanan bimbingan kelompok?
1.2.2 Bagaimana tingkat pemahaman Self-control yang dimiliki siswa kelas IX setelah diberikan layanan bimbingan kelompok?
1.2.3 Apakah layanan bimbingan kelompok dapat berpengaruh terhadap pemahaman self-control siswa kelas IX?
1.3 Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah diatas, maka tujuan penelitian ini adalah:
1.3.1 Mengetahui tingkat pemahaman Self-control yang dimiliki siswa kelas IX sebelum diberikan layanan bimbingan kelompok.
1.3.2 Mengetahui tingkat pemahaman Self-control yang dimiliki siswa kelas IX setelah diberikan layanan bimbingan kelompok.
1.3.3 Mengetahui pengaruh layanan bimbingan kelompok terhadap pemahaman self-control siswa kelas IX. 6 1.4 Manfaat Penelitian
1.4.1 Manfaat Teoritis
Secara teoritis, hasil penelitian ini diharapkan dapat memberkan sumbangan ilmu pengetahuan di bidang bimbingan dan konseling tentang penerapan layanan bimbingan kelompok bagi siswa guna intervensi dalam pemahaman self-control.
1.4.2 Manfaat Praktis
(1) Bagi konselor sekolah hasil penelitian ini diharapkan dapat dijadikan sebagai media atau referensi untuk meningkatkan pelayanan bagi para siswa.
 (2) Bagi peneliti selanjutnya dapat menjadi dasar dalam meningkatkan profesionalitas dalam pemberian layanan.
1.5 Sistematika Penulisan Skripsi
Sistematika skripsi merupakan garis besar penyusunan skripsi yang bertujuan untuk mempermudah menelaah skripsi. Sistematika dalam penulisan skripsi ini terdiri atas tiga bagian, yaitu bagian awal, bagian isi, dan bagian akhir.
1.5.1 Bagian Awal
Bagian awal berisi halaman judul, pernyataan, halaman pengesahan, motto dan persembahan, kata pengantar, abstrak, daftar isi, daftar tabel, daftar gambar, daftar lampiran.
1.5.2 Bagian Isi
Bab 1 Pendahuluan berisi tentanng latar belakang, rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian dan sistematika penulisan skripsi.
 Bab 2 Tinjauan Pustaka. Berisi tentang landasan teoritis yang menunjang penelitian meliputi, penelitian terdahulu, pengertian Self-control, faktor-faktor yang mempengaruhi self-control, jenis-jenis self-control, fungsi self-control, pentingnya self-control bagi remaja, pengertian layanan bimbingan kelompok, tujuan bimbingan kelompok, jenis-jenis bimbingan kelompok, asas-asas bimbingan kelompok, fungsi bimbingan kelompok, komponen-komponen bimbingan kelompok, tahap-tahap bimbingan kelompok, dan operasionalisasi bimbingan kelompok.
Bab 3 Metode Penelitian meliputi, jenis dan desain penelitian, variabel penelitian, populasi dan subjek penelitian, metode dan alat pengumpul data, uji instrumen penelitian.
 Bab 4 Hasil Penelitian dan Pembahasan. Pada bab ini disajikan hasil penelitian yang meliputi hasil penelitian dan pembahasan.
Bab 5 Penutup berisi tentang penyajian hasil simpulan dan saran sebagai implikasi dari hasil penelitian.
 1.5.3 Bagian Akhir
Bagian akhir skripsi ini memuat tentang daftar pustaka dan lampiran-lampiran yang mendukung penelitian ini.




BAB 2
KAJIAN PUSTAKA, KERANGKA TEORETIS, KERANGKA BERPIKIR, DAN HIPOTESIS PENELITIAN
Suatu penelitian ilmiah membutuhkan adanya tinjauan pustaka yang kuat dan dapat di pertanggung jawabkan. Hal ini bertujuan agar penelitian dapat di pertanggungjawabkan dengan baik, khususnya dalam menjawab permasalahan yang diajukan. Teori-teori yang di gunakan dapat memberikan gambaran alur befikir dalam penelitian ini sehingga dapat memberikan gambaran yang jelas mengenai penelitian ini. Penelitian ini akan menguraikan tentang penelitian terdahulu yang relevan dengan peneliti yang akan dilakukan oleh peneliti dan teori-teori yang dijadikan landasan untuk melakukan penelitian ini. Bab ini akan berisi tentang (1) Kajian Pustaka, (2) Kerangka Teoretis, (3) Kerangka Berpikir, dan (4) Hipotesis Penelitian.
 2.1 Kajian Pustaka
Untuk memperkuat proses penelitian ini, peneliti akan mengemukakan hasilhasil penelitian terdahulu yang relevan dengan penelitian yang akan dilakukan. Adapun pokok-pokok bahasan yang akan diuraikan dalam penelitian terdahulu adalah sebagai berikut:
Penelitian pertama yang dijadikan rujukan adalah penelitian milik Aydin, dalam jurnalnya yang berjudul Effectiveness Of Group Guidance On Realistic Study Field Choice Among First Year High School Students. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bimbingan kelompok secara efektif dapat digunakan untuk pengambilan 9 keputusan oleh 40 siswa SMA kelas 1 dalam hal pengambilan jurusan. 40 siswa dibagi menjadi dua kelompok yaitu kelompok kontrol dan kelompok eksperimen, treatment yang dilakukan menggunakan layanan bimbingan kelompok dengan 12 kali sesi pertemuan dan hasil yang ditunjukkan oleh kelompok eksperimen menunjukkan bahwa skor yang diperoleh mengalami peningkatan sedangkan skor yang diperoleh kelompok kontrol tidak mengalami peningkatan. Hasil penelitian tersebut menjadi rujukan untuk peneliti, dan penelitian tersebut mendukung penelitian yang akan dilakukan oleh peneliti yaitu bahwa bimbingan kelompok secara efektif dapat digunakan dalam peningkatan pengambilan keputusan. Pengambilan keputusan termasuk dalam salah satu aspek self-control, oleh karena itu melalui layanan bimbingan kelompok peneliti mencoba untuk meningkatkan pemahaman self-control siswa kelas IX.
 Penelitian kedua, penelitian yang dilakukan oleh Priatmoko (2011) tentang “Upaya Meningkatkan Pengendalian Emosi melalui Layanan Bimbingan Kelompok pada Remaja di Panti Asuhan Yayasan Al- Hidayah Desa Desel Sadeng Kec. Gunungpati Semarang Tahun 2010” menunjukkan bahwa skor pengendalian emosi sebelum pemberian layanan bimbingan kelompok sebesar 166 atau 60,79% dengan kategorisasi sedang setelah pemberian layanan bimbingan kelompok menjadi 192,5 atau 70,01 % dengan kategorisasi tinggi. Hasil uji wilcoxon menunjukkan bahwa Zhitung sebesar = 3,40 sedangkan Ztabel = 0,03. Hal ini menunjukkan bahwa layanan bimbingan kelompok dapat meningkatakan pengendalian emosi. Terkait dengan penelitian yang dilakukan oleh Priatmoko, terbukti bahwa bimbingan kelompok dapat 10 meningkatkan pengendalian emosi siswa, dan pengendalian emosi termasuk dalam salah satu aspek dalam self-control. Oleh karena itu peneliti mencoba untuk melakukan penelitian yang serupa. Melalui layanan bimbingan kelompok peneliti mencoba untuk meningkatkan pemahaman self-control siswa kelas IX. Perbedaaan antara penelitian yang dilakukan oleh Priatmoko dan penelitian yang akan dilakukan oleh peneliti terletak pada variabel yang akan diteliti yaitu jika penelitian Priatmoko hanya mencakup tentang pengendalian emosi, penelitian yang akan dilakukan oleh peneliti mencakup hal yang lebih luas lagi yaitu self-control, dimana pengendalian emosi merupakan salah satu aspek yang ada dalam self-control.
Penelitian ketiga, penelitian yang dilakukan oleh Nurfuad (2013) tentang “Meningkatkan Penyesuaian Diri Terhadap Lingkungan Sekolah Melalui Layanan Bimbingan Kelompok Pada Siswa Kelas VIII SMP N 2 Juwana Tahun 2012/2013” menunjukkan bahwa sebanyak 61,03% dari keseluruhan siswa mempunyai rata-rata penyesuaian diri positif dalam kriteria sedang dengan rata-rata prosentase sebesar 60,96% dan penyesuaian diri negatif dari keseluruhan siswa menunjukkan kriteria sedang dengan prosentase sebesar 61,46%. Dan setelah diberikan treatment diperoleh hasil post-test sebesar 71,57% dari keseluruhan siswa mempunyai rata-rata penyesuaian diri positif dalam kriteria tinggi dengan rata-rata prosentase 72,28% dan penyesuaian diri negatif dari keseluruhan siswa menunjukkan kriteria sedang dengan prosentase sebesar 69,58%. Hasil penelitian menunjukkan terjadi peningkatan penyesuaian diri terhadap lingkungan sekolah pada semua siswa sebesar 10,54% setelah pemberian treatment. Hasil uji Wilcoxon menunjukkan bahwa J hitung ≤ J 11 tabel, artinya Ho ditolak dan Ha diterima. Terkait dengan penelitian yang dilakukan oleh Nurfuad, terbukti bahwa bimbingan kelompok dapat meningkatkan penyesuaian diri siswa, dan penyesuaian diri termasuk dalam salah satu aspek dalam self-control. Oleh karena itu peneliti mencoba untuk melakukan penelitian yang serupa. Melalui layanan bimbingan kelompok peneliti mencoba untuk meningkatkan pemahaman self-control siswa kelas IX. Perbedaaan antara penelitian yang dilakukan oleh Nurfuad dan penelitian yang akan dilakukan oleh peneliti terletak pada variabel yang akan diteliti yaitu jika penelitian Nurfuad hanya mencakup tentang penyesuaian diri, penelitian yang akan dilakukan oleh peneliti mencakup hal yang lebih luas lagi yaitu self-control, dimana penyesuaian diri merupakan salah satu aspek yang ada dalam self-control.
2.2 Kerangka Teoretis
Kerangka teoretis dimaksudkan untuk memberikan gambaran atau batasan tentang teori-teori yang dipakai sebagai landasan penelitian yang akan dilakukan. Teori-teori yang digunakan dapat memberikan gambaran alur befikir dalam penelitian ini sehingga dapat memberikan gambaran yang jelas mengenai penelitian ini.
2.2.1 Pemahaman Self-control Siswa
2.2.1.1 Pengertian Pemahaman
Pemahaman menurut Gilmore dalam Awalya (1995:31), merupakan kemampuan merenggut makna dan atau kemampuan untuk memprediksi, sebagai tugas yang amat sulit. Menurut Anni (2006:7) pemahaman (comprehension) didefinisikan sebagai kemampuan memperoleh makna dari materi pembelajaran.
Bloom, Gay, Berliner dalam Anni (2006:7) mengusulkan tiga taksonomi yang disebut dengan ranah belajar, yaitu : ranah kognitif, ranah afektif, dan ranah psikomotorik. Bloom hanya mengkaji ranah kognitif dan yang termasuk dalam kategori ranah kognitif adalah :
1) Pengetahuan, kemampuan kognitif tingkat pengetahuan adalah kemampuan memperoleh makna dari sebuah materi
2) Pemahaman, kemampuan kognitif tingkat pemahaman adalah kemampuan untuk mengingat akan informasi yang telah diterima.
3) Penerapan, kemampuan kognitif tingkat penerapan adalah kemampuan untuk menerapkan materi yang telah diketahui.
4) Analisis, kemampuan kognitif tingkat analisis adalah kemampuan menguraikan fakta, konsep, pendapat, dan asumsi atas elemen-elemennya.
5) Sintesis, kemampuan kognitif tingkat sintesis adalah kemampuan untuk mengkombinasikan tiap elemen-elemen menjadi satu kesatuan.
6) Penilaian, kemampuan kognitif tingkat penilaian adalah kemampuan menilai suatu pendapat, gagasan, metode sesuai kriteria tertentu. 14 Kategori tersebut mencakup keterampilan intelektual dari tingkat rendah sampai pada tingkat tinggi tersusun secara hierarkis. Kriteria ranah kognitif tersebut merupakan sasaran tujuan pembelajaran. Tingkat diatasnya akan bisa dicapai bila tujuan pada tingkat dibawahnya telah tercapai. Kemampuan kognitif tingkat pemahaman adalah kemampuan mental untuk menjelaskan sebuah informasi yang telah diketahui dengan bahasa atau ungkapannya sendiri (Sugandi, 2006:24). Seseorang akan dapat menjelaskan ilmu pengetahuan dengan menggunakan bahasanya sendiri ketika dirinya telah memahami dengan benar ilmu tersebut. Pemahaman tidak dapat dilakukan seseorang dengan mudah, karena dalam memahami tidak cukup untuk sekedar mengingat tetapi harus dapat memperoleh makna dan kemudian dapat menjelaskan apa yang dipahami dengan baik. Seorang individu sering merasa pengetahuannya tidak berguna, karena tidak sesuai dengan kenyataannya di lapangan, namun yang sebenarnya terjadi pemahaman individu itu belum baik. Pemahaman merupakan penerjemah suatu materi untuk mencari dan mengungkapkan kebenaran. Pemahaman tidak hanya sekedar mengerti, namun alangkah baiknya jika diikuti dengan penerapan secara nyata dalam diri individu. Dalam hal ini menciptakan pemahaman adalah bagaimana cara seseorang merefleksikan pengetahuan yang sifatnya umum menjadi pengetahuan bersifat khusus dengan aturan pribadi sesuai denang konsentrasi masing-masing individu.


2.2.1.2 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Pemahaman
Memahami kemampuan Self-control sama halnya dengan belajar. Menurut Nasution (dalam Rahmawati, 2011:14) ada beberapa faktor yang mempengaruhi pemahaman, yaitu:
1) Tujuan, tujuan merupakan pedoman sekaligus sebagai sasaran yang akan dicapai dalam kegiatan tersebut.
 2) Guru, guru adalah tenaga pendidik yang memberikan sejumlah ilmu pengetahuan kepada anak didik di sekolah. guru merupakan orang yang mempengaruhi dalam bidang profesinya. Di dalam kelas anak didik satu dengan yang lain berbeda dan itu nantinya juga akan mempengaruhi tercapainya tujuan.
 3) Anak didik atau siswa, siswa yang berkumpul di sekolah mempunyai berbagai karakteristik kepribadian, sebagai daya serap (pemahaman) siswa yang juga berbeda-beda dalam setiap materi yang diberikan oleh guru.
4) Kegiatan pengajaran, di dalam proses ini terjadi interaksi antara guru dengan siswa. Kegiatan pengajaran ini meliputi bagaimana guru menciptakan lingkungan belajar yang sehat, strategi belajar yang digunakan, pendekatanpendekatan, metode dan media, serta evaluasi.
5) Bahan dan alat evaluasi, merupakan suatu bahan yang terdapat di dalam kurikulum yang sudah dipelajari dalam rangka evaluasi.
6) Suasana belajar, keadaan kelas yang tenang, aman, disiplin adalah juga mempengaruhi terhadap tingkat pemahaman siswa.
 2.2.2 Kemampuan Self-control
Setiap individu pasti memiliki kemampuan dalam dirinya, baik itu kemampuan yang bersifat fisik maupun yang bersifat psikis. Kemampuan yang bersifat psikis salah satu yang harus dimiliki oleh individu yaitu kemampuan untuk mengntrol dirinya atau self-control.
Dalam segala aspek kehidupan, individu sangat memerlukan pengendalian diri yang baik. Dengan memiliki pengendalian diri yang baik individu dapat mengarahkan, memperkirakan dan memprediksi dampak dari perilaku yang mereka perbuat.
Pengendalian diri (Self-control) didefinisikan sebagai pengaturan proses fisik, psikologis, dan perilaku seseorang, dengan kata lain serangkaian proses yang membentuk dirinya sendiri. Pengendalian diri merupakan keseluruhan dari proses yang membentuk diri individu yang mencakup proses pengaturan fisik, psikologis dan perilaku. Self-control (pengendalian diri) merupakan suatu kemampuan individu untuk menahan keinginan atau dorongan sesaat yang bertentangan dengan tingkah laku yang tidak sesuai dengan norma social (Berk, dalam Gunarsa, 2009:251). Selfcontrol juga dapat diartikan sebagai suatu aktivitas pengendalian tingkah laku, pengendalian tingkah laku mengandung makna yaitu melakukan pertimbanganpertimbangan terlebih dahulu sebelum memutuskan sesuatu untuk bertindak (Ghufron, 2011:25). Kemampuan self-control juga sangat berhubungan dengan berbagai perasaan yang dimiliki oleh individu, Messina & Messina (dalam Gunarsa, 2009:251) menyatakan bahwa pengendalian diri adalah seperangkat tingkah laku yang berfokus 17 pada keberhasilan mengubah diri pribadi, keberhasilan menangkal pengrusakan diri (self-destructive), perasaan mampu pada diri sendiri, perasaan mandiri (autonomy) atau bebas dari pengaruh orang lain, kebebasan menentukan tujuan, kemampuan untuk memisahkan perasaan dan pikiran rasional, serta seperangkat tingkah laku yang berfokus pada tanggung jawab atas diri pribadi. Di sisi lain, Fundukian (2008:1026) mendefinisikan strategi self-control adalah dengan menggunakan kemampuan kognitif dan behavioral (perilaku) untuk memelihara motivasi diri dan memperoleh tujuan pribadi.
Sedangkan menurut Gilliom (dalam Gunarsa, 2009:251) pengendalian diri adalah kemampuan individu yang terdiri dari tiga aspek, yaitu kemampuan mengendalikan atau menahan tingkah laku yang bersifat menyakiti atau merugikan orang lain , kemampuan untuk bekerjasama dengan orang lain dan kemampuan untuk mengikuti peraturan yang berlaku, serta kemampuan untuk mengungkapkan keinginan atau perasaan kepada orang lain, tanpa menyakiti atau menyinggung perasaan orang lain tersebut (termasuk di dalam assertiveness). Selanjutnya Gilliom menyatakan bahwa self-regulation, khususnya anger-regulation, memainkan peran yang penting dalam pengembangan Self-control. Bandura (dalam Gunarsa, 2009:251) menyatakan bahwa self-regulation merupakan kemampuan individu untuk mempertahankan komitmennya terhadap suatu tujuan selama periode waktu tertentu, khususnya pada saat tidak adanya intensif yang berasal dari luar diri (external rewards). Sedangkan menurut Papalia (dalam Gunarsa, 2009:251) menyatakan bahwa self-regulation adalah kemampuan individu 18 untuk menahan dorongan-dorongan dan kemampuan individu untuk mengandalikan tingkah lakunya pada saat tidak adanya kontrol dari lingkungan. Selain itu, Self-control juga dapat dikatakan sebagai upaya pencegahan terhadap suatu hal yang dapat merugikan seseorang. Dengan menunda suatu perilaku tertentu, meskipun individu membutuhkannya, pada dasarnya individu tersebut memiliki tujuan yang lebih memuaskan mereka, jika dibandingkan dengan menyegerakan perilaku tersebut untuk dikerjakan. “kegagalan menunda pemenuhan suatu kebutuhan berhubungan dengan tingkah laku mencontek/curang atau ketiadaan tanggung jawab sosial” (Santrock, 2003:524). Dari berbagai pengertian diatas menurut para ahli, dapat disimpulkan bahwa pengertian self-control adalah suatu kemampuan yang dimiliki individu untuk mengendalikan atau mengontrol dirinya, baik itu dalam hal perilakunya, pemikirannya, maupun pemilihan keputusan yang akan diambil oleh individu tersebut.
2.2.2.1 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Self-control
Self-control sebagai suatu kemampuan yang dimiliki oleh individu pasti terbentuk dari beberapa faktor-faktor yang mempengaruhinnya. Secara garis besar faktor-faktor yang mempengaruhi Self-contol terdiri dari faktor internal (dari diri individu) dan faktor eksternal (lingkungan individu). (1) Faktor internal Faktor internal yang ikut andil terhadap pengendalian diri adalah usia. Semakin bertambah usia usia seseorang maka, semakin baik kemampuan mengontrol diri seseorang itu. (2) Faktor eksternal, Faktor eksternal yang dimaksud adalah lingkungan keluarga. 19 Lingkungan keluarga terutama orang tua menentukan bagaimana kemampuan mengontrol diri seseorang (Ghufron, 2011:32). Faktor-faktor yang mempengaruhi pengendalian diri, menurut Gilliom (dalam Gunarsa, 2009:253) menyatakan bahwa ada beberapa sub-faktor yang mempengaruhi proses pembentukan pengendalian diri dalam diri individu. Keseluruhan sub-faktor tersebut termasuk dalam factor emotion regulation (terdiri dari active distraction, passive waiting, information gathering, comfort seeking, focus on delay object/task, serta peak anger). Disamping sub-sub faktor tersebut, ada faktor lain yang turut mempengaruhi pengendalian diri individu. Oleh karena pengendalian diri individu merupakan pengembangan self-regulation pada masa anak-anak, dapat dikatakan bahwa pengendalian diri juga akan dipengaruhi oleh factor-faktor yang mempengaruhi selfregulation. Menurut Bandura (dalam Fundukian, 2008:1027) faktor-faktor yang mempengaruhi self-regulation adalah faktor umpan balik (adequate feedback), dan factor perasaan mampu (self-efficacy). Kemampuan individu mempertahankan komitmennya terhadap suatu tujuan yang bersifat jangka panjang, dapat dinyatakan sebagai tingkat self-regulation yang baik pada individu, sedangkan self-regulation yang baik merupakan kriteria Self-control yang baik pula. Sedangkan Menurut Papalia (dalam Gunarsa, 2009:255), faktor-faktor yang mempengaruhi self-regulation adalah factor proses perhatian dan faktor kesadaran terhadap emosi-emosi negatif. 
2.2.2.2 Jenis-Jenis Self-control
Seperti hal-nya kemampuan individu yang lainnya, kemampuan self-control juga memiliki banyak jenis. Kemampuan individu dalam mengendalikan diri memiliki tiga tingkatan yang berbeda-beda. Individu yang berlebihan dalam mengendalikan diri mereka disebut dengan over control, individu yang cenderung untuk bertindak tanpa berpikir panjang atau melakukan segala tindakan tanpa perhitungan yang matang disebut dengan under control. Sementara individu yang memiliki pengendalian diri yang baik, yaitu individu yang mampu mengendalikan keinginan atau dorongan yang mereka miliki secara tepat disebut dengan appropiate control (Block dan Block dalam Zulkarnaen, 2002:10)
. Averill (dalam Zulkarnain, 2002:12) mengelompokkan pengendalian diri menjadi tiga jenis yaitu, (1) mengontrol perilaku (behavior control), (2) mengontrol kognitif (cognitive control), dan (3) mengontrol keputusan (decision control).
(1) Kendali tingkah laku (behavior control), merupakan kesiapan tersedianya suatu respon yang dapat secara langsung mempengaruhi atau memodifikasi suatu keadaan yang tidak menyenangkan.
(2) Kendali kognitif (cognitive control), merupakan kemampuan individu dalam mengolah informasi yang tidak diinginkan dengan cara menginterpretasi, menilai, atau menghubungkan suatu kejadian dalam suatu kerangka kognitif sebagai adaptasi psikologis atau mengurangi tekanan. 21
(3) Mengontrol keputusan (decision control), merupakan kemampuan seseorang untuk memilih hasil atau suatu tindkan berdasarkan pada sesuatu yang diyakini atau disetujuinya. Kemampuan self-control seseorang meliputi tiga jenis, diantaranya kendali perilaku (behavior control) yang menuntut individu untuk mengendalikan diri dalam merespon suatu keadaan tertentu. Kendali kognitif (cognitive control) yang merupakan kemampuan individu dalam mengendalikan diri untuk mengolah sebuah informasi sebagi media untuk mengurangi tekanan. Dan kontrol keputusan (decision control) adalah jenis pengendalian diri yang dimiliki seseorang untuk memilih suatu tindakan tertentu yang telah mereka yakini.
2.2.2.3 Fungsi Self-control
Banyak individu yang menggunakan kemampuan self-control untuk beberapa hal dalam kehidupan sehari-harinya. Contohnya saja untuk kasus merokok, kurang olahraga dan hidup sehat, atau sulitnya mengontrol emosi. Self-control dapat berfungsi juga untuk kasus yang lebih besar seperti masalah medis (mengontrol perilaku orang yang mengidap diabetes dan obesitas, seperti mengontrol pola makan), masalah kecanduan (kecanduan narkoba, minum-minuman keras, merokok, atau bermain game), masalah pekerjaan (seperti kemampuan berorganisasi, atau produktifitas pekerjaan), dan masalah psikologis ( seperti stress, kecemasan, depresi, emosi yang berlebihan, atau hiperaktif). Tetapi tujuan utama dari self-control adalah untuk mengurangi kebiasaan buruk dari individu (Fundukian, 2008:1026). Pengendalian diri memiliki fungsi yang sangat penting bagi remaja, menurut Messina & Messina (dalam Gunarsa, 2009 : 255-256) pengendalian diri memiliki beberapa fungsi, yaitu:
a. Membatasi perhatian individu kepada orang lain Dengan adanya pengendalian diri, individu akan memberikan perhatian pada kebutuhan pribadinya pula, tidak sekedar berfokus pada kebutuhan, kepentingan, atau keinginan orang lain di lingkungannya. Perhatian yang terlalu banyak pada kebutuhan, kepentingan, atau keinginan orang lain, cenderung akan menyebabkan individu mengabaikan bahkan melupakan kebutuhan pribadinya.
b. Membatasi keinginan individu untuk mengendalikan orang lain di lingkungannya Dengan adanya pengendalian diri, individu akan membatasi ruang bagi aspirasi dirinya dan memberikan ruang bagi aspirasi orang lain supaya dapat terakomodasi secara bersama-sama. Individu akan membatasi keinginannya atas keinginan orang lain, memberikan kesempatan kepada orang lain untuk berada dalam ruang aspirasinya masing-masing, atau bahkan menerima aspirasi orang lain tersebut secara penuh.
 c. Membatasi individu untuk bertingkahlaku negatif Individu yang memiliki pengendaliandiri akan terhindar dari berbagai tingkah laku negatif. Pengendalian diri mrmiliki arti sebagai kemampuan individu untuk menahan dorongan atau keinginan untuk bertingkah laku (negative) yang tidak sesuai dengan norma sosial. Tingkah laku negative yang tidak sesuai dengan norma social tersebut meliputi ketergantungan pada obat atau zat kimia, ketergantungan pada alkohol, rokok, serta ketergantungan untuk bermain judi.
 d. Membantu individu untuk memenuhi kebutuhan hidup secara seimbang Pemenuhan kebutuhan hidup menjadi motif bagi setiap individu dalam bertingkah laku. Pada saat individu bertingkah laku untuk memenuhi kebituhan hidupnya, boleh jadi individu memiliki ukuran melebihi kebutuhan yang harus dipenuhinya. Individu yang memiliki pengendalian diri yang baik, akan berusaha memenuhi kebutuhan hidupnya dalam 25 takaran yang sesuai dengan kebutuhan yang ingin dipenuhinya. Dalam hal ini, pengendalian diri membantu individu untuk menyeimbangkan pemenuhan kebutuhan hidup, seperti tidak memakan makanan secara berlebihan, tidak melakukan hubungan seks berlebihan berdasarkan nafsu semata-mata, atau tidak melakukan kegiatan berbelanja secara berlebihan melampaui batas kemampuan keuangan.
2.2.2.4 Pentingnya Self-control untuk Remaja
Masa remaja merupakan masa-masa yang paling bergejolak dalam rentang kehidupan manusia, emosi yang masih labil, perilaku yang masih sangat terpengaruh oleh lingkungannya, dan hal-halyang menarik yang menurut remaja perlu untuk dicoba. Pentingnya pengendalian diri pada remaja menurut Rice (dalam Gunarsa, 2009:262), masa remaja adalah masa peralihan, ketika individu tumuh dari masa anak-anak menjadi individu yang memiliki kematangan. Pada masa tersebut ada dua hal penting yang menyebabkan remaja melakukan pengendalian diri. Dua hal tersebut adalah, pertama, hal yang bersifat eksternal yaitu adanya perubahan lingkungan, dan kedua adalah hal yang bersifat internal yaitu karakteristik di dalam diri remaja yang membuat remaja relative lebih bergejolak dibandingkan dengan masa perkembangan lainnya (storm and stress period).
1.    Perubahan lingkungan
Saat ini, masyarakat dunia sedang mengalami banyak perubahan begitu cepat yang membawa berbagai dampak, baik posiitif maupun negatif. Ada enam aspek yang sedang mengalami perubahan yang memiliki pengaruh bagi 6 kehidupan masa remaja. Adapun enam aspek tersebut adalah: perubahan dalam penggunaan computer (computer revolution), perubahan dalam kehidupan materi (materialistic revolution), perubahan dalam aspek pendidikan (education revolution), perubahan dalam aspek kehidupan berkeluarga (family revolution), perubahan dalam kehidupan seks (sexual revolution), dan perubahan dalam aspek kejahatan atau tindak criminal yang terjadi (violence revolution). Perubahan dalam penggunaan computer (computer revolution) ditandai dengan adanya fasilitas internet yang tersedia 24 jam sehari. Beberapa efek negatif yang dialami remaja akibat cepatnya perubahan dan perkembangan teknologi internet, yaitu meningkatnya agresivitas dalam kehidupan seks remaja dan tersitanya sebagian besar waktu remaja untuk bermain computer dan menjelajahi dunia internet, sehingga mengakibatkan terisolasinya hubungan interpersonal remaja dengan lingkungan bahkan dengan orangorang terdekat dirumahnya. Aspek perubahan lingkungan kedua yang menjadi alasan pentingnya pengendalian diri pada masa remaja adalah adanya perubahan dalam kehidupan materi (materialistic revolution). Kemampuan remaja dalam menghadapi tuntutan kehidupan materi ini akan mempengaruhi identitas dirinya, yaitu ketika remaja yang merasa kurang mampu menghadapi tuntutan ini akan merasa ditolak oleh lingkungan sosialnya. Oleh karena itu, untuk menghadapi kondisi perubahan kehidupan materi ini, remaja perlu  mengendalikan diri dalam bentuk menunda keinginan sesaat untuk membeli atau mengkonsumsi berbagai macam barang yang ada disekelilingnya. Aspek ketiga adalah perubahan dalam aspek pendidikan (education revolution). Kemajuan teknologi dan kehidupan social yang semakin kompleks telah menyebabkan kebutuhan akan pendidikan semakin penting dan membutuhkan waktu yang relatif lebih lama untuk menyelesaikan studi dibandingkan dengan masa-masa sebelumnya. Dengan merespons kebutuhan pendidikan yang dirasa semakin penting, agar bisa sukses di kemudian hari, remaja perlu menyadari semenjak dini bahwa penyelesaian masa studi yang akan ditempuhnya akan semakin lama. Lamanya masa studi yang harus dijalaninya menjadikan pengendalian diri pada masa remaja sebagai unsur yang penting. Dengan pengendalian diri yang baik, remaja akan diharapkan mampu mengendalikan godaan-godaan yang dating selama masa studi agar mereka dapat berkonsentrasi penuh pada studinya. Aspek perubahan yang juga perlu dicermati adalah perubahan dalam kehidupan seks. Sexual revolution ditandai dengan semakin bebasnya media menyajikan topik yang berkaitan dengan permasalahan kehidupan seks, semakin meluasnya penyebaran penyakit-penyakit yang ditularkan secara seksual serta penyakit AIDS, semakin diterimanya sikap positif terhadap perilaku seksual pranikah, semakin banyaknya kasus-kasus kehamilan diluar nikah, serta semakin meningkatnya pengembangan alat-alat kontrasepsi.
 Oleh karena itu, dalam menghadapi sexual revolution, remaja memerlukan mekanisme pengendalian diri yang baik. Dalam hal ini, pengendalian diri yang baik berarti remaja mampu mengendalikan hasrat seksual dan dorongan biologisnya yang sedang timbul. Tanpa kemampuan untuk mengendalikan hasrat seksual dan dorongan biologis yang sedang timbul tersebut, mudah sekali bagi remaja untuk masuk dalam arus sexual revolution yang banyak memilii dampak negatif. Aspek terakhir yang menyebabkan pentingnya pengendalian diri adalah perubahan dalam bidang kekerasan (violence revolution). Hal-hal yang termasuk dalam bidang kekerasan yang dilakukan oleh remaja antara lain adalah perkosaan, perampokan, pembunuhan, dan perilaku criminal seperti penggunaan obat terlarang. Untuk mencegah agar remaja tidak masuk ke dalam arus perubahan dalam bidang kriminal ini, remaja perlu memiliki emampuan pengendalian diriyang memadai.
2.         Masa Badai Dan Tekanan Bagi Remaja (Storm & Stress)
Pentingnya pengendalian diri bagi remaja, juga didasari oleh fenomena bahwa masa remaja sering kali dikenal sebagai masa badai dan tekanan (Arnett dalam Gunarsa, 2009:266). Menurut Arnett, istilah masa badai dan tekanan bagi remaja sudah sudah ada sejak 100 tahun yang lalu, dan pertama kali diungkapkan oleh G. Stamley Hall. Hall menyatakan bahwa tidak seluruh remaja akan mengalami masa badai dan tekanan ini. Namun masa badai dan tekanan tersebut memang lebih besar kemungkinannya untuk timbul pada masa remaja bila dibandingkan pada masa-asa perkembangan lainnya. Tiga elemen kunci yang termasuk dalam konsep masa badai dan tekanan ini adalah: konflik dengan orangtua, gangguan suasana hati, dan kecenderungan terjadinya tingkah laku yang berisiko. Konflik dengan orang tua seringkali diisi dengan permasalahan seputar larangan-larangan yang berasal dari orang tua kepada remaja. Laranganlarangan tersebut, misalnya kesopanan dalam berpenampilan, kapan remaja diperbolehkan untuk berpacaran, dengan siapa ia diperbolehkan berpacaran, kemana saja remaja diperbolehkan bepergian, serta jam berapa paling lambat remaja harus di rumah. Elemen kedua dari konsep masa badai dan tekanan tersebut adalah gangguan suasana hati. Remaja lebih sering mengalami gangguan suasana hati dibandingkan pada saat anak-anak menjelang remaja (pre-adolescent) atau pada saat memasuki masa dewasa. Adapun suasana hati negatif yang paling sering dialami oleh remaja diantaranya adalah perasaan aneh atau tidak nyaman, perasaan kesepian, perasaan gugup, khawatir, dan perasaan diabaikan atau kurang diperhatikan. Elemen ketiga dari masa badai dan tekanan adalah kecenderungan remaja untuk melakukan tingkah laku berisiko. Tingkah laku berisiko didefinisikan sebagai tingkah laku yang secara potensial dapat menyebabkan celaka atau kesulitan pada orang lain maupun pada diri sendiri. Tingkah laku berisiko ynag paling sering timbul pada masa remaja di antaranya adalah penyalahgunaan obat-obatan, keselamatan mengemudi, serta permasalahan yang berkaitan dengan kehidupan seks remaja. Berdasarkan kecenderungan remaja untuk terlibat konflik dengan orang tua, kecenderungan remaja untuk mengalami gangguan suasana hati, dan kecenderungan remaja untuk mencoba tingkah laku yang berisiko, maka sangat penting bagi remaja untuk memiliki kemampuan mengendalikan diri. Dengan kemampuan pengendalian diri yang baik, remaja diharapkan dapat mengantisipasi akibat-akibat negative yang ditimbulkan pada masa storm and stress tersebut. Sedangkan menurut Panuju (2005:39) remaja memiliki kebutuhan akan pengendalian diri karena dia belum mempunyai pengalaman yang memadai. Dia sangat peka karena pertumbuhan fisik dan seksual yang berlangsung dengan cepat. Sebagai akibat dari pertumbuhan fisik dan seksual tersebut, terjadi kegoncangan dan kebimbangan dalam dirinya terutama dalam pergaulan terhadap lawan jenis. Kendali diri sangat diperlukan karena boleh jadi dorongan seks yang dirasakan membuat remaja berperilaku yang kurang pantas menurut penilaian masyarakat. Mungkin juga merasa hilang kendali terhadap kelakuan dan tindakan mereka, atau lebih condong untuk menyendiri dan menarik diri dari pergaulan. Disamping itu, remaja merasafisik mereka sudah seperti orang dewasa, sehingga mereka harus bertingkah laku seperti orang dewasa agar merasa aman (Zakiah, dalam Panuju, 2005:39).
2.2.2.4       Hipotesis
Hipotesis merupakan jawaban sementara pertanyaan penelitian (Azwar, 1999:49). Sugiyono (2008:64) menyatakan hipotesis sebagai jawaban teoritis teradap rumusan masalah penelitian, belum terdapat jawaban yang empirik. Dalam penelitian ini ada dua variabel yaitu variabel terikat adalah kemampuan self-control, dan variabel bebas adalah layanan bimbingan kelompok. Oleh karena itu, hipotesis dalam penelitian ini adalah “Layanan bimbingan kelompok dengan topik tugas berpengaruh pada peningkatan pemahaman siswa dalam hal self-control pada siswa kelas IX SMP N 1 Wanasari Brebes”.


BAB 3
METODE PENELITIAN
Metode penelitian merupakan hal terpenting dalam sebuah penelitian. Dalam metode penelitian dijelaskan tentang urutan suatu peneilitian. Hal yang perlu diperhatikan dalam metode penelitian adalah ketepatan penggunaan metode yang sesuai dengan objek penelitian dan tujuan yang ingin dicapai. Uraian yang akan dibahas mengenai jenis dan desain penelitian, variabel penelitian, populasi dan sampel, metode dan alat pengumpulan data, serta uji instrumen penelitian.
3.1 Jenis Penelitian
Penelitian mengenai “Pengaruh Layanan Bimbingan Kelompok Terhadap Peningkatan Pemahaman Self-control Siswa Kelas IX SMP N 1 Wanasari Brebes Tahun Ajaran 2015/2016”, merupakan penelitian eksperimen. Menurut Sugiyono (2010:107) penelitian eksperimen dapat diartikan sebagai metode penelitian yang digunakan untuk mencari pengaruh perlakuan tertentu terhadap yang lain dalam kondisi yang terkendalikan. Perlakuan yang dilakukan berupa suatu tindakan tertentu kepada kelompok dan setelah itu dilihat pengaruhnya. Pada penelitian ekperimen ini hanya terdapat satu kelompok, yaitu kelompok eksperimen tanpa menggunakan kelompok kontrol. Proses pengukuran atau penilaian terhadap subjek dilakukan pada tahap sebelum perlakuan dan sesudah perlakuan yaitu 57 pre-test dan post-test. Dalam penelitian ini perlakuan yang diberikan adalah layanan bimbingan kelompok, karena diduga layanan bimbingan kelompok (X) dapat mempengaruhi Self-control (Y). Setelah pemberian perlakuan (treatment) berupa layanan bimbingan kelompok, kemampuan Self-control siswa akan berkembang. Pemberian perlakuan ini dilakukan sebanyak delapan kali pertemuan tatap muka dengan anggota kelompok atau subjek penelitian.
3.2 Desain Penelitian
Terdapat beberapa desain penelitian eksperimen, menurut Sugiyono (2008:73) terdapat beberapa desain penelitian eksperimen yaitu pre eksperimental design, true eksperimental design, factorial design, dan quasi eksperimental design. Dalam penelitian ini menggunakan desain penelitian quasi eksperimental design. Morisson (2007:282) mengelompokkan quasi eksperimental design dalam beberapa bentuk (form) salah satu yang digunakan adalah one-group pretest-posttest design, yaitu adanya suatu kelompok yang diberi perlakuan/treatment dengan didahului pretest sebelum perlakuan dan posttest setelah perlakuan. Dalam penelitian ini, terdapat dua kali pengukuran. Pengukuran pertama digunakan untuk mengukur kemampuan Self-control sebelum diberikan layanan bimbingan kelompok (O1) yang disebut pretest dan pengukuran kedua untuk mengukur kemampuan Self-control setelah diberikan treatment berupa layanan bimbingan kelompok (O2) yang disebut posttest. “Perbedaan antara O1 dan O2 yakni O1 dan O2 diasumsikan merupakan efek dari treatment atau eksperiment” (Arikunto, 2006:85). Dengan kata lain, hasil pengukuran terhadap subjek yang belum diberi 58 perlakuan dibandingkan dengan hasil setelah subjek penelitian diberikan perlakuan. Hasil perbandingan tersebut sebagai akibat dari perlakuan (treatment) yang diberikan berupa layanan bimbingan kelompok.

BAB IV
PENUTUP
 4.1 Simpulan
Berdasarkan hasil penelitian mengenai pengaruh layanan bimbingan kelompok terhadap peningkatan pemahaman self-control siswa kelas IX di SMP N 1 Wanasari Brebes. Secara umum dapat disimpulkan bahwa layanan bimbingan kelompok dapat digunakan sebagai suatu upaya dalam meningkatkan pemahaman self-control yang dimiliki oleh siswa. Berikut ini akan dijelaskan secara rinci tentang kesimpulan dari penelitian ini :
4.1.1 Gambaran tingkat pemahaman self-control yang dimiliki oleh subjek penelitian sebelum diberikan treatment berupa layanan bimbingan kelompok termasuk dalam kriteria sedang dengan persentase 55%. Beberapa subjek penelitian menunjukkan perilaku yang sulit untuk diajak bekerjasama, susah untuk bersikap sopan pada orang lain bahkan dengan guru di sekolah tersebut, dan kurang bisa mengelola emosinya.
 4.1.2 Gambaran tingkat pemahaman self-control yang dimiliki oleh siswa setelah diberikan layanan bimbingan kelompok (treatment) sebanyak delapan kali menunjukkan adanya perubahan. Tingkat pemahaman self-control yang dimiliki oleh subjek penelitian sebelum diberikan treatment termasuk dalam kriteria sedang dengan persentase 55%, setelah diberikan treatment mengalami perubahan menjadi 81% atau dalam kriteria tinggi. 118
4.1.3 Terjadi perubahan tingkat pemahaman self-control siswa setelah diberikan layanan bimbingan kelompok. Hasil penelitian menunjukkan perbedaan persentase sebelum dan setelah subjek penelitian diberikan layanan bimbingan kelompok, yaitu dari 55% menjadi 81%. Perhitungan uji wilcoxon menunjukkan bahwa hasil perhitungan jumlah jenjang sebesar = 54 > t tabel = 8, sehingga dapat dikatakan bahwa layanan bimbingan kelompok berpengaruh terhadap peningkatan pemahaman self-control siswa.


4.2 Saran
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan oleh peneliti, maka dapat diajukan saran sebagai berikut:
(1) Bagi Guru BK SMP N 1 Wanasari Brebes Berdasarkan hasil penelitian ini dinyatakan bahwa layanan bimbingan kelompok dapat berpengaruh terhadap peningkatan pemahaman self-control siswa. Hasil penelitian ini dapat dijadikan sebagai masukan bagi guru BK di sekolah sebagai salah satu upaya untuk meningkatkan pemahaman self-control siswa melalui layanan bimbingan kelompok.
2) Bagi Kepala Sekolah SMP N 1 Wanasari Brebes Sebagai penanggung jawab tertinggi manajemen BK di sekolah, diharapkan hasil penelitian ini menjadi acuan bagi kepala sekolah sebagai kajian dan evaluasi terkait pemahaman self-control siswa. Sehingga perlu adanya pendekatan lebih lanjut terutama pada siswa yang memiliki pemahaman self-control yang rendah.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

YASMIN HERINA

Tsaniyah Rohmatil Maulah

Yasinta Rokhmal Fauzia